.Sangjin POV.

“Jagi, sebaiknya aku mengakhiri hubungan kita..”

Satu kalimat yang membuat hatiku hancur.

“Wae? Bukannya kita sudah saling mengerti?” cicitku.

“Mian. Aku harus mengakui kalau kau bukan orang yang tepat untukku. Kau terlalu cerewet. Berisik. Kau membuatku capek harus mendengarkan semua omonganmu. Kau bukan tipeku, meski harus kuakui kau sangat cantik.”

Aku tidak mengerti. Kenapa? Padahal sebelumnya kau tidak mempermasalahkannya.

“Aku harus pergi sekarang Sangjin. Mian. Jeongmal mianhae.”

Dia lalu meninggalkanku sendirian.

Di tengah kerumunan orang ini, aku merasa sendirian. Di tengah kegembiraan mereka, aku merasa sakit.

“Ternyata dia tidak mencintaiku. Tidak sama sekali.”

Tanpa terasa, air mata jatuh membasahi pipiku. Biarkan saja semua orang melihat. Aku tidak peduli lagi.

.Sungmin POV.

Hari ini kegiatan Super Junior diberhentikan untuk sementara waktu. Hyung sangat pengertian dan memberikan kami break. Walaupun cuma hari ini saja.

Super Junior? Ya. Aku adalah salah satu personil boyband terkenal di Korea, Lee Sungmin. Kegiatan Super Junior yang sangat padat membuat kami semua sangat capek. Sehari break merupakan waktu yang sangat berharga untuk kami.

“Aku mau cari udara dulu. Kyu, mau ikut?”

“ani.. aku lebih baik menyelesaikan gameku daripada jalan-jalan denganmu hyung. lagipula pasti sebentar lagi Eunrim akan datang dan menyuruhku berhenti main game.” sahut Kyu sambil terus bermain dengan PSPnya.

“Kau enak ya Kyu, sudah mempunyai seorang yeoja chingu. Hyung juga mau.”

Kyu tidak menggubrisku lagi. Dia memang sangat serius ketika bermain game.

Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan di salah satu taman dekat dorm kami.

Waktu sampai di sana, tidak banyak orang terlihat. Kebanyakan manula maupun anak-anak kecil.

Untunglah. Biasanya ketika aku berjalan-jalan pasti ada seorang fans yang akan berteriak, “MINNIE OPPA~” Lalu akhirnya waktuku akan habis karena meladeni mereka.

Tiba-tiba aku melihat seseorang. Sepertinya dia sangat sedih. Diam, tapi air matanya tidak berhenti mengalir. Ada apa dengannya?

Rasa penasaran membuatku ingin mendekatinya. Kuambil sapu tangan dari kantongku, dan kuserahkan padanya.

“Nona, kau terlihat sangat jelek kalau menangis..”

.Sangjin POV.

“Nona, kau terlihat sangat jelek kalau menangis..”

Aku mendongak untuk melihatnya. Seorang pemuda yang memakai topi dan kacamata. Wajahnya familiar, tapi siapa ya?

“Nona, kau mendengarkanku? Kenapa kau menangis?” Katanya lagi.

“Akuu..” Tiba-tiba tangisanku mengeras. “hwaaaaaaaaaaa… hiks.. hiks..”

Semua orang tiba-tiba memandangi kami. Bahkan ada yang berbisik, “Wah.. Akhirnya pacarnya datang juga. Kasian sekali dia sudah berada di sana selama beberapa jam. Kalau aku jadi dia, pasti sudah kumaki-maki pacarku.”

Pemuda itu merasa risih dengan kata-kata mereka. Dia membujukku, “Nona, kau jangan tambah keras menangis. Nanti semua orang berpikir aku yang menyebabkan semua ini. Ayolah.. Berhentilah menangis!”

Akhirnya aku meredakan tangisanku. “Nuguseyo? Apa aku mengenalmu?” Aku tidak bisa melihat jelas karena aku lupa memakai kacamataku.

“Mungkin..” Kata pemuda itu.

Mungkin? Aku tidak mengerti.

“Otakku sedang tidak dapat bekerja dengan baik. Aku tidak mengerti sama sekali. Tolong kau jangan membuatku tambah pusing!” Aku mulai terisak kembali.

.Sungmin POV.

Bagaimana ini. Apa aku harus mengatakan, “annyeong.. Sungmin imnida..”

Tidak. Dia pasti akan tambah bingung.

“ahh.. annyeong. Minnie inmida.” Kuharap dia bisa mengerti kenapa aku menyembunyikan identitasku.

Tiba-tiba dia langsung tersenyum. “Minnie? Namamu sangat lucu. Boleh aku panggil Minnie saja? Atau Minnie oppa?” Katanya ceplas-ceplos.

Senyumnya itu, entah mengapa.. Aku merasa ingin membuatnya terenyum seperti itu terus. Dia sangat manis kalau tersenyum. Entah siapa yang sudah tega membuat gadis semanis ini menangis tadi.

“Nee.. Terserah kau saja.. Kalau kau? Boleh aku tau namamu?”

.Sangjin POV.

Tiba-tiba aku merasa sangat lucu. Namanya Minnie. Seperti Minnie Mouse begitu? Tanpa sadar aku melupakan kejadian yang membuatku menangis tadi.

“Minnie? Namamu sangat lucu. Boleh aku panggil Minnie saja? Atau Minnie oppa?” Kataku sambil tersenyum.

Dia terdiam sesaat. Apa yang sedang dipikirkannya?

“Nee.. Terserah kau saja.. Kalau kau? Boleh aku tau namamu?” sahutnya tiba-tiba.

“Sangjin imnida. Oppa, kenapa kau memakai kacamata? Kau tau, Aku rabun. Aku tidak bisa melihatmu dengan jelas kalau wajahmu tertutup seperti itu.”

.Sungmin POV.

(pake POV ini dulu untuk sementara waktu yaa.. author capek ngubah-ngubah.. hehe..)

Sangjin. Namanya sangat indah. Dan dia sepertinya sangat ceplas-ceplos. Baru beberapa menit yang lalu dia bertemu denganku, tetapi rasanya sudah seperti mengobrol dengan teman lama. Membuatku nyaman di dekatnya.

“Ahh.. itu karena udara di sini sangat panas. Tidak apa-apa kan kalau terus kupakai?” Kataku dengan harapan dia tidak akan meminta kacamataku dilepas. Berbahaya nanti kalau ada ELF yang melihat.

“Ya sudahlah. Kau lepaspun mungkin aku tetap tidak bisa melihatmu dengan jelas.” Sahutnya

“Boleh aku tau kenapa kau menangis tadi?” Kuharap dia mau menceritakannya padaku.

“Ahh.. Itu.. Pacarku baru saja memutuskanku. Dia bilang aku ini bukan tipenya. Aku terlalu ribut, berisik, membuatnya susah untuk menjadi pendengar. Kau tau? aku sakit hati oppa.. Baru kali ini ada seseorang yang berkata begitu padaku. Apakah aku memang begitu? Aku memang cerewet, kuakui itu. Tapi ini memang pembawaanku.” Dia terus berbicara seperti rel kereta api yang tidak putus-putus.

Aku sudah terbiasa mendengar omongan yang panjang seperti itu. Super Junior merupakan salah satu grup yang besar. Dengan banyaknya personil, dalam satu kali obrolan pasti banyak yang angat bicara. Jadi aku biasanya hanya menjadi pendengar saja.

“Oppa.. Apa kau mendengarkanku?” Dia berkata dengan semangat ’45.

“Tentu saja Sangjin.” Kataku sambil memberikan senyuman terbaikku.

Dia tersipu.

“Moodmu sudah agak baikan? Bagaimana kalau kau menemaniku ke taman bermain?”

“Taman bermain? wahhh.. aku mau oppa.. Mauu.. Mauu.. emm, kau tidak usah berpikir tentang masalahku yang tadi. Aku bukan orang yang suka menyimpan perasaan lama-lama. Jadi tenang saja..” Dia terus nyerocos tanpa henti.

Haha.. Gadis ini sangat lucu. Dalam waktu singkat dia sudah bisa merubah moodnya. Aku ingin mengenalnya lebih jauh.

Akhirnya kuhabiskan seharian break untuk bermain bersamanya. Dia tipe yang periang ternyata. Dia juga sangat ramah. Sewaktu kami jalan-jalan, dia melihat seorang anak kecil yang sedang menangis, dengan cepat dia langsung meredakan tangisan anak itu. Padahal eomma anak itu sendiri sudah sangat kewalahan.

“Nak, terima kasih yaa.. Anakku ini memang sangat rewel. Jarang ada yang bisa meredakan tangisannya.” Kata ajumma itu sambil membungkukkan badan.

“Ahh.. Tidak juga ajumma. Aku cuma kebetulan saja bisa meredakan tangisannya.” Dia juga ikut membungkukkan badan.

“Baiklah kalau begitu. Ajumma duluan ya. Semoga kencan dengan pacarmu berjalan lancar.” Kemudian ajumma itu pergi meninggalkan kami.

“Pacar? Ahh.. ajumma.. dia bukan..” Teriakan Sangjin tiba-tiba terpotong ketika dia melihat sepasang kekasih.

“Oppa..” tatapannya tiba-tiba kosong.

“Wae Sangjin?” Aku mengira dia memanggilku.

Tetapi dia tiba-tiba mengejar pasangan tadi. Aku bingung, ada apa ini? Kemudian kuliat dia berdebat dengan namja itu.

“Oppa.. Ternyata ini alasanmu yang sebenarnya. Kau minta kita putus untuk berpacaran dengan yeoja lain. Aku benar-benar sakit hati! Wae oppa? wae? bukannya aku lebih cantik dari dia? Kenapa kau lebih memilihnya?” Dia kemudian menampar pipi yeoja itu.

Si yeoja yang merasa tidak salah apa-apa, langsung menyiram Sangjin dengan Cola yang dia pengang. “Hah, ternyata kau pengganggu hubungan kami. Dengar ya, jagiku sama sekali tidak tertarik denganmu. Dia hanya kasihan padamu. Kuharap kau berhenti mengejarnya lagi.” Dia lalu menyeret pacarnya untuk pergi meninggalkan kami.

Ternyata itulah namja yang membuatnya menangis tadi, dan sekarang kulihat dia mulai menangis lagi.

“Ohh.. Sangjin. Jangan menangis yaa.. Dia tidak pantas kau tangisi. Liat, bajumu basah semua.”

Bounce to you, bounce to you,
Nae gaseumeun neol hyanghae jabil sudo
Eobseul mankeum ddwigo itneungeol

Tiba-tiba ponselku berbunyi.

“Yoboseo? ahh.. hyung.. waeyo? ohh yaa? malam ini?  aku harus membawa seseorang? haruskah? ohh.. begitu.. nee hyung.. aku tidak akan terlambat.. tenang saja.. yaa.. bye..” Kututup teleponku kemudian memandangi Sangjin.

“Sangjin, aku mau mengajakmu pesta temanku. Ikut ya? Hyung menyuruhku membawa seseorang.. Hmm, tapi tidak dengan baju yang basah seperti itu tentunya” Kataku sambil melepaskan jaketku kemudian membawanya masuk ke dalam mobilku.

“Gomawo oppa.. Tapi tidak apa-apa kalau aku ikut?” Cicitnya.

Dia sudah menghentikan tangisannya.

“Nee.. tentu saja tidak apa-apa. Aku ingin memperlihatkan siapa aku sebenarnya. Kuharap kau tidak kaget.” Kataku sambil tersenyum simpul.

Dia hanya diam selama perjalanan. Mungkinkah dia masih mengingat kejadian yang tadi?

Aku membawanya ke sebuah butik terkenal di Seoul.

“Oppa, buat apa kita ke sini?” Matanya sangat berbinar-binar melihat isi butik ini.

“Tentu saja buat memilih bajumu. Kau tidak mungkin ke pesta dengan pakaian basah seperti itu kan?” Kataku sambil mulai memilihkannya baju.

“Minnie, ahh tumben kau datang.” Sapa seseorang.

“Ahh.. Annyeonghaseyo nuna. Aku mau datang untuk mencari baju yang tepat untuk gadis itu. Teuki hyung mau mengadakan pesta untuk merayakan lima tahun hubungannya dengan Sooneul, dan dia mengharuskan kita semua untuk membawa pasangan.” Gerutuku.

“Jadi ini yeoja yang akan mematahkan hati ELF lagi?” kata Rinwoo nuna.

“Mungkin. Aku baru bertemu dengannya hari ini. Dia membuatku jatuh hati pada pandangan pertama. Dan dengan sangat ajaibnya dia tidak mengenal siapa aku ini sebenarnya.” Kataku sambil tersenyum memandangnya.

“Ahh.. begitu.. Tumben ada seorang yeoja yang tidak mengenalmu. Dari jaman nama dia? hahaha..” Nuna terus saja tertawa.

“Ahh.. Baju ini sepertinya cocok untukknya.. Suruh dia untuk mencoba dulu..” kata nuna yang masih menahan tawanya.

Aku kemudian memberikan baju itu ke Sangjin. “Cobalah..” Kataku lembut.

Dia kemudian pergi ke ruang ganti untuk mencoba baju itu. Setelah beberapa menit, dia keluar dan memperlihatkannya padaku.

“Bagaimana oppa?” Tanyanya.

“Wahh.. pilihanku memang selalu tepat. Kau sangat cantik Sangjin-ssi.” komentar nuna sambil berbinar-binar.

Aku hanya terdiam melihat penampilan Sangjin. Bagaimana dia bisa begitu cantik dengan baju itu? Ahh.. Sepertinya aku benar-benar telah jatuh hati padanya.

“Oppa, aku jelek ya?” Tanya Sangjin lagi.

“Ahh.. anii.. nomu yeppo..” Kataku terbata-bata.

Dia tersipu malu lagi.

Setelah aku membayar baju itu, aku membawanya ke salon dan meminta ajummanya untuk memberikan sedikit make up padanya.

“Sangjin, kau itu minus berapa?” tanyaku

“minus 3 oppa.. itulah mengapa aku tidak bisa melihatmu dengan jelas.” Sahut Sangjin.

“Ohh.. begitu.. Kalau begitu kau tunggu di sini dulu ya. Oppa mau membeli sesuatu.” Sangjin mengangguk pelan.

Aku mencari toko kacamata terdekat, kemudian membelikannya sepasang softlens. Aku tidak mau dia masih tidak bisa melihatku ketika kukatakan identitas asliku nanti.

.Sangjin POV.

Minnie oppa. Kau sangat baik padaku. Aku seperti sangat familiar denganmu. Pernah kulihat di mana ya? hmm.. entahlah.. tapi satu hal yang kutahu.. sepertinya aku sudah jatuh hati denganmu. Senyummu, suaramu, semuanya membuatku terpesona.

“Nahh.. sudah selesai nona.” Kata ajumma yang memake-upkanku.

“ahh.. yee.. kamshamida ajumma..” Dan terlihat Minnie oppa memasuki salon.

“Sangjin, ini.. Pakailah supaya kau tidak rabun lagi..” Kata Minnie oppa.

Dia memberikanku sekotak softlens. Minnie oppa, sampai hal sedetail ini juga kau ingat?

“ahh.. gomawo oppa..”

Setelah kupakai, aku menatapnya. Dia? Aku pernah melihatnya di mana ya?

“Sudah? ohh.. baiklah kalau begitu.. Kajja..” Seret Minnie oppa..

Dia membawaku ke sebuah apartement. Kemudian dia menyuruhku masuk.

“Tenang saja. Aku tidak akan berbuat sesuatu. Pestanya ada di lantai 12, dan aku hanya ingin ganti baju sebentar. Tunggu ya..”

Aku duduk di sofa yang tersedia. Tiba-tiba muncul seseorang.

“Nuguseyo? Kenapa kau ada di sini? Kau seorang ELF?” kata namja itu..

ELF? Apa itu?

“Ahh.. Sangjin imnida.. Aku sedang menunggu Minnie oppa..” Kataku sopan.

“Kau ELF bukan?” Dia bertanya lagi.

“Itu..” Sahutku kehabisan kata-kata.

“Hyukkie.. Apa yang kau bicarakan dengannya?” Minnie oppa tiba-tiba datang.

Wahh.. Dia sangat cakep sekali tanpa memakai topi dan kacamata.

“Ahh.. Hyung, aku cuma bertanya apa dia ELF atau bukan. Dari tadi dia diam terus. Apa dia tidak tahu siapa kita? Padahal aku mau memberinya tanda tangan.” Kata orang yang bernama Hyukkie tadi sambil cemberut.

“Tidak.. Dia sepertinya tidak mengenal kita.” Kata Minnie sambil tersenyum ke arahku.

“Emm.. maaf, memangnya kalian siapa?” Tanyaku polos.

“Kau betul-betul tidak mengenal kami? wahh.. Ternyata di Seoul masih ada juga yang tidak mengenal kita ya hyung.. Sangjin-ssi, selama ini kau kemana saja? haha.. Uri neun S.. mmmpppphhh” Minnie oppa langsung membungkam mulutnya.

“Sudahlah Sangjin, tidak usah dengarkan dia..” Sambil menatap tajam ke arah Hyukkie. “Kau urus saja Raemi sana.” Dan Hyukkie pun mengangguk pelan.

“Minnie oppa, memangnya kau siapa? Kenapa tadi Hyukkie-ssi mau memberiku tanda tangan?” Tanyaku lagi.

“Tidak usah dipikirkan Sangjin. Hyukkie itu memang sok terkenal.” Lift pun menunjukkan lantai 12.

Ahh.. aku tidak memperhatikan dari tadi. Didepan apartemen Minnie oppa juga tadi banyak coret-coretan. Di sini juga banyak.

“Oppa, saranghae..”

“Oppa, menikahlah denganku”

“Oppa, ELF akan selalu mendukungmu!”

ELF? Tadi Hyukkie juga mengatakan ELF.

“Super Junior daebak~”

Super Junior? Boyband terkenal itu?

“Oppa..” cicitku tidak percaya.

“Hmm, ada apa? kenapa kau berhenti di sini?” Tanyanya lembut.

“Kau anggota Super Junior?” cicitku lagi.

Dia terdiam.

“ahh.. Kau sudah menyadarinya. Padahal aku baru mau memberitahukanmu nanti.” Katanya gugup.

“Super Junior itu boyband terkenal kan?”

Bruuuuuuuk.. Minnie oppa tiba-tiba membuka pintu apartement dan banyak sekali namja yang terjatuh.

“Hyung, tidak bisakah kebiasaan menguping kalian dihentikan?!” kata Minnie oppa.

“Ahh.. mian Minnie.. hyung cuma penasaran ada apa ribut-ribut diluar..” Kata namja itu.

“Pasti tadi Hyukkie sudah memberitahukan bahwa aku akan ke sini kan. Kalian tidak usah berpura-pura.” Kata Minnie oppa lagi. Dia mengajakku masuk.

“Kami hanya penasaran Sungmin. Kau kan tidak pernah membawa pasangan sebelumnya.” Seseorang berbicara lagi. Dan itu, Yesung oppa?!

“Yesung oppa?? kyaaaaaaaa.. aku fansmu.. suaramu sangat bagus waktu menyanyikan ‘It Has To Be you’ ” Kataku bersemangat.

“Kamshamida.. haha.. Tumben ada yang mengenalku tapi tidak mengenal Sungmin.” Sahut Yesung oppa.

“Sungmin?” Siapa itu?

“Orang yang mengajakmu ke sini. itu Sungmin Super Junior lho! Masa kau tidak tahu?”Kata seseorang yang lain.

“Dia? bukannya namanya Minnie oppa?” Tanyaku lagi.

siiiiiing.. Diam sejenak. Kemudian seisi apartement itu tertawa terbahak-bahak.

“Jadi selama ini kau tidak mengetahui siapa pacarmu ini? Kau benar-benar berpikir namanya Minnie? hahaha..” Eunhyuk muncul lagi bersama seorang wanita.

“Dia bukan pacarku hyukkie.. Belum.. Aishh.. Kenapa sih kalian selalu menghancurkan rencanaku?” Kata Minnie oppa sambil mengacak-acak kepalanya.

“Oppa, apa maksud ini semua?” Tanyaku polos.

“Mungkin kita harus memperkenalkan diri kita masing-masing dulu ya?” Sahut oppa yang tadi.

“Urineun.. SUPEYO JUNI~OR!” Kata mereka serempak.

“Aku leader mereka, Leeteuk. Kau bisa memanggilku Teuki oppa.” Katanya ramah.

“Aku pria yang paling narsis di sini, Kim Heechul.” Kata namja disebelah Teuki oppa.

“Aku pembawa kebahagiaan di sini, Shindong imnida.” Kata namja yang berbadan agak besar.

“Kau sudah tahu aku siapa kan? Jadi tidak perlu perkenalan lagi.” Kata Yesung oppa.

“Urineun EunHae couple” kata Hyukkie dan salah satu namja riang.

pletak. Kepala mereka sama-sama dipukul oleh 2 orang yeoja.

“Perkenalkan yang betul Eunhyuk.” Sahut salah satu yeoja sambil menjewer Hyukkie.

“Kau juga Donghae!” Yeoja yang lain juga ikut menjewernya..

“Tidak usah dipikir ya.. Mereka memang begitu.” Kata seorang namja yang tidak kalah imut dengan Minnie oppa. “Ryeowook imnida” sahutnya malu-malu.

“Kyuhyun imnida..” sahut namja yang sedang bermain PSP.

Terakhir, Minnie oppa tiba-tiba maju ke depan dan berkata. “Lee Sungmin imnida. Mian aku tidak memberitahukanmu yang sebenarnya.” Katanya sambil memberiku setangkai bunga mawar.

“Oppa..” Kataku yang masih tidak terbiasa dengan semua ini.

“Kau mau jadi yeoja chinguku?” Tanya Minnie oppa malu-malu.

yaa.. dia mengatakannya di depan semua orang. Entahlah, mungkin mukaku sudah seperti kepiting rebus sekarang.

“Asalkan aku bisa tetap memanggilmu Minnie oppa..” Kataku juga malu-malu.

yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeyyyy.. Semua orang tiba-tiba bersorak..

“Akhirnya hyung mempunyai yeoja chingu juga..” Kata Ryeowook terharu.

Dan inilah akhir ceritaku yang membahagiakan. Hari yang kuanggap sial karena pacarku memutuskanku, terasa sangat menyenangkan karena adanya Minnie oppa. Ini merupakan suatu awal bukan?

-End-

PS : ini FF pertamaku.. hehe.. jadi mian kalo rada aneh.. mudah-mudahan kalian suka.. emm, jangan jadi silent reader yaa.. komenn dong.. hehe..

at least, gomawo udah baca..^^

Iklan