By : Lukita

Cast :

Kim So Eun

Onew (Shinee)

Jiyoung (Kara)

Go Hara (Kara)

Nicole (Kara)
“Hey, apa yang kau lakukan?” Suara manis dari seorang gadis dengan rambut hitam sebahu membuyarkan lamunan gadis lain berambut hitam panjang yang sedang asyik mendengarkan music menggunakan earphone bewarna pink.

“Nicole-yah.” Jawab gadis itu singkat sambil melepaskan earphone pinknya itu.

“Hara-yah, kau sedang mendengarkan lagu apa sih? Kok sampai segitunya?” Kata Nicole ceria sambil duduk di samping Hara.

“Coba kau dengar sendiri.” Kata Hara sambil memasangkan earphonenya itu ke kepala mungil Nicole.

“Ehm, lagu siapa ini? Suaranya sangat merdu sekali.” Kata Nicole sambil mendengarkan music serius.

“Kau ini sangat ketinggalan zaman ya? Ini lagu dari Onew, penyanyi solo yang sekarang lagi naik daun itu.” Kata Go Hara sambil menjitak kepala Nicole pelan.

“Aduh, iya –iya. Tapi gag perluh jitak gitu kaleee.” Jawab Nicole sewot.

“Ehm, kau ini memang keterlaluan. Masak penyanyi terkenal seperti ini kau tidak tahu. Dia sangat terkenal dengan lagu – lagu balladnya yang selalu mencerminkan kesedihan.” Kata Go Hara menjelaskan panjang lebar.

“Jeongmal? Apakah dia tidak pernah menyanyikan lagu yang sedikit ceria?” Tanya Nicole penasaran.

“Ani..” Jawab Go Hara sambil menggelengkan kepala. “Kabarnya  dia hanya mau menyanyikan lagu ballad dengan lirik – lirik yang menggambarkan hati yang sedang patah hati.” Lanjut Gara penuh semangat.

“Jeongmal? Waeyo? Kenapa dia hanya mau menyanyikan lagu ballad? Jangan – jangan ia jelek lagi makanya ia sering patah hati dan hanya mau menyanyikan lagu-lagu patah hati seperti ini.” Kata Nicole asal.

“Dasar kau ini, ya enggak lah. Dia itu sangat tampan, wajahnya itu pure dengan mata tanpa kelopak tapi tetap dapat menunjukkan ketampanan yang luar biasa. Kau ini memang kurang pergaulan, cerita ini sangat terkenal di internet. Ceritanya berawal dari..” Jelas Go Hara memulai ceritanya.

Satu tahun yang lalu…..

“Jinki-yah, apa yang kau lakukan dengan tasku?”  Teriak seorang gadis dengan rambut panjang terurai memandangi tas punggung bewarna coklatnya yang penuh dengan tulisan.

“Hahahaha,, Jeongmal mianhe So Eun-aah. Waktu itu aku tidak menemukan kertas dan akhirnya aku menulis di tasmu.” Jawab pemuda itu dengan wajah yang tidak menunjukkan penyesalan sama sekali.

“Yah, bukankah kau bisa mengambil buku di dalam tasku? Mengapa kau harus mencoret – coret tasku seperti ini.” Kata gadis itu dengan wajah yang mulai kelihatan marah.

“Ah… aku lupa, aku sama sekali tidak berfikir sampai ke situ. Aku terburu – buru dan langsung saja menulis di tasmu tanpa pikir panjang. Jeongmal mianhe, So Eun-aah.” Jawab pemuda itu tak berdosa.

“Yah Jinki-yah, kau terlalu banyak alasan. Sebenarnya kau sengaja melakukannya kan?” Kata So Eun dengan nada yang cukup keras.

Jinki kaget melihat So Eun sangat marah, ia tidak pernah melihat gadis itu berteriak seperti itu padanya. Ia menjadi semakin bingung ketika melihat So Eun tiba – tiba terduduk lemas sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Samar – samar Jinki dapat mendengarkan suara tangisan gadis itu.

“Ah, dia benar – benar marah.” Gumam Jinki dalam hati.

“Mianhe So Eun-aah, jeongmal mianhe. Aku tidak tahu kau akan semarah ini padaku.” Kata Jinki memelas sambil mengelus lembut rambut panjang gadis itu. Tapi gadis itu tetap tidak berkata apa – apa, hanya suara isakan yang terdengar makin keras.

“Uljimayo So Eun-aah.” Rayu Jinki lembut yang tetap saja tidak dihiraukan oleh So Eun. “Okey, kalau begitu aku akan membuatmu tertawa lagi.” Lanjut Onew sambil berdiri di depan So Eun.

“Ulmyeon andwae… Ulmyeon andwae… Santahalabeojineun uneun aiegen… Seonmuleul an jusindae Santahalabeojineun algo gyesindae…”Jinki menyanyikan lagu anak – anak dengan ceria dan penuh gaya. Ia malakukan berbagai macam aegyo unik yang  membuat wajah innocentnya menjadi semakin imut.

So Eun yang sedari tadi diam – diam melirik tingkah laku sahabatnya itu pun akhirnya tidak dapat menahan tawa, “HAHAHAHAHHAAA.”

Melihat sahabatnya yang telah tertawa riang Jinkipun tersenyum sambil melanjutkan nyanyiannya dan melakukan segalah macam aegyo yang lebih unik, So Eunpun tidak dapat menahan tawanya ketika melihat sahabat yang sudah ia kenal dari kecil itu melakukan hal konyol seperti itu. Tawa So Eun sangat keras hingga kedua lesung pipinya yang dalam terlihat sangat jelas.

Jinki menyelesaikan nyanyiannya dan kemudian tersenyum sambil duduk di samping sahabatnya itu. “Apa kau sudah tidak marah lagi?” Tanya Jinki sambil memandang So Eun yang sedang berusaha mengendalikan tawa gelinya itu.

“Kata siapa aku sudah tidak marah?” Jawab So Eun sinis dengan wajah bewarna merah karena menahan tawa.

“Sudahlah, So Eun-aah. Aku benar – benar tidak sengaja melakukan itu. Lagipula bukankah tasmu menjadi lebih keren dengan tambahan lukisan abstrak dariku ini.” Jawab Jinki dengan wajah polosnya dan tatapan lembut matanya yang tidak mempunyai kelopak itu.

“Ah.. Yah mau gimana lagi.” Kata So Eun sambil berdiri dan meletakkan tas penuh coretan itu di punggungnya. “Gaja!!” Ajak So Eun dengan wajah yang kembali riang.

Jinki yang melihat gadis itu telah kembali ceria tersenyum penuh kemenangan, iapun bangkit dari tempat duduknya dan kemudian langsung meletakkan tangan kanannya di bahu So Eun. “Kalau gitu tasmu yang lain boleh aku coret-coreti lagi kan?”

Mendengar ucapan Jinki itu, So Eun langsung saja menyikut perut Jinki dengan kuat, “Awas saja kalau kau berani melakukan itu!” Ucapnya sambil melepaskan diri dari rangkulan Jinki.

“Aish..” Keluh Jinki kesakitan sambil mengelus perutnya perlahan. “Yah, So Eun-aah nal gidalyeo.” Ucap Jinki sambil mengejar So Eun yang sudah cukup jauh.

“Tidak tahukah kau bahwa seorang seniman itu harus segera menuangkan segala inspirasinya sebelum itu pergi melayang. Dan tahukah kau bahwa inspirasi seniman seperti aku ini sangatlah mahal.” Bual Jinki sambil merangkul So Eun, So Eunpun dengan wajah yang sedikit kesal akhirnya hanya mendengarkan bualan sahabatnya itu yang sebenarnya sudah sering ia dengarkan.

Begitulah kedua sahabat ini menjalin hubungan, meraka telah bersahabat sejak meraka berumur tujuh tahun. Sejak Jinki yang datang dari desa pindah ke seoul, Jinki yang baru saja pindah dari desa sangat kesepian karena tidak memiliki teman sama sekali. Tidak ada anak yang mau menyapanya bahkan mengajaknya bicara karena logatnya yang aneh dan berbedah dari teman – temannya itu. Ketika Jinki merasa kesepian karena belum memiliki teman, Kim So Eun satu – satunya orang yang mau mengajaknya bicara dan bermain. Bahkan So Eun mengajarkan Jinki untuk berbicara tanpa aksen

Lee Jinki dan Kim So Eun, dua insan yang saling mencintai dari kecil dan tidak pernah punya keberanian untuk menyatakannya. So Eun yang selalu mendukung Jinki mewujudkan impiannya menjadi penyanyi dan Jinki yang selalu membuat So Eun tertawa riang. Hari – hari selalu mereka lewati bersama, hingga mereka tidak menyadari bahwa mereka tidak bisa hidup terpisah.

“So Eun-aah, tasmu keren sekali.” Kata seorang gadis mungil menyapa ceria So Eun ketika melihat So Eun masuk ke dalam kelas.

“Jangan menghinaku seperti itu, Jiyoung-aah.” Jawab So Eun sambil duduk di samping gadis manis dengan poni pagar yang imut.

“Ani.. Aku tidak menghinamu kok. Tasmu benar – benar terlihat keren.” Puji Jiyong ceria.

‘Jeongmal??” Tanya So Eung yang langsung dijawab anggukkan oleh Jiyoung. “Ini semua perbuatan Jinki-yah.” Lanjut So Eun sambil meletakkan tas cokelatnya di atas bangku.

Mendengar nama Jinki disebut ekspresi Jiyoung langsung berubah, wajahnya menjadi memerah padam. Melihat hal itu, So Eun menyadari bahwa ada yang aneh.

“Yah Jiyoung-aah, jangan – jangan kau menyukai Lee Jinki?” Tanya So Eun spontan.

Wajah lembut Jiyongpun semakin memerah, ia hanya terdiam sebentar dan kemudian, “Ye.. naega joh-a.”

“Hah?” Kata So Eun kaget.

Hari ini So Eun terlihat sangat aneh, ia masih kepikiran dengan kata – kata teman sebangkunya, Kang Jiyoung. Ia memang pernah memperkenalkan Kang Jiyoung dengan Lee Jinki tapi ia tidak menyangka bahwa Kang Jiyoung bisa menyukai Jinki.

Lee Jinki memang tidak satu sekolah dengannya, Jinki bersekolah di sekolah khusus music untuk mewujudkan impiannya sebagai penyanyi. Padahal  So Eun memperkenalkan Jinki pada Jiyoung tanpa sengaja. So Eun masih berkutat dengan pikirannya, ia berusaha menemukan jawaban atas pertanyaannya itu sampai ia akhirnya mendapat lemparan kapur dari Kim Heechul seonsaengnim.

“So Eun-aah, cepat maju dan kerjakan soal di papan tulis.” Perintah Heechul seongsaengnim.

“Mampus.” Gumam So Eun pelan.

“Yah So Eun-aah, kenapa dari tadi ka uterus melamun seperti itu?” Tanya Jinki sambil menikmati es krim coklatnya.

“Ani..” Jawab So Eun sedikit bingung. Ia tampak seperti orang linglung, hingga es krim strawberry yang sedari tadi berada di tangan kanannya tidak ia sadari mulai mencair perlahan.

“Lihatlah es krimmu sampai mencair.” Kata Jinki sambil menunjuk es krim di tangan So Eun.

“Ah ye…” jawab So Eun sedikit linglung.

Merasa ada yang aneh Jinki mendekatkan wajahnya ke wajah So Eun sahabatnya itu, “Sebenarnya ada apa denganmu? Bukankah kamu yang memintaku mengajakmu ke taman hiburan? Mengapa kau malah bertingkah aneh seperti ini?”

“Ani.. aku hanya merasa capek saja.” Jawab So Eun sambil melahap es krimnya.

“Jeongmal? Kalau begitu bagaimana kalau kita pulang saja sekarang?” tanya Jinki khawatir.

“Ani.. aku tidak apa-apa. Setalah bersenang – senang di sini mungkin aku akan segera sembuh.” Jawab So Eun sambil melahap habis es krimnya.

“Okey.” Kata Jinki singkat.

Jinki dan So Eun kemudian berjalan – jalan sambil menikmati seluruh wahana yang disediakan di taman hiburan itu mulai dari rollercoaster hingga halillintar. So Eun sesaat lupa akan apa yang dari tadi mengganggu pikirannya, ia berteriak dan tertawa lepas dengan Jinki.

Waktu semakin malam, merekapun memutuskan untuk menaiki bianglala dan kemudian pulang. Sebenarnya So Eun menolak untuk naik bianglala karena ia menganggap bianglala hanyalah mainan untuk anak kecil, tapi Jinki memaksa untuk menaikinya. Ia merasa sangat aneh, padahal ia yang mengajak Jinki ke taman hiburan tetapi mengapa Jinki malah yang lebih tampak bersemangat bermain.

Di dalam bianglala, Jinki terus memandang ke luar sambil menunjukkan wajah yang kagum seperti anak kecil yang baru melihat mainan yang ia ingingkan. So Eun yang duduk di samping Jinkipun hanya melihat kosong ke arah cahaya lampu gemerlap yang menghiasai taman hiburan malam itu.

“Jinki, apa kau pernah bertemu dengan Jiyoung?” tanya So Eun perlahan pada Jinki.

“Jiyong siapa?” jawab Jinki balik bertanya dan tetap asyik mengamati pemandangan di luar bianglala.

“Jiyong temanku, yang dulu pernah aku kenalkan kepadamu.” Jawab So Eun.

“Oh.. Kang Jiyoung?? Ye.. seminggu yang lalu aku bertemu dengannya di acara kencan buta.” Jawab Jinki ringan dan terus memandang ke luar dengan wajah yang masih antusias.

“Kencan buta?? “Tanya So Eun penasaran.

“Ye, seminggu yang lalu aku diajak temanku untuk melakukan kencan buta. Dan kupikir itu akan mengasyikkan, ternyata itu sangat membosankan. Tapi gadis bernama Kang Jiyoung itu menurutku cukup manis.” Jelas Jinki panjang lebar.

“Weayo? Mengapa kau tiba – tiba bertanya tentang itu padaku?” Lanjut Jinki sambil menoleh kea rah So Eun yang tidak mengalihkan perhatiannya dari gemerlap cahaya lampu taman hiburan.

“Ani..” jawabnya singkat.

Mereka terdiam cukup lama, Jinki kembali mengamati pemandangan di luar dengan penuh antusias.

“Joh-ahaseyo?” tiba-tiba So Eun bertanya pelan pada Jinki.

“Mungkin.” Jawab Jinki singkat.

Mendengar jawaban Jinki itu, tanpa terasa air mata mulai membasahi pipi So Eun yang tadinya kering.

Sejak malam itu, Jinki dan So Eun jadi jarang sekali bertemu. Jinki disibukkan dengan audisinya di salah satu management entertainment terkenal di Korea sedangkan So Eun sedang sibuk menyiapkan diri untuk ujian sekolah.

Hari itu udara terasa sangat panas, tidak biasanya cuaca di Seoul terasa sangat panas seperti sekarang. Banyak siswa – siswi dengan seragam putih polos serta bawahan bewarna kotak – kotak bewarna merah. Mereka sedang berdesak – desakkan melihat pengumuman di papan putih yang terpajang di tengah lapangan. Setiap siswa berdoa dalam hati agar mereka  mendapat peringkat sepuluh besar atau setidaknya nama mereka tidak tercantum di bagian paling bawah.

So Eun dan Jiyoung pun juga ikut dalam gerombolan siswa yang sedang berdesakan itu, So Eun mencari namanya dan akhirnya ketemu, ia masuk peringkat sepuluh besar. No. 8 Kim So Eun itu yang terterah di papan bewarna putih itu.

“Chukae…” Ucap Jiyoung riang pada So Eun.

“Gomawo Jiyong-aah, bagaimana peringkatmu?” tanya So Eun sambil meninggalkan kerumunan.

“Ah, tidak sebaik kamu. Aku hanya mendapat peringkat No. 32.” Jawab Jiyoung ringan dengan senyum yang berkembang.

“Aish,, itu sudah cukup bagus.” Kata So Eun sambil tersenyum manis.

Hello hello hello… Tiba – tiba handphone di saku So Eun berdering.

“Yoboseo?” kata So Eun lembut di telepon.

“So Eun-aah, bogoshiposeo??”  Tanya pemuda di seberang.

“Ye.. bogoshipda, Jinki-yah.” Jawab So Eun enteng, ia tidak menyadari bahwa wajah gadis yang sedari tadi di sampingnya telah berubah menjadi sedikit kecewa dan sedikit tersirat di wajahnya bahwa ia cemburu.

“Hahahaha…  sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kita bertemu di café Shawol?” kata Jinki riang.

“Café shawol?? Arrasoe, sepulang sekolah aku akan kesana.” Jawab So Eun penuh senyum bahagia. Sambil menutup teleponnya, “Jiyoung-aah,” So Eun menoleh ke arah Jiyoung tadi berada, tapi orang yang ia cari telah tidak ada.

So Eun membereskan tas coklat yang penuh dengan coretan tangan Jinki di kelas, tidak ada seorangpun di kelas, kelas sangat sepi mungkin karena hari ini tidak ada pelajaran semua murid hanya datang ke sekolah untuk melihat pengumuman hasil ujian. Ia memandang tas coklatnya itu kemudian tersenyum, entah sejak kapan tas itu kini menjadi tas favoritnya.

“So Eun-aah,” suara lembut seorang gadis menggema di kelas kosong tersebut.

“Jiyoung-aah, kemana saja kau tadi? Aku mencarimu, apa kau tidak ingin pulang?” kata So Eun sambil meletakkan tas coklatnya itu dipunggunggnya.

“So Eun-aah, maukah kau menemaniku pulang? Aku sedikit tidak enak badan,” Jiyong berlutut lemas, wajahnya tampak pucat.

“Jiyoung-aah, kau kenapa? Apa kau sakit?” kata So Eun khawatir sambil membantu Jiyoung berdiri.

“Aku hanya merasa pusing, bisakah kau mengantarku pulang?” jawab Jiyong lemas.

“Baiklah,” jawab So Eun mantab.

So Eun menemani Jiyoung yang lemas berbaring di tempat tidur kamarnya yang cukup besar. Rumah Jiyoung ketika itu sedang sepi, kata Jiyoung kedua orang tuanya sedang pergi ke luar kota untuk mengurus bisnis, ia juga tidak memiliki saudara karena Jiyoung adalah anak tunggal.

So Eun terus mengganti kompres di dahi Jiyoung, badan Jiyoung sangat panas, suhu tubuhnya mencapat 32 derajat Celsius. So Eun tampak cemas melihat sahabatnya demam, apalagi ia terus melihat Jiyoung mengigau tidak jelas.

Jam dinding di kamar Jiyoung sudah menunjukkan pukul 6, So Eun yang sedari tadi menemani Jiyoung sudah tertidur di samping Jiyoung. Jiyoung terbangun dari tidurnya, ia melihat ke arah So Eun yang tertidur pulas di sampingnya. “Dasar bodoh,” gumamnya pelan.

“Sudah jam tujuh malam, pasti Jinki sudah pulang,” gumam So Eun pelan.

Ia baru saja pulang dari rumah Jiyoung, dan kini ia berada di bis. Karena terlalu cemas melihat keadaan Jiyoung, ia hanya sampai lupa janjinya dengan Jinki bahkan ia lupa menelepon Jinki untuk membatalkan janjinya. Ia mengambil ponselnya di tas bewarna coklat, ia coba untuk menelepon Jinki lagi tapi hasilnya tetap sama. Jinki tidak mengangkat teleponnya.  Mungkin Jinki marah, bagaimana tidak So Eun tiba – tiba membatalkan janji dan tidak mengangkat telepon dari Jinki.

‘Sudahlah, besok aku akan berbicara padanya.” So Eun menaruh kembali ponselnya di dalam tas coklatnya.

‘Mianhe So Eun-aah, tapi Jinki sudah berangkat dari tadi pagi,” kata seorang wanita setengah baya yang masih terlihat cantik.

“Baiklah tante, Gamsahabnida,” ucap So Eun sopan dan kemudian meninggalkan rumah dengan cat bewarna putih itu.

“Ehm… Bahkan ia sudah berangkat sekolah pagi – pagi sekali,” gumam So Eun lemas.

So Eun berangkat ke sekolah dengan tubuh yang lemas, sepanjang perjalan di bis ia terus saja menatap kosong ke  arah luar jendela. Ia sangat takut kalau Jinki benar – benar marah padanya.

“So Eun-aah, kenapa kau terlihat sangat lemas? Apa kau sedang sakit?” ucap Jiyoung khawatir ketika So Eun berjalan ke bangku dimana Jiyoung duduk dengan  tubuh lemas.

“Ani..” ucapnya sambil menggeleng kepala dan duduk di bangku samping Jiyoung. “Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah sembuh?” lanjutnya.

“Ye, lihat badanku sudah berenergi lagi. Semua karena kamu So Eun-aah. Gomawo, So Eun-aah.” Kata Jiyoung lembut dengan senyum mengembang.

“Ah,syukurlah kalau begitu. Kau tidak usah berterima kasih kepadaku, itu adalah tugas dari seorang teman untuk menjaga temannya yang sedang sakit,” ucap So Eun dengan senyuman manis yang menampakkan lesung pipinya yang menawan.

Pelajaran berlangsung sangat cepat, tanpa terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul dua. Dan bel pulang sekolahpun telah berdering merdu. Semua siswa di kelas telah bersiap-siap pulang dengan membereskan buku dan barang-barang mereka di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas masing-masing. Begitu pula dengan So Eun dan Jiyoung.

“Hari ini kita pulang bareng ayo,” ucap Jiyoung setelah selesai membereskan buku-bukunya.

“Baiklah,” jawab So Eun singkat sambil terus memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tasnya.

So Eun dan Jiyong berjalan berdampingan berdua, mereka terus mengobrol dan tertawa bersama sepanjang perjalanan menuju gerbang sekolah. Ketika mereka sampai di gerbang sekolah, mereka berdua melihat begitu banyak balon bewarna warni sedang dipegang entah oleh siapa, karena terlalu banyaknya balon yang orang itu bawa hingga membuat hanpir seluruh tubuhnya tak telihat.

Balon yang tadinya berada tenang di genggaman sang pemilik, tiba – tiba berterbangan ke langit. Wajah sang empunya pun kini mulai terlihat jelas.

“Jinki-yah,” ucap So Eun senang.

Jinki mendekat ke arah So Eun, “Bagaimana? Bukankah tadi sangat indah?” ucap Jinki dengan senyum khasnya.

“Dasar kau ini mengagetkan saja,” ucap So Eun sambil menepuk dada Jinki yang ada di depannya.

“Hahahaha,, aku kan memang selalu ahli dalam mengagetkanmu. Aku sangat merinduhkanmu, So Eun-aah,” ucap Jinki sambil memeluk So Eun.

“Aku juga,” gumam So Eun sambil meneteskan air mata.

Tiba – tiba ia teringat Jiyoung yang tadi ada di sampingnya, ia teringat bahwa Jiyoung juga menyukai Jinki. “Jiyoung-aah,” ucap So Eun sambil melepaskan diri dari pelukan Jinki.

Ia melihat Jiyoung telah berlari menjauhinya, Jiyoung sudah cukup jauh darinya tapi ia masih bisa melihat bahwa Jiyoung meneteskan air mata.

“Jiyoung-aah,” teriak So Eun sambil mengejar Jiyoung dan meninggalkan Jinki.

“So Eun-aah, jamkkan man-yo,” teriak Jinki mengejar So Eun.

“Jiyoung-aah,” teriak So Eun terus menerus, ia tetap mengejar Jiyoung yang berlari sangat cepat menghindarinya.

Jalanan ketika itu sangat ramai, banyak sekali kendaraan berlalu lalang mungkin karena ini adalah jam pulang sekolah. Jiyoung terus berlali di keramaian kendaran yang berlalu lalang itu tanpa melihat ke kanan kiri. So Eun dapat merasakan betapa kecewanya Jiyoung terhadapnya.

“Jiyoung-aah,” teriak So Eun lagi.

“So Eun-aah, hati – hati,” teriak Jinki di belakang So Eun.

Di tengah keributan dan keramaian jalanan, tiba sebuah truk melaju sangat kencang dan tiba-tiba…. Bruuk….

“So Eun-aah,” teriak Jinki menggema di sepanjang jalan.

Satu tahun kemudian…

“Apakah So Eun meninggal?” ucap Nicole penasran.

“Tentu saja, So Eun meninggal dunia. Maka dari itu Jinki tidak pernah menyanyikan lagu cinta dan hanya mau menyanyikan lagu sedih. Katanya ia hanya akan menyanyikan lagu cinta untuk So Eun seorang,” jelas Hara panjang lebar.

“Jeongmal? Cerita yang sangat menyedihkan,” ucap Nicole sambil meneteskan airmata.

“Hey, apa kau menangis? Hahahahah, dasar bodoh. Itu semua hanya cerita bohong tahu, itu adalah fanfic yang sedang terkenal di internet sekarang. Hahahaha” ucap Hara sambil tertawa keras.

“Ah, dasar kau menyebalkan,” ucap Nicole kesal sambil meninggalkan Hara yang masih tertawa puas.

EPILOG

Unnie, ceritanya sangat menyedihkan. Apa ini kisah nyata?

Ya, ini kisah nyata.

Seorang gadis dengan kacamata berframe putih, menatap tajam ke layar komputernya.

“Jiyoung-aah, cepat keluar kita makan malam bersama,” suara seorang wanita di depan kamar menembus pintu kamar.

“Ye, omma,”jawab gadis itu sambil mematikan komputernya.

“Tenang So Eun-aah, kisah dan cintamu akan terus abadi walaupun kau sudah tidak ada disini,” ucap gadis itu sambil melepaskan kacamatanya dan meletakknya di depan sebuah foto. Foto dua orang gadis yang sedang tertawa riang.

-END-

Iklan