By : Lukita

Chapter 1

Prolog

Lee Hyun Jae POV

Aku tidak pernah menyangka Tuhan bisa menciptakan manusia sejahat oppa, tanpa kata dan tanpa kejelasan ia meninggalkanku dengan hati yang bimbang. Oppa apa kau tidak tahu isi hatiku yang sebenarnya? Tatapan teduhmu, sikap hangatmu, dan senyuman manismu yang membuat aku kuat kini malah menjadi bumerang yang membuat aku semakin lemah. Tuhan,, mengapa kau sungguh tidak adil??? Mengapa kau mengirim orang yang membuat aku terbang ke langit dan kemudian menghempaskan aku kembali ke bumi? Seluruh hati dan tubuhku terasa remuk tak bersisa. Sungguh aku membencinya.

Lee Hyun Jae POV end.

Jam dinding telah menunjukkan pukul 6 sore, SMA Cassiopea yang biasa ramai dengan siswa – siswi yang berlalu lalang kini mulai terlihat sepi. Sekolah yang cukup besar dengan warna cat abu – abu ini jadi terlihat cukup seram di sore hari yang sepi ini, ditambah lagi dengan hujan yang sedekit demi sedikit mulai turun perlahan.

Di suasana yang cukup tidak enak ini, seorang siswi dengan rambut panjang yang dikuncir ke belakang dan tas di punggung  sedang berdiri di halaman sekolah, ia berusaha menghindari hujan dengan berdiri di dekat pos satpam yang sudah kosong sedari tadi. Ia sesekali melihat jam tangan di tangan kirinya dan juga handphone di tangan kanannya, dan setiap kali ia melihat handphone itu wajahnya terlihat sangat kesal dan kecewa.

Hello hello hello…

Handphone di tangan kanannya tiba – tiba berdering, wajahnya yang tadinya terlihat kecewa kini telah tampak sumringah.

“Eunhyuk oppa,” gumamnya sambil mengangkat telepon.

“Yoboseo??” kata gadis itu pada orang diseberang.

“Yah, Hyun Jae yah.. jeongmal mianhe. Oppa hari ini tidak bisa menjemputmu, oppa hari ini sangat sibuk, bahkan oppa tidak dapat meminta izin untuk keluar ke kamar mandi. Jeongmal mianheyo Hyun Jae yah,” jawab seseorang di seberang dengan nada yang terburu – buru.

“Mworagoyo?” jawab gadis itu dengan ekspresi yang sedikit kaget dan kesal.

“Jeongmal mianheyo Hjun jae yah, kau pulang dulu naik bis. Jeongmal mianheyo.. annyeong,”

“Hjuk jae oppa,” teriak gadis itu yang sepertinya tidak berguna karena orang di seberang sana telah lama memutus telepon.

“Yah.. Hyuk Jae oppa lihat nanti saja di rumah, kau akan habis. Tahu begini lebih baik aku pulang dengan Kim Junsu atau Kim Jaejoong tadi,” gumam Hyun Jae dengan hati yang sangat kesal.

Ia melihat ke sekitar, hujan turun semakin deras ia ragu untuk melangkahkan kakinya tapi ia juga tidak ingin tinggal di sekolah sampai malam. Sekali lagi ia melirik jam tanggannya, dan jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, akhirnya dengan tekad yang kuat dan rasa kesal yang luar biasa ia menggangkat tas dipunggunya dan menggunkannya sebagai pelindung. Ia berlali cukup jauh menerjang derasnya hujan, dan setelah beberapa saat kemudian ia sampai di halte terdekat di sekolahnya.

“Huh,, aku jadi basah semua,” gumam Hyun Jae sambil membersihkan badannya yang basah kuyup.

“Nih pakailah,” tiba – tiba terdengar suara laki – laki di samping Hyun jae,  ia menoleh dan melihat seorang laki – laki bertubuh jangkun sedang mengulurkan sebuah sapu tanga polos bewarna biru.

“Gamsahabnida,” jawab Hyun Jae sambil meraih sapu tangan itu dengan sedikit canggung.

Hyun Jae dengan canggung membersihkan tubuhnya menggunakan sapu tangan pemberian pemuda itu, sesekali ia melirik ke arah pemuda itu dan ia dapat melihat betapa tampannya pemuda itu, dengan rambut hitam pendek serta kaos putih simple yang membuatnya terlihat lebih macho.

Tidak lama kemudian sebuah bis bewarna hijau telah berhenti di depan halte, lelaki jangkun yang berada di samping Hyun Jae tadi telah mendahului Hyun Jae masuk ke dalam bis. Dengan segera Hyun Jae mengikuti pemuda itu masuk ke dalam bis.

Tidak ada penumpang di dalam bis, mungkin karena ini sudah malam. Hyun Jae melihat jam tangannya dan waktu telah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Pemuda yang memberikan sapu tangan itu telah duduk di pojok belakang bis sambil mendengar music menggunakan earphone ketika Hyun Jae masuk ke dalam bis, Hyun Jae pun memilih duduk di depan agar dekat dengan pintu.

Ia merasa sangat lelah, ia telah menunggu Hyuk Jae, kakaknya yang kadang ia panggil dengan sebutan Enhyuk oppa selama dua jam. Sebenarnya hari ini jam pulang sekolahnya adalah jam satu siang tapi tadi ia terpaksa tinggal di sekolah untuk mengerjakan tugas kelompok Bahasa Jerman yang sangat ia benci. Ia mulai menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di kaca jendela bis. Ia mulai merasa ngantuk dan tertidur.

Setengah jam kemudian…

“Noona, anda harus bangun,” suara berat seorang lelaki tua membangunkan Hyun Jae dari tidurnya yang terasa panjang.

“Ah yea,, joesonghabnida ajushi,” kata Hyun Jae dengan wajah yang sedikit malu.

Hyun Jaepun bangkit dari tempat duduk bis dan anehnya sebuah jaket bewarna biru telah menempel di badannya.

“Permisi ajushi,,apakah ajushi tahu jaket siapa ini?” tanya Hyun Jae pada supir bis yang tadi membangungkannya.

“Oh yea,, itu jaket milik laki – laki yang tadi bersamamu masuk ke dalam bis. Bukankah kalian berteman?’ kata lelaki tua itu ramah.

“Wae?? Ani.. kami bukan teman, bahkan aku tidak mengenalnya, ajushi.” Jawab Hyun Jae dengan tampang yang sedikit kaget.

“Ah, jeongmal? Dia terlihat sangat perhatian padamu, bahkan tadi ia meminta padaku untuk membangunkanmu di daerah ini.” Jawab lelaki itu dengan wajah yang sedikit heran.

“Ah, ini sangat aneh. Ini memang dareah sekitar rumahku, bagaimana dia tahu rumahku kalau aku saja tidak mengenalnya,” kata Hyun Jae terheran – heran.

“Mungkin pemuda itu adalah teman lamamu, tadi ia sempat menyebutkan namanya. Kalau tidak salah namanya adalah Choi… Choi Minho,” kata lelaki itu sedikit terbata ketika mengucapkan nama pemuda tadi.

“Choi Minho???”…

Dalam perjalanan Hyun Jae masih memikirkan pemuda bernama Choi Minho itu, ia berjalan menyusuri jalanan menuju rumahnya sambil terus melihat jaket bewarna biru itu. Tiba – tiba ia teringat dengan sapu tangan polos bewarna biru yang pemuda itu pinjamkan kepanya. Ia mengeluarkan sapu tangan itu.

“Bahkan aku belum mengembalikan sapu tangan ini,” gumamnya sambil memandangi sapu tangan itu, di salah satu sudut sapu tangan tersebut ternyata terdapat sulaman huruf CM dengan benang bewarna putih. Ketika ia sedang serius mengamati sapu tangan itu,, Tuk

“Aduh,,,” kata Hyun Jae kesakitan sambil memegang kepalanya.

“Apa yang kau lakukan? Mengapa baru sampai jam segini?” suara yang tidak asing bagi Hyun Jae pun mulai terdengar, ia menengadah memastikan siapa laki – laki itu.

“Enhyuk oppa, apa yang kau lakukan padaku? Sakit sekali kepalaku kena jitakkanmu,” kata Hyun Jae manja sambil mengelus – ngelus kepalanya.

“Hahahaha, mianhe.. salah sendiri berjalan tanpa melihat ke depan. Apa yang kau bawa di tanganmu itu?” kata Hyuk Jae menunjuk jaket bewarna biru yang dari tadi ada di tangan adiknya itu.

“Apa oppa buta?? Ini adalah sebuah jaket bewarna biru, oppa.” Jawab Hyun Hae sinis.

“Tentu saja aku tahu, tapi yang aku tanyakan itu milik siapa? Sepertinya itu bukan milikmu.” Kata Hyuk Jae sedikit kesal.

“Ehm,, Rahasia.. Weeek!!!” jawab Hyun Jae sambil menjulurkan lidahnya dan berlari masuk ke dalam rumah.

“Yah.. dasar, kemari kau.” Teriak Hyuk Jae sambil mengejar adiknya yang telah masuk ke dalam rumah.

“Ampun Oppa, ampun. Cepat turunkan aku, oppa” Jerit Hyun Jae yang sudah lemas berada di bahu oppanya yang berotot besar itu.

“Hahaha, tidak akan aku turunkan sebelum kau beritahu aku milik siapa itu.” Kata Hyuk Jae sambil memutar – mutar tubuhnya supaya adiknya itu merasa pusing.

“Ampun Hyuk Jae Oppa, ampun..” teriak Hyun Jae semakin keras.

“Yah, apa yang kalian lakukan? Mengapa sangat berisik sekali?” sebuah suara yang terdengar sangat tegas terdengar menggema di rumah besar itu.

“Hal-abeoji, kakek.” Teriak Hyuan Jae dari atas bahu oppanya, Hyuk Jae.

“Apa yang kau lakukan di atas bahu oppamu Hyun Jae-yah? Hyuk Jae-yah cepat turunkan adikmu itu.” Perintah kakek penuh wibawa.

“Okey.” Jawab Hyuk Jae sambil melemparkan tubuh adiknya itu ke sofa.

“Aduh,, hal-aboeji, lihatlah betapa jahat Hyuk Jae oppa padaku.” Kata Hyun Jae manja pada kakeknya itu.

“Sudahlah, lagian mengapa kamu baru pulang jam segini? Lihatlah ini sudah jam delapan malam.” kata kakek sambil menujuk jam antik dari kayu yang terpajang mewah di ruang tamu.

“Itu semua karena Hyuk Jae oppa, aku menunggunya lama dan ternyata ia malah menelantarkan aku di sekolah.” Kata Hyun Jae manja.

“Bagaimana aku bisa menjemputmu, aku waktu itu sedang jam pelajaran Yunho seonsaengnim. Kau tidak tahu betapa killernya dia, ia tidak akan mengijinkan muridnya untuk keluar bahkan untuk ke kamar mandi sekalipun.” Jelas Hyuk Jae panjang lebar.

“Ah,, itu tidak benar hal-aboeji.. Pasti Hyuk Jae oppa sedang bersenang – senang dengan Gyuri unnie mangkanya ia jadi lupa dengan adik satu – satunya ini.”  Kata Hyun Jae tidak percaya pada oppanya itu.

“Aish,, kau memang sangat menyebalkan ya.” Kata Hyuk Jae kesal sambil menarik tangan Hyun Jae dan hendak ia angkat badan Hyun Jae yang kecil itu kembali ke atas bahunya.

“Sudahlah kalian berdua ini jangan ribut terus, Hyuk Jae-yahcepat turunkan adikmu itu. Hyun Jae-yah cepat mandi dan ganti pakaianmu itu.” Perintah kakek penuh wibawa yang langsung dituruti oleh kedua cucunya itu.

“Arraseo, hal-abeoji.” Jawab keduanya.

“Hyuk Jae-yah, kemarilah  ada yang ingin aku katakan padamu.” Panggil kakek kepada Hyuk Jae yang langsung dipatuhi oleh Hyuk Jae.

Hyuk Jae dan kakek pergi ke ruang kerja kakek di dekat ruang tamu sedangkan Hyun Jae menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya di lantai atas. Setelah sampai di kamar bewarna pink yang cukup besar itu, ia segera meletakkan jaket dan tasnya itu di meja belajar kayu bewarna putih yang berada di samping kanan pintu kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan bed cover bewarna pink.

“Choi Minho.” Gumam Hyun Jae sambil mengamati sapu tangan bersulam huruf CM itu.

Keesokan hari..

Seperti biasa suasana di SMA Cassiope pagi ini terlihat sangat ramai, siswa – siswi yang baru datang berlalu lalang menuju kelas mereka masing – masing. Dan di kelas 2A, dimana Hyun Jae mempelajari banyak sekali mata pelajaran yang kadang membuatnya pusing. Suasana di kelas 2A terlihat seperti hari – hari sebelumnya, dimana Kim Junsu sang ketua kelas setiap pagi selalu menunjukkan suara emasnya di depan teman – temannya, maklum ia akan segera debut sebagai penyanyi. Dan juga ada Lee Donghae yang selalu saja mempraktekan tarian – tarian baru di depan kelas dan selalu mendapat tepukan meriah dari para cewek- cewek.

Dan seperti  biasanya pula, Hyun Jae hanya duduk sendirian sambil membaca buku di tempat duduknya yang berada di pojok belakang kelas. Ia tidak seperti gadis – gadis di kelasnya, yang selalu berteriak kagum melihat tarian keren Lee Donghae, terpesona dengan suara emas Kim Junsu atau sibuk membereskan make up agar terlihat selalu sempurna. Ia sangat pendiam dan dapat dibilang orang yang sangat tertutup, bahkan teman – teman di kelasnya jarang melihat Hyun Jae tersenyum.

“Apa yang sedang kau lakukan?” sebuah suara terdengar mengganggu konsentrasi Hyun Jae.

“Tidakkah kau melihatku sedang membaca buku, Jaejoong-shii?” jawab Hyun Jae sinis.

“Ehm, aku tahu. Tapi buku apa yang sedang kau baca?” jawab Jaejoong sambil duduk di samping Hyun Jae.

Hyun Jae tidak membalas pertanyaan Jaejoong, ia hanya memiringkan dirinya dan bukunya, hal itu mengisyaratkan “Kau bisa membacanya sendiri.” Yang langsung bisa diartikan oleh Jaejoong, dengan senyum masam Jaejoongpun beranjak dari tempat duduk di samping Hyun Jae dan bergegas menuju tempat duduknya di depan tempat duduk Hyun Jae, ia menyadari bahwa ia telah mengganggu Hyun Jae.

“Seperti biasa.” Kata Jaejoong lemas pada teman sebangkunya, Yoochun.

“Jangan menyerah Jaejoong-aah, Hwating!!!” kata Yoochun dengan senyum yang menyeringai bak bayi yang tak berdosa.

“Yea.” Jawab Jaejoong dengan wajah yang masam.

Ting Tong… bel sekolahpun berbunyi menandakan pelajaran akan segera di mulai.

“Selamat pagi anak – anak.” Sapa Narsha seonsaengnim ketika ia memasuki kelas.

“Selamat pagi seonsaengnim.” Jawab murid – murid di kelas serempak.

“Bagaimana kabar kalian pagi ini, anak – anak? Ibu harap kabar kalian semua baik – baik saja. Hari ini ibu akan memperkenalkan seorang siswa baru.” Kata Narsha seonsaengnim lembut seperti biasa.

“Kemarilah, silakan masuk.” Kata Narsha seongsaengnim kepada seseorang yang sedang menunggu di luar kelas.

Seorang pemuda jangkun dengan rambut cepakpun masuk ke dalam kelas. Semua siswi di dalam kelas berdecak kagum melihat betapa tampannya pemuda itu, tentu saja kecuali Hyun Jae yang masih asik membaca bukunya.

“Silakan perkenalkan dirimu, nak.” Perintah Narsha seongsaengnim kepada pemuda itu.

“Annyeonghaseyo, perkenalkan namaku Choi Minho.”

“Choi Minho??”  teriak Hyun Jae yang tentu saja mengagetkan seluruh siswa yang ada di kelas.

To be continued

Iklan