By : Rahina Lollidela
Casts:
– Park Hin Ah (Author)
– Park Sandara
– Kwon Ji Yong
– Go Yong Bae
– Choi Seung Hyun
– Guru Dong Wok
– Many more…

“What do you feel, what people feel….”

Hin Ah POV
Hari ini aku ke sekolah memasak dengan berjalan kaki. Seharusnya Dara eonnie mengantar ku, tapi dia sedang sibuk bereksperimen dengan resep barunya bersama appa. Perjalanan menuju sekolah cukup jauh, tapi aku sudah biasa seperti ini.

“Hai, Hin Ah!” sapa Mi Sun, tsahabat ku. “Hai!” balas ku. “Hari ini ujian kan?” katanya. Aku sedikit terkejut. Aku lupan kalau hari ini ujian! “Ujian? Aduh, aku lupa! Hari ini hanya teori kan?” kata ku sambil meletakkan tas ku ke atas bangku. Mi Sun menggeleng. “Kemarin kita sudah ujian teori. Kau lupa? Hari ini kita praktek. Bahan ujian kali ini roti” kata Mi Sun. Ini lebih sial bagi ku. Tapi aku akan mencobanya.

“Pengumuman, semua siswa kelas 3 yang akan mengikuti ujian harap menuju ke dapur 4-A” pengumuman itu membuat hati ku terguncang. Mi Sun langsung menarik ku ke dapur 4-A. Sebenarnya aku sangat tidak ingin kesana.

“Semua siap ditempat!” teriak guru Dong Wok. Kami langsung membuat barisan. “Hari ini kita akan ujian membuat roti. Setiap siswa sudah diberi bahan masing-masing. Dinilai dari kelembutan, rasa, dan cara kalian menjelaskan. Mengerti?” kata guru Dong Wok. “Mengerti!” tanggap kami. Kamipun langsung memulai.

Aku masih bingung akan membuat apa. Aku masih berpikir, sedangkan yang lain sudah mulai membuat adonan. Akhirnya aku memulai membuat. Aku berencana membuat sebuah roti yang sederhana tapi bisa membuat perasaan yang penuh cinta. Mungkin… sedikit pemanis.

Sekitar satu setengah jam kemudian, roti ku telah siap. Aku beri nama roti ini “Happiness Bread”.

Normal POV

Tiga jam kemudian…
Hin Ah berjalan lesu menuju rumahnya. Tentu saja lesu. Dengan penuh semangat dia membuat dan menamai rotinya. Tapi dengan semangat juga guru Dong Wok memarahinya karena roti buatannya sangat keras, dan tidak enak. Terlalu buruk untuk dijelaskan. Guru Dong Wok memberinya libur selama tiga hari untuk memikirkan roti yang cocok. Setelah itu, dia akan mengikuti ujian susulan.

“Aku pulang…” kata Hin Ah sambil melepas sepatunya. Dara menhampirinya. “Bagaimana hari mu? Aku dengar, ujian mu tidak terlalubagus ya?” kata Dara. “Terlalu buruk” Hin Ah beranjak ke sofa. “Oh, iya. Eonnie… tahu dari mana?” Hin Ah jadi penasaran. “Mi Sun menelpon. Seharusnya kau minta bantuan ku. Ada sebuah resep andalan yang ingin ku beri tahu kan” kata Dara sambil menuju dapur. “Ganti baju, dan segera ke dapur ya?”

“Ini resep yang ku buat bersama appa. Kami memutuskan ini sebagai resep keluarga dan resep ini hanya keluarga kita saja yang tahu. Mengerti?” jelas Dara. “Mengerti” tanggap Hin Ah.

Hin Ah POV
Dara eonnie mengajari ku resep keluarga yang baru dibuatnya bersama appa itu. Nama roti itu YG Life Bread. Aku memutuskan untuk menggunakan resep ini untuk ujian besok. Dara eonnie mengizinkan ku, asalkan aku tidak membocorkan rahasia resep roti ini.

Keesokan harinya…
Dara eonnie mengajak ku ke toko roti milik keluarga kami. Dara eonnie juga akan memperkenalkan pegawai disana yang bisa mengajari ku.

Sesampainya di toko roti, aku dan Dara eonnie langsung ke dapur. tapi betapa terkejutnya aku melihat Guru Dong Wok sedang membuat roti bersama pegawai appa. “Guru?” kata ku. Guru Dong Wok lengsung terkejut. “Ah, Hin Ah. Terkejut ya? Sama. Aku juga terkejut” kata Guru Dong Wok. “Kenapa guru disini?” kata ku lagi. “Aku bekerja disini. Di toko boss Yang Goon” katanya. Aku mulai mengerti. Sesuai rencana, Dara eonnie memperkenalkan aku ke pegawai-pegawai disana.

Ada Ji Yong oppa, Seung Hyun oppa, dan Yong Bae oppa. Dari semua oppa-oppa disana, Ji Yong oppa yang paling menarik bagi ku. Dia humorist tapi juga bisa serius. Tapi… sepertinya dia gemar memarahi ku. Saat aku belajar membuat roti bersama mereka, aku selalu salah. Dan Ji Yong oppa pasti memarahi ku. Aneh sekali. teori dan cara ku mengolah bahan sudah tepat. Akupun menambahkan dua gelas berisi air di dalam oven agar kelembapannya tepat. Tapi kenapa adonannya masih kurang tepat?

Aku beristirahat di halaman samping. Aku merenungi roti-roti gagal yang ada disamping ku. Apa ada yang salah? Aku rasa tidak. “Oh… Aku kurang tepat pada apa?” kata ku. “Pada perasaan mu” kata seseorang di belakang ku. Aku membalikan badan. Rupanya Ji Yong oppa. Dia tersenyum ke arah ku lalu duduk di samping ku. “Maksud oppa?” tanya ku. “Pada perasaan. Membuat roti harus penuh perasaan yang sejuk dan bersemangat. Roti itu ibarat perasaan. Bila kau membuatnya dengan perasaan senang, orang yang memakannya juga akan merasakan perasaan senang. Tapi bila… kau membuatnya tanpa perasaan… apa jadinya sebuah roti tanpa rasa?” jelas Ji Yong oppa. Aku mulai mengerti. Perasaan. Ya, perasaan.

Ji Yong oppa berdiri lalu mengulurkan tangannya. “Mau coba?” katanya. Aku mengangguk lalu menyambut uluran tangannya. Kami segera ke dapur.

“Ingat, perasaan” kata Ji Yong oppa. Aku benar-benar mendalaminya. Akupun mulai mengolah adonan dengan perasaan.

Satu jam kemudian…
Aku dan Ji Yong oppa memandangi roti yang ku buat. Ji Yong mengambil satu dan memakannya. “bagaimana rasanya?” tanya ku. “Pikir mu?” tanya Ji Yong oppa. “Tidak enak ya?” semangat ku surut. “Tentu saja…. enak! Enak sekali! Sangat lembut!” kata Ji Yong oppa. Aku sangat senang.

“Jadi kau sudah mengerti sekarang?” kata seseorang yang rupanya Guru Dong Wok. “Happiness Bread mu itu tak akan nikmat bila tak menggunakan perasaan” kata Guru Dong Wok sambil mengambil dan memakan roti ku. “Lebih baik kau menamai ini Happiness Bread” katanya. Aku mengangguk.

Normal POV
Ujian…
Hati Hin Ah benar-benar berdebar-debar. Dia sangat khawatir. Tapi dia mulai yakin saat dia mengingat kata ‘perasaan’. “Nah, Hin Ah. Sudah siap?” tanya Dong Wok. Hin Ah mengangguk. Ujian pun di mulai. Dara membuatnya dengan perasaan dan senyuman manis. Dong Wok senang melihat muridnya mulai mengerti tentang roti. Hasilnya, Hin Ah mendapat nilai yang sangat memuaskan.

Di rumah, Dara menanyakan ujian Hin Ah. “Bagaimana? kau menggunakan YG Life Bread?” tanya Dara. “Tidak” jawab Hin Ah. “Kenapa?” tanya dara sambil mengerutkan dahi. “Aku menggunakan Happiness Bread buatan ku sendiri. Asalkan kita membuat roti dengan perasaan, roti kukus pun akan sangat enak” Dara tersanjung akan perkataan adiknya itu…

TAMAT

Iklan