Author said:

Well, sedikit terinspirasi dari FF lain tapi ini karangan ku sendiri.Dan setelah kami melakukan casting (alah) kami memutuskan untuk menutuskan untuk mengangkat Kwon Ji Yong, Yesung, dong Yong Bae, Choi Seung Hyun, Park Tae Hee, Lee Chaerin, Park Sandara, saya sendiri sebagai Jung hye Soo, dan Toru kucing sayang ku. Jadi… mohong tepuk tangan semuanya. Semoga… FF kali ini berjalan lancar…

 

Casts:

* Jung Hye Soo (author)

* Yesung

* Lee Chaerin

* Kwon Ji Yong

* Park Sandara

* Dong Yong Bae

* Park Tae Hee

* Choi Seung Hyun

* Toru

* Many more…

 

Pendahuluan

‘Death Game’ sebuah permainan yang dibuat dengan menyangkut pautkan nyawa pemainnya. Permainan ini dimainkan oleh empat namja dan empat yeoja. Dewa Teratas adalah dewa yang memiliki hak untuk memilih pemain permainan ini. Sedangkan Dewi Lorecie adalah penyampai pesan dari Dewa Teratas. Cara bermainnya cukup… sulit. Setiap pemain yang terpilih akan menggunakan sebuah kalung kunci yang tanpa sadar mereka gunakan. Setiap pemain memiliki pasangan. mereka harus mencari pasangan mereka dengan mencocokan warna kalungnya. permainan ini mengharuskan kerja sama semua pemain apa lagi dengan pasangannya. Permainan ini hanya dimainkan oleh siswa yang bersekolah di FF School saja. Setiap yang kalah akan mendapatkan kutukan kematian. Kutukan ini akan dibatalkan bila pasangannya rela menggantikannya.

Hye Soo POV

Aku duduk termenung di balkon asrama. Aku sangat malas hari ini. Hari Minggu begini aku mau apa? Memang hari ini ada perayaan ulang tahun sekolah yang ke seratus, tapi aku malas. Ponsel ku bersering. “Yoboseyo…? …. Ah, Chaerin. Ada apa? …… Ani… Aku bosan… Ne. Cepatlah…” kata ku langsung menutup ponsel. Aku masuk kembali ke kamar. bukan kamar. Apartment sekolah lebih tepatnya. Toru mendatangi ku. Eongannya membuat ku tersentuh, selalu… Aku menggendongnya. “Kau lapar?” tanya ku. dia mengeong. Aku tersenyum. Aku langsung mengambilkan sekardus wiskas yang baru ku beli kemari. Ku tuangkan beberapa ke mangkoknya. Juga susu. Aku menatapnya sambil tersenyum. Betapa lucunya dia saat sedang makan.

 

Tak lama kemudian, Chaerin datang. “Chaerin, kau tak ke perayaan?” tanya ku sambil meletakkan orange juice ke meja. “Ah… Aku bosan. Oh, iya. toru mana?” tanya Chaerin. “Entahlah… Mungkin dia sedang mencakar-cakar rotan” kata ku. Chaerin meneguk orange juice nya. “Hye Soo, katanya… kalung kematian itu… berbentuk kunci kan?” tanya Chaerin. Aku tertegun. Tak biasanya dia membahas Death Game. “Um… ya… konon katanya seperti itu. Tapi… aku tak percaya” kata ku. “Hye Soo… kau pernah beli kalung berbentuk kunci?” tanya Chaerin lagi. “Ani… Kenapa?” aku memiringkan sedikit wajah ku. “Sepertinya kau harus mempercayainya sekarang” kata Chaerin agak ragu. Aku bingung. Dia menunjuk ke leher ku. Aku memegang leher ku. “Apa ini?” aku kaget karena ada sebuah kalung melingkar tepat di leher ku. “Hye Soo…” Chaerin mengambil cermin dari tasnya dan mengarahkannya ke leher itu. Oh, kalung kematian! Hitam! “Chaerin… Ini tak boleh terjadi!” rengek ku. “Tidak. Ini tak mungkin!” teriak ku. “KYAAA!!!!!”

“Chaerin… kau juga…”

“KYAAA!!!!”

 

End Hye Soo POV

 

Yesung POV

Aku terbangun dengan mata sembap. mungkin.. tadi malam aku menangis. Atau mungkin aku memang menangis. Aku menatap ke cermin. muka ku sangat aneh. Aku mendekati cermin itu. Ada yang aneh di diri ku. Apa ya? Ah, sudahlah.

 

Ku putuskan untuk ke mall. ji Yong mengajak ku.

 

“Hei, Ji Yong. Ada yang aneh dari diri ku?” tanya ku sambil meminum capucino ku. Ji yong tertegun. “Sebenarnya… ada… Sangat berbeda…” kata ji yong. “Apa?” tanya ku. Dia menelan ludah. “Kau… pemain Death Game ya?” tanya Ji Yong. Aku tertegun. “Ah, ani… AKu tak percaya soal itu… Wae?” tanya ku balik. “Itu…” Ji Yong menunjuk leher ku. Aku menatap ponsel kub yang bisa digunakan untuk cermin. Oh… God! Kalung itu ada pada ku! Warna hitam! Oh God! “Yesung, selamat. Ajal sudah dekat” kata Ji Yong. “Jangan senang dulu! Kau juga!” kata ku. “Huh?”

 

End Yesung POV

 

Dara POV

Seperti biasa. Aku tertidur di taman. Ini kebiasaan ku. Aku paling suka tidur disini.

 

I’m dreaming…

Semua menjadi gelap. Aku berjalan lurus. Muncul seberkas sinar. lalu muncul seorang wanita cantik berambut hitam panjang. “Siapa kau?” tanya ku. “Aku dewi lorecie…” katanya. “Dewi Lorecie? Dewi Death Game? Untuk apa kau datang?” tanya ku lagi. “Hanya ingin sampai kan sesuatu. Jagalah pasangan Death Game mu…”

 

“Dara? Dara-isseyo?” aku terbangun. Oh, rupanya Tae hee. “Aku tertidur lagi” kata ku. “hei. Kau… pemain Death game ya? tanya Tae Hee. “Ani…” aku tersenyum. Aku melihat Tae Hee menggunakan kalung kematian berwarna hijau. “Justr bukan kah kau?” tanya ku balik. “huh?” dia meraba lehernya. “Oh… god! Tapi dara, kau juga!”

 

End Dara POV

 

Yong Bae POV

Seperti biasa. Aku dan Seung Hyun selalu biacarakan tentang Death Game. Ya… sebenarnya kami sudah terkena kutukan itu dua hari yang lalu. Kami belum temukan pasangan…

 

End Yong Bae POV

 

Normal POV

Satu hari kemudian…

 

Hye Soo berlari mengitari koridor mencari pasangan Death Game nya. Dia sangat khawatir. Dia pun juga tak tahu apa yang dia lakukan setelah bertemu pasangannya. Yang penting dia harus bertemu dengan orangnya. Tapi… BRUK! Dia terjatuh. “aw…” katanya. Rupanya yang ditabraknya adalah seorang namja. “Oh, miane… Ini salah ku” namja itu menarik Hye Soo. Tapi… mereka saling bertatap mata. Bling… bling… bling… Mereka sepertinya saling suka.

 

“Oh, miane. ini salah ku” kata namja itu. “Tak apa. Sepertinya … kau pemain Death Game ya? Sudah bertemu dengan pasangan mu?” tanya Hye Soo. “Ani.. belum. Oh, iya. Ji Yong imnida…” namja itu mengulurkan tangan. “Oh. Hye Soo imnida…” Hye Soo menyambut uluran namja yang bernama Ji Yong itu. “Kau… juga pemain Death Game?” tanya Ji Yong. “Ne. Aku belum menemukan pasangan ku. Sulit ya? AKu tak mengharapkan permainan ini… Sangat meresahkan” Hye Soo berterus terang. “Wah, kalung mu hitam ya? Sayang nya kita bukan pasangan… kalung ku merah” kata Ji Yong. “Ah.. iya…” Hye Soo setuju. Sebenarnya Ji Yong tahu kalau Yesung memiliki kalung hitam, tapi dia tak rela Hye Soo diambil oleh Yesung.

 

To be continued…

Iklan