Penulis       : LukitaShwawol & reghia

Genre         : Comedy romance

Cast             :

Lee Hyun Jae (author)

Choi Minho (Shinee)

Shim Changmin (DBSK)

Enhyuk (SuJu)

Jaejoong (DBSK)

Junsu (DBSK)

Yoochun (DBSK)

Narsha (Brown Eyed Girls)

Many more

Dua tahun yang lalu…..

Hujan turun sangat deras hari ini, semua orang dengan baju hitam berlari kesana kemari mencoba melindungi diri dari tetesan hujan. Kecuali satu, seorang gadis dengan baju hitam dan rambut panjang terurai, ia hanya terdiam di depan dua buah makam yang bertuliskan Lee Sungmin dan Lee Min-ah. Tak jelas, air yang mengalir di pipinya adalah air hujan atau air mata, semua serba samar. Raut mukanyapun juga serba samar, antara sedih, kecewa, kesal atau marah tak ada yang tahu apa yang ada di dalam hatinya.

“Kasihan sekali gadis itu,” hanya kata itu yang terus terdengar di antara kerumunan orang dengan baju hitam itu, meraka tidak berani mendekat.

Kakek dan kakaknya telah mati-matian memintanya untuk kembali atau mungkin hanya sekedar berteduh dari hujan yang makin deras ini, tapi apa daya mereka keinginan gadis kecil ini terlalu kuat. Mereka kalah dan akhirnya hanya mengamati gadis itu dari kejauhan.

“Apa yang kau lakukan disini?” seorang pemuda dengan payung hitam mendatangi gadis itu, ia meletakkan payung hitam itu di atas gadis kecil itu dan membiarkan dirinya terguyur hujan.

Gadis kecil itu tetap tidak menjawab, ia hanya terdiam memandangi makam kedua orang tuanya. Melihat gadis itu tidak bereaksi sedikitpun, pemuda itu menarik tangan gadis itu yang tentu saja langsung di tolak oleh gadis itu.

”Lepaskan aku,” teriak gadis itu lantang.

“Sudahlah, Hyun Jae-yaah. Cepat kembali ke rumah nanti bisa-bisa kau jatuh sakit,” ucap pemuda jangkung itu sambil tetap menarik tangan Hyun Jae.

“Jangan pedulikan aku, apa urusanmu denganku? Aku bahkan tidak mengenalmu,” teriak Hyun Jae yang masih berusaha melepaskan tanganya dari gengaman pemuda itu.

“Aku adalah orang yang sangat sayang padamu, kau tidak ingin membuat orang yang kau sayang ini jadi sakit hati sepertimu ini kan? Bukan hanya aku saja yang akan sakit hati melihatmu begini tapi oppa dan hal-aboeji juga akan jadi sakit melihatmu begini,” ucap pemuda itu panjang lebar.

Hyun Jae menangis lebih keras mendengar ucapan pemuda itu, ia sadar ia telah membuat orang – orang yang menyayanginya jadi sakit karena melihatnya seperti ini. Melihat Hyun Jae yang menangis lemas seperti itu, pemuda itu kemudian memeluk Hyun Jae erat.

“Uljima, aku ada disini dan aku  akan selalu menjagamu,” ucap pemuda itu memeluk Hyun Jae.

Entah mengapa di tengah hujan yang dingin Hyun Jae merasa hangat berada di pelukan pemuda itu. Ia menengadah dan ia dapat melihat wajah pemuda itu, pemuda itu tersenyum hangat.

“Perkenalkan namaku Changmin, Shim Changmin,” ucap pemuda itu ketika melihat Hyun Jae sedang mengamatinya.

Mata kedua insan ini pun saling bertatapan, dan entah kenapa Hyun Jae merasa terbius dengan tatapan lembut pemuda itu ia merasa hatinya berdegup lebih kencang dari biasanya.

“Kau memang hebat, Changmin-aah,”ucap Hyuk Jae senang ketika melihat Changmin membawa adiknya, Hyun Jae.

“Tentu saja, bukankah kau sudah lama mengenalku?” ucap Changmin sombong.

“Gamsahabnida, nak,” ucap Hal-abeoji pelan sambil meletakkan tangannya di bahu Changmin.

“Sama-sama, hal-abeoji,” ucap Changmin sopan sambil menundukkan sedikit kepalanya.

“Baiklah, kemarilah Hyun Jae,” ucap Hal-abeoji yang langsung dituruti oleh Hyun Jae.

Dengan sedikit lemas, Hyun Jae mendekat pada kakeknya. Ia dan kakeknyapun akhirnya pergi meninggalkan Hyuk Jae dan Changmin.

“Apa yang telah kau katakana pada Hyun Jae hingga Hyun Jae mau kembali?” ucap Hyuk Jae penasaran.

“Enhyuk-aah, sepertinya aku akan jadi adik iparmu,” ucap Changmin yang tentu membuat mata Hyuk Jae melotot seakan akan keluar dari kelopak matanya.

“Gwencanayo?” ucap  kakek khawatir pada Hyun Jae.

“Ye, gwencana… hal-abeoji,” ucap Hyun Jae singkat.

“Apa tidak lebih baik kau tidak sekolah hari ini?” lanjut kakek khawatir.

“Ani.. aku ingin bersekolah, lagian untuk apa aku disini? Itu hanya akan menambah kesedihanku,” ucap Hyun Jae dengan wajah yang datar.

“Baiklah, tapi lebih baik hari ini kau berangkat naik mobil ya?” ucap kakek.

“Ani,, aku akan naik bis saja seperti biasa.” Ucap Hyun Jae ringan.

“Baiklah,” ucap kakek sedikit tidak rela.

Hyun Jae pergi sekolah seperti biasa, ia naik bis dengan kakaknya Hyuk Jae. Sepanjang perjalanan Hyun Jae hanya diam. Hyuk Jaepun bingung harus berkata apa, ia sudah berulang kali melakukan hal konyol yang biasanya dapat membuat Hyun Jae tertawa tapi semua itu tidak berhasil.

“Hyun Jae-yaah,” ucap Hyuk Jae mencoba membuka pembicaraan.

“Ne?” jawab Hyun Jae singkat.

“Ehm,, apa yang kau bicarakan dengan Changmin kemarin?” ucap Hyuk Jae mencari bahan pembicaraan, berharap apa yang ia bicarakan ini akan menarik untuk Hyun Jae dan benar saja mendengar nama Changmin, raut wajah Hyun Jae sedikit berbeda.

“Changmin-sshi??” tanya Hyun Jae.

“Ye, Changmin-aah. Aku merasa kalian berbicara hal yang sangat penting,” jawab Hyuk Jae dengan nada penasaran.

“Ani,, bukan hal yang penting,” jawab Hyun Jae singkat.

Hyuk Jae sedikit kecewa melihat respon adiknya tapi, “Siapa sebenarnya Changmin-sshi? Apa dia temanmu, oppa? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?” tanya Hyun Jae panjang dengan wajah yang antusias.

“Changmin adalah temanku di kelas, dia sering datang ke rumah. Kau saja yang teralalu sibuk berdiam diri di kamar hingga tidak tahu kalau aku berteman dengan Changmin-aah,” ucap Hyuk Jae senang melihat adiknya sedikit ceria.

“Owh…” ucap Hyun Jae singkat.

“Wea?? Apa kau menyukainya?” goda Hyuk Jae.

“Ne?? Ani,” ucap Hyun Jae dengan wajah yang memerah.

“Gomawo, Changmin-aah,” ucap Hyuk Jae dalam hati.

Tidak ada satupun pelajaran yang masuk ke dalam pikiran Hyun Jae, ia sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja di jelaskan oleh guru di depan kelas. Ia merasa melayang – layang, kepalanya terasa sangat berat dan badannya pun terasa panas. Ia demam…

“Gwencana, Hyun Jae-yaah?” ucap seorang gadis di sampingnya.

“Ye, gwencana. Jangan khawatirkan aku, lebih baik kau perhatikan ,” ucap Hyun Jae dengan raut muka pucat. Gadis itu kembali memperhatikan pelajaran, dan Hyun Jae tetap saja menahan rasa sakitnya.

Ting Tong

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, semua siswa yang ada dengan hati yang gembira membereskan segalah perlengkapan sekolah mereka dan memasukkannya ke dalam tas. Hyun Jae dengan badan yang lemas membereskan buku-buku yang ada di mejanya dan memasukkannya perlahan. Ia berjalan berlahan menuju ke pintu gerbang sekolah, langkahnya terasa sangat berat.

Ketika sampai di gerbang sekolah, ia melihat seorang pemuda jangkung yang familiar.. Changmin, ia sedang berdiri di seberang gerbang. Ia berlari ke arah gerbang, ketika melihat Hyun Jae keluar dari gerbang. Hyun Jae yang melihat Changmin berlari ke arahnya tersenyum dan kemudia.. Bruk…

“Hyun Jae-yaah,” suara lembut seorang pemuda terdengar di telinga Hyun Jae ketika perlahan ia mulai membuka matanya.

“Changmin-sshi???” ucap Hyun Jae lemas sambil membuka kedua matanya perlahan, ia dapat melihat samar – samar wajah Changmin yang tersenyum padanya.

“Kau sudah sadar? Apa kau baik – baik saja?” ucap Changmin khawatir.

“Ye, aku baik-baik saja.”

“Syukurlah, aku sangat khawatir ketika kau tadi pingsan di depan sekolah,”

“Pingsan?? Aku pingsan??”

“Ye, kau pingsan. Kau demam, suhu tubuhmu saja tadi sampai 33 derajat Celsius. Ini sungguh mengerikan. Tapi sekarang sepertinya suhu tubuhmu sudah menurun,” ucap Changmin sambil memegang dahi Hyun Jae.

Mendapat perlakuan seperti itu, tentu saja Hyun Jae kaget dan langsung bangun dari tidurnya. “Mana Hyuk Jae oppa? Mengapa dia tidak ada di sini?” ucap Hyun Jae salah tingkah.

“Enhyuk sedang ada pelajaran tambahan, nilai matematikanya sangat jelek sehingga ia harus mendapat pelajaran tambahan makanya Enhyuk menyuruhku untuk menjemputmu,” jelas Changmin panjang lebar.

“Ehnyuk??” tanya Hyun Jae.

“Ye, Enhyuk. Itu panggilan kesayanganku untuk Hyuk Jae,” jawab Changmin sambil tersenyum.

Melihat senyuman Changmin, Hyun Jae menjadi semakin salah tingkah dan wajahnya pun memerah. Ia berusaha menghindari tatapan Changmin, ia malu Changmin melihatnya salah tingkah seperti ini.

“Aku lapar, lebih baik kita ke dapur saja,” ucap Hyun Jae keluar kamar.

“Baiklah, aku juga lapar,” ucap Changmin sambil mengikuti Hyun Jae keluar kamar.

“Ajjummah, ajjummah,” teriak Hyun Jae mencari bibi Gong, seorang pelayan di rumahnya.

“Mianhe Hyun Jae-yaah, aku lupa memberi tahumu bahwa Gong ajjummah sedang pergi berbelanja,” ucap Changmin.

“Mwo???”

“Mianhe, aku lupa,”

“Aish..” ucap Hyun Jae kesal.

“Apa kau sangat lapar? Aku tidak terlalu jago masak, tapi aku bisa membuatkanmu ramyeon, apa kau mau?” ucap Changmin.

“Ani, biar aku saja yang masak,” ucap Hyun Jae.

Hyun Jae berkutat di dapur, ia terlihat ahli mengunnakan pisau. Ia memotong – motong sayuran dengan sangat lincah. Ia terlihat seperti seorang professional, Changmin yang mengamatinya dari kejauhan sangat terpesona melihat aksi Hyun Jae.

“Makanan siap,” ucap Hyun Jae sambil menaruh manpam berisi makanan di meja makan.

“Wow,,, harum sekali bauhnya, pasti sangat lezat,” ucap Changmin antusias melihat masakan lezat di depannya. Hyun Jae tersenyum melihat reaksi Changmin.

“Mashita..” ucap Changmin ceria ketika melahap masakan Hyun Jae. “Kalau begini aku mau menjadi suamimu, Hyun Jae-yaah,” ucap Changmin yang langsung saja membuat wajah Hyun Jae semakin memerah.

“Hyun Jae-yaah,”

“Ne???”

“Jangan memanggilku Changmin-sshi, panggil aku Changmin-oppa,” ucap Changmin sambil terus memakan makanannya.

“Ye,” ucap Hyun Jae singkat, hati Hyun Jae saat ini berdegup dengan kencang ia merasa seakan hatinya akan melompat keluar.

Satu tahun kemudian…

“Enhyuk oppa, dimana Changmin oppa? Mengapa dia sekarang tidak pernah datang ke rumah kita?” tanya Hyun Jae pada Hyuk Jae yang sedang bermain dengan gitar barunya.

“Entahlah, dia sudah tiga hari tidak masuk sekolah,” ucap Hyuk Jae sambil terus memetik gitarnya perlahan menimbulkan suara yang tidak jelas.

“Mwo? Apa mungkin ia sakit? Oppa tidak menjenguknya,” tanya Hyun Jae.

“Sudah, tapi rumahnya kosong saat aku kesana. Aku berfikir untuk kembali ke rumahnya lagi besok,” ucap Hyuk Jae sambil meletakkan gitarnya .

“Aku juga ikut, oppa,” ucap Hyun Jae antusias.

“Baiklah, besok sepulang sekolah kita ke rumah Changmin-aah,” ucap Hyuk Jae.

Keesokan harinya…

“Apakah ini rumah Changmin, oppa?” tanya Hyun Jae.

“Iya, dulu aku pernah kesini sekali,” jawab Hyuk Jae. “Eh, lihat itu Changmin omma,” lanjut Hyuk Jae sambil menunjuk seorang wanita setengah baya yang keluar dari pagar rumah.

“Annyeonghasibnida,” salam Hyuk Jae pada wanita itu.

“Hyuk Jae-yaah??” ucap wanita itu memandang Hyuk Jae.

“Ye, imonim. Perkenalkan ini adik saya, Hyun Jae,” ucap Hyuk Jae memperkenalkan Hyun Jae.

“Annyoenghasibnida, imonim,” ucap Hyun Jae sambil menundukkan kepalanya.

“Ini yang namanya Hyun Jae? Ia sangat cantik seperti yang dikatakan Changmin-aah,” ucap ibu Changmin sambil mengelus pelan rambut Hyun Jae.

“Kami kesini karena kami khawatir dengan keadaan Changmin, imonim. Sudah tiga hari ia tidak masuk sekolah. Apa ia sedang sakit?” tanya Hyuk Jae.

“Ani, Changmin hanya ada urusan hingga ia tidak bisa masuk sekolah. Sepertinya kami akan segera pindah dari sini, kami akan pergi ke luar negeri,” ucap ibu Changmin perlahan sambil melepaskan belaiannya dari rambut Hyun Jae.

“Wea? Mengapa tiba – tiba ingin pindah ke luar negeri?” tanya Hyun Jae.

“Ada hal yang tidak bisa, imonim katakan pada kalian. Mianheyo Hyun Jae yaah, Hyuk Jae-yaah,” ucap ibu Changmin sambil meninggalkan Hyun Jae dan Hyuk Jae.

Wajah Hyun Jae terlihat sangat syok, ia kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh ibu Changmin. Lututnya seakan melemah, ia tidak kuat untuk berdiri ia terjatuh. Air mata pun mulai membasahi pipi gadis kecil itu.

“Tuan muda, ada telepon untuk anda,” ucap seorang wanita tua sopan.

“Ye, Gomawo, ajjummah,” ucap Hyuk Jae sambil berdiri dari tempat tidurnya.

“Yoboseo???”

“Enhyuk-yaah,”

“Changmin-aah???”

“Ye, ternyata kau masih belum melupakan sahabatmu ini,” ucap Changmin.

“Kemana saja kau? Kau membuatku dan Hyun Jae khawatir. Ia terlihat sangat sedih karena kau tiba – tiba kan pergi.”

“Ehnyuk-aah, bisakah kau melakukan sesuatu untukku??”

“Ne???”

“Hyun Jae-yaah,” ucap Hyuk Jae perlahan ketika memasuki kamar adiknya, Hyun Jae.

“Enhyuk oppa?? Apa Enhyuk oppa sudah mendapatkan kabar tentang Changmin oppa?”  tanya Hyun Jae penuh antusias.

“Ye,”

“Joengmal?? malhae bwayo, oppa,” ucap Hyun Jae.

“Sepertinya kau harus melupakannya,”

“Mwo??”

“Ia akan pergi ke Amerika, ia akan bertunangan dengan seorang gadis pemilik perusahaan besar di Amerika,”

“Mwo???”

“Sepertinya selama ini kau hanya salah paham, ia sama sekali tidak pernah menyukaimu. Ia hanya menganggapmu sebagai seorang adik. Lebih baik kau segera melupakannya,” ucap Hyuk Jae sambil meninggalkan Hyun Jae yang telah berurai air mata.

Satu tahun kemudian……

“Hyun Jae-yaah, apa yang sedang kau lamunkan?” suara keras Narsha seonsaengnim membuyarkan lamunan Hyun Jae.

“Ye seongsaengnim???” ucap Hyun Jae kaget.

“Kau ini, tidak biasanya kau seperti ini,” ucap Narsha seongsaengmin heran. “Cepat kau kerjakan soal ini,” lanjut Narsha seongsaengnim sambil menunjuk sebuah soal matematika di papan tulis.

Wajah Hyun Jae terlihat pucat, sejak tadi ia sama sekali tidak mendengarkan apa yang dibicarakan Narsha seongsaengmin, ia bahkan tidak mengetahui maksud dari soal yang ada di papan tulis itu. Ia bangkit dari bangkunya perlahan dengan tubuh yang sedikit lemas.

“Yaah,” ucap seorang pemuda di sampingya  pelan sambil menyodorkan sebuah kertas kecil.

“Ye???” tanya Hyun Jae heran.

Pemuda itu, Choi Minho yang katanya baru saja pindah dari Amerika dan baru empat puluh lima menit yang lalu duduk di samping Hyun Jae. Minho hanya mengedipkan sebelah matanya ketika melihat Hyun Jae yang sedang keheranan.

“Cepat Hyun Jae!!” perintah Narsha seongsaengnim.

“Ye, seongsaengnim,” jawab Hyun Jae

“Cepat ambillah,” bisik Minho pelan.

Hyun Jae mengambil kertas yang tadi disodorkan oleh Minho dan maju perlahan menuju papan tulis. Ketika sampai di depan papan tulis, ia menoleh ke belakang dan melihat Minho mengisyaratkannya untuk membuka kertas kecil itu. Hyun Jae mengambil kapur, dan ketika ia berhadapan dengan soal matematika yang amat rumit ia jadi gemetar. Perlahan ia membuka kertas kecil itu, “Jawaban,” gumamnya pelan. Dengan wajah yang sumringah ia mengerjakan soal matematika Narsha Seongsaengnim lancar.

“Ehm, bagus sekali. Lain kali jangan melamun di kelas lagi, Hyun Jae!!! Silakan kembali ke tempat duduk,”perinta Narsha seongsaengmin.

“Ye, seongsaengnim,” ucap Hyun Jae sambil kembali menuju bangkunya.

“Gomawoyo,” bisik Hyun Jae pelan pada Minho yang hanya ditanggapi dengan senyuman.

“Choi Minho, jamkkan man-yo,” teriak Hyun Jae memanggil Minho yang sedang berjalan menuju pintu gerbang sekolah.

“Ye?” ucap minho sambil menoleh kea rah Hyun Jae.

“Gomawoyo,”

“Bukankah kau sudah mengatakannya tadi?”

“Ani, bukan yang itu. Aku berterima kasih padamu untuk yang kemarin. Ini sapu tanganmu aku kembalikan, jaketmu ada di rumah besok aku akan membawanya padamu,” ucap Hyun Jae sambil menyodorkan sapu tangan bewarna biru polos.

“Ah, ambil saja. Lagian itu juga bukan milikku,” ucap Minho dengan senyum sambil meninggalkan Hyun Jae.

Entah mengapa, Hyun Jae merasa sangat familiar ketika melihat Minho. Ia merasa ada yang membuatnya merasa aneh ketika dekat dengannya, entah mengapa ketika ia melihat Minho ia jadi teringat dengan cinta pertamanya, Changmin.

To be continued…

Iklan