Title : Ibu…

Genre : Sadness, Tragedy

Rating : PG-13 / PG-15

Casts : Lee Taemin (SHINee), Kim Jonghyun (SHINee), Lee Jieun

Disclaimer : Taemin sama Jonghyun bukan punya saya. Tapi kalo Jieun sama plotnya itu asli dari pemikiran saya.

A/N : Annyeong~! Aku author baru di sini. Ini fanfic oneshotku yang sebenernya buat lomba cerpen hari ibu di sekolah. Udah kelewatan lama banget, ya? Ya, sudah, lah. Silahkan dinikmati saja.

Oh, ya. Cuma ngasih saran. Baca fanfic ini sambil dengerin lagunya Brave Brothers ft. U-Kiss yang Finally. Soalnya aku buatnya sambil dengerin lagu itu. Tapi kalo nggaj juga nggak apa-apa, sih.

Jangan lupa comment. Happy Reading~

***

Ibu…

Kau begitu baik. Kau selalu menjagaku kapanpun dan di manapun. Kau memberiku pengertian dan perlindungan menghadapi godaan dari teman-temanku yang mencoba memberikan hal yang buruk. Seperti waktu itu…

Aku hanya seorang murid SD yang masih belum tahu apa-apa. Masih seorang anak yang sedang beranjak remaja dan mudah dipengaruhi. Aku sering dipengaruhi oleh teman-temanku. Teman-temanku yang ‘katanya’ keren, gaul dan semacamnya. Aku yang masih mencari penerimaan social seperti itu hanya ikut-ikut saja.

“Hei, Taemin. Aku punya film bagus.” Panggil salah seorang temanku, Jonghyun.

“Film apa?” tanyaku polos. Yah, bagaimanapun juga aku masih belum mengerti apapun saat itu.

“Film bagus. Lihatlah. Seluruh anak laki-laki harus melihatnya.” Jawab Jonghyun. Ia menyerahkan sebuah film tak bersampul padaku. Isinya apa, ya? Mengapa kata Jonghyun semua anak laki-laki harus melihatnya?

“Baiklah…” jawabku ragu. Aku tak mengerti apa isinya. Mungkin aku harus melihatnya di rumah.

Sesampainya di rumah aku segera menyalakan laptopku dan memutar film yang diberikan Jonghyun tadi. Dan apa yang kulihat setelah film itu diputar? Sebuah adegan hubungan suami istri yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh anak-anak. Aku hanya bisa segera mematikan film itu, dan berharap Ibu tidak mengetahuinya. Tapi ternyata beliau tahu. Kukira Ibu akan marah. Tetapi…

“Taemin, film apa yang kau lihat tadi?” tanyanya lembut. Tidak ada kesan ataupun nada marah dalam suaranya.

Aku tidak menjawab. Aku terlalu takut dan malu yang bercampur menjadi satu.

Ibu tersenyum lembut. “Taemin, kau seharusnya tidak boleh melihat hal-hal seperti itu. Darimana kau mendapatkannya, nak?” tanya Ibu kembali. Ia terlihat tenang… dan sekali lagi tidak marah. Ucapan Ibu tadi menghilangkan rasa takutku.

“Aku… Aku mendapatkannya dari temanku, Bu…” jawabku lirih.

“Taemin, kau jangan melihat hal yang seperti itu. Itu dilarang. Mengapa kau mau menerima film itu?” Ibu kembali bertanya. Nadanya tetap lembut dan menenangkan. Rasa takutku semakin hilang.

“Kata Jonghyun, setiap anak lelaki harus melihatnya, Bu…” aku mulai jujur.

Ibu kembali tersenyum. Senyumnya sangat lembut. “Taemin, memang mungkin suatu hari nanti kamu akan melihatnya. Tapi tidak sekarang. Kamu masih kecil. Tidak perlu melihat hal-hal seperti itu untuk bisa berteman. Hal-hal negative seperti itu justru akan membuatmu terjerumus dalam keburukan. Apa kamu mau menjadi buruk, Taemin?” ucap Ibu. Aku menggeleng.

“Nah, kalau begitu, janganlah kamu melihat hal-hal yang belum saatnya kamu lihat,” lanjut Ibu. “Taemin, Ibu ingin kamu berjanji tidak akan mengulangi hal ini lagi. Ya?” tanya Ibu.

Aku tersenyum. “Ya, Bu. Aku berjanji.” Ucapku tulus. Aku benar-benar berjanji pada diriku sendiri.

Kulihat wajah Ibu menjadi gembira. Dan beliau memelukku erat, hangat. Khas pelukan kasih sayang seorang Ibu. Aku balas memeluknya.

Dan setelah itu, aku mulai mencari teman yang positif. Ibu benar-benar menyadarkanku waktu itu.

Ibu…

Aku kembali mengingat masa-masa lain. Masa-masa lalu sebelum aku mengenal teman-teman SD-ku. Di mana saat itu aku mulai iri. Bukan iri pada teman-temanku. Tetapi pada adikku. Saat itu aku baru berumur 2 tahun, 2 tahun 3 bulan tepatnya. Ibu melahirkan seorang anak lagi, dan otomatis akan menjadi adikku. Pada awalnya aku senang menyambut adik baruku itu. Tetapi, lama-kelamaan hal itu berubah menjadi rasa iri dan benci…

Aku memandang kesal pada adik perempuanku, Jieun, yang sedang bermain dengan ibu. Ia masih berumur 6 bulan, dan selama 6 bulan ini pula aku kesal padanya. Sejak ada dia, Ibu jadi tidak memperhatikanku. Ibu jadi lebih sering bermain dengan adikku. Aku tidak dipedulikannya lagi. Uh, adik baru itu benar-benar telah mencuri Ibu dariku! Aku kesal padanya! Aku kesal pada Ibu!

Kuputuskan untuk meninggalkan tempat itu dan pergi ke kamarku. Kubanting pintu kamarku keras-keras. Biar saja. Biar Ibu marah. Aku tidak peduli! Di dalam kamar, aku menangis. Aku menangis karena kesal.

Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku tidak menggubrisnya karena aku sudah tahu kalau yang mengetuk pintu itu pasti Ibu. Kubiarkan saja karena aku kesal pada Ibu.

Ibu tetap mengetuk pintu. Beliau tidak membuka pintu itu secara langsung, karena kata Ibu, membuka pintu kamar seseorang tanpa izin itu tidak sopan. Jadi, beliau dengan sabar tetap mengetuk pintu itu, menanti aku membukanya.

Aku, yang lama-kelamaan juga merasa kasihan pada Ibu karena terus-menerus mengetuk pintu kamarku, akhirnya membuka pintunya. Kubuka pintu itu dengan wajah kesal, dan kentara sekali aku habis menangis. Ibu terlihat kaget ketika melihatku. Beliau lalu menggendongku masuk ke dalam kamar dan duduk bersamaku di tempat tidurku.

“Taemin,” ucapnya lembut. Ibu memang selalu lembut. “Kamu kenapa, nak?”

Aku diam saja. Aku masih kesal pada Ibu! Aku hanya menundukkan kepalaku, tanpa memandang Ibu.

“Taemin, Ibu tahu kamu kesal pada Ibu. Nah, ceritakanlah pada Ibu, nak. Mengapa kamu kesal pada Ibu?” ucapnya lagi. Ah, aku sebenarnya yakin Ibu sudah tahu alasan mengapa aku kesal pada beliau. Tetapi, beliau tetap mencoba menghormati perasaanku. Aku mulai merasa bersalah.

Aku mulai memandang Ibu sedikit-sedikit. “… Aku kesal pada Ibu karena Ibu hanya perhatian pada Jieun. Dan Ibu menjadi tidak perhatian padaku lagi…” ucapku pada akhirnya. Kukira Ibu akan tertawa, ternyata tidak. Beliau malah terlihat sedih.

Ibu menghela nafas pelan. “Taemin, maafkan Ibu jika Ibu tidak perhatian padamu lagi, ya? Ibu memang terlalu sibuk mengurus Jieun,” ucap Ibu pelan. “Adikmu itu masih kecil, Taemin. Ia butuh perhatian lebih. Coba kamu pikir, apa Jieun bisa menyiapkan makan dan menyuapkan makanan sendiri?”

Aku menggeleng.

“Lalu, apakah Jieun bisa memakai pakaian sendiri?” tanya Ibu lagi.

Aku kembali menggeleng dan mulai menatap wajah Ibu.

“Nah, adik kecilmu itu masih belum bisa mengerjakan hal-hal seperti itu sendiri, makanya Ibu lebih mengurusnya,” lanjut Ibu. “Taemin, sebenarnya Ibu juga masih memperhatikan dan menyayangimu, kok.” Ucap Ibu.

Aku menatap beliau heran. “Maksud Ibu?”

“Jika Ibu tidak memperhatikanmu, bagaimana mungkin Ibu bisa memasakkan makanan untukmu, Taemin?” ucap beliau sedikit tertawa sembari mengusap lembut rambutku. “Benar tidak?” lanjut Ibu sambil tersenyum jahil.

Aku hanya tertawa. Dan aku memeluk Ibu, sebagai ucapan permintaan maafku. Ibu balas memelukku.

“Taemin, sekali lagi Ibu minta maaf, ya? Taemin mau tidak memaafkan Ibu?” ucap Ibu lagi.

Aku semakin mengeratkan pelukanku. “Ya, Bu! Aku mau memaafkan Ibu! Dan… Aku juga minta maaf,”

Ibu mengusap punggungku lembut.

Dan Ibu kembali memberiku pengertian.

Ibu…

Masa SMP-ku adalah masa di mana aku mulai mengerti tentang cinta. Oh, mungkin itu hanya sekedar cinta anak-anak. Tetapi, Ibu, kau memberikan pengertianmu ketika aku sedang kebingungan menghadapi masalah dasar remaja itu, cinta. Dan saat itu aku sedang menghadapi cinta pertamaku…

Aku duduk dengan gelisah di sofa ruang keluarga. Bukan, aku bukan gelisah karena menanti acara TV, aku bahkan tidak melirik siaran TV itu sama sekali. Aku gelisah karena aku memikirkan seorang gadis yang menarik di sekolahku.

Ibu, yang entah bagaimana selalu tahu kapan aku membutuhkannya, duduk di sebelahku. “Ada apa, Taemin? Kamu terlihat gelisah. Ceritakanlah pada Ibu, nak.” Ucapnya lembut sembari mengusap rambutku.

Aku ragu untuk mengatakannya pada Ibu. Tetapi, ketika kulihat ketulusan dalam suara dan pandangan mata Ibu, akupun akhirnya menceritakannya juga. “Bu… Kenapa akhir-akhir ini aku sering memikirkan seorang gadis yang menarik di sekolahku?” tanyaku polos.

Ibu tertawa pelan. “Maksudmu, kau selalu memikirkan gadis itu setiap hari, Taemin?”

Aku mengangguk pelan, ragu.

Ibu tersenyum. “Wah, sepertinya anak laki-laki Ibu mulai jatuh cinta pada gadis lain,” ucap Ibuku.

Aku memandang dengan bingung ke arah Ibu. “Maksud Ibu, aku jatuh cinta pada gadis itu?” kurasakan wajahku mulai memerah sekarang.

Ibu kembali mengusap rambutku pelan. “Taemin, jatuh cinta itu wajar, nak. Ibu dulu juga mulai jatuh cinta ketika seumuranmu seperti ini,” lanjut Ibu. “Lalu, apakah gadis itu juga yang telah membuat anak laki-laki Ibu ini menjadi gelisah seperti ini?”

Sepertinya wajahku semakin memerah sekarang. “Ah… Sepertinya iya, Bu…” jawabku malu. “Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang, Bu?” aku kembali bertanya.

Ibu tersenyum penuh arti. “Kau bisa menyatakan perasaanmu padanya, Taemin,” ucap Ibu ringan.

“Ibu!”

Aku tertawa ketika mengingat masa itu. Masa-masa remaja yang mulai jatuh cinta dan butuh pengarahan orang tua. Masa-masa di mana anak-anak remaja mulai diserang rasa cinta mereka untuk pertama kalinya.

Ibu…

Masa-masa remajaku, sama saja dengan masa remaja anak-anak lain. Penuh dengan konflik remaja. Tetapi masa SMA-ku, mungkin adalah masa tersulit bagimu untuk menghadapi masa remajaku, Ibu…

Aku duduk tertunduk di depan Ibu. Wajahnya terlihat marah. Ibu baru saja pulang setelah bertemu wali kealsku. Sudah kesekian kalinya Ibu dipanggil ke sekolah. Bukan karena nilai-nilaiku buruk, nilaiku cukup bagus dan aku meraih nilai tertinggi di beberapa bidang mata pelajaran. Tetapi, Ibu sering dipanggil ke sekolah karena ulahku yang sering kali berkelahi dengan teman-teman sebayaku, baik teman satu sekolah maupun sekolah lain.

“Taemin, kenapa kau sering berkelahi seperti ini?” tanya Ibu. Nadanya terdengar marah dan… khawatir.

Aku hanya diam. Kebiasaanku ketika takut ataupun marah pasti akan diam ketika ada orang yang mengajakku bicara. Dan biasanya hanya Ibu yang dapat membuatku berbicara ketika aku marah.

Ibu menghela nafas panjang. Beliau terlihat gusar. “Taemin, Ibu masih tidak habis pikir mengapa kamu bisa menjadi anak seperti ini,” Ibuku terlihat semakin gusar. “Katakan pada Ibu, nak. Mengapa kamu menjadi anak yang suka berkelahi seperti ini?”

Aku tetap diam. Aku sendiri tidak berniat menjawab pertanyaan Ibu, karena aku bahkan tidak tahu alasan mengapa aku menjadi senang berkelahi seperti ini.

Ibu mengurut keningnya. Kerut-kerut di wajahnya yang mulai tua semakin terlihat. Jujur, sebenarnya aku ingin sekali memeluk Ibu saat ini, tetapi aku pikir sekarang bukan saat yang tepat.

“Taemin, tolong…” sebelum Ibu sempat menyelesaikan ucapannya, aku sudah memotongnya.

“Ibu…” ucapku pelan. “Jika Ibu bertanya mengapa aku menjadi senang berkelahi seperti ini, aku tidak dapat menjawabnya. Karena aku tidak tahu alasannya, Bu,” ucapku sembari menggenggam tangan Ibu, erat. Ibu hanya menatapku heran, tetapi Beliau tetap mendengarkan.

Aku tesenyum tipis. “Memang, aku tahu bahwa perkelahian seperti ini tidak baik. Tetapi, ada bagian diriku yang memaksanya. Jujur, sebenarnya aku juga tidak mau berkelahi terus-menerus seperti ini, Bu,” aku menatap mata Ibu.

“Lalu, kenapa kamu tetap berkelahi seperti ini, Taemin?” ucap Ibu lirih.

Aku kembali tersenyum, kali ini lebih lebar. “Mungkin karena aku mulai kehilangan sosok Ibu yang biasanya memberiku pengertian dan nasihat-nasihat bijaknya,” ucapku lembut. Mata Ibu mulai berkaca-kaca. “Bu, sejak aku menginjak kelas 3 SMP, Ibu mulai sibuk dengan pekerjaan Ibu. Dan sejak saat itu pula aku mulai merasakan bahwa Ibu menjadi jarang memperhatikan dan menasihati aku maupun Jieun,”

Mata Ibu semakin berkaca-kaca. “Teruskan, Taemin…” pinta Beliau, suaranya bergetar menahan tangis.

“Mungkin karena hal itu pula aku mulai mencari hal-hal lain yang bisa mengalihkan perhatianku dari Ibu yang semakin sibuk dengan pekerjaannya,” ucapku pelan. “Bahkan Jieun, dia mulai bergaul dengan teman-teman perempuannya yang aneh dan centil itu,” ucapku sedikit berkelakar, lebih untuk mencairkan suasana tegang ini.

Beliau tetap tidak terpengaruh. “Ibu bahkan tidak tahu hal itu…” ucapnya pelan. Beliau terlihat sangat bersalah.

Aku kembali tersenyum. “Bu, ini permintaanku dan Jieun. Tolong, Bu. Tolong perhatikanlah kami lagi. Tolong berikanlah kami nasihat-nasihatmu lagi, Bu. Berikanlah kami kasih sayang Ibu lagi sebelum kami terjerumus semakin dalam, Bu. Kami mohon…” aku semakin mengeratkan genggamanku tanganku, dan aku mulai dapat merasakan mataku berkaca-kaca.

Ibu mulai menangis. Beliau tidak dapat menahannya lagi. Di sela-sela isak tanginya aku dapat mendengar Ibu berkata. “Maafkan Ibu, Taemin… Maafkan Ibu, ya? Ibu memang terlalu sibuk dengan pekerjaan Ibu sehingga tidak lagi memperhatikan kalian. Maafkan Ibu, nak…” ucap beliau sembari terisak.

Kuusap lembut tangan Ibu. “Ya, Bu. Maafkan Taemin juga ya, Bu,” ucapku, dapat kurasakan air mataku mulai turun. Aku berdiri dan memeluk Ibu. Kami berdua saling menangis hingga beberapa saat.

Dan setelah itu Ibu mulai berubah, tak lagi hanya memperhatikan pekerjaannya. Aku dan Jieun kembali mendapatkan kasih sayang Ibu dan kembali berubah.

Ibu…

Masa-masa tersulit bagiku adalah masa ketika aku harus rela kehilanganmu, Bu. Penyakit radang paru-paru Ibu semakin parah ketika aku kuliah. Mungkin itu dipengaruhi karena usia Ibu yang sudah tua pula. Selama semester-semester akhir dalam masa kuliahku, aku selalu memikirkan Ibu yang sedang berusaha melawan penyakit radang paru-paru itu. Nilai-nilaiku bahkan sempat turun karena aku terlalu khawatir padamu, Bu.

Lalu, apa yang Ibu lakukan? Ibu memarahiku ketika tahu bahwa nilaiku turun. Bu, kau berkata bahwa impian Ibu adalah melihatku sukses. ‘Lalu, apakah kamu akan bisa sukses jika terus-terusan memikirkan Ibu, Taemin?’ Itulah kata-kata Ibu yang selalu kuingat hingga sekarang. Aku selalu tertawa ketika mengingat Ibu mengatakannya dengan nada setengah marah dan setengah berkelakar. Dan karena ucapan Ibu itulah yang membuatku bisa sesukses sekarang.

Ibu…

Beberapa hari setelah hari kelulusanku, penyakit Ibu semakin parah dan menjadi-jadi. Ibu kembali masuk rumah sakit setelah dua minggu sebelumnya keluar karena telah membaik. Ketika dokter keluar dari ruang operasi, kulihat wajahnya menyiratkan penyesalan, dan aku langsung dapat menebak apa yang terjadi. Aku mulai menangis… Aku menangis tanpa suara. Kulihat Jieun dan Ayahku menangis berpelukan.

Ibu…

Setelah kepergian Ibu, aku terus-menerus mengurung diri di kamar selama beberapa hari. Bahkan bujukan Jieun, Ayah, maupun teman-teman terbaikku pun tak kugubris. Aku benar-benar merasa terpuruk.

“Oppa! Ayolah! Kau tidak boleh terus-menerus mengurung diri di kamar seperti ini! Jika Ibu melihatnya, beliau pasti akan marah!” bujuk Jieun. Ia tidak bosan-bosannya membujukku untuk keluar.

Aku hanya terdiam. Mataku memandang keluar, tak memperhatikan apapun yang dikatakan Jieun.

Jieun mengehela nafas panjang. Ia lalu berjalan keluar kamarku dan menutup pintunya. Dan aku menangis kembali ketika kurasa Jieun telah jauh.

“Ibu…” ucapku sembari menatap foto Ibu yang ada di ponselku. “Mengapa aku tidak bisa menerima kepergian Ibu seperti ini, Bu?” tangisku semakin menjadi.

Tiba-tiba, ucapan Ibu saat beliau menasehatiku ketika beliau sakit kembali terngiang di kepalaku.

‘Taemin, kau tidak boleh menangisi kepergian seseorang, karena setiap makhluk hidup pasti akan mati,’ nasihat-nasihat ibu kembali berputar-putar di otakku.

‘Taemin, Ibu ingin kamu menjadi orang yang sukses, Nak.’ Tangisku mulai berhenti.

‘Lalu, apakah kamu akan bisa sukses jika terus-menerus memikirkan Ibu, Taemin?’ aku tesenyum tipis ketika mengingat ucapan Ibu.

“Benar. Aku tidak boleh terus-terusan memikirkan kepergian Ibu,” ucapku sembari menghapus air mataku. “Ibu pasti tidak akan suka jika aku terus-menerus bersedih seperti ini.” Aku berjalan ke arah kamar mandi. Di sana aku mencuci wajahku dan menyadari betapa berbedanya aku sekarang. Aku tersenyum.

Kuputuskan untuk keluar dan mulai beraktifitas seperti biasa. Ketika aku berjalan ke arah ruang makan, dapat kulihat Jieun dan Ayah yang terlihat sedih. Ketika mereka berdua melihatku, wajah mereka mulai tampak gembira. Jieun memelukku. Ayah mengikutinya, dan kami bertiga berpelukan bersama selama beberapa saat.

Ibu…

Nasihatmu-lah yang membuatku sadar. Maka dari itu, aku tidak pernah melupakan berbagai macam nasihatmu hingga saat ini. Nasihat-nasihatmu benar-benar telah mengubah dan mengisi seluruh hidupku.

Ibu…

Hari ini adalah hari Ibu, sekaligus hari kelahiran Ibu. Aku ingin menunjukkan betapa aku menyayangi Ibu. Bukan dengan uang ataupun harta benda, tetapi dengan doa tulus dariku, Ibu.

Aku membersihkan makam Ibu dari daun-daun yang berguguran. Lalu kuletakkan sebuah karangan bunga yang berisi bunga-bunga kesukaan Ibu. Aku masih belum melupakan bunga favorit Ibu, kan? Setelah itu, aku berdoa bersama Jieun di samping makam Ibu dengan tulus.

“Selamat Hari Ibu, Bu…” ucap Jieun setelah ia menyelesaikan doanya.

“Dan selamat ulang tahun, Ibu…” sambungku lirih. Kuusap pelan nisan makam Ibu. Dan, aku kembali menangis. Jieun memelukku. Ah, maafkan aku, Bu. Aku menangis lagi karena Ibu.

Ibu…

Terima kasih atas seluruh kasih sayangmu untukku.

Ibu…

Terima kasih telah memberiku nasihat dan pengertianmu padaku.

Ibu…

Kenanganmu akan selalu kuingat hingga akhir hayatku.

Selamat Hari Ibu untukmu, Ibuku. Dan Selamat Hari Ibu untuk seluruh Ibu di seluruh dunia ini yang telah merasakan indahnya menjadi Ibu bagi anak-anaknya…

FIN.

Gimana? Baguskah? Sedihkah? Gajekah? Silahkan ditulis pendapatnya di comment bawah.

Yang mau bashing (?) atau contact silahkan via twitter saja @Nath_Vicky

Atau mau request fanfic? Boleh. Lewat twitter aja, ya. 😀

Gomawo~

Iklan