Yo Seob POV

“Mau apa kau kesini?” Tanya Teuk Ahjussi. Tenang Yo Seob, demi Ji Yeon! Ya…

“Saya mau jenguk Ji Yeon ahjussi…”

“Apa kau yang membuat Ji Yeon begini, HAH?!” Tanya Teuk Ahjussi yang menciutkan sedikit nyaliku. Iya ahjussi. Semua karena aku. Aku yang membuat Ji Yeon begini. Awalnya kata-kata itu yang mau aku keluarkan. Tapi, aku malah diam mematung didepan Teuk Ahjussi.

Aku melihat tangan Teuk Ahjussi sudah melayang diudara siap untuk menamparku. Aku Cuma bisa pasrah.

“Ahjussi… Jangan lakukan ini.” Mana? Aku tidak merasakan tamparan mendarat dipipiku. Saat aku melihat keatas, Si Yoon Hyung sudah menahannya. Menahan tangan Teuk Ahjussi.

“YA! Yo Seob cepat masuk, Ji Yeon membutuhkanmu.” Aku yang masih berdiri mematung didepan mereka dikagetkan dengan kata-kata yang diucapkan Si Yoon Hyung.

“Yoon Si Yoon!! Apa yang kau lakukan? Aku tidak pernah setuju kalau dia menemui Ji Yeon lagi. Dia hanya bisa menyakiti Ji Yeon…” Kata Teuk Ahjussi. Sekarang aku tidak tau mau bagaimana.

“Yang Yo Seob!!! Cepat masuk kedalam.” Kata Si Yoon Hyung lagi. Kali ini aku menurutinya. Aku masuk kedalam kamar Ji Yeon dan mendapatinya (lagi) terbaring lemas.

Si Yoon POV

PLAKK
“Si Yoon, apa-apaan kau ini?!!” Tamparan Teuk Ahjussi akhirnya malah mendarat dipipiku. Sakit memang. Tapi itu tidak seberapa dibanding aku melihat Ji Yeon menderita.

“Aku hanya ingin melindungi Ji Yeon ahjussi.” Kataku lagi mantap.

“Begini cara kau melindunginya? Dengan membuatnya tambah sakit hati?”

“Maaf ahjussi, apa kau tidak sadar yang kau lakukan sekarang ini malah tambah menyakiti hati Ji Yeon? Apa kau tidak tau kalau Ji Yeon sangat mencintai Yo Seob? Dan kau memisahkan mereka seenakmu saja? Maafkan aku ahjussi aku lancang. Tapi aku tidak ingin melihat Ji Yeon lebih sakit dari ini.” Kataku. Aku jengkel sekali dengan Teuk Ahjussi dan semuanya. Mereka selalu menuntut Ji Yeon ini dan itu tapi pernahkah mereka memikirkan Ji Yeon?

Aku melihat ekspresi kaget tergambar diwajah mereka semua. Kecuali aku dan Hyomin tentunya. Hyomin yang paling mengerti perasaan adiknya. Biarpun Ji Yeon tidak pernah mengatakannya.

Yo Seob POV

Ini kali kedua aku melihatnya terbaring lemas seperti ini. Tapi bedanya, aku sama sekali tidak melihat senyum diwajahnya. Dia hanya menatapku dengan mata sembapnya tanpa mengatakan sepatah katapun seperti yang biasa dia lakukan. Aku menyesal. Aku…

“Ji Yeon, gwenchanayo?” Tanyaku mencairkan suasana.

“Gwenchana.” Jawabnya singkat. Sangat singkat.

“Ji Yeon, mianhae.” Kata-kata ini keluar begitu saja.

“U… Untuk apa?”

“Semuanya Ji Yeon… Mulai dari sikapku dulu padamu. Aku selalu meninggalkanmu, lalu saat kau hampir kecelakaan karena aku. Dan sekarang, kau sakit begini karena aku, aku minta maaf Ji Yeon, jeongmal mianhae…” Aku mengucapkan semuanya. Aku sudah cukup lega sekarang walaupun aku tidak yakin Ji Yeon akan memaafkanku atau tidak.

Dia tidak menjawabku, tidak mengatakan apapun. Yang dia lakukan hanya memandangku lalu air mata keluar dari ujung matanya. Aku memberanikan diri mendatanginya. Duduk di samping tempat tidurnya dan memeluknya. Tangisnya semakin keras sekarang.

“Uljima Ji Yeonnie… Uljima…” Aku mencoba menenangkannya. Aku mengeratkan pelukanku. Aku mohon Ji Yeon, jangan menangis. Aku tidak kuat melihatmu menangis seperti ini.

“Yo Seob, kau tidak perlu minta maaf padaku.” Aku tersentak. Dia mengatakan hal itu sambil terus menangis. “Aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku yang minta maaf karena aku sudah mengganggu hubunganmu dengan yeojachingumu. Mungkin kau lebih bahagia jika bersamanya.” Bicara apa anak ini?

“Park Ji Yeon, tenang dulu… Dengarkan aku.” Kataku lalu melepaskan pelukanku dan menyuruhnya memandang kearahku. “Siapa bilang kau menggangguku? Justru kau yang membuatku sadar arti cinta yang sebenarnya Park Ji Yeon. Dan kau tau? Aku hanya mencintai Park Ji Yeon. Tidak ada orang lain.” Kataku sambil menatapnya dalam. Kau mengerti Ji Yeon?

“Yo Seob… Yo Seob-ah… Na ddo… Na ddo…” Katanya dan langsung memelukku. Aku membalas pelukannya. Ah… Senang sekali.

Untuk beberapa saat kami dalam posisi seperti itu. Gadis yang ada dipelukanku ini… Aku ingin selalu menjaganya dan tidak akan membiarkannya sakit lagi.

Si Yoon POV

Sekarang aku duduk ditaman rumah sakit bersama Hyomin. Aku merasa tugasku menjaga Ji Yeon sudah selesai sekarang. Yo Seob, aku harap kau bisa menjaganya dengan baik karena aku tidak akan tinggal diam kalau kau menyakiti Ji Yeon lagi.

“Yo Seob Oppa…” Aku menoleh kearah Hyomin.

“Waeyo?”

“Bukankah kau menyukai Ji Yeon?”

“Hyomin, untuk saat ini aku melupakan itu semua demi kebahagiaan dongsaengmu…” Jawabku santai. Ya, aku jujur tentang hal itu.

“Aku kagum padamu. Gomawoyo…”

“Untuk apa?”

“Kebahagiaan adikku…” Aku hanya membalas dengan senyuman.

Ji Yeon POV

Aku tidak perduli appa dan omma mau marah denganku. Terserah mereka saja, aku tidak mau lagi menjadi bayang-bayang mereka yang selalu menuruti semua keinginan mereka. Memangnya aku robot? Boneka?

“Yo Seob…”

“Yaa?”

“Bagaimana dengan pacarmu?”

“So Hyun?”

“Ne… Bagaimana dengannya?”

“Aku akan menjelaskan semuanya padanya.” Hanya itu jawaban Yo Seob? Hhh… Apa bisa dia tidak menganggap remeh suatu masalah?

“YA!!! Kau kira mudah hah?!! Mengertilah perasaan wanita Yo Seob…” Kataku marah-marah.

“Iya, aku mengerti makanya aku mau langsung mengatakannya daripada berlarut-larut jagiya…” Mwo?!! Ja… Jagiya?! Apa katanya tadii??? Omo…

“Ja… Jagiya?”

“Waeyo? Wajar kan, aku 2 tahun tunangan denganmu tidak pernah memanggilmu jagiya.” Aku cuma bisa diam. Tidak tau mau menjawab apa.

“Hahaha… Ayolah jagi, jangan gugup begitu.”

“Siapa yang gugup?” Tanyaku menyangkal.

“Kau…”

“Ani… Aniyo…”

“Hahaha…  Sudahlah.” Katanya lalu mengacak-acak rambutku.

“Wahhh… Pasangan baru, kalian mesra sekali.” Aku menoleh kearah pintu dan ternyata Hyomin Unni, Si Yoon Oppa, appa, dan omma sudah ada disana. Sejak kapan?

“Unni…” Aku yakin mukaku sudah seperti tomat. Merah sekali. Aigooo…

“Hahahaha… Mianhae tadi kami tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian.” Katanya santai. Ahh, itu bukan tidak sengaja.

“YA!!! UNNIII…” Kataku gemas. Ahhh, unniku ini…

“Hahahaha…” Bisa kulihat Yo Seob tidak bisa berkutik lagi dan dia menunduk sekarang. Aku tau dia malu, takut, dan cemas,. Semua bercampur menjadi satu.

“Hei anak muda yang sedang duduk dan menunduk disana!” panggil appa dan aku tau itu ditunjukan untuk Yo Seob. Jantungku berdetak kencang. Muka appa serius sekali. Apa… Apa dia tidak menyetujui hubunganku dengan Yo Seob lagi?

Yo Seob mengangkat kepalanya dan berjalan menghampiri appa. Yo Seob, aku hanya membantumu lewat doa yaa…

“KAU!!!” Aku melihat tangan appa sudah melayang diudara.

“Appa an…” belum selesai aku menahan appa, aku melihat appa memeluk Yo Seob. Ya, seperti memeluk anaknya sendiri. apa ini artinya…

“Aku mohon, jaga Ji Yeon dengan baik. Jangan sakiti dia. Arraseo?” Kata-kata yang keluar dari mulut appa itu menyimpulkan sesuatu… ‘APPA MENYETUJUI HUBUNGAN KAMI!’ Ahhh… Aku benar-benar bahagia sekarang.

Aku tersenyum lebar melihat kejadian itu. Begitu juga dengan yang lain.

***

Berharap ini bukan mimpi. Aku tidak ingin tidur karena takut saat aku terbangun nanti aku akan menghadapi kenyataan kalau ini semua cuma mimpi.

“Jagi, kau istirahat yaa… Omo, jagi, wae geurae? Kenapa kau menangis seperti itu?”

“Aku… Aku takut Yo Seob-ah, aku takut ini hanya mimpi dan waktu aku bangun nanti, aku sadar kalau ini cuma mimpi… Aku gak mau…” Jawabku jujur.

Yo Seob menatapku lalu… Dia mengecup keningku.

“Ini bukan mimpi. Ini kenyataan jagi. Dan saat kau bangun besok pagi, kau tetap akan menjadi tunangan Yang Yo Seob.” Katanya lembut dan kata-katanya itu mampu menenangkanku.

“Gomawo.” Kataku lalu menutup mataku. Ya… Ini bukan mimpi. Ini kenyataan.

***

Aku membuka mataku. Sudah pagi ternyata. Tapi, kenapa aku hanya sendiri disini? Mana yang lain? Mana Yo Seob? Apa benar kemaren hanya mimpi?

To Be Continued

Gimana reader? Hehehehe…
Commentnya yaa… hehehe

Ad sedikit informasi, Tam mau hiatus dulu untuk sementara waktu… Jadi, harap bersabar dulu untuk lanjutan Oh! Girl yaa… 🙂

Gomawo udah baca sampai chapter ini… Annyeong 🙂

Iklan