Hueehh . Sepertinya aku lagi galau lagi menunggu jam kuliah setengah jam lagi. hha..

jadii.. this is it, part 3 nyaa..

dan masiiih aja belum bikin pic nya *adiez ini gimana siiihh* , trus kayaknya juga mayan pendek. huhuu…

hontou ni gomenasai ! *nunduk sampek lutut*

ya sudd, happy imagining ! 😀

————————————————————————————————

Chaerin POV

“Chaerin, jo hae. ah bukan, sarangheyo. Chaerin, sarangheyo..”

Aku terdiam. Mwoa? jiyong mencintaiku? Aku tak salah dengar kan?

Lelaki yang aku anggap tak mungkin kucapai. Lelaki yang aku impikan setiap malam, sejak aku masuk kuliah. dan akhir2 ini presentase mimpiku semakin sering, seiring pertemuanku dengannya. Lelaki yang coba untuk kutepis, karena aku pikir tak mungkin memilikinya.

Aku bisa melihat setiap lekukan wajahnya dari sudut mataku. Sebenarnya aku bisa melihatnya melihatku ketika aku latihan vokal barusan, tapi sorot matanya yang serius itu aku pikir dia akan berkomentar pedas setelah aku selesai bernyanyi. serta penolakan hatiku sendiri membuatku takut berharap dia memikirkanku.

dan kini dia menyatakan padaku. dia mencintaiku?

jika ini mimpi, maka aku tak ingin bangun lagi. karena ini terlalu indah…

‘Bagaimana chaerin?’

jiyong sunbae, mana mungkin aku menolakmu? setelah sekian lama aku bermimpi tentangmu?

‘Gumawoyo, sunbae. sarangheyo.’ aku tersenyum. bahagia.

jiyong tersenyum kegirangan. tak ubahnya seperti anak kecil yang mendapat lotre.

jiyong berdiri dari kursinya, dan kini dia tepat di hadapanku. matanya menatapku, seolah meaksaku untuk membalas tatapannya perlahan dia melingkarkan lengannya di pinggangku.

‘terima kasih karena memilihku, Chaerin.’

aku hanya bisa menggenggam baju yang jiyong kenakan dengan erat. Aku masih terlalu malu untuk membalas pelukannya. Atau aku terlalu tidak percaya bahwa saat ini, cintaku terbalaskan.

‘harusnya aku yang berkata begitu, jiyong sunbae.’ aku menenggelamkan badanku di dalam pelukannya. Hangat. Seolah aku bisa terlindungi hanya dengan dipeluknya. Aku bisa merasakan detak jantungnya berdebar begitu kencang, sama dengan debaran jantungku.

sesaat kemudian, jiyong melepaskan pelukannya. dia memegang tanganku.

‘Chaerin, bisakah kamu berhenti memanggilku ‘sunbae’?’

‘hah?’

‘Bisakah kamu memanggilku ‘oppa’?’ dia mengerlingkan matanya.

mukaku memerah. aku tak biasa memanggil oppa. tapi bukankah sekarang dia namja-ku? mungkin sudah sepantasnya aku memanggilnya oppa.

‘euhmm.. op..ppa.’ ujarku lirih. Jantungku rasanya mau copot.

‘apa? aku tak mendengar.’ dia tersenyum nakal.

‘aku telah mengatakannya..’ aku mulai mencicit.

dia menundukkan tubuhnya, hingga wajah kami benar2 berhadapan. ‘aku ingin mendengarnya sekali lagi dari mulutmu..’

aku menghela nafas, rasanya jantungku sekarang benar2 copot. ‘Oppa, sarangheyo..’

Senyum Jiyong langsung mengembang. Perlahan dia menyentuh pipiku dan mendekatkan mukanya. Hingga akhirnya dapat kurasakan sebuah kecupan mendarat di keningku. Hangat.

Kemudian, dia memelukku sekali lagi.

***

Dunia ini, penuh kejutan. Di satu hari, aku hanya bisa melihat seseorang dari jauh, mengidolakannya dan mencintainya dalam diam. Namun di satu hari yang lain, aku bersama dengan orang itu dalam satu ruangan, menggandeng tanganku, mencium keningku, mengucapkan cinta untukku.

Aku mulai menyukainya sejak aku masuk fakultas ini. Dia tak melakukan apapun, hanya berjalan di samping Seunghyun oppa, dan kami hanya berpapasan. Mungkin dia tak pernah menyadari keberadaanku saat itu. Tapi bagiku, keberadaannya sangat eksis di setiap harinya.

Hari ini, aku tak pernah merasa lebih dekat dengan kematian.

***

Seunghyun POV

pikiranku benar2 kacau.

aku mencoba memainkan gitar di kamarku. berulang kali gagal menekan kunci yang tepat. akhirnya aku menyerah. aku meletakkan gitarku ke lantai.

aku merebahkan diriku di kasur. kelebatan peristiwa yang tadinya terlupa muncul lagi, seolah aku bisa melihat detailnya seperti foto.

Wajah Chaerin yang salah tingkah ketika pertama kali bertemu Jiyong, mimik berserinya ketika latihan vokal dengan Jiyong, bersemangatnya dia ketika menceritakan Jiyong. Juga tentang percakapanku dengan Jiyong kemarin.

NORMAL POV

‘Hyung, kenapa kamu dekat sekali dengan Chaerin?’

‘huh? tentu saja karena dia dongsaeng ku sejak SMA.’

‘oya? Tapi dia memanggilmu Oppa, bukan sunbae. kamu selalu bersikap manis padanya. kalian seperti.. saling mengerti satu sama lain.’

seunghyun tercengang. sedikit senang karena Jiyong bilang mereka saling mengerti.

Seunghyun tertawa. ‘Hahahaa.. kamu cemburu?’

‘mwoa? cemburu?’ Jiyong berpikir sejenak. ‘sedikit..’

‘apa? kamu menyukainya?’

‘sepertinya begitu, hyung.’ Jiyong memamerkan deretan gigi putihnya.

gyutt. rasanya hati Seunghyun seperti diremas.

Seunghyun menggigit bibir bawahnya sebentar. namun kemudian dia tersenyum. Jiyong tidak boleh tahu perasaannya. dia tidak tega merusak kebahagiaan Jiyong.

‘tenang, aku hanya menganggapnya sebagai dongsaeng. tidak lebih. dia memanggilku oppa ya karena kami sudah berteman mulai SMA. itu wajar.’

‘begitukah hyung?’ Jiyong tertawa senang. ‘Hyung, aku akan segera menyatakan cintaku padanya. doakan Hyung.’

apa? menyatakan?

‘apa tidak terlalu cepat?’

‘tidak. aku tidak mau terlambat.’ dia tersenyum.

tidak mau terlambat? Kalau aku.. apakah sudah terlambat?

Chaerin, apakah kamu akan menerimanya? kamu tidak akan menerimanya kan? kamu kan baru kenal. iya kan? aku masih ada kesempatan kan?

aku mencoba membangun harapan. walau aku tau, kemungkinannya begitu kecil. mencoba memungkiri.

Triingg.. triingg..

Nada dering standar di handphone ku yang tak pernah kuganti itu berbunyi.

‘Lee Chaerin’

Mwoa? Chaerin?

Aku langsung menyambar handphone ku dan mengangkatnya.

‘Seunghyun Oppaa !!!’

‘Hah? Kenapa?’

“Aku senaaanggg… I have good news for you today. Ayoo tebaakk!’

‘Humm… Nilaimu keluar, Chaerin?’ Aku menjawab sekenanya.

‘Salaahh! Sudahlah, aku ingin cepat mengatakannya padamu. Aku.. ditembak Jiyong sunbae ! Kyaaa..!’

Seketika badanku terasa lemas. Rasanya waktu di sekelilingku berhenti. Aku terlalu shock untuk mendengar hal itu. Jangan tentang hal itu, aku mohon. Harapan yang sudah kucoba kutinggikan, langsung dijatuhkan dengan mudahnya. Aku seperti dijatuhkan ke dalam sumur yang dalam. Aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, kupikirkan, kulakukan…

‘Oppa? Haloo?’

Aku mengangkat handphone ku lagi. ‘Halo.’ Aku harus segera mengubah moodku, di hadapan Chaerin. ‘Benarkah? Selamat yaaa..!!’

‘Oppa, gomawoo..’

‘Untuk apa?’

‘Untuk mengenalkanku dengan Jiyong sunbae..’

Gyutt. Rasanya aku benar2 dibenamkan ke dalam tanah. Aku menyesal melakukan hal itu, Chaerin. Mengertilah..

‘O.. oh iya. Chaerin, bisakah kita lanjutkan besok? rasanya kepalaku pusing. Sepertinya aku perlu istirahat.’

‘Oppa? Gwenchana? Baiklah, istirahatlah kalau begitu. Selamat tidur oppa..’

Chaerin menutup teleponnya.

Aku menghempaskan badan. Frustasi. Kenapa jadi begini? Kenapa kamu mengiyakannya? Kenapa dengan Jiyong? Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa? Kenapa?!

Setitik air mata jatuh ke pipiku. Aku benar2 frustasi.

Aku masuk ke dalam pertanyaan paling dasar. Kenapa kamu tidak melihatku, Chaerin?!!

PRAANNNGG !!!

Kaca di depan lemariku pecah. Sesaat kusadari, tanganku telah berdarah.

‘AAAAAARRRGGGHHHH!!!!!!!!!’

aku tak tahu lagi harus bagaimana.

Iklan