Okee, setelah aku berjanji pada reader ku Kwonlovers, untuk bikin cerita spesial Skydragon Couple ini, aku brain storming seharian mo bikin cerita apa..

semoga aja cerita ini sanggup memuaskan kalian para pecinta  Skydragon Couple. hhe.. 😀

dan ini panjang bangeettt (menurutku).. nggak tau kenapa, begitu ide ini muncul dan ngebut aku tulis.. kok jadi panjaangg yaaa?? Hhaa…

oya, akhirnya aku bkin pic ilustrasi. karena aku bikin dalam jangka waktu yang singkat (sejam), mungkin kurang oke. mianhae.. 🙂

oya, ini pake Chaerin POV ya.. jadi jangan binguungg.. 😀

overall, semoga suka semuaa yaa..

happy imagining ! 😀

——————————————————————————————————————————————————————

Aku tahu, berpacaran dengan orang terkenal tak pernah mudah. Apalagi dengan Jiyong oppa, idola kampus, yang tak pernah ingin menyembunyikan hubungan kami…

***

BYUUUUUUUURRRR !!!

Seember air ditumpahkan dari lantai dua tepat di atas kepalaku. Tentu saja, aku yang berjalan di samping gedung kontan menunduk, tak bergerak. Pada detik-detik awal, aku tak bisa bergerak, syok.

“Bagaimana rasanya, Lee Chaerin?! Segar, bukan?!”

Aku mendongak melihat siapa yang berbicara. Sandara sunbae.

Sandara sunbae tersenyum sinis. “Aku akan terus melakukannya sampai KAMU, putus dengan Kwon Jiyong!” Kemudian dia dan teman-temannya pergi.

Sepeninggalnya, aku mengamati seluruh tubuhku yang kini basah kuyub. Tak ada satu titik pun yang luput dari siraman air, termasuk… TASKU! YA TUHAN! TASKU!

Aku langsung membuka tasku. Oke, buku-bukuku ikut basah. Tapi bukan itu yang aku pikirkan. Yang aku pikir adalah lembaran partitur. Lembaran partitur yang telah diaransemen kembali oleh Jiyong oppa untuk penampilanku nanti.

Aduh, Jiyong oppa bakal marah besar! Ya Tuhan, mana lembaran ituuu??!

Aku melihat map plastik yang selalu aku bawa. Perlahan kubuka, sambil harap harap cemas berharap lebaran keramat itu ada di situ. Hingga… kertas-kertas bertuliskan not balok itu ternyata masih aman di antara selipan kertas lain.

Untunglaahh !!

Aku menghela nafas lega, kemudian segera pergi meninggalkan tempat itu. Malu, semua orang di sekitarku memperhatikan aku dengan tatapan bertanya, penasaran, namun ada juga yang sinis, seperti setuju dengan kelakuan Sandara sunbae.

Siraman air ini sebenarnya bukan yang pertama kalinya. Tadi pagi, isi lokerku sudah berantakan, buku-bukuku juga ada yang disobek-sobek. Aku juga sudah merasakan tatapan sinis para yeoja dan sunbae yang mungkin menyukai Jiyong oppa.

Huuufftt… Aku Cuma harus bersabar. Mungkin lama-lama mereka bosan sendiri…

Aku berjalan lunglai keluar pagar kampus. Di pikiranku sekarang adalah aku harus sampai appartemen dan mengganti bajuku.

“Chaerin!”

Aku menoleh mencari asal suara itu. Jiyong oppa! Dia mengenakan kemeja motif kotak-kotak warna biru tanpa dikancingkan, memperlihatkan kaus di dalamnya, sambil membawa air mineral.

Dia berjalan mendekatiku. “Sudah pulang? Ayo, aku antar.”

“Tidak usah oppa… Aku basah semua. Nanti pasti terlihat aneh kalau sekarang oppa berjalan bersamaku. Aku pulang sendiri saja.” Aku tersenyum.

“Begitukah?” Dia berpikir sejenak.

Kemudian tanpa kuduga, dia membuka tutup botol air mineralnya, dan… BYUUURRR !!! dia menumpahkan semua isi botol ke rambut dan badannya. “Sekarang kita sama-sama basah, jadi pasti tidak aneh. Sekarang aku boleh mengantarmu kan?” Dia mengerlingkan mata.

Senyumku mengembang melihat tingkahnya yang tidak terduga itu. Aku mengangguk senang, dan mengikutinya berjalan pulang.

Aku sangat suka dengan sisi oppa yang seperti ini. Dia tidak banyak bertanya, tapi selalu mampu membuatku tersenyum.

Oppa, jo hae !

***

“Oppa, ini handuknya, keringkan dulu rambutmu.” Kataku seraya memberikan handuk. Akhirnya aku membawa oppa pulang ke apartemen. Aku tidak tega melihat keadaan oppa harus pulang ke rumahnya dengan keadaan basah. “Dan ini baju ganti untukmu. Ini milik sepupuku, semoga saja cukup untukmu. Aku ganti baju dulu.” Aku menyerahkan kemeja milik Youngbae, sepupuku yang sering menginap di apartemenku bila dia sedang di Seoul.

Beberapa menit kemudian, aku keluar kamar dan mendapati Jiyong oppa sudah mengenakan baju Youngbae. Sedikit kebesaran, tapi lebih baik daripada dia menggunakan baju yang basah.

Jiyong oppa memberikan aku isyarat untuk duduk di sebelahnya. Aku punya firasat buruk, tapi lebih baik aku menurutinya. Aku duduk di sofa, tepat di sampingnya. Dari sudut ini, aku bisa semakin jelas melihat sudut wajahnya yang sempurna.

Dia menggenggam tanganku. “Jadi, apa yang kamu lakukan sampai basah kuyub seperti tadi?”

Tuh kan.. pasti ditanyakan…

“Tidak melakukan apa-apa.” Aku menggelengkan kepalaku cepat, sangat cepat.

“Benarkah?” dia mendekatkan wajahnya padaku, memaksaku untuk beradu pandang dengannya. Aduh, jantungku mulai berdebar cepat.

“Iya, oppa…”

“Jujurlah, Chaerin…” sekarang, wajahnya semakin dekat, hanya berselisih sepuluh cm denganku. Matanya menatap tajam, seolah mencari tahu apa yang aku sembunyikan. Jarak ini tidak baik untuk jantungku, bisa-bisa jantungku pecah karena kontraksi melebihi batas maksimum.

Aku menyerah. “Oke, oppa. Aku jujur.” Setelah itu, dia menjauhkan kepalanya. Fiuuhh… aku pikir aku akan mati gara-gara berdebar berlebihan.

“Aku dijahili Sandara sunbae. Dia tidak terima aku berhubungan dengan oppa.”

“Sandara?!” suara Jiyong oppa mulai meninggi. Namun ketika dia melihatku, dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, seperti berusaha menahan sabar. “Oke, besok aku akan membereskannya.” Ucapnya enteng sambil tersenyum.

“Aduh! Oppa mau ngapain? Jangan aneh-aneh deh. Biarin aja, nanti juga capek sendiri. Oppa jangan nglakuin yang aneh-aneh…” aku mulai panik. Kan jadi nggak lucu kalau nanti Jiyong oppa melakukan hal yang aneh, bahkan kasar. Ini gawat! Harusnya aku nggak usah bilang!

Jiyong oppa tertawa melihat tingkahku. “Hahahaa… Sudahlah, Chaerin. Aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh, dan besok semua akan beres. Oke?”

Aku tetap khawatir.

Tiba-tiba oppa menggeser duduknya mendekat ke arahku, dan menarik punggungku mendekat kepadanya. “Semuanya akan baik-baik saja, Percayalah.” Dia mengecup keningku lembut, lalu memelukku.

Pelukannya selalu membuatku tenang. Baiklah, aku memutuskan untuk mempercayaimu, oppa…

Sesaat kemudian, Jiyong oppa melepas pelukannya. “Chaerin, aku lapar, dan aku ingin mengajakmu keluar. Bersiaplah, satu jam lagi kujemput. Oke?”

Dia langsung berdiri dan bergegas keluar. “Satu jam lagi!” dia melambaikan tangan, kemudian dia menghilang dari pandanganku.

Ya Tuhan, bahkan aku belum sempat menyetujuinya. Ckckck.. oppa..

***

Oke, disinilah kami berada. Café Bonheur. Malam ini café yang biasanya biasa-biasa saja menjadi sangat tidak biasa. Ada panggung di salah satu sisi café, mungkin akan ada konser kecil disana. Kemudian penerangan yang dibuat lebih minim, lilin di atas air yang diletakkan dalam gelas kecil di tiap meja, untuk memberikan kesan romantis. Namun kesan klasik yang biasanya tetap hadir, melalui lampu dinding bernuansa ukiran di tiap sudut café. Oke, aku hampir tidak mengenali café ini.

“Beda kan?” jiyong oppa menyadarkanku. Oke, mataku kembali focus ke lelaki yang ada di depanku sekarang.

Dia ini memang tetap keren menggunakan apa saja, termasuk dengan kemeja putih dengan motif garis vertical hitamnya sekarang. Untunglah aku menggunakan baju yang tepat. Dress mini putih dengan lengan kecil yang menutupi pundakku berwarna hitam yang kemudian dua warna hitam dari lengan itu melengkuk berlanjut ke satu titik, yaitu hiasan pita berukuran tanggung berwarna hitam di bagian kiri pinggul. Dipadukan dengan stocking hitam dan sepatu high heels putih polos. Rambutku juga kugelung ke atas dan kuberi jepit pita putih kecil, semakin memperlihatkan bagian leher dan pundakku yang cukup kubanggakan.

“Iya. Memangnya ada even apa disini?”

“Humm.. setiap malam minggu selalu dibuat seperti ini. Mungkin untuk meromantiskan suasana.” Lalu dia menyeruput vanilla-latte nya. “Ayo makan, aku benar-benar lapar.”

Sepertinya dia benar-benar lapar. Makannya sangat lahap, benar-benar seperti orang yang tidak pernah makan. Aku hanya bisa tersenyum kecil melihatnya.

Di tengah acara makanku, alunan lagu Oasis dari Beast mulai mengalun. So romantic.

Geudaeneun moreujyeo sesange dan hana geudaega
Only one more than better world
I believe dream for you and me
Memareun nawi harue danbiro naeryeo nae ma eume naeryeo yonggireul jweo
You make me fly and smile again
Biondwi mujigae cheoreom sori eobshi nawi pume angyeo haengbogeul jweo
I wanna make love

(You wouldn’t know that you are the only one in the world
Who is the only one better than the world
I believe dream for you and me
You are the long waited rain in my draughty day. You soaked my heart and gave me courage
You make me fly and smile again
Coming into my arms and giving happiness silently just like a rainbow after a shower
I wanna make a love)

Beberapa saat kemudian, makanan di depan Jiyong sudah habis, padahal setengah porsi makanku saja belum aku lahap. Aku geleng-geleng kepala.

“Chaerin, aku ke toilet sebentar.” Dia berbisik.

Aku hanya mengangguk pelan. Aku melanjutkan makan, sambil mendengarkan lagu Oasis yang tetap mengalun merdu.

“Annyong haseyo. Malam ini saya ingin menyanyikan lagu untuk seseorang yang saya cintai..”

Oppa? Itu sepertinya suara oppa. Aku menoleh ke arah panggung. Mataku terbelalak. JIYONG OPPA?? MAU APA LAGI DIA?

“Wanita yang sekarang dan akan selalu saya cintai, yang mengenakan pakaian putih di meja bagian kiri, Lee Chaerin.” Oke, sekarang dia menunjukku. Sekarang bisa kurasakan pandangan orang di sekitarku, semuanya tersenyum kecil. Mukaku mulai memerah.

Jiyong oppa mulai memainkan gitar yang dipangkunya dan menyanyi, dengan suara emasnya.

When I first saw you, I saw love.
And the first time you touched me, I felt love.
And after all this time, you’re still the one I love

Looks like we made it
Look how far we’ve come my baby
We might took the long way
We knew we’d get there someday

They said, “I bet they’ll never make it”
But just look at us holding on
We’re still together still going strong

You’re still the one
You’re still the one I run to
The one that I belong to
You’re still the one I want for life
You’re still the one
You’re still the one that I love
The only one I dream of
You’re still the one I kiss good night

Ain’t nothin’ better
We beat the odds together
I’m glad we didn’t listen
Look at what we would be missin’

They said, “I bet they’ll never make it”
But just look at us holding on

We’re still together still going strong

You’re still the one
You’re still the one I run to
The one that I belong to
You’re still the one I want for life
You’re still the one
You’re still the one that I love
The only one I dream of
You’re still the one I kiss good night

(Shania Twain – You’re Stil the One)

Ya Tuhan, lagunya indah sekali… Aku benar-benar senang, terharu. Jiyong oppa mempersembahkan lagu itu untukku. Senyumku tak pernah berhenti mengembang, sepanjang suara oppa itu mengalun.

“Khamsa hamida.” Dia menundukkan kepalanya, meletakkan gitarnya, dan berjalan kembali ke meja.

“Bagaimana penampilanku?”

Aku tersenyum lebih lebar. “Bagus.”

“Oh ya? Kamu suka?”

“Suka sekali.”

Tangan oppa meraih daguku lembut, lalu mendekatkan mukanya hingga aku bisa merasakan setiap nafasnya membelai wajahku. Hangat. Aku menutup mataku perlahan hingga… bisa kurasakan bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut. Dia mulai menciumku. Aku bisa merasakan cintanya padaku saat dia menciumku. Aku membalas ciumannya. Dia berhenti sesaat, “Sarangheyo, Chaerin..” kemudian dia kembali menciumku.

Oppa, aku sangat mencintaimu. Sama sepertimu yang mencintaiku, aku mencintaimu, dan akan terus mencintaimu.

Aku benar-benar bahagia malam ini…

***

Esoknya…

“Chaerin..”

Deg! Jiyong oppa tiba-tiba masuk ke ruang kelasku dan memanggilku dengan manja. Untunglah dosen sudah keluar. Namun kelas yang mendadak ramai, langsung sepi dengan kedatangannya. Bisik-bisik mulai terdengar di berbagai sudut kelas.

Oke, mau apa lagi dia?

“Mau ngapain kamu, OPPA?” aku berbisik dengan tatapan tajam ketika dia sudah di sebelahku.

“Hanya ingin bertemu denganmu.” Dia menjawab enteng.

Aduuhh, ini orang!

Belum selesai jantungku berkontraksi normal, Sandara sunbae masuk ke dalam kelas dan menggebrak meja di depan kelas, kemudian berjalan cepat ke arahku.

Oke, ini masalah! Aku menepuk dahiku, pasrah.

“KAMU! MASIH BERANI BERMESRAAN DENGAN JIYONG?!!” Dia menunjuk tepat di depan wajahku.

Helloo?? Bagian mana ini yang bermesraan?

“Sandara.” Jiyong mulai bicara. Lalu dia merangkul pundakku. “memangnya kenapa kalau aku bermesraan dengan yeoja-ku?” Aku kaget.

Sandara sunbae lebih kaget lagi. Wajahnya memerah, karena cemburu dan kesal. “Jiyong! aku memang sudah menyerah untuk mendapatkanmu. Tapi jika lawanku adalah anak seperti ini, tentu saja aku tidak terima! Pokoknya kalian harus putus!”

“Hah?”

“Jika tidak, aku akan terus menyakiti anak ini sampai kalian mau putus!” Sandara sunbae menunjukku. Aduh, aku lagi yang kena.

Jiyong menghela nafas. “Kamu ini ya…” dia kemudian menggeledah isi tasku, kemudian mengambil silet dari kotak pensilku. “Daripada kamu harus menyakiti Chaerin, lebih baik kamu sakiti saja aku sekarang.” Katanya tenang, dia membuka siletku hingga sisi tajam silet terbuka lebar. (aduh, ngerti maksudnya buka silet kan??)

Aku dan Sandara sunbae semakin kaget. ADUH, INI ANAK MAU APA LAGI SIH?

“Atau lebih baik kamu melihatku menyakiti diriku sendiri? Kamu mau di bagian mana? Tanganku? Wajahku?” Dia mendekatkan siletnya ke wajahnya sambil tersenyum. Sandara sunbae benar-benar syok. Wajahnya memutih, tak melakukan gerakan apapun.

Aku mulai panik. Refleks tanganku menggapai silet yang dipegang Jiyong dan memegangnya dengan erat. “Hentikan!”

Jiyong kaget melihat apa yang kulakukan. “Chaerin, apa yang kamu lakukan?!”

“Aku tak ingin melihat oppa terluka!” Aku menggenggam silet semakin kuat.

“Iya, tapi sekarang kamu yang terluka!”

Setelah dia berkata begitu, aku melepaskan genggamanku dan melihat tanganku. Sekarang tanganku berdarah-darah.

Aku tak pernah kuat melihat darah. Kepalaku mulai pusing, pandanganku mulai gelap. Sesaat kemudian, aku terjatuh.

***

Aku membuka mataku perlahan. Putih. Kemudian aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Aku tahu tempat ini. Ruang UKS.

“Chaerin? Kamu sudah sadar?”

Aku mengalihkan pandanganku ke samping. Jiyong oppa. Dia terlihat lega melihatku sadar. Aku melihat tangan kiriku yang sudah dibebat dengan perban.

“Chaerin, mianhae… Aku membuatmu pingsan.”

“Tidak apa-apa. Lagian, oppa ngapain sih pakai acara pegang silet segala? Memangnya oppa benar-benar berniat melakukan hal itu?”

“Nggak.” Jawabnya enteng. “Sebenarnya itu sudah skenarioku. Aku yakin akan ada yang mencegahku. Tapi aku tidak menduga orang itu adalah kamu.”

Aku tersenyum. Aku ingat, samar-samar aku mendengar oppa berbicara dengan Sandara sunbae.

“Kamu harus tahu, dia adalah wanita yang aku cintai. Terima atau tidak, begitulah kenyataannya. Mianhae, aku tak bisa menerima ancamanmu, maupun cintamu.”

“Jiyong…” Kemudian Sandara berlari menjauh.

“Chaerin, mianhae…” wajah Jiyong oppa terlihat sangat bersalah.

“Tidak apa-apa, oppa…”

“Gomawoo, Chaerin.” bibir oppa mengembang. “Sarangheyo…” kemudian dia mengecup tanganku yang terbebat.

Aku tersenyum “Sarangheyo, oppa…”

Ya Tuhan, kebahagiaanku terdiri dari dua hal. Pertama, berada di mana Jiyong oppa berada. Kedua, melewati hidup setiap hari dengan nyaman bersamanya. Biarkan kebahagiaan kami tetap utuh, Tuhan…

———————————————————————————————————————————————————————-

horee horeee… semoga sukaaa.. 😀

mian yaa kalo ada yang suka dara, disini dia jadi jahat. huhuu.. aku bukannya sensi, cuman pengen aja ada dia di cerita ini. miaaaaannn….

makasii buat Tam P. yang ngasih saran pake Beast-oasis, dan dicta-VIP yang ngasih saran lagunya Shania Twain, You’re Still The One.

jangan lupa komen dan tunggu part 4 . Heheee.. 😀