Halo haloo !! 😀

setelah mengurusi segala hal di dunia perkampusan, akhirnya part 4 selesai jugaaa… 🙂

happy enjoying ! 😀

——————————————————————————————————————

“Dan lagu ini saya persembahkan untuk lelaki yang mendampingi saya berlatih, hingga hari ini, saya bisa tampil di hadapan kalian semua, Kwon Jiyong…”

No matter what happens
Even when the sky is falling down
I’ll promise you
That I’ll never let you go

You naega sseureojilddae
Jeoldae heundeullimeopsi
Ganghan nunbicheuro
Myeotbeonigo nal ileukyeojweo

And you, na himae gyeoulddae
Seulpeumeul byeolang kkeutkkaji ddo akkimeopsi
Chajawa du son japeun geudaeyegae

(You, When I fell
you held me back up with an unfaltering gaze

And You, through those sad times
held my hands till the end of the world)

(Park Bom – You And I)

***

Chaerin POV

“Chukkae, Chaerin!” Seunghyun oppa dan Jiyong oppa menyalamiku.

“Gomawoyo, Jiyong oppa, Seunghyun oppa.” Aku menundukkan kepala, berterima kasih.

“Tidak kusangka, ternyata kamu bisa juga bernyanyi sebagus itu.” ucap Seunghyun oppa lalu meminum cappuchino-latte nya.

Yang mereka bicarakan adalah acara kampus tadi siang. Seperti yang diketahui bersama, aku telah berlatih 2 bulan untuk hari ini di bawah arahan Jiyong oppa, pacarku selama sebulan ini. Aku sendiri bangga,  penampilanku telah melewati ekspektasi mereka, mengingat ini pertama kalinya aku bernyanyi sendirian di depan umum.

“Tapi tidak heran sih. Kalian telah berlatih begitu keras selama 2 bulan, hingga menumbuhkan hubungan khusus seperti ini. Menyanyikan lagu romantis seperti itu, pasti tidak masalah kan, Chaerin? Kekekee..” Seunghyun oppa tertawa lebar, kemudian melanjutkan, “Apalagi ada kata-kata… ‘lagu ini saya persembahkan untuk lelaki yang mendampingi saya berlatih, Kwon Jiyong,’ Jiyong saja sampai speechless mendengarnya di bawah panggung.” Seunghyun mengalihkan pandangannya ke Jiyong, “Iya kan?”

“Memangnya kenapa, hyung?? Chaerin kan yeoja-ku!” Jiyong oppa membelaku.

“Whoaa… muka kalian berdua meraaahh! Hahahaa…” Seunghyun menunjuk kami berdua dan tertawa terbahak-bahak, kemudian melanjutkan, “Ya tidak apa-apa. Untunglah yang mengatakan itu adalah yeoja-mu, bukan orang lain. Misalnya… Sandara?”

“Andwae!”

“Hahahaa…”

Aduuh, Seunghyun oppa ini senang sekali menggodaku. Sekarang mukaku memerah dan terasa panas. Yang kukatakan di atas panggung tadi seperti spontan saja keluar dari mulutku. Memangnya salah kalau aku mempersembahkannya untuk namja-ku? Tidak kan? Dan kenapa pula ada Sandara sunbae? Yaahh, mentang-mentang Suenghyun oppa tidak ikut melihat ‘adegan dramatis’ di kelas waktu itu, bukan berarti dia bisa menggodaku setiap hari. Huuhh.

Seunghyun oppa jeleeekk!

Aku memperhatikan minuman yang sedari tadi diminum Jiyong oppa. “Oppa, kenapa kamu selalu minum Vanilla-latte?”

Jiyong berhenti menyeruput minumnya. ”Humm… karena aku suka. Rasanya tidak terlalu pahit seperti kopi, karena ada vanilla dan susu di dalamnya. Ya walaupun aku juga tidak suka terlalu banyak vanilla, karena rasanya jadi terlalu manis.”

“Hanya itu?”

“Sudahlah, Jiyong. Ceritakan saja.” Seunghyun tiba-tiba menyela.

“Oke, Vanilla-latte ini minuman kesukaan ibuku. Jadi aku bisa mengingatnya hanya dengan meminumnya. Atau…” dia berhenti sejenak, dan melanjutkan, “aku harus minum espresso kesukaanmu agar bisa terus mengingatmu?” dia mendekatkan wajahnya kepadaku.

Aduh, close up! Jurus oppa yang seperti ini yang aku tidak suka, membuat jantungku jadi berdebar dan bekerja ekstra keras untuk menyuplai darah ke otakku, saking speechless nya aku kalau dia sudah mulai mendekat. Tapi aku juga suka, soalnya aku jadi bisa melihat wajah oppa lebih dekat. Kekeke..~

Mukaku kembali memerah. Aku menggelengkan kepala.”’Tidak usah, oppa. Lebih baik Vanilla-latte saja. Aku kan selalu di samping oppa, jadi oppa tidak usah susah-susah beli espresso hanya untuk mengingatku.”

Senyum Jiyong oppa mengembang. Dia mengacak-ngacak rambutku, sama seperti yang biasa dilakukan Seunghyun oppa. Tapi anehnya, aku suka sekali bila Jiyong oppa yang melakukannya.

Aku benar-benar menyayanginya. Biarkan aku terus bersamanya, Tuhan…

***

Normal POV

“Wah, hujan..” Seunghyun memandang ke luar jendela. “Chaerin, kamu tidak pulang? Ini sudah malam, dan hujan kesayanganmu sudah turun.”

“Kekeke.. baiklah oppa. Aku pulang.” Chaerin mengambil tasnya dan berdiri dari duduknya.

Jiyong memandangi yeoja-nya yang sekarang memberesi barang-barangnya.

Memangnya ada apa dengan hujan? Bukankah biasanya orang malah menunda kepulangan kalau hujan? Aneh…

Jiyong ikut berdiri. “Aku akan mengantarmu. Boleh kan?”

Chaerin tersenyum. “Tentu saja boleh.” Chaerin mengalihkan pandangannya pada Seunghyun. “Oppa, aku pulang dulu. Oppa sendiri nggak pulang?”

“Sebentar lagi. Aku masih ingin disini.”

“Baiklah kalau begitu. Aku dan Jiyong oppa pergi duluan. Oyasumi nasai.”

“Oyasumi…”

Chaerin melambaikan tangannya singkat, kemudian sosoknya dan Jiyong menghilang, terhalang pintu kafe yang menutup sepeninggalnya.

Ah, aku cupid yang baik..

Seunghyun menyeruput cappuchino-latte nya, lalu memandang jendela dengan tatapan nanar.

Sebenarnya, aku masih berharap padamu, Chaerin…

 

***

Jiyong POV

Chaerin, apa artinya Oyasumi nasai?” tanyaku ketika kami berjalan di bawah payung berdua ke arah apartemen Chaerin.

“Oh itu.. Artinya selamat malam.”

“Itu bahasa Jepang kan? Bagaimana kamu bisa tahu bahasa itu? Dan seunghyun hyung juga sepertinya bisa..”

“Sekolahku dulu mengajarkan bahasa Jepang. Seunghyun oppa sering membantuku belajar, karena pelajarannya cukup sulit. Setelah lulus, terkadang kami masih menggunakannya. Sayang sekali kan kalau aku melupakannya.”

Bibirku membentuk huruf O tanda mengerti. Rasanya aku harus ikut belajar bahasa Jepang, agar bisa mengerti pembicaraan mereka.

“Lalu, kenapa kamu suka hujan? Seunghyun hyung sepertinya tau kamu suka hujan.”

Chaerin tersenyum. “Aku selalu menyukai hujan, Jiyong oppa. Aku suka berjalan di bawah hujan. aku suka menari di bawahnya, seolah tempat itu hanya milikku sendiri. Aku suka melihat hujan dari balik jendela, melihat lalu lalang orang yang berlari menghindari hujan. Tidakkah kamu menyadari aku selalu memilih tempat yang sama jika kamu mengajakku ke café Bonheur?”

Ah iya. Chaerin selalu meminta duduk di sudut kafe, tepat di sebelah jendela besar yang menghadap jalan. jadi itu maksudnya..

Sepertinya Seunghyun hyung lebih tau Chaerin ketimbang aku. Aku tidak suka ini. Sepertinya hyung lebih cocok dengan Chaerin dibandingkan denganku. Aku merasa tolol. Tak tau apa-apa tentang wanita yang kucintai. Bodoh!

Chaerin melihat wajahku yang cemberut tanpa kata. ‘Jiyong oppa? Kamu kenapa?”

Aku menoleh ke arahnya. “Euhhm.. tidak. Tidak ada apa-apa.”

Aku hanya tidak ingin Seunghyun tahu lebih banyak tentangmu daripada aku. Aku tidak mau kalah dengannya.

Chaerin terus memperhatikanku, membuatku merasa harus mengalihkan pandanganku. “Jiyong oppa, Apa kamu cemburu?’

Kontan aku membelalakkan mata ke arahnya. ‘Hah? cemburu? Tidak, siapa bilang.’ aku mencoba mengelak dan mengalihkan pandanganku ke tempat lain.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat Chaeri tersenyum senang. ‘Jiyong oppa..’ Chaerin memegang tanganku lebih erat, kepalanya mendongak ke arahku. ‘yang aku cintai adalah oppa. Jangan cemburu ya, oppa..’

Aku tersadar. Chaerin telah memilihku, bukan memilih Seunghyun. Harusnya aku tidak perlu khawatir.

Ketika aku masih belum berhenti memikirkan rasa cemburuku yang aneh ini, bangunan apartemen Chaerin sudah terlihat, aku menarik tangan Chaerin, hingga badannya merapat denganku. kemudian tanganku yang lain reflex melepaskan payung, hingga payung itu terjatuh begitu saja di jalanan yang basah, lalu aku melingkarkannya di pinggang Chaerin. ‘Aku tahu.’

Chaerin tersenyum. Dia menenggelamkan badannya dalam pelukanku. tangannya menggapai punggungku.

Kami membiarkan tubuh kami basah oleh guyuran air hujan yang menderas. Guyurannya, membuat tubuh kami seolah menyatu, tanpa sekat sama sekali. Di saat seperti inilah, aku merasa sangat dekat dengannya, seolah tak ada satupun yang bisa memisahkan aku dengannya.

‘Aku hanya terlalu mencintaimu.’ aku membelai rambut Chaerin. ‘Aku sangat mencintaimu, Lee Chaerin..’ Aku mempererat pelukanku, hingga wangi tubuhnya semakin kuat merasuk hidungku.

Aku ingin terus mencium wangi tubuhnya, membelai rambut panjangnya, memeluknya. Mencintainya adalah hidupku. Setiap saat yang kuhabiskan dengannya, adalah sari untuk jiwaku. Ya Tuhan, aku benar-benar mencintainya…

Entah kenapa, hari ini aku tak ingin berpisah darinya. Bahkan kalau aku bisa, aku ingin membawanya pulang ke rumah, hingga aku tak usah melepasnya. Tentu saja, aku tidak akan melakukan itu. Tapi, hari ini perasaanku sangat aneh. Seolah dia akan menghilang dari pandanganku setelah aku melepaskan pelukanku ini. Aku takut kehilangan dia.

Aku mendorong pelan tubuh Chaerin, dan melihat wajahnya yang basah oleh air hujan. Bahkan ketika basah pun, dia masih tetap cantik, bahkan jauh lebih cantik. Sepertinya tak ada yang bisa menghilangkan kecantikan wajahnya.

Aku mendekatkan kepalaku. Aku bisa merasakan hangat nafasnya di wajahku yang seirama dengan nafasku. Aku menutup mataku, merasakan adanya perasaan nyaman yang terus meningkat seiring menipisnya jarak antara kami berdua, sampai bibirku menyentuh bibirnya.

Dia membalas ciuman ringanku, dan bibir kamu beradu lembut. Bibirnya yang basah. Aku menikmati setiap kecupannya, ada kehangatan, serta kenyamanan yang menjalar setiap detik kami berciuman. sungguh, aku tak ingin melepaskannya.

Perlahan, aku menarik bibirku dan membuka kedua mataku. “Pulanglah.” ujarku. “Aku tak ingin melihatmu sakit.”

“Aku masih ingin denganmu…” Chaerin mulai merajuk manja.

“Tidak boleh! Nanti kamu sakit, Chaerin, dan aku tidak suka melihatmu sakit.” Aku harus tegas sekarang, walaupun aku sendiri sebenarnya tak ingin berpisah dengannya.

Chaerin memandangku lama. “Baiklah oppa. Selamat malam. Sarangheyo.” dia membalikkan badan, dan aku pun mengambil payungku, dan berbalik pulang.

Chaerin POV

Aku memandang Aku sebenarnya aku tak mau berpisah. Rasanya aku ingin menahannya disini. Aku mencoba untuk tidak membuatnya pergi, namun dia tetap ingin pergi. Aku tak punya pilihan lain. Aku mencoba menenangkan perasaanku yang aneh ini. Toh besok aku masih bisa bertemu dengannya.

“Baiklah oppa. Selamat malam. Sarangheyo.” aku membalikkan badan.

CKIIIIIIITTTTTTTT……!!!!!! BRRUUAAAAAAKKK…!!!!!

Semua terjadi begitu cepat. Namun ketika aku membalikkan badan, aku bisa melihat setiap detailnya, seolah aku melihatnya dengan gerakan lambat.

Sebuah minibus yang mencoba mengerem menabrak dengan keras badan Jiyong dan terpental, hingga beberapa meter kemudian, Jiyong jatuh dan terkapar di tanah berlumuran darah. Payung yang dibawanya terbang dan jatuh entah dimana. Minibus yang menabraknya berhenti sejenak, namun segera mundur dengan tergesa ke belakang dan meninggalkan kami.

Ya Tuhan! Jiyong oppa!

“OPPAA !!”

Dadaku bergemuruh kencang, seketika tanganku gemetar. Aku tergesa berlari menghampiri tubuh Jiyong. Berharap dia masih baik2 saja.

Aku mengangkat punggungnya, melihat sekujur tubuhnya.

Ya Tuhan, darahnya banyak sekali. Darahnya keluar deras dari keningnya, sepertinya ada benturan keras di kepalanya.

‘Jiyong oppa? oppa?’ panggilku memburu. Dadaku berdebar jauh lebih kencang, nafasku sangat tak teratur. Aku benar-benar panik, Aku menepuk pipinya, berharap setelah itu dia membuka matanya. namun tak ada reaksi.

Aku mencoba mencari pertolongan, namun jalanan sangat sepi, bahkan tak ada satupun pejalan kaki yang lewat. Aku langsung mengeluarkan handphone ku dan menelepon panggilan darurat. Memberitakan dengan singkat kejadian, keadaan oppa, dan tempat dimana aku sekarang. Aku tak tahu apakah suaraku terdengar oleh mereka, sepertinya akan terhalang oleh tangisanku, dan suara hujan yang kian deras.

Aku benar-benar berharap mereka cepat sampai disini!!

“Oppa, sadarlah!” aku menggerakkan badannya yang telah terkulai tak berdaya. aku mulai menangis histeris. “Oppa, aku mohon.. bangunlah, oppaa!!”

Aku harus melakukan sesuatu. Mungkin memompa jantungnya? Aku mencoba mencari tempat di dadanya untuk memompa, seperti yang terlihat di televisi. Tapi baru kusadari, dadanya juga berdarah, bahkan lebih banyak. Ketika aku menyentuhnya, aku bisa merasakan tulang rusuknya yang keluar dari kulitnya. Tulangnya patah dan telah menembus kulitnya. Oh Tuhan!

Ya Tuhan, aku tak mungkin melakukan pemompaan darah, ketika tulangnya saja sudah patah. Aku mulai kehabisan akal. Aku mulai mencicit. “Oppa, bertahanlah! Ambulans akan segera datang! Ayo oppa, sadar!”

“Oppa, aku mohon, sadarlah. Jangan tinggalkan aku..”

“OPPAAAAAAA…………..!!!”

Aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi kemudian. Pandanganku menggelap. aku tak bisa melihat, mendengar dan memikirkan apapun.

——————————————————————————————————————-

Lho? Ada apa dengan Jiyong?

Tunggu part 5 nya sajaaa.. hohooo.. 😀

Iklan