Anyyeeongg…

pernah nggak sih berasa nganggur walo benernya masih banyak banget kerjaan? aku sekarang lagi seperti itu. merasa ngangguurr poll, dan nggak ngerti mau ngapain. -___-”

dan benernya, aku mau ngerelase part 5 ini besok. tapi kengangguran ini benar2 membunuhku. jadii.. aku release aja sekarang. hhoo..

ya sudd, happy sunday all !

——————————————————————————————————————–

Kita semua tahu, hidup kita akan berujung pada satu kematian. Namun kita selalu mencoba untuk melupakannya. we always try to ignore and deny the reality. Dan ketika salah satu dari kita menemui-Nya, saat itu pulalah kita kembali teringat. Kepada-Nya…

***

Normal POV

“Maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin..” nafas Chaerin tercekat, jantungnya mencelos, tak percaya. “Namun pasien Kwon Jiyong mengalami luka yang sangat berat, sehingga kehilangan banyak darah. Ini menyebabkan suplai darah ke otak berkurang drastis, sedangkan otak tidak mampu mengadakan kompensasi atas keadaan ini, dan menyebabkan kematian batang otak…” dokter mencoba menjelaskan situasi yang terjadi pada Chaerin, namun sepertinya Chaerin tak mampu lagi mencerna kata-kata lebih jauh lagi. Mendengar kata pertama saja dia sudah tahu kenyataannya.

Chaerin menutup mulutnya, tak percaya. Tubuhnya limbung, kakinya terhuyung ke belakang. Hampir saja terjatuh, jika Seunghyun tidak menahannya. Air matanya meleleh. “Oppa..” dia berbisik lirih. “Ini tidak mungkin. Jiyong oppa tidak mungkin meninggal! Tidak mungkin kan, oppa..?!!” Chaerin meracau diantara isak tangisnya yang pecah.

Seunghyun hanya terdiam.

Chaerin membalikkan badannya. Dia kini menenggelamkan dirinya di dada Seunghyun yang terus memeluknya. “OPPA BILANG DIA TIDAK AKAN MENINGGALKANKU! Jadi dia tidak mungkin meninggal kan ?! IYA KAN?!” Tangisnya, histeris.

Tiba-tiba Chaerin mendorong Seunghyun kuat-kuat untuk menjauh dan melepaskan pelukannya. Dia berbalik menuju kamar jenazah. “Jiyong oppa pasti bercanda! Dia pasti sedang menungguku untuk masuk dan memeluknya!” Dia berlari masuk ke kamar tanpa sempat dicegah oleh Seunghyun.

Chaerin masuk dan mendapati tubuh Jiyong yang pucat, dan terkulai tanpa nyawa. Melihat keadaan Jiyong, Chaerin menarik nafas dalam-dalam dan menyeka air matanya. Perlahan dia mendekatinya, hingga tepat di samping kasur. “Jiyong oppa..” panggilnya lirih. Tangannya menggapai dada Jiyong. “Oppa, bangunlah.. Ayo kita pulang..” Chaerin mulai menggoyangkan tubuh Jiyong. Melihatnya tak ada reaksi, Chaerin menggoyangnya lebih keras. Air matanya mulai jatuh lagi.

“Oppa, kamu bilang, kamu tak akan meninggalkanku. AYO BANGUUUNN…!” pintanya,setengah berteriak, putus asa. Kini dia mulai merintih,”Oppa.. Ayo bangun…” Air matanya mengalir deras. Dia menangis jauh lebih histeris, hingga nafas pendek yang dia hembuskan terdengar jelas.

Seunghyun hanya bisa melihatnya dengan nanar. Tak tahan melihat pemandangan itu, dia menarik kedua lengan Chaerin, memeluknya dari belakang, menjauhkannya dari tubuh Jiyong. “Sudah, Chaerin. Berhentilah…” bisiknya lirih.

“TIDAK!” Chaerin berusaha melepaskan diri dari pelukan Seunghyun. “Lepaskan aku, Seunghyun oppa! Oppa menungguku membangunkannya!”

Namun pelukan Seunghyun terlalu keras. Bahkan kini dia mempererat pelukannya. Air matanya jatuh, tak sanggup melihat gadis yang dicintainya itu menangis seperti itu. “Aku mohon, Chaerin… Berhentilah…”

Setelah berkali-kali mencoba melepaskan pelukan Seunghyun,  namun gagal, akhirnya Chaerin menyerah. Tubuhnya terkulai, sebagian berat badannya ditopang Seunghyun untuk bisa berdiri. Chaerin terus menangis membelakangi Seunghyun yang memeluknya, sambil memandangi tubuh tanpa nyawa di hadapannya.

***

“Chaerin, keluarlah. Ini sudah tiga hari kamu di kamar. Kamu harus makan..”  Seunghyun mengetuk pintu kamar Chaerin. Namun tak ada jawaban dari dalam. “Chaerin? Ayolah…”

Seunghyun menyerah, menghela nafas panjang, dan kembali ke meja makan. Dia tak tahu lagi harus berbuat apa untuk Chaerin. Sudah tiga hari dia begini, semenjak… kematian Jiyong. Dia tidak pernah keluar kamar sama sekali, tidak pernah memakan makanan yang Seunghyun sediakan untuknya. Dia bahkan tidak mengunjungi upacara pemakaman Jiyong. Mungkin terlalu syok.

Sudah tiga hari ini Seunghyun tinggal di apartemen Chaerin. Dia tak sanggup meninggalkan Chaerin sendirian. Dia tidur di sofa di depan kamar Chaerin, berjaga kalau sewaktu-waktu Chaerin membutuhkan sesuatu. Namun, Chaerin tak pernah keluar dari kamarnya.

Seunghyun memandangi pintu kamar Chaerin, lalu menghela nafas.

Apa yang harus aku lakukan, Chaerin?

***

Sementara itu, Chaerin di dalam kamar tidak melakukan apapun. Dia hanya melihat jendela dari atas kasurnya dengan tatapan kosong. Tangannye memeluk lututnya yang terbungkus selimut. Matanya sangat sembab, seolah dia tidak berhenti menangis. Rambutnya berantakan, tidak tertata, hanya tergerai seadanya. Masih menggunakan piyama yang sama, entah kapan dia terakhir menggantinya.

Oppa, kembalilah..Aku tak tahu harus berbuat apa tanpa oppa… untuk apa aku disini bila oppa tidak ada. Aku ingin menyusulmu oppa..

Tiba-tiba memorinya teringat lagi. Setiap detail kejadiannya. Dia mengingat kejadian itu seperti foto. Kejadian yang tak ingin dia putar. Tangannya memegangi kepalanya, menahan rasa pening yang menyerangnya bertubi dengan ingatan. Dia menarik-narik rambutnya, memukul-mukul kepalanya. Chaerin merasa amat sangat frustasi, depresi. Seperti masuk ke dalam jurang yang sangat dalam, dimana dia tidak bisa melihat apapun. Bahkan sinar.

“AAAARRGGHHH….!!!!”

Tangannya turun menutup wajahnya. Air matanya meleleh lagi, untuk yang ke sekian kalinya.

Aku yang salah! Harusnya aku menahan oppa lebih lama lagi denganku! Harusnya aku tidak memperbolehkannya mengantarku pulang! Harusnya dia tidak usah mengenalku! Jadi dia sekarang masih disini, masih tersenyum senang. Harusnya aku tahu, aku cukup melihatnya dari jauh. Semua ini salahku! SALAHKU!

Kenapa bukan aku saja yang menggantikan posisi oppa? aku ingin waktu kembali, menarik oppa, untuk terus bersamaku, untuk tidak pulang, walau malam menjelang..

Setelah itu, dia menelungkupkan kepalanya di sela kedua lututnya. Dan terus menangis.

***

Hari keempat setelah kematian Jiyong.

Tiba-tiba Chaerin keluar dari kamarnya. Penampilannya acak-acakan, pandangannya kosong. Seunghyun yang sedang menyiapkan makanan, terkejut, langsung menghampiri Chaerin dengan antusias.

“Chaerin? Akhirnya kamu keluar. Ayo makan. Aku sedang menyiapkan makanan untukmu.” Seunghyun mencoba menggandeng tangan Chaerin, namun dengan cepat wanita itu menepisnya. “Chaerin?”

“Jiyong oppa memanggilku.”  ucapnya, dengan tatapan kosong. Dia tidak memperdulikan Seunghyun dan terus berjalan ke luar apartemennya.

Seunghyun mencoba menahannya. “Kamu mau kemana? Ini sudah malam. Hujannya juga sangat deras.”

Hujan? Hari itu juga malam, dan hujan. Jiyong oppa pasti benar-benar memanggilku.

“Aku harus mencari oppa, oppa memanggilku di luar sana!” teriaknya, kemudian berlari ke luar rumah. Seunghyun mengambil jaket yang terselempang di sofa dan berlari mengejarnya.

Hujan sangat deras. Chaerin terus berjalan tanpa arah menyusuri jalanan yang basah. Seunghyun berada dalam tiga meter di belakangnya, mengawasinya tanpa mendekatinya. Keduanya tanpa payung, membiarkan diri mereka basah.

“Jiyong oppa? Kamu dimana? Aku menjemputmu..” Chaerin mengucapkannya berulang kali sepanjang jalan. Dia memelas, merintih, mencoba berteriak, namun tak pernah ada jawaban. Dia menoleh kanan kiri, mencari sosok Jiyong. Sesekali dia berhenti dan menengok sekitarnya, mencari sosok Jiyong. Lalu kembali berjalan. Dia telah berjalan dua jam, dan jalannya kini mulai terseok.

Oppa, datanglah.. Aku sudah menjemputmu…

Hujan bertambah deras. Tiba-tiba Chaerin berhenti berjalan dan mendongak ke atas. menatap kosong hujan yang turun. Mencoba melihat tetesannya yang hampir tak terlihat, namun terus membasahi tubuhnya.

Hujan, aku selalu menyayangimu. Aku selalu berjalan di bawahmu ketika orang-orang menghindarimu. Aku selalu mengharapkan kedatanganmu, ketika orang-orang berharap kau tidak ada. Aku selalu tersenyum ketika kamu datang, ketika orang-orang menatapmu dengan muram.

Tapi kenapa kamu mengambil orang yang aku cintai? Dia satu-satunya orang yang aku cintai! AKU BENCI KAMU! Kamu merampas Jiyong dariku. Kamu mengambilnya! AKU SANGAT MEMBENCIMU!!

Dia terus mendongak menghujat hujan yang mengambil namja-nya. Dia menangis, untuk Jiyong yang pergi saat hujan. Dia menangis, karena hujan mengkhianatinya.

Lalu, dia kembali mencari sosok Jiyong.

Oppa, aku mohon.. kemarilah…

Di belakangnya Seunghyun mengawasinya dengan tatapan nanar. Sudah dua jam, dan kini gadis di depannya mulai oleng ketika berjalan. Hatinya benar-benar sakit, melihat Chaerin, seperti mayat hidup yang sedang berjalan.

Dia sangat ingin mendekatinya, memeluknya hingga gadis itu merasakan kehangatan, mengambil semua rasa sedih yang ditanggung Chaerin, mengembalikan keceriaannya, senyumannya. Dia ingin melakukan semua hal itu. Namun, dia tidak bisa. Chaerin bahkan menolak ketika dia memegang tangannya sebelum akhirnya Chaerin berjalan menyusuri jalan.

Dirasakannya, air matanya jatuh perlahan ke pipinya, menuju dagunya. Namun tak terlihat, karena hujan juga menyentuh wajahnya, mengaburkan air matanya.

Chaerin, begitu besarnya kah cintamu untuk Jiyong?

Beberapa saat kemudian, Chaerin jatuh, terkapar di tanah.

Seunghyun kaget dan kontan berlari menghampirinya. Sekali melihat keadaannya saja Seunghyun sudah tahu. Ya Tuhan, dia pingsan!

Seunghyun mencoba menyelipkan kedua tangannya di punggung dan lutut Chaerin, dan mengangkatnya. Dia membawa Chaerin pulang sambil berlari. Berharap Chaerin baik-baik saja, setidaknya secara fisik.

***

Seunghyun POV

Aku telah mengganti bajuku, dan meminta tolong pada wanita tua di sebelah kamar apartemen Chaerin untuk memandikan dan mengganti baju Chaerin dengan yang kering. Sekarang, aku mengompresnya, karena demam Chaerin tinggi sekali, 40 derajat celcius.

Aku memandangi wajahnya yang tertidur pulas, cukup tenang. Tiba-tiba, tangannya bergerak ke udara, seolah ingin menggapai sesuatu. “Jiyong oppa..” igaunya lirih. “Jangan tinggalkan aku.. kembalilah..”

Aku meraih tangan Chaerin, menggenggamnya erat. Memang, genggamanku berbeda dengan Jiyong, tapi semoga cukup hangat untuk menenangkannya. Igauannya berhenti. Namun ada setitik air mata meleleh dari matanya yang tertutup. Hatiku mencelos.

Aku menatap gadis yang tengah terlelap di depanku. Kemudian beralih pada tanganku yang sekarang digenggam erat oleh Chaerin. Wajahnya terlihat pucat, lebih kuyu, seolah tak ada tanda kebahadiaan disana. Badannya tampak lebih kurus, dari terakhir kulihat. Tentu saja, dia tidak pernah mau makan. Matanya sangat sembab, dan kehitaman. Tak pernah aku melihatnya dalam keadaan separah ini.

Ah, aku capek sekali.

***

“Oppa…”

Aku tersadar, itu suara Chaerin. Aku membuka mataku perlahan dan mendapati diriku tidur dalam posisi duduk di samping kasur Chaerin, dengan masih menggenggam tangannya. Refleks kulepaskan tangannya.

“Mianhae, Chaerin. Kamu sudah bangun?” Tanganku bergerak menuju dahinya. Panasnya sudah turun. “Ayo makan. Kamu harus makan hari ini.”

Chaerin hanya mengangguk, dan tersenyum datar. Dia mengikutiku ke dapur. Aku menghangatkan kembali bubur yang kusiapkan sejak semalam.

Beberapa saat kemudian, bubur hangat telah tersaji di meja. Chaerin memakannya tanpa nafsu. Tak apa, daripada dia tidak makan sama sekali.

***

Seminggu setelah kematian Jiyong.

Keadaan Chaerin mulai membaik, saat ini dia mulai mau makan, walau tak pernah habis. Namun dia tak pernah tersenyum, pandangannya kosong, dan hanya sedikit bicara. Dan tiap malam aku selalu mendengarnya menangis di kamarnya.

Aku mengambil jaketku yang selalu kuselempangkan di sofa dan memakai sepatu. “Chaerin, aku akan membeli makanan untuk makan malam. Kamu tunggu di rumah ya..”

Chaerin hanya mengangguk pelan.

Semoga saja dia baik-baik saja walau kutinggal sebentar.

***

Chaerin POV

Aku sudah tak punya semangat untuk hidup. Jiyong oppa sudah tidak ada. Untuk apa aku hidup kalau alasanku untuk hidup saja sudah tidak ada. Aku benar-benar berharap aku bisa menyusulnya sekarang. Aku tidak peduli apaun di dunia ini. Apapun!

“Jiyong oppa, jemput aku…”

Yang kulakukan sekarang, hanya mencoba berpura-pura didepan Seunghyun oppa, agar dia tak terlalu khawatir tentangku.

Aku berjalan ke kamar lunglai. Sesaat kemudian, aku berhenti di depan cermin. Didalamnya, aku bisa melihat dengan jelas Bagaimana aku membiarkannya mengantarku sampai ke rumah. Bagaimana aku gagal menahannya bersamaku dan membiarkan Jiyong pergi. Bagaimana dia akhirnya tertabrak mini bus itu. Bagaimana dia tergeletak di tanah, dengan berlumuran darah yang ikut mengalir bersama hujan. Bagaimana aku begitu bodoh karena aku tak bisa menyelamatkannya. Bagaimana semuanya terlambat ketika ambulans datang. Semuanya tergambar di dalam cermin. AKU BISA MELIHATNYA DENGAN JELAS.

Aku menjambak-jambak rambutku untuk mencoba melupakannya. Namun semakin kuat aku menariknya, semakin kuat pula ingatanku tentang kejadian itu. “HENTIKAN! HENTIKAN!”

Aku mencoba memejamkan mataku erat, namun masih terlihat. Ketika aku membuka mataku lagi, aku bisa melihat cermin itu mengejekku, dia menertawakanku. Dia meperlihatkan potongan-potongan kejadian itu. “AKU MOHON! HENTIKAN!”

AKU BENCIIIIIII !!!! AKU TIDAK TAHAN DENGAN SEMUA INI !

Aku tak tahu apa  yang kupikirkan. Tapi refleks aku berlari, mengambil tongkat baseball di dalam lemariku, kemudian berlari menuju cermin.

PRAAANGGG!!!!

Cermin di depanku pecah, oleh tongkat yang aku bawa. Nafasku terengah. Aku tersenyum, puas. Akhirnya aku tidak usah melihat cermin sialan itu lagi.

Aku berbalik ke belakang. Namun, aku melihat cermin di meja riasku. Dan sekelebat peristiwa itu terlihat lagi di dalam cermin itu.

PRAAAANNGGG !!!

Kini, nafasku memburu. Amarahku bergejolak, aku takut. Aku takut melihat cermin. Aku berlari ke luar kamar. Mataku memandang seisi rumah dengan liar. Mencari segala macam cermin yang ada di rumah.

AKU BENCI CERMIN!!!

PRAAANNNGG!!! PRAAANGG !! PRAAAANGGG!!!

Aku memecahkan semuanya.

Nafasku terengah-engah. Mataku berkeliling, mencari apa ada cermin yang tersisa. Sekarang, semuanya sudah tidak ada. Sudah tidak ada yang bisa menggangguku. Aku tersenyum puas.

Namun melihat pecahan cermin itu, aku teringat sesuatu yang lain. Aku duduk dan mengambil salah satu pecahan cermin, dan mengarahkannya ke pergelangan tanganku.

***

Seunghyun POV

PRAAANNNGG!!! PRAAANGG !! PRAAAANGGG!!!

Aku yang mulanya berjalan santai, langsung bergegas membuka kunci apartemen Chaerin. Aku terperangah meliat seisi rumah. Berantakan. Pecahan cermin dimana-mana. Aku bergegas mencari sosok Chaerin. Mataku menyusuri setiap sudut rumah. Hingga kudapati Chaerin tersenyum datar, dan tengah membawa pecahan cermin dan mendekatkannya ke pergelangan tangannya.

Aku merasakan firasat buruk.

“Chaerin!” Seruku, kemudian berlari ke arahnya. Dia menoleh  ke arahku, tangannya yang memegang pecahan cermin melayang di udara.

Aku berlari ke arahnya, dan berlutut di depannya. Aku mencoba menyambar pecahan cerminnya. Namun, dia tidak mau melepaskannya. “Lepaskan aku, Seunghyun oppa! Aku harus menyusul Jiyong oppa!”

“Tidak akan kulepaskan!” Aku menarik pecahan cermin itu dari tangannya, hingga akhirnya terlepas. Saking kuatnya, aku terkena pecahan kaca, sehingga tanganku mulai berdarah. Namun, akhirnya pecahan itu berhasil aku lempar menjauh.

Aku langsung menarik badan Chaerin merapat ke arahku, memeluknya dengan kuat. “APA-APAAN KAMU INI CHAERIN?!”

“Aku hanya ingin menyusulnya, oppa..” ucapnya lirih. “Untuk apa aku hidup kalau dia tidak ada? Aku tak bisa hidup tanpa dia…” Chaerin mulai menangis.

“Kamu bisa. Kamu pasti bisa, Chaerin.” Bisikku.

“Aku tidak bisa.”

“Aku yakin kamu bisa!” Aku mempererat pelukanku.

Chaerin diam, tak berkata apapun. Tangannya meraih punggungku, dan mencengkeram bajuku, sangat erat. Tangisannya semakin keras.

“Kamu bisa, Chaerin. Ada aku disini.. Berjanjilah kamu tidak akan melakukan hal ini lagi.”

Dia tak menjawab apapun. Hanya mengangguk. Tangisannya terus berlanjut, bahkan semakin keras. Di sela tangisannya, “Gomawo, oppa..” ucapnya lirih.

Jiyong, izinkan aku menjaganya, setidaknya sampai dia berdiri sendiri…

—————————————————————————————————————–

okee.. sekian part 5 nya. bagaimana? bagaimana?

jujur, aku suka banget sama part ini. soalnya aku bikinnya bener2 menguras emosi. hampir nangis juga ngebayangin adegan per adegan yang muncul. di saat seperti inilah kapasitasku sebagai penulis diuji. bagaimana aku, menempatkan diriku dalam sisi gelap Chaerin, sekaligus sisi sabar Seunghyun, membawa pembaca masuk ke dalam cerita, dan ikut hanyut di dalamnya. *curcol*

bagi skydragon lovers, mianhae. karena aku sudah ‘membunuh’ Jiyong. hhu..

overall, jangan lupa komen untuk kebaikan tulisanku, dan tunggu part 6 nyaa. 🙂

khamsa hamnida. ^^

Iklan