aigoo… akhirnya di sela-sela kuliahku yang padat *guaya* , aku bisa nge-post part 6.

aku seneng banget atas apresiasi readers untuk part sebelumnya. gomawoo , hontou ni arigatooo minna-san.. ^^
*sujud sukur*

ya sudahlah, aku ndak mau banyak bacot, nanti bunda mengandung *lho* .

proud to present :  My Another Side (Please Look at Me) (Part.6)

cerita kali ini, kita akan balik ke masa sekarang, bukan lagi tentang 3 tahun yang lalu. 🙂
terus ada satu kata jepang yang aku sisipkan *kan ceritanya Seunghyun dan Chaerin bisa bahasa jepang*, yaitu “Baka” yang artinya “bodoh” 🙂

happy tuesday all ! semoga cerita kali ini bisa mempengaruhi mood kalian hari ini. huehehee.. *tawa setan* ^^

_______________________________________________________________________________________

Seunghyun POV

Aku memandang jendela mobilku. Hujan. Seoul akhir-akhir ini sering sekali hujan. Semoga bukan pertanda buruk. Sejujurnya, aku berbeda dengan Chaerin tentang hal ini. Aku sangat membenci hujan. Mengingat banyak sekali kejadian buruk yang aku alami ketika hujan turun.

Malam ketika aku mengenalkan Jiyong pada Chaerin. Malam aku mendengar mereka berpacaran, malam ketika… Jiyong pergi meninggalkan semuanya. Malam ketika Chaerin pingsan di pinggir jalan. Ataupun sebelum atau sesudahnya, hujan selalu datang ketika aku menerima kabar buruk. Seolah mereka menertawakanku ketika aku bersedih.

Aku membenci mereka. Sangat.

Hujan selalu datang ketika aku sangat tidak ingin melihatnya. Mungkin kecuali satu waktu, ketika aku bertemu cinta pertamaku.

Cinta pertama, mungkin bagi kalian hal itu hanya sekedar cerita cinta anak SD yang biasa kamu tertawakan ketika sudah dewasa. Namun bagiku, cinta pertamaku adalah benar-benar cinta. Ya, aku melihatnya sebagai cinta yang sesungguhnya. Memang aneh, anak SD merasakan cinta sesungguhnya.

Aku melihatnya pertama kali setelah enam tahun aku sekolah di SD. Ketika dia berdiri dan diam di bawah hujan. Dan ketika dia menjawab dengan pertanyaanku yang polos, dengan jawaban yang sama sekali tidak aku duga. Dia suka hujan, dia suka menari di bawah hujan, dia suka melihat orang berlari menghindari hujan.

Namun setelahnya, aku tak pernah bertemu dengannya lagi di SD itu. Kata temannya dia sudah pindah sekolah. Sayang sekali.

Aku meminum minuman yang baru saja aku seduh. Pahit! Aku memandangi minuman dalam gelas plastik yang baru saja kubeli dari Bonheur. Espresso. Jadi begini rasa yang biasa diminum Chaerin? Benar-benar kopi tanpa campuran apapun seperti ini? Hebat sekali gadis ini.

Setidaknya, minuman kesukaan Chaerin tiga tahun yang lalu, sebelum Jiyong pergi.

Aku masih ingat betul, waktu pertama kali aku menjemputnya untuk berangkat kuliah, setelah tiga minggu menghilang dari peredaran kampus pasca Jiyong meninggal…

“Chaerin?! Mana rambutmu?” Aku terbelalak melihat Chaerin yang memangkas habis rambutnya yang panjang, sekarang rambutnya hanya tinggal sebahu.

Chaerin membuka pintu mobilku, dan duduk di dalamnya. “Aku hanya ingin merubah suasana hati, oppa. Melihat rambutku saja sudah membuatku teringat dengan Jiyong oppa. dia senang membelai rambutku. Aku sadar, aku tidak bisa begini terus. I think I must move on…”

Dahiku berkerut. “Yakinkah kamu?”

“Iya, oppa tenang saja. Setelah ini, aku akan membiarkan rambutku panjang.” Chaerin memang tersenyum, tapi aku bisa melihat matanya tidak ikut tersenyum. Seolah senyumnya itu menertawakan dirinya sendiri. Aku tidak suka ekspresi ini.

Aku hanya bisa pasrah. Mau apa lagi, rambutnya juga sudah dipotong. Lagipula, mungkin ini lebih baik daripada dia mencoba bunuh diri lagi. Aku akan menjaganya. Aku tidak mau kehilangan dia.

“Ya sudahlah, ayo berangkat.”

***

“Oppa, aku ingin ke Bonheur.” Chaerin merajuk padaku setelah kuliahnya selesai.

Hah? Bonheur? Mau apa lagi anak ini? Bukankah kenanganmu bersama Jiyong banyak sekali di sana? Katamu kamu ingin move on, Chaerin?

“Oppa, aku ingin ke Bonheur.” Chaerin mengulanginya permintaannya, setelah aku tak bereaksi apapun.

“Untuk apa?”

“Oppa, aku memutuskan sesuatu hari ini. Aku akan mengubur segala sesuatu tentang Jiyong, kecuali satu. Café Bonheur.” Dia menghela nafas sejenak, dan melanjutkan, “Aku ingin, di situlah aku bisa kembali ke masa lalu, mengingat kenanganku bersama oppa. Sejenak saja, aku ingin merasakannya. Setelah keluar dari tempat itu, aku akan kembali ke masa sekarang, menjadi Chaerin yang lebih kuat, dan tegar.” Dia mengepalkan kedua tangannya ke udara, seolah dengan begitu dia berhasil menunjukkan dirinya kuat.

Aku memandanginya, tak yakin. Benarkah begitu alasanmu?

Huufftt.. Ya sudahlah. Lebih baik kuturuti saja. Toh semua butuh proses, termasuk untuk melupakan kenangan. Terlebih, Chaerin begitu menyayangi Jiyong. Semoga waktu bisa menyembuhkan segalanya.

“Baiklah, Chaerin. Tapi berjanjilah satu hal. Jangan lupa untuk kembali. Aku tak mau kamu berkubang dalam masa lalu.”

Dia tersenyum senang, karena aku menuruti permintaannya. “Baiklah, Seunghyun oppa!”

***

“Cappuchino-latte.” Aku menyebutkan pesananku pda pelayan di sampingku, lalu pandanganku beralih pada Chaerin di depanku. “Kamu mau apa, Chaerin?”

Dia membolak balik halaman menu. Padahal biasanya dia langsung memesan espresso. Apakah dia sudah bosan dengan espresso?

“Vanilla-latte saja.”

Dahiku mengerut keheranan. Vanilla-latte? Itu kan kesukaan Jiyong? Ada apa lagi ini? Aku benar-benar bingung melihat Chaerin hari ini. Benar-benar tidak kumengerti.

Aku langsung memberondongnya dengan pertanyaan setelah pelayan meninggalkan kami berdua. “Vanilla-latte? Kenapa vanilla-latte? Ada apa lagi ini, Chaerin?”

Belum sempat Chaerin menjawab pertanyaanku, pelayan datang membawa pesanan kami. Begitu cangkir sudah ada di depan meja Chaerin, dia langsungmenyeruput vanilla-latte nya. Belum selesai dia meminum vanilla-latte nya, air matanya jatuh perlahan.

“Manis… beginikah rasa yang Jiyong oppa sukai?” Chaerin mengusap air matanya, dan menjawab pertanyaanku. “Aku hanya ingin mengingatnya dengan meminum kesukaannya, seperti yang dilakukan Jiyong pada ibunya.”

Aku benar-benar kaget mendengar kata-kata Chaerin, nafasku tercekat. “Yaa! Kalau begitu, kapan kamu bisa move on?!” tanyaku, nadaku meninggi.

Dia terkejut sejenak. Nada suaranya seolah ingin menahan air mata yang hampir keluar dari matanya. “Aku ingin move on, tapi aku juga tidak ingin meninggalkan oppa sendirian. Dia hanya bisa di satu tempat dan waktu yang sama. Dan kamu tahu, lama-lama orang-orang akan melupakannya. Aku tidak mau oppa ikut melupakannya, seolah dia tidak pernah ada di dunia ini, jadi aku akan terus berusaha mengingatnya.”

Mataku terbelalak, lalu menghela nafas panjang.

Ya Tuhan… aku sekarang benar-benar bingung menghadapi Chaerin. Haruskah aku melarangnya? Atau membiarkan pikirannya yang aneh ini?

Aku menatap gadis di depanku yang asik menyeruput minuman dan bermain dengan fantasinya. Aku menghela nafas sekali lagi. Kehilangan akal.

Sudahlah… biarkan saja. Tapi aku akan tetap mengawasinya.

Aku menyeruput espresso kental itu sekali lagi. Kemudian menaruhnhya di tempat minum di mobilku. aku menyalakan mobilku dan mulai menjalankannya menyusuri malam. Ini sudah larut. Dan aku baru saja lembur di kantor.

Chaerin, apakah kamu masih mencintai Jiyong? Apa yang sebenarnya harus aku lakukan, agar kamu bisa melihatku?

Aarrgghh… pikiranku mulai kacau. Aku memacu mobilku lebih cepat lagi mengarungi jalanan malam. Toh tidak ada yang menggunakan jalan.

Aku sudah mencintaimu sekian lama, tapi kenapa… kenapa kamu tidak pernah melihatku?! Baka!

Aku benar-benar frustasi memikirkan hal ini berulang kali setiap harinya. Sangat frustasi. Kebingungan memikirkan pertanyaan ini, tanpa pernah menemukan jawabannya.

Chaerin no baka! BAKA !!!

Aku semakin memacu mobilku kencang. Aku benar-benar ingin melepaskan rasa sakitku ini. 120 km/jam, dan aku masih merasa kurang kencang. Aku masih memikirkannya. Aku benar-benar tak mau memikirkannya. aku tidak mau memikirkan gadis itu, setidaknya sampai dia memberikan jawaban. Aku tak mau memikirkan peluangku. Karena aku tahu pasti, aku tak akan bisa menang. Tolol sekali aku mencoba mengatakan perasaanku, padahal aku sudah tahu jawabannya.

Sudah pasti TIDAK.

Aku menginjak gas lebih dalam lagi. Aku tak melihat speedometer, hanya melihat jalanan yang sepi. Aku memang melihat jalanan, tapi konsentrasiku masih berkutat dengan chaerin, dan perasaan bodoh ini.

Aku masih tak bisa berhenti memikirkannya, ketika… aku melihat seorang gadis mencoba untuk menyeberang.

Aku benar-benar terkaget ketika aku menyadari jaraknya hanya sepuluh meter, dan speedoku masih menunjukkan aku berjalan 140 km/jam.

Aku melihat gadis itu hanya terdiam di tengah jalan raya, tidak bergerak. Hanya memandangi mobilku yang terus mendekat.

Ya Tuhan, dia tidak bergerak ke arah manapun!

Aku benar-benar panik, jantungku langsung berdetak sangat cepat, aku bisa merasakan darahku yang berjalan naik menuju otakku. Tanpa pikir panjang aku langsung melepas gas, dan menginjak rem dalam-dalam. Kemudian membanting setirku ke arah kiri jalan. Aku tak tahu ada apa di bagian kiri, tapi yang terpenting aku harus menghindari gadis ini. Mobilku langsung berbelok kencang ke arah trotoar.

Bangunan yang belum selesai. Ya tuhan, di depanku ada bangunan. Ini gawat. Aku menginjak rem kuat-kuat, tapi tetap tak bisa menahan lajunya. Mobil ini terlalu kencang untuk berhenti pada waktunya. Mobilku terus saja berlari tanpa bisa kukendalikan.

CKIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT….!!!!! BRAAAAAKKKKKKKKK !!!!!!!!!!!!

***

Normal POV

Gadis itu benar-benar tak bisa bergerak ke arah manapun. Nafasnya tertahan wajahnya memutih, jantungnya berpacu sangat cepat. Dia terlalu shock melihat sebuah mobil sport melaju kencang ke arahnya dalam jarak yang begitu dekat. Padahal dia pikir, jalanan itu sangat sepi. Dia bahkan hanya bisa melihat ketika akhirnya mobil itu berbelok tiba-tiba hingga haluannya berubah hampir 90 derajat.

CKIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT….!!!!! BRAAAAAKKKKKKKKK !!!!!!!!!!!!

Mobil itu tidak menabraknya, tetapi menabrak bangunan yang masih dalam pembangunan. Gadis itu langsung terduduk lemas. Seolah tenaganya langsung hilang, menguap entah kemana. Nafasnya terengah, hingga dia bisa mendengarnya.

Sesaat kemudian, dia terkejut dan menyadari. Bagaimana orang di dalamnya?! Dia berlari tergesa menuju mobil itu. Jantungnya kembali berdetum sangat kencang, hingga dia bisa merasakan aliran darah yang mengalir ke seluruh tubuhnya, nafasnya tercekat.

Semoga siapapun yang ada di dalam sana, dia baik-baik saja. Aku mohon, Tuhan…

Dia menengok mobil yang benar-benar rusak parah di bagian depannya itu. Kaca depan benar-benar pecah. Dia membuka pelan pintu mobil yang juga sudah peyok. Untunglah tidak dikunci.

Matanya seketika terbelalak. Refleks dia menutup mulutnya yang menganga, kaget. Wajahnya memutih.

Lelaki, tidak sadarkan diri. Penuh darah di mana-mana. Kepalanya berdarah sangat deras, sepertinya membentur kaca depan. Dada dan perutnya membentur setir mobil. Dia tidak mengenakan sabuk pengaman. Dan gadis itu masih melihat banyak lagi darah yang keluar dari tempat lain, namun dia tak mampu melihatnya lagi.

Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar. Dia langsung mengambil handphonenya, dan menelepon panggilan darurat.

Ambulans, cepatlah datang..

Dia mencoba mendorong lelaki itu menjauh dari setirnya. Dia merogoh saku kemeja lelaki itu.

Aku harus menelepon siapapun yang mengenalnya.

Gadis itu memencet beberapa tombol, dan menemukan nama seseorang di tombol speeddial. Lee Chaerin. Dia mencoba menelepon menggunakan handphone lelaki itu. “Yoboseyo?”

***

Chaerin POV

Aku mengusap air mataku yang sedari tadi kubiarkan jatuh mengingat Jiyong oppa. aku tidak boleh begini terus. Kamu harus kuat, Chaerin! Harus!

Aku beranjak dari sofaku dan kembali ke meja kerja di kamarku.

Oke chaerin, konsentrasi. Fokus!!

Aku kembali menghadap LCD computer di depanku. Tugasku benar-benar menumpuk.

Please don’t go..~~

Refleks aku menghentikan kerjaku dan merogoh tasku. Aku langsung mengangkat handphone sebelum nada deringnya berbunyi kelewat nyaring dan melihat siapa yang menelepon : Choi Seunghyun.

Ada apa dengannya? Tidak biasanya larut malam seperti ini dia menelepon.

“Yoboseyo?”

Yoboseyo. Apa benar ini dengan Lee Chaerin?”

Aku terdiam sejenak, mengerutkan kening heran. Suara perempuan? Aku kembali melihat layar handphone. Benar kok, dari Seunghyun oppa. Tapi kok suaranya perempuan? Siapa dia?

“Iya, saya Lee Chaerin.”

Saya Park Boom. Baru saja lelaki yang mempunyai handphone ini mengalami kecelakaan, dan sekarang dia berada di ambulans dalam perjalanan ke rumah sakit.” Hatiku mencelos, nafasku tercekat. Aku syok seketika, jatuh terduduk di kursi kerjaku. Dia melanjutkan, “Saya berusaha mencari siapa yang bisa dihubungi, mungkin keluarganya. Dan di speed dial ada nama anda, jadi saya menelepon anda. Apakah anda keluarganya? Apa anda bisa ke rumah sakit sekarang?”

Jantungku berdetum seketika. Nafasku tercekat, rasanya aku tak bisa lagi bernafas.

Seunghyun oppa kecelakaan? Rumah sakit? Ya Tuhan! Apalagi ini??!

Aku berusaha sangat keras mencerna apa yang dia katakana, dan mencoba fokus, bagaimanapun ada seseorang di sana menunggu jawabanku. “I… iya, saya dongsaeng-nya. Saya akan ke rumah sakit sekarang. Di rumah sakit mana?”

Aku mencatat detail alamat yang wanita di seberang telepon itu katakan. “Baiklah, saya akan segera kesana.”

Aku benar-benar panik. Aku bergegas mengambil jaket dan tasku. Aku berlari menyusuri tangga apartemen dengan tergesa. Pikiranku hanyalah satu, aku harus segera sampai rumah sakit secepatnya!

Aku memanggil taksi dan menunjukkan alamat rumah sakit padanya.

Di perjalanan aku benar-benar tak bisa tenang. Aku menundukkan kepalaku, memejamkan mataku seerat-eratnya dan meremas tanganku. Aku mencoba berdoa dan bertanya kepada Tuhan.

Ya Tuhan, apalagi ini? Kenapa Kau selalu berusaha mengambil orang-orang yang aku sayangi? Setelah Jiyong oppa, sekarang Seunghyun oppa? Aku mohon Tuhan, jangan ambil Seunghyun oppa dariku. Aku benar-benar tak mau kehilangan lagi.

Aku kembali teringat setiap detail kejadian yang menimpa Jiyong 3 tahun yang lalu. Semua terekam seperti foto. Bagaimana dia tertabrak, bagaimana aku tidak bisa menyelamatkannya, bagaimana ambulans itu terlambat datang, dan ketika aku menyadari Jiyong oppa sudah meninggalkan dunia ini.

Air mataku tiba-tiba meleleh dan jatuh ke tanganku.

Jangan sampai seunghyun oppa mengalami hal yang sama dengannya. Aku benar-benar tak ingin mengalami kejadian ini sekali lagi. Ya Tuhan, jangan ambil dia…

Aku menoleh ke arah jendela. Rasanya perjalanan ke rumah sakit menjadi sangat lama. Aku benar-benar tak bisa bersabar di dalam ketidakpastian ini.

Air mataku mengalir deras, sekuat apapun aku menahannya. Aku mencoba mengusapnya, tapi air mataku tak bisa berhenti. Aku tak bisa tenang. Hatiku benar-benar diselimuti rasa kekhawatirann yang sangat besar.

Tuhan, selamatkan Seunghyun oppa…

___________________________________________________________________________

to be continued..

entahlah, sebenarnya aku merasa post kali ini jauh dari sempurna *menurut versiku* . aku takut, nggak bisa memberikan apa yang sudah diekspektasikan oleh readersku ke aku. hha.. *curcol*

ya sudahlah, miahaeyo, gomenasai, maaaappp.. kalo jelek.

keep coment me yaa, dan tunggu part 7 . hhoo..

Iklan