Yeyeeiii.. aku nganggur *nggak mau ngliat buku yang numpuk di meja*

sebenernya mau ngrelease besok, dan aku kok gatel pengen me-release ini lebih cepat ! 😀
hhooo…

aiihh, nyampek juga di part terakhir. 🙂
leganyaaa… *ngusep keringet*

semogaa readers pada puas liat episod terakhir iniii…

humm.. happy wednesday all! 😀

——————————————————————————————————-

Aku sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan. Aku tak mau mengalaminya lagi. Tidak dengan Seunghyun oppa. Dia terlalu berharga…

***

Chaerin POV

Aku berlari tergesa di dalam gedung rumah sakit. Bahkan setelah aku bertanya dengan resepsionis tidak profesional, yang menjawab dengan tidak memuaskan, karena dia hanya berkata ‘Bila pasien baru masuk, mungkin dia masih di UGD’, kakiku masih berlari seolah tanpa arah.

Aku berhenti sejenak, nafasku tersengal. Salah satu tanganku memegang lututku, sementara tanganku yang lain memegang perutku.

Ruang UGD. Di bagian mana di rumah sakit ini yang bernama UGD?!

Aku memegangi kepalaku, frustasi, takut. Potongan-potongan kejadian tiga tahun lalu mengikutiku dan memaksaku untuk memutarnya. Aku menggigit bibir bawahku keras. Air mataku meleleh.

Jangan! Jangan sampai hal yang sama terjadi lagi! Aku mohon… Aku sudah pernah kehilangan, dan aku tidak mau kehilangan lagi. Tidak dengan Seunghyun oppa!

Aku melanjutkan pencarianku, hingga aku berhenti di depan salah satu pintu gedung. Unit Gawat Darurat. Oke, akhirnya aku menemukan gedung ini. Tapi, sekarang dimana oppa?!! Aku berlari seperti kesetanan ke dalam. Dimana Seunghyun oppa? Mataku berkeliling mengitari seluruh sudut gedung. Banyak kamar. Dan aku tidak tahu di mana Seunghyun oppa berada.

Damn!

Aku benar-benar frustasi sekarang. Tiba-tiba seorang wanita cantik sekitat 25 tahun mendatangiku. “Lee Chaerin?”

Aku menoleh ke arahnya, kebingungan. “Iya?”

“Saya Park Boom. Saya yang meneleponmu barusan.”

Oohh.. wanita ini rupanya yang menghubungiku.

Aku menghela nafas lega. Setidaknya sekarang aku tahu dimana Seunghyun oppa berada.

“Dimana dia sekarang?’

“Masih di dalam, ditangani dokter. Mari saya antar.” Dia mengulurkan tangannya menunjukkan ruangan dimana Seunghyun berada.

Aku berjalan mengikutinya. Sepanjang jalan, aku mengepalkan tanganku dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan Seunghyun oppa. aku benar-benar tak mau kehilangan Seunghyun oppa!

Park Boom menceritakanku kejadian yang sebenarnya. Aku hanya bisa menganga mendengarnya. Aneh sekali, Seunghyun oppa bukan orang yang suka ngebut, tapi kenapa dia mengebut hingga hampir menabrak wanita ini? Apa yang dipikirkannya.

Lalu bagaimana keadaannya? Katanya, keadaan Seunghyun oppa lumayan parah ketika dia melihatnya. Ini benar-benar membuatku khawatir. Rasanya seperti sebilah pisau ditancapkan langsung ke dadaku ketika dia bercerita banyak luka yang dialami oppa di dalam mobil itu. Aku menggigit bibir bawahku keras, menahan air mata yang hampir jatuh dari mataku. Tanganku gemetar, jantungku benar-benar tak bisa berkontraksi normal sekarang. aku bisa gila memikirkan keadaannya jika dokter tidak segera keluar dari ruangan itu dan memberitahuku keadaan oppa.

Ya Tuhan, aku mohon, apapun keadaannya. Kembalikan dia padaku…

Setelah itu, dia langsung memberiku handphone Seunghyun oppa dan pamit pulang, karena ini sudah terlalu larut malam.

Aku memilih menunggu dan duduk di depan ruang UGD tempat Seunghyun oppa ditangani. Di saat seperti ini, aku benar-benar tak bisa tenang. Sesaat aku berdiri, mondar-mandir di depan pintu ruangan, berharap dokter segera keluar. Sesaat kemudian, aku melongok di kaca kecil di pintu yang buram, berharap bisa melihat bagaimana keadaan Seunghyun oppa, namun tidak terlihat. Akhirnya aku duduk diam, terus menunggu.

Ya Tuhan, selamatkan dia…

Tiba-tiba, pintu terbuka dan dokter keluar dari ruangan. Kontan aku yang duduk menunggu langsung berlari mendekatinya. “Bagaimana keadaannya dok?!”

“Anda keluarganya?”

Keluarga? Keluarga Seunghyun oppa bukannya sedang di Jepang? Aduh, bagaimana ini…

“Iya dok, saya dongsaeng-nya!” Kataku cepat. Aku tak tahu lagi harus bicara apa. Rasanya aku tak mungkin menjelaskan panjang lebar kalau orang tua Seunghyun dimana, dan mereka akan kembali kapan. Merepotkan sekali. Masa bodoh! Lagipula tidak mungkin aku menelepon keluarganya sekarang, aku kan tidak tahu nomor mereka.

“Pasien mengalami beberapa luka di bagian tubuhnya, mengalami pendarahan di dalam tubuhnya, di area dada sampai kulit, tapi kami bisa mengatasinya. Selain itu, ada benturan keras di kepalanya, kemungkinan besar akan membuatnya gegar otak sedang. Semua pendarahan itu menyebabkan dia harus kehilangan banyak darah, namun sekarang kami sedang memberikan transfusi untuk mengembalikan darahnya yang hilang.”

“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?” buruku.

“Dia masih belum sadar, tapi dalam keadaan yang stabil. Tunggu saja sampai dia sadar.”

Aku menghela nafas lega. Kekhawatiranku menguap begitu saja. “Jadi dia baik-baik saja dok?”

“Saat ini, iya. Kami terus mengontrol perkembangannya, karena ada kemungkinan kondisinya akan jatuh dalam keadaan koma. Setelah ini pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Sebaiknya anda segera mengurus administrasinya, sehingga pasien bisa segera dipindahkan.” Katanya sambil tersenyum, kemudian meninggalkan aku.

Sepeninggalnya, aku langsung jatuh terduduk lemas. Lega. Ternyata dia selamat.

Terima kasih Tuhan…

***

Aku membuka pintu kamar dengan hati-hati, dan melongok ke dalam.“Oppa?”

Seunghyun oppa masih belum sadarkan diri. Aku melihat sekujur tubuhnya. Berbagai balutan perban terbalut rapi di beberapa bagian tubuhnya. Kepala, dada, perut, tangan, kaki.

Sebegitu parah kah sakitmu oppa?

Aku duduk di kursi tepat di samping tempat tidur oppa. Memandangi wajahnya yang masih belum sadar. Ini sudah empat hari, dan dia belum sadar. Semoga saja ini bukan pertanda yang buruk. Misalnya dia jatuh ke dalam keadaan koma, atau apapun yang membahayakannya. Atau jangan-jangan di dalam tidurnya dia sudah mati?

Aku langsung berinding memikirkannya. Aku benar-benar khawatir terhadapnya.

Aku beralih memandang langit yang siang itu tidak hujan. Sayang sekali. Aku tidak bisa melihat hujan kesayanganku.

Hoaaaahhmm…

Sekarang aku mengantuk. Berada dalam ruangan yang sepi seperti ini memang selalu membawa kantuk. Apalagi bila ruangan kelas I yang bisa dipastikan aku benar-benar sendirian.

Oppa, aku tidur sebentar ya…

Dalam keadaan duduk, aku melipat tanganku di atas kasur, kemudian meletakkan kepalaku menghadap kepala Seunghyun oppa di atas tanganku.

Oppa, cepatlah sadar…

***

Normal POV

Putih. Hanya itu yang dilihatnya ketika Seunghyun membuka mata. Setelah mengerjapkan mata beberapa kali, barulah ia sadar yang dilihatnya adalah langit-langit kamar. Kelopak matanya masih agak berat, pandangannya kabur, kepalanya pusing. Di mana dia? Rumah sakit? Apa yang…?

Ah, ia ingat. Kecelakaan itu…

Seunghyun menggerakkan kepala ke samping tempat tidurnya. Chaerin?

Chaerin duduk dan tertidur di samping tempat tidur Seunghyun. Wajahnya menghadap kepala Seunghyun, seolah sebelumnya dia mengamati dan menunggu kesadaran Seunghyun kembali. Matanya sembab. Gurat wajahnya terlihat tegang dan lelah sekali.

Apakah aku tertidur begitu lama?

Seunghyun tidak tega membangunkannya. Dia memutuskan pada dirinya sendiri untuk diam dan melihat wajah Chaerin sebentar saja. Hanya sebentar. Namun kenapa waktu begitu cepat berlalu, walaupun dia tidak melakukan apapun, kecuali memandangi wajah Chaerin yang sedang tidur?

Tangan seunghyun bergerak perlahan, dan membelai rambut lurus Chaerin dengan lembut. Sangat pelan. Seolah setiap gerakan yang dia lakukan bisa berdampak besar bagi dunia ini. Namun, memang berdampak. Setidaknya bagi Seunghyun. Chaerin terbangun.

Chaerin membuka matanya perlahan. Merasakan sesuatu memberatkan kepalanya, dia mengangkat kepalanya perlahan. Betapa kagetnya dia melihat tangan Seunghyun yang menyentuh kepalanya.

Mata Chaerin terbelalak, tidak percaya apa yang dilihatnya. Seunghyun yang masih belum sadar empat hari ini sudah membuka matanya. “Oppa?! Oppa sudah sadar?!”

Seunghyun hanya tersenyum.

Chaerin langsung berdiri dan memeluk Seunghyun antusias. “Syukurlaaahh!! Aku benar-benar takut oppa tidak sadar, lalu meninggalkanku. Syukurlah, oppa!”

Rasa khawatir, takut, sedih menghilang berganti lega dan kebahagiaan. Air matanya tiba-tiba meleleh, seiring rasa lega yang datang. Seunghyun telah kembali! Dia memeluk Seunghyun lebih erat saking senangnya.

Seunghyun kontan kaget begitu Chaerin melompat ke arahnya dan memeluknya. Begitu khawatirkah dia? Sehingga dia langsung memeluk seorang Seunghyun. Namun ketika Chaerin mempererat pelukannya, rasa senang Seunghyun mulai berganti khawatir. Erat sekali! Bisa-bisa aku mati karena pelukan Chaerin.

Seunghyun menepuk punggung Chaerin. “Chae.. rin? Se..sak…”

Chaerin langsung tersadar. Pelukannya pasti terlalu erat. Refleks dia melepaskan pelukannya, kemudian menyeka air matanya yang jatuh. “Mianhae, oppa… Aku terlalu senang oppa masih hidup.”

“Mianhae, aku membuatmu khawatir.”

Chaerin hanya tersenyum senang.

Ya Tuhan, terima kasih, Engkau tidak mengambilnya. Karena aku tidak tahu, apa aku bisa hidup tanpa dia di sampingku. Terima kasih, Tuhan…

***

Chaerin akhirnya pulang ke apartemennya. Sebenarnya dia menolak pulang dan ingin menemani Seunghyun di rumah sakit. Namun perawat memberi tahu oppa-nya itu bila dia hanya baru pulang ketika jam besuk benar-benar habis. Aku memang mengambil cuti seminggu dari kantor, karena aku ingin mengurusi oppa.

Mulanya dia ingin langsung beranjak tidur setelah mandi dan mengganti bajunya dengan piyama. Tapi dia teringat kata-kata Seunghyun waktu itu.

Bisakah kamu melupakan Jiyong… dan benar-benar melihatku?”

Dia mencoba meng-flashback segala sesuatu tentang kenangannya bersama Seunghyun. Perkenalannya ketika dia berdiri tanpa payung di bawah hujan ketika SMA, kedekatannya ketika kuliah, keberadaannya tanpa henti ketika dia sedang benar-benar terpuruk sepeninggal Jiyong, ketika Seunghyun menemaninya, menjaganya, mendukungnya. Menjemputnya ketika dia kuliah hingga malam, mendengarkan setiap protesnya, menuruti setiap kemauannya egoisnya, melindunginya dari apapun. Serta, kecelakaan yang baru saja menimpa Seunghyun, yang membuatnya sadar… Seunghyun begitu berarti untuknya.

Chaerin menggigit bibir bawahnya, menyadari kebodohannya.

Bagaimana bisa dia begitu buta selama ini? Bagaimana bisa dia tidak melihat seluruh kebaikan dan cinta Seunghyun kepadanya selama ini? Bagaimana bisa dia begitu bodoh untuk menyadari hal yang sesimpel ini?

Babo! Babo! Chaerin no baka!

Sepertinya waktu dan perhatiannya terlalu tercurah untuk berusaha memikirkan dirinya sendiri, menguatkan diri, sambil sesekali ‘menjenguk’ Jiyong di masa lalu. Dia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, hingga dia tidak bisa melihat sesuatu yang seharusnya begitu mudah dilihat.

Sepertinya aku benar-benar harus menutup lembaran yang dulu.

Chaerin membuka laci meja kecil di samping tempat tidurku, dan mencoba mengeluarkan kotak hitam yang tertumpuk di atas buku-buku lain. Dia masih hafal betul di mana tempatnya, sekeras apapun dia mencoba menguburnya.

Beberapa saat kemudian, dia berhasil mengeluarkannya. dia membuka kotak hitam itu, dan mengeluarkan isinya. Buku kecil bersampul merah.

Buku Jiyong. Seunghyun memberikannya beberapa hari setelah kematian Jiyong oppa. tepatnya setelah dia mencoba membunuh dirinya sendiri.

Dia mulai membuka lembaran pertama, air matanya jatuh. lembaran kedua, ketiga dan seterusnya. air matanya mengalir deras.

Jiyong oppa, aku kangen…

Tangannya berhenti di lembaran terakhir.

Berbahagialah,

Dengan atau tanpaku di sampingmu…

Berbahagialah,

Karena senyummulah yang terindah bagiku…

Chaerin memandangi kata-kata itu lamat-lamat. Membacanya perlahan, berulang kali.

Jiyong oppa, bolehkah aku mengambil kebahagiaanku? Bolehkah aku berbahagia, dan meninggalkanmu di tempat ini?

Chaerin menutup bukunya, dan memandangi jendela besar di kamarnya. Memikirkan banyak hal, termasuk dia, Seunghyun, dan kebahagiaannya.

***

Seunghyun sedang menghirup udara sore di taman rumah sakit. Berada di kamar benar-benar membuatnya jenuh. Dia menarik kursi rodanya ke dekat salah satu bangku taman. Sebenarnya dia ingin berjalan. Namun dokter tidak memperbolehkannya, takut luka Seunghyun yang membentang dari dada hingga perut terbuka lagi. Daripada dia harus tinggal lebih lama di rumah sakit karena risiko itu, lebih baik dia bersabar menggunakan kursi roda, walaupun sebenarnya tidak nyaman.

“Oppa?”

Seunghyun menoleh ke arah suara. tepat di belakangnya Chaerin membawa dua gelas air. Chaerin melangkah ke arahnya, meletakkan dua gelasnya di salah satu sisi bangku, dan membantu Seunghyun untuk pindah ke bangku taman. Karena cukup sulit untuk berdiri, mengingat lukanya yang ada di dada dan perut.

Setelahnya, Chaerin menyerahkan salah satu gelas kepada Seunghyun. “Oppa, ini cappuchino-latte kesukaanmu. Karena suster tidak melarangmu meminum ini, jadi aku membelikannya untukmu. Dozo.”

Seunghyun menerima gelasnya. “Arigatou.” Seunghyun tersenyum. Rindunya dia mempraktikkan bahasa Jepang dengan Chaerin.

Chaerin duduk di bangku taman, di sebelah Seunghyun. Perlahan dia menyeruput minumannya. Seunghyun hanya mengamati gadis di sebelahnya. Vanilla-latte. Masih minuman yang sama. Seunghyun benar-benar kehabisan akal, frustasi. Gadis itu masih mencintai Jiyong. Apa yang harus dilakukannya? Apa yang harus dilakukannya??!

Apa yang harus kulakukan supaya kamu bisa melihatku?

“Apa?” Chaerin menoleh ke arah Seunghyun. Saat itulah dia menyadari, dia telah mengatakan apa yang dipikirkannya.

Seunghyun tidak langsung menjawab. Dia hanya memandang Chaerin dengan ekspresi bingung. Setelah beberapa saat, dia menghela nafas panjang dan menatap Chaerin. “Apa yang harus kulakukan agar kamu bisa melihatku?”

Untuk beberapa saat, Chaerin tidak bisa mengatakan apapun. Dia hanya menatap Seunghyu dengan tatapan tidak percaya. Nafasnya tertahan dan dadanya mulai berdebar keras.

“Sebenarnya aku sudah pernah bertanya padamu,” lanjut Seunghyun dan tersenyum kecil. “dan kamu belum menjawabku.”

Aku ingat, aku belum menjawabmu…

“Aku tahu, saat itu bukan saat yang tepat.” Seunghyun berhenti sejenak, menarik nafas, dan melihat sekeliling taman. “Mungkin sekarang juga bukan waktu yang tepat. Tapi aku merasa aku harus mengatakannya padamu.”

Chaerin masih belum percaya apa yang didengarnya. Ia masih belum bisa bernafas dengan normal karena terlalu takjub. Dia menarik nafas untuk menunggu apa yang dikatakan Seunghyun selanjutnya. Mata Seunghyun yang gelap menatap matanya lurus, seolah dia bisa melihat dirinya terpantul dari mata itu.

Seunghyun menarik nafas, kemudian dia berkata dengan mantap. “Aishiteru, Lee Chaerin.”

Rasanya dunia Chaerin berhenti tepat pada saat itu. Tidak ada suara yang tersisa selain gema dari kata-kata Seunghyun tadi. Dia mengatakannya dengan bahasa jepang. Kata-kata yang artinya sama dengan “Sarangheyo”. Kata-kata yang dia ingin ada seseorang mengatakan padanya dalam bahasa itu, semenjak dia mempelajari Bahasa Jepang. Dan yang mengucapkannya adalah Seunghyun.

“Chaerin, apa yang harus kulakukan agar kamu bisa melihatku, menerimaku?”

Tidak ada. Itu tidak perlu, oppa…

Seunghyun melanjutkan, “Atau setidaknya memberiku kesempatan untuk membuktikan? Aku benar-benar mencintaimu, Chaerin…”

Jiyong oppa, aku akan mengambil kebahagiaanku, seutuhnya…

“Kamu tidak perlu melakukan apa-apa.”

“Apa?”

“Kamu tidak perlu melakukan apa-apa, Seunghyun oppa.” Chaerin menahan nafas dan debar jantungnya. “Karena aku memang sudah melihatmu.”

Alis Seunghyun terangkat. Ketegangan yang dirasakannya sejak tadi langsung menghilang. “Apa? Benarkah?”

Chaerin berdeham, agak salah tingkah, lalu balik bertanya, “Apakah aku harus menarik ucapanku kembali, oppa?”

“Jangan!” Seunghyun menyahut cepat. Wajahnya berubah cerah, senyumnya tersungging lebar. Ia menghembuskan nafas lega. “Chaerin…”

Seunghyun berusaha mendekat pada Chaerin. Perlahan, karena sakit di perutnya selalu datang ketika dia mencoba bergerak. Belum selesai dia melakukannya, Chaerin menggeser duduknya mendekati Seunghyun. Dia mengulurkan kedua tangannya dan melingkarkannya di bawah tangan Seunghyun. Seunghyun terkejut dengan pelukan tiba-tiba Chaerin. Dia tidak pernah menyangka Chaerin akan memeluknya lebih dulu. Namun tak lama, dia membalas pelukan Chaerin. Dia melingkarkan tangannya ke punggung Chaerin.

“Gomenasai, pelukan pertama kita tidak romantis.” Seunghyun berbisik.

Di balik pelukan Seunghyun, Chaerin tertawa kecil. “Haha… Setelah oppa sembuh, kita akan melakukan banyak pelukan yang jauh lebih romantis.”

Seunghyun tersenyum, dan mempererat pelukannya.

Chaerin melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Seunghyun pelan. “Oppa?”

“Humm?”

“Kenapa kamu mengatakannya dalam bahasa Jepang?”

“Karena aku ingin berbeda. Aku tidak mau sama seperti orang lain yang menyatakan cinta padamu dengan ‘Sarangheyo’. Aku ingin melakukannya dengan spesial. Dengan cara yang paling kamu inginkan. Aku tahu apa yang kamu inginkan, Lee Chaerin.”

Sarangheyo, Seunghyun oppa.

Seunghyun mendekatkan wajahnya ke arah Chaerin. Kedua tangannya menyentuh pipi Chaerin lembut, dan sedikit menundukkan kepala Chaerin. Dia mengecup kening Chaerin lembut, kemudian memeluknya.

Chaerin membalas pelukannya, dan menyandarkan kepalanya di leher Seunghyun. Di balik pelukannya, Chaerin tersenyum bahagia. “Aishiteru wa, Seunghyun oppa. honto ni anata o aishite. ”

Terima kasih Tuhan, memberiku kesempatan untuk berbahagia…

—————————————————————————————————————–

fin-

bagaimana bagaimana? cucokkah dengan keinginan kalian? hhii..

aku pribadi sih lega, karena part sebelumnya selalu dapat apresiasi yang okee dari pembaca. ini jadi pemicu untuk aku biar bisa bikin FF yg lebih shockin soda. hhoo..

berasa kurang banyak part nya??
tenang, aku masih ada satu SP lagi alias after story , karena ada satu kejutan kecil yang belum terbongkar. ihihiyy..

TUNGGU SAJAAA !! hohohooo 😀

keep comment and support me  for my better future. ^^

Keterangan:

honto ni anata o aishite : benar-benar mencintaimu.

kata ‘aishiteru’ ini sangat sakral di Jepang, dan biasanya hanya digunakan ketika kamu melamar seseorang untuk kamu nikahi. jadi, bisa bayangin kan betapa bahagianya Chaerin ketika Seunghyun mengatakan itu?

aku aja juga mauuu…