Annyeongg !! 😀

akhirnya kita sampai  di penghujung cerita. I mean, ini benar2 akhir dari rangkaian cerita “My Another Side” 😀 *terharubiru*

sebenernya, cerita ini mayan nggak penting, hho.. kalo semisal kalian liat komik, ini tuh di bagian ekstra yang cuma beberapa halaman. tapi aku tetep pengen nyajiin serita ini. soalnya ada kejutan kecil yang akan diterima Chaerin dari Seunghyun.

humm… apakaahh itu?? let see.. 😀

setelah ini, aku memutuskan untuk berhiatus dari dunia per-nge-blog-an dan bertapa di gunung arjuno *nyari yang deket kampus*. ga lama kok, palingan cuman sebulan. ^^

kenapa eh kenapa? soalnya 2 minggu lagi aku sudah mid-exam untuk semester 4 ini.

*eeerrgghh…*

dan ‘the bloody’  neurologi ini, benar2 bikin aku berdarah2. smuanya berdarah. dari yang otak berdarah, ngapalin slide setebel harry potter 4, nangis darah, liatin gambar otak yang njelimet, sampek rasanya hati berdarah2 aja mbayanginnya. hhuu.. *curcol*

yaa… mungkin kalo masih gatel nulis, aku cuman release one shoot, ato part yang singkat2. 🙂

hueheeehhee.. *tetep*

ya sudd, langsung saja ke cerita. happy friday all! this is weekend! 😀

______________________________________________________________________________

All of my life I’ve been searchin for that one

And now that you’ve come to me I don’t have to run

Chasin’ all the girls while I’m hangin’ with my crew

Now it’s all about just me and my boo

Everyday ‘n everynight it just goes on

That’s how much love I have for you girl I’m so sprung

Baby this was meant to be, it’s such a blessin’

Cuz we will be together, forever

Bein’ inside of you is so heaven in my heart

The way you say my name I know you feel the same girl you are my one

And the only one

That’s why you’re my baby

And this is what I have to say…

Kwon Jiyong (Page 15)

***

Normal POV

Chaerin duduk, menelungkupkan tangannya dan menunduk seraya menutup matanya di depan makam.

“Jiyong oppa, jangan khawatir tentangku lagi. Seunghyun oppa selalu disampingku. Dia selalu menjagaku dan akan selalu menjagaku. Seperti yang oppa lakukan.”

Dia terus berbicara, seolah makam itu akan menjawab setiap kata-katanya. Setetes air mata akhirnya jatuh ke pipinya. “Oppa, aku bahagia…”

Seorang lelaki membawa sebuah buket bunga berjalan dari kejauhan, berhenti sesaat melihat Chaerin. Tidak mendekat sedikit pun, seolah takut mengganggu doa Chaerin.

Sesaat kemudian, Chaerin membuka matanya dan menoleh ke arah lelaki itu. “Seunghyun oppa?”

Seunghyun tersenyum, kemudian melangkah mendekati Chaerin. “Aku tak mau mengganggumu. Kamu terlihat… berkonsentrasi.”

Chaerin tersenyum. “Aku sudah selesai.” Dia berdiri dan berjalan mundur. “Giliran oppa yang berbicara pada Jiyong oppa. Pasti kamu belum mengatakan apapun padanya.”

Seunghyun hanya membalas senyuman Chaerin, kemudian langsung duduk di depan makam dan meletakkan buket bunga yang dibawanya. “Jiyong, aku telah berjanji padamu, untuk selalu menjaganya. Aku akan terus menjaganya. Aku tidak akan melepaskannya, tidak sedetik pun.” Lelaki itu menarik nafas sejenak, dan melanjutkan. “Aku mencintainya. Dengan seluruh hidupku, aku mencintainya.”

Tanpa disadari Seunghyun, air mata Chaerin di belakangnya telah menetes. Hatinya luruh, terharu dengan kata-kata Seunghyun.

“Izinkan aku memilikinya, Jiyong.”

***

Seunghyun berdiri, dan merasakan tetesan air yang jatuh, dan menengadah ke atas, “Hujan…”

“Aku bawa payung kok.” Chaerin merogoh isi tasnya dan mengeluarkan sebuah payung lipat dari dalamnya. Dia membuka payungnya dan mengarahkannya ke atas kepala Seunghyun.

“Memangnya mana mobilmu, oppa?”

“Di bengkel. Sebenarnya hari ini aku ingin jalan saja bersamamu.” Dia menatap lembut Chaerin. “Lagipula Bonheur juga tidak jauh dari sini.”

Chaerin tersenyum.

Seunghyun mengambil gagang payung dari tangan Chaerin, dan mengarahkannya di antara mereka berdua. “Ayo, kita pergi.”

Sesaat ketika mereka telah berjalan menjauh, Chaerin melirik sejenak ke arah nisan Jiyong.

Oppa, aku pergi dulu.

***

“Chaerin, menurutmu, kapan pertama kali kamu mengenalku?” Seunghyun memecah keheningan di sepanjang jalan menuju café.

Chaerin berpikir sejenak, matanya melirik ke atas. “Humm… waktu SMA kan? Waktu oppa melihatku sedang hujan-hujan di depan gedung sekolah dengan seragam.”

Seunghyun menatap Chaerin. “Kamu tahu, aku mengenalmu jauh, sangat jauh lebih lama dari waktu itu.”

“Hah?” Chaerin mengerutkan dahinya keheranan. Mana mungkin dia salah, dia kan baru mengenal namja-nya itu waktu dia duduk di bangku pertama SMA.

Seunghyun membalas kebingungan Chaerin dengan seulas senyum tipis. “Mungkin kamu tidak ingat, Chaerin, tapi aku mengenalmu sejak SD.”

“Mwoaa??” Chaerin makin heran. Mana mungkin??

Seunghyun, Kelas 6 SD.

Hujan yang terlampau deras menyiutkan nyali Seunghyun untuk pulang. Dia telah menunggu selama dua jam. Dia memandang jam dinding di ruang kelasnya.

Jam 3 ??! wah, ini gawat, bisa-bisa aku tidak menonton kartun!

Seunghyun segera mengambil tasnya, dan beranjak keluar kelas. Dia berlari menuju loker kecilnya, mengambil sepatu dan payungnya. Sekilas dia melirik hujan di luar gedung. Masih deras. Tapi apa boleh buat, dia harus memberanikan diri atau dia tidak bisa menonton kartun kesayangannya.

Seunghyun membuka payungnya dan berjalan ke luar gedung sekolah, ketika dia melihat seorang gadis kecil berdiri di halaman sekolah tanpa payung. Membiarkan dirinya dibasahi oleh air hujan yang turun tanpa henti membasahi dirinya. Gadis itu tersenyum, bahkan tertawa merasakan setiap tetesan air yang menerpa wajah dan tubuhnya. Sesekali dia berputar, seolah ingin menari di bawah hujan.

Anak aneh. Apa yang dia lakukan? Hujan-hujan? Aneh sekali? Hujan ini kan terlalu deras untuk dibuat hujan-hujan…

Seunghyun termakan oleh rasa penasarannya, berjalan menghampiri gadis itu. Bahkan ketika seunghyun sudah di sebelahnya, gadis itu masih menengadah ke atas. Seunghyun bertanya polos, “Apa yang kamu lakukan?”

Gadis itu menoleh ke asal suara. “Kamu tidak melihat? Aku sedang berdiri.”

“Nee, Aku tahu. Maksudku kamu sedang apa berdiri dalam keadaan hujan seperti ini? Ini kan terlalu deras. Nanti kamu sakit.”

Gadis itu tersenyum senang. Senyumannya sangat manis. Seketika Seunghyun bisa merasakan debaran jantungnya yang lebih cepat dari biasanya.

“aku suka melihat hujan dari balik jendela, melihat lalu lalang orang yang berlari menghindari hujan. aku suka berjalan di bawah hujan. aku suka menari di bawahnya, seolah tempat itu hanya milikku sendiri..”

Seunghyun terperangah mendengar jawaban yang tidak terduga itu. Dia pikir gadis itu hanya akan bilang dia memang ingin hujan-hujan. Tak ada alasan lain. Ternyata alasannya lebih rumit, bahkan sulit dimengerti untuk anak seumuran Seunghyun saat itu.

“Kamu kelas berapa?” Seunghyun mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Empat.”

Ternyata dua tahun di bawahku…

Tepat pada saat itu, segerombolan anak perempuan melambai-lambai ke arah Seunghyun dan gadis itu. “Chaerin!”

Gadis itu menoleh dan membalas melambaikan tangannya. Kemudian dia berlari menuju teman-temannya meninggalkan Seunghyun tanpa mengatakan apa-apa.

“Lee Chaerin! Ternyata kamu disini. Kami sudah mencarimu ke mana-mana. Ayo pulang.” Teman-temannya mengomel sebentar lalu mereka berlari meninggalkan sekolah.

Seunghyun terdiam. Bahkan sepeninggal anak itu, dia masih terpana memandangi tempat yang ditinggalkan Chaerin. hatinya terus mengulang nama yang baru dia dengar itu.

Lee Chaerin…

“Waktu itu, aku menyadari. Aku… sudah jatuh cinta padamu.” Seunghyun menghela nafas. “Setelah itu, aku mencarimu, tapi kamu tidak pernah ada. Kata temanmu kamu sudah pindah sekolah.”

Nafas Chaerin tercekat, seolah udara di sekitarnya telah habis. Jantungnya berdetum keras. Matanya terbelalak tak percaya. Selama itukah Seunghyun mencintainya?

Seunghyun mengalihkan pandangannya ke depan. “Cinta pertama, mungkin bagimu hal itu hanya sekedar cerita cinta anak SD yang biasa kamu tertawakan ketika sudah dewasa. Namun bagiku, cinta pertamaku adalah benar-benar cinta. Ya, aku melihatnya sebagai cinta yang sesungguhnya.”

Seunghyun berhenti sejenak. “Lalu aku melihatmu sekali lagi, ketika kita SMA. Aku selesai latihan vokal dan ingin segera pulang. Aku berniat menerabas hujan. Dan aku melihatmu berdiri di bawah hujan di halaman sekolah. Mungkin kamu tidak sadar, kamu selalu menikmati hujan dengan cara yang sama. kamu tersenyum, menengadah ke langit, sambil merentangkan tanganmu. Sesekali kamu menari, berputar. Aku hafal dengan caramu. Semuanya terekam seperti foto dalam ingatanku.”

Seunghyun menarik nafas. Dan menoleh ke arah Chaerin. “Ketika itu, aku langsung mengenalimu, cinta pertamaku…” Seunghyun seolah menekankan pada dua kata terakhirnya, seraya memandang mata Chaerin dalam, lalu tersenyum penuh kehangatan.

Chaerin menatap lelaki di sampingnya tak percaya. Nafasnya terus tertahan, seolah setiap kata yang diucapkan Seunghyun mengambil semua oksigen di sekitarnya.

Seunghyun oppa yang aku kenal ketika SMA, ternyata telah jatuh cinta padaku sejak SD? Itu berarti Seunghyun telah mencintaiku selama 12 tahun? Selama itu?

Astaga… hal ini tak pernah kusangka. bahkan terbesit pun tidak.

Seunghyun menggenggam erat tangan Chaerin. “Gomawo, Chaerin,” gumamnya pelan. “Gomawo, karena sudah memberiku kesempatan. Gomawo, karena sudah ada di sini bersamaku.”

Chaerin tersenyum menatap lelaki di sampingnya itu, lalu menatap tangannya yang hampir tak terlihat dalam genggaman Seunghyun. Hatinya terasa hangat. Ringan. Bahagia. Dia suka sekali ketika Seunghyun menggenggam tangannya, membuatnya merasa lelaki itu akan selalu bersamanya.

“Oppa…” Chaerin memanggil Seunghyun pelan. Seunghyun mengalihkan pandangannya ke arah Chaerin. “Gomawo…” Chaerin terdiam sejenak, “Untuk segala perhatianmu, dan kesabaranmu selama ini. Untuk cintamu tanpa henti untukku. Gomawo, oppa…” Chaerin tersenyum senang.

Seunghyun melepaskan genggaman tangannya, dan merangkul Chaerin untuk berhadapan dengannya. Dia menatap Chaerin lekat-lekat, hingga dia bisa melihat pantulan dirinya di mata Chaerin. Dia berbisik tepat di samping telinga Chaerin, “Saranghaeyo, Chaerin…” Kemudian dia mengecup kening Chaerin lembut.

Seunghyun menengadah ke atas memandang hujan dari balik payung mereka yang sedikit transparan.

Kali ini, kamu datang ketika aku berbahagia. Penilaianku sedikit berubah tentangmu. Apa hari ini kamu ingin mengucapkan selamat padaku?

***

Chaerin POV

“Ini pesanan anda.” Pelayan café Bonheur memberikan secangkir minuman ke arahku yang berada di sebelah Seunghyun oppa.

Seunghyun memandang cangkir yang langsung kuseruput dengan tatapan heran. “Kenapa kamu memesan cappuchino-latte?” tanyanya sambil meminum minumannya sendiri, yang juga cappuchino-latte.

“Agar aku bisa terus mengingat Seunghyun oppa. Walau oppa, ada di sampingku.” Aku tersenyum penuh arti, lalu meletakkan cangkirku. Ya, kali ini aku ingin mengganti vanilla-latte ku dengan cappuchino-latte. Minuman yang disukai pria yang kucintai.

Seunghyun oppa terperangah mendengar kalimatku. Dia meletakkan cangkirnya. Lalu dia melingkarkan tangannya di punggungku, menarikku lembut hingga tubuhku merapat ke arahnya. “Sarangheyo, Chaerin. Aku tak bisa berhenti mengatakannya. Aku menunggumu sangat lama, hingga rasanya seperti mimpi aku bisa mengatakannya padamu. Bahkan jika kamu tahu, memilikimu, berada disini bersamamu, memelukmu saja masih terasa seperti mimpi.”

Aku tersenyum. “Ini kan sudah bukan mimpi, oppa…”

“Aku tahu.”

Dia mendekatkan wajahnya ke arahku. Nafasku tertahan, jantungku mulai berdetum kencang. Semakin dekat jarak diantara kami, semakin aku bisa merasakan hembusan nafasnya membelai wajahku. Hangat nafas lelaki yang sudah terlampau lama mencintaiku. Aku menutup mataku perlahan. Hingga aku merasakan bibir Seunghyun menyentuh bibirku.  Ciuman yang sangat lembut.  Aku membalas ciumannya. Aku bisa merasakan cinta dan penantiannya yang sangat besar kepadaku di setiap kecupannya. semakin dia menciumku, semakin aku bisa merasakan perasaannya yang begitu dalam terhadapku. Aku benar-benar terharu, hingga tanpa sadar air mataku meleleh perlahan dan jatuh ke pipiku.

Samar-samar aku bisa merasakan rasa cappuchino yang pahit espresso nya masih kental dan sedikit manis di akhirnya karena latte-nya. Rasa cappuchino yang seolah menggambarkan rasa cinta Seunghyun oppa kepadaku. Bittersweet taste. Pahit, karena aku tidak pernah melihatnya. Tapi akhir cinta kami, seperti latte di atas cappuchino, yang selalu memberikan rasa manis di akhirnya.

Aku berhenti sesaat, “Gomawo, oppa. Sarangheyo…” Seunghyun tersenyum dan mengusap air mata di pipiku, lalu kembali menciumku.

Tuhan, untuk kali ini, biarkan kami bersama…

***

“Chaerin, menikahlah denganku..”

“Mwoa?”

_______________________________________________________________________________

fin-

Okee. begitulah akhir bahagia mereka. 😀

semoga puaaaaaas!!! ayoo, sapa yang nebaknya bener?? Aku udah sering banget lho bahas cewek yang ditemui Seunghyun waktu kecil.

keep comment me, for my better future. hohoo..

Oya, jangan lupa. doakan mid-exam saya. hehee.. 😀

gomawooo…. ^^

Iklan