Annyeong…! ^^

Spa nie yg udh nunggu part 1-nya keluar??

^gak ada yg nanyain

Haha, Ji Soon rada gaje beberapa hari ini..

So, drpada klian nnti ketularan gajenya Ji Soon, lgsung aja deh di baca part 1-nya,hehe…

Selamat Membaca… 😀

=====================================##################=======================================

 

Title             :     Love In SEOUL

Genre         :     Friendship,romantic, and school life

Chapter      :     1

Cast             :     –  Ji Soon (author)

–   Jang Hyun Ra (Tam. P/author)

–   Lee Seung Yeon (Dicta/author)

–   Park Jae Soon (Olvie/reader)

–   Dong Woon (BEAST)

–   Hyun Seung (BEAST)

–   Yo Seob (BEAST)

–   Jun Hyung (BEAST)

And other cast…

Kringgg… Kringgg… Kringgg…

 

“Ahh, cepat banget sih masuknya! Padahal aku masih belum hafal rumusnya sama sekali nih..!” kesal seorang siswi kepada temannya, yang sepertinya sedikit lebih muda beberapa bulan darinya.

“Sabar aja, eonn! Berdoa aja mudah-mudahan hari ini ulangannya ditunda. Untung aja aku ada kegiatan OSIS, jadi bisa izin deh, hehe… Udah deh, tenang aja eonni! Eonni harus percaya diri, eonni pasti bisa kok…” ia mencoba menghibur eonninya yang tampangnya sudah seperti kehilangan masa depan saja.

“Uhh, enak banget kamu bisa ngomong gitu ya? Kamu kan gak ada rasain, bisa-bisanya kamu bilang gitu sama aku. Apalagi aku kan masih belum siap. Bisa-bisa ulangan kali ini aku dapat nilai jelek deh, huhuhu…” bantah Jae Soon dengan sedikit cemberut dan kemudian sambil mencoba merengek, berharap kali ini ada Dewi Fortuna yang akan menolongnya. Ji Soon, nama temannya itu, hanya bisa tertawa mengejek melihat nasib sahabatnya kini.

“Ayolah eonni, percayalah padaku.., semuanya akan baik-baik saja. Eonni harus percaya pada kemampuan eonni sendiri. Di manakah Jae Soon eonni yang selalu semangat?!” Ji Soon mencoba menasihati dan menyemangatinya sekali lagi, berharap Jae Soon, begitulah nama siswi itu, bisa mengerti keadaannya juga. Jae Soon hanya menganggukan kepala saja menjawabnya.

Sepertinya Jae Soon benar-benar gugup, karena sejak dari tadi ia hanya bisa menggigit kukunya, begitulah kebiasaannya kalau sedang gugup atau nervous. Ji Soon yang melihatnya hanya bisa memanyunkan bibirnya tanda bosan melihat kelakuan temannya itu yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.

Mereka sudah berteman sejak dua tahun yang lalu, saat di mana mereka bersama diterima oleh SM Entertainment melalui audisi yang mereka adakan secara online. Bakat mereka berdua memang patut diacungi jempol. Jae Soon dengan suara emasnya yang lembut dan juga Ji Soon dengan kelenturan tubuhnya dalam menari, sangat menarik. Dan kini mereka harus mengikuti training yang mewajibkan mereka untuk tinggal satu dorm. Rencananya mereka berdua akan debut tahun ini dengan konsep yang berbeda dari anggota SM lainnya. Terlebih mereka berdua juga dikenal karena paling muda dari yang lainnya, makanya konsep mereka juga harus berbeda dari yang lainnya.

Sebenarnya, mereka berdua bukan orang Korea asli. Mereka berasal dari Indonesia, dengan Ji Soon yang berdarah campuran Tionghoa dan Jae Soon yang asli orang Indonesia. Sebelumnya, keduanya juga bersekolah di Indonesia, tapi karena program training ini, maka mereka berdua harus pindah sekolah. Memang awalnya susah sekali memahami pelajaran yang ada di sekolah baru mereka itu, tapi berkat kegigihan mereka dalam belajar (maklum, saat masih bersekolah di Indonesia mereka selalu masuk peringkat 3 besar), hal itu pun bukan menjadi penghambat lagi. Kini mereka pun sangat menikmati kehidupan baru mereka di SEOUL.

 

Saat di dalam kelas Jae Soon…

“Uhh, gimana nih? Ji Soon gak ada pula, mana lagi aku paling o’on soal Fisika nih. Ahh! Ji Soon-ah, musseowoyo..!” kembali Jae Soon menggigit kukunya yang mungil itu sambil menggoyangkan kedua kakinya, hingga mejanya pun ikut tergeser karena tingkahnya yang tidak bisa diam sedari tadi.

Songsaengnim datang!

Seru salah satu murid yang segera berlari menuju kursinya, disambut di belakangnya dengan kedatangan seseorang yang sepertinya sangat tidak diharapkan oleh Jae Soon dan beberapa murid lainnya (yang belum siap ulangan).

“Selamat pagi anak-anak semua! …” sapa bu guru yang selalu berwajah serius itu dan hampir ditakuti oleh semua siswa di sekolah itu, lalu terdiam sejenak memperhatikan sekeliling ruangan di kelas itu.

“Umm… baiklah! Hari ini ibu akan membawakan berita bagus untuk kalian semua,dan semoga saja kalian semua senang.” tersungging senyum tipis di wajah guru itu, dan disambut senyum lebar dari Jae Soon yang duduk di deretan tengah.

Hahaha… Berarti ulangannya bisa gak jadi nih,hehehe… YESSS!!!

Begitulah suara hati Jae Soon yang membuatnya kini sedikit terlihat aneh, karena senyam-senyum sendiri. Bahkan teman di sebelahnya saja melirik sinis kebingungan ke arahnya.

“Jae Soon, kenapa kamu? Kalau kamu tidak mau mendengar saya, keluar saja dari kelas ini!” bentak guru itu dengan keras dan galaknya kepada Jae Soon yang sekarang terkejut karenanya. Jae Soon hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan karena ketakutan, dan hal inilah yang membuat guru itu kini menatapnya waspada.

Tak lama kemudian, muncullah suara ketokan dari balik pintu yang kemudian disusul dengan kemunculan dua murid yang belum mereka satu kelas kenal sedikitpun.

“Baiklah, perkenalkan diri kalian masing-masing!” pinta guru tersebut kepada mereka dengan wajah yang masih serius.

“Annyeong haseyo! Choneun Jang Hyun Ra imnida, mannaseo ban gapseumnida!” sapa salah satu murid itu dengan ramahnya. Tapi tidak begitu dengan yang ada di sebelahnya. Murid itu hanya diam saja dengan tampangnya yang cuek.

“Yaa! Ayo, cepat perkenalkan dirimu! Jangan diam kayak patung aja di sini…!” bisik Hyun Ra, murid yang tadi telah memperkenalkan dirinya kepada temannya tersebut, sembari menyikut lengan temannya itu.

“Huuhhh… ya iya…!” jawab murid itu dengan mendengus kesal.

“Annyeong haseyo! Choneun Lee Seung Young imnida…”

Hanya itu?? Hanya itu…??

Hyun Ra hanya bisa membatin kesal dalam hatinya. Benar-benar susah sekali membuatnya bisa lebih sopan dan ramah sedikit kepada orang lain.

“Mmm… baiklah! Kami di sini semua juga mengucapkan selamat datang kepada kalian berdua, dan sekarang silahkan kalian duduk di sana!” sambut songsaenim sambil menunjuk ke arah dua kursi yang kosong di sebelah kanan Jae Soon dan belakang bangku yang kosong tersebut.

“Ya, sekarang masukkan semua buku kalian dalam tas, kita akan memulai ulangannya hari ini!” tegas songsaenim dengan galaknya. Jae Soon pun hanya bisa melongo dan tertunduk lemas mendengar kata songsaenim tadi sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas kembali. Sedangkan dua murid baru itu hanya bisa ternganga mendengar kata songsaenimnya tadi barusan.

Apaan ini? Baru aja masuk sekolah hari pertama udah langsung dikasih ulangan. Sadis banget nih guru…

Begitulah setidaknya kekesalan terpendam dari kedua murid baru tersebut, Jang Hyun Ra dan Lee Seung Young, yang hanya bisa pasrah dengan nasib mereka masing-masing.

 

***

 

Ji Soon POV

Fiuuh~

Capek sekali rasanya. Rapat kali ini benar-benar nguras pikiran banget. Mana lagi semua tugasnya deadline besok pula. Huhh, terpaksa harus minta cuti latihan sehari besok. Maklum, aku harus disibukkan dengan kegiatanku sebagai sekretaris OSIS di sekolah ini. Tapi untung saja aku mempunyai Jae Soon eonni yang terkadang mau membantuku, walaupun ia sebenarnya bukan anggota OSIS. Terlebih Jae Soon eonni juga cukup pintar dalam berorganisasi. Tapi sayangnya, sifat kurang percaya diriya itulah yang terkadang menjadi penghambatnya. Apalagi kalau ia sudah benar-benar nervous, pasti kebiasaannya yang lama (gigit2 kuku)kumat lagi deh… Ckckck… ^sambil geleng-geleng kepala.

“Dongsaeng! Sedang apa kau di sini? Aku mencarimu dari tadi tau…” kesal Jae Soon eonni yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangku sejak tadi. Aku pun hanya bisa tertawa melihat tingkah konyolnya tadi yang mengharuskannya terengah-engah karena berlari tadi.

“Yaa! Gak usah ketawain kenapa…! Udah tau orang ngos-ngosan gini, malah diketawain! Dasar gak setia kawan banget sih…!” Jae Soon eonni menimpalku dengan berbagai kritikan. Aku pun harus menghentikan tawaku, walaupun sebenarnya aku masih menahan rasa geli karena mau tertawa terus.

“Ji Soon, bagaimana rapatmu tadi? Bagaimana hasilnya? Oh ya, kira-kira apa saja kegiatan yang akan dilaksanakan untuk acara pensi sekolah kita tahun ini?” setelah kritikan, kini giliran seruntutan pertanyaan dari Jae Soon eonni, yang seakan-akan berbicara tanpa jeda sedikit pun.

“Aigoo, eonni~ pelan-pelan dikit dong ngomongnya! Aku bingung mesti harus jawab apa nih.” Jae Soon eonni hanya memanyunkan bibirnya dengan raut wajah yang sedih.

“… jadi setelah tadi kami ngomong panjang lebar di rapat tadi, kami semua memutuskan kalo pensi kali ini diisi dengan beberapa boyband yang lagi naik daun sekarang ini. Rencananya sih kami mau mendatangkan Beast dan SHINee…”

MWO??!

Belum sempat aku melanjutkan penjelasanku tadi, Jae Soon eonni langsung berteriak histeris.

“Omona…! Beast dan SHINee akan datang ke pensi kita. It’s Amazing!!” mulailah gila Jae Soon eonni keluar. Aku tahu, memang dari dulu ia adalah Beauty dan Shawol setia bagi mereka. Jae Soon eonni benar-benar ngefans banget sama mereka semua. Terlebih kepada Jun Hyung Beast dan Onew SHINee.

“Ssstt~! Jangan keras-keras, nanti yang lainnya juga tahu deh… Hal ini masih harus dirahasiakan, kalau sampe tersebar luas, bisa-bisa aku yang disalahin deh…” jawabku sedikit takut.

“Mianhae, aku refleks sih… Aku gak bisa nyangka kalo mereka berdua datang nanti. Apalagi perform mereka pasti keren-keren… Omona!!” mulai lagi Jae Soon eonni jejeritan histeris, persis orang gila… Hahaha… 😀 ^Piss, eonn..! J

Aku hanya bisa mendengus kesal dengan sikapnya, dan segera kutinggalkan ia sendiri yang sedang berkhayal tingkat tinggi tersebut.

“Ji Soon! Tunggu aku~!” seru Jae Soon eonni sambil berlari menghampiriku.

 

—Ji Soon POV End—

 

Keesokan harinya di sekolah…

Hyun Ra POV

Hari pertamaku di sekolah baru ini biasa-biasa saja. Terkadang semuanya terasa membosankan, apalagi sepertinya anak-anak di sekolah ini pada sombong semua, gak ada yang mau berteman denganku, apalagi dengan Seung Young. Kadang juga aku berpikir apakah ada yang aneh dengan kami berdua. Kenapa sampai sekarang ini kami belum mempunyai teman di sekolah ini. Apa mungkin karena kami bukan orang Korea asli, mereka semua jadi mengucilkan kami berdua? Entahlah, malas rasanya ku memikirkannya.

“Eh, Hyun Ra! Ngapain kamu melamun terus? Kesambet baru tau rasa deh…” tegas Seung Young dengan nada yang seperti menyumpahiku saja. Aku hanya bisa bersabar dan bersabar terus dalam menghadapinya. Aku tahu ia dulu sebenarnya tidak seperti sekarang ini.Dirinya yang sekarang berbeda 180o dari yang dulu. Sungguh tragis masa lalunya yang kelam.

 

—Hyun Ra POV End—

 

Flashback 2 years ago…

DICTA

&

JOE

 

Tulisan itulah yang tertera di kalung liontin berbentuk hati tersebut. Terlihat Dicta sedang asyik memandangi pemberian dari kekasihnya yang tersayang itu. Kalung itu menurutnya benar-benar sangat berarti, semua kenangan yang terindah ada di dalam kalung itu.

Pagi yang cerah itu, Dicta sudah duduk tenang di kursi taman sekolah. Sambil mendengarkan lagu melalui headset, ia memandangi kalung itu dengan tatapan penuh. Seraya tersenyum dan mengingat-ingat kembali hari-hari kencannya yang indah bersama dengan Joe, kekasihnya.

Joe memang cowok yang cool, lucu, jujur dan pengertian, terbukti dari sikapnya kepada Dicta yang benar-benar bisa membuat Dicta selalu nyaman bersamanya.Dicta pun mengingat kembali saat pertama kali Joe menyatakan perasaannya ke Dicta. Dicta sebenarnya sudah sejak lama menyukai dan mengincar Joe sejak awal masuk SMP. Jadi, saat Joe mengungkapkan perasaannya yang sejujurnya kepada Dicta (saat itu hari valentine di sekolah), Dicta pun tidak bisa menolaknya. Bahkan cara mengatakan cinta yang Joe lakukan benar-benar unik, yaitu dengan mengajak Dicta berdansa bersama di atas panggung saat pensi sekolah. Dicta merasa sangat malu dan gugup saat itu, sehingga ia yang katanya jago berdansa pun mendadak kaku di atas panggung. Selain itu, Joe juga menyanyikan sebuah lagu yang khusus diciptakan sendiri olehnya untuk Dicta. Masa-masa itulah yang selalu membayangi pikiran Dicta dan membuatnya selalu semangat dalam segala hal, karena Joe selalu tahu cara untuk menyemangatinya.

Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat saja. Joe kini telah pergi jauh meninggalkan Dicta sendiri. Bahkan Dicta pun tidak tahu kemana perginya Joe. Selama lima bulan Dicta mencoba mencarinya, namun hasilnya tetap saja nihil. Kini Dicta pun putus asa, dan ia pun mencoba untuk melupakan kekasihnya yang kejam meninggalkannya sendiri itu. Bahkan kalung pemberian dari Joe telah ia bakar, ia sudah tidak mau lagi mengenang cowok itu, bahkan ia sangat membenci cowok itu.

 

Flashback End

Jae Soon POV

Malam ini sangat dingin, aku pun harus menggunakan mantel tebal kesayanganku. Malam itu aku sedang berada di balkon, duduk menatap langit dengan bintang yang bertaburan di angkasa. Sedangkan Ji Soon sedang asyik menyelesaikan tugas OSIS-nya yang sedari tadi ia kerjakan sampai-sampai tidak berpindah sedikitpun dari layar notebooknya. Sungguh indah pemandangan langit pada malam itu. Hari ini kami tidak latihan karena guru yang mengajar kami sedang tidak enak badan, jadi tidak bisa mengantar. Apalagi letak dorm kami ini agak jauh dari agency. Karena saat memilih lokasi dorm saat itu prosuser memutuskan untuk menempatkan kami di dorm yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah kami, ya mungkin sekitar  1 kilometer. Hal itulah juga yang membuat kami merasa sedikit terpencil dari anggota SM Entertainment yang lainnya.

Saat malam itu, tiba-tiba saja aku teringat akan kejadian-kejadian tadi di sekolah, termasuk kedatangan dua murid baru yang menurutku keduanya sedikit agak aneh. Jelas saja sedikit aneh, karena ku merasa mereka seperti bukanlah orang Korea asli, tapi malah seperti orang Indonesia saja. Tapi apa itu mungkin benar? Ahh~, entahlah… Mungkin tak ada salahnya juga jika aku berteman dengan mereka, dan siapa tahu saja aku dan Ji Soon bisa bersahabat baik dengan mereka. Maka pada malam itu sudah kuputuskan bahwa besok pagi aku harus berkenalan dengan mereka berdua.

 

—Jae Soon POV End—

 

Next morning…

“Eonni, ayo cepat! Nanti kita lambat loh…” suara teriakan Ji Soon sampai terdengar oleh tetangga sebelah.

“Sabar-sabar napa?! Teriak kenceng amat sih, emang aku tuli apa~?” gerutu Jae Soon dengan wajah cemberutnya. Ji Soon hanya tertawa cengengesan melihat mimik wajah Jae Soon yang lucu tersebut.

Dan kemudian mereka pun berangkat sekolah bersama. Setiap hari mereka selalu berjalan kaki,walaupun sebenarnya ada saja mobil yang sejak awal sudah disiapkan oleh produser khusus untuk mereka, namun mereka mau mencoba untuk lebih mandiri dan tidak mau tampil terlalu mewah dulu. Mereka takut karena nantinya akan banyak yang curiga kalu mereka adalah calon girlband terbaru di Korea Selatan. Dan lagipula karena lokasi dorm mereka tidak terlalu jauh dari sekolah, cukup berjalan kaki sekitar 15 menit saja mereka sudah sampai di sekolah, jadi mereka lebih memilih menggunakan alternatif manual saja.

 

20 menit kemudian di sekolah…

“Hai Ji Soon! Bagaimana tugasnya? Sudah selesai, belum?” tanya seorang gadis cantik berambut panjang kepada Ji Soon yang baru saja datang.

“Siip, boss~!” jawab Ji Soon mantap sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah gadis itu, yang sepertinya tak lain adalah wakil ketua OSIS.

“Ya sudah, nanti lagi ya kita bahasnya! Jangan lupa datang rapat sore ini ya. Dan rencananya surat proposal kita nanti akan diajukan ke agency bintang-bintang tamu kita hari ini. Jadi, mohon bantuannya ya…” pinta gadis itu dengan ramahnya kepada Ji Soon.

“Ne, sampai nanti ya… Gomawo atas infonya~!” balas Ji Soon dengan senyuman yang tak kalah ramahnya dari gadis tadi. Lalu mereka (Ji Soon dan Jae Soon) pun segera menuju ke kelas karena merasa sebentar lagi bel tanda masuk akan berbunyi sembari berbicara-berbicara tentang bintang tamu pensi nanti. Namun karena saking asyiknya mereka berbicara, bahkan orang yang lewat di depan mereka saja tidak tahu.

BRUUUKKK

Jatuhlah semua buku yang dibawa oleh orang yang ditabrak mereka tadi.

“Mianhae, akan segera kubereskan…” dengan gesitnya Jae Soon memungut kembali buku-buku yang sudah berserakan di lantai tersebut. Kemudian tanpa banyak berbicara, Ji Soon juga ikut memungutnya.

“Sudahlah, biar aku saja! Minggir!!” bentak orang tersebut dengan kasarnya. Sejenak Jae Soon melihat ke arahnya, dan sepertinya Jae Soon mengenalnya. Yaa! Mullonnimnida~! Dia pasti murid baru itu…! Jae Soon hanya bisa berseru dalam hati.

“Lain kali jalan itu pake mata dong, jangan asal jalan aja!” kata gadis itu dengan sinisnya yang kemudian dibalas tatapan sinis juga dari Ji Soon. Setelah itu, murid baru itu pun pergi berjalan meninggalkan mereka berdua yang masih melongo di situ. Kemudian Jae Soon baru sadar kalau sejak tadi ia memegang sesuatu di tangannya, dan saat dilihatnya, sepertinya itu bukan miliknya. Sedikit yang ia baca dari secarik kertas itu seperti :

 

Name                   :  Lee Seung Young (Dicta)

Birthdate            :  7 Januari 1996

Achievement    :  1st Grade Sains Olimpiade National

1st Grade Math Olimpiade National

2nd Grade

Hoby                     :  Reading, listening music, play violin and guitar, and watching film

 

“Hmm, jangan-jangan ini milik murid baru tadi…?” tebak Jae Soon dengan harapan sepenuhnya benar.

“Oh ya~? Tunggu dulu~, ia hobi bermain biola dan gitar, apa itu benar?” tanya Ji Soon kepada Jae Soon ingin tahu.

“Jeongmal? Aku tidak bisa menyangka begitu sebelumnya, lagipula ia sepertinya pernah mendapat juara 1 lomba musik biola senasional, sungguh hebat sekali~!” Jae Soon terkagum-kagum sampai betepuk tangan.

“Hmm…, ide yang bagus~!” Ji Soon tersenyum penuh harap sambil mangguk-mangguk.

“Maksudnya ide bagus apaan..?” Jae Soon penasaran penuh tanya apa gerangan yang sedang dipikirkan Ji Soon sekarang ini.

 

àTo Be Continueß

 

Yeahh, akhirnya slsei juga part 1-nya…

Hoahhm, capek banget Ji Soon ngerjainnya..

^smpe nguap2 trus

Hehe, kalo mslkan ada bagian yang gaje harap dimaklumi az ya.. J

And jgn lpa koment2 x, biar Ji Soon g ptah smangat… ^^

^maksa^

Hhaha.. 😀

Thx bgt ya udh mw baca…. ^.~

 

Iklan