hola holaa! oohayoouu gozaimasuu!! annyeong haseyoo!

adiez kembali! dengan part 1 (yang semoga) ditunggu2.! hhee.. 🙂

humm.. part1 ini, aku pengen ngasih kesan serius, dan sedikit konyol. karena pada dasarnya, ini cerita yang agak sedih, tapi tetep ketawa. nah lhoo.. bingung kan?
orang author nya juga bingung gimana bikinnya. 😛

ya sudahlah, happy enjoying all! ^^

__________________________________________________________________

Appa, apakah menurutmu, lebih baik aku tidak ada? Jika aku tidak ada, apakah appa akan lebih bahagia?

Daesung POV

Aku menuruni tangga apartemenku. Walau namanya apartemen, tapi bangunan ini hanya memiliki 2 lantai, dengan 8 kamar, 4 kamar di atas, dan 4 kamar di bawah. Masing-masing ruangan besarnya 40 meter persegi. Cukup besar bila untuk sendiri. Kamarku sendiri ada di atas, kamar 2.03.

Aku berulang kali melirik arloji di tangan kananku.

Mati aku! Kurang lima belas menit atau aku akan telat.

Aku bisa dengan sangat jelas membayangkan dosen killerku yang amat sangat ‘kusayangi’, dokter Yang Hyunsuk itu, marah besar. Dosen itu pasti langsung berkacak pinggang dengan mata merah penuh bara api begitu aku sudah ada dihadapannya, lengkap dengan taring yang memanjang sampai melewati bibir bawahnya, dua tanduk di atas kepalanya, plus latar belakang api merah yang membara. Seolah beliau mau memakanku hidup-hidup. aku langsung begidik membayangkannya. Lengkaplah sudah penderitaan di awal hariku hari ini. Huuufftthh…

Aku masih menyusuri koridor apartemen reotku, ketika kakiku merasakan sesuatu yang basah di lantai. Hidungku membaui sesuatu. Bau yang anyir. Bau khas… darah.

Mataku langsung beralih ke lantai. Darah. Merah, masih segar. DARAH APA INI??!

DEG!

Panik, aku menyusuri asal mula darah itu. Darah itu dari… balik pintu? Iya, darah itu merembes keluar dari celah bawah pintu sebuah kamar! Kamar 1.02. Kamar ini bukannya penghuni baru? Aku bahkan tak tahu siapa yang menghuni. Terus, ini DARAH APAAA??!

Kontan jantungku berdebar kencang, panik melihat darah semakin banyak mengalir keluar. Tanganku langsung bergerak menggedor pintu kamar itu.

DOOKK!! DDOOOKK!!

Tidak ada jawaban. Bagaimana inii?!!

Keringatku mulai bercucuran, tanganku mulai gemetar. Bayangan yang tidak-tidak mulai muncul di kepalaku. Aku menggedor pintu sekali lagi, lebih keras. DOOKK!! DDOOOKK!!

Tetap tidak ada jawaban. Aku menggerakkan gagang pintu. Terkunci.

Aduh, ini orang di dalam kenapa sih?!!

BRAAAKKK !!!

Tanpa pikir panjang, aku langsung mendobrak pintu kamar itu. Namun pintu itu masih tak bergeming. Aku mendobrak sekali lagi.

BRRRAAAAAAAKKK!!!!!! JDIAAAKKK!

Pintu kamar langsung terbuka lebar.  Bau anyir darah langsung menyengat. Jantungku seketika mencelos. Aku tak bisa mempercayai mataku. Seorang gadis tergeletak di tengah ruangan. Dari sanalah darah itu berasal.

Aku langsung berlari menghampiri gadis itu. Darah itu berasal dari tangan kirinya. Ada goresan dalam yang panjang yang terbentang di pergelangan tangannya. Sepertinya dia menyilet tangannya sendiri.

“Gwenchana??” Tidak ada respon dari gadis itu. Dia tidak sadarkan diri. Otokhee?!!

Aku langsung menelepon ambulans untuk segera datang. Aku memberitakan keadaan gadis itu dan lokasi kami. Setelah itu, aku langsung menutup telepon.

Oke, Daesung, ambulans akan datang. Sekarang tenang! Ayo pikirkan apa yang harus kamu lakukan sekarang! kamu dokter, dan sekarang ada pasien di depanmu. Bagaimana kamu menyelamatkannya sebelum ambulans datang. Keadaan ini sangat gawat bila dibiarkan lebih lama lagi. Berpikir!!!

Aku berusaha me-recall memori semasa kuliah.

O iya, primary survey! Airway, breathing, circulation. Aku memandang wajah gadis itu. Oke! Yeoja yang tidak kukenal, tenang! Aku akan menolongmu!

Aku mengepalkan tanganku, member tanda untuk diriku sendiri untuk memulai usahaku sebagai seorang calon dokter.

Pertama, airway (pengecekan jalan nafas). Aku menelentangkan posisi gadis itu. Tanganku langsung mencondongkan kepala gadis itu ke atas dan mengangkat dagunya hingga mulutnya terbuka. Mataku mencoba melihat apakah ada sesuatu yang menutup jalan nafas gadis itu. Sepertinya tidak.

Kedua, breathing (cek pernafasan). Aku tidak bisa melihat pergerakan dada, mendengar suara nafas, ataupun merasakan adanya hembusan nafas ketika aku mendekatkan pipiku. Apakah ada yang menyumbat tenggorokannya? Aku harus mengeceknya. Tapi, itu berarti… aku harus memberinya nafas buatan??! Menciumnya? Apakah boleh? Aku bahkan tidak mengenal gadis ini. Aiisshh…

Oke, ini bukan saatnya bingung. Fokus, Daesung! This is your precious time!

Dengan mempertahankan posisi kepalanya, aku menutup hidungnya untuk menghindari kebocoran udara. Aku menarik nafas perlahan, mendekatkan kepalaku padanya, dan mulai memberikan nafas buatan. Ingin lebih detailnya lagi? Bibirku menyentuh bibirnya, hingga tidak ada celah udara diantara bibir kami, namun tidak perlu lembut. Toh, dia tidak akan membalas.

Oke, dadanya mengembang. Artinya tidak ada yang menyumbat. Tapi kenapa dia tidak bernafas?!

Aku mengecek nadinya di tangan kirinya. Tidak ada. Aku mengecek detak jantungnya dari lehernya, tapi tetap tidak ada. Gawat! Ini berarti keadaannya sudah gawat. Gadis ini bisa mati!

Ketiga, circulation (mengembalikan sirkulasi darah). Aku harus memompa jantungnya. Aku langsung  menumpuk kedua tanganku di dadanya, tepatnya di ujung tulang iga, dan mulai memompa jantungnya cepat. Setelah 30 kali hitungan, aku meniupkan nafas buatan 2 kali. Setelah 5 kali pemompaan (dan pernafasan buatan) yang sangat melelahkan, aku langsung mengecek nadinya sekali lagi di daerah cekungan leher.

Tanganku merasakan denyut. Tidak percaya, aku mencoba merasakan lagi. Nadinya teraba! Ada nadinya!

Aku mengecek nafasnya sekali lagi. Pipiku merasakan hembusan nafas dari mulutnya. Dia bernafas. Syukurlaahh!! Dia selamat!

Aku teringat sesuatu. Pendarahan! Aku harus menghentikan darahnya. Aku mengambil sapu tanganku dan mengikatkannya pada tangan kanan gadis itu untuk menghentikan pendarahannya.

Aku mendengar sirine ambulans ketika aku baru selesai mengikatnya. Aku menghela nafas lega. Aku langsung terduduk lemas. Puas. Ternyata kuliahku selama ini tidak sia-sia! Yeeeyy!!

***

“Jadi, hari ini dokter Hyun Suk tidak memarahimu karena kamu menyelamatkan nyawa orang?” Seunghyun hyung, sunbae-ku mulai aku kuliah di fakultas kedokteran menghampiriku yang berkutat dengan map-map medical record yang harus aku rekap.

Aku menghentikan kerjaku, dan tersenyum bangga kepada sunbae ku yang satu ini. “Begitulah. Hahaa…”.

Seunghyun sunbae menarik kursi di depan mejaku. “Haiisshh… kamu pasti bangga sekali sekarang. chukkae.” Dia mengambil salah satu map yang telah aku kerjakan. “Oh ya, siapa nama gadis itu? Sudah sadar? Sudah ada yang bertanggung jawab?”

Aku mengecek salah satu map yang menumpuk di sampingku dan membukanya. “Namanya Gong Minji. Sekarang masih diberi tranfusi dan belum sadar. Kamu tahu, darah yang keluar saja banyak sekali seperti itu. Bisa selamat saja itu sudah keberuntungan besar. Sepertinya sudah ada. Disini ditulis Dong Youngbae. Mungkin pacarnya? Rasanya aku pernah mendengar nama Dong Youngbae.”

“Siapa? Gong minji? Sepertinya familiar…”

“Oya? Apakah kamu mengenalnya?”

Dia mengangkat bahunya. “Entahlah. Aku tidak ingat. Akan kucoba mengingatnya…”

***

Normal POV

Yaaa! Sakit! Dokter ini bisa nyuntik nggak sih?” Minji mengusap tangannya yang baru saja disuntik Daesung.

Sudah sakit, salah tempat pula! Apa dia tidak bisa melihat? Orang ini bisa nyuntik nggak sih??!

“Joseonghamnida.” Daesung menundukkan kepalanya. “Aku akan mencobanya lagi. Dia mengambil jarum suntik lain dan bersiap menyuntikkannya lagi.

“ANDWAE!! Aku tidak mau! Nanti dokter salah tempat lagi! Sakiit! S-A-K-I-T! Tidak mau!” mata Minji melotot.

“Tapi kamu harus disuntik. Aku harus mengambil darahmu.”

“Enak saja! Sudah salah, masih ingin mencoba lagi? Bagaimana bisa dokter salah menyuntik pasien? Apa dokter tidak bisa melihat pembuluh darahku?”

Sekali lagi Daesung menunduk. ini memang salahnya. “Joseonghamnida.”

“Huh! Pasti karena mata dokter terlalu tipis..” Dia menarik ujung matanya yang sipit, hingga semakin sipit. Seolah menirukan mata Daesung. “jadi kamu tidak bisa melihat pembuluh darahku dengan benar. Bahkan aku bisa melihatnya dengan lebih baik!” Minji menunjuk garis biru di sikunya. “Ini kan yang harusnya dokter tusuk. Benar kan, aku bisa melihat dengan lebih baik.

“Aiissh! Kamu ini!” daesung menghela nafas kesal, dia mencoba memelototkan matanya, walau tidak bias terbuka banyak.

“Wae?” Minji balas menantang. Dia melihat Daesung dari atas hingga bawah. “Dokter tahu, dokter tidak pantas jadi dokter.”

Anak ini!

Daesung menarik nafasnya menahan sabar. Rasanya emosinya sudah di ubun-ubun. Sabar! Dia cuma anak SMA yang tidak tahu aturan. Sabar, daesung! Kamu dokter. Kamu dokter.

“Kamu harus disuntik. Mana tanganmu?”

“Aku tidak mau. Dokter tidak mendengarnya?” Minji mengalihkan pandangannya pada suster di belakang Daesung. “Aku mau suster saja yang menyuntikku.”

Daesung menatap Minji sebal, dan menghela nafas sekali lagi. Emosi yang ditahannya semakin memuncak. Dasar anak tidak sopan! Berani sekali dia berbicara seperti itu denganku?

“Gong Minji! Tidak sopan sekali kamu pada dokter!” seseorang di belakang mereka berseru. Kontan mereka bertiga menoleh ke arah suara.

Minji terperanjat. “Youngbae saengnim?!”

Youngbae saeng? Kenapa dia ada disini?

_____________________________________________________________________

to be continue..~

bagaimana bagaimana? apa keinginanku untuk bikin part yg serius tapi konyol sudah tercapai?
hohoo.. 😀

mian yaa kalo jeleekk..

as u know, maybe i’m not great writer. but I always try my best for it. ^^

keep comment me, and -teteepp- please wait for my second part. hahaa…

gomawoyooo….^^

Keterangan:

Primary survey harus selalu dilakukan ketika kamu menemukan orang dalam keadaan tidak sadar. dan hal ini harus yang pertama dilakukan sebelum kamu mengecek pendarahan lainnya. kalau kamu telat ngasih ini primary survey, bisa2 orang yang harusnya bisa selamat, jadi mati. kan kasiaann.. T__T

terus, yang aku ceritakan di atas, merupakan tahapan yang benar. dengan penyimpelan disana sini.  semoga bermanfaat.. ^^

Primary survey:

RJP:

Iklan