Annyeeooongg !!! saya kembaliii ! 😀

ayoo,  sapa yg nunggu Sad Harmony Part 2 nyaa? semoga banyaak yaaa… ^^

karena kemaren banyak yang bilang part nya kependekan, jadi hari ini panjaaangg… 😀
kan karena readers ingin dimengerti. *gaya*

hhaa…

humm… kayaknya nggak ada yg mo diomongin lagi siihh..
jadii..

HAPPY ENJOYING !! 😀

____________________________________________________________________

Normal POV

“Youngbae saengnim?!”

Lelaki yang dipanggil Youngbae itu berjalan mendekati kasur Minji, kemudian membungkuk pada Daesung. “Joseonghamnida. Gong Minji sangat tidak sopan pada anda.”

“Tidak apa-apa.” Daesung menggelengkan kepalanya.

Minji memukul lengan Youngbae. “Yaa! Youngbae saengnim, ngapain saengnim kesini? Dan untuk apa pula saengnim minta maaf pada dokter? Kan dia yang salah! Tidak bisa melihat pembuluh darah saja, masih memaksa ingin menyuntikku. Huh!”

Youngbae langsung menoleh pada Minji. Matanya menatap tajam gadis itu. Suaranya meninggi. “Gong Minji! Aku kesini untuk menjengukmu. Lagipula aku yang bertanggung jawab atas keberadaanmu disini. Jadi, berbuatlah sopan pada dokter dan jangan buat aku malu!”

Nyali Minji langsung ciut mendengar gelegar suara saeng-nya itu. Dia mencicit, “Mianhaeyo, saengnim…”

“Sudahlah. Mana tanganmu? Biar dokter segera mengambil darahmu.”

“Saengnim… sakitt… aku tidak mau…” Minji mencoba merajuk. Namun mata Youngbae malah melotot, membuat Minji tak punya pilihan lain selain mengulurkan tangannya ke arah Daesung. Tentu saja dengan wajah cemberut.

Daesung memegang pergelangan tangan Minji dan bersiap menyuntik. Mulut Minji mulai komat-kamit, entah melafalkan apa. Matanya melihat jarum suntik ngeri. Semakin dekat jarum suntik dengan kulitnya, semakin cepat gerakan mulut Minji. Bahkan gadis itu menutup matanya erat dan meringis ketika jarum suntik akhirnya menembus kulitnya dan masuk ke pembuluh darahnya.

Setelah selesai mengambil darahnya, Daesung langsung memberikan syringe berisi darah itu ke perawat dan segera memberikan kapas yang diberi alcohol pada Minji dan menekuk tangan gadis itu, agar darah cepat berhenti.  “Ya, sudah selesai. Saya pergi dulu. Sillyehamnida.”

Daesung dan perawat segera berbalik dan meninggalkan Minji dan Youngbae berdua.

***

“Bagaimana keadaanmu?”

“Entahlah. Aku kan sebenarnya tidak ingin diselamatkan.” Minji menjawab tak acuh.

“Maksudmu?”

“Saengnim, aku memang ingin mengakhiri hidupku. Saengnim kan tahu, keberadaanku tidak penting di dunia ini. Appa saja tidak menginginkanku. Jadi, untuk apa aku tetap hidup. Dokter bodoh itu saja yang masih berusaha menyelamatkanku.”

“Hentikan bicaramu!”

“Benar kan, saengnim? Dari dulu aku hanya merepotkan saengnim! Youngbae saengnim juga merasa aku repotkan kan?” Minji menarik nafasnya. Nada bicaranya kini seperti menahan tangis yang akan pecah. “Setiap appa memarahiku, aku selalu berlari ke rumah saengnim, saat aku memutuskan pergi dari rumah, aku menumpang di tempat saengnim, bahkan saat aku ingin hidup mandiri, saengnim masih mencarikanku kamar sewa. Aku benar-benar merepotkan kan?!!”

Tangan Youngbae bergerak ingin menampar Minji, namun melihat gadis itu yang bahkan tak bergeming, gerakannya segera terhenti. Tangannya melayang di udara. Matanya menatap tajam  gadis itu. Dia menarik nafas, seolah menyuruh dirinya sendiri untuk sabar menghadapi gadis itu.

“Haiishh! Kamu ini!” dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Kamu tahu, kamu tidak pernah merepotkanku.”

Minji tak berkata apapun, tak berekspresi apapun. Dia sudah terbiasa mendengar kata-kata itu dari saengnimnya itu. Pasti saengnimnya hanya berpura-pura kepadanya.

Suasana menjadi hening sejenak. Namun tak berapa lama, Youngbae teringat sesuatu. “Ini.” Youngbae menyerahkan buku yang sedari tadi dibawanya pada Minji.

Minji menerima buku itu dengan heran. Dia membaca judulnya. “Debussy?” dia menoleh ke arah Youngbae. “Ige muoyeyo?”

“Itu partitur untuk pertunjukan pianomu dua bulan lagi. Aku menyertakanmu di Maradonna Piano Festival. Berlatihlah segera setelah kamu keluar dari rumah sakit.”

“Youngbae Saengnim, aku sudah tidak bermain piano lagi. Saengnim kan tahu, aku sudah mengunci pianoku. Aku benar-benar tidak ingin melihat piano, ataupun hal seperti ini lagi.” Minji menyerahkan buku partitur itu kepada saengnimnya itu. “Berikan saja pada muridmu yang lain.”

Youngbae tetap bersikukuh pada pendiriannya. Bahkan tangannya pun tak bergerak untuk menerima buku itu kembali. “Tidak bisa. Aku ingin kamu yang memainkannya.”

“Saengnim… aku tidak mau…” Minji mencoba merajuk.

“Harus mau!”

“Tidak mauuu… ayolaahh… jangan berikan padaku…”

“Gong Minjiiii…”

“Dong Youngbae songsaengniiim…”

“Sudahlah. Pikirkanlah dulu.” Youngbae mengemasi barangnya. “Aku harus pulang sekarang. jangan lupa, pikirkanlah. Aku harap kamu mau menerima tawaranku. Annyeonghi kasayo.”

Youngbae berbalik dan meninggalkan Minji dan buku partiturnya.

Setelah bayangan Youngbae menghilang, Minji menatap buku yang baru diterimanya dan menghela nafas panjang. Dia menatap langit-langit rumah sakit. Kemudian melihat lagi buku yang dipegangnya itu dengan tatapan benci.

Haiiishh… sudah dibilang! Aku tidak mau!

Dia langsung membuang buku partiturnya ke lantai.

***

Daesung POV

Humm… jadi itu yang namanya Dong Youngbae? Saengnim? Guru? Guru macam apa yang bisa menjinakkan singa liar seperti Gong Minji. lagipula, sepertinya dia perhatian pada gadis jelek itu sampai membayar biaya perawatan. Kemana orang tuanya?

Brukk!

Sesuatu jatuh dan menekan kepalaku. Aku melirik ke atas, melihat apa yang ada di kepalaku.

Tangan? Tangan siapa ini?

Tak puas melirik, aku menengadah ke atas, hingga tangan itu lepas dari kepalaku. “Seunghyun hyungnim!”

“Ada apa dengan wajahmu? Aneh sekali melihatmu sekesal ini.” Dia berjalan ke balik mejaku, menarik kursi di depan mejaku dan duduk di depanku. “Sepertinya ini pertama kalinya. Kamu kan selalu ceria. Seperti ini.” Bibirnya mengembang lebar.

“Haissh. Siapa lagi jika bukan karena Gong Minji!! rasanya aku ingin mengisolasi, mengelem, menjahit mulutnya yang tidak tahu sopan santun itu! Lalu tangan kakinya kuikat di kasur dengan tali tambang biar dia tidak rewel waktu aku ambil darahnya, aku suntik pakai obat penenang, biar dia menurut apa yang kukatakan. Haha…” aku tertawa sendiri memikirkan apa jadinya gadis itu bila hal itu benar kulakukan.

“Kalau nggak mempan?”

Kalau nggak mempan? Hum… apa ya…

Aku berpikir sejenak. Kemudian, cling! Mataku menyipit licik memikirkan ide yang brilian yang baru saja datang ke pikiranku. “Ayo hyungnim, kita masukkan dia ke kandang macan, singa, cheetah. Atau kalau perlu, langsung masukkan ke kandang T-rex!”

“Huahahahahaaa…!!!” Seunghyun hyungnim tertawa keras. “Emang ada gitu?”

Aku cemberut mendengar kenyataan pahit itu. Pasti keren dan menyenangkan sekali melihat Gong Minji yang menyebalkan itu dimakan hidup-hidup oleh Tyranosaurus dalam waktu kurang dari satu menit. Hahahaa…

“Oh ya, Kamu tahu, tadi ada lelaki yang tiba-tiba masuk dalam arena pertarunganku dengan Gong Minji. Dong Youngbae, yang membayar semua biaya perawatan anak itu. Sepertinya Minji tunduk sekali padanya. Bahkan dia langsung menurut ketika lelaki itu menyuruh menyerahkan tangannya.” Aku berpikir sejenak. “Harusnya lelaki itu selalu di samping Minji saja bila aku jaga dan memeriksa keadaannya. Biar gadis itu tidak perlu mengomel sepanjang waktu. Mulutnya benar-benar menyebalkan! Telingaku sakiiitt!!”

Aku menutup map medical record yang aku kerjakan. Hal ini lebih baik daripada nanti catatanku penuh dengan kata-kata umpatan pada Gong Minji, gadis SMA tidak tahu aturan, tidak tahu sopan santun, yang bahkan tidak berterima kasih padaku yang telah menyelamatkannya.

“Hyungniiimm!! Aku masih kesaaaaaaaaaalll!!!”

CTAAKK!

Aku melihat tanganku. Bolpoinku patah menjadi dua. Rupanya aku menekan batangnya terlalu keras.

“Huahahahahahahaa…!!!” Seunghyun hyungnim tertawa semakin keras melihat tingkahku. Aku hanya bisa cemberut melihatnya tertawa terbahak.

Tiba-tiba, seseorang mengetuk meja resepsionis di kantor Departemen. “Sillyehamnida? Dokter?”

“Iya?” aku menghampiri orang tersebut. Aku terperanjat melihat siapa yang mengetuk. “Dong Youngbae-ssi?”

“Annyeong hashimnika.” Dia menundukkan kepalanya padaku. Aku membalasnya, dengan kebingungan.

Aku menghampirinya. “ada yang bisa saya bantu?”

“Boleh kita bicara sebentar?”

***

Normal POV

“Jeongmal joseonghamnida. Sikap Minji sangat keterlaluan kepada anda.” Dong Youngbae langsung menundukkan badannya ketika mereka sampai di taman rumah sakit.

Nee, Minji memang amat sangat keterlaluaaann!! Anak itu memang perlu diberi ‘pelajaran tambahan’!!!

“Ah, tidak apa-apa.” Daesung menggerakkan tangannya ke samping seraya menggelengkan kepalanya. Bahkan dia mencoba tersenyum setulus-tulusnya.

“Pasti anda sangat kesal dan merepotkan anda.”

Ya iyalah. Sudah pasti kan?! Menurutmuuu? Dia sangat menyebalkan, mengesalkan, membuat stress, merepotkaaann!! Rasanya aku membutuhkan psikiater untuk menangani stress ku karena anak kecil itu!!

Daesung tersenyum sekali lagi. “Ah, tidak. Saya sudah biasa menghadapi pasien seperti dia.”

“Begitukah? Syukurlah… Khamsahamnida.”

EEEHH??!! Cuma begitu? Kamu nggak bilang apa gitu? ‘Saya yang salah’ atau ‘Saya tidak mendidiknya dengan benar’. Cuma seperti itu?

Aiissshh… nangis dalam hati deh kalau gini. Hiks…

“Iya, anda tidak perlu khawatir.” Daesung mencoba professional. “Silakan duduk.” Ucapnya seraya menunjuk kursi taman yang tidak jauh dari mereka.

“Dulu dia tidak begitu.” Gumam Youngbae setelah mereka duduk.

Daesung sedikit terkejut. “Eh?”

“Dulu dia tidak begitu. Dia lebih lembut dan manis. Dia bahkan tidak pernah berkata kasar pada orang lain.”

Wow. Harusnya aku bertemu dengannya waktu ‘dulu’ saja. Sepertinya anak itu lebih jinak.

“Dulu dia menganggap piano adalah sumber kebahagiaannya. Omma-nya, appa-nya, semuanya selalu gembira ketika dia bermain piano.” Youngbae berhenti sejenak. “Tapi semuanya berubah… semenjak kematian omma-nya. Appa-nya berubah. Appa-nya selalu menyuruhnya untuk bermain sama persis seperti ibunya. Selalu memarahinya setiap kesalahan kecil yang dia perbuat ketika bermain piano. Dan bahkan ketika dia tidak punya kesalahan.”

Bibir Daesur membentuk huruf O. akhirnya dia mengerti mengapa gadis itu berubah. Pasti sangat sulit dalam keadaan seperti itu. Gadis itu bersikap seperti itu untuk mempertahankan dirinya sendiri. Harusnya dia bisa lebih sabar. Harusnya…

“Lalu, apa hubungan anda dengan Gong Minji?”

“Aku? Aku murid ibunya. Dia dekat denganku sejak aku menjadi muridnya. Umur kami sebenarnya hanya terpaut 5 tahun. Dulu dia memanggilku ‘oppa’. Namun sejak dia muridku, dia terus memanggilku songsaengnim walau aku tidak menginginkannya.”

Tidak sekedar guru dan murid rupanya…

“Aku ingin menjadi oppa-nya, appa-nya…” dia berhenti sejenak. “dan namja-nya.”

Aiiihh… ada perasaan internal. Susah lah kalau sudah menyangkut yang satu ini.

Youngbae melirik arloji di tangan kanannya. “Joseonghamnida, saya harus pergi.”

“Ah… baiklah.”

“Annyeonghi kashipshiyo.” Youngbae berdiri dan berbalik meninggalkan Daesung.

“Annyeonghi kyeshipshiyo.” Daesung terus menatap punggung Youngbae sampai bayangan lelaki itu menghilang. Kemudian dia menengadah langit.

Kompleks sekali masalah gadis itu. Dia hanya punya satu orang yang bisa dia percaya, yang juga mencintainya. Aiishh… klasik sekali!

Kalau aku, kupastikan aku tidak akan mencintai gadis seperti itu. PASTI! Hahaa…

***

Daesung POV

Aku melewati kamar Minji ketika aku pergi ke kantin. Langkahku terhenti sejenak. Melihat gadis itu. Dia melihat luar jendela. Melihat langit yang saat itu mendung. Namun matanya kosong, menerawang entah ke mana.

Apa yang dipikirkannya? Mengapa matanya seperti itu?

Sesaaat kemudian, sebutir air mata jatuh ke pipinya.

Saat itu, dalam diamnya, dia terlihat lebih… cantik. Menawan.

Aiihh… apa yang kupikirkan?!! Cantik? Tidak! Dia jelek! J-E-L-E-K! Kang Daesung, sadar! SADAR!!!

Aih aku menggelengkan kepalaku sangat cepat, ingin menghapuskan pikiran bodoh itu.

Ketika kulihat sesaat kemudian, Minji mengusap air matanya sebelum jatuh ke dagunya. Kemudian dia melihat langit lagi, dengan pandangan yang sama. Menerawang.

Sudahlah. Ini bukan urusanmu, Kang Daesung.

Aku berjalan meninggalkan gadis itu, dan pikirannya yang entah di mana.

***

Minji POV

Aku memandang langit. Pikiranku masih bisa mengingat dengan tajam apa yang tidak ingin aku ingat. Haiissh! Aku benci mengingatnya!

Appa yang memaksaku untuk seperti omma.

“Bukan seperti itu kan omma memainkannya?!!

Aku kan bukan omma!! Ini permainanku!

“Hentikan!! Aku benci permainan pianomu!!”

Sebenci itukah appa padaku? Apa yang harus kulakukan, appa?

Tanpa sadar, air mataku meleleh dan jatuh ke pipiku. Aku tidak ingin menangis. Tidak untuk lelaki itu. Aku mengusap air mata yang harusnya tidak perlu mengalir itu.

***

Normal POV

Daesung berjalan melewati koridor rumah sakit tengah malam. Dimakan oleh rasa penasarannya, dia memutuskan untuk ke kamar Minji dan mencari tahu apa yang dipikirkan anak itu.

Perlahan, dia membuka pintu kamar dan melangkah tanpa suara. Lampu kamar yang sudah padam membuatnya semakin tidak terlihat. Dia berjalan hingga di samping kasur Minji.

“Siapa?”

Aduh, ketahuan…

“Saya.”

Minji tahu, ada orang yang memasuki kamarnya. Dia hanya berdiam hingga orang itu mendekat tepat di sampingnya. Setelah tahu yang datang adalah Daesung, dia mengubah posisinya. Sekarang dia duduk sambil bersandar di sandaran kasur.

“Dokter? Wae?”

Daesung salah tingkah. Dalam kegelapan pun, Minji masih bisa melihat sikap Daesung yang seperti maling ketahuan mencuri itu. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingiin melihat keadaan semua pasien.”

“Hanya itu?”

“Nee.” Daesung tahu, tidak baik berlama-lama disitu. “Karena keadaanmu sepertinya baik-baik saja, sebaiknya aku pergi. Annyeonghi jumushipsiyo.”

Kaki daesung berbalik dan akan melangkah meninggalkan gadis itu. Namun tiba-tiba ada yang menyergap lengannya, membuat langkah Daesung terhenti. Tangan Minji.

“Kenapa?” tanyanya tanpa melihat Daesung.

Daesung berbalik lagi melihat gadis itu. “eh?”

Minji mengulang pertanyaannya. “Kenapa dokter menyelamatkanku?”

Dahi Daesung berkerut. “Kenapa bertanya? Bukankah sudah kewajiban seseorang untuk menolong sesamanya?”

“Tidak juga. Banyak orang yang meninggalkan sesamanya dalam banyak kesulitan.”

Daesung tersenyum. “Mungkin, karena aku seorang dokter. Aku tidak bisa meninggalkan seseorang dalam keadaan seperti itu. Mungkin bila kamu bertemu orang lain, keadaanmu akan berbeda.”

“Aku tidak ingin diselamatkan.”

“Apa maksudmu?”

“Aku memang ingin melakukannya! Aku tidak ingin dokter menyelamatkanku!”

“Wae?”

“Tidak ada yang membutuhkanku. Tidak ada yang menginginkanku. Bahkan keberadaanku di dunia ini bukanlah sesuatu yang diinginkan. Orang-orang membenciku, bahkan ayahku sendiri. Aku ingin menghilang, seperti yang mereka inginkan! Aku…”

PLAAKK!

Daesung menampar pelan pipi Minji, tapi cukup keras untuk membuat gadis itu berhenti meracau. Gadis itu kini menunduk dan memegangi pipinya yang merah.

“Tarik kata-katamu! Tidak ada orang yang tidak dibutuhkan di dunia ini. Tidak ada orang yang tidak diinginkan. Keberadaan semua orang, pasti ada artinya. Bila ada yang membencimu, biarkanlah! Karena di tempat lain, pasti masih banyak orang yang mencintaimu, menginginkanmu sebagai bagian dari mereka. Aku tidak suka kamu berkata seperti ini!”

Minji terdiam.

Selama ini, tidak ada yang mengatakan hal seperti itu.semuanya ingin aku menghilang dari kehidupan mereka. Mereka tak mau menganggapku. Bahkan appa-ku, tidak pernah mengharapkanku ada. Tapi, kenapa orang ini? Orang yang baru saja aku kenal, yang tidak pernah aku tahu sebelumnya, bisa mengatakan hal seperti itu? Apakah memang masih ada yang menginginkanku?

Kata-katanya, membuatku menangis. Bahagia.

Keheningan membuat Daesung tersadar. Dia telah menampar pasiennya sendiri. Dokter macam apa dia?!

“Jeongmal joseonghamnida. Aku keterlaluan. Tidak seharusnya aku…”

“Dokter…”  Minji memotong kata-kata Daesung sebelum lelaki itu sempat menyelesaikannya. Gadis itu menoleh ke arah Daesung dan menatapnya lekat, membuat lelaki itu salah tingkah.

“Wae?”

“Dokter, jo hae.”

Daesung terdiam.

“Jo hae, dokter…”

“HAAAAHH?!!”

______________________________________________________________________

tuh kaan.. panjaang . semoga nggak bosen bacanyaa.. 😀

seperti biasa, Keep comment me yaa ! cz dengan begitu aku bisa tau mau kalian untuk perkembangan cerita ini. 🙂
soalnya, request pembaca sering jadi referensiku untuk jalan ceritakuu.. 😀

dan teteeuupp, tunggu part 3 nyaa ^^
mungkin agak lama.. soalnya lagi banyak acara kampus, dan ujian semakin dekat. hhi.. 😀

gomawoyooo ! ^^9

Iklan