annyeong!

humm… akhir2 ini aq agak sedih nih.. 😦
abisnya yang koment untuk FF ku kali ini lebih sedikitt dari FF ku sebelumnyaa. entah kenapa…
apakah karena cast nya bukan GD ato TOP? apa emang ceritaku kali ini kurang merasuk di hati?

humm.. semoga cuman karena readers pada sibuk ujian dll, jadi nggak sempet komen. hhii..

udah ada yang baca aja aku udah seneng kok. ^^

aduh, authornya curcol mulu deh.

ya sudahlaahh, happy laughing and crying ! 😀

___________________________________________________________________

Normal POV

“Dokteerr!!” Minji berlari menghampiri Daesung yang sedang berjalan ke ruangannya. Daesung yang mulanya sedang berkonsentrasi dengan catatan pasien yang dibawanya, kontan menoleh ke arah suara.

Anak ini lagi…

Daesung menghela nafas sejenak, malas menghadapi anak aneh yang baru keluar seminggu yang lalu itu. “Sudah saya bilang berkali-kali, jangan berlari dan membuat keributan di rumah sakit.”

Minji yang baru sampai di depan Daesung langsung cemberut. “Mianhaeyo, dokter…” Namun tanpa rasa bersalah, dia menengadahkan wajahnya menatap lelaki di depannya dan memberondongnya dengan pertanyaan. “Dokter, jam 4 shift dokter sudah selesai kan? Dokter mau kemana? Bagaimana kalau kita makan? Aku ingin makan kimchi.”

“Minji, pertama, shift saya memang sudah mau habis. Kedua, saya capek, ngantuk, dan ingin langsung pulang. Ketiga, saya tidak ingin makan.”

Minji cemberut sejenak, pikirannya berputar. Bagaimana caranya agar lelaki di depannya itu mau ikut dengannya. “Kalau begitu, dokter tidak usah makan. Temani aku saja! Bagaimana?”

Daesung menghela nafas sekali lagi. Yang membuatku tidak mau makan itu kamu, anak kecil!

“Tidak mau. Arasseo? Pulang saja sana. Kha!”

“Dokteeerrr… ayolaaaahh…” Minji mulai merajuk. Tangannya menarik lengan baju Daesung seperti anak kecil.

Daesung menggeleng tegas.

“Dokteeeerrr…”

“Sudahlah, setujui saja permintaannya.” Seunghyun tiba-tiba datang dan masuk ke dalam pembicaraan. seolah dia sudah mendengar pembicaraan mereka. Seunghyun menghampiri mereka berdua, dan menoleh ke arah Minji. “Bukan begitu, Minji-ssi?”

Minji mengangguk senang. Senyumnya mengembang, mengetahui ada yang mendukungnya. “Nee!”

Daesung mencari akal untuk menghindar. “Kalau begitu hyungnim saja yang menemani dia makan.”

“Oo tidak bisa…” jari telunjuknya bergerak-gerak ke samping. “Setelah ini, aku harus menjemput Chaerin di kantornya dan akan kencan sampai nanti malam. Jadi aku tidak punya waktu. Hahaa…”

“Hyungniiiimm…” Daesung memelas meminta pertolongan.

“Oh come on! Tidak baik membuat seorang wanita menunggu jawabanmu.” Seunghyun mengerling ke arah Minji.

Daesung menghela nafas, menyerah. “Baiklah. Tunggu aku di kursi ruang tunggu.”

Senyum Minji mengembang lebar, matanya berbinar senang. “Nee!” Dia kemudian berlari meninggalkan dua dokter di belakangnya.

Daesung menghela nafas lega. Badai telah berlalu…

“Anak itu gigih sekali mengejarmu.” Seunghyun menyenggol lengan Daesung, matanya memandang Minji yang sedang berlari menjauh.

Daesung melirik Seunghyun yang sedang tersenyum menggodanya. “Mengejar? Itu bukan mengejar, tapi merepotkanku, hyung.”

Seunghyun tertawa terbahak. “Kekekekee~… Salahmu sendiri, kamu tidak menanggapinya ketika dia menyatakan cinta padamu.”

“Cinta? Anak kecil seperti itu?” Daesung menunjuk koridor yang baru saja ditinggalkan Minji. “Huh. Itu cuma lelucon kok.”

“Oh ya?” setelah menanyakan pertanyaan retoris seperti itu, Seunghyun langsung berjalan meninggalkan Daesung di belakang.

“Hyungniiiiiiiiiimmm…!!”

Memangnya aku salah? Dia kan hanya bercanda, hyung…

Ucapan Seunghyun membuat Daesung teringat kejadian seminggu yang lalu.


“Dokter, Jo hae…”

“HEEEEEEEEHHHH??????!!!” Daesung menatap Minji tak percaya. Dia menarik nafas sejenak, mencoba berpikir jernih di saat yang singkat.

DEG!

Jo hae? Suka padaku? Yang benar saja?? Anak jaman sekarang… pasti dia hanya bercanda. Pasti hanya lelucon.

Hahaha… lucu sekali.

“Begitu kah? Hahaa… aktingmu bagus sekali! Lebih baik kamu mengucapkannya pada orang yang benar-benar kamu sukai. Jangan pada saya.” Daesung mengacak rambut Minji pelan. “Sudahlah, ini sudah malam. Kamu harus segera tidur.”

Minji terkejut bukan main. Bercanda? Apa yang dipikirkan orang ini?

“Dokter? Aku tidak…”

“Selamat malam.” Belum sempat Minji menyelesaikan kalimatnya, Daesung sudah berbalik dan akan menutup pintu.

Dokter, aku tidak bercanda…


***

“Khamsahamnida, dokter… sudah menemaniku makan.” Minji membungkuk pada lelaki di sampingnya.

“Sama-sama. Lagipula sepertinya sudah lama aku tidak merilekskan pikiranku. Sepertinya jalan-jalan di mal seperti ini bagus juga.” Daesung menjawab ringan sambil melihat sekelilingnya mal.

“Kekekee… dokter harus banyak rileks.” Minji menyentuh bawah mata Daesung. “Lihat, mata dokter berkantung sekali.” Tangannya kemudian beralih ke pelipis Daesung. “Dan aku bisa melihat urat dokter disini. Dokter terlihat tegang sekali.”

Daesung merasakan aliran darahnya berdesir dan jantungnya tiba-tiba berdetum ketika Minji menyentuh wajahnya. Daesung langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia bisa merasa wajahnya kini sedikit memerah. “Aku tidak apa-apa. Lagipula itu bukan urat, tapi pembuluh darah vena.” Katanya mencoba mengalihkan pembicaraan lalu berjalan mendahului Minji.

“Kekekee… dokter?” Minji mencoba mengejar daesung. “Apa dokter malu?”

“Malu kenapa?” Daesung mempercepat jalannya menyusuri deretan toko di mal itu.

“Euuhhm… karena aku menyentuh dokter?” Minji terus mengejar Daesung. Dia mencoba menahan tawanya yang girang.

“Ani.” Daesung mengelak.

“Benarkah?” Minji kini berhasil menyejajari langkah Daesung. Wajahnya melongok, mencoba melihat ekspresi Daesung.

“ANIII!!”

Daesung menoleh ke arah Minji dan mencoba mempertegas bahwa dirinya tidak sedang malu. Namun yang dia lihat malah Minji sedang tercengang.

“Minji?” daesung menggerakkan tangannya di depan wajah Minji. namun tak ada reaksi. Dia melihat mata Minji sedang melihat ke arah lain. Dia mengikuti arah pandangan Minji. ke arah toko musik. Ah, bukan, ke arah piano yang dipajang di dalam sana. “Kamu ingin ke sana?”

Minji tidak menjawab, namun kakinya langsung melangkah memasuki toko dan menghampiri grand piano yang terpajang. Daesung segera berlari mengikutinya.

Minji menyentuh dan menggerakkan tangannya di sepanjang badan piano. Tangannya lalu beralih ke tuts-tuts piano. Dia duduk di kursi di depan piano dan tangannya mulai menekan satu tuts piano. Gadis itu berhenti sejenak, menengadahkan kepalanya, seolah menikmati bunyi yang dihasilkan piano besar itu. Kedua tangannya sekarang terangkat dan mulai menari di atas piano.

Ting ting ting…

Robert Schumann, The Fantasie di C, Op. 17.

Karya yang dibuat di musim panas 1836, adalah karya Shumann yang penuh gairah dan semangat mendalam, dijiwai dengan semangat Beethoven.  Hal ini sudah tidak diragukan, karena hasil dari penjualan karyanya dimaksudkan untuk memberikan kontribusi terhadap pembangunan monumen untuk Beethoven yang telah meninggal pada tahun 1827. Closing dari first movement berisi kutipan musik dari lagu Beethoven, An die ferna Geliebte, Op. 98 . Tidak ada kata yang bisa menggambarkan Fantasie, selain memang menunjukkan sebuah keagungan jenius.

Daesung tahu lagu ini. Memiliki ayah pecinta music klasik membuatnya sedikit banyak tahu musik-musik klasik.

Daesung terdiam melihat permainan piano gadis kecil di depannya. Setiap denting yang dimainkannya terdengar… sangat sedih. temponya juga lebih lambat dan berat. Kenapa dia memainkannya seperti itu? Kenapa suaranya menjadi kaku, dan penuh kesedihan? Seolah dia memainkannya dengan kesedihan yang mendalam dan menyayat hati. Seperti sekelilingnya penuh dengan aura yang kelam. Daesung melihat ekspresi wajah Minji. datar. Tatapannya kosong. Seolah dia memainkan piano tanpa jiwa.

Kenapa kamu memainkan piano dengan sesedih itu? Kenapa dengan wajah seperti itu? Kenapa seperti itu kamu memainkannya?

Minji menghentikan permainan pianonya. “Ayo, dokter. Kita pergi.” Dia menoleh ke arah penjual toko tersebut, dan menunduk berterima kasih “Khamsahamnida.” Kemudian dia berjalan keluar toko.

Daesung langsung tersadar dari keterpanaannya dan berlari mengikuti Minji keluar toko, menerobos kerumunan orang yang telah melihat Minji bermain. “Kenapa kamu memainkannya begitu sedih?”

Minji tak langsung menjawab. Dia berjalan melewati stan-stan tanpa minat, hingga Daesung berhasil berjalan di sampingnya.

“Karena aku membencinya.” Dia berhenti sejenak. “Aku sangat membenci piano.”

Langkah Daesung terhenti. Terkejut dengan jawaban itu.

Minji duduk di bangku panjang yang disesiakan di salah satu sisi mal, dan melambaikan tangannya ke arah Daesung untuk duduk di sampingnya. Tanpa suara, Daesung berjalan mendekat dan duduk di samping Minji.

“Dokter tahu, suara piano itu ajaib. Suaranya membawaku ke dalam kenangan yang bahagia dalam hidupku. Appa, omma, selalu tersenyum ketika aku memainkannya.” Minji tersenyum sedih. Dia menengadah ke atas dan menarik nafas untuk menahan air mata yang hampir meleleleh. “Tapi ketika omma pergi, semuanya jadi lenyap. Suara yang ajaib itu, tidak pernah ada lagi. Aku tidak pernah bisa memainkannya lagi.”

Air mata Minji akhirnya meleleh. Tangan daesung bergerak ingin menghapus air mata di pipi Minji. Namun belum sempat dia menyentuhnya, Minji telah lebih dulu menyekanya sendiri. Tangan Daesung perlahan mengepal setelah urung melakukan niatnya.

“Sudahlah. aku tidak ingin membahasnya.” Minji berdiri. “Dokter, ayo kita pulang.”

Minji, sedalam apa kesedihanmu?

***

“Hyungnim, aku mendengarnya. Denting pianonya terdengar sangat sedih, kaku, gelap.”

Seunghyun yang semula sedang memeriksa medical record pasiennya langsung menghentikan pekerjaannya. “Siapa?”

“Gong Minji.”

“Ahh! Aku ingat, aku ingin mengatakan padamu tentang anak itu.” Seunghyun membuka tasnya dan mengambil iPodnya. “Aku kemarin iseng, lihat isi laptop Chaerin. Dan aku menemukan video yang bagus. Video penampilan piano Gong Minji di satu acara, entah acara apa. Sepertinya sebuah pagelaran. dan aku pikir, dia mungkin adalah pianis profesional.”

“Oh ya? Boleh aku melihatnya?”

Sejenak Seunghyun mengutak-atik gadgetnya, dan memberikannya pada Daesung. “Nih.”

***

Aku melihatnya.

Lagu yang sama. The Fantasie di C, Op. 17. Dia bermain dengan sangat indah. Denting pianonya terdengar bening, bergairah, dan penuh semangat. aku bisa merasakan, dia sangat menikmati permainannya, mencintai pianonya. Mencintai setiap detik dia menekan tuts piano.

Dia tersenyum, dengan sesekali menengadah ke atas, menikmati setiap alunan yang dia hasilkan. Matanya, ekspresinya, semuanya. Menyiratkan kebahagiaannya, kecintaannya.

Aku suka sekali dengan permainanmu yang ini. Bersinar seperti mentari. Seakan dengan mendengar musikmu, aku diperintah untuk menikmatinya. Namun tanpa kusadari, aku telah menikmatinya. Membuatku tidak bisa berhenti mendengarnya.

Kapan aku bisa melihatmu bermain seperti ini lagi?

***

Daesung POV

Dak dak dak dak…

Aku baru saja membuka pintu apartemen reotku ketika bunyi suara langkah kaki mendekat. Aku merasakan firasat buruk.

Cklek! Pintu kamar 1.02 terbuka.

“Dokteerr!!” Minji menghampiriku dengan ceria.

Tuh kan… anak ini lagiii…

“Ada apa?” aku menjawab malas.

“Dokter baru pulang? Sudah makan? Belum kan? Ayo makan denganku. Aku baru saja membuat makan untuk kita berdua. Ayo ayooo…”

“Haiisshh… aku malas untuk makan. Aku capek, ngantuk, dan mau tidur.” Aku berjalan meninggalkannya.

“Tunggu!” Minji menyergap tanganku. Membuat langkahku terhenti dan kembali menoleh padanya.

“Wae?”

“Ayolaaahhh…”

“Aku tidak mau. Nanti aku mati karena masakanmu yang pasti tidak enak. Huweeekk!!” aku berakting muntah di depannya.

Minji melepaskan tangannya dari lenganku, dan berkacak pinggang. “Enak saja! Aku ini pintar memasak! Percayalah padaku!” dia kemudian berjalan ke belakang punggungku dan mendorongku masuk ke kamarnya. “Ayolaaahh, dokteeerr…”

“Haiissh… Iya, iya.”

“Duduklah. Aku akan segera menyiapkan makanan untukmu.”

Aku langsung duduk di salah satu kursi yang ada di sekitar meja makan. Aku memperhatikan kamar Minji. Kosong, hanya ada perabot standar seperti tempat tidur, lemari dan meja makan. Ada tumpukan buku di salah satu sudut kamar. Dan ada satu buku yang tergeletak di atas meja belajar. Apa itu?

Penasaran, aku berdiri dan mendekati meja belajar. Aku mengambil buku itu. Claude Debussy, L’isle Joyeusse. Buku partitur?

“Minji, kamu… ingin main piano?” Aku mengacungkan buku yang kupegang padanya.

Minji yang meletakkan makanan di meja makan langsung menoleh ke arahku. “Aniyo.” Dia tersenyum pahit.

Aku berjalan mendekatinya dan mengacak rambutnya pelan. “Kalau kau ingin main piano, kapanpun lakukanlah.” Aku tersenyum, kemudian duduk lagi di tempatku semula.

Senyum Minji mengembang senang. “Nee.” Dia menunjuk piring di depanku. “Dokter, cobalah.” Dia  langsung duduk di kursi di depanku.

“Oke oke. Aku makan.” Aku menyendokkan suapan pertamaku, dan akan memakannya.

CKLEK!

Gerakanku terhenti di udara.

“Gong Minji.” seseorang memasuki ruangan. Dong Youngbae-ssi.

Minji spontan berdiri, terkejut. “Youngbae saengnim? Ada apa?”

Youngbae mendekat ke  arah kami berdua. Kemudian dia melihat ke arahku. “Daesung-ssi, kenapa anda ada di sini?”

Aku menunduk menyapanya. “Aku juga tinggal di apartemen ini.”

“Heehh?” mata Youngbae terbelalak. Dia menoleh ke arah Minji. “Benarkah?”

Minji mengangguk cepat. Dia tersenyum senang. “Nee!!”

Youngbae memandangku tidak senang.

aiisshh… aku kesini juga bukan karena kemauanku!

“Ya sudahlah. Aku kesini bukan untuk membicarakan itu.” Youngbae mengalihkan pembicaraan. “Minji, aku ingin mengajakmu ke tempat temanku. Aku harus menyetel piano yang baru dibelinya.”

“Piano?” Minji menggeleng tegas. “Tidak mau. Saengnim pergi sendiri saja.”

“Kamu harus ikut.”

Minji bersikeras. “Tidak mau.”

Sepertinya menarik. Mungkin saja aku bisa melihatnya bermain piano seperti dulu. Pianonya yang bersinar. “Kamu ikut saja.” Aku menoleh ke arah Youngbae. “Youngbae-ssi, aku boleh ikut?”

Minji terbelalak girang melihatku. “Chinca?! Dokter, kamu akan ikut?”

Youngbae terkejut. Eeh?? Tidak, kamu tidak boleh ikut!” Youngbae menoleh ke arah Minji. “Kamu harus ikut. Tapi, Daesung-ssi tidak usah ikut.”

“Hehh? Wae? Aku kan ingin ikut.”

Youngbae mengalihkan pandangannya ke arah Minji. “Kamu pilih dia, atau aku?”

“Hah?” Minji bengong, kebingungan.

Youngbae melanjutkan kata-katanya. “Kalau kamu pilih aku, kita pergi berdua saja.”

Haiisshh… orang ini. Susah sekali untuk menyetujuiku ikut dengannya. Apa susahnya sih?! toh aku tidak akan mengganggu mereka.

“Minji, kalau kamu memilihku, aku akan memukulnya, karena dia tidak mengijinkanku ikut dengan kalian.” mataku menyipit memandang Youngbae.

Suara Minji meninggi, emosi dengan keadaan aneh diantara aku dan Youngbae. “Apa-apaan kalian ini?!!”

Tidak sabar, Youngbae balik bertanya. “Jadi, kamu pilih mana?”

______________________________________________________________________

huwaa… aq nggak maksimal nih bikinnya. soalnya ditengah2 ketidakwarasan persiapan ujian.

mian yaa kalo jeleekk.. 😦

dan teteeeppp… keep comment me, dan sabar menunggu kelanjutannya. 🙂

gomawoyoo..^^

Iklan