Title : I’m a masochism, right?

Genre : Angst, Sadism

Casts : You (readers), Lee Donghae (Super Junior) atau bisa diganti sama bias anda sendiri juga boleh, soalnya nanti nama Donghae nggak banyak muncul.

Rating : PG-15

Length : Oneshoot

WARNING : Masokis, kesadisan. Yah, pokoknya yang sejenis sama itulah.

A/N : Kenapa saya malah balik dengan ff bertema masokis gini? Kemana FFLA-nya? Tenang, saya tetep bakalan nerusin ff itu, kok. Cuman nggak tau kapan bakalan posting, soalnya belum sempet buat nerusin itu.

Jadi, daripada saya nggak posting apapun, mending posting ff lama saya. FF ini udah pernah saya jadikan catatan di fb saya. Nyehehehe… Beberapa eonnie-eonnie author di sini udah pernah baca. Siapa hayo? 😀

Oke! Selamat menikmati. Happy Reading~ Jangan lupa comment!

***

Lagi…

Lagi…

Ini masih belum cukup…

“Ah…” rintihku pelan saat ujung pisau yang tajam menggores tanganku – untuk yang kesekian kalinya. Darah kembali mengalir, menetesi baju putihku. Membuatnya – yang semula telah kotor – menjadi semakin kotor oleh darah.

Aku tidak peduli. Entah bagaimana rupa tangan, kaki ataupun anggota tubuhku yang lain saat ini, aku tidak peduli. Biarpun aku bisa saja menjadi cacat seumur hidup, aku tidak peduli. Aku tetap ingin menyiksa diriku sendiri. Menimbulkan rasa sakit pada tubuhku. Mengeluarkan erangan kesakitan saat tanganku tersayat. Merintih menahan sakit saat aku menusuk kakiku menggunakan gunting. Aku tidak peduli. Karena ini memang menyenangkan untukku.

Entah kenapa aku malah sengaja menyiksa diri seperti ini. Rasa sakit yang kurasakan ini, justru lama-kelamaan telah menjadi canduku. Aku benar-benar menikmati segala macam rasa sakit ini. Menikmati sensasinya.

Aku pasti mempunyai alasan kenapa aku menjadi bertindak seperti ini. Setiap perbuatan pasti ada alasannya, bukan? Dan alasanku untuk semua ini adalah karena…

Aku sudah tidak tahan menahan rasa sakit di dalam dadaku ini.

Ya, alasanku memang sepele. Hanya karena aku merasakan betapa sakitnya hatiku saat dia melukaiku. Aku menjadi seorang masochism. Ah, bukankah itu lucu?

Jika kuingat lagi bagaimana awal aku menjadi seperti ini. Sebenarnya itu sangat sederhana. Sangat-sangat sederhana malah. Tanpa kejadian yang memusingkan kepala.

Waktu itu adalah hari di mana pertama kalinya dia membuatku menangis. Hari itu, aku mulai merasakan bahwa dadaku sangat sesak. Memang aku menangis, tapi sesak yang kurasakan ini bukan karena aku menangis. Tapi perasaan sesak ini – mungkin – lebih ditimbulkan oleh rasa sakit yang kurasakan dalam hatiku, rasa sakit yang ditimbulkan karena perbuatannya padaku.

Selama beberapa waktu, aku memang dapat menahannya. Tapi lama-kelamaan aku malah menjadi semakin tertekan. Rasa sakit di hatiku semakin menjadi saat kulihat dia malah makin menyakiti perasaanku. Aku yang tak tahan, mulai mencari berbagai macam hal yang dapat mengurangi rasa sakitku ini. Dan, akhirnya aku mencoba. Mencoba menyiksa diriku sendiri seperti saat ini. Ternyata ini sangat menyenangkan. Aku menyukainya.

Lalu sejak saat itu, setiap kali hatiku terasa sangat sakit, aku pasti akan melukai diriku sendiri. Entah itu sekedar menggoreskan silet di sepanjang lenganku. Ataupun menusukkan banyak jarum jahit ke telapak tanganku. Dan – kenyataannya – hal-hal yang kulakukan itu memang dapat mengurangi rasa sakit dihatiku yang sangat menyiksa.

Orang-orang di sekelilingku tidak pernah tahu bahwa aku telah menjadi masochism. Orangtua-ku, mereka sama sekali tidak pernah mempedulikanku. Yang mereka pikirkan hanyakah UANG! Aku tak mereka perhatikan sama sekali. Lalu, teman-temanku. Mereka tidak tahu, karena aku selalu lihai menyembunyikan luka-luka yang ada di tubuhku. Dan mereka, juga tidak mau ambil pusing biarpun mereka tahu tubuhku penuh luka. Karena yang mereka pedulikan bukanlah aku, tetapi uangku. Ah, itu benar-benar sangat mengenaskan, bukan?

Tetapi, sebagian besar factor yang memaksaku untuk berubah menjadi seperti ini bukanlah orangtua-ku. Ataupun teman-teman, tetangga dan saudaraku. Tetapi Dia. Dia-lah yang secara tidak langsung telah mendorongku masuk ke dalam dunia Masochism. Dia yang pertama kali membuatku merasakan sakit hati dan menjadikanku sebagai Masochism. Segala macam perbuatannyalah yang telah memaksaku untuk menjadi seperti ini.

Aku tertawa getir. Menggoreskan lagi pisau yang sedari tadi kubawa, kali ini ke pahaku. Ah, lukaku langsung mengeluarkan darah yang warnanya sangat kontras dengan warna kulitku. Aku suka dengan darah. Darah berwarna merah, dan merah adalah warna kesukaanku. Bau darah, aku sangat menyukainya. Apalagi rasanya.

Memang, sejak menjadi seorang masochism, aku menjadi menyukai darah. Seperti vampire, pikirku. Setiap kali lukaku mengeluarkan darah, aku selalu merasakan bagaimana rasa darah itu. Rasanya sama seperti baunya. Anyir, seperti besi berkarat, dan sedikit… asin. Dan, bagiku, lama-kelamaan rasa darah itu berubah menjadi manis. Benar, aku ini sudah gila, ya?

Aku tidak peduli biarpun orang bilang aku ini gila. Aku tidak peduli biarpun orang-orang menganggapku aneh. Biarkan saja orang-orang itu membicarakanku. Aku tidak berhak untuk melarang mereka. Iya, kan?

Sejak kecil, aku sudah menjadi orang yang cuek. Teman-teman sebayaku sering mengejekku aneh karena aku tidak mau bersosialisasi dengan orang-orang di sekelilingku. Tapi aku tidak peduli. Aku tetap menjalani kehidupanku, yang menurutku, sangat nyaman. Bukan urusanku jika mereka mau mengejekku. Itu urusan mereka, bukan?

Sebenarnya, sudah sejak lama aku berpikir bahwa aku ini adalah seorang Masochism. Kalau diingat lagi, mungkin sejak aku SMP. Tapi aku tidak pernah benar-benar menyiksa diriku hingga keterlaluan seperti ini. Yang kulakukan masih sebatas membenturkan kepalaku ke tembok, itupun karena aku sedang bercanda bersama teman-temanku. Ah, dan yang paling parah mungkin adalah saat aku mulai menusukkan peniti ke ujung jariku. Tapi itupun juga sangat jarang.

Aku menggelengkan kepala pelan. Mencoba mengenyahkan kenanganku saat itu. Masa lalu, biarkan saja itu berlalu. Yang harus kupikirkan saat ini adalah apa yang akan kulakukan sekarang. Benar, kan? Jadi, buat apa aku mengingat lagi kenangan masa laluku itu?

Tetapi, biarpun aku berpikir begitu. Aku tetap ingin mengingatnya. Merasakan rasa sakit sembari mengingat kenangan-kenangan dulu itu ternyata sangat menyenangkan. Aku meletakkan pisauku ke atas meja, lalu mengambil sebuah paku yang ukurannya sedang. Kutusukkan paku itu ke pipiku. Aku merintih sedikit, membuat luka di bagian wajah memang sedikit lebih sakit. Tetapi, tepat seperti dugaanku, banyak darah yang keluar lukanya. Aku mengusapnya perlahan. Menikmati bau yang ditimbulkan oleh darahku sendiri.

Tapi tunggu, bagaimana jika teman-temanku bertanya tentang luka di wajahku ini? Wajahku tidak bisa ditutupi, jadi mereka pasti akan tahu biarpun aku sudah menggunakan make up sebagus apapun.

Ah, masa bodoh. Aku bisa saja mengelak dari pertanyaan mereka. Atau, aku bisa memikirkan alasan yang masuk akal tentang luka ini. Iya, kan? Lagipula, mereka juga pasti tidak akan terlalu mempermasalahkannya. Aku yakin itu.

Yang menjadi masalah adalah, bagaimana jika dia tiba-tiba menjadi perhatian lagi denganku? Dia pasti akan menanyakan luka-lukaku dan memaksaku untuk berkata jujur. Ya, ampun!

Baik, dia memang sangat sulit ditebak. Hari ini dia membuatku menjadi sangat sakit, besok mungkin saja dia malah menjadi sangat memperhatikanku. Itu membuatku bingung. Dan malah makin menambah rasa sakit yang kurasakan di dalam dadaku.

Tapi, kalau aku mau jujur, sebenarnya aku sangat menyukai sifatnya itu, menyukai segala yang ada padanya. Bagaimana sikapnya saat ia dengan suksesnya menyakitiku, aku menyukai itu. Perhatiannya yang sangat-sangat berlebihan saat ia sedang memperhatikanku, aku merindukan itu. Ah, aku tidak tahu mengapa aku bisa sangat menyukainya.

Aku menusukkan paku itu ke kakiku dengan kasar – berulang kali. Aku benci saat harus mengingatnya. Aku benci saat harus memujinya. Lebih-lebih saat aku berpikir bahwa aku sangat-sangat menyukainya. Aku sangat membenci hal itu.

Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Aku tidak mengerti. Aku tahu, sebagian dari diriku bisa menjadi sangat membencinya. Tapi sebagian lainnya, aku bisa merasakannya, menjerit bahwa aku juga menyukainya. Aku tidak tahu bagian mana dari diriku yang lebih dominan. Karena, setiap kali aku ingin membencinya, aku tidak bisa. Begitu juga sebaliknya saat aku ingin mencoba untuk menyukainya sepenuh hati.

Kurasakan tetasan air ditanganku. Ah, aku menangis. Kenapa? Apakah ini karena dia? Kenapa aku harus menangis karenanya? Apa alasannya?

Kubenturkan kepalaku dengan keras ke dinding di belakangku. Aku tidak peduli dengan alasan. Yang membuatku kesal adalah, kenapa aku menangis karenanya. Aku benci jika harus menangis karena dia. Buat apa aku menangis untuknya? Tidak berguna!

Kubiarkan diriku merosot jatuh ke lantai. Kepalaku yang berdarah meninggalkan bekas darah yang panjang di dinding bercat gelap itu, warnanya tersamarkan. Aku tetap menangis. Kenapa aku tidak bisa menghentikan tangisanku ini? Kenapa?

Aku kembali membenturkan kepalaku, kali ini dengan pelan, sangat pelan. Aku merasa tidak berguna. Aku merasa sangat lemah. Bagaimana mungkin aku bisa menangisi dia. Menangis untuk orang yang sudah jelas-jelas sering menyakitiku. Aku kesal dengan diriku sendiri. Aku bodoh! Sangat-sangat bodoh!

Entah kenapa, aku malah jadi mengingat tentang saat di mana dia dan aku tertawa bersama. Menangis. Bercanda. Bertengkar kecil maupun pertengkaran yang berlangsung hingga beberapa hari. Semua masa-masa saat dia masih sangat memperhatikanku, aku sadar bahwa aku merindukan itu. Aku ingat saat dia memberiku sebuah cincin perak yang sampai saat ini masih kupakai. Biarpun aku berulang kali ingin membuang cincin itu, tapi aku tidak bisa. Aku tidak sanggup. Karena cincin itu adalah satu-satunya benda pemberiannya yang masih kusimpan baik-baik hingga saat ini.

Aku meringkuk di pojok ruangan sembari menatap bulan yang bersinar terang di luar sana. Kupeluk diriku, seakan-akan aku akan hancur jika tidak ada yang menahanku. Entah kenapa aku merasa takut. Aku tidak tahu apa hal yang kutakutkan. Yang jelas, aku merasa sangat ketakutan. Badanku bergetar, seperti orang kedinginan. Tapi aku tahu bahwa aku sama sekali tidak kedinginan – kamarku cukup hangat.

Saat ini, aku masih saja menangis. Memang hanya sedikit, tapi itu tetap saja air mataku. Aku merasa semakin lemah. Tidak berguna. Sangat naif. Aku adalah orang yang sangat bodoh hingga untuk melupakan seseorang pun aku tidak sanggup.

Kugigit bibir bawahku. Disaat seperti ini aku malah mengingatnya. Mengingat lagi kenangan tentang dia. Dia yang selalu mendengarkan perkataanku, apapun itu. Entah saat aku sedang sedih, gembira, bahagia, ataupun kesal. Dia akan tetap dengan rajin mendengarkan seluruh keluh kesahku – biarpun aku banyak mengeluarkan umpatan, yang bisa dibilang sangat kasar, saat sedang kesal. Dia akan menjadi pendengar yang sangat baik saat aku sedang ada masalah dan membutuhkan seseorang untuk membantuku.

Tetapi sekarang dia berubah. Sangat berubah. Dia lebih sering mendengarkan ucapan teman-temannya yang ‘sok’ itu. Dia lebih memilih mendengarkan mereka daripada mendengarkan aku, orang terdekatnya yang sudah sangat mengerti dia. Bahkan, untuk sekedar mendengarkan pendapatku sebentar saja dia enggan.

UGH!

Rasa sakit di dadaku ini datang lagi. Sesak. aku benar-benar tidak dapat menahannya lagi lebih lama. Cepat-cepat aku menggoreskan pecahan kaca – yang berasal dari cermin yang tadi kupecahkan menggunakan tanganku – ke lenganku. Menorehkan luka baru di atas luka yang terdapat di lenganku yang masih belum sembuh sepenuhnya. Ya, rasa sakit di dadaku memang sedikit terobati jika aku seperti ini. Tapi, tetap itu tak akan bisa sembuh sepenuhnya, bukan?

Aku menghela nafas panjang. Kuputuskan untuk pergi ke kamar mandi, aku ingin membasuh muka sekaligus membersihkan bekas darah yang ada di wajahku. Aku ingin tidur. Dan aku merasa tidak nyaman jika di wajahku masih ada bekas-bekas darah. Luka-lukaku memang sebagian besar masih mengeluarkan darah, tapi biarlah. Besok pagi pasti sudah tidak lagi.

Saat aku berada di depan cermin di kamar mandiku, kulihat wajah seorang gadis yang terluka. Ada sebuah luka tusukan di pipi kanan. Dan sebuah luka goresan kecil di pelipis. Inikah wajahku saat ini? Penuh luka karena ulahku hari ini memang lebih ekstrem dari biasanya. Mungkin saja.

Aku mengangkat bahuku, ringan. Masa bodoh dengan itu semua. Beberapa hari lagi luka ini juga akan sembuh dengan sendirinya. Kubasuh wajahku menggunakan air yang keluar dari kran wastafel di kamar mandi. Aku sedikit merintih saat air yang dingin itu mengenai bekas luka yang kubuat sendiri. Lukaku itu masih baru, jadi tentu saja akan terasa sedikit perih saat terkena air. Tapi aku tetap menikmatinya. Menikmati rasa sakit yang ditimbulkannya.

Kupandang lagi wajahku yang sudah sedikit lebih segar karena aku telah membasuh wajahku dengan air. Ah, wajahku sudah tidak terasa lengket lagi. Bekas-bekas darah itu sudah hilang. Aku tersenyum senang.

Saat aku berjalan kembali ke kamarku, kepalaku mulai terasa pusing. Aku tahu ini pasti disebabkan karena terlalu banyak darahku yang keluar. Aku anemia. Aku sudah menyadarinya sejak lama, dan aku juga rutin membeli obat penambah darah. Tapi saat ini obatku itu habis dan aku belum membelinya lagi. Jadi aku hanya dapat menahan rasa pusing ini hingga besok.

Tetapi, untuk saat ini saja kepalaku sudah terasa sangat berat. Untuk berjalanpun aku sulit. Dunia ini seakan berputar di mataku. Akhirnya aku terjatuh tepat di atas tempat tidurku. Jika seperti ini terus menerus, aku ragu besok aku akan bisa bangun dari tempat tidur.

Aku menatap langit-langit kamar, pandanganku kosong. Aku tidak tahu apa yang sedang kupikirkan hingga tiba-tiba saja kenanganku dengan dia muncul lagi. Memaksa untuk keluar dan membuatku mengenangnya kembali.

Aku ingat, dulu dia begitu perhatian denganku. Dia selalu memperhatikanku. Mulai dari kebiasaan yang sering kulakukan, hingga hal-hal kecil yang aku sendiripun tidak menyadarinya. Ia memperhatikanku hingga sedetil itu. Selain itu, dia juga sangat perhatian. Dia selalu menanyakan keadaanku setiap hari, entah secara langsung saat kami bertemu maupun lewat SMS ataupun telepon. Jujur, aku merindukan perhatiannya itu. Sangat-sangat merindukannya. Bohong kalau kubilang saat ini aku tidak ingin bertemu dengannya.

Tapi sekarang dia berubah. Dia jarang memperhatikanku lagi – biarpun terkadang ia masih memperhatikan keadaanku yang semakin hari semakin pucat. Dia lebih memperhatikan ‘dunia’-nya yang baru. Untuk sekedar menyapa ataupun mengucapkan salam untukku pun dia seakan malas. Dia terkesan menjadi sangat menghindariku.

UGH!

Lagi-lagi. Mengingatnya hanya akan menyiksaku. Aku menggenggam seprai kasurku erat-erat, berusaha untuk tidak mengamuk dan menghancurkan kamarku lagi. Air mataku kembali turun dengan deras. Aku tahu dadaku terasa sangat sakit saat ini. Sangat sesak. Aku bahkan kesulitan untuk bernafas. Kupukul dadaku pelan. Rasanya sangat sakit.

Sebenarnya, aku ingin sekali menusukkan paku-paku itu ke tanganku. Tapi aku sangat tahu bahwa tubuhku saat ini sudah sangat penuh dengan luka yang masih baru. Aku bisa saja memaksakan diri dan langsung menggoreskan pisau ke pahaku lagi, tapi taruhannya adalah nyawaku. Dan saat ini, aku masih ingin hidup. Aku masih ingin melihat wajahnya. Aku masih ingin melihat tawanya. Biarpun aku tahu, bahwa saat ini dia sudah jarang memperhatikanku lagi.

Yang dapat kulakukan saat ini hanyalah menangis. Menangis menahan sakit. Aku… merasa sangat lemah dan tidak berguna saat aku menangis karenanya. Tapi aku tidak peduli. Saat ini aku ingin menangis untuknya. Dan aku tidak peduli apapun pendapat orang. Aku terus menangis. Aku tak tahu sudah berapa lama, tapi yang jelas aku terlalu sudah terlalu lelah dan aku tertidur.

Saat aku bangun, hal pertama yang kuingat adalah semalam aku mengamuk, menghancurkan kamar, menangis dan lama-lama aku tertidur. Aku melihat ponselku yang tergeletak di meja di samping tempat tidur. Ini hari Minggu dan sudah jam 10 pagi. Ah, aku tertidur terlalu lama rupanya.

Aku baru saja bangun dan mulai merapikan serta membersihkan kamarku – yang semalam aku hancurkan dan kukotori dengan darahku – saat seseorang mengetuk pintu kamarku. Pintu kamarku memang selalu kukunci, jadi tidak akan ada orang yang tahu apa yang kulakukan.

“Siapa?” sahutku malas-malasan sembari tetap merapikan kamarku. Siapa yang mau menggangguku di hari minggu dan di waktu yang masih tergolong pagi ini? Orang tuaku? Tidak mungkin.

“Ini aku. Aku ingin bertemu denganmu. Bolehkah?” balas orang yang berada di luar itu.

Aku tertegun. Tubuhku seketika membeku. Aku hafal suara ini! Aku sangat mengenalinya! Ini suaranya! Suara seorang LEE DONGHAE! Orang yang membuatku menjadi seperti ini! Ya, ampun! Mau apa dia datang ke rumahku?

“Mau apa kau?” ucapku pada akhirnya ketika aku telah bisa mengendalikan perasaanku. Tanganku tergoda untuk kembali melukai tubuhku, tapi aku menahannya. Aku masih belum ingin masuk rumah sakit. Kuputuskan untuk tetap membersihkan kamarku yang seperti kapal pecah ini.

“Kau marah padaku?” jawabnya. Suaranya terdengar sangat merasa bersalah.

“Mau apa kau?”

Hening sejenak. “Aku… ingin minta maaf padamu.”

Aku terdiam. Minta maaf? Dia ingin minta maaf padaku? Setelah berbagai macam perbuatan yang dilakukannya padaku hingga membuatku seperti ini, dia datang dengan mudahnya lalu bilang bahwa dia ingin minta maaf? TIDAK! Aku tak akan sudi memaafkannya!

“Minta maaf? Kau bercanda! Setelah apa yang sudah kau lakukan padaku hingga membuatku sangat-sangat sakit hati dan pada akhirnya memaksaku untuk berubah menjadi seorang Masochism, kau datang dan dengan mudahnya bilang bahwa kau ingin minta maaf padaku? Jangan harap aku mau memaafkanmu!” balasku marah. Aku benar-benar sudah tidak dapat menahannya. Dadaku sangat sesak dan sakit sekarang. Kuambil pisau di lantai dan duduk di tempat tidurku. Bersiap untuk menggoreskannya lagi.

“Kau menjadi seorang Masochism? Karena aku? Kau pasti bercanda!” balasnya. Ia terdengar sangat terkejut.

Aku tertawa meremehkan. “Bercanda? Apa aku terdengar bercanda saat aku bilang bahwa semalam aku menusukkan paku ke wajahku karena aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit di dadaku dan itu karenamu? Apa aku terlihat bercanda saat kukatakan padamu bahwa seluruh tubuhku penuh luka dan itu karenamu, hah? Jawab aku!” aku menggoreskan pisau itu. Bukan di lenganku, tapi di pergelangan tanganku. Sebuah goresan tipis. Entah setan apa yang memaksaku untuk melakukan hal itu.

“Sayang, kumohon buka pintunya. Aku tidak main-main saat ini.”

“Dan aku juga tidak sedang main-main! Kau tahu, sayang? Saat ini aku menggenggam sebuah pisau dan pisau itu bisa saja menggores seluruh tubuhku lagi seperti apa yang kulakukan semalam! Apa kau mau melihatnya? Oh, atau kau lebih ingin melihatku menggoreskan pisau ini di pergelangan tanganku?” aku tertawa miris, mirip seperti orang gila. Kugoreskan lagi pisau itu di pergelangan tanganku, kali ini lebih dalam. Aku mengeluarkan jeritan tertahan saat kurasakan darahku mulai menyembur keluar.

Aku yakin jeritanku tadi terdengar sampai keluar. Karena setelah itu Donghae mulai mendobrak pintu kamarku. “Hei! Kumohon jangan lakukan hal yang berbahaya! Ayolah!”

“Apa masalahmu? Ini bukan urusanmu, bodoh!” kugoreskan lagi, lukanya semakin dalam.

Lagi… ah, ini mulai terasa menyenangkan.

Satu goresan lagi… darahku semakin deras keluar dan pandanganku mulai kabur.

Aku menoleh ke arah pintu, tapi kesadaranku mulai hilang. Tubuhku limbung, dan aku terjatuh ke atas tempat tidurku. Tepat saat itu pintu terbuka dan kulihat dia masuk ke dalam kamarku dengan wajah panik disusul oleh ayahku dan ibuku yang menangis.

Ah, selamat tinggal semuanya…

Maafkan aku…

Sebelum kesadaranku hilang total, aku dapat merasakan tubuhku diangkat oleh seseorang. Siapa? Ayahku? Ataukah Donghae? Aku tidak peduli. Yang jelas, setelah itu segalanya terasa gelap dan ringan bagiku.

FIN

Sip! Gimana? Udah kerasa nyerinya? Kalo saya, sih, belum. #PLAK

Ngomong-ngomong, masih ada yang belum ngerti sama istilah ‘Masochism’? Jadi, Masochism itu adalah suatu kelainan pada diri seseorang yang baru merasa puas jika sudah melukai diri sendiri.

… Untuk lebih jelasnya, cari di mbah Google atau tante Yahoo… #PLAK

Sip! Jangan lupa comment~! Gomawo~

Iklan