Anyeeeoongg !

*dadah2 sambil bawa pulpen siap2 kalo ada yg mo minta tanda tangan*
hha..

Seorang reader ku ada yg bilang, kalo cerita ku kali ini biasa. Mungkin emang biasa, karena aku pengen bikin cerita yang biasa jadi nggak biasa. Hha..
secara pribadi sih, aku seneng banget ada yg bilang gitu. Masukan buat aku juga, untuk lebih kreatif menggali ladang otak ku buat menghasilkan karya yang lebih bagus, dan lebih aneh lagi. Ya paling nggak, aku pengen melampaui apa yg dia, dan readers ku semua ekspektasikan ke aku.
Karena itu, aku mengucapkan ‘jeongmal khamsahamnida’ buat reader ku yang tidak kusebut namanya. *aiisshh…

Buat readers yang lain jugaaa… JEONGMAL KHAMSAHAMNIDAAAA!!!

Hha… 😀

Ya sudahlah, daripada banyak cencong, jadi rempong *apaan sih dis?*, langsung aja deh.

Happy reading!

—————————————————————————————————————-

Aku tidak tahu apa yang kupikirkan saat ini. Aku bahkan tidak mau tahu posisiku sekarang di matamu. Tapi yang aku tahu, aku ingin bersamamu…

-Dong Youngbae-

***

Minji POV

“Jadi, kamu pilih yang mana?” Youngbae saengnim dan dokter berdua mengulurkan tangan mereka di depanku.

Tunggu! Pi… pilih yang mana?!

Aku benar-benar bingung sekarang. Dua orang lelaki di depanku memintaku memilih untuk hal yang kekanakan. Aigooo… mereka ini tidak sadar umur ya??!

Aku memandang Youngbae saengnim.

Uhm… Youngbae saengnim? Tapi dia ingin pergi denganku tanpa dokter, sedangkan aku ingin pergi dengan dokter…

Kalau begitu jangan pilih dia!

Pandanganku beralih pada dokter.

Atau dokter, tapi dia akan memukul Youngbae saengnim. Aduh, nanti saengnim terluka!

Jangan! Jangan!

Waaa… bagaimana iniiii??!!

Apa Youngbae saengnim yang ingin aku pergi berdua dengannya, atau dokter yang melakukan ini karena terprovokasi Youngbae saengnim?

Sebenarnya aku tidak ingin memilih keduanya, tapi aku tidak ingin mereka berkelahi…

Aku menghela nafas. Tanpa berkata apapun, kedua tanganku akhirnya bergerak  ke arah dua lelaki di depanku. Tangan kananku menyambut tangan Youngbae saengnim, dan tangan kiriku menyambut tangan dokter. Aku meringis kepada mereka berdua. “Hehee…”

“Apa?” mata Youngbae saengnim menyipit ke arahku. “Apa-apan ini??!”

Dokter tersenyum. “Bagus, Minji. memilih kami berdua berarti kamu tidak memilih siapapun.” Dia mengacak rambutku lembut. Aku suka ketika dia melakukannya.

Aku menoleh pada saengnim dan memohon. “Saengnim, biarkan dokter ikut yaaa??”

Saengnim hanya menghela nafas menyerah. Dia tersenyum padaku. “Ya sudahlah, karena Minji sudah berbicara. Ayo kita pergi.”

***

“Waaahh… rumahnya bagus sekaliii…”pandanganku menyapu sekeliling ruangan yang kulewati di rumah teman saengnim. Dengan cat putih tulang, bergaya eropa, dengan banyak ukiran ala Yunani di sana-sini. Deretan lukisan berbagai aliran, semuanya terpajang rapi di dinding-dinding rumah. Langit-langit yang tinggi, dengan permainan lampu dan kaca, membuat rumah ini semakin megah.

Satu kata, rumah ini… KEREEEEENNN !!!

Aku melihat dokter yang berjalan di belakangku. Dia juga sedang mengagumi rumah ini, tapi tanpa suara. Jaga image di depanku mungkin? Hihii… semoga saja.

“Minji…” Youngbae saengnim tersenyum kecil melihat tingkahku. Aku mau menyetel piano dulu di ruangan itu.” Dia menunjuk salah satu ruangan yang terbuka. “Kamu mau ikut atau tidak?”

Aku menggeleng dan tersenyum. “Aku disini saja.” Aku tidak mau melihat piano.

“Baiklah. Aku pergi dulu.”

Aku melanjutkan melihat-lihat lukisan yang terpajang di dinding ruangan sebesar aula itu. Lalu berpindah ke ornament-ornamen patung, guci antic yang beredar di sekeliling ruangan.

Ting ting ting ting…

Tiba-tiba perhatianku teralih. Bunyi piano? Samar-samar aku mendengar denting piano. Indah sekali. Siapa yang memainkan? Youngbae saengnim kah?

Aku berjalan mendekati arah suara piano. Dari ruangan yang ditunjuk oleh Youngbae saengnim.

Aku melongok ke dalam. Youngbae saengnim. Memainkan music. Aku tahu music ini.

La Campanella.

Aku berjalan perlahan mendekati saengnim. Tanpa suara.

Etude ini dimainkan dengan tempo cepat dan tangan kanan melompat diantara interval lebih besar dari satu oktaf, kadang-kadang bahkan melompat selama dua oktaf keseluruhan pada tempo Allegretto. Namun,  juga ada lompatan di tangan kiri sekitar empat interval yang sangat besar, lebih besar daripada yang di tangan kanan. Tidak ada waktu yang disediakan untukku untuk memindahkan tangan.

Rasanya aneh ketika aku pertama kali memainkannya. Seperti aku butuh tiga tangan untuk memainkannya. aku belum bisa memainkannya. Aku selalu berpikir, ‘Tangan yang mana yang kamu butuhkan untuk memainkannya?’

Aku menyentuh tangan kanan Youngbae saengnim perlahan. Apakah tangan ini?

Dia menghentikan permainannya. “Minji? ada apa?”

Tanpa berkata apapun, aku memegang tangannya. Meraba setiap tekstur dari telapaknya. Aku menempelkan telapak tangan kananku tepat di telapak tangan kanannya. Tangannya besar. Panjang jari-jariku, hanya 2/3 dari jari-jarinya. Terlihat kecil sekali.

Tanganku kecil, jadi aku tidak bisa memainkan La Campanella. Senangnya jika memiliki tangan yang bisa memainkan semua lagu…

“Begitu…” Youngbae saengnim tersenyum. “Caramu memainkan piano itu berloncatan, seperti cantabile.tapi karena tanganmu kecil, kamu jadi tidak bisa memainkan seperti kali ini. Tanganmu kesulitan kan untuk memainkannya…”

Aku cemberut. Dia mengerti apa yang kupikirkan…

Senyumnya semakin mengembang melihat ekspresiku. “Aku bercanda. Kamu pasti bisa memainkannya.”

***

Daesung POV

Aku tertarik mengikuti arah Minji berjalan. Dia berjalan masuk ke ruangan, namun aku memilih melihatnya dari pintu. Minji menyentuh tangan Youngbae-ssi, dan memegangnya. Kemudian mereka berbicara entah tentang apa.

Aku melihat semuanya dengan jelas. Entah kenapa, dadaku sakit melihat Minji menyentuh dan memegang tangan Youngbae-ssi. Aku mengatupkan mulutku erat, hingga bisa kudengarkan gigiku bergemeletuk di dalamnya. Tanganku mengepal keras, menahan sesuatu yang membakar di dalam darahku. Aku menelan ludahku, menahan gelegak amarah yang ingin pecah. Aku tak tahu ada apa denganku, kenapa aku seperti ini. Tapi rasanya benar-benar sakit, sangat sakit, dadaku seperti teremas hingga rasanya remuk redam.

Aku tak bisa mengontrol diriku untuk tidak bertanya. Kenapa kamu memegang tangannya? Apa yang kalian bicarakan? Jangan, jangan tersenyum seperti itu. Aku tak suka!

Kenapa ini? Ada apa denganku?

Aku menari nafas dalam-dalam. Mencoba pulih dari rasa sakit yang menyekatku.

Sabar, daesung…

***

Normal POV

“Dokter?” Minji berjalan ke arah Daesung yang sedang memandang taman di luar rumah. Lebih baik dia keluar daripada dia makin sakit melihat pemandangan di dalam. Minji berhenti di samping daesung. “Dokter? Ngapain dokter di luar?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya ingin melihat taman saja.” Jawab Daesung cuek, tanpa senyum.

“Oh ya? Kenapa wajah dokter menakutkan seperti itu?”

Daesung tersenyum kecil dan mengacak rambut pendek Minji. “Tidak ada apa-apa. Sudah selesai kah urusan kalian?”

“Sudah. Youngbae saengnim sekarang sedang berbicara dengan temannya, dan kemudian kita bisa pulang. Lagipula ini sudah menjelang malam.” Minji menengok ke dalam rumah. Dia kemudian melihat Youngbae berjalan keluar rumah. “Itu dia, saengnim.”

Daesung ikut menoleh ke dalam. Dia tidak bisa memungkiri bahwa hatinya kini sedikit sakit, melihat wajah lelaki itu.

“Sudah siap pulang?” Youngbae bertanya ke arah Minji dan Daesung. Minji hanya mengangguk dan tersenyum, sedangkan Daesung tidak bisa berekspresi apapun. “Ayo pulang.”

Mereka bertiga berjalan menyusuri taman yang cukup panjang. Tiba-tiba, Minji merasakan tetesan air yang jatuh ke rambutnya. Dia menengadah ke atas. “Wah, hujan!”

Setelah minji berkata seperti itu, hujan langsung turun sangat deras.

“Aku ambil mobil dulu. Kalian tunggu di sini.” Youngbae berlari menuju mobil meninggalkan mereka berdua.

Minji menengadah ke atas sekali lagi. Tiba-tiba saja turun hujan. Semoga bukan pertanda buruk…

Syuutt.. Sebuah jaket menutupi kepala dan badan Minji. dia menoleh ke arah Daesung.

Daesung tersenyum lembut. “Dengan begini, kamu tidak akan kebasahan.”

Minji terdiam. Hatinya membuncah, senang. Dokter melepas jaketnya. Untukku.

Tangan kiri Minji perlahan meraih pergelangan tangan kanan Daesung, kemudian jari telunjuk kanannya menari di telapak tangan Daesung, menuliskan sesuatu. Gomawo.

Daesung tersenyum. “Iya.”

Perlahan, daesung membalikkan telapak tangan kanannya dan menyejajarkan dengan telapak tangan kecil Minji, kemudian sia menyelipkan jari-jarinya diantara jari-jari mungil Minji. Dalam diam, tangan mereka saling menggenggam.

Minji menunduk menatap tangannya yang hampir tak terlihat di dalam genggaman Daesung, senang. Malu. Jantungnya berdebar. Dia tersenyum kecil, tanpa suara.

“Minji?”

Minji menengadah melihat siapa yang memanggilnya. Matanya kontan terbelalak melihat orang di depannya. Jantungnya langsung berdebar kencang. Seluruh badannya gemetar  ketakutan. Nafasnya memburu. “Ap… appa?”

Tidak mungkin! Kenapa appa ada di sini?!

Aku harus pergi! Kalau tidak papa akan…

“Minji!” ayah minji langsung menyergap tangan Minji kasar. “Apa yang kamu lakukan disini? Ayo pulang! Cepat!”

Minji melangkah mundur. Keringatnya mulai keluar. “Tidak…”

Nada suara ayah Minji meninggi. Suaranya menggelegar. Dia menarik tangan Minji kasar. “MINJI! kamu tidak mendengar kata-kata papa!”

Minji terkejut mendengar suara ayahnya yang menghujam telinga dan jantungnya. “Aku tidak mau!!”

“Tunggu…” daesung yang sejak tadi terdiam melihat ayah Minji, kini emosi melihat perlakuan ayah gadis itu.

Ayah Minji menoleh memandang Daesung. Melihat ayahnya yang lengah, Minji berusaha melepaskan tangannya dari genggaman ayahnya dan berhasil. Minji langsung berlari ketakutan meninggalkan ayahnya dan Daesung.

Ayahnya terkaget melihat Minji berlari meninggalkannya. Begitu pula Daesung. Dia langsung menunduk sebagai ucapan selamat tinggal pada ayah Minji dan berlari mengejar Minji. “Minji!”

Saat itulah, mobil Youngbae sampai di depan gerbang. Dia bisa menyaksikan ayah Minji, Minji yang berlari dan Daesung yang mengejar Minji.

Itu bukankah ayah Minji? untuk apa beliau disini?

Minji langsung membuka pintu belakang mobil Youngbae, masuk ke dalamnya dan langsung menutup pintunya, diikuti Daesung yang masuk di kursi depan di samping Youngbae. “Cepat pulang!” Minji berteriak.

“Eh?” Youngbae masih dalam kebingungannya.

“SAENGNIM! Cepat pergi dari sini!!” Minji berteriak.

Youngbae langsung mengerti dan menancap gasnya dan pergi dari tempat itu.

Daesung melihat ke belakang. Minji langsung meringkuk di kursi belakang. Dia memegangi lututnya yang tertekuk. wajahnya terelungkup diantara kedua lututnya. Badannnya gemetar, menggigil ketakutan. Giginya bergemeletuk saking gemetarnya. Keringat dingin pun membasahi seluruh tubuhnya. Jantungnya berdebar kencang, nafasnya masih terus memburu. Dia sangat ketakutan.

Dia tak bisa berpikir jernih. Yang dia bisa pikirkan adalah dia harus menjauh dari tempat itu sekarang juga.

“Minji, apakah itu ayahmu?”

Minji tidak menjawab. Dia terus meringkuk di pojok mobil.

Saat itulah Daesung tahu, dia tidak boleh terus bertanya.

***

Minji POV

Aku meringkuk di balik kasur. Tidak melakukan apapun, dan benar-benar tidak ingin melakukan apapun. Pikiranku kosong. Hanya terisi kenangan-kenangan buruk tentang appa. Semuanya berputar seperti film. Bahkan aku bisa mengingat setiap detail warna dan suara dalam kenangan itu.

DOKK! DOKK!

Aku menoleh ke arah pintu. Siapa yang mengetuknya?

“Minji? kamu tidak sekolah? Ini sudah tiga hari kamu mengurung diri.”

Dokter!

Aku langsung bergerak keluar dari selimut, ingin segera berlari dan memeluknya. Ingin menangis di bahunya. Aku kangen dia. Namun sesaat kemudian langkahku terhenti. Aku harus bilang apa bila dokter bertanya tentang appa? Aku tidak ingin mengupasnya lagi. Tidak, dokter sudah banyak sekali yang harus dia pikirkan. Aku tidak ingin menyusahkan dokter dengan masalahku ini. Tidak!

Aku terkulai lemas di samping kasurku. Keadaan ini benar-benar membuatku tersiksa. Perlahan air mataku keluar dan jatuh ke pipiku. Terisak tanpa suara.

Perlahan aku mendengar suara langkah dokter pergi menjauh. Sesaat kemudian, samar aku mendengar pintu apartemen dibuka, kemudian ditutup kembali.

Tangisku pecah. Air mataku membuncah. Aku berusaha menahan isakku, hingga aku bisa mendengar nafas pendekku.

Sesak! Sesak! Tolong!

Aku ingin menghilang. Aku tidak tahan lagi! Aku ingin semuanya lenyap!

Appa, dan aku…

***

Normal POV

“Mengurung diri?” Seunghyun langsung berhenti mengecek alat-alat kesehatan yang tersisa di loker departemen.

“Iya, dia tidak keluar sama sekali. Tidak sekolah. Bahkan aku tidak mendengar suara apapun dari kamarnya.” Daesung emngacak-ngacak rambutnya stress. “Ini membuatku khawatir!”

Seunghyun berjalan mendekati Daesung. “Humm… mungkin dia mengingat ayahnya?” dia mencoba mengalihkan pembicaraan. “Ngomong-ngomong, kenapa kamu perhatian sekali sekarang sama anak itu?” dia tersenyum nakal, sikunya menyenggol lengan Daesung.

“Eh? Karena… dia… teman seapartemenku?” Daesung salah tingkah. Jantungnya mulai berkontraksi lebih cepat.

“Oh ya? Hanya itu? Bukan karena ini?” Seunghyun tidak melanjutkan pembicaraannya. Tapi dia membentuk lambing ‘hati dengan kedua jari telunjuknya.

Bluusshh! Wajah Daesung memerah seketika. Jantungnya langsung berdetum kencang. “ANDWAE!!”

Seunghyun tertawa terbahak melihat ekspresi Daesung. “Huahahahahaaa…! Lihat wajahmu! Merah sekali! Kamu masih ingin menyangkal??”

Daesung cemberut. Mencoba menutupi malunya, karena ekspresinya yang membuatnya ketahuan. “Hyungniiiiiimmmm!!!”

Tawa Seunghyun semakin meledak. “Huahahahahaahaa…!!!”

“Kamu ini suka sekali menggodaku!”

“Iya, iya… mian. Bagaimana kalau kamu melakukan ini?” Seunghyun menceritakan solusi yang dia pikirkan.

***

Daesung berlari memasuki apartemen. Dia tidak sabar untuk melakukan apa yang Seunghyun ceritakan. Pikirannya sekarang hanya satu. Bertemu Minji!

Daesung membuka pintu apartemennya dan bergegas ke kamar Minji. Namun sesampainya di depan pintu kamar, ternyata dia tidak sendiri. dia melihat Youngbae.

“Apa yang kamu lakukan?” Youngbae mengajukan pertanyaan lebih dulu.

Daesung tidak menjawab. Dia langsung melangkah menuju depan pintu, dan mengetuknya kasar. DOOKK! DOKK!

“Tunggu! Tunggu, Daesung-ssi!” Youngbae berusaha menahan Daesung. Namun daesung bergeming. Mendengar tak ada respon dari dalam, Daesung mundur beberapa langkah, dan berlari mendobraknya.

BRAAAKKK!

Minji menoleh ke arah pintu yang telah terbuka. Dia melihat Daesung terengah tepat di depan pintu. Lelaki itu kini berjalan mendekatinya dan berhenti tepat di sampingnya, diikuti Youngbae di belakangnya.

“Dokter?” Minji berkata lirih.

Daesung sekilas mengamati keadaan Minji yang berantakan. Duduk di lantai, dan menutup dirinya di balik selimut. Dia menghela nafas. “Laki-laki itu… appamu?”

Minji tidak menjawab.

Daesung melanjutkan. “Dia kan penyebab kamu kehilangan permainan pianomu?”

Minji tetap terdiam. Semua perkataan Daesung seperti langsung menghujam tepat di jantungnya.

“Satu-satunya cara agar permainan pianomu kembali… adalah kamu harus bertemu dengan appamu.”

Minji terbelalak. “Apa?

Youngbae yang sejak tadi terdiam langsung bereaksi. “Daesung, apa maksudmu?!!”

Daesung melirik Youngbae sejenak, lalu berbicara lagi. “Apa itu akan mengubah sesuatu?” Dia menarik selimut Minji menjauh hingga dia bisa melihat pose Minji yang duduk dan menengadah ke arahnya. “Kalau kau hanya diam dan menunggu, apa akan mengubah sesuatu?

“Berdiri! Nggak ada alasan buatmu tenggelam dalam kegelapan. Itu nggak sesuai denganmu.”

Minji terperangah. Jantungnya berdetum kencang di setiap kata yang Daesung ucapkan.

Kenapa dia selalu bisa menggerakkan hatiku? Kenapa aku selalu jatuh ke dalam kata-katanya?

Daesung mengulurkan tangannya ke arah Minji. perlahan, tangan Minji bergerak membalasnya. Minji berusaha untuk berdiri. Namun belum selesai dia berdiri, tangan Daesung bergerak ke bawah tangan Minji dan mengangkatnya lembut hingga kaki Minji melayang di tanah. kemudian lengan kanan Daesung bergerak ke bawah paha untuk menopang badan gadis itu, dan tangan kirinya dilingkarkan ke punggung Minji.

Minji terkejut ketika Daesung menggendongnya. Perlahan air mata Minji meleleh. dia memandang lekat mata lelaki yang disukainya itu.

Apa aku menangis bahagia dengan apa yang dia lakukan?

—————————————————————————————————

To be continued-

Bagaimana bagaimana?

Semoga seneng dengan part 4 ini yaaa…

Hum… dengan selesainya anda membaca part 4 ini, berarti anda telah bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal padaku. Karena saya akan pergi meninggalkan kalian…

Selama satu minggu lebih.

Untuk neuro exam.

Huahahahaahahaaa…. 😀

Ya begitulah, kemungkinan dengan schedule ujian yg begitu padat *dimulai senen ini*, diperkirakan dgn sangat akurat, aku nggak bakal sempat bikin FF .
jadi ketemu lagi dengan part selanjutnya yaa paling cepet seminggu lagi, paling lama ya nggak tau deh kapan. Hhee..
mian yaaa… 😀

Overall , keep comment me and please wait for my fifth part *yang sepertinya lama*
huehehee…

Oya, aku deg2an banget nih denger, liat, merasakan, berpikir ttg exam.
jadiiiii…. sekali lagi, mohon doanyaaa… ^^

Khamsahamnida… ^^

Keterangan:

La Campanella (artinya “Little Bell”) adalah sebutan yang diberikan kepada etude ketiga dari rangkaian enam Grandes Etudes de Paganini (Grand Paganini Etudes “), S.141 (1851), yang disusun oleh Franz Liszt. Karya ini adalah revisi dari versi sebelumnya dari 1838, d’Etudes transcendente eksekusi d’après Paganini, S. 140. Melodi nya berasal dari final movement Niccolo Paganini’s Violin Concerto No.2 dalam B minor, di mana lagu itu diperkuat oleh sebuah handbell kecil.

Etude ini dimainkan dengan langkah cepat dan tangan kanan melompat antara interval yang lebih besar dari satu oktaf, kadang-kadang bahkan meregang selama dua oktaf dalam waktu catatan pada not keenam belas, pada tempo Allegretto (cukup cepat). Secara keseluruhan, etude ini bisa dilakukan untuk meningkatkan ketangkasan dan ketepatan melompat besar di piano, dengan meningkatkan kelincahan jari-jari tangan yang lemah. Interval terbesar yang dicapai oleh tangan kanan adalah fifteenths (dua oktaf) dan sixteenths (dua oktaf dan kedua). Not Keenambelas diputar antara kedua not, dan not yang sama dimainkan dua oktaf atau dua oktaf dan kedua yang lebih tinggi tanpa istirahat. Namun, tangan kiri sekitar empat interval yang sangat besar, lebih besar daripada yang di tangan kanan. Tidak ada waktu disediakan untuk pianis untuk bergerak tangan, sehingga memaksa pianis untuk menghindari ketegangan di dalam otot.

Iklan