Anyeeooongg ! saya kembaliii !! 😀

sumpah, aku kangen banget sama yg namanya nulis. bahkan waktu belajar buat ujian yang aku pikirin malah cerita ini! astajiiimmm… -___-”

ngomongin ujian, benernya bseok hari terakhir aku exam. tapi karena ujian yg tadi itu super duper susah dengan bahan yang super duper banyak dan membuat mataku melebihi baby panda Seungri, udah selesaiiii… jadi aku berasa agak legaaa…
hahaa…

oiya, inget doongg sama couple yg iniii… couple lama yang waktu mereka pisah itu bikin aku nangis darah. huhuuhuu..
dan cerita ini, sebenernya uda kepikiran sejak lama. tapi aku baru aja nulis sekarang.
hehee..

ya sudah yaa… happy reading ! 😀

—————————————————————————————————-

Jo Kwon POV

Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Bahkan setelah tiga tahun kami berpisah.

***

Aku memandang jendela kamarku. Tak melakukan apapun, hanya mengingat seseorang. Seseorang yang sangat luar biasa untukku. Seseorang yang mampu berjalan bersamaku yang kekanakan ini selama setahun tiga bulan. Seseorang yang usil, senang sekali mengagetkanku, tapi juga sosok yang dewasa. Seseorang yang sangat aku cintai. Bahkan setelah sekian lama kami berpisah.

Son Gain noona.

Aku memandang ke bawah jendela. Sambil memandang jalanan, aku berusaha membuat suatu halusinasi. Halusinasi yang sangat indah. Aku menghilangkan semua gambar manusia yang berlalu lalang di sana, membuatnya seolah jalanan itu sangat sepi, tanpa manusia. Dan kemudian di bawah sana ada Gain noona, tersenyum padaku. Tangannya melambai padaku memberikan tanda bahwa dia ada di sana. Tentu saja aku bisa melihatnya. Karena aku bahkan bisa melihatnya walau hanya bayangannya yang tersisa. Dia memeluk suatu kertas besar yang aku tak tahu itu apa.

“Yeobo, Kamu melihatku?” dia berteriak kepadaku yang berada di atas jendela.

“Apa itu?”

Gain noona mengangkat kertasnya tinggi-tinggi. “Apa kamu tidak bisa melihatnya?”

“Aku melihatnya…”

“Baca keras-keras..~”

“Untuk…” aku membca tulisan yang ada di dalam kertas itu. Kemudian dia membalik kertasnya, dan ada kertas lagi di baliknya. Aku membaca setiap kata yang tertulis di kertas-kertas yang noona bawa. “Bersamaku… gomawo. Mulai sekarang… aku akan melakukan… yang lebih baik…”

“Kamu benar-benar melihatnya?” dia terus membalik-balikkan kertas tulisannya sambil bertanya padaku.

Tentu saja aku melihatnya.

Gain noona membalikkan kertas-kertasnya lagi. Aku melanjutkan membacanya. “Sa… e… ngil… chu… kkae… “. Kini aku bisa merasakan semburat merah di wajahku.  “Yeo-bong…” aku tertawa melihat tulisan yang baru saja kubaca.

Noona membuka lembaran terakhirnya. Kertas itu tidak berisi tulisan, tapi gambar. Gambar hati berwarna pink yang besar dan hempir menutupi kertas.

“Tadaaaa…~~!!”

Sekarang aku benar-benar tersipu malu…

“Gomawooo!! Jeongmal gomawooo, yeoboo!!”

Aku tersenyum kecil melihat halusinasiku sendiri. Ya, itu yang dia lakukan ketika ulang tahunku. Kejutan yang sangat manis. Kejutan terindah yang pernah aku dapat, terlebih itu dari wanita yang terindah pula, yang sangat special.

Huuufftt… Gain noona, aku merindukanmu…

Aku tak tahu apakah dia mencintaiku. Tapi aku merasa dia tidak mencintaiku. Bahkan sepertinya dia membenciku. Dia tidak mau melihat wajahku. Aku tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Aku tidak tahu apa yang salah. Apa yang kuperbuat. Aku tidak tahu.

Tiga tahun lalu, di awal-awal kami berpisah, kami masih punya beberapa job yang membuat kami berada dalam satu scene dan mengharuskan kami bermesraan selayaknya suami-istri. Ya, kami melakukannya. Dia tersenyum ceria padaku, memegang tanganku, memelukku, berbincang seperti sebelum berpisah.

Kau tahu, aku sangaaaaatt senang selama scene-scene seperti itu berlangsung. Aku bisa melihat dalam jarak yang dekat. Melihatnya tersenyum padaku dengan senyumannya yang menawan. Aku sangat senang, karena waktu serasa kembali. Aku menikmatinya. Menikmati setiap waktu yang berlalu. Menikmati setiap scene yang berjalan.

Namun, setelah syuting berakhir, dia segera berlalu. Menghilang. Ketika aku mencarinya, dia sudah tidak ada. Ketika aku menemukannya, dia memalingkan mukanya dariku. Sebelum aku sempat menyapanya, dia sudah pergi menjauhiku. Bahkan jika aku menyapanya, dia akan menatapku dengan tatapan sinis. Seolah dia sangat membenciku.

Sangat menyakitkan…

Aku tahu, semua senyumannya, gerakannya, setiap kata-katanya adalah bagian dari profesionalismenya dalam pekerjaan. Bahkan mungkin baginya, memanggilku ‘yeobo’ adalah kewajiban. Tidak dari hatinya. Atau semua perlakuannya, sikap manjanya, semuanya, selama ini, memang tak ada yang berasal dari hatinya. Itu hanya tuntutan misi yang menyuruh kami melakukan sesuatu. Ya Tuhan, sakit sekali bila memang begitu kenyataannya.

Padahal bagiku, memanggilnya ‘yeobo’ adalah kebahagiaan, karena aku bisa memanggil seseorang yang aku cintai dengan sebutan yang sangat istimewa. Kebanggaan, karena bisa memanggil seorang Son Gain, dengan panggilan semanis itu. Semua yang kulakukan untuknya, semuanya, adalah setulusnya apa yang kurasakan. Bukan hanya sekedar misi yang harus kami selesaikan. Bukan sekedar profesionalisme. Namun sepertinya dia tidak pernah melihatnya.

Di saat seperti itu, aku merasa seperti Cinderella. Yang akhirnya harus kembali ke dalam kenyataan pahit bahwa hidupnya menyedihkan ketika pesta yang gemerlap berakhir. Menerima kenyataan bahwa semuanya adalah semu. Tidak ada yang nyata. Semua kebahagiaan seolah lenyap, berganti dengan kenyataan yang sesungguhnya sangat pahit. Dia tidak akan pernah lagi melihatku.

Selalu seperti itu.

Aku masih bisa jelas mengingat ketika aku bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Ketika dia tanpa sengaja masuk ke ruang rias 2AM di acara Inkigayo. Ketika aku hanya sendiri ketika dia datang. Ketika pada akhirnya, dia harus bertatap muka denganku, tanpa kamera di sekeliling kami.

JGLEEKK.

Aku yang tadinya sedang menatap handphone ku, atau lebih tepat menatap wajah Gain noona di wallpaper handphoneku, spontan menoleh ke arah pintu. Betapa terkejutnya aku melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan. Seseorang yang tak pernah kubayangkan bisa bertemu dengannya, disini. Seseorang yang selalu mengisi malamku dengan kehausanku akan senyumnya.

“Noona?!” seketika aku langsung berusaha menyembunyikan handphoneku, takut terlihat olehnya.

Dia semula membuka pintu sambil menunduk kelelahan, kontan langsung melihat siapa yang memanggilnya. “Kwon-ah?!” dia terlihat sangat terkejut, matanya terbelalak, tidak menyangka dia akan bertemu dengan ‘mantan suami’nya di sini. “Untuk apa kamu disini?!”

Kebingungan, aku menjawab sejujurnya. “Ini ruangan 2AM, noona.” Aku balik bertanya. “Kenapa noona masuk ke sini?”

Terkejut, dia langsung mengecek papan nama di pintu. 2AM. Kemudian dia menyadari kesalahannya sendiri. Aku bisa melihat semburat merah di wajahnya yang putih. “Mian, kwon-ah. Aku salah ruangan.” Dia langsung berbalik dan berniat pergi.

“Tunggu!” aku mencegatnya.

Dia menoleh ke arahku. “Wae? Aku sudah tahu, aku yang salah. Apalagi?”

“Bukan itu yang ingin aku bicarakan, noona. Aku ingin…” belum sempat aku menyelesaikan bicaraku, namun dia dengan cepat memotongnya.

“Sudahlah, kwon-ah. Bukankah sudah tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan. Aku mau pergi.”

“Noona?!” aku berusaha memanggilnya.

Gain noona tidak menghiraukan panggilanku dan pergii menghilang dari balik pintu yang ditutupnya. Tinggal aku di ruangan itu yang tetap terpaku melihat pintu yang baru saja ditinggalkannya.

Sebenci itu kah noona padaku?

Kamu tahu, saat ini aku menyesali perbuatan bodohku. Harusnya aku bisa membuka pintu yang menutup itu, berlari mengejar Gain noona, memeluknya dari belakang, seerat-eratnya hingga dia tidak bisa melepaskannya sekuat apapun dia melawan, dan mengatakan aku mencintainya. Bukannya malah terdiam terpaku tak berdaya.

Tapi aku terlalu takut. Terlalu takut untuk semakin dibenci olehnya. Karena terlalu banyak penolakan yang sudah aku rasakan darinya. Membuatku menjadi seorang pengecut. Takut untuk maju dan mengejarnya. Pabo! Pabo!!

Aku tahu, hari ini noona ulang tahun. Tapi aku bahkan terlalu takut untuk mengucapkan selamat padanya. Benar-benar takut. Bahkan ketika aku ingin menulis pesan pendek di handphone ku, jari-jariku langsung kaku, tak bisa bergerak. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak jadi menulisnya.

HAIIISSHH !! JO KWON PABO !!

Jika noona tahu, aku tak bisa melupakanmu, noona. Tak pernah bisa. Sekeras apapun aku mencoba. Pada akhirnya aku sendiri yang merasa sakit. Sakit! Seolah ribuan jarum menusuk jantungku dan seluruh tubuhku. Seperti ada yang meremasnya hingga remuk redam. Sakit sekali! Aku sudah berusaha menahannya dengan mengepalkan tanganku seeratnya hingga telapakku berdarah karena kukuku sendiri, membenturkan kepalaku di dinding, memecahkan kaca dengan genggamanku sendiri. Apapun sudah kulakukan! Tapi rasa itu tidak bergeming, tetap ada, dan tetap sangat sakit. Terlalu sakit, hingga rasanya melewati ambang batas rasa sakit yang bisa aku rasakan. Namun bahkan dalam rasa sakitku, aku masih bisa memanggilmu lirih di sela nafasku dan rintihanku. Seperti kamu akan mendengarnya ketika aku memanggilmu.

Sakit, noona! Sakit! Tolong aku, noona…

Hingga aku menyerah pada rasa sakitku. Kubiarkan diriku menjadi seorang pecundang yang selalu mencintaimu walau kamu tidak akan pernah melihatku. Aku menyadari, sekeras apapun aku mencoba menghilangkan bayanganmu, itu tidak akan pernah berhasil. Tidak akan pernah bisa. Karena perasaan ini terlalu bercokol kuat di hatiku. Aku terlalu mencintaimu…

Semua kenangan kami, semua berputar seperti foto. Ketika dia menciumku di hari ‘pernikahanku’ dengannya. Ketika kami ke TK bersama dan aku membuat anak TK menangis. Ketika dia mengajariku tarian di album solonya. Ketika aku membuat lagu bersamanya. Ketika kami menyanyikan lagu tersebut. Ketika aku melakukan hal yang sama di akhir hari ‘pernikahan pura-pura’ kami. Ketika dia tersenyum melihat apa yang kulakukan. Ketika dia mengagetkanku, ketika dia mengancamku. Semuanya! Semuanya seperti film hitam putih yang terus diputar.

Rasa sakit di dadaku kembali muncul selalu begitu. Selalu sakit bila mengingatnya. Namun anehnya, aku tidak pernah bisa berhenti mengingatnya. Perih sekali ketika aku, tanpa kusadari, harus mengingatnya. Seperti aku berkubang dalam kebahagiaan semu. Dimana pada akhirnya, kamu harus menyadari, bahwa semua itu adalah khayalanmu. Aku hanya bisa tersenyum pahit dengan cairan bening yang keluar dari mataku.

“Jo kwon!”

Aku langsung menoleh ke arah suara. Changmin hyung. Tidak sendiri, di belakangnya masih ada Seulong hyung dan Jinwoon. “Nee?”

“Kamu ini setiap hari kerjanya melamun terus. Hari libur seperti ini harusnya kamu bersenang-senang, bukannya di kamar dan tidak melakukan apapun seperti ini!”

“Benar, hyung! Keluar, cuci mata, atau… cari yeoja chingu. Hehehee…” Jinwoon menimpali.

Aku menjawab malas. “Nggak minat.”

Changmin hyung . “Kamu ini, sudah tiga tahun kalian berpisah dari dari hubungan suami istri pura-pura itu, dan kamu masih bisa mengingatnya. Padahal kan belum tentu juga dia mengingatmu. Huh!”

Seketika darahku berdesir kencang, amarah memenuhi tubuhku. Beraninya dia! Suaraku meninggi. mataku menyipit marah memandangnya. “HYUNG! Jangan bicara seperti itu tentangnya! Aku tidak suka! Dan jangan berkomentar tentang perasaanku padanya.”

Seulong hyung yang sejak tadi diam langsung melerai kami. “Sudah, sudah. Kalian ini! Seperti anak kecil saja. Ckckck.” Dia memandangi kami berdua tajam. Tatapannya membuat kami terdiam. Kemudian dia mengalihkan pandangannya padaku. “Ayo ikut aku.”

“Hah? Kemana?”

“Aku ada pesta ulang tahun di tempat temanku. Jadi aku ingin mengajakmu, Changmin hyung, dan Jinwoon untuk ikut denganku. Cepat mandi dan ganti bajumu.”

“Ayo hyuungg, ikuuuttt!” Jinwoon menyahut.

“Aiiiiisshh… malas ah hyung. Kalian bertiga saja yang pergi. Aku di sini saja.” Aku membuang muka.

Mereka ini! Ulang tahun Gain noona saja aku tidak bisa merayakannya. Bahkan mengucapkan ‘Saengil chukae’ saja tidak. Bagaimana mungkin aku datang ke pesta orang lain?

“Jo Kwon…” Matanya menyipit padaku, membuatku tidak bisa melawan kata-katanya.

Aku menghela nafas menyerah. Tidak ada gunanya melawan Seulong hyung. “Huufftt… baiklah hyung. Tunggu setengah jam lagi.”

Aku langsung melepas bajuku dan pergi mandi. Tentu saja dengan ogah-ogahan.

***

“Disini tempatnya?” aku menunjuk gedung kecil di pinggiran kota Seoul. Bukan gedungnya yang aku permasalahkan. Tapi suasananya. Suasananya tenang, seperti tidak ada tanda-tanda pesta, ataupun kemeriahan di tempat itu.

“Iya. Ruangannya di lantai dua. Tiap ruangan di gedung ini kedap suara. Jadi kamu tidak mendengar apa-apa disini.” kemudian dia menarikku masuk ke dalam. “Ayo masuk.”

Aku berjalan di belakang Seulong hyung sambil mengamati sekeliling gedung. Ini gedung apa sih? Banyak sekali pintu-pintu. Beberapa pintu tak ada suara. Di pintu yang lain samar terdengar suara music mengalun. Gedung aneh. Apa ini gedung latihan senam? Siapa sih yang melakukan pesta di tempat seperti ini? Untung saja aku tidak memakai baju yang terlalu formal. Rasanya lucu saja, kalau aku memakai setelan jas ke tempat seperti ini.

Haiisshh… seandainya saja aku bisa merayakan ulang tahun Gain noona. Apa yang sedang dia lakukan sekarang?

“Yak, disini tempatnya.” Seulong hyung menunjuk salah satu pintu di lantai dua. Samar-samar aku mendengar suara-suara yeoja. Sesekali ada gelak tawa. Beberapa terdengar familiar. Namun aku tidak bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.

“Kamu sudah siap?”

Aku merasakan firasat aneh. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu. Tapi apa? “Untuk apa menungguku untuk siap?”

“Tidak ada apa-apa.” Seulong hyung menaikkan bahunya. “Ya sudahlah, ayo masuk.” Dia membuka pintu ruangan lebar-lebar.

Pintu terbuka…

Mataku terbelalak. Kaget, amat sangat kaget. Jantungku langsung berdebar kencang hingga aku bisa merasakan aliran darah yang berdesir melewatinya. Ruangan itu tidak cukup ramai, hanya beberapa orang. Mereka semua langsung menoleh ke arahku. Tapi bukan itu yang membuatku kaget. Tapi karena disana ada seseorang yang juga memandangku dengan terbelalak.

Gain Noona.

“No… Noona?” aku mengucapkannya dengan susah payah. Tak percaya pada penglihatanku sendiri.

Dia tak kalah kagetnya denganku. Dia bahkan membalasku dengan setengah berteriak “Kwon-ah?!”

Keheningan seketika menyergap kami berdua.

——————————————————————————————————-

bagaimana, bagaimanaaaa…? 😀

at last, jangan lupa kasi comment yaaa… di-cendol a.k.a di-like juga boleee…
hhee..

oiya, mian chinguu, aku nggak nyaman kalo dipanggil “Thor” , berasa kayak aku penari tor tor ajaa gituu.. hehe..
manggil langsung Adiez aja, ato eonni juga boleh..
mian yaaa.. hehe..

gomawoyoooo… ^^

Iklan