hurraaaayyy!!! ujianku selesaaaaaaaaiiiiii….!!

ditutup dengan manis dengan ujian yang lancar, terus nge-mall, melepaskan stress 4 hari, sampek maghrib dan hari iniiii….. ditutup denganposting baruuu.. 😀
soooo perfect day !!

hahaaa…

mian chinguu, ‘sad harmony’ nya belum selesai. jadi belum bisa posting. uhuks.. T___T
tapi, jangan khawatir, sempatkan diri chingu dulu dengan baca FF lepas ku yg iniii.. 🙂

happy reading ! 😀

—————————————————————————————————————

Lihat aku. Lihat aku sebagai diriku, bukan sebagai orang lain, ataupun bayangan orang lain.

***

Chulyong POV

Aku berjalan melewati hotel besar di kota Incheon. Aku menengadah ke langit. Langit begitu biru dengan awan putihnya yang berarak. Aku menghirup nafas dalam-dalam. Cuaca yang cerah. Benar-benar uaca yang bagus untuk melukis.

Kupercepat langkahku menuju tempat kesayanganku di belakang hotel besar menjulang itu. Aku benar-benar tidak sabar untuk menuangkan inspirasiku dalam sketch book yang kutenteng ini. Tempat itu begitu menyenangkan, dan tidak banyak yang tahu, tertutup oleh kemegahan hotel. Letaknya di pinggir jalan sepi di belakang hotel, dijejeri pohon-pohon besar dan rindang, kemudian tanah rumput yang landai menurun, dan diakhiri dengan danau bening yang cantik. Tempat yang perfect untuk bersantai.

Aku tersenyum sendiri membayangkan inspirasi yang akan kudapatkan disana.

Sesampai di tempat kesayanganku, dahiku mengerut. Aku melihat seseorang sedang tidur di tanah landai dengan wajah yang ditutupi topi pantai.

Siapa itu? Waahh, berani sekali dia mengambil tempat kesayanganku! Ck!

Aku bergegas mendekatinya. Posturnya kecil, rambutnya terurai di samping kepalanya. Memakai jeans dan blouse peach panjang, dia menutup wajahnya dengan topi pantai anyaman yang besar.

Yeoja? Berani sekali tidur di sini sendirian? Bagaimana kalau ada ‘sesuatu’ menyerangnya?

Jariku mencolek lengannya pelan, mencoba membangunkannya. “Hei, bangunlah. ini tempatku.” Tak ada reaksi. “aku mencoleknya sekali lagi. “Hei!”

Gadis itu melenguh. Dia membuka topinya dan meletakkannya di dadanya, kemudian melirik arlojinya. “eeeumm… ini masih jam tiga. Kan syutingnya jam lima. Biarkan aku istirahat sebentar lah!” Gadis itu langsung tertidur lagi tanpa menggunakan topinya.

Jam tiga? Jam lima? Hehh?!!

Woi, aku bilang ini tempatkuuuu! Aku menyuruhmu pergi! Kenapa kamu malah tidur lagi??!

Aku membuang pandanganku sebal. Bisa-bisanya dia. Hufftt… biar saja lah. Toh hanya dua jam lagi ketenanganku terganggu.

Akhirnya aku memilih duduk di samping gadis itu. Aku membuka sketch book ku, dan mulai mencari inspirasi untuk menggambar. Apa yang harus kugambar hari ini? Mataku berputar melihat sekeliling, kemudian pandanganku tertuju pada gadis itu. Senyumku mengembang.

Hum… objek yang bagus.

Aku memindah posisiku menghadapnya, membuat bingkai dirinya dengan jariku, dan mulai mencoret-coret sketch book ku dengan hikmat. Cantik…

Tadi dia bilang syuting? Syuting apa? Dia artis? Apakah aku mengetahuinya? Tapi memang terlihat familiar sih…

Jam terus berputar. Namun aku tak bisa berhenti menggambarnya dari berbagai sudut. Gadis ini begitu cantik, sempurna. Hingga aku tak bisa menemukan celah dalam coretanku.

Aku masih menggambarnya dari samping kanan. Gadis itu tiba-tiba terbangun dan terduduk. aku terkejut. dia menoleh ke arahku dan matanya tiba-tiba terbelalak. “Hong… hong…”

Belum selesai keterkejutanku, aku sekarang kebingungan. “Hong…?”

Tiba-tiba, dia menutup mulutnya. Tersadar dari keterkejutannya. “Joseonghamnida.” Dia menunduk sedikit ke arahku. Kemudian dia seperti teringat sesuatu. Matanya bergerak melihat arlojinya. “Aaahh! Jam lima! Aku harus pergi!” mimiknya panic, kebingungan, dia langsung menyambar topinya yang tergeletak di tanah, dan pergi meninggalkanku tanpa berkata apa-apa.

Aku hanya melongo melihat adegan singkat yang aneh itu. Kugaruk kepalaku yang tidak gatal.

Hong…? Mian? Jam lima? Yeoja yang aneh…

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku keheranan. Namun sesaat kemudian, aku melirik gambar di sketch bookku. senyumku mengembang. Cantik…

***

“Eee…”

Aku menoleh ke arah suara. Gadis aneh itu lagi. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Joseonghamnida, aku kemarin terburu-buru. Jadi aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal padamu. jeongmal joseonghamnida.”

“Ah, tidak masalah.” Aku tersenyum simpul.

“Eee… silyehamnida, boleh aku tahu namamu?”

“Bang Chulyoung imnida. Tapi, orang-orang lebih sering memanggilku Mir. Kata mereka namaku terlalu sulit untuk diucapkan.”

“Humm.. Sepertinya aku ingin memanggilmu Chulyoung-ssi saja. Jeoneun Park Jiyeon imnida.” Dia terhenti sejenak. “Oh ya, kemarin juga aku hampir salah menyebut namamu. Kamu mirip dengan temanku. Joseonghamnida.”

“Ohh… yang ‘Hong’ itu? Memangnya siapa nama temanmu?”

Dia mengangguk. “Nee. Tidak perlu disebutkan lah yaa…” dia tersenyum ke arahku.

***

Setiap hari dia selalu datang ke tempat kesayanganku. Menghampiriku ketika melukis. Semakin hari, kami semakin dekat…

“Kenapa kamu selalu kesini?”

“Aku tidak suka dengan makanan hotel. Jadi aku lebih baik makan di luar, kemudian duduk-duduk di sini. Jam segini kan syutingku sedang istirahat.”

“Mau kubawakan makanan?”

Matanya berbinar. “Jincha?”

Membuatku memberikan perhatianku padanya…

“Ini makananmu hari ini.” Aku memberikan sekotak bekal yang kubawa dari rumah.

“Kamu membuatnya sendiri?”

Aku mengangguk.

Dia mengambil salah satu kimchi yang kubuat. “Waaahhh… enaaakk!!”

Aku tersenyum bangga.

Membuatku merasakan ada yang lain di hatiku…

“Sedang menggambar apa?” Jiyeon menghentikan makannya dan mendekat ke arahku.

“Aniyo. Bukan apa-apa.”  Cepat-cepat aku menyembunyikan sketch bookku di balik punggungku.

“Aiiihh… aku tidak boleh melihatnya?”

“Andwae! Rahasia! Hehe…”

Jiyeon-ssi cemberut, dia mengerucutkan bibirnya. Ya tuhan, lucu sekali. Aku tersenyum, memperlihatkan deretan gigiku. Aku melirik sketch bookku. mana mungkin aku bisa memperlihatkan sketch book ku yang dipenuhi oleh gambarnya?

***

Jiyeon POV

“Jiyeon-ah!”

Langkahku terhenti. Aku hendak menuruni rumput landai biasanya itu. “Hongki oppa?”

“Sedang apa kamu di sini?”

“Melihat-lihat saja. Pemandangan disini indah sekali. Lagipula syuting masih dua jam lagi kan, oppa?”

“Nee. Benar juga, pemandangannya bagus.”

“Oppa!”

Hongki menoleh ke arah suara. “Hwayoung?”

Hwayoung berlari menghampiri kami. Cepat-cepat aku melangkah mundur. Aku tidak mau terlihat terlalu dekat. “Hei, Jiyeon-ah!” dia melambaikan tangannya padaku, kemudian kembali menatap Hongki. “Oppa, aku ingin jalan-jalan. Mumpung kita di Incheon, oppa…” dia menggenggam tangan Hongki dan mengayunkan-ayunkannya manja.

Gyutt. Rasanya dadaku tertusuk sembilu.

“Nee, baiklah.”

“Jiyeon-ah, kamu mau ikut?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak, eonni. Aku masih ingin disini. lagipula, aku tidak ingin mengganggu pasangan baru seperti kalian.” Aku mengerlingkan mataku pada mereka.

“Jiyeon-ah…”

Kemudian mereka melambaikan tangannya padaku dan pergi menjauh. Tentu saja, masih saling menggenggam. Tiba-tiba kulihat Hongki mengecup ringan kening Hwayoung eonni.

Jangan!

Aku menutup mataku erat, tidak ingin melihat adegan itu terlihat di mataku. Tanpa sadar, kakiku  melangkah mundur perlahan, benar-benar tak sanggup melihatnya. Hingga langkahku terhenti oleh pohon besar yang berdiri kokoh di belakangku. Begitu menyakitkan melihat orang yang kamu cintai bersama gadis lain, apalagi jika itu eonni-mu sendiri. Aku memegangi dadaku yang sejak tadi terasa sangat sakit. Aku benci rasa sakit ini. Di balik kelopakku yang tertutup, air mataku mulai meleleh di sudutnya.

Tring… triingg… ~~

Aku mengambil ponselku di celana jeansku. Eunjung eonni.

“Yoboseyo?”

“Nee. Masih di Incheon. Bersama Hongki oppa.”

“Nee, aku baru saja melihatnya.”

***

Chulyoung POV

Aku melihat sosok Jiyeon-ssi ketika aku berjalan mendekati danau. Kontan aku mempercepat langkahku mendekatinya. Namun secepat itu pula langkahku terhenti. Aku orang lain berjalan mendekatinya. Lelaki. Aku berjalan ke balik pohon di dekatku, bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan mereka.

Lelaki itu melambaikan tangan pada Jiyeon-ssi. “Jiyeon-ah!”

“Hongki oppa?” aku bisa mendengar suaranya yang terkejut melihat lelaki itu.

Hongki? Seperti tidak asing mendengarnya…

Hongki… Hong… ki… HONG??!

Aku melihat lelaki itu. Itukah orang yang katanya mirip denganku? Yang Jiyeon-ssi salah mengenaliku di hari pertama itu?

Mataku mencoba mengamatinya. Memang agak mirip sih. Tentu saja Jiyeon-ssi salah bisa salah mengenaliku.

Tak berapa lama kemudian ada wanita lain datang dan lelaki bernama Hongki itu meninggalkan Jiyeon-ssi sendiri.

Aku ingin mendekatinya. Namun lagi-lagi kuurungkan niatku ketika aku melihatnya berjalan mundur ke pohon dengan terhuyung. Ketika aku melihat air mata jatuh dari matanya sambil memegangi dadanya. Kenapa kamu menangis?

Handphonenya berbunyi. Dia mengusap air matanya dan mengangkat teleponnya. “Yoboseyo?”

Aku hanya bisa mendengar percakapan dari bibirnya.

“Nee. Masih di Incheon. Bersama Hongki oppa.”

“Nee, aku baru saja melihatnya. Hwayoung eonnie dan Hongki oppa. Mereka baru saja pergi.”

“Tentu saja masih sakit. Aku sudah mencintai Hongki oppa begitu lama, eonni.” Dia berhenti sejenak dan menarik nafas. “Dan Hwayoung eonni datang dan mengambilnya. Tapi sudahlah. Bukan salahnya juga kan, eonni. Hongki oppa yang memilihnya. Eonni sudah berjanji padaku untuk tidak mengatakan apapun pada Hwayoung eonni kan?”

“Eonni, aku bertemu seseorang yang mirip dengan Hongki oppa.”

Sepertinya dia membicarakan aku.

Jiyeon-ssi berjalan menjauh. “Anniyo, eonni. Aku tidak …” Aku tidak bisa mendengar kata-katanya lagi seiring jarak yang semakin jauh diantara kami.

Aku masih terdiam di bawah pohon. Mencoba menyimpulkan satu hal. Jiyeon-ssi tidak pernah melihatku. Dia hanya melihatku sebagai bayangan Hongki. Dia perhatian padaku hanya karena aku mirip dengan lelaki yang dicintainya. Damn! Aku benci kenyataan ini!

Aku mengacak rambutku kesal. Haiisshh !!

***

Sejak saat itu, aku menghindarinya. Aku selalu berbalik pulang ketika melihatnya sudah di duduk di tanah rumput itu. Dan baru kembali ketika dia sudah pergi.

Aku tidak mau melihatnya. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku tidak mau disamakan dengan lelaki itu. aku tidak ingin berharap lebih jauh bahwa dia akan melihatku. Karena kenyataannya, dia sama sekali tidak melihatku.

Namun cara itu tidak bertahan lama. Karena tiga hari kemudian, dia mendatangiku yang sedang sibuk melukis.

“Chulyoung-ssi!”

Aku menoleh. Namun kemudian aku mendengus pelan dan kembali tenggelam dalam lukisanku.

Dia mengambil duduk di sebelahku. “Chulyoung-ssi! Ada apa denganmu?”

“Tidak ada apa-apa.” Jawabku datar tanpa menghiraukannya.

“Bohong. Pasti ada apa-apa.”

“Ani.” Aku tetap tenggelam dalam pekerjaanku.

Kesal, nada suaranya meninggi. “Yaa! Dengarkan aku!! Kamu ini kenapa sih?!”

“Pergilah, Jiyeon-ssi. Aku tidak ingin melihatmu.”

“Apa maksudmu?! Yaa!!” dia menyergap dua pundakku untuk berhadapan dengannya.

Aku menghela nafas sebal, dan tersenyum sinis. mataku menyipit menatapnya dengan emosi. “Harusnya aku yang tanya, apa maksudmu, Jiyeon-ssi? Kamu menyuruhku melihatmu? Hah! Memangnya kamu sudah benar-benar melihatku?!”

“Ap… apa maksudmu…?” Jiyeon-ssi gelagapan, kebingungan dengan responku yang balik bertanya.

Aku mendesis penuh emosi. “Dengar, aku bukan Hongki. Sekarang aku mengerti, kenapa kamu mendekatiku waktu itu. Kalau dipikir, mana mungkin seorang artis sepertimu mau berkenalan dengan orang biasa seperti aku. Bodoh sekali aku. Maaf bila itu mengecewakanmu, tapi aku bukan dia. Aku kecewa kamu melihatku sebagai Hongki!”

Jiyeon-ssi melepaskan tangannya dari pundakku perlahan, syok dengan apa yang aku katakan. “Ka… kamu sudah tahu?”

Aku tertawa sinis. Ternyata benar dugaanku. Benar-benar menyebalkan! Damn!

Setengah berteriak aku membalas pertanyaan retorisnya. “Sudah tahu?! Memangnya apa yang membuatku tidak boleh tahu?!! HAH?!”

Air mata perlahan menetes dari mata gadis itu. Susah payah dia mencoba menjawabku. “Joseonghamnida, Chulyoung-ssi. Jeongmal joseonghamnida…”

Aku tidak bergeming.  Tidak sama sekali. Hatiku sudah terlalu kecewa dengan perlakuannya. “Lebih baik kamu pergi sekarang, atau aku semakin membencimu.”

Akhirnya dia berdiri dan menjauhiku. “Baiklah.” Dia menundukkan kepalanya padaku. “Jeongmal joseonghamnida, Chulyoung-ssi.” Dia berbalik dan menjauh. Namun masih beberapa langkah dia berjalan, dia berhenti dan berbalik ke arahku. “Aku ingin memberitahumu, aku akan kembali ke Seoul besok pagi.”

DEG!

Sekarang, dia berbalik dan benar-benar pergi, meninggalkan aku yang syok dengan ucapannya.

***

Aku menguaskan kanvasku abstrak dengan gerakan cepat. Tiap gerakannya penuh dengan kemarahan dan emosi. Warna merah dan hitam memenuhi tiap sudut kanvas. Tidak jelas apa bentuknya, karena aku menggoreskannya sesuka hatiku, tak peduli bagaimana hasilnya.

HAAIIISSHH !!!!

Frustasi, aku membanting kuasku ke lantai studio. Tanganku mengacak rambutku kesal.

Kenapa aku masih memikirkan gadis itu?! Ayo Bang Chulyoung, kamu tidak boleh memikirkannya! dia sudah mempermainkanmu! Lupakan lupakaaan!!!

Aku memukul-mukul kapalaku mencoba menghilangkan bayangan gadis itu.

Apa kamu memang hanya melihatku sebagai Hongki? Tidakkah sedikitpun kamu melihatku sebagai Bang Chulyoung? Aku disini selalu melihatmu. Tidakkah kamu menghargai aku?!

Dan setelah kamu mengakui semuanya, membuatku semakin kecewa, kamu mau pergi?! Astaga… Kejam sekali. Kamu anggap apa aku ini?!!

Ah iya. Kamu kan hanya menganggapku bayanganmu…

Aku semakin frustasi dengan kesimpulan yang aku buat sendiri. Aku menengadah ke langit-langit studio dan menghela nafas panjang. Apa yang harus aku lakukan, Jiyeon-ssi? Apa yang harus kulakukan dengan perasaanku ini?

***

Jiyeon POV

Kamu menyuruhku melihatmu? Hah! Memangnya kamu sudah benar-benar melihatku?!

Aku memandang secangkir moccachino di depanku dengan pandangan kosong. Pikiranku masih melayang memikirkan Chulyoung-ssi dan kata-katanya tadi sore.

“Jiyeon-ah? Gwenchana?”

Aku menoleh ke arah suara, melihat siapa yang berbicara. “Hongki oppa…” Aku tersenyum kecil padanya. Dia mengambil kursi di depanku dan memesan minuman.

“Ada masalah apa?” Hongki oppa mengeluarkan senyum mautnya yang selalu bisa membuat fans meleleh itu (termasuk yang bikin FF ini. Haha…)

“Ani. Hanya ada masalah dengan temanku. Dia marah besar karena aku mengecewakannya. Itu saja, oppa.” aku mnegedikkan bahu. Pikiranku terbayang ekspresi kekecewaan Chulyoung-ssi tadi sore.

Dia terdiam sejenak. Mengamati ekspresiku yang masih murung memikirkan Chulyoung-ssi. kemudian senyumnya mengembang. “Kamu sesedih ini… pasti orang itu berharga sekali untukmu.”

“Mwoa?! Anii!!” aku dengan cepat menampiknya.

“Kenapa malu? Aku khawatir karena kamu tidak dekat dengan siapapun. Untunglah sekarang ada seseorang yang mampu menaklukkan hatimu.” Senyumnya mengembang, kemudian dia menyeruput minumannya.

Aku melengos menatapnya.

Tentu saja aku tidak dekat dengan siapapun. Karena yang ingin aku dekati selama ini ya kamu, oppa! se-invisible apa aku di depanmu!

Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.

Berharga? Apa bagiku Chulyoung-ssi adalah orang yang berharga?

***

Normal POV

Chulyoung berlari menembus keramaian kota Incheon di pagi hari. Tergesa dia menyalip orang-orang yang berlalu lalang. Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat, hotel tempat Jiyeon menginap. Hingga dia sampai di depan gedung hotel, sudah begitu banyak fans yang mengerumuni tempat itu.

Dia memegangi lututnya kelelahan. Nafasnya masih memburu. Dia memandang kerumunan orang di depannya.

Sepertinya aku belum terlambat. Tapi apa aku masih bisa memberikan benda ini?

Chulyoung memandang buku yang dibawanya.

***

Jiyeon menarik kopernya ke pintu belakang hotel. Mobil sudah terparkir di dekat pintu itu. Tapi entah mengapa, Jiyeon merasa ada sesuatu yang tertinggal. Dia memeriksa barang-barangnya lagi. Apa yang sebenarnya dia tinggalkan? Akhirnya dia putuskan untuk mengabaikan perasaannya dan masuk ke mobil.

Mobil berjalan meninggalkan hotel. Jiyeon memandang luar jendela.dia melihat kerumunan orang di pintu depan hotel. Dia memandangnya tanpa ekspresi. Hingga… matanya menangkap satu sosok. Sisik yang dikenalnya. Sumber kehilangannya. Chulyoung.

“STOP!” mendadak mobil berhenti.

“Jiyeon, ada apa?” Hongki di sampingnya terkejut melihat Jiyeon. “Kita harus segera sampai di bandara, Jiyeon-ah.”

“Aku harus menemui seseorang!” ucapnya sambil menatap Chulyoung yang berdiri menatap pintu depan hotel.

Hongki melihat siapa yang Jiyeon lihat, kemudian dia tersenyum maklum. “Baiklah. Tapi cepatlah. Dan pakai long coat mu, gelung rambutmu dan masukkan dalam topi. Oh ya, jangan lupa pakai kacamata. Kita tidak punya waktu untuk menemui fans.”

“Nee, aku mengerti.” Jiyeon mengenakan penyamarannya, keluar dari mobil dan berlari ke arah Chulyoung.

“Chulyoung-ssi?” panggilnya pelan ketika di samping lelaki itu.

Chulyoung menoleh dan terkejut. “Jiyeon-ssi?!”

Jiyeon cepat-cepat meletakkan jari telunjuknya di bibir, menyuruh lelaki itu diam.

“Oh, mianhaeyo. Kenapa kamu tidak menemui mereka?” Mata Chulyoung menunjuk kerumunan orang di depannya.

“Aku tidak punya waktu, aku harus segera ke bandara.” Jiyeon menunjuk mobilnya di belakang mereka. “Kenapa kamu kemari? Bukankah… kamu marah padaku?”

Chulyoung teringat tujuannya. Dia mengangkat buku yang dibawanya dan diserahkannya pada Jiyeon. “Aku ingin memberikanmu ini. Kamu akan menemukan jawabannya di dalamnya.”

Jiyeon mengambil buku itu tak percaya. “Chulyoung-ssi… bukankah ini…”

Chulyoung meletakkan telunjuknya di bibirnya. “Jangan dibuka disini. bawalah bersamamu.” Dia membalikkan badan Jiyeon. “Pergilah. Temanmu menunggu.”

Jiyeon menoleh ke belakang dan tersenyum. “Gomawo…” kemudian dia berlari masuk ke mobilnya.

“Apa itu?” Hongki menunjuk buku yang baru saja dibawa Jiyeon di dalam mobil.

“Entahlah. Tapi aku tidak akan membukanya sekarang.” ujarnya tersenyum memandang buku itu. Kemudian memasukkannya ke dalam tasnya.

***

Sketch book Chulyoung-ssi. Yang aku tidak boleh melihatnya. Apa yang tersimpan di dalamnya?

Jiyeon membuka lembaran pertama buku itu. Terkejut dia melihat isinya. Gambar dirinya sedang tertidur di tanah rumput dengan topi di dadanya.

Kapan dia melukis ini?

Dia membuka lembaran kedua. Lagi-lagi dia terkejut. Masih gambar dirinya tertidur, namun dari sudut pandang lain. Dia membuka lembarannya lagi. Masih gambar dirinya, kali ini sedang tersenyum. Begitu juga lembaran-lembaran berikutnya. Penuh dengan gambar gadis itu. Semuanya adalah lukisan dirinya. Dirinya yang sedang berdiri, dirinya yang sedang termenung, tertawa, sedang makan. Semuanya terlukis dengan indah.

Jiyeon tidak bisa menahan air mata yang meleleh dari matanya. Melihat gambar-gambar berbentuk sketsa itu membuatnya tersadar akan arti dirinya bagi Chulyoung, dan arti Chulyoung baginya. Jarinyya berjalan mengikuti garis-garis yang tergores di dalam gambar itu. Gambar dirinya yang pasti tidak akan bisa secantik itu hasilnya bila tidak dilukis oleh orang yang mencintainya. Gerakannya terhenti di satu goresan. Tanda tangan kecil di sudut kanan lembaran. Tanda tangan Chulyoung.

Chulyoung-ssi…

Dia membuka lembaran berikutnya. Namun ternyata disitu tidak ada gambar. Hanya sedikit tulisan tangan.

Jika kamu memang benar-benar melihatku, hubungi aku.
pikirkanlah baik-baik, Jiyeon-ssi…

Bang Chulyoung

Jiyeon tersenyum kecil, bahkan ada nomor handphone nya disitu. Air mata Jiyeon seketika jatuh menimpa tulisan itu.

***

Chulyoung menengadah melihat awan yang berarak dan menghela nafas panjang. Dia sudah melakukan apa yang harus dia lakukan. Sekarang semuanya terserah pada Jiyeon.

Dia hanya bisa pasrah.

Tring.. trriiingg…~~

Dia mengambil handphone dari sakunya. Nomor yang tidak dikenal?

“Yoboseyo?”

“Yoboseyo, Chulyoung-ssi?”

Suara ini… dia mengenal suara ini! “Jiyeon-ssi?!!”

“Nee, ini aku.”

Chulyoung langsung bersorak dalam hati. Jiyeon meneleponnya! Meneleponnya! Apakah ini berarti…? Memikirkannya saja sudah membuat Chulyoung girang bukan kepalang.

“Kamu ada dimana?”

“Di bandara. Baru saja sampai di Seoul.” Hening sejenak. Namun kemudian Jiyeon melanjutkan. “Chulyoung-ssi, mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo. Aku benar-benar merasa bersalah padamu. tidak seharusnya aku…”

“Tidak usah diteruskan. Aku mengerti.” Chulyoung memutus perkataan Jiyeon. “Yang penting, kamu sekarang meneleponku. Apakah itu berarti… kamu melihatku?”

Ada keheningan sejenak di antara mereka. Membuat Chulyoung mulai meragukan apa yang dia ucapkan. “Jiyeon-ssi?”

Yang dia tidak tahu adalah, di seberang sana, Jiyeon sedang mempersiapkan dirinya untuk mengatakan sesuatu. Dia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menata debaran jantungnya, kemudian menghitung mundur untuk bersiap mengatakannya.

“Chulyoung-ssi, saranghaeyo~!”

Suaranya pelan, namun mantap. Cukup untuk membuat Chulyoung terperangah mendengarnya. Tak disangkanya gadis itu mengatakannya terlebih dulu.

Senyum Chulyoung mengembang. “Saranghaeyo, Jiyeon-ssi!”

Kata-kata ajaib yang mampu membuat Jiyeon di seberang telepon tersenyum bahagia.

***

“Kamu menelepon siapa?” Hongki tiba-tiba berada di sampingnya.

Jiyeon menoleh dan tersenyum. “Seseorang yang mirip denganmu.” Dia terdiam sejenak. “Ah, tidak! Kamu yang mirip dengannya.”

————————————————————————————————

huwaahhh… akhirnya kalian selese baca. hihi..

mian yaa kalo kepanjangan. 😀

sebenernya FF pengen ngebandingin hongki sama MIR ini udah lama pengen aku bikin. tapi entah kenapa dapet idenya baru kali ini.

hhe.. semoga sukaaa… 😀

at last, keep comment yaa..

dan teteeeepp… tunggu FF ku yang laiiinn..

gomawoyoooooooooo…. ^^

Iklan