Annyeeooooongg !! 😀

wokkeehh , karena sudah banyak sekali yang mengejar2 mintak cpet2 dipost, akhirnya hari ini aku ngebut nyelesaiin cerita ini. hhe.. 😀

jumat kemaren aku dapet musibah besaaarrr ! yang akhirnya ikut menggegerkan para author FFL di fesbuk. hhuu.. miann yaa author2 yang sudah kurepotkaan..

musibahnya adalah… FF yang uda aku bikin langsung LOST dari leppi ku. oh meennn… -___-‘
itu uda panjang banget dan siap posting.
musibah ini membuatku depresi dan jadi gila *lebai* dan jadi agak males bikin FF. hhe.. tapi untunglah tidak lama. ^^

jadiii… gomawoo yaa, untuk yg sudah mau menunggu begitu lamaa.. 😀

udahh ah, curcol mulu. langsung aja yaa..

Happy imagining ~! 😀

____________________________________________________________________

Dengan wajah seperti apa aku harus menatapnya?

***

Minji POV

Aku memandang luar jendela kereta api tanpa minat. Melihat jalan-jalan yang dulu sering kulewati ini lagi, benar-benar tidak kusangka. Kami akan ke rumahku, ke rumah appa… dan bertemu dengannya. Dokter yang merencanakannya. Aku tidak pernah berpikir akan kembali ke sana dengan keinginanku sendiri, tetapi dokter meraihku dan meyakinkanku.

Tapi aku melakukannya bukan karena dia mengatakan seperti itu. Aku benar-benar ingin… menyelesaikan semuanya… antara appa dan aku.

Aku ingin appa kembali menjadi appa ketika eomma masih hidup. Tapi aku tidak pernah mengatakannya. Aku ingin mengatakan padanya…

Aku tetap memandang jendela tanpa ekspresi. Tiba-tiba sebuah tangan menimpa tanganku yang ada di kursi kereta dan menggenggamnya. Tangan itu meremasku pelan, seolah ingin menenangkanku. Aku menoleh melihat tangan itu. Tangan dokter…

Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya. Dia memejamkan matanya. Tertidur, atau lebih tepatnya pura-pura tidur. Karena aku masih melihat gerakan bola matanya. Senyumku mengembang. Apapun yang kamu lakukan, kamu selalu bisa menenangkanku, dokter…

Aku membiarkan tanganku dalam genggamannya. Aku mulai menyandarkan kepalaku di bahunya dan memejamkan mata. Aku ingin menenangkan diriku, setidaknya hingga kereta ini sampai di stasiun kotaku.

***

Aku memandang gedung apartemen di depanku. Aku sudah tidak tinggal disini lebih dari enam bulan. Pindah ke rumah Youngbae saengnim, kemudian pindah ke apartemenku yang sekarang. Aneh… ini seperti bukan rumahku sekarang…

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” Dokter menatapku, memberiku pilihan. “Apakah kamu akan masuk sendiri? Atau aku harus menemanimu?”

Aku menggenggam jarinya. “Temani aku…”

Dokter tersenyum padaku. “Baiklah. Ayo masuk.” Dia mulai melangkah mendahuluiku.

Belum sempat aku melangkah, ada sesuatu yang menarik pundakku kasar. Aku terkaget dan kontan berbalik melihat siapa yang melakukannya. Mataku terbelalak melihat seseorang itu. “Appa?!!”

“Kamu akhirnya mau pulang?” tanyanya datar.

“Aku… ingin bicara dengan appa.” Aku menjawabnya takut-takut. Ada banyak perasaan ngeri dan ketakutan berkecamuk di dadaku.

“Aku lihat kamu memotong rambutmu.” Appa menghela nafas kesal. “Padahal rambut panjangmu dulu sangat cantik, seperti milik ibumu. Kenapa kamu membuatnya berbeda?!”

DEG! Jantungku tiba-tiba berdetum, syok dengan apa yang barusan appa katakan. Mataku membulat. Selalu saja eomma, eomma dan eomma!

Aku mulai berbicara, lirih. “Ketika eomma masih hidup, appa begitu baik. Tapi ketika eomma sudah meninggal, appa mulai membuatku seperti kembaran eomma.”

Aku teringat masa laluku.

“Itu bukan seperti yang eomma biasanya mainkan!” Appa menggebrak piano ku.

Aku menghentikan permainanku dan menoleh padanya dengan tatapan takut. “Tapi aku bukan eomma.”

PLAAKK!

“Jangan membantah!!” Appa berteriak dan menatapku geram. Aku hanya bisa menunduk takut.

Aku menarik nafas perlahan, mencari kekuatan untuk melawan suara dan tatapan matanya. “Bagaimana eomma berbicara, bagaimana bermain piano.” Aku menatapnya sengit. Emosiku bertahun-tahun kupendam langsung memuncak, membuncah ingin keluar dan tumpah berhamburan. aku mendesis marah. “Sebenarnya bukan aku yang appa inginkan kan?!!”

Appa menghela nafas dan menatapku marah. Dia langsung menyergap tanganku dan menariknya. “Ayo pulang!”

Aku terkejut. Kontan aku berusaha melawan. Aku tidak mau ikut dengannya! Tidak! Aku ingin pulang ke rumah itu lagi! Tanganku yang masih bebas mendorongnya ke belakang hingga dia terhuyung. Namun tangannya yang masih menggenggamku masih enggan dia lepaskan.

Setengah berteriak histeris, aku memberanikan diriku menatapnya satu lawan satu. “Aku… Aku tidak akan ikut dengan appa! Satu-satunya orang yang benar-benar appa inginkan adalah eomma kan?!!” Air mataku jatuh. susah payah aku melanjutkan. “Aku tidak bisa menggantikannya, karena aku…”

“Sudahlah, ayo cepat pulang!” dia memotong perkataanku dan menarik tanganku kasar.

“Aniii!!” aku mencoba mengibaskan tanganku melawannya. Aku tidak mau menjadi bonekanya lagi! Aku terus berusaha lepas dari cengkeraman tangannya. genggamannya sangat kuat.

Ketika akhirnya terlepas, aku langsung berlari meninggalkannya penuh ketakutan.

“Minji!” samar aku mendengar dokter memanggilku dari tempat itu, tapi tak kuhiraukan.

***

Langkahku melambat. Kini aku hanya berjalan tanpa arah. Aku hanya mengikuti telingaku, mengikuti suara ombak lautan yang terdengar di telingaku. Aku hanya ingin pergi sejauh mungkin. Menghindar dari appa ku sendiri.

Appa sebenarnya tidak membenci suara pianoku… tapi membenciku. Bukan piano yang tidak diinginkannya. Tapi ia tidak menginginkan aku.

Aku harus bagaimana?

Aku pikir jika aku berhenti main piano, appa akan memaafkanku…

Langkahku terhenti. Aku telah sampai di bibir pantai. Lautan terbentang di depan mataku. Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosong. Ombak berkejaran ke pantai seolah berlomba ingin menggapaiku dan membawa bersamanya. Aku tak tahu lagi apa yang bisa kupikirkan. Mungkin jika aku pergi, semuanya akan jadi lebih baik…

Selama aku masih hidup, appa tidak akan memaafkanku…

***

Daesung POV

Ya Tuhan, kemana dia berlari?!!

Aku menunduk memgangi lututku, nafasku memburu dan jantungku berdebar sangat keras. Aku telah berputar-putar mengelilingi daerah yang tidak kukenal untuk mencarinya. Dia berlari ke tempat yang aku tidak tahu, dan aku takut aku tidak bisa menggapainya. Mataku berputar menyapu seluruh jalan, mencari sosok gadis itu. Namun hasilnya nihil! Aku benar-benar khawatir sekarang. Dimana dia? Bagaimana bila terjadi apa-apa dengannya?! Ini sudah menjelang malam pula. Memikirkannya saja sudah membuatku ketakutan. Aku melanjutkan berlari mencarinya.

Aku teringat apa yang terjadi antara aku dengan ayah Minji selepas Minji berlari meninggalkan kami.

“Minji!” aku memanggil Minji sekeras mungkin, namun dia tidak menghiraukanku. Aku memutuskan untuk berlari mengejarnya. Namun, sebelum aku melangkah ada yang menyergap tanganku kuat, erat dan kasar. Tangan ayah Minji.

“Siapa kamu?” dia bertanya datar, namun dingin.

Orang yang menakutkan, sekaligus menyebalkan. “Saya? Saya Kang Daesung, orang yang dicintai Gong Minji, dan yang membawanya kemari. Tadinya saya ingin dia menyelesaikan permasalahannya dengan anda. Tapi seperti saya lihat, itu tidak mungkin.” Aku menjawabnya tak kalah datar.

“Kamu tidak berhak mengejarnya. Dia adalah putriku. Dia harus pulang bersamaku.”

“Mungkin dia putri anda, tapi dia bukan milik anda. Saya lebih suka dia berada bersama saya. Tapi dia bisa memutuskan kemana dia ingin pergi. Sillyehamnida.”

Aku pergi meninggalkannya tanpa memandang ke belakang lagi.

Aku mengacak rambutku, menyadari apa yang baru saja kukatakan pada ayah minji. Ya Tuhan, berani sekali aku mengatakannya?! Seolah Minji memang akan memilihku saja! Huwaaa… ayah Minji, joseonghamnidaaa!!

Tapi, aku berharap gadis itu memang memilihku…

Lariku terhenti. Aku mendengar suara ombak dari kejauhan. Mungkinkah…? Aku tidak tahu apakah gadis itu ada di sana. Tapi perasaanku mengatakan gadis itu mengikuti suara ini. Aku memutuskan utnuk mengikuti asal dari suara ombak.

***

Normal POV

Daesung berhenti berlari. Dia telah sampai di bibir pantai. Matanya seketika terbelalak, dan jantungnya yang sedari tadi sudah berdebar mengkhawatirkan Minji, sekarang terasa lebih kuat dan seperti ingin keluar dari rongga dadanya. Dia melihat Minji telah berjalan terhuyung ke tengah laut. Bahkan tubuh Minji yang terlihat hanya sebatas lututnya.

Minji?!! Sedang apa dia disana?! Apa yang dipikirkan anak itu?!

Daesung spontan berlari mendekati Minji dan masuk ke laut. “Minji!” dia menyergap tangan Minji dan menariknya ke belakang. Namun Minji tak bergeming sedikitpun. Tatapannya kosong. “Apa yang kamu lakukan?!! Kamu ingin mati?!!”

Minji berbalik dan mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Daesung. Tangannya yang bebas memukul dada Daesung sembarangan. Namun tangan Daesung yang lain yang juga bebas segera menyergap tangan Minji, membuat Minji tak berkutik. “Biarkan aku pergi!”

Walau kedua tangannya sudah digenggam erat, Minji masih melawan, dia berusaha melepaskan diri. Dia mencoba menarik tangannya sekuat mungkin. Dan Daesung berusaha menahan tangan Minji sekeras yang dia bisa. Keduanya seolah bertarung di tengah lautan. Hingga.. BYUURR!!!

Keduanya terjatuh dan terduduk di dasar laut yang masih dangkal.

“Uhuk uhuk.” Daesung terbatuk mencoba mengeluarkan air laut yang tertelan. Dia kemudian memandang Minji marah. “Jangan melakukan hal yang begitu bodoh!”dia melanjutkan. “Aku tidak peduli apa yang baru saja kamu pikirkan, tapi melakukan hal seperti itu benar-benar bodoh!”

Minji memandangnya benci. “Ck!” dia berdiri dan berbalik membelakangi Daesung. Kemudian terus berjalan menantang ombak. “Diamlah! Kamu tidak tahu apapun!”

Daesung memandang gadis itu sedih. Dia kemudian berlari kea rah Minji. Tangan Daesung meraih gadis itu dan memeluknya dari belakang. Minji langsung berhenti dan terhenyak. Matanya terbelalak kaget. “Aku tidak peduli, mengapa kamu melakukannya. Apakah karena perlakuan appa-mu, ataukah karena perkataannya tadi. Aku tidak peduli.” Suara ombak yang berkejaran menghalangi suara Daesung untuk terdengar. Dia akhirnya mendekatkan bibirnya di telinga Minji. “Jika kamu tidak peduli pada hidupmu, maka berikan padaku.”

Daesung membalikkan badan Minji, sehingga sekarang mereka saling berhadapan. Dia menenggelamkan Minji ke dalam dadanya yang bidang. Minji tidak bereaksi apapun. Masih syok dengan apa yang dikatakan Daesung padanya. “Jika kamu benar-benar membenci hidupmu hingga kamu ingin membuangnya, maka jadilah milikku.” Minji benar-benar terkejut sekarang, dadanya berdetum kencang. Semburat merah di wajahnya muncul di balik pelukan Daesung. “Dan bermainlah untukku, Gong Minji.”

Air mata Minji langsung meleleh. Dia selalu ingin mendengar itu. Selalu ingin mendengarnya dari bibir Daesung. Selalu.

Kedua tangan Daesung meraih dagu Minji dan mendekatkan wajahnya. “Biarkan aku mendengar permainan pianomu.” Kemudian bibirnya perlahan menyentuh bibir Minji.

Dia menciumku. Sebagai tanda kepemilkan atas diriku…

***

Perlahan matahari naik dari dasar lautan. Memberikan sedikit sinar dalam kegelapan yang mereka rasakan sepanjang malam.

“Waahh… sudah pagi…” Daesung melihat tengah laut yang tertimpa cahaya matahari. Mereka telah duduk sepanjang malam di bibir pantai.

Tiba-tiba dia menoleh kea rah Minji. “Minji, aku ingin bermain piano sonata bersamamu.”

“Eh? Piano sonata?” dahi Minji mengernyit.

“Nee. Mozart sonata untuk dua piano.”

“Memangnya dokter bisa main piano?” dia tidak pernah tahu Daesung bisa bermain piano.

“Sebenarnya yang bisa aku mainkan hanya satu, yaitu Mozart sonata. Itu pun karena aku harus tampil di acara sekolah waktu SMA dulu. Tapi aku cukup pintar lho melakukannya! Percayalah!”

“Baiklah…” Minji tersenyum.

Minji memandang Daesung yang telah kembali menatap lautan lekat-lekat. Kedua tangannya perlahan melingkar di leher Daesung. Kontan Daesung menoleh ke arahnya. Mereka saling menatap lekat-lekat. Perlahan, bibir Minji telah menyentuh bibir Daesung lembut. Daesung terkaget, namun hanya sejenak. Kemudian, dia membalas ciuman Minji dengan lembut. Tangannya membelai rambut Minji yang pendek.

Aku tidak punya apapun. Yang aku punya hanyalah perasaanku. Aku ingin bersama dokter…

_______________________________________________________________

to be continue..

bagaimana bagaimanaaa? semoga suka yaaa… 🙂 soalnya aku pribadi sihh sukak gituu. hha..

at last, keep comment me yaa ! dan kalo suka ya monggo di-like. hhe..

gomawoyooooo… ^^

Iklan