Title : Love Does Not Wait…

Genre : Sad, Angst

Casts : CL (2NE1), G-Dragon (Big Bang)

Length : Oneshoot

A/N : Saya kembali~! Tapi bukan sama FFLA, ya. Itu ff baru jadi kira-kira sepertiga bagian. Belum ada ide buat ff satu itu, sih. #PLAK

Maafkan saya yang hiatus-nya lama banget. Soalnya saya lagi sibuk mempersiapkan lomba. Lomba cerpen, lomba tari, dkk. Gurunya pada nawarin semua, sih. Jadi bingung mau ikut apa aja dan diputuskan untuk ikut semuanya sekalian. Huahahah! #marukabis #PLAK

Okeh! Kali ini saya mau nyoba buat ff skydragon! Muahahah! Nggak tau kenapa saya jadi kepincut sama pair ini setelah nggak sengaja ngeliat foto mereka waktu ubek-ubek mbah Google. Nyeheheh… Sip! Langsung kita nikmati saja, lah!

Happy reading~ Jangan lupa comment!

***

Chae Rin memandang jam di hadapannya – untuk yang kesekian kalinya. Waktu terasa berjalan sangat lambat saat ini. Ia menanti tepat pukul 12 malam, di mana hari berganti. Karena besok adalah hari ulang tahunnya. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya, tapi nyatanya tidak. Karena orang yang sangat ia sayangi – dan yang paling ia harapkan untuk bisa mengucapkan selamat ulang tahun padanya – telah tiada. Ya, kekasihnya telah pergi meninggalkanya.

Chae Rin menggigit bibir bawahnya, getir. Mengingat pria itu membuat dadanya terasa sakit. Mengingatnya hanya akan memaksa Chae Rin untuk membuka kembali luka di hatinya karena kehilangannya. Dan Chae Rin benci itu.

Tapi Chae Rin tahu betul, bahwa ia tidak akan bisa melupakan pria itu. Pria yang pernah dan akan tetap selamanya mengisi hatinya. Sekuat apapun Chae Rin berusaha, ia tidak akan sanggup. Chae Rin sudah terlalu mencintainya. Mencintai Kwon Ji Yong, kekasihnya.

Chae Rin tesenyum getir ketika mengingat nama itu lagi. Nama kekasihnya. Orang yang sangat-sangat ia sayangi. Orang yang benar-benar dicintainya. Dan Chae Rin tidak dapat mengatakan menggunakan kata-kata betapa ia sangat mengharapkan keajaiban datang padanya saat ini, saat hari ulang tahunnya. Agar ia bisa bertemu dengan Ji Yong, sekali lagi. Biarpun itu hanyalah sebuah pertemuan singkat. Tetapi Chae Rin sungguh mengharapkan itu.

Chae Rin ingat saat pertama kali ia benar-benar kenal dengan Ji Yong. Waktu itu adalah juga hari ulang tahun Chae Rin, tepat lima tahun yang lalu. Saat itu Chae Rin mendapat banyak ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman satu kelasnya. Tapi hanya ucapan selamat ulang tahun dari satu orang saja yang benar-benar membekas di otak Chae Rin sampai saat ini. Ucapan dari Ji Yong.

“Selamat ulang tahun Chae Rin! Maaf aku tidak punya hadiah apapun untukmu. Tapi bukankah anak-anak yang lain memberimu hadiah? Yah, anggap saja hadiah mereka juga hadiah dariku.”

Saat itu Chae Rin hanya tertawa menanggapi perkataan Ji Yong. Ia tertawa karena setelah itu Ji Yong mendapat teriakan protes dari teman-temannya yang lain. Ia tertawa karena ia bahagia, bahagia karena ia sedang berulang tahun serta bahagia karena Ji Yong memberinya ucapan selamat dan memanggilnya menggunakan nama aslinya, Chae Rin. Chae Rin tidak dapat menggambarkan betapa bahagianya ia saat itu.

Chae Rin memiliki nama panggilan, ‘CL’. Teman-temannya berpikir bahwa Chae Rin lebih cocok dipanggil dengan nama itu, dan Chae Rin sendiri juga tidak keberatan. Tapi, entah kenapa, Ji Yong lebih sering memanggil Chae Rin dengan nama aslinya.

Chae Rin tidak mengerti. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa Ji Yong lebih sering memanggilnya menggunakan nama aslinya. Padahal teman-temannya yang lain lebih suka memanggilnya dengan nama ‘CL’. Tapi, ketika Chae Rin akhirnya tahu jawaban Ji Yong, ia menjadi lebih menyukai namanya itu.

“Kau tahu, Chae Rin? Aku bingung dengan sikapmu yang tidak menyukai namamu itu. Bagiku, namamu itu terdengar sangat indah. Dan, aku menyukai namamu. Oh. Hye. Rin. Aku suka itu!”

Bertambah satu lagi alasan Chae Rin untuk semakin mencintai namanya. Waktu itu Chae Rin benar-benar bersumpah di dalam hatinya untuk tetap menyukai dan menjaga namanya itu. Ia sungguh-sungguh berterima kasih pada kedua orangtuanya karena mereka telah memberinya nama itu, nama yang disukai oleh orang yang dicintai Chae Rin itu.

Dan sejak hari itu, Chae Rin mendadak mulai memaksa teman-temannya untuk memanggilnya dengan nama aslinya. Tetapi tetap saja, teman-teman dan orang-orang yang sudah mengenalnya memanggilnya dengan nama ‘CL’. Mau tidak mau, Chae Rin harus menerima itu. Setidaknya, Ji Yong tetap menyukai nama aslinya, bukan? Itu sudah cukup. Sangat-sangat cukup untuk membuat Chae Rin merasa senang dan bahagia sekaligus.

Chae Rin memandang jam di hadapannya – untuk yang kesekian kalinya. Waktu terasa berjalan sangat lambat saat ini. Ia menanti tepat pukul 12 malam, di mana hari berganti. Karena besok adalah hari ulang tahunnya. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya, tapi nyatanya tidak. Chae Rin menyentuh jam kecil itu. Jam kecil berwarna campuran, antara hitam dan putih. Warna kesukaannya. Hitam dan putih. Warna yang benar-benar berbanding terbalik dan tidak dapat bersatu.

Ketika mengingat hal itu, Chae Rin merasa bahwa dirinya dan Ji Yong saat ini bernasib sama seperti kedua warna itu. Tidak akan pernah bisa bersatu. Ji Yong berwarna putih, sedangkan Chae Rin adalah hitam. Itulah takdir yang harus mereka jalani. Tapi Chae Rin tahu, bahwa ia ataupun Ji Yong tidak ingin mereka berpisah selamanya. Biarpun kenyataannya, Ji Yong telah pergi lebih dulu. Karena, bukankah sudah seperti kutukan bahwa putih akan pergi lebih dulu?

Chae Rin benar-benar memaksa dirinya untuk tidak menangis. Tidak, ia tidak akan menangis saat ini. Menangis hanya akan membuat hati Chae Rin semakin sakit. Dan Chae Rin yakin, Ji Yong tidak ingin Chae Rin terus-menerus menangisi kepergiannya.

Chae Rin beranjak dari duduknya. Ia berjalan menghampiri meja, di mana hadiah ulang tahun yang pernah Ji Yong berikan padanya ia letakkan. Hanya ada satu hadiah – karena memang Ji Yong hanya sempat merayakan ulang tahun bersama Chae Rin, satu kali. Sebuah boneka berwarna cerah berhiaskan sebuah hiasan berbentuk hati yang berwarna orange kekuningan.

Chae Rin mengambilnya. Memandanginya sedih, lalu memeluknya. Seakan Chae Rin tidak ingin kehilangan boneka itu. Boneka itulah satu-satunya hadiah ulang tahun dari Ji Yong, dan Chae Rin benar-benar menyayangi boneka itu. Ia tidak mau kehilangannya. Karena hanya benda itu yang dapat sedikit mengobati rasa rindu Chae Rin pada Ji Yong.

Ia ingat. Chae Rin masih ingat betul kapan dan bagaimana Ji Yong memberikan boneka itu. Saat itu adalah sore hari di mana hari ulang tahun Chae Rin lima tahun yang lalu. Ji Yong mengajaknya bertemu, dan pria itu memberikan hadiah ulang tahun untuk Chae Rin – yang sempat tertunda.

“Err… Chae Rin. Maaf aku baru memberikan hadiah untukmu. Ini, ambillah. Kuharap kau menyukainya.”

“Eh? Go-gomawo, op-oppa.”

Saat itu Chae Rin benar-benar mengucapkan terima kasih dengan sangat-sangat tulus pada Ji Yong. Dan permintaan Ji Yong padanya untuk menyukai boneka itu, benar-benar Chae Rin tepati hingga saat ini. Chae Rin sungguh-sungguh menyukai boneka itu. Bukan hanya karena boneka itu sangat lucu, tapi juga karena Ji Yong-lah orang yang memberikannya. Ji Yong yang telah memberikan boneka itu sebagai hadiah ulang tahun darinya untuk Chae Rin.

Chae Rin melihat jam kecilnya. Beberapa menit lagi menuju tepat jam 12 malam. Chae Rin tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Ia benar-benar bosan, bingung, dan gelisah. Ia merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Pikirannya kosong. Chae Rin tidak mengerti apa yang harus dilakukan.

Empat tahun yang lalu dia hari ulang tahunnya juga. Chae Rin ingat, ia juga begadang semalaman untuk menunggu tepat jam 12 malam. Dan sama seperti saat ini, ia juga merasa sangat bosan dan bingung apa yang harus dilakukannya. Tapi saat itu, kebosanan Chae Rin langsung hilang ketika ponselnya berbunyi tanda ada sebuah sms. Dan… sms itu berasal dari Ji Yong.

Chae Rin masih sangat ingat, bagaimana isi sms dari Ji Yong dan juga sms darinya untuk membalas sms Ji Yong.

‘Chae Rinnie, apa kau sudah tidur? Aku tidak bisa tidur. Dan aku saangaat bosan~’

‘Tidak, oppa. Aku menunggu pukul 12 malam. Besok hari ulang tahunku, dan aku ingin menjadi orang pertama yg mengucapkan selamat ulang tahun pada diriku sendiri. ^_^v’

‘Eh? Besok hari ulang tahunmu, ya? Ah, aku lupa. Oh, lihat saja nanti, pasti akulah orang pertama yg akan mengucapkan selamat ulang tahun padamu. :p’

‘Oh, ya? Bagaimana bisa?’

‘Sudahlah. Lihat saja nanti. Aku pasti akan sudah mengucapkan selamat ulang tahun untukmu bahkan sebelum kau sadar bahwa saat itu sudah pukul 12 malam.’

‘Aku menunggu, oppa. :D’

Dan benar saja. Sebelum Chae Rin sempat sadar bahwa saat itu jam 12 malam, sms dari Ji Yong sudah masuk dan isinya adalah ucapan selamat ulang tahun untuk Chae Rin.

‘SELAMAT ULANG TAHUN, CHAE RIN! Bagaimana? Apakah aku menjadi orang pertama yg mengucapkan selamat untukmu? Ah, itu pasti. Benar, kan? Oh, ngomong-ngomong. <3’

Chae Rin kesal. Ia kesal ternyata tahun itu ia bukanlah orang pertama yang mengucapkan selamat pada dirinya sendiri. Tapi, Chae Rin tidak mengerti maksud Ji Yong di akhir sms itu. Apa maksudnya?

Dan ketika Chae Rin menanyakan hal itu pada Ji Yong, jawabannya benar-benar membuatnya terkena penyakit jantung mendadak.

‘Jadi kau tidak mengerti maksud symbol itu? Ah, sial. Padahal aku ingin mengatakannya padamu tepat pada pukul 12 malam. Tapi ternyata kau tidak mengerti artinya…’

‘Ayolah, oppa! Katakan padaku apa arti symbol itu? <3 ? Aku benar-benar tidak tahu!’

‘Ck… I love you… itu artinya, bodoh. XD’

Chae Rin terkejut. Sangat-sangat terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Ji Yong akan mengatakan hal itu padanya. Ia benar-benar mengumpat untuk dirinya sendiri karena tidak menyadari arti dari symbol sederhana itu. Chae Rin! Kau benar-benar bodoh!

‘Err… Chae Rin? Kau, tidak marah padaku, kan? Ehm… Jadi, bagaimana jawabanmu?’

Saat itu Chae Rin, tanpa pikir panjang langsung menjawabnya. Ia benar-benar menjawab dengan sangat-sangat tulus dan berasal dari dalam hatinya.

‘Tenanglah, oppa. Aku tidak marah. Sama sekali tidak. Aku justru sangat senang. Aku sudah lama menyukaimu. Dan, tentu saja, aku menerimanya. :D’

‘Benarkah? YES! Chae Rinnie! <3 <3 <3 ! Aku benar-benar senang sekarang! XXX’

‘XXX? Apa lagi itu?’

‘X artinya adalah… ‘kisses for you’ XXX, Chae Rin!’

‘OPPA!’

Chae Rin tertawa. Mengingat hal itu benar-benar membuatnya geli. Saat itu ia benar-benar ingin melempar Ji Yong menggunakan buku tebal karena telah membuatnya sangat berdebar-debar dan wajahnya sangat merah. Tapi Chae Rin harus mengakuinya. Bahwa itu adalah hadiah ulang tahun paling indah yang pernah ia terima.

Akhirnya, Chae Rin mematikan jam kecilnya yang sedari tadi telah berbunyi. Ia sadar bahwa saat itu sudah benar-benar hari ulang tahunnya. Ia menyalakan lilin kecil di atas cup cake yang tadi telah ia siapkan. Sejak dua tahun yang lalu, Chae Rin telah merayakan hari ulang tahunnya sendirian. Karena Ji Yong pergi tepat seminggu setelah ulang tahunnya tiga tahun yang lalu.

Chae Rin bernyanyi lagu selamat ulang tahun untuk dirinya sendiri. Setelah itu, ia memejamkan matanya, mengucap doa dan meminta permohonan. Chae Rin membuka matanya, lalu meniup lilin di atas cup cake itu. Ini semua adalah kebiasannya sejak dulu. Bahkan jauh sebelum ia bertemu dengan Ji Yong. Jadi, Chae Rin merasa tidak bisa meninggalkan kebiasaannya ini.

Suara Chae Rin sangat unik. Terutama ketika ia melakukan rap. Semua orang yang pernah mendengarnya, mau tidak mau harus mengakui itu. Dan, suatu kebetulan, bahwa Ji Yong juga suka bernyanyi dan pria itu juga bisa melakukan rap. Hobi mereka yang sama ini membuat hubungan mereka semakin dekat.

“Hei, apa yang sedang kau lakukan?”

“Membuat lagu. Chae Rin, bagaimana kalau kita menyanyikan ini bersama-sama?”

“Eh?”

Dan faktanya, mereka berdua memang sering menyanyikan lagu-lagu buatan Ji Yong secara bersama-sama. Dan, tentu saja, orang-orang yang mendengarnya selalu memuji mereka berdua.

Bagi Chae Rin, Ji Yong adalah seorang pria yang terlihat dingin, blak-blakan dan perhatian. Tetapi jauh di dalam dirinya, pria itu adalah seorang yang amat-sangat mengerti tentang kehidupan ini. Ia telah banyak mempelajari arti dari kehidupan yang ia rasakan dan jalani. Dan menurut Chae Rin, itu adalah salah satu dari banyak kelebihan yang dimiliki oleh Ji Yong.

Ji Yong sering kali berkata – dengan sedikit serius – pada Chae Rin tentang kehidupan ini. Mulai dari hal-hal remeh yang seringkali dilupakan orang, seperti apa manfaat seseorang untuk menghargai orang lain. Hingga hal-hal yang cukup rumit untuk dipikirkan. Semua ucapan Ji Yong, selalu Chae Rin ingat sampai kapanpun. Tapi satu hal yang akan benar-benar Chae Rin ingat, saat Ji Yong tiba-tiba saja mulai membicarakan tentang kematiannya.

“Umm… Chae Rin. Bagaimana jika suatu saat nanti aku mati? Apa kau masih akan tetap mengingatku?”

“Setiap manusia pasti akan mati, oppa. Dan jika kau mati lebih dulu daripada aku, aku bersumpah akan tetap mengingat, bahkan mencintaimu selamanya.”

“Benarkah? Chae Rin, aku merasa bahwa hidupku tidak akan lama lagi. Kau tahu?”

“Apa maksudmu? Kumohon, oppa. Jangan bicara seperti itu.”

Chae Rin sadar, bahwa pembicaraannya waktu itu mungkin adalah pertanda bahwa sebentar lagi Ji Yong akan meninggalkannya. Tapi Chae Rin tetap mengabaikannya. Karena Chae Rin masih belum ingin kehilangan Ji Yong.

Chae Rin benar-benar memaksa dirinya untuk tidak menangis. Tidak, ia tidak akan menangis saat ini, di hari ulang tahunnya yang seharusnya menjadi hari bahagianya. Menangis hanya akan membuat hati Chae Rin semakin sakit. Dan Chae Rin yakin, Ji Yong tidak ingin Chae Rin terus-menerus menangisi kepergiannya.

Tapi, biarpun Chae Rin sudah berusaha. Sekuat apapun ia menahannya, ia tidak akan pernah sanggup. Bohong jika saat ini ia berkata bahwa ia tidak akan menangis dengan alasan bahwa ini adalah hari ulang tahunnya. Karena nyatanya, air mata Chae Rin tetap jatuh juga saat ia mengingat satu-persatu kenangannya bersama Ji Yong.

Chae Rin menghapus air mata yang mengalir di pipinya, masih tetap dengan menangis sesenggukan. Dadanya kembali terasa sesak. Ia menyenderkan tubuhnya ke dinding putih di belakangnya sembari mendekap erat boneka pemberian Ji Yong.

Tidak. Chae Rin tidak ingin mengingat hal itu lagi. Chae Rin benci jika harus mengingat hari di mana akhirnya ia tahu rahasia yang selama itu disembunyikan Ji Yong darinya. Karena sejak hari itu, ia sangat tidak tahan jika harus melihat keadaan Ji Yong yang semakin hari semakin memburuk.

“Kenapa, oppa? Kenapa kau tidak mengatakan padaku tentang keadaanmu yang sesungguhnya?” Chae Rin menangis. Ia menggenggam tangan Ji Yong dengan erat.

“Maafkan aku, Chae Rin. Aku tahu aku salah. Seharusnya aku mengatakan padamu bahwa aku mengidap penyakit leukimia sejak aku kecil. Maaf… Chae Rin, tatap aku! Apakah kau tetap mau bersamaku meskipun saat ini kau tahu bahwa aku telah membohongimu dan keadaanku yang semakin memburuk? Jawab aku!”

“Ya! Aku akan tetap bersamamu! Meskipun kau berubah menjadi monster buruk rupa sekalipun, aku akan tetap bersamamu!”

Tak ada keraguan dalam hati maupun kata-kata Chae Rin saat itu. Ia bersumpah atas nama apapun, ia akan tetap mendampingi dan mencintai Ji Yong selamanya.

Air mata Chae Rin semakin deras. Ia ingat bahwa ia telah berjanji di hari ulang tahunnya tiga tahun yang lalu pada Ji Yong, bahwa ia tidak akan terus-menerus menangis jika harus mengingat Ji Yong. Dan Chae Rin – dengan air mata yang juga turun saat itu – telah menyanggupinya. Tapi saat itu, Chae Rin juga ragu apakah ia dapat memenuhi janji terakhirnya pada Ji Yong itu.

Karena nyatanya, saat ini ia menangis. Menangis karena mengingat Ji Yong. Menangis karena ia tidak kuat lagi menahan rasa rindunya yang amat sangat dan sudah lama ia pendam pada kekasihnya itu. Dan tangisnya semakin deras saat ia dipaksa lagi untuk mengingat saat di mana Ji Yong pergi.

Chae Rin menggelengkan kepalanya dengan kuat. Chae Rin sangat-sangat benci jika harus mengingat hari itu lagi. Tepat satu minggu setelah hari ulang tahunnya, itu berarti minggu depan. Chae Rin tidak mau mengingat lagi saat-saat terakhir Ji Yong bersamanya. Mengingat hari itu hanya akan membuat hati Chae Rin sangat sakit. Dan Chae Rin tidak suka jika harus terus-menerus menahan rasa sakit yang entah kapan akan hilang itu.

Chae Rin mendekap boneka pemberian Ji Yong itu dengan erat. Ia tidak ingin kehilangan benda yang sangat berharga untuknya itu. Karena boneka itu adalah satu-satunya kenangan Chae Rin pada Ji Yong, kekasihnya. Dan saat itu juga Chae Rin merasakan kembali hal yang coba ia hilangkan dari hatinya – karena itu sangat menyiksa. Hatinya terasa sesak… sekaligus sakit.

FIN

Oke. FF saya kali ini gaje banget, yak? Yah, apa boleh buat. Berhubung saya sendiri juga lagi stres. Maklumin aja, lah.

Ah, ff ini sudah pernah saya posting di blog saya sendiri dengan casts yang berbeda. Tenang, ini nggak mirip 100 %, kok. Ada beberapa bagian yang saya ubah.

Oh, ngomong-ngomong, masih adakah yang nungguin FFLA? Soalnya saya mau minta doa restu (?) untuk nerusin ff itu dan semoga bisa cepet di posting. Oke?

Sip! Gomawo udah baca~ Janga lupa comment-nya, ya~

Iklan