Annyeoong !

Hola holaa.. akhirnya kita selesai di penghujung cerita. Ehem, perasaan saya.. lega sekali, sudah menyelesaikan cerita ini. 😀

Mian yaa, lama sekali aku nge-post. Well, semester ini kuliahnya cukup melelahkan, ditambah menjadi ‘petinggi’ di beberapa kepanitiaan kampus membuatku tidak punya waktu untuk bersenang2. Hiks.
fyi, bobotku sampe turun 5 kiloan. Ga tau harus seneng apa sedih deh. -___-‘’
*mian curcol. Hhe.. :D*

Oh ya, karena ini part terakhir. Jadii, di akhir cerita akan ada kuis, untuk menentukan FF selanjutnya yang aku bikin. Hum… penasaran?
baca sampe akhir yaa..

Check this out! happy reading !

_________________________________________________________________

Minji POV

“Mati!”

Degg! Spontan aku menghentikan permainan pianoku dan berbalik ke belakang. “Apa maksudmu?!”

“Pianomu terdengar mati, kaku, dan sedih. Ingat, Mozart Sonata di D Mayor ditulis dalam bentuk sonata allegro dengan tiga gerakan. SONATA ALLEGRO, Minji! AL-LE-GRO! Allegro itu cepat dan ceria. Sedangkan tempomu lebih lambat. Lagipula, Mozart menyusunnya dengan Gallant style, dengan melodi dan irama selalu bersamaan. kalau kamu yang main, dengan sedih, tanpa perasaan, lambat, iramanya kacau, jadinya aneh. Aku nggak suka.” Dokter mengatakannya dengan tak acuh, seolah kata-katanya hanyalah sekedar kata-kata biasa yang tidak menyakitkan.

“Sok tau!” Minji mencibir.

“Aku memang tau, aku kan sudah bilang, aku pernah memainkannya waktu SMA.” Daesung menjawab cuek.

“Jangan kritik Minji seperti itu, Daesung-ssi.” Youngbae saengnim menegurnya dengan tatapan tajam, kemudia dia beralih padaku. “Minji, kamu mainkan sekali lagi. Harus sungguh-sungguh ya…” Youngbae saengnim tersenyum.

“Kenapa sih kamu nggak bisa main seperti dulu?” Dokter tetap saja menggumam dan mengomel sendiri. Tapi gumamannya bisa kudengar jelas, dan benar-benar membuat hatiku panas.

Huh! Aku benar-benar tidak tahan lagi dikritik seperti ini! Aku lelah dengan penilaian orang, termasuk dari mulutnya!

BRUUUKKK!!

Buku partiturku melayang keras ke arahnya.

“ADUUUHHH!! SAKIIIITTT!!!” dokter mengaduh keras. “Apa yang kamu lakukan?!”

“Minji?!” Youngbae saengnim berteriak, terkaget dengan apa yang aku lakukan.

Aku berjalan cepat ke arahnya, mengambil buku partiturku yang jatuh di lantai dan memukulkannya lagi ke badannya, lebih keras. BRUUKK! BRUUKK!! BRUUKK!!!

“Aduh~! Aduh! Hentikan!”

Mataku menyipit ke arahnya. “Apanya yang beda?!!” setengah berteriak, aku melanjutkan. “Kalau begitu, dokter saja yang main sekarang!”

Dokter tersenyum meremehkan. Diantara semua senyumnya yang membuatku jatuh cinta padanya, aku sangat tidak suka senyumnya yang seperti itu. “Nee nee, aku yang main.”

Dokter berjalan menuju grand piano di di samping grand piano yang aku pakai. Dia duduk di kursi piano dan berbalik ke arahku. “Ingat, sebenarnya ini bukan bagianku.” Kemudian dia kembali ke arah piano dan tangannya mulai bergerak di atas piano.

Ting ting ting…~~

Tiba-tiba aku terhenyak.

Apa ini? Setiap dentingnya mengalir lembut dan hidup. Begitu dinamis, tapi juga ceria. Seperti bisa membawa yang mendengar masuk ke dalam dunianya. Denting pianonya terdengar bening, hingga aku bisa merasakan, dia sangat menikmati permainannya. Menikmati  setiap detik dia menekan tuts piano.

Tanpa kusadari, air mataku telah jatuh ke pipiku. Aku tidak tahu mengapa air mataku terjatuh. Tapi rasanya begitu sakit mendengar permainan pianonya. Aku berlari meninggalkan ruangan dan membanting pintu.

BLAAMM!!

“Minji!” Youngbae saengnim memanggilku, namun tak kuhiraukan.

***

Normal POV

Ini tidak adil! Kenapa suaranya begitu indah? Kenapa dokter bisa bermain begitu bagus? Kenapa aku tidak bisa?! Appa sangat membenci pianoku…

Aku tahu, rasa sakit mendengar pianonya, hanyalah karena aku tidak bisa memainkannya sebagus dia.

Minji duduk di kursi taman belakang sekolahnya. Termenung melihat sekeliling tanpa minat. Pikirannya masih menerawang membayangkan permainan Daesung yang begitu dinamis dan hidup. Dia masih terdiam ketika ada minuman kaleng yang disodorkan ke arahnya.

“Kamu kenapa?”

Minji menoleh. Dokter. “Ani.” Dia mengambil minuman yang disodorkan, dan kembali memandang taman. Daesung mengambil duduk tepat di samping gadis itu. Minji melanjutkan. “kenapa dokter bisa bermain begitu bagus? Kenapa aku tidak bisa? Hal itu terus berputar-putar di kepalaku, dokter…”

Daesung membuka tutup kaleng minumannya dan meminumnya. “Aku tidak tahu. Mungkin karena sering memainkan karya itu.” Dia mengeluarkan iPodnya, mengutak-atik isinya sebentar dan menyerahkan pada Minji. “Aku hanya bermain dengan memikirkan permainan orang yang ada di video itu.”

Minji terhenyak melihat video yang bermain di gadget Daesung.

Ini… aku… ketika eomma masih hidup. Aku memainkannya di sebuah recital piano. Schubert piano sonata di G minor.

“Beberapa bulan yang lalu, Seunghyun hyungnim memberikan video itu padaku. Waktu itu, kukira dia tidak serius. Tapi ketika aku mendengarkannya, aku tidak bisa berhenti. Sejak saat itu, aku jadi suka permainanmu. Karena itu, aku ingin bermain denganmu.” Daesung berhenti sejenak, tersenyum melihat ekspresi Minji yang masih terpana memandangnya. “Kurasa, jika kamu memikirkan aku ketika bermain piano, pasti kamu bisa bermain piano.”

Jantung Minji seketika berdebar. Semburat merah muncul di kedua pipinya. Tidak bisa berhenti mendengar permainan pianoku? Memikirkan dia ketika bermain piano?

Daesung melihat arlojinya. “Ah, sudah waktunya aku jaga di rumah sakit.” Dia menoleh ke arah Minji dan mengacak pelan rambut gadis itu. “Aku pergi dulu ya. Kamu yang rajin berlatihnya. Percuma dong kita pinjam dua grand piano dari sekolahmu kalau kamu tidak latihan sungguh-sungguh. Annyeong.”

“Annyeong.” Minji melambaikan tangannya. Daesung berdiri dan berjalan meninggalkannya. Tiba-tiba Minji teringat sesuatu. “Ah, tunggu!”

Daesung berbalik ke arahnya. “Wae?”

“Daesung oppa, gomawo…” Minji mengatakannya lriih dan tersenyum penuh arti.

“Mwoa? Op.. pa?” jantung daesung tiba-tiba berdetum keras, terkejut.

Minji tidak menjawab, hanya tersenyum nakal dan mengalihkan pandangannya ke sekeliling seolah tidak ada apa-apa.

“Omona! Dasar anak kecil.” Daesung menggelengkan kepala dan tertawa kecil. Kemudian dia melenggang ringan meninggalkan Minji.

Oppa? dia memanggilku oppa? Aku Daesung oppa? hahahaa…

***

Seminggu kemudian…

Aku bergerak ke arah grand piano yang akan kumainkan. Tanganku menyusuri tiap lekuk dari badan piano. Menekan beberapa tuts sembarangan, menikmati hasil yang terdengar.

Mungkin ini terakhir kalinya… aku bisa menikmati bermain piano.

Aku teringat lagi pembicaraanku dengan saengnim beberapa hari yang lalu. Tentang… aku akan kembali ke rumah itu.

Youngbae saengnim berbicara tanpa menatapku, tapi aku bisa melihat raut sedih di wajahnya. “Appa mu menyuruhku… untuk mengembalikanmu padanya…”

Aku syok mendengar kata-katanya. Appa… melakukannya?

Saengnim melihat ke arahku dengan tatapan sedih dan berkata dengan hati-hati. “Aku pikir, kamu harus pergi. Mianhae… Jeongmal mianhae…” dia terlihat sangat bersalah, rautnya seperti akan menangis.

Aku tahu, mungkin ini waktunya aku harus pulang. Mau tidak mau. Karena appa tidak pernah memberiku pilihan. Dan kata-katanya selalu menjadi sebuah keabsolutan.

Sreekk…

Aku menoleh melihat siapa yang datang. Tiba-tiba jantungku langsung mencelos, berdetum sangat cepat. Wajahku memucat, dan mataku terbelalak kaget melihat siapa yang berdiri tepat di depanku. “Appa?!”

Tanpa sadar, tubuhku gemetar, langkahku terhuyung ke belakang. Kenapa appa ada di sini?!

Langkahku terhenti. Punggungku menubruk seseorang. Aku berbalik. Daesung oppa. dia melihat appa dengan tatapan dingin, sedingin tatapan appa padanya. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arahku.

Youngbae saengim yang sejak tadi berdiri di kursi penonton langsung bicara. “Aku yang membawanya ke sini. Aku pikir ini cara yang bagus untuk menunjukkan padanya.”

“Begitulah.” Daesung oppa mengiyakan.

Aku mencicit takut. “Oppa, apakah kamu yakin?”

“Percayalah pada saengnimmu itu.” Dia memandang Saengnim sejenak dan kembali menatapku, “dan aku.” Dia tersenyum padaku, seolah ingin memberiku kekuatan.

Aku mengepalkan kedua tanganku untuk memberi kekuatan pada diriku sendiri. Kuberanikan diriku untuk menatap appa.

Aku tidak boleh lari… dari dia lagi…

Kemudian kami berjalan ke arah piano kami masing-masing.

***

Normal POV

Ting ting…~

Minji memulai permainan piano terlebih dulu, kemudian dilanjutkan oleh piano Daesung. Karya ini memang satu-satunya komposisi Mozart yang tertulis khusus untuk dua piano. Dia mencoba merasakan nada-nada yang kami hasilkan. Rasanya nada-nada itu berloncatan satu sama lain membentuk harmoni yang indah dan dinamis. Nada-nada itu…  seperti menari di udara.

Sudut mata Minji melirik appa nya yang sejak tadi menatapnya dan pianonya dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.

Appa…

Ini pertama kalinya aku bermain untukmu… setelah sekian lama. Dulu, aku pikir jika aku merasa senang ketika aku bermain, maka orang akan menikmati mendengarkan permainanku. Tetapi ketika eomma meninggal, dan aku… kehilangan kepercayaan diriku pada musikku…

Konsentrasi Minji terpecah, antara permainan pianonya sendiri, dan pikirannya. Hingga… dia menyadari ada satu not yang jauh dari tangannya dan jarinya tidak akan mencapainya. gadis itu seketika panik. Dia terlambat menyadarinya. Temponya terlalu cepat, dan nada itu terlalu jauh. Sekarang ia tak mungkin bisa sempurna memainkannya.

Namun, Di tengah kekalutannya, tiba-tiba nada not yang harusnya dia mainkan itu terdengar. Tapi bukan dari pianonya. Dari… piano Daesung. Kontan Minji langsung menatap Daesung. Daesung balas menatapnya. Tatapan yang seolah berkata, “tenang saja, semua akan baik-baik saja.”. Senyum Minji kontan merekah. Hatinya tenang kembali. Not yang dia mainkan, dan Daesung mainkan seolah melebur dan membuat sebuah musik yang baru.

Minji melanjutkan permainannya. Senyum Daesung, musik yang mereka mainkan bersama, semuanya membuat gadis itu menyadari. Musik dan piano itu terlalu indah. Dia terlalu mencintainya. Mencintai setiap saat dia menekan tuts piano, setiap nada yang terdengar, setiap irama yang dihasilkan. Dia mencintai semua itu. Dan tak ada yang salah dengan menikmati musiknya dengan caranya sendiri.

Kali ini, Minji memainkannya bagiannya dengan mantap. Dia kembali menatap Daesun yang juga menatapnya dan tertawa tanpa suara. Sekarang dia benar-benar menikmatinya. Menikmati permainan musiknya bersama lelaki itu.

Appa, aku… mencintai Daesung oppa, dan aku mencintai piano. Aku mencintai keduanya…

***

Clap… Clap… Clap…

Tanpa sadar, ayah Minji menepukkan kedua tangannya. Setelah dia melihat anaknya itu begitu masuk ke dalam permainannya yang begitu indah. Minji yang tengah menikmati permainannya, spontan menghentikan permainannya dan menoleh menatap appanya.

“Ketika kamu kembali, bermainlah untukku lagi…” ujarnya sambil tersenyum. Kemudian dia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan mereka.

Minji tercengang, begitu juga dengan Daesung. Bahkan beberapa saat setelah appa nya pergi. Tersadar, senyum Minji langsung merekah. Dia kemudian beranjak berlari ke tempat Daesung da menyergap tangan Daesung. “Kita berhasil?”

Daesung tersenyum. “Sepertinya begitu…”

Minji langsung mencengkeram kerah leher Daesung dan menariknya mendekat padanya. Daesung kontan terkejut. Namun dia tak berbuat apapun. Minji mendekatkan wajahnya pada telinga Daesung. “Dengarkan aku…”

***

Youngbae yang sejak tadi memperhatikan mereka langsung terkejut ketika Minji mendekatkan wajahnya pada Daesung. Jantungnya bedenyut keras dan rasanya sangat sakit. Rasanya paru-parunya mengecil hngga tak ada lagi ruang baginya untuk bernafas. Dia mencoba mengalihkan padangannya ke tempat lain dan menarik nafas panjang. Mencoba menghilangkan rasa sakitnya.

Kini, dia menyadari. Dia benar-benar kehilangan kesempatan. Tak ada lagi.

***

“Yoboseyo?”

“Yoboseyo. Chaerin, ini aku. Youngbae.”

“Nee nee. Aku tahu. Wae?”

“Aku patah hati.”

“Mwoa?! Dengan siapa? Teman kerjamu? Atau orang orchestra?”

“Muridku sendiri. Gong Minji.”

“Omona?! Murid?! Kamu suka daun muda?!”

“Nggak usah banyak komentar. Ck! Aku dalam perjalanan ke apartemenmu. Tunggu aku.”

Cklek.

“Huh. Selalu saja datang tanpa pemberitahuan!” Chaerin mengomel sendiri sambil menutup handphonenya dan meletakkannya di meja dapur.

“Siapa?” Seunghyun bertanya dari sofa. Sedari tadi dia mendengarkan pembicaraan Chaerin dengan Youngbae di telepon sambil tiduran dan membaca majalah milik Chaerin.

Chaerin berjalan mendekati Seunghyun dan duduk di lantai depan sofa dan bersandar di badan sofa. Kemudian dia mengambil majalah yang lain dan membukanya. “Sepupuku, Youngbae. Katanya dia patah hati.”

“Sepupu? Youngbae? Sepertinya aku familiar dengan nama itu…” Seunghyun mencoba mengingat apakah ada seseorang yang bernama seperti itu yang dia kenal.

“Oh ya?” Cherin menjawab sekenanya, masih melihat majalah yang dibawanya.

Seunghyun bangun dan duduk di sofa. “Chaerin.”

Chaerin menegadah ke atas, mencoba melihat Seunghyun. “Hemm?”

Chaerin menunggu Seunghyun berbicara. Seunghyun menundukkan kepalanya, dan perlahan menciumnya dari atas. Chaerin terkaget sejenak ketika bibir Seunghyun menyentuh bibirnya, namun tak lama kemudian dia memejamkan mata, membalas ciuman namja-chingu nya itu.

“Chaerin!” seseorang seenaknya membuka pintu apartemen Chaerin dan langsung melihat adegan itu. Dia terbelalak kaget. “Chaerin…”

Chaerin dan Seunghyun kontan menghentikan ciuman mereka. Wajah Chaerin memerah, malu. “Yaa! Dong Youngbae! Kenapa langsung buka pintu?!!”

Youngbae hanya tertawa nakal. “Biasanya kan juga begitu.” Dia melepas sepatunya dan masuk ke ruangan Chaerin dengan cuek.

Seunghyun yang sedari tadi terdiam, menunggu tamu itu mendekat dan mengetahui wajahnya, langsung terkaget. “Youngbae-ssi?!”

“Mwoa?! Bukankah kamu dokter di rumah sakit itu?! Emm.. emm..” Dahi Youngbae mengerut, mencoba berpikir siapa nama dokter itu. “Se… Seunghyun-ssi…?!”

“Lho? Kalian saling kenal?” Chaerin hanya bertanya polos ke arah mereka berdua.

***

“Dokter…”

Daesung menoleh ke bawah. Ada anak kecil di sana mendongak padanya. Dia kemudian berjongkok menyejajarkan dirinya dengan anak itu. “Ada apa, Hyunri-ah?”

Anak yang dipanggil Hyunri itu menyerahkan setangkai bunga pada Daesung. “Ini untuk dokter.”

Daesung melihat bunga itu sejenak, kemudian mengammbilnya. Senyumnya mengembang. “Waaahh… gomawoo…” dia mendekatkan bunga itu ke hidungnya. “Humm… wangiii…”

Hyunri tertawa senang.

“Oppa!”

Daesung dan anak itu menoleh ke arah suara. Minji. gadis itu sedang berjalan mendekati mereka. Melihat bunga yang dipegang Daesung, mata Minji langsung memicing menatap Hyunri sinis. Kontan Hyunri terkaget dan langsung menyergap lengan Daesung.

“Hyunri, wae?”

“Dokter…” suaranya berbisik, tapi masih tetap keras terdengar Minji. dia melanjutkan takut-takut, “Itu yeoja-chingu nya Dokter?”

Daesung tidak langsung menjawab, dengan heran dia balik bertanya. “Euuhhmm… memangnya kenapa, Hyunri-ah?”

Hyunri langsung menggeleng cepat. “Jangan, dokter! Menakutkan!! Sama aku saja!”

Mendengar Hyunri mengatainya ‘menakutkan’, matanya langsung melotot dan menatap tajam anak itu. Setengah berteriak dia melepaskan kekesalannya. “YAAA!!! Apa maksudmu?!”

Hyunri langsung ngeri dan berlari ke balik punggung Daesung. Tangannya gemetar meminta perlindungan.

“Huahahahahaa…!!!” daesung tertawa keras. “Hyunri-ah, kamu bermainlah bersama temanmu.” Daesung menunjuk sekumpulan anak kecil di ujung koridor.

Hyunri mengangguk dan meninggalkan Daesung dan Minji.

Setelah Hyunri pergi, Daesung melirik Minji tajam. “Kamu ini… dia kan masih anak kecil, Minji.”

Minji balas menatap tanpa rasa bersalah. “Habisnya…”

“Wae?” Daesung mengejar jawaban Minji sambil berjalan mendekati gadis itu.

“Ani.” Minji berjalan mundur, karena Daesung terus berjalan mendekatinya. Namun langkah mundurnya terhenti oleh dinding koridor rumah sakit yang sepi. Langkahnya terkunci oleh dinding dan Daesung. Daesung meletakkan tangannya di dinding sebelah kepala Minji. “Opp… oppa?” Minji semakin gelagapan. Jantungnya sejak tadi berdetum keras di setiap langkah Daesung yang mendekat.

Daesung mendekatkan wajahnya, “Kenapa masih kamu tidak jujur?”

Minji tak bisa berkata apapun. Jantungnya berdetum terlalu kuat, sehingga dia tidak bisa lagi berpikir apapun. Wajahnya yang putih kini benar-benar memerah menahan debarannya sendiri.

Apakah aku akan dicium? Apakah aku harus bersiap-siap?

Minji memejamkan matanya erat dan sedikit memajukan bibirnya yang tipis. Hatinya sedikit berharap Daesung akan melakukannya.

Tidak, tidak sedikit, namun banyak sekali. Dia berharap Daesung akan mengecup bibirnya. Dia tetap memejamkan matanya dan menunggu gerakan Daesung selanjutnya.

Daesung tersenyum geli melihat tingkah Minji yang aneh. Dia menutup mulutnya dan tertawa tanpa suara. Dia memang akan mencium yeoja-chingu nya itu. Tapi melihat Minji yang seperti itu, dia malah ingin tertawa sendiri.

Akhirnya, Daesung mendekatkan wajahnya pada Minji, dan perlahan mengecup kening gadis itu dengan lembut.

_____________________________________________________________

huwaaaa… slesaaii.. 🙂

bagaimana.. bagaimanaa? Semoga semua suka sama akhir yang membahagiakan ini. Hhe.. mian yaa kalo geje. Well, saya mengerahkan semua kemampuan saya yang cetek ini untuk menulis akhir cerita ini lhoo.. 😀

oya, dengan ditutupnya FF ini, saya mau menutup juga TOP-CL couple ini dan meyerahkan CL pada yang punya a.k.a GD, dan TOP pada adiez a.k.a saya. Huakakakakakak. XD
oya, ada yang inget ga kalo taeyang itu sepupunya CL –> aku bahas di My Another Side – My Days with Oppa 🙂

sekaraaangg, waktunya kuiiisss ~~ *jreengg jreengg~~*

hum.. kuisnya gampang aja sih. Ga pake mikir, ga pake jawab pertanyaan. *Lho?*

kalian cukup comment :

1.      kritik dan saran tentang FF ku, cara menulisku, cara aku bercerita, semuanya deh, tentang apa yang kalian pikirin tentang semua FF ku. Jadi, nggak cuman FF kali ini ajaa.

2.      Aku ada rencana mau bikin after story tentang Sad Harmony ini. Pada setuju nggak?

3.      Karena nanti yang menang bakalan dibikinin FF, kalian tulis aja FF yang kalian mau. Dari Cast, genre, sampe jalan ceritanya (kalo udah punya).

Gampang toohh?

ehem, yang menang adalah … yang komennya paling mengena di hatiku . bisa karena lucu, kritiknya pedes, ato apa aja. hhe. 🙂
pokoknya komen aja sesuka kalian. aku suka semua komen kok. ^^

Oke, okeee… langsung komen ajaa yaaa… ^^
yang nggak pengen ikut kuis, tetep harus komeeenn *maksa* . soalnya apapun komen kalian, itu kayak morfin buat aku, biar aku ttep semangat nulis. Hehe… 😀

Okee semua. Selamat ikutan kuiiiss !

Happy Weekend ! Gomawoyooooooooooo….!!

Keterangan:

Sonata untuk Dua Piano dalam D mayor, K. 448

Karya ini disusun pada 1781 oleh Wolfgang Amadeus Mozart , di usia 25 tahun. Karya ini adalah karya yang menarik, bukan hanya musiknya, tetapi juga dibuat dengan cara yang komposer tak pernah bayangkan. Karya ini ditulis dalambentuk sonata allegro. Allegro ini maksudnya tempo yang cepat dan ceria. jadi kesannya kayak marching band gitu. terus, sonata ini menggunakan tiga movement. movement itu simpelnya tuh kayak perubahan tempo. Sonata itu dibuat untuk penampilan yang akan dia berikan pada temannya sesama pianis,  Josephine von Aurnhammer. Karya ini disusun dengan Gallant style (klasik yang sederhana), dengan melodi dan irama saling simultan dan serentak. maksudnya klasik yang sederhana itu ya kurang lebih simpel dan mudah dimainkan. ga banyak not-not yang terlalu jauh, dan bikin pusing.  Karya ini merupakan satu-satunya komposisi formal dari Mozart yang ditulis khusus untuk dua piano.

sonata ini ditulis dalam tiga movement,

  1. Allegro con Spirito. Gerakan pertama dimulai di D major. Dua piano membagi melodi utama untuk eksposisi (bagian pertama sonata). maksudnya melodi yang mereka mainkan akan saling mengimbangi, nggak ada yang lebih utama. ketika disajikan keduanya akan memainkannya secara bersamaan. nah, ini yang maksudnya dengan saling simultan atau bersamaan. karena nantinya nada yang mereka hasilkan seperti saling berkejaran.
  2. Andante. Semua movement kedua dimainkan Andante atau tempo yang sedang, dalam kecepatan sangat santai. Temponya akan lebih lambat dari yang allegro con spirito tadi. Melodi ini dimainkan dengan kedua piano, tetapi tidak ada klimaks kuat dalam movement ini.
  3. Molto Allegro. Molto Allegro dimulai dengan tema galloping (sangat cepat). Temponya ini akan melebihi Allegro con Spirito tadi.

Sonata Allegro

Ini dinamakan “Sonata Allegro,” karena seringnya bentuk Allegro (tempo yang cepat dan ceria) pada akhir movement pada Sonata . Sonata Allegro secara simpel dapat digambarkan sebagai bentuk “ABA”.

  • Bagian A yang pertama adalah disebut “Eksposisi”. Bagian ini merupakan bagian yang terbuka dan bebas dalam bentuk gerakan Sonata Allegro. Bagian ini akan diulang beberapa kali dengan cara yang klasik dan sama persis. kalo di mozart sonata ini, bagian ini dimasukkan dalam Allegro con Spirito.
  • Bagian B, atau “Development” mengikuti Eksposisi. Biasanya menggunakan beberapa materi dari eksposisi, tetapi diubah dengan cara yang lebih atau kurang ekstrim. bagian B ini ada di bagian Andante.
  • Di bagian A akhir atau “Rekapitulasi,” materi pada eksposisi akan dimainkan kembali dengan komposisi yang relatif utuh. nah, kalo yang ini ada di bagian Molto Allegro.

Semoga bermanfaat…

Iklan