Annyeong !

okee, ini akhir weekend ! itu artinya, setelah ini aku akan kembali kuliah, dan akan menemui kalian seminggu lagi. Hohoo…

FF dibawah ini adalah one shoot, yang aku tulis karena kegejean melanda diriku hari ini. -___-‘’
jadi kalo semisal jelek, mianhae yaa…

Udah ah, langsung aja yaaa… ! enjoy reading!!

__________________________________________________________

Aku tidak pernah bisa percaya pada orang lain. Tidak akan pernah bisa lagi.

Manusia itu makhluk yang tidak akan pernah bisa menyenangkan. Mereka selalu bermulut manis di depanku, tapi di belakangku?! Haha… mereka selalu menusuk dari belakang. Mereka melakukannya tanpa rasa bersalah. Seolah apa yang mereka lakukan, adalah suatu kebenaran.

Aku selalu berusaha menghindari kontak dengan mereka. Mencoba hidup dalam duniaku sendiri. Lebih baik begitu, daripada aku harus disakiti, lagi dan lagi.

Kampus, rumah, semua tidak ada yang bersahabat. Semuanya selalu menusukku dari belakang. Yeah, harusnya aku sudah terbiasa dengan perlakuan mereka. Namun entah kenapa, rasanya masih tetap sakit ketika aku mengetahui mereka membicarakanku, menjelekkanku, menusukku di belakangku.

Harusnya aku bisa kuat. Harusnya aku tidak usah mendengar mereka.

Harusnya mungkin aku tidak perlu ada di dunia ini…

***

Aku memasuki kamarku tanpa suara. Aku tidak perlu lagi berbicara apapun, karena toh tidak ada yang menganggapku ada. Aku membuka pintu kamarku yang berada di ujung koridor apartemen dan segera masuk. Aku tidak ingin bertemu siapapun. Siapapun.

Aku sedang menutup pintu kamarku ketika aku mendengar seseorang bercakap-cakap.

“Oh, PARASIT itu? Bukannya dia baru saja pulang?” suara Dara unnie. Dia seolah memang sengaja mengeraskan suaranya.

“Iya. Dia memang PARASIT. Benar-benar orang yang menyebalkan. Aku malas melihatnya.” Bom unnie menimpali dengan nada suara yang menyebalkan.

“Kamu saja begitu, bagaimana denganku?! Kamarku berhadapan! Gila aja setiap hari aku harus bertemu dengannya. Rasanya ingin kukutuk saja dia jadi debu, biar bisa aku buang ke tempat sampah!”

Aku langsung jatuh terduduk di balik pintu kamarku. Air mataku langsung meleleh di pipiku. Aku terisak tanpa suara. Dadaku sakit, sakit sekali mendengar kata-kata mereka. Aku mencoba menahan isak yang keluar dari mulutku. Namun semakin kutahan, rasanya dadaku semakin sesak dan sakit. Seolah rongga dadaku mengecil hingga kau tidak bisa lagi bernafas.

Kata-kata kalian… tak tahukah bila itu sangat menyakitkan, unnie?

Bom unnie, Dara unnie, kenapa kalian melakukan hal seperti ini padaku. Aku bahkan tak tahu apa kesalahanku pada kalian. Bila aku punya salah, aku mohon, katakan dengan baik, dengan sopan. Jangan seperti ini caranya…

Terutama Dara unnie, aku sayang sama unnie. aku selama ini percaya pada unnie. aku selalu menganggap unnie sebagai kakakku sendiri. Kenapa sekarang kamu kejam sekali melakukan ini?

Aku tak pernah bisa habis berpikir…

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Bukan karena mereka kata-kata mereka, namun karena yang mengatakannya adalah Dara unnie…

***

itulah awal dari semua ini.

Sekarang, kamu tahu kan, kenapa aku benci orang lain. Mereka itu bermuka dua. Aku sudah berusaha untuk mengerti mereka, bergaul dengan mereka, tapi apa yang mereka lakukan padaku? Huh. Tak ada bedanya dengan iblis. Tak ada sama sekali. Mereka benar-benar lihai untuk menyakiti orang lain.

Yah, seperti Dara unnie. benar-benar ular yang licik.

Aku benci mereka! Benci!

Lebih baik aku hidup sendiri tanpa ada yang di sampingku. Itu akan lebih baik ketimbang aku harus mendapatkan sakit berulang kali.

Tapi apa yang membuatku sangat membenci manusia adalah… karena bahkan aku tak punya orang yang bisa aku percaya.

Bahkan orang yang aku cintai…

Ya, aku punya lelaki yang aku cintai, yang ternyata tidak bisa mempercayaiku…

***

“Chaerin, saranghaeyo.” Lelaki itu mengatakannya di taman utama kampus.

Ketika banyak orang lebih banyak berkutat dengan laptop dan buku mereka, dia mengatakannya dengan lirih. Aku yang juga sedang berkutat dengan laptop ku langskung terdiam, menghentikan semua gerakanku. Aku langsung mengalihkan pandanganku padanya. Tanganku menopang dahuku, dan mataku melihat lelaki itu dari bawah hingga atas. Tangannya mengepal, seolah menunjukkan dia bersungguh-sungguh. Rahangnya mengeras. Dan matanya… menatapku lekat, menunggu jawabanku.

“Hah?  Kamu bercanda? Lucu sekali.” aku mengatakannya dengan nada yang datar. benar-benar datar.

Dia terkejut. nada suaranya sedikit meninggi, seolah ingin menekankan apa yang dikatakannya. “Chaerin? Aku tidak bercanda!”

“Yaa yaa yaa… katakan itu pada orang lain. Jangan katakan padaku.” Aku tertawa kecil meremehkannya, alu kembali berkutat pada laptopku.

Aku sudah kehilangan kepercayaanku pada semua orang. Aku tak ingin terjerumus oleh yang namanya cinta. Cinta? Apa itu? Itu hanyalah sebuah kata idiot yang hanya digunakan oleh orang-orang bodoh untuk mengatakan sesuatu yang absurd. Mereka bahkan tak tahu bagaimana bentuk cinta. benar-benar menggelikan.

“Chaerin, aku sungguh-sungguh.”

Aku menutup laptopku dan beranjak meninggalkannya. “Kwon Jiyong-ssi, lebih baik kamu mencari gadis lain. Karena aku…” aku mendekatkan wajahku padanya, dan menatapnya dengan tatapan sinis. “Tidak akan pernah percaya apa itu cinta.”

Aku pergi meninggalkan lelaki itu. Sendiri.

***

“Chaerin, ayolah… apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya padaku?” dia mengikutiku berjalan di belakangku. Dia selalu mengikutiku hampir sebulan ini, walaupun jawabku tetap sama. Ini sudah lama sekali, dan dia masih saja gigih mengejarku. Jujur, ini di luar ekspektasiku. karena aku pikir, lelaki seperti dia akan cepat menyerah.

“Tidak ada. Karena aku tidak akan pernah percaya padamu.” Kataku datar, tanpa melihatnya sama sekali. Aku mempercepat jalanku membelakanginya.

Kenapa sih orang ini tidak pernah mengerti bahwa aku tidak mau berhubungan dengan orang lain?padahal aku sudah berusaha seketus mungkin padanya. Huh! Benar-benar mengganggu!

“Jiyong!” sekumpulan lelaki mendatangi kami. Sepertinya teman-temannya.

Huh, aku tidak peduli. Aku berjalan menjauh, namun dengan cepat Jiyong menyergap lenganku dan menarikku mendekat padanya. “Hei, kenalkan. Ini yeoja-chingu ku.”

Aku melotot padanya. Apa maksudnya yeoja-chingu?! Berani sekali dia mengatakannya!

Dia memberiku isyarat untuk diam. Aku hanya mendengus sebal. Bagaimana lagi. Sudah terlanjur dia mengatakannya. Haiiissh! Menyebalkan!!

“Hei? Bukankah ini Lee Chaerin?” seorang lelaki bermata sipit mengamatiku dari atas ke bawah. Membuatku sangat risih. Aku membuang muka.

“Chaerin? Gadis menyebalkan itu? Yang selalu bicara ketus itu? Yang sukanya sendirian itu?” lelaki lain yang matanya berkantung seperti panda menyahut.

“Hei, memangnya tidak ada yeoja lain yang bisa kamu jadikan pacar selain dia?! Aku kenalkan pada yeoja lain deh!” lelaki berwajah dingin dan posturnya paling tinggi berkata kasar sambil menyipit sinis padaku.

Apa maksud mereka?! Tidak sopan sekali! Makanya aku benci berhubungan dengan orang lain! Orang-orang yang tidak tahu aturan!

Aku membuang muka. Benar-benar muak aku pada para lelaki di depanku. Aku tidak tahan lagi, rasanya aku ingin pergi dari sini, jika tanganku tidak dipegang erat oleh Jiyong. Setiap aku berusaha bergerak, dia memperketat pegangannya. Membuat lenganku semakin terasa sakit. Aku tak bisa berbuat apapun selain diam, menahan emosiku karena kata-kata mereka untuk tidak membludak keluar. Rahangku mengeras. Aku menahannya sekuat mungkin, setidaknya aku tidak ingin ada perubahan di raut wajahku.

“Haisshh! Apa maksud kalian?! Tidak sopan sekali! Dia ini yeoja yang baik! SEMPURNA! Bagaimana kalian tidak melihatnya?!!”

“Sempurna?! Huh! Matamu buta? Yeoja seperti ini…” lelaki dingin itu benar-benar merendahkanku.

“Sudahlah. Biarkan dia memiilih… yeoja ini. Walaupun harus kuakui. Seleramu rendah sekali Jiyong.” Kata lelaki yang sepertinya suka sekali memamerkan ototnya. Dia hanya mengenakan kaus basket ke kampus. Dia sejak tadi diam, namun kata-katanya yang singkat benar-benar menyakitkan.

Rahangku benar-benar mengeras. tanganku mengepal keras. Seluruh badanku bergetar menahan amarahku yang sudah memuncak. Nafasku pendek dan memburu. Semua kemarahan ini hanya tinggal menunggu keluar saja.

Nada Jiyong meninggi. “Yaa!! Kang Daesung, Lee Sunghyun, Choi Sunghyun, Dong Youngbae, kalian sebaiknya pergi saja atau aku akan memukul kalian. Kata-kata kalian benar-benar tidak sopan!” Setengah berteriak dia mengusir teman-temannya. Apakah dia marah mendengar perkataan teman-temannya?

Teman-temannya akhirnya pergi meninggalkan kami. Dia melepaskan pegangannya di lenganku. Lenganku langsung terasa ngilu ketika dia melepaskannya. Namun rasa sakit di dadaku karena perkataan teman-temannya jauh lebih sakit. Sangat sakit! Rasa sakit yang tidak pernah bisa aku lepaskan, yang selalu hanya bisa membuatku menangis dalam hati. Rasa sakit yang benar-benar aku benci.

“Chaerin, jeongmal mianhae…” dia menunduk, berusaha melihat wajahku yang sejak tadi terdiam.

Aku benar-benar tidak tahan lagi! Enak sekali dia berkata maaf!! Setelah semua perkataan teman-temannya yang benar-benar tidak tahu aturan itu!

Aku memandang wajahnya dengan tatapan nanar. Aku benar-benar tidak sanggup menahan amarahku lagi. Nafasku makin memburu seiring amarahku yang makin memuncak.

PLAAAKKK!!!

Tamparan tanganku mendarat di wajahnya keras. “Puas?!”

“Chaerin?” dia terkejut mendengat ucapanku.

“PUAS?! KAMU SUDAH PUAS KWON JIYONG! SUDAH PUAS KAMU MEMBUATKU MALU, MERENDAHKANKU DI DEPAN TEMAN-TEMANMU?!”

Aku memandangnya benci, marah, sinis. Air mataku langsung jatuh ke pipiku. Aku tidak bisa lagi menahan semuanya. Ini sudah batas kesabaranku. Nafasku memburu, seiring dengan amarah yang aku lepaskan pada Jiyong.

“Chaerin, mianhae. Aku tidak tahu bila mereka akan berkata seperti itu… aku hanya ingin mengatakan pada mereka… kamu orang yang berharga bagiku…”

“AKU BENCI KAMU, KWON JIYONG! KAMU DENGAR?! BENCIII!!!!”

Aku berjalan meninggalkannya. Tangisku pecah, lelah dengan semua yang harus aku telan. Kenapa semua harus terjadi padaku?!! Apa salahku?!

Jiyong tiba-tiba menarik tanganku dan menarikku dalam pelukannya. Membuatku tenggelam di dalam dadanya. “Mianhae. Jeongmal mianhae, Chaerin… percayalah padaku, aku sangat mencintaimu.”

Aku benar-benar muak pada kata-katanya. Aku berusaha keras melepaskan diriku dari pelukannya. Aku memberontak sekuat mungkin. Tanganku yang kini bersembunyi dari dalam pelukannya mencoba mendorongnya, memukulnya berulang kali.

“Lepaskan! Lepaskan aku! Aku tidak mau percaya padamu! Kamu sama saja dengan orang lain!”

Dia mempererat pelukannya. “Aku berbeda, Chaerin. Aku berbeda… aku bisa menerimamu, bagaimanapun dirimu. Kamu tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. Kamu boleh ketus padaku. Kamu boleh berbuat apapun di depanku, Chaerin. Aku akan selalu mencintaimu, Lee Chaerin.”

“Jangan buat aku meruntuhkan apa yang selalu aku pertahankan, Kwon Jiyong. Manusia selalu bermuka dua. Begitu juga denganmu. Aku tak tahu bagaimana kamu mengataiku di belakangku. Aku tak mau lagi percaya pada orang lain. Jadi, lepaskan aku sekarang!”

Dia melepaskan pelukannya dan menatapku lekat. “Chaerin, aku harus berbuat apa agar kamu percaya padaku?”

Aku membuang muka. “Tidak ada, karena aku tidak bisa percaya pada orang lain.”

Dia menggoyangkan kedua lenganku, sedikit kasar. Sepertinya kesabarannya sudah habis. “Chaerin! Tatap mataku! Aku benar-benar mencintaimu!”

Aku menutup kedua telinga dan mataku erat. Setengah berteriak aku membalas perkataannya. “Aku tidak mau mendengarmu! Kamu bohong, Jiyong!”

“Aku tidak bohong Chaerin! Aku mohon, percayalah padaku!”

Aku menatap matanya. Mencoba melihat kesungguhan disana. Benarkah aku bisa mempercayaimu?

“Bisakah kamu memberiku kesempatan untuk membuktikan jika aku benar-benar mencintaimu?” dia mengatakannya lirih, terdengar lelah, seolah semua tenaganya habis untuk meyakinkanku.

Ya Tuhan, selama ini aku selalu menutup hatiku untuk percaya pada orang lain. Kejadian dengan Dara unnie sudah membuatku semakin sakit. Apakah sekarang aku masih bisa percaya pada orang lain? Apakah aku bisa mempercayainya?

Aku menatapnya sekali lagi. Mencoba meyakinkan diriku sendiri.

“Baiklah, hanya satu kesempatan, Kwon Jiyong…”

***

Aku pikir, hanya dia yang bisa aku percaya. Setelah semua orang yang aku kenal mengkhianatiku. Aku menutup hatiku untuk percaya pada orang lain. Aku menghindari kontak dengan mereka, untuk melindungi diriku sendiri dari rasa sakit itu lagi. Dia datang, menawarkan kebebasan untukku untuk percaya padanya.

Dia tak pernah membiarkanku sendiri. Dia selalu ada di sampingku, walau aku tak memintanya. Dia selalu ada, walau orang lain selalu menjauhiku. Sekarang kesendirian menjadi hal yang asing bagiku. Aku takut kehilangannya. Setelah semua yang dia lakukan selama ini, aku telah mencintainya…

***

“Dimana Jiyong oppa?” walau malas, aku harus bertanya pada teman-temannya. Jiyong sudah menghilang lebih dari seminggu. Aku sudah berusaha menghubunginya, ke rumahnya. Namun tak ada hasil yang berarti.

Aku benar-benar tidak tahan tanpa dia di sisiku. Mau tak mau, aku harus bertanya pada mereka.

“Lho? Kamu tidak tahu Chaerin-ah?” Daesung balik bertanya padaku. Diantara mereka berempat, hanya Daesung-ssi yang bersikap netral padaku. Tidak berusaha menjauhiku, atau memandang rendah diriku. Karena itu, aku lebih nyaman jika bertanya padanya.

“Tidak tahu apa Daesung-ssi?” aku makin kebingungan melihat reaksi mereka yang memandangku tidak percaya.

“Seminggu yang lalu, Kwon Jiyong jatuh pingsan ketika latihan band bersama kami. Gejala leukimianya muncul lagi. Waktu kami berempat mengantarkannya ke rumah sakit. Kami baru tahu leukimianya sudah stadium 4 dan sudah sangat parah.”

Jantungku mencelos. Pingsan? Leukemia? Parah? Kenapa dia tidak mengatakan apapun?

Seketika aku panik, setengah berteriak aku bertanya pada Daesung-ssi. “Stadium 4?! Lalu, dimana dia sekarang?!”

“dia sudah tidak disini, Chaerin-ah. Keesokannya, orang tuanya langsung datang ke Seoul dan memaksanya untuk pulang, Chaerin-ah. Sekarang dia sudah berada di Kanada.”

Jantungku berdebar semakin keras, rasanya seperti ingin keluar dari rongga dadaku. Wajahku memucat dan tanpa sadar badanku sudah gemetar karena khawatir. “Kanada?! Kalian tahu nomornya? Atau apapun yang bisa kuhubungi?!”

“Nomornya sudah tidak aktif. Kami bahkan tidak tahu bagaimana dia sekarang. Mianhaeyo, Chaerin-ssi…” Youngbae-ssi mencoba menjelaskan padaku. Wajahnya menyiratkan perasaan bersalah.

Tubuhku melemas. nafasku tercekat. Tanpa sadar, air mataku telah jatuh di pipiku.

Aku harus bagaimana Jiyong oppa? Kanada? Sejauh itukah? Apakah memang sudah tidak ada lagi kesempatan untukku untuk menemuimu, oppa?

***

Seminggu kemudian…

“Yoboseyo? Chaerin-ah?”

“Daesung-ssi? Wae?” Jantungku langsung berdebar ketika mendapat telepon darinya. Setengah berharap bila telepon itu tentang Jiyong oppa.

“Aku baru saja mendapat kabar dari Kanada. Jiyong…” Daesung-ssi terdiam sejenak. Dia melanjutkan dengan suara yang lirih. “Jiyong… baru saja meninggal.”

DEG! Jantungku langsung berdetum sagat kencang, wajahku memutih dan tiba-tiba seluruh badanku gemetar hebat.

Tidak! tidak mungkin!! TIDAK MUNGKIN!!!

Susah payah aku mencoba bertanya, suaraku bergetar. “App… Apa?! Bohong! Kamu pasti bohong Daesung-ssi!”

Dia menjawabku lirih, dan terdengar sangat bersalah. “Aku juga berharap ini semua hanya bohong, Chaerin-ah. Tapi aku tidak bisa. Ini semua benar. Mianhae… Jeongmal mianhae…”

Aku benar-benar tak tahu apa yang kupikirkan. Semuanya menjadi gelap. Aku tak bisa melihat dan merasakan apapun. aku tidak bisa bernafas, seolah semua oksigen di kamar ini telah dihisap habis. Tubuhku rasanya benar-benar lemas, hingga aku tak sanggup lagi menahan berat badanku sendiri. Aku terhuyung. Aku langsung terduduk lemas di lantai kamarku.

Aku tidak bisa menangis. Aku terlalu syok untuk menangis.

***

Sejak dulu, manusia memang selalu bermuka dua. Termasuk kamu oppa. Kamu ingin aku mempercayaimu, sedangkan kamu tidak pernah mempercayaiku. Kamu selalu merahasiakan penyakitmu. Bahkan sampai saat terakhir kamu tidak pernah menceritakannya. lalu kamu pergi, menghilang dari kehidupanku, dan tidak pernah menghubungiku.

APA MAKSUDMU ?!!

Apa yang kamu pikirkan?! Kamu menganggapku apa?! Apa kamu memang mencintaiku? Atau selama ini, kamu hanya mempermainkanku? Kenapa kamu tidak memberiku kesempatan untuk menemanimu di saat terakhirmu? Kamu berhasil membuatku selalu merasa bersalah padamu.

Aku benar-benar sendirian sekarang.

Kwon Jiyong. Dia orang yang membuatku percaya, namun juga menjadi orang yang membuatku benar-benar kehilangan kepercayaanku pada orang lain. Aku sekarang benar-benar tidak bisa mempercayai orang lain, sama sekali.

______________________________________________________________

Bagaimana, bagaimana?

Semoga sejelek apapun FF ini, kalian sudi membacanya sampe akhir. Hhe..

Iya, saya tau, FF ini pasti geje banget. Tapi FF ini adalah based on my true story.
Yeah, I have a tragic life, rite? Haha…😀
(yaa walo sebenernya nggak setragis ini jugak, seenggaknya aku masih bisa percaya sama orang lain laahh… hahaa…)
Great for me cuz I can share this part of my life.
Jadi, bagiku cerita ini tetep keren doongg ! *pede*
*curcol mulu deh ni author :p*

Hummm… kata-kata terakhirku adalah… keep comment me yaaa!! ^^
untuk FF kali ini, please please comment yaaa… soalnya nulisnya aja udah setengah mati *lebai*, jadi harapannya readers juga ngasih feedback buat aku. Hhaa…😀

Kalo suka juga monggo di-like. Makin seneng deh kalo banyak yg nge-like. Hahaa…

Oya, FYI, kuis di Sad Harmony 6 masih berjalan lhoo…🙂

Happy Monday all! Gomawoyooo!