Annyeonggg 😀 Author cerewet kembali lagi… (#PLAKKK!!)

Apa kabar reader? Hari ini author mau nge-post FF request dari Ji Soon… 😀 “Ji Soon-ah, mudahan dirimu suka yaa… 😀 Mian lama jadinya…”

Oke… Langsung yaa…

Author             :           Tam.P
Genre              :           Romance, Angst, Sad
Rating              :           PG15
Category         :           Oneshoot
Cast                 :

  • Son Dong Woon (BEAST)
  • Ji Soon (OC)

Extended Cast :

  • Lee Gi Kwang (BEAST)

Aku terdiam di kamarku, menatap sebuah foto dengan tatapan nanar. Foto sepasang kekasih yang terlihat sangat bahagia. Sang pria tampak gagah dengan seragam pilotnya, sedangkan wanitanya tampak anggun mengenakan seragam pramugarinya.

“Mereka bahagia sekali…” Gumamku. Tiba-tiba setitik air jatuh tepat di wajah wanita itu. Air mata yang jatuh dari mataku. “Aku merindukanmu…” Kataku lirih sambil memeluk foto itu.

Memori itu, memori yang seharusnya sangat tidak ingin aku ingat lagi malah berkelebat di kepalaku sekarang…

***

“Kau, pramugari baru itu?” Tanyaku pada wanita yang ada dihadapanku ini.

“Ne. Joneun Ji Soon imnida. Bangapseumnida.” Dia memperkenalkan dirinya sambil membungkukkan badan.

“Annyeong… Joneun Son Dong Woon imnida. Pilot pesawat ini. Senang berkenalan denganmu.” Dia tersenyum dan senyumnya itu membuat jantungku berdetak 10 kali lebih cepat.

Sejak pertama kali melihatnya, aku merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berbeda dan aku tidak tahu apa artinya itu.

***

“Ji Soon-ah, saranghae… Saranghaeyo…” Aku melakukannya… Aku mengatakannya. “Apa kau mau menjadi yeojachinguku?”

Dia terdiam cukup lama dan membuatku sedikit pesimis. Apa dia akan mengatakan ti…

“Ne…”

M… Mwo? “K… Kau serius? Tidak bercanda kan? Kau…”

“Aku tidak bercanda Son Dong Woon-ssi…” Aku rasa tubuhku sekarang sudah melayang ke udara.

“Dongwoon Oppa… Mulai sekarang panggil aku oppa oke?” Kataku sambil tersenyum kearahnya.

“Apa harus?” Dia menatapku sambil tersenyum penuh arti.

“YAA!!! Pokoknya aku tidak akan menyahut kalau kau tidak memanggilku dengan sebutan oppa titik.” Kataku sambil memasang muka cemberut (?) dan membuang mukaku.

“Hahhaha… Arra… Arra… Aku hanya bercanda…” Kata-katanya menggantung. Dan aku menoleh lagi kearahnya perlahan (gaya-gaya film horror) “Dongwoon Oppa…”

Aku langsung menarik Ji Soon kedalam pelukanku. Memeluknya erat seakan aku tidak ingin melepaskannya. “Jeongmal gomawo…” Bisikku ditelinganya.

***

Drrt… Drrt… Drrt…

Ji Soon?

“Yoboseyo? Waeyo jagiya?” Tanyaku lembut pada suara di seberang sana. Aku sangat merindukannya. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali kami bertemu, dan mendengar suaranya membuat perasaan rinduku sedikit terobati.

Pekerjaan kami yang menjadi faktor utama kami menjadi jarang bertemu. Hhh… Memiliki yeojachingu seorang pramugari sangat sulit. Begitu juga sebaliknya mungkin yang dirasakan Ji Soon.

“Bogoshipeoyo oppa…”

“Na ddo Ji Soon-ie. Besok… Apa kita bisa jalan berdua?” Tanyaku. Besok penerbangan hanya sampai sore dan aku bisa pulang lebih cepat.

“Emm… Bisa oppa…” Aku tersenyum mendengar jawabannya walaupun aku tahu dia tidak bisa melihatnya.

“Baiklah… Aku akan menjemputmu pukul 7 malam di rumahmu oke?”

“Ne…” Hening… Kenapa aku merasa canggung seperti ini? Apa karena kami jarang bertemu sekarang? “Oppa…”

“Hmm? Wae jagi?”

“Apa oppa mau berjanji padaku?” Aku mengerutkan keningku mendengar kata-katanya. Berjanji? Berjanji apa?

“Untuk?”

“Oppa harus janji padaku akan tetap bahagia dan baik-baik saja walaupun aku tidak ada disampingmu…”

DEG!
Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba Ji Soon berjata seperti ini padaku?

“Maksudmu Ji Soon-ah? Tidak… Aku tidak mau… Mana mungkin aku bisa bahagia dan baik-baik saja bila kau tidak ada disampingku? Kau itu adalah hidupku, kau tahu? Dan kenapa kau berkata seperti itu? Kita tidak akan bepisah, jelas? Kita akan selalu bersama. Kau jangan mengatakan hal seperti itu lagi Ji Soon. Aku tidak menyukainya.” Kataku dengan nada sedikit meninggi. Untuk beberapa saat hanya kesunyian yang aku dapat. Aku mulai bisa mengontrol emosiku dan menarik napas panjang lalu melanjutkan lagi, “maafkan aku Ji Soon, aku tidak bermaksud untuk membentakmu. Aku… Aku hanya takut kehilanganmu.”

“Gwencahana oppa… Aku tidak apa-apa. Aku yang minta maaf… Mianhae oppa…”

“Gwenchana. Sudahlah, kau istirahat dulu. Besok kan kau harus bekerja pagi-pagi sekali…”

“Ne oppa. Oppa juga istirahat. Jaljayo…”

“Ne… Jaljayo…”

***

Keesokkan harinya…

Drrt… Drrt… Drrt…

“Dongwoon-ah… Dongwoon-ah lihat berita di TV…” Tiba-tiba Gikwang Hyung meneleponku saat aku berada di Jeju International Airport.

“Wae Hyung?”

“Cepat kau buka. Ini penting…” Pandangan mataku mencari televisi di sudut-sudut tempat ini sampai aku menemukannya di dalam sebuah cafe.

“Pesawat tujuan Korea – Hongkong mengalami kecelakaan. Untuk saat ini, korban tewas belum dipastikan jumlahnya. Berikut korban tewas dari data yang baru saja diperoleh…”

Ji Soon… Kenapa ada nama Ji Soon disana? Aku pasti salah liat. Bukan… Itu bukan Ji Soon… Tidak mungkin. Andwae… ANDWAEEE!!!

“D… Dongwoon…”

“Hyung… Katakan padaku kalau itu bohong. Katakan padaku kalau aku hanya salah lihat. Itu bukan Ji Soon kan hyung?” Mataku mulai memanas. Tapi aku tetap berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri. Itu bukan Ji Soon… Ji Soon pasti masih baik-baik saja. Aku janji akan menjemputnya nanti malam.

“Dongwoon-ah…”

“HYUNG!! JI SOON BAIK-BAIK SAJA!!! AKU YAKIN. AKU BAHKAN JANJI AKAN MENJEMPUTNYA MALAM INI!!! DIA BAIK-BAIK SAJA HYUNG… KENAPA ORANG-ORANG ITU BILANG KALAU JI SOON SUDAH MENINGGAL?!!!” Aku terus berteriak tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarku yang menatapku heran.

Air mataku mengalir deras… Terus mengalir dan mengalir… Aku tidak bisa menghentikannya…

***

Hari ini hari pemakaman Ji Soon. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ingin menangis, tapi aku sudah tidak bisa melakukan itu. Air mataku sudah mengering. Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, tapi aku juga tidak sanggup. Suaraku sudah habis.

Aku hanya bisa diam dan berharap kalau ini akan segera berakhir. Mimpi buruk ini…

***

CUKUPP!!! Aku tidak mau mengingatnya. Semuanya membuatku susah untuk bernapas. Semuanya terasa begitu sesak.

‘Kenapa? Kenapa kau meninggalkanku secepat ini? Bukankah aku bilang kita akan selalu bersama? Tapi kenapa kau malah meninggalkanku lebih dulu? Kenapa kau membiarkanku sendirian?’

“ARGHHH!!!” Aku terus berusaha untuk menemukannya. Tapi seberapa besar usahaku untuk mencarinya, aku tidak juga menemukannya.

PRANGGG!!! BRUAKK!!! BUMMM!!! TRANGGG!!!

Aku membanting semua barang yang ada disekitarku. Menangis dan terus berusaha untuk menghancurkan seisi kamarku.

“DONGWOON!!! KAU KENAPA?!!”

“LEPASKAN AKU!!!” Aku mencoba melepas genggaman tangan orang yang menahanku.

“DONGWOON!!! KAU INI KENAPA?!! INI HYUNG!!! KAU TENANG DULU!!!” Gikwang Hyung?

Perlahan kesadaranku kembali. Tubuhku melemas dan aku jatuh terduduk.

“Hyung…” Hanya itu kata-kata yang sanggup keluar dari mulutku dan setelah itu duniaku gelap. Aku tidak bisa melihat atau mendengar apapun.

Gikwang POV

“Son Dong Woon, bangun… Dongwoon-ah, ayo bangun!!!” Aku mencoba untuk membangunkan Dongwoon, tapi sepertinya usahaku sia-sia. Akhirnya aku memapahnya ke mobilku (bisa bayangin gak Kiki Oppa bentuin Dongwoon Oppa yang pingsan ke mobil? xD) dan membawanya ke rumah sakit.

***

Seoul Hospital

“Maafkan kami…” Maaf? Aku tidak butuh kata maaf. Aku mau tahu keadaan adikku.

“Apa maksud dokter? Yang aku butuhkan adalah keadaan adikku, bukan kata maaf!” Kataku sedikit emosi.

“Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi… Nyawa adik anda tidak bisa tertolong. Dia mengalami dehidrasi dan kekurangan gizi yang cukup parah (?) dan ditambah lagi…” Aku tidak mendengarkan apa yang dokter itu katakan lagi. aku langsung masuk ke dalam menghampiri adikku.

Aku masuk ke dalam ruangan. Pandangan mataku semakin kabur setiap kali aku melangkahkan kaki untuk mendekatinya. Mendekatinya yang sedang terbaring lemas dan tampak sangat pucat.

“Dongwoon-ah, bukan begini caranya… Bukan begini caranya untuk bebas dari penderitaanmu Dongwoon. Bukan dengan menyiksa dirimu perlahan-lahan.” Aku menarik napas panjang dan berusaha untuk menahan air mataku. Tapi aku gagal. Air mataku tumpah. Sekarang, aku kehilangan adikku. Adikku yang paling aku sayangi…

***

Sekarang tinggal aku sendiri disini ditemani dengan hujan yang mengguyur sejak 1 jam yang lalu. Aku tetap diam memandang batu nisan adikku, padahal acara pemakaman sudah berakhir sekitar 3 jam yang lalu.

Tiba-tiba aku merasakan ada yang memayungiku. “Mau sampai kapan kau disini?” Aku menoleh ke sumber suara. “Sudah lebih dari 3 jam kau disini dan yang kau lakukan hanya memandang nisannya sambil sesekali berbicara sendiri. Kau pikir adikmu akan senang huh?” Ternyata dia seorang wanita. Siapa dia?

“Kau tidak mengerti apa-apa. Kau tidak mengerti rasanya kehilangan.” Kataku dengan nada meninggi.

“Aku mengerti perasaanmu.” Lalu pandangannya beralih ke makam yang ada di sebelah makam adikku. “Kau pasti mengenalnya kan? Dia adikku.” Huh? Ji Soon? Dia… Dia kakaknya Ji Soon?

“Kau… Kau kakaknya?”

“Ya.” Dia tersenyum tipis sambil tetap memandang makam adiknya. “Dulu aku juga sama denganmu. Aku sangat merasa kehilangan. Adikku satu-satuny apergi meninggalkanku.” Lalu dia menarik napas panjang dan menghembuskannya lagi lalu melanjurkan kalimatnya. “Percayalah… Mereka pasti sudah bahagia… Adikmu dan adikku.”

Aku menunduk menatap makam adikku. Benarkah Dongwoon? Apa kau bertemu dengan Ji Soon disana? Apa kalian bahagia?

Aku merasakan hujan mulai mereda sampai matahari kembali bersinar lagi. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, melihat seberkas cahaya warna-warni yang sangat indah. Pelangi?

Apa ini jawabanmu Dongwoon? Apa kau bahagia?

Aku tersenyum dan menatap wanita yang ada di sampingku ini. Aku melihat dia juga melakukan hal yang sama dengan yang baru saja kulakukan. “Sepertinya kau benar. Mereka pasti sudah bahagia di atas sana.” Kataku sambil tersenyum.

Dia mengangguk sambil menatapku kemudian menengadah lagi melihat pelangi itu. Aku mengikutinya.

“Ayo, kita berdoa untuk kebahagiaan mereka…” Ucapnya.

End of Gikwang POV

“Sepertinya kita adalah adik yang baik oppa…” Ucap wanita yang ada disebelahku ini.

“Nee… Kita memang adik yang baik Ji Soon…” Kataku sambil tetap melihat kebawah.

“Oppa…” Aku langsung menoleh mendengar panggilan yeojaku ini.

“Wae?”

“Kenapa kau tidak menepati janjimu huh?” Katanya dengan wajah cemberut. Aku tersenyum lalu mengacak-acak rambutnya.

“Kalau aku menepati janjiku, aku tidak akan bisa bersama denganmu sekarang.” Kataku sambil merangkul tubuhnya. “Lagipula waktu itu aku tidak bilang aku akan berjanji kan?”

“Oppaaa… Kau tahu bagaimana khawatirnya aku melihat keadaanmu? Kau sangat…”

Chu~
Aku mencium bibirnya sekilas. Walaupun hanya sekilas, itu bisa membuatnya diam…

Aku tersenyum dan mengacak-acak rambutnya lagi. “Jangan mengingat hal itu lagi. Aku tidak mau mengingat bagaimana lapar dan hausnya aku saat itu.”

“YAA!! Kalau kau lapar dan haus kau bisa makan dan minum kan? Bukannya malah menghancurkan semua barang dikamarmu.”

“Bagaimana aku bisa makan dan minum kalau aku terus memikirkanmu huh? Sudahlah Ji Soon-ah, yang jelas kita sudah bersama lagi sekarang.” Kataku mencoba mengakhiri perdebatan kami.

“Apa oppa kali ini mau janji padaku?” Aku langsung menoleh menatapnya. Janji apalagi kali ini?

“Janji apa? Aku tidak mau kau…”

“Aku ingin oppa berjanji untuk selalu berada di sampingku. Janji?” Dia mengarahkan jari kelingkingnya tepat di depan wajahku.

“Tentu saja Ji Soon-ah… Biarpun kau tidak mengatakannya, aku akan melakukan hal itu. Aku janji padamu.” Aku menautkan jari kelingkingku di jari kelingkingnya.

Eternal promise…

The End

___________________________________________________________________________

Akhirnyaaa, FF ini end juga… Tapi kog Tam ngerasa judul sama ceritany gak nyambung yaa? Sudahlah lupakan.

Mian yaa chingu kalo FF nya pendek, jelek, gaje, gak romantis, aneh, atau gimana. Tapi ini asli loo dari Tam (Hah? Berasa iklan)

Buat dongsaengkuuu… Ji Soon 🙂
Kamu suka? Mian yaa kalo ini FF gak sesuai sama harapan km… Hehehe… Miann juga kalo jelek. Tapi eon udah usahain bikin yang bagus dan romantis (walaupun kayaknya gagal ini…-__-). Mudahan kamu suka deh… Hehehe… Mian juga kamunya dibikin mati di cerita ini (#PLAKK!!! PLAKKK!!! PLAKKK!!! Ditamparin sma Ji Soon…)

Nah… Udah… Untuk yang terakhir, Tam mau minta komennya dong chingu… Plisss… Tinggalkan jejak kalian… Komen kalian itu berharga banget loh (lebe… lupakan… -___-)

Dan sekali lagi terimakasih buat semua reader yang mau meluangkan waktunya untuk baca FF Tam yang kadang-kadang abstrak ini. Makasi bangett… 😀

Gomawo yaa… Annyeong 🙂

Oiaa… Kalau mau request FF, kenalan sama Tam (pede banget sih nii orang…). dll… Add & Follow yaa… 😀

Facebook : Tamara Puthera

Twitter : @TamPuth

Nah… Sekali lagi gomawo yaa… Annyeong 😀

Iklan