Annyeeoongg !

Huwaaahh… ini akan menjadi posting terakhirku di kosan lama. Karena eh karena, aku mau pindah kosan. Hahahaa…
*curcol paling nggak penting sedunia*

Ya sudahlah, saya tidak mau banyak bacot. Langsung saja dibaca…😀

Happy enjoying !

______________________________________________________

Minji POV

Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju Departemen Bedah Ortopedi (Tulang), tempat Daesung oppa sekarang praktik dokter muda. Kemudian langkahku terhenti ketika melihat Daesung berjalan ke arahnya sambil membaca kertas-kertas yang dibawanya. Aku tertawa kecil melihat oppa yang terlihat serius. Wajahnya itu lhooo… tidak cocok kalau dibuat seserius itu! Tiba-tiba terlintas pikiran usil di benakku. Aku tersenyum kecil dan licik melihat oppa.

Humm… kugoda sedikit ah…

Aku berjalan mengendap mendekati Daesung. Namun tiba-tiba langkahku terhenti. Ada seorang yeoja berjalan mendekati oppa dan berbicara denganya.

Siapa yeoja itu? Apa yang mereka bicarakan?

Aku terdiam  mengamati mereka dari kejauhan. Kedua orang itu mulanya tampak serius berbicara. Namun tak lama kemudian, Daesung oppa tersenyum pada gadis itu…

Aku terkejut melihat senyumnya. Jantungku langsung mencelos dan tiba-tiba dadaku terasa sakit. Rasanya ada gelegak amarah yang mengalir ke seluruh tubuhku. Membuat sakit di dadaku semakin bertambah dan tak terkendali.

Kenapa dia tersenyum pada yeoja itu?! Aku… tidak suka!

Kemudian mereka berdua berpisah. Daesung oppa berjalan mendekat ke arahku. Terus mendekat… hingga akhirnya dia melihatku.

“Minji? sedang apa kamu disini?”

Aku mencoba tersenyum, tapi sulit sekali melakukannya dalam keadaan seperti ini. “Aku hanya ingin menjengukmu sejenak. Aku sedang dalam perjalanan ke sekolah untuk latihan Maradonna Piano Festival minggu depan.”

“Oh iya. Ya sudah, selamat latihan. Nanti kujemput di sekolahmu.”

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Sibuk menatap wajah Daesung oppa lekat-lekat. Mencoba mencari tahu apa yang dia bicarakan dengan Yeoja itu.

Siapa yeoja itu, oppa? apa yang kalian bicarakan? Apakah dia mengatakan… padamu dia menyukaimu?

Oppa terheran melihatku yang menatapnya tanpa mengatakan apapun. “Minji? Gwenchana?”

Aku tersadar dari lamunanku. “Nee, gwencana. Aku pergi dulu, oppa.” Aku berlari sambil melambaikan tanganku padanya. Mencoba menghilangkan pikiran buruk yang baru saja kupikirkan.

Berpikir apa aku ini? Daesung oppa kan nggak sehebat itu. Yang dia pikirkan adalah belajar dan menjadi dokter yang baik dan benar. Yeoja itu tidak mungkin menyukainya…

***

Daesung POV

Aku berlari tergesa ke sekolah Minji. shift jaga ku baru saja selesai, dan aku sekarang harus segera menjemput yeoja-chingu ku yang kekanakan itu. Kalau tidak, taringnya akan keluar, tanduk di kepalanya langsung tumbuh dan yang pasti… dia akan sangat amat cerewet sekali mengomeliku. Dan omelannya itu tidak cukup untuk sejam dua jam. Tapi hal itu bisa sampai berhari-hari dia mengungkitnya tanpa henti.

Hiiii… membayangkan saja aku sudah ogah! Bisa panas telingaku mendengarnya!

Aku langsung begidik membayangkannya. Lebih baik aku mempercepat langkahku supaya hal itu tidak terjadi padaku!

***

Minji POV

Di sela latihan pianoku, aku masih tidak bisa melupakan kejadian tadi. Sebentar-sebantar, aku melirik pintu studio yang sedikit terbuka. Hingga… sudut mataku menangkap bayangan seseorang datang mendekat. sosok… Daesung oppa.

Daesung oppa?

“Minji, ayo konsentrasi.” Youngbae saengnim menepuk bahuku.

Aku mengalihkan pandanganku pada ssengnim, kemudian melirik lagi ke arah pintu dan melihat Daesung oppa masih melihat kami. Aku tersenyum licik penuh arti.

humm… sepertinya aku ada ide bagus..

“Saengnim.. aku tidak bisa bagian yang ini…” kataku manja. aku menyentuh tangan saengnim.

Saengnim terkejut sejenak. namun dengan cepat dia menetralisir keadaan. Dia tersenyum. “Bagian yang mana?”

“Yang ini…”aku menunjuk salah satu bagian dari partitur, kemudian merajuk padanya. “mainkan untukku, saengnim…”

“nee nee.” dia mengambil alih tempat dudukku dan menyuruhku berdiri di samping piano. kemudian, dia memulai memainkannya.

clap clap clap…

Dia menghentikan permainannya dan memandangku heran. Namun, aku tak memedulikan hal itu.

“Waahh… daebaakk! keren sekalii saengnim!” Aku menepukkan tanganku dan memujinya berlebihan. kemudian aku menepuk bahunya. “saengnim ku hebaaatt!!”

aku melirik sekali lagi ke arah pintu, mencoba melihat reaksi Daesung oppa. Tapi dia sudah tidak ada di sana. kemana dia? apakah… dia marah? apa aku keterlaluan?

sedikit rasa bersalah muncul di benakku.

“Minji?” Youngbae saengnim memanggilku heran.

aku tersadar dari lamunanku. “eh? Ada apa, saengnim?”

“Wae? Konsentrasimu jelek sekali hari ini. Dan tingkahmu sangat aneh. Ada sesuatu yang kamu sembunyikan?”

Aku menggeleng cepat dan tersenyum. “Tidak ada apa-apa saengnim. Ayo kita mulai lagi latihannya.”

Daesung oppa kemana ya?

***

Daesung POV

Aku berhenti di studio latihan yang biasanya Minji gunakan. Aku tak ingin mengganggunya, lebih baik aku mengintipnya sedikit saja dari celah pintu studio yang tebuka.

Namun jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Tangan Youngbae-ssi menyentuh bahu Minji, kemudian Minji menyentuh tangan Youngbae-ssi. Mereka berbicara entah tentang apa. Namun aku bisa mendengar nada Suara Minji merajuk manja pada Youngbae-ssi. Kemudian Minji berdiri dan berganti Youngbae-ssi yang menduduki tempat itu. Youngbae memainkan piano itu sejenak. Dan kemudian Minji terlihat senang dan sangat heboh memuji songsaengnim nya itu. Seolah apa yang Youngbae-ssi mainkan itu adalah suatu hal yang hebat.

Aku melihat semuanya dengan jelas. Dadaku terasa berdenyut sakit melihat Minji menyentuh tangan Youngbae-ssi. Aku mengatupkan mulutku erat, hingga bisa kudengarkan gigiku bergemeletuk di dalamnya. Tanganku mengepal keras, menahan sesuatu yang membakar di dalam darahku. Aku menelan ludahku, menahan gelegak amarah yang ingin pecah.

Oke Daesung. Ingat! mereka hanya berlatih piano. Minji akan tampil minggu depan, karena itu sekarang mereka berlatih keras. Kontrol dirimu! Jangan emosi! Mereka hanya berlatih piano! Tenanglah Daesung!!

Aku menarik nafas panjang, berusaha meredakan emosiku. Berulang kali aku menarik nafasku, tapi aku tak bisa mengontrol diriku untuk tidak bertanya. Kenapa kamu harus menyentuh tangannya? Apa yang kalian bicarakan? Kenapa kamu bisa segembira itu? Kenapa kamu merajuk padanya?

Aku benar-benar tidak suka ini!

Lebih baik aku pergi dari sini atau bisa-bisa aku semakin panas.

Aku berjalan menjauhi tempat itu. Sambil berjalan, aku mengambil handphone ku dan mengetikkan pesan singkat untuk Minji.

To : Gong Minji

Aku tunggu di taman sekolahmu. J

***

Aku terdiam di atap apartemenku. Meringkuk dengan memeluk kedua lututku dan memandangi jari-jari kakiku. Aku masih bisa mengingat kejadian tadi siang, ketika Daesung oppa berbicara dengan yeoja itu. Siapa itu? Yeoja yang tidak kukenal itu?

Huh, membayangkan saja aku sudah kesal! Kenapa sih dia bisa tersenyum seperti itu? Nggak boleh! Senyumnya itu Cuma boleh buatku saja! Orang lain tidak boleh melihatnya!!

Aku memukul-mukul lututku kesal. Huh!

Dan sia juga tidak bereaksi walaupun aku sudah bermanja dengan Youngbae saengnim. Iya! Dia tidak marah, bahkan terlihat kesal pun tidak. Sepertinya dia tidak peduli. Huhhh!!

“Oppa, ayo pulang…” aku menghampiri Daesung oppa yang sedang duduk dan minum minuman kalengnya di taman sekolahku.

Dia melirikku, kemudian dia menghentikan minumnya. “Eh? Kamu sudah selesai latihannya? Sebentar ya…” dia menghabiskan minumannya dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu, dia tersenyum padaku dan merangkul pundakku. “Ayo, pulang.”

Aku terdiam sepanjang jalan, menunggu reaksinya atas tindakanku tadi. Tapi dia tetap tersenyum seolah tidak ada apa-apa. dia mencoba membuat lelucon, walau aku tidak merespon sama sekali.

Dia ini lihat apa nggak sih?!

Aku memandangi jari-jari kakiku kesal. Uuurrgghh!! Membayangkan sikapnya yang masih baik padaku itu membuatku benar-benar kesal!

Kenapa sih dia tidak ada perubahan sikap apapun seperti itu? Kenapa dia berlagak seolah tidak ada apa-apa? Dia kan melihatku bermanja dengan Saengnim. Dia seharusnya melihatku dengan jelas!! Apa dia tidak cemburu? Atau hanya aku saja yang cemburu padanya? Apa dia tidak mencintaiku? Apa hanya aku yang mencintainya?

Oppa… apakah hanya aku yang mencintaimu?

***

Normal POV

Daesung berjalan ke kamar Minji. dia mengetuknya perlahan, namun tak ada respon dari dalam. Pelan-pelan dia membuka pintu kamar Minji yang tidak terkunci dan melongok ke dalam. Kosong. Tidak ada siapapun di dalam kamar.

Kemana anak itu?

Daesung menutup kembali kamar Minji dan mencoba berpikir.

Sudah selarut ini, namun anak itu tidak ada di kamar? Apakah ada di atap apartemen?

Daesung bergegas ke atap apartemen. Atap apartemennya dibuat seperti taman kecil di atas gedung dua lantai itu. Dengan beberapa tanaman hias yang beredar di sekeliling atap tersebut, dan satu bangku panjang di salah satu sisi atap. Minji ternyata duduk termenung di bangku itu.

Daesung berjalan mendekatinya. “Hei, kenapa bengong sendirian di atap seperti ini?”

Minji menoleh ke arah Daesung tanpa ekspresi, kemudian dia kembali memandangi lututnya tanpa ekspresi.

Hei, ini anak ada apa sih? Tiba-tiba aneh begini?

Bingung, Daesung mengambil duduk di samping Minji. Dia menyikut pelan lengan Minji. “Kamu ini kenapa? Aneh sekali…”

Minji melirik Daesung sekali lagi. Tetap tanpa ekspresi. Oppa, apa kamu benar-benar tidak cemburu sama sekali?

“Minji, kalau ada sesuatu yang ingin kamu katakan, katakan saja.” Daesung mulai sebal dengan sikap Minji yang seperti ini.

Minji menatap Daesung ragu-ragu. Apa aku harus mengatakannya?

“Oppa, apa kamu mencintaiku?” tanyanya lirih.

“Mwoa? Apa maksudmu?” Daesung balik bertanya bingung. Dia mulai tidak mengerti apa yang dimaksudkan yeoja-chingu nya itu.

“Apa yang kamu bicarakan dengan yeoja itu tadi siang?” Minji bertanya sekali lagi.

Dahi Daesung berkerut. Yeoja? Yang mana?

Namun sesaat kemudian dia tersenyum mengerti. Kini dia tahu kenapa yeoja chingu nya ini bersikap seaneh ini. Dia tersenyum nakal. “Ahh… kamu cemburu?”

DEG! Jantung Minji berdegup kencang. Pikirannya langsung ketahuan. Dia langsung membuang muka tanpa menjawab apapun.

Senyum Daesung semakin mengembang. “Apakah itu mengganggumu, Minji?”

“Tentu saja!”

Daesung tertawa kecil tanpa suara. “Itu sandara-ssi, teman dari salah seorang pasien yang baru saja patah tulang. Dia hanya bilang bahwa keadaan temannya itu kini sudah jauh membaik. Lalu… dia bertanya satu pertanyaan padaku…” Daesung terdiam sejenak, melihat reaksi Minji. gadis itu masih membuang muka darinya. “dan aku mengatakan… ‘Gong Minji’. Coba pikirkan… pertanyaan apa yang dia katakan…”

Minji terdiam. Dia mencoba mengartikan apa yang Daesung katakan.

Siapa?

Apa kamu sudah punya yeoja-chingu? Siapa? Siapa yeoja yang kamu cintai?

Semburat merah kini muncul di kedua pipi Minji. Dia perlahan menatap Daesung. “Benarkah?”

Daesung balik bertanya. “Kenapa kamu tidak percaya?”

Minji akhirnya mengatakan apa yang dipikirkannya sejak tadi, takut-takut. “Lalu, kenapa kamu tidak cemburu?”

Dahi Daesung berkerut bingung. “Cemburu?”

Melihat namja-chingunya yang tidak segera mengerti mengapa dia cemberut dari tadi, nada suaranya meninggi. “Nee! Kenapa kamu tidak cemburu? Aku sudah menyentuh tangan Youngbae Saengnim, merajuk padanya, bermanja padanya. Kenapa kamu tidak cemburu?! Kamu tidak mencintaiku?!”

“Whoaa? Bukankah kamu sedang latihan? Mana mungkin aku cemburu ketika melihatmu latihan?” Daesung balik bertanya, kebingungan.

Minji melongo. Orang ini tidak sadar bahwa dia sedang berusaha membuatnya cemburu? Gadis itu kembali cemberut dan memandangi kakinya yang berayun di tanah.

Itu bukan sekedar latihan, oppa…

Daesung tersenyum menatap kelakuan Yeoja-chingu nya yang seperti anak kecil itu. Tangannya bergerak merangkul pundak Minji untuk mendekat padanya. Dia melingkarkan tangannya di badan Minji dan memeluk gadis itu dari belakang. Dia meletakkan dagunya di bahu Minji dan berbisik tepat di telinganya. “Saranghae, Minji…”

Jantung Minji seketika berdegup sangat kencang seolah ingin keluar dari rongga dadanya ketika Daesung merangkul dan memeluknya. Mukanya kini benar-benar memerah malu. “Oppa… ini terlalu dekat…”

“Kamu boleh pergi kok jika kamu tidak suka…”

Jantung Minji berdegup jauh lebih kencang. “Bukannya aku… tidak suka…” tangannya bergerak memegang lengan Daesung yang memeluknya. Mencoba merasakan lebih banyak cinta dari pelukan itu.

Daesung tersenyum. “Aku juga tidak ingin melepaskanmu…” dia mempererat pelukannya.

Baginya gadis itu adalah segalanya. Dan dia ingin memeluknya lebih erat lagi, membuatnya menjadi miliknya seorang dan tidak akan melepasnya lagi. Dia ingin memberitahukan pada gadis itu, bahwa dia sangat mencintainya.

“Minji, kamu tahu, aku sangat cemburu ketika kamu memegang tangan Youngbae-ssi…” Daesung berbisik tepat di telinga Minji.

Minji terkejut. spontan dia menoleh ke belakang, ke arah Daesung. “Jincha?!!”

“Whoa!” Spontan Daesung kaget dengan gerakan tiba-tiba Minji. “Tentu saja. Kamu menyentuhnya. Kamu harusnya tahu, perasaan Youngbae-ssi padamu itu tidak hanya sekedar guru dan muridnya. Dia itu suka padamu. tentu saja aku cemburu.”

Senyum Minji mengembang lebar. “Jincha?!”

Daesung mengatupkan kedua bibirnya. “Masih bertanya lagi?”

Daesung mendekatkan wajahnya ke arah Minji. membuat nafas Minji tercekat, jantungnya yang sejak tadi berdetum kencang sekarang seolah sudah keluar dari rongga dadanya saking cepatnya dia berdetum. Semakin dekat jarak diantara mereka, semakin gadis itu bisa merasakan hembusan nafas Daesung membelai wajahku. Hangat nafas lelaki yang sangat sabar pada sikapnya yang kekanakan. Minji menutup matanya perlahan. Hingga… dia bisa merasakan bibir Daesung menyentuh bibirnya perlahan.  Ciuman yang sangat lembut. Dia membalas ciuman Daesung, menikmati setiap cinta yang ada pada setiap kecupannya.

***

Setelah daesung menjauhkan kepalaya, Minji langsung menghitung jarinya. Bibirnya komat kamit menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Daesung mengerutkan dahi, bingung oleh tingkah gadis itu. “Minji? Wae?”

Minji menjawab sambil berkutat dengan jarinya. “Menghitung ciuman denganmu.” Dia mengalihkan pandangannya pada Daesung. “Yang ke… tiga?”

Daesung berpikir sejenak. “Sepertinya yang ketiga belas…”

Minji terbelalak kaget. “MWOAA??!! Tiga belas?!! Andwae?!! Memangnya kapan kamu menciumku sebanyak itu?!”

Daesung tersenyum nakal. “Waktu aku mencoba menyelamatkanmu, aku sudah memberikanmu nafas buatan sepuluh kali.” Jawabnya enteng.

“HAAAAHH??!!! Itu kan ciuman pertamakuuuu….”

Daesung melenggang meninggalkan Minji. “Salah sendiri coba-coba bunuh diri.”

“Daesung oppa babooooo !!!!!!”

***

Minji POV

Jantungku benar-benar berdebar sekarang. Aku bisa merasakan keringat dingin sudah membasahi punggungku. Aku meremas-remas tanganku yang sedari tadi sudah berkeringat. Kurang dari lima menit lagi, aku sudah ada di depan panggung dan bermain piano. Setelah sekian lama aku tidak pernah tampil, rasanya seperti aku tampil di panggung untuk pertama kalinya.

Apalagi kali ini aku bermain untuk Daesung oppa.

Ya, kali ini aku mempersembahkan permainanku untuk oppa. Mempersembahkan karya yang penuh cinta. Debussy, L’isle joyeusse. Karya yang  dibuat Debussy ketika dia jatuh cinta. Dia menciptakan karyanya dengan penuh kebahagiaan ketika dia sedang berlibur ke Selatan bersama kekasihnya. Karena itu dia memberinya judul L’isle Joyeusse, yaitu The Island of Happiness.

Aku akan mempersembahkannya sepenuh cintaku, sebesar cinta Debussy yang dia berikan kepada kekasihnya. Daesung oppa, apakah kamu aka bisa merasakannya?

***

Daesung POV

Aku duduk di kursi penonton dan mendegar Minji memainkan piano. Dia sudah mengatakan arti permainannya hari ini padaku kemarin dan menyuruhku mendengarnya. Aku menutup mataku, mencoba merasakan setiap nada yang keluar dari tuts-tuts piano yag dia tekan. Sesaat kemudian, aku tersenyum.

Aku mendengarnya, Minji. Aku mendengarnya dengan jelas…

_______________________________________________________

Hwueeehhh… akhirnya selesai jugaa…

Bagaimana? Bagaimana? Semoga sukaaaa… ^^

Ehem. Ada yang bingung kenapa Daesung bilang sampe 13 kali? Sebenernya ini sudah dibahas di Sad Harmony 1, tapi akan aku jelaskan lagi yaa…

Jadi, waktu Daesung nyelametin Minji, dia kan ngasih pertolongan airway-breathing-circulation. Nah, yang bagian siklus sirkulasi itu terdiri 5x siklus pemompaan. Nah, setiap siklus pemompaan ini, terdiri dari 30x pemompaan jantung dan 2x pernafasan buatan (yang dibilang Daesung ‘ciuman’).

Nah, jadi bisa disimpulkan kalo 5×2 pernafasan buatan = 10x

Gituuu…😀

Keep comment me yaa !!

Setelah ini, aku akan melanjutkan FF ku yang terbengkalai, lanjutannya Do You Still Love Me? *lirik dicta* , plus bikin FF baru, yang baru aja menang kuis kemaren.😉
Apakah itu? Tunggu saja…

Oya, betewe, kemaren ada yang menyarankanku untuk melanjutkan sekuel My Another Side dan Sad Harmony pake cast Taeyang. Sebenernya sih aku nggak ada pikiran sampek ke sana. Tapi kalo readers banyak yang setuju sih, aku oke-oke aja. Jgimana menurut kalian??
trus kalo semisal setuju, mau dipasangin sama siapa? Soalnya aku sendiri beneran deh, nggak ada pikiran sama sekali… hehee…

Yak, silakan comment yaa… aku liat respon readers dulu aja. Setuju apa nggak, dan pilihan cast cewek yang terbanyak yang akan aku ambil.

Okee. Segitu dulu saja. Karena hum… saya masih mau packing barang2 buat pindahan. Hohoo…

 

Jangan lupa komen lho yaa!!
*ngancem* hha…

Gomawoyooo!!!