Title             : CAFÉ

Cast             : Choi Seung Hyun (TOP BigBang) Jung Byung Hee (GO MBLAQ) dan Kim Soo Hwa (OC)

Genre          : Romance, Songfic

Length         : Doubleshoot (part 1)

Rating         : PG-15/straight

Author         : Zantz Zenith

Summary     :

Disclaimer   : All characters aren’t mine except OC. They belong to themselves and I write this fanfiction not for money. So don’t sue me.

Warnings    : This fanfiction has not betaed yet. Sorry for hard diction. Don’t like, don’t read. Please give your comment, critic, or advice to support me. Don’t copy or steal without my permission and take out all credit.

© 2011 Zantz_Zenith. All rights reserved. Distribution of any kind is prohibited without written consent of Zantz_Zenith.

 

NO SILENT READER

 

Happy reading~~

Munich, Germany. 14th Maret 2009.

I remember when you walked through that door. Sat down on that chair. The times we shared. But you’ve been here.

Only the chair I sat in remember my scent. After you left cold silence,  a small cafe that is waiting for you.

Pesona jingga kemilau permadani barisan awan sirus berarak pelan mendekati mentari yang tenggelam ke peraduan, perlahan tersingkap oleh legam sapuan jelaga bertitahkan tebaran gemintang. Seruling angin menghembuskan melodi rendah membuat daun-daun bergesekan membentuk barisan nada semu. Koloni-koloni rasi nampak mengadu keelokan satu sama lain, mempertontonkan kilasan dimensi yang dibentuknya dari titik bercahaya. Bak benang fiktif dan payet berkilau tersulam secara sempurna pada lembaram legam tak terperikan. Semua keindahan itu terefleksikan pada Marienplatz yang menawan ketika kegelapan menyergap. Dan seorang pemuda di bawah sana dalam naungan gemerlap lampu-lampu membutakan mata; tengah tenggelam, larut dalam kerlingan lensa yang sesekali membidik objek yang ditemuinya.

Choi Seung Hyun, pemuda tinggi semampai itu nampak berbeda dengan sekian banyak ras nordik yang bergelimang memenuhi pelataran Marienplatz. Dia adalah minoritas dari mayoritas manik mata bersemu biru cerah yang terpantulkan lensanya. Rambut blonde mereka terbuai bak surai-surai benang emas. Hiruk tersampir semilir angin. Riak tergerak lincah senada dengan langkah tegap dan cepat. Mereka bak boneka Bavarian yang hanya dapat terimajinasikan oleh Seung Hyun saat dirinya menatap manekin hidup itu dalam kotak kaca etalase toko di Seoul musim panas tahun lalu. Sebelum dirinya terlanjur terbawa arus untuk mengadu nasib di negeri panser ini.

Ini bukanlah kali pertama ia mendatangi Marienplatz, namun selalu saja mengamati adalah hal yang selalu menjadi favoritnya. Mengabadikan setiap memoar yang menyengat instingnya untuk menjaring detik itu juga dalam lensa. Seperti heroin yang membuatnya selalu ingin menanti yang tak dapat dimengerti siapapun selain hatinya yang terusik oleh kegalauan.

Blitzz!

Lagi. Entah sudah berapa kali Seung Hyun memotret tempat yang sama selama ia berputar-putar Marienplatz. Namun, pada akhirnya ia akan memotret objek itu lagi.

File di kameranya hampir selalu penuh dengan gambar sebuah fresco milik Italian cafe di tepi Kaufingerstrasse yang menyajikan outdoor view saat musim panas tiba. Hanya inilah yang bisa dilakukannya untuk meredam segala pahit dari siksaan waktu yang menggerus perlahan pertahanan harga dirinya. Hanya ini. Mungkin jika dia pada akhirnya benar berhenti untuk bersimpuh pada pilar harapan yang goyah.

Seung Hyun membuka file di kameranya dan menelisik hasil bidikannya. Seketika, senyum gamangnya terhenti di udara. Menguap seiring dengan hatinya yang beralih degup ritmik cepat. Foto kali ini berbeda dengan foto-foto menit sebelumnya. Lensanya ternyata telah menangkap sesuatu yang terlepas dari dekapan Seung Hyun beberapa bulan ini. Sesuatu yang telah membuatnya harus mengobati sisa-sisa parasit yang tersebar dan semakin sukar menghindar dari keterpurukan.

Sesuatu itu duduk disana. Di kursi yang sama. Satu-satunya kursi yang dapat diingat Seung Hyun dengan harapan tak benar-benar melupakannya.

Namun, sedetik kemudian raut wajah Seung Hyun berubah muram.

~oo0O0oo~

Flashback

Yo, ice coffee espresso double shot that has become a habit. Close my eyes, carefully just one sip. Flowing music that we enjoyed listening to. My heart keeps beating faster. I remember the nervousness I felt when we first met. Borrowing strength from the caffeine. Her sugar syrup that I always carried. I hate this stickiness now.

Tiga tahun yang lalu, sebulan sebelumnya.

“Coffee Espresso tanpa gula dan dua gulung Cannelloni untuk Herr[1] Choi?” Pelayan itu sudah terlalu hapal di luar kepala saat aku mendatanginya dan duduk di tempat yang sama berulang kali. Ia merapal kembali menu yang dipesan, kemudian tenggelam ke dalam cafe yang sedang ramai.

Alunan partitur jazz dari lantunan saxophone seorang musisi jalan membelah kesunyian dan menyemarakkan Marienplatz di saat yang bersamaan. Hiruk pikuk perayaan Oktoberfest[2] masih terasa meskipun malam telah jauh meradang. Aku menjauhkan diri dari kerumunan orang yang berkumpul di Theresienwiesse setelah membawa pulang sebotol Champagne Dom Perignon seukuran One Quart. Lambungku terlalu penuh oleh Rhine Wine; sejenis wine putih khas Jerman, yang disajikan gratis pada siapapun yang ingin mencobanya. Setelah menghabiskan dua gelas liliput, aku pun tergoda untuk mencoba jenis lainnya yang terpajang disana sampai aku lupa akan kapasitas lambungku sendiri. Aku merutuki diri tak mendapat kursi di bagian dalam cafe dan terpaksa harus menahan dingin angin dari Laut Baltik bulan Oktober di fresco outdoor yang hanya dinaungi sebuah payung lebar.

Pesanan datang secepat gejolak isi perutku yang semakin labil. Ku raih dengan rakus dan menggigit besar segulung Cannelloni. Aku mengunyahnya seperti musafir yang tak bersua makanan sekian lamanya meradang di gurun. Ku biarkan Espresso pahitku mengepul di babat udara dingin.

Blitz!

Kilatan cahaya itu membutakan mataku sesaat. Aku terkesiap, menerka siapa gerangan sumber dari cahaya cepat itu. Sebuah lensa dari kamera tengah menyorot ke arahku. Siap membidikkan lagi kilatan cahaya cepat. Namun, bukanlah kamera itu yang membuatku terperangah. Tidak lain adalah pemilik sepasang mata yang dinaungi alis tipis, menilik wajahku dalam diam lewat celah kecil di kameranya. Kunyahanku terhenti begitu saja dengan dua buah gelembung besar di pipi.

Blitz! Lagi.

“Yak!!“ protesku pada sesosok gadis itu. “Berhenti berbuat seperti paparazzi. Arasseo[3]?”

Aku dapat melihat lengkungan kelopak matanya yang meringis jahil. Kim Soo Hwa nama gadis itu, menerjunkan diri di kursi kayu yang berhadapan denganku. Senyumnya terkembang bak layar di haluan. Seirama dengan degup jantungku yang semakin berdetak cepat. “Kau nampak bagus dengan kamera ini dan sebotol Dom Perignon membuatnya semakin indah.“ Soo Hwa kembali mengangkat kameranya dan bersiap membidik wajahku yang tengah meneguk Espresso.

Aku meraih kameranya cepat dan menelitinya. “Kamera baru, heh?“

Soo Hwa memanggil pelayan dan memesan setangkup besar Calzone, sejenis pizza tertutup yang bentuknya seperti pastel khas Italia dan secangkir Latte. “Byung Hee membelikannya untukku sebagai perayaan Oktoberfest,“ manik matanya mengerling nakal.

Aku memberengut sebal. Namja[4] itu lagi. “Baguslah jika kau suka. Tapi, setidaknya kau memotret dirinya dengan kamera ini. Bukan aku.“

“Sudah ku bilang, kau nampak bagus di kamera. Jadi, kau objek tunggal manusiaku,“ katanya sambil terkekeh. “Lagipula, aku bosan memotret yang bukan manusia. Dan ternyata, manusia memiliki keunikan sendiri. Aku semakin menyukai objek manusia.“

Hatiku berdesir lirih. Ada sesuatu yang merambati permukaan kulit pipiku. Panas. Jika menurutnya aku bagus dalam kamera dan dia menyukai objek manusia yang notabene hanya diriku. Aku menyimpulkannya secara subjektif dari dugaan-dugaan itu. Namun hasilnya sangat tidak relevan. Bahkan tergolong mengkhayal jika aku tidak ingin mengklasifikasikannya dalam sebuah pengharapan. “Aku masih tidak mengerti, mengapa kau suka sekali memotret? Dan kau hanya menghasilkan sebuah gambar yang bahkan setiap orang di Munich sudah muak terus-menerus melihatnya. Apa itu yang kau sebut seni, heh?”

Soo Hwa mendelik ke arahku sesaat. Kemudian, tangannya terlipat di dada dan mulai menatapku fokus. Sepertinya ia akan mengeluarkan jurus debat nomor satu seantero lulusan Fakultas Seni LMU Munich. “Oppa, kau seolah mengatakan apa daya tariknya lukisan Van Gogh yang bahkan ia tak berarti apa-apa setelah meninggal. Dimana estetika dari sebuah lukisan bertemakan ‘bedroom‘ itu?“

Aku mengernyit bingung dengan pertanyaannya. “Kau mengalihkan pembicaraan.“ Aku sudah antipati sebelumnya bahwa tidak mudah mengalahkan Soo Hwa, tapi topik yang ku angkat kali ini cukup sensitif baginya. “Bahkan kau belum menjawab pertanyaanku.“

Pesanan datang dan setangkup Calzone dengan cepat dilahap. Soo Hwa menyeringai penuh kemenangan. Otak seninya selalu tak pernah dapat ku gapai atau kejar dengan mudah. “Jawabanmu akan mengantarkanmu pada jawaban dari pertanyaanmu padaku.“

Skak matt!

Nah, inilah Soo Hwa yang ku kenal. Mematikan! Melilit seperti ular yang siap menjeratmu dengan jawaban yang membuatmu menyerah seketika. Bahkan bisa membuatmu merasa bodoh telah memancing intuisinya. Kau akan mati bila tak dibekali pemahaman nalar yang luar biasa.

“Kau ini…!“ gerutu kesal.

Soo Hwa tersenyum semakin manis, serasa bibirnya akan lumer di bibirku. “Kau hanya perlu menjawab pertanyaannya saja.“

“Itu sama saja dengan menjawab pertanyaanku sendiri, bukan?“

“Kau semakin pintar saja, Oppa[5].” Soo Hwa mengulum senyum.

Aku menghirup udara dan memenuhi rongga paru-paru dengannya sambil memeras otak untuk jawaban yang sebenarnya sudah lebih dahulu ku ketahui. Salah besar rasanya aku meremehkan Soo Hwa. Ku tebarkan arah pandang ke sekeliling fresco, menatap para pengunjung cafe malam itu. Halaman luas Marienplatz masih di penuhi pedestrians yang menikmati malam bertebar kebahagiaan. Sejenak aku memikirkan sesuatu mengenai dirinya. “Mengenai lukisan Van Gogh ‘bedroom’ itu, kurasa ada sesuatu yang menarik dari dalam lukisannya. Hanya beberapa orang saja yang mengerti dan mengapresiasikannya secara menyeluruh. Terkadang yang kita lihat, entah itu sebuah kehidupan atau hanya lukisan dalam kanvas, tak mudah begitu saja dapat dimengerti dan dipahami. Dan sesungguhnya keindahan itu dapat kita lihat bila benar-benar memahami apa yang hanya tersirat.”

Soo Hwa tersenyum lebar dan menyeruput Lattenya. Sepertinya ia puas dengan jawabanku. “Seharusnya kau tak perlu lagi menanyakan hal itu padaku, Oppa.“

“Tapi, setidaknya Van Gogh tidak melukis objek yang sama berkali-kali. Berbeda denganmu bukan? Itulah yang aku tidak mengerti,“ protesku.

“Seperti katamu tadi, hanya orang yang benar-benar memahaminya yang dapat melihat keindahannya. Sebagian orang mengacuhkan hal tersebut yang justru menjadi point of view dari sebuah seni. Terkadang ada beberapa hal yang tak bisa di ungkapkan lewat kata-kata, dan disitulah gambar dapat merangkum ratusan bahkan ribuan kata yang tak bisa dijelaskan. Jika dalam kedokteran forensic mengatakan, ‘biarkan korban berbicara padamu’, maka aku akan mengatakan ‘lihat, rasakan dan biarkan gambar yang berbicara padamu’.”

Aku terpesona dengan setiap kata yang meluncur dari mulutnya. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan begitu saja. Seperti degup aneh yang menghentak saat aku berada di dekatmu. Seperti desiran yang menyelubungi perasaanku saat kau mengerling ke arahku. Seperti rasa rindu yang menggebu saat aku tak menemukanmu di barisan kursi sebuah fresco. Seperti peluh keringat dan kecemasan yang memuncak saat kau membuatku khawatir akan sikapmu. Dan seperti inilah diriku yang memujamu.

Seperti aku mencintaimu. Hanya tersirat namun aku memberikannya padamu dengan atau tanpa makna.

Dan biarkan potret-potret itu yang berbicara bagaimana perasaanmu padaku.

~oo0O0oo~

Tepat tiga tahun yang lalu.

Oh please, don’t leave me alone. What do I do? Why does everyone want to leave me alone? On a night, where everyone’s asleep? Tell me the truth, today different from yesterday, is too late. Saying the promises, everything we said to each other. They are all lies, don’t make me fool.

Ku tangkupkan kedua tanganku menenggelamkan kedua pipinya dengan lembut. Merasakan semburan napas lirih dari kedua lubang hidungnya yang mengembun. Beradu dengan deru napasku yang terengah-engah mirip asap lokomotif tua. Tangan kananku perlahan bergerak merengkuh tengkuknya dan menggenggam beberapa helai surai rambutnya yang tersangkut di celah jemariku. Seolah aku berusaha memperkecil jarak di antara kami agar menembus batas celah yang paling minimal sekalipun. Sedangkan tangan kiriku ikut andil besar dalam membelai lembut halus lengannya. Mereka-reka sejauh mana aku dapat merasakan kelembutannya.

Soo Hwa memejamkan mata. Namun ku dapat melihatnya sekilas matanya berkedut-kedut seperti merasakan kegalauan yang tersirat. Dan noktah bening itu seketika meluncur memahat tulang pipinya. Bibirnya bergetar, meredam isak yang tak ingin bergema. Kedua bidah telapak tangannya menelusuri tulang rahangku ragu. Namun, ada hasrat yang membuatnya ingin menyesapkan kepala di antara leher dan dadaku. Dia masih terdiam, bergelut dengan dirinya semu. Aku mengusapnya sambil termangu.

“Italia?“ tanyaku lagi parau.

Soo Hwa tidak menjawabnya.

Aku menghembuskan napas pilu. Ku telusuri tulang pipinya dengan hidungku, dan berbisik tepat di telinganya, “Tak apa. Itu tidak jauh.“

“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku,“ desis Soo Hwa dari sela-sela giginya.

“Benar. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dari dirimu.“ Aku mencoba tersenyum simpul, namun rasanya bibirku tak bergerak dinamis sesuai dengan egoku. Senyumku patah dan kaku.

Soo Hwa dengan cepat menyurukkan tubuhnya memeluk leherku erat. Sangat erat. Seperti lintah yang menempel erat pada permukaan kulit. Seharusnya aku yang tak ingin melepaskannya, tapi serasa ia yang tak ingin menjauh dariku. “Katakan sesuatu sebelum aku benar-benar pergi,“ bisiknya.

Aku termenung, melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya yang ramping. Sama eratnya hingga aku dapat menghirup aroma yang menjalar dari tengkuknya. Sehingga bila ada yang melihat, maka akan mengira kami adalah sebuah siluet kesatuan yang tak mudah direntangkan. “Aku pasti akan merindukanmu,“ desahku pasrah.

“Hanya itu, heh?“

“Hmm… anieyo[6]. Kalau begitu, aku akan sangat sangat sangat merindukanmu.“

“Dasar kau payah sekali soal menggoda gadis.“

“Jadi, kau gadis sekarang, heh?“ Aku meringis geli. Sontak Soo Hwa mencubit leherku gemas, aku mengerang sambil menambah erat pelukan. Ah, sudah lama aku tak seperti ini. Tapi ya, kenapa baru saat-saat yang tidak mendukung seperti ini? “Jadi, kau ingin aku mengatakan apa padamu?“

“Sesuatu yang tak bisa kau katakan dan lakukan padaku selama ini.“

Aku termangu sesaat. Tidak. Ini sudah sangat terlambat bila aku mengatakannya. Aku rasa tidak ada artinya lagi saat ini. “Anieyo. Tak ada yang aku rahasiakan padamu sampai saat ini.“

“Jinja[7]?“

“Ne[8].“

“Kalau begitu jangan pernah membenciku. Yakseoge[9]?“

“Ne~ Kau cerewet sekali,“ rutukku pura-pura kesal.

Suara jeritan klakson dari mobil SUV hitam tiga kali membuyarkan harmonisasi nada sendu kami. Aku dan Soo Hwa menoleh ke arah sumber suara itu. Seorang pria dengan kacamata hitam melongokkan kepalanya dari kaca jendela depan. Aku mengenalinya sebagai Byung Hee. Ia melambaikan tangan ke arah ku yang dibalas kemudian lambaian ragu. Byung Hee mengedikkan kepala memberi isyarat pada Soo Hwa agar mempercepat prosesiku bersamanya. Hatiku berdesir pilu. Entah mengapa aku berharap waktu tak cepat bergulir.

Soo Hwa melepaskan dekapannya, menatapku dan berganti meraih pipiku dalam dekapan kedua telapak tangannya. “Ini sulit, tapi aku rasa aku juga akan sangat merindukanmu. Hubungi aku bila kau tidak sibuk. Kau tahu, aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal. Karena aku tahu, kita tidak akan berhenti sampai disini, bukan?“

Ada senyum kepedihan yang tersirat dari lengkungan bibir Soo Hwa. Aku merasakannya bagai setruman elektrik yang menggetarkan akal sehatku. Aku tak yakin. Tak yakin melepasnya seperti ini. Mungkin aku benar, namun mungkin juga aku sepenuhnya salah. Ku balas senyumnya semanis sirup gula yang selalu dibawa Soo Hwa kemanapun ia pergi.

Ia menjauh. Berbalik sesaat untuk melambaikan tangan ke arahku. Beberapa detik kemudian, SUV itu membawanya menjauh. Sekaligus menjauhkan hatiku padanya. Membuatku tersadar akan batas-batas yang merentang di antara kami. Memperjelasnya seakan tak lagi benang kasat mata yang hanya bisa diraba rasa.

Aku kalah. Aku patah.

~oo0O0oo~

Only the chair I sat in remembers my scent. After you left cold silence, a small café that is waiting for you.

You don’t need me anymore than nervousness. Don’t say that…

Right now you’ve tricked yourself. Into a thinking that you dislike me. Our names we carved into old desk. In memories, just buried there.

Florence, Italy.

Setahun yang lalu.

Pemeran yang diadakan oleh seniman fotografer Eropa yang kudatangi, cukup menarik perhatian pengunjung Piazza della Signoria. Aku sangat beruntung Byung Hee mengundangku dan memberikan tiket gratis, setelah ia memutuskan untuk pindah dari Brussel ke Florence tiga bulan lalu. Itu berarti tepat saat Soo Hwa juga bertandang ke kota indah ini. Aku tak heran, mereka memang menyukai Florence sebagai objek potret selanjutnya.

Namun, ada satu dari sekian banyak hasil bidikan kamera yang menarik perhatianku sepenuhnya. Hanya satu, namun mampu membuatku terperangah penuh ketidakpercayaan. Satu, yang menggejolakkan hatiku. Satu, yang membuatku terhenyak berhenti pada satu memori yang terlupakan. Aku lupa. Namun entah bagaimana bisa dia mengingatnya. Meskipun hanya satu. Meskipun hanya sekilas.

Potret itu merupakan refleksi dari diriku sendiri. Aku mengenal sebotol Dom Perignon yang tergeletak di meja. Kerlingan lampu-lampu yang menyihir mata. Secangkir Espresso panas yang mengepul di udara. Dan tak lupa sepasang mata yang menggugah siapapun yang melihatnya. Semuanya menyatu dalam ritme yang indah. Malam yang gemerlap, namun terdapat kehangatan di dalamnya. Terbingkai manis dalam pesona fresco yang menawan. Seorang pria berambut perak tengah menatap ke puncak menara Mariensäule yang lampu-lampunya menyoroti patung Virgin Mary, asal mula dari nama sebuah pusat pedestrian di Munich.

Marienplatz.

Dan pria itu adalah aku.

Mataku bergerak liar menjadi catatan kecil yang biasanya terselip di sudut foto. Dan aku pun menemukannya. Sontak terasa seperti sengatan merusak system kerja otakku seketika.

“CAFÉ”

Only the chair I sat in remembers my scent. After you left cold silence, a small café that is waiting for you.

Dedicated to Choi Seung Hyun

~ Jung Soo Hwa ~

“Jung?” desisku.

Jung? Marga Soo Hwa bukanlah Jung, melainkan Kim. Apakah mungkin ini Soo Hwa yang lain? Namun, bagaimana bisa ia merapal namaku dengan sempurna. Lagipula, tak ada Soo Hwa lain yang selalu memotretku selain Kim Soo Hwa.

Kim Soo Hwa yang kurindukan selama dua tahun ini.

Dengan cekatan aku membalikkan badan, menebarkan arah pandang mencari sosok Soo Hwa. Namun, ternyata aku tidak terlalu beruntung. Hanya seorang Fraulein[10] yang tengah tersenyum dengan lengkungan mata khas sebagaimana cara penduduk asli Italia biasa melakukannya. Ia menatapku penuh rasa ingin tahu, karena mungkin saja dia berpikiran objek yang menjadi sorotan di foto itu terlalu mirip denganku. Atau bisa saja dia berpikiran itu adalah aku. Dan memang benar, ya.

“Kau seperti baru saja keluar dari bingkai pigura itu. Benarkah begitu, Tuan?“ komentarnya seolah meneliti setiap inchi dari tubuhku.

Aku meratapnya bingung. Entah bagaimana aku harus menjawabnya. Tapi, kata itu terasa meluncur saja dari lidahku. “Benar.“

“Nona Jung mengabadikannya secara sempurna. Seakan dia mendongengkanku suasana Munich di malam hari.“ Fraulein itu kembali memperhatikan foto dengan seksama tanpa mengalihkan matanya sedetik pun. “Sungguh beruntung pria yang berhasil memikat hatinya untuk mengabadikan memoar itu segera. Namun, lebih beruntung lagi pria yang berhasil memikat hatinya dalam sebuah jalinan kasih abadi. Dalam ikatan pernikahan yang sempurna.“

Ada rasa aneh yang menggetarkan hatiku, namun getaran itu seketika lenyap tergantikan kepedihan yang tak ayal membuatku merutuki diri. Aku menatap sendu lukisan itu dengan hati berkecamuk. Aku tak lain hanyalah seberkas memoar yang pantas untuk dinikmati, bukan untuk dimiliki. “Siapa pria yang lebih beruntung itu, Frau?“

Ahjumma itu kemudian melirikku dalam diam.

~oo0O0oo~

To be continued…


[1] Berarti Tuan dalam bahasa Jerman. Sama dalam penggunaan Sir atau Mister.

[2] Perayaan yang diadakan setiap bulan Oktober di Jerman dan dirayakan dengan berliter-liter bir.

[3] Bahasa Korea, berarti “mengerti?”

[4] Lelaki/pria

[5] Sebutan “kakak” lelaki dari perempuan yang lebih muda

[6] Tidak

[7] Benarkah?

[8] Ya

[9] Berjanji?

[10] Sebutan “Miss/Mrs” bagi orang Jerman