Annyeooongg!!!

huwaaaaaaaahhh!!! akhirnya FF ini selese jugaaa !

Okee, sebenarnya aku punya alasan kenapa aku memposting lanjutannya ini lama bangeett.😀
karena eh karena, aku sudah menyelesaikan FF ini sebelumnya, dan di saat aku mau posting… FILE NYA ILAAANGG!!
oh meeenn, itu bencana tragis abiss.. -____-”

setelah jungkir balik di kasur, merintih dan merinding, telpon sana sini cuman buat curhat, donlot sofwer apapun buat nylametin data *dan ga berhasil*, serta membuat heboh para author yang lain di fesbuk… aku tidak punya semangat menulis. hiks. T____T

dan setelah bekerja keras mengembalikan mood, aku mulai menyusun FF ini kembali. Perjuangan keras lhooo iniii…😄

Jadiii… FF ini akan aku persembahkan untuk DictaVIP dan Tam P. yang sudah menyemangatiku tanpa henti.
hiks. eon terharu nak…😀

oya, sebelum kalian membaca cerita ini, mungkin lebih baik lagi kalo kalian baca ulang Part 1 nya. biar feel nya dapet gituu…
tapi kalo nggak ya nggak papa. hha…

sudahlah, curcol mulu nih…

Happy reading!

———————————————————————

Ga In POV

Kamu tahu, aku berusaha sangat keras untuk melupakanmu…

***

Aku meringkuk di kasur, di kamar ku. Tanganku memeluk lututku dan menatap jendela di samping kasurku dengan tatapan kosong. Hujan. Rintik air itu turun dengan deras, seakan ikut menghukumku. Dan aku di sini, terdiam, tak tahu harus melakukan apa untuk menghempaskan rasa bersalahku, kesakitanku, dan perasaan cintaku…

Aku tak bisa berhenti mengingatnya. Tak bisa walau hanya sedetik pun. Sekeras apapun aku melupakannya. Dia orang yang lucu, kekanakan, penuh ekspresi dan kejutan. Orang yang sangat sabar, walau aku sering menggodanya. Orang yang tetap baik padaku, walau aku selalu bersikap jahat padanya.

Aku tak bisa berhenti mengingatmu, Kwon-ah…

Air mataku mulai jatuh ketika mengingatnya. Mengingat semua kebaikannya kepadaku.

Aisshh… Gain, buat apa kamu menangis? Bukankah dia hanya lelaki manja yang selalu menyusahkanmu? Bukankah itu yang selalu kamu katakana pada dirimu sendiri? Kenapa kamu masih menangisinya? Kenapa kamu masih mencintainya, Son Gain? Kenapa kamu masih menyesali semua perbuatan kejammu padanya?

Ya, aku memang sudah berbuat kejam padanya. Sangat kejam. Setelah acara We Got Married berakhir, aku berusaha menghindar darinya. Aku tahu, dia selalu mencariku ketika syuting-syuting yang melibatkan kami berakhir. Aku tahu dia menghampiriku, tapi aku menghilang sebelum dia sampai. Aku tahu dia mencoba berbicara padaku, tapi aku membalasnya dengan ketus. Aku memandangnya dengan benci, sinis, seolah aku sangat tidak ingin melihatnya. Aku memang tidak ingin melihatmu, Kwon-ah. Tidak ingin! Karena itu akan membuatku semakin sulit melupakanmu.

Kamu tahu, sangat sulit untukku untuk berbuat hal-hal seperti itu padamu. Aku berusaha sangat keras untuk bisa berkata sekejam dan sekeras itu padamu. Setiap kata kasar yang aku tujukan padamu, seolah menjadi pisau yang langsung menghujam seluruh tubuhku sendiri. Sangat sakit. Sangat sakit hingga rasanya tubuhku menjadi kebas. Tapi aku harus melakukannya. Aku harus bisa…

Kamu ingin tahu alasanku, Kwon-ah?

Karena aku bukanlah yeoja yang pantas untukmu, Kwon-ah. Benar-benar tidak pantas. Kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari aku. Jauh jauh jauh lebih baik dariku. Lihat aku, Kwon ah.. aku hanya yeoja tua berumur 27 tahun. Sedangkan kamu? Kamu masih di pertengahan 20 tahun. Kamu bisa dengan mudah mendapatkan yeoja yang lebih muda, lebih cantik, lebih sempurna, lebih lebih segalanya dibandingkan aku…

Ya, aku bukanlah apa-apa dibandingkan mereka yang nannya akan kau pilih… Siapapun itu.

Kamu tahu, aku cemburu. Aku marah. Perasaanku terbakar setiap aku melihat ada yeoja berdiri dan tertawa manis di sampingmu. Aku sering melihatmu berfoto dengan yeoja yang tak kukenal, dan beredar dengan cepat di internet. Kamu tak mungkin tahu, bahwa melihatmu tersenyum pada mereka saja, itu benar-benar membuat hatiku terajam hingga aku tak bisa melihat serpihannya. Menyakitkan. Sangat sakit! Tapi aku tak boleh marah padamu. Aku ini bukan siapa-siapa bagimu! Tak ada status yang mengikat kita yang membuatku bisa mengekangmu dengan siapa saja. Aku meneriakkan hal itu dalam hatiku setiap kali aku melihat foto-fotomu. aku menyerukannya sekuat mungkin untuk menutupi rasa sakit yang selalu menerjangku tanpa pengampunan.

Apakah kamu ingat Kwon-ah ketika aku bertemu denganmu di ruang 2AM ketika Inkigayo? Ketika kamu mengira bahwa aku salah ruangan? Ketika akhirnya kamu membiarkanku pergi dari ruangan itu?

Tidak Kwon-ah, aku tidak salah ruangan. Aku memang ingin masuk ke dalam ruanganmu, tanpa kamu tahu. Aku melihatmu datang dengan memakai jaket kulit yang biasa kamu kenakan saat bersamaku. Aku bisa melihatmu walau hanya dari sudut mataku yang tengah berlalu sekilas. Aku melihatmu dengan jelas, Kwon-ah…

Aku berjalan pelan menuju ruanganmu. Sudut mataku mengitari sekeliling, memastikan tidak ada yang melihatku. Aku ingin ke ruanganmu tanpa ada yang tahu.

Apa kamu ingin tahu apa yang ingin aku lakukan, Kwon-ah?

Aku ingin memeluk jaketmu.

Ya, aku memang gila. Aku memang sudah gila karena terlalu mencintaimu. Semua rasa rindu ini terlalu besar, terlalu kuat dan dalam bercokol dalam otakku, membuatku kehilangan akal sehatku sendiri. Dan ketika kusadar, aku sudah mencandumu. Amat sangat candu hingga rasanya sakit bila mengetahui kamu tidak akan pernah bisa lagi kudapati. Aku candu akan dirimu, senyummu, kebaikanmu, kehangatanmu, cintamu, semua tentang dirimu. Bahkan… wangi tubuhmu yang selalu tercium ketika kamu memelukku. Wangi tubuh yang selalu sama tiap kali kita bertemu. Parfum Bvlgari for Men. Aroma kayu oriental yang manis dan menenangkan. Wangi tubuh yang tidak akan pernah bisa aku lupakan…

Aku pikir kamu berada di backstage bersama anggota 2AM yang lain, karena itu aku ingin masuk dalam ruanganmu dan memeluk jaketmu. Aku ingin memeluknya seerat mungkin, menciumi dan meresapi aroma tubuhmu yang melekat erat pada setiap serat jaket itu. Aku ingin memeluknya, mencoba mengenang setiap serpihan kenangan. Aku ingin memeluknya, mencoba meredakan sedikit rasa sakit karena merindumu yang selalu mencoba mencabikku setiap saat.

Karena itu, aku sangat kaget ketika aku melihatmu berada dalam ruangan itu. Aku tak tahu apa yang kurasakan saat itu. Rasa rindu, cinta, yang selalu kutekan sekuat mungkin sejak dulu rasanya langsung membuncah keluar. Aku benar-benar ingin memelukmu, namun badanku tak bisa bergerak sedikit pun. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan padamu. Lidahku tiba-tiba terasa kelu. Mana mungkin aku harus mengaku bila aku ingin memeluk jaketmu? Aku berpura-pura seolah aku salah ruangan, dan kamu percaya. Aku bisa merasakan semburat merah yang timbul di wajahku karena malu.

Setelah itu, kamu mencoba mencegahku untuk pergi. Dan lagi-lagi, hanya kata kasar yang bisa keluar dari mulutku. Hanya itu yang bisa terucap walau hatiku tak ingin aku melakukan hal itu.

“Wae? Aku sudah tahu, aku yang salah. Apalagi?”

Ya Tuhan, itu kasar sekali. Mianhae Kwon-ah… mian…

Dan seolah itu belum cukup, aku memotong perkataanmu dengan nada suaraku yang semakin ketus dan kasar. Mataku memandangmu sedingin es, hingga membuatmu sedikit gentar untuk melawanku.

“Bukan itu yang ingin aku bicarakan, noona. Aku ingin…”

“Sudahlah, kwon-ah. Bukankah sudah tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan. Aku mau pergi.”

Saat itu, aku benar-benar ingin pergi dari hadapanmu. Karena bila terlalu aku terlalu lama dalam ruangan itu, maka rasa rindu yang sudah meluap-luap ini akan membuatku kehilangan kendali. Bisa saja nantinya ini akan membuatku beranjak memelukmu. Ya, setengah diriku memang ingin memelukmu. Namun egoku masih berkata bahwa ini tidak benar dan tidak seharusnya aku melakukan itu mengingat apa yang sudah aku pertahankan sejak dulu. Aku harus mengingat dengan sangat jelas dan menyakitkan, bahwa aku, bukanlah yeoja yang pantas untukmu.

Kamu berusaha mencegahku untuk pergi dari ruangan itu, namun aku tidak menghiraukanmu dan pergi meninggalkan ruangan itu. Aku segera berlari menuju ruanganku. Ketika itu, aku sedikit berharap kamu mengejarku, menarik tanganku dan menenggelamkanku dalam pelukanmu. Namun ternyata kamu tidak ada di belakangku. Bahkan aku tidak mendengar derap langkahmu keluar dari ruangan itu. Aku… sedikit lega ternyata kamu tidak melakukannya. Namun, ternyata besar sekali rasa kecewa yang kurasakan karena pengharapanku adalah sesuatu yang sia-sia. Sangat kecewa.

Aku langsung jatuh terduduk di lantai ketika ku sampai dalam ruanganku. Semua pertahanan yang aku pasang sejak tadi aku lepaskan. Yang tertinggal hanyalah diriku yang rapuh. Air mataku mulai jatuh perlahan ke pipiku. Aku benar-benar menyesali setiap kata yang baru saja keluar dari mulutku, setiap perlakuan yang baru saja kulakukan padamu. Dadaku benar-benar sakit, rasanya seperti ribuan pisau ditancapkan beruntun ke sekujur tubuhku. Aku memegang dadaku, mencoba mengurangi rasa sakitnya, namun tida berpengaruh.rasa sakit itu seolah tetap mencoba mebunuhku perlahan. Nafasku semakin pendek dan memburu, seiring tangisku yang semakin kalap. Aku ingin berteriak, meneriakkan rasa sakit yang sangat tidak tertahankan ini, namun tidak bisa. Aku tidak bisa meneriakkannya. Yang ada hanyalah isak tangis tertahan dan tanpa suara yang keluar dari mulutku. Bahkan diantara rasa sakit yang tak terhingga ini, aku masih bisa memikirkanmu, memanggilmu dalam hatiku seolah kamu akan mendengarku.

Mian, Kwon-ah… Sakiitt… Sangat sakit, kwon-ah… kemarilah dan sembuhkanlah rasa sakit ini… aku mohon… tolong aku…

Dan kini, aku menelungkupkan wajahku di sela lututku. Aku menyesali semuanya. Semua yang pernah aku lakukan padamu.

Mian… mian Kwon-ah… aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku padamu… mianhae…

Rasa sakit itu muncul lagi di dadaku. Selalu lebih sakit. Setiap kali rasa sakit itu datang, rasanya selalu dan selalu jauh lebih sakit. Dan aku tidak pernah bisa terbiasa dengan rasa sakit dan perih itu. Aku sadar, bahwa rasa cinta dan rinduku padamu ini mencoba membunuhku perlahan. Aku sudah berusaha untuk menekan kedua perasaan itu, namun yang muncul selalu rasa sakit ini. Aku menyerah. Jika memang aku tidak bisa berhenti mencintaimu, maka yang harus aku lakukan adalah menyembunyikan rasa cinta ini serapi mungkin.

Aku benar-benar seperti membohongi diriku sendiri. Aku seperti ular yang bermuka dua. Di depanmu, aku bersikap kasar, seolah kamu adalah musuh yang paling aku benci. Padahal di belakangmu, aku hanyalah seorang pesakitan yang selalu berharap dirimu datang dan memelukku.

Benar-benar seorang pesakitan bodoh…

Air mataku perlahan meleleh dari dua sudut mataku, merembes diantara dua lututku. Aku terisak pelan.

“Gain-ah?”

Aku mengangkat wajahku dan melihat siapa yang memanggilku. Narsha unnie. Aku mencoba mengulaskan senyum di bibir, walau yang nampak hanya segaris kaku yang terbentuk terpaksa. Suaraku pun menjadi sedikit serak karena menangis. “Hei, unnie…”

Melihatku yang tak ubahnya seperti mayat hidup, Narsha unnie bergegas mendatangiku. “hei? Kamu kenapa?”

Aku langsung mengusap air mata yang tersisa di pipiku dan menarik nafas untuk menenangkan diriku sendiri. Kemudian aku menggeleng pelan. “Gwenchana, unnie. hanya teringat sesuatu yang tidak penting…”

“Kwon-ah?”

Aku hanya tersenyum, tak menjawab apapun. Karena senyuman  itu sudah menjadi tanda untuknya. “Ada apa memanggilku, unnie?”

Dia teringat sesuatu yang membuatnya datang ke kamarku. “Aku ingin mengajakmu ke tempat latihan dance pribadiku. Yang di pinggiran kota itu lhoo…”

Aku berpikir sejenak, mencoba mengingat tempat yang dimaksud unnie. “Aaahh… yang itu. Kenapa aku harus ikut?”

“Aku ingin bertemu dengan seseorang, Gain-ah…”

“Seseorang?”

“Yapp! Jadi, mandilah dan berpakaian yang cantik. Karena aku tidak mau membuatmu malu di depan orang itu.” Dia mengerlingkan matanya.

“Seseorang siapa sih, unnie?”

“Nanti kamu tahu sendiri.” Kemudian dia mendorongku untuk segera turun dari tempat tidur. “Sudahlaaahh… yang mempunyai urusan kan aku. Dan aku tidak mau urusanku terlambat. Jadiiii… cepatlah mandi dan ganti bajumu.”

“Nee nee…” aku menyerah dan mengikuti kemauannya.

Dia tersenyum senang seperti anak kecil. “Aku tunggu kamu di depan.” Setelah itu dia langsung meninggalkan kamarku.

***

“Unnie, ini tempatnya kan? Mana orangnya?” aku melihat gedung yang menjulang di depanku, kemudian menoleh kanan kiri mencari orang yang ingin ditemui unnie.

Unnie terlihat bingung. “Euhm… mungkin ada di lantai dua. Aku tahu biasanya orang itu latihan. Ayo!” dia mendorongku masuk ke dalam gedung.

Aku berjalan mengikuti Narsha unnie di menyusuri koridor gedung. Gedung ini selalu seperti biasa. Terlihat sepi di luar, namun ternyata ramai di dalam. Karena setiap ruangan selalu tertutup dan kedap suara, maka gedung ini selalu tanpa suara. Seolah tidak berpenghuni. Aku tersenyum kecil ketika melihat sekumpulan anak SMA yang menari bersama di salah satu ruangan yang pintunya sediit terbuka. Aku dulu juga seperti itu…

“Yak, ini tempatnya.” Narsha unnie menunjuk pintu di depannya yang berada di lantai dua. Kemudian dia mencoba membuka pintu itu. Beberapa lama dia mencobanya, namun pintu itu tidak bergeming. Kelelahan, dia berbalik ke arahku. “Gain-ah… bukakan pintunya. Sulit sekali membukanya…” dia merajuk.

Aku mendekat kea rah pintu, dan Narsha unnie berjalan mundur di belakangku. Aku  mengayunkan daun pintu perlahan. Dengan mudahnya pintu itu terbuka. Bagian mana yang sulit unnie?

Aku membuka pintu lebar-lebar. Kamar itu begitu gelap, tanpa penerangan sama sekali. Namun tiba-tiba lampu dinyalakan, dan ruangan begitu terang. Sangat terang hingga aku harus memejamkan mataku untuk meghalangi sinarnya yang berlebiha masuk ke dalam mataku. Dan sebelum aku sempat membuka mataku, tiba-tiba…

“SAENGIL CHUKKAEE !!!”

Terkaget, aku membelalakkan mataku yang tipis. Aku memandang sekeliling ruangan yang dipenuhi beberapa temanku. Ada miryo unnie dan  Jea unnie yang membawa kue tart, dikelilingi teman-teman dari agensiku. Ya tuhan, aku benar-benar tidak menyangka…

“Uwaaa… gomawoooo!!!” aku berteriak senang.

“Gain-ah, ayoo tiup lilinnya.!” Jea unnie melambaikan tangannya ke arahku, menyuruhku mendekat kepadanya.

Aku mendekat ke arahnya dan meniup lilin yang mengelilingi kue tart yang cukup besar itu. Setelah seluruh lilin adam, mereka langsung bertepuk riuh menyelamatiku. “Gain, saengil chukkae!!”

“Gomawo… Jeongmal gomawoyoo…”

“Sebentar, hadiahku habis ini datang.” Narsha unnie melihat layar handphone nya sejenak kemudian tertawa penuh misteri ke arahku.

“Hadiah?” aku mengernyitkan keningku, bingung.

“Ah, iya! Hadiah kita…” Miryo unnie menanggapi.

“Miryo unnie, Jea unnie, hadiah apa?”

Mereka tidak menjawab apapun, hanya tersenyum penuh misteri.

Sesaat kemudian, pintu terbuka lebar. Beberapa orang berdiri di depan pintu yang terbuka. Aku menolek kea rah pintu. Tiba-tiba mataku terbelalak. Amat sangat kaget. Jantungku langsung berdebar kencang hingga aku bisa merasakan aliran darah yang berdesir melewati setiap kujur tubuhku. Ada orang itu. Di depan pintu itu, ada seseorang yang paling ingin kutemui sekaligus paling kuhindari, juga memandangku dengan terbelalak.

Jo Kwon-ah.

“No… Noona?” dia mengucapkannya dengan susah payah.

Aku membalasnya dengan setengah berteriak tak percaya, “Kwon-ah?!”

***

“Yak, ini hadiah kami untukmu.” Narsha unnie memecahkan kekagetanku dan keheningan yang terjadi. Dia menunjuk Kwon-ah.

“Oke! Semuanya keluar!” Miryo unnie langsung mendorong semua yang ada dalam ruangan itu untuk pergi.

“App… Apa mak…”

BLAMM!

Belum selesai aku berbicara, pintu sudah ditutup keras. Dalam ruangan itu, hanya tinggal aku dan Kwon-ah. Oh Tuhan, apa-apaan mereka ini?! Meninggalkan aku bersama orang yang paling tidak ingin kutemui. Haiiisshh !!

“No… noona…” Kwon-ah memanggilku ragu.

Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya. Mataku menatapnya dingin. “Wae?!”

Dia tidak menjawab. Mimiknya kaget melihatku yang memandangnya sedingin es. Aku menelisik setiap sudut tubuhnya, dari atas-ke bawah. Ya tuhan, aku rindu sekali dengan orang ini. Amat sangat rindu…

“Noona, saengil chukkae…” Kwon-ah mengatakannya lirih, penuh keraguan dan ada ketakutan.

Saengil chukkae? Huh, lucu sekali! Pasti dia dan orang-orang yang sekarang berada di luar sana, telah bersekongkol mempermainkanku. Mereka kira aku ini bisa dengan mudah mereka permainkan sesuka hati. Yang benar saja!

Aku memandang wajahnya sekali lagi. Kali ini, memikirkan apa yang sudah dia lakukan, benar-benar membuatku benci. Sangat benci!

Aku menghela nafas sebal, dan tersenyum sinis. Menyadari bahwa aku sedang dipermainkan benar-benar membuatku marah. mataku menyipit menatapnya dengan emosi. “Ini semua rencanamu kan?”

“Rencana?”

“Nee! Rencana! Kamu bersekongkol dengan orang-orang itu, untuk mempermainkanku. PUAS?!”

“Aku tidak…”

“Cukup, Kwon-ah! Tak usah beralasan! Dengan ini, aku semakin membencimu.” Aku berteriak sekuat mungkin, melepaskan semua emosi yang aku rasakan. Aku berbalik meninggalkannya. Aku bisa semakin emosi bila aku terus disini.

“Noona!” Kwon-ah memanggilku keras, namun tak kuhiraukan. Aku benar-benar tak ingin melihatnya.

Tiba-tiba dia menyergap tanganku keras dan menariknya hingga aku berhadapan dengannya. Belum selesai keterkejutanku atas perlakuannya, dia menciumku. Ya, dia menciumku dengan lembut. Ya tuhan, aku rindu ciuman ini. Amat sangat rindu. Tapi aku tidak boleh begini, egoku menyuruhku untuk melawannya. Tanganku yang bebas mencoba mendorongnya. Tapi dengan cepat tangannya bergerak menuju punggungku dan mendorongku untuk lebih dekat dengannya. Kini sudah tidak ada jarak diantara kami. Tanganku yang sejak tadi berusaha mendorongnya kini terjepit diantara tubuh kami yang berlekatan, tak bisa bergerak sedikit pun.

Dia terus menciumku. Mengecup setiap sudut bibirku. Ya Tuhan, kelembutan ini… aku merindukannya. Aku sangat merindukan ciuman ini. Bolehkah aku melepas sedikit egoku dan menikmati setiap kecupannya? Aku membalas kecupannya. Membalas setiap ciuman yang dia berikan padaku. Aku memasrahkan diriku dalam pelukannya, tak melawan sedikitpun.

Dia menjauhkan wajahnya. Melepaskan pelukannya, namun tidak dengan genggaman tangannya di salah satu tanganku. Dia mencoba melihat raut wajahku. Dengan cepat aku membuang muka.

“Mianhaeyo, noona…”

Deg! Jantungku langsung mencelos mendengar kata-kata yang baru saja dia ucapkan. Mian? Apa maksudnya dengan mian? Apakah dia tidak berniat menciumku? Apakah ciuman yang baru saja dia berikan tadi hanya sebuah permainan, dan kini dia akan mengatakan bahwa semua permainan akan segera berakhir?

Apakah itu artinya… aku benar-benar dipermainkan?

HUHH! Bodoh sekali aku ini! Menganggap bahwa dia benar-benar ingin menciumku. Dan aku telah mempermalukan diriku sendiri. Pabo!

Aku menatapnya marah. Kini emosi sudah membakar sekujur tubuhku, hingga aku bisa merasakan aliran darah yang panas mengalirinya. “Mian?! Apa maksudmu dengan MIAN?!!” Aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling, lalu menatapnya lagi dengan tatapan dingin dan tajam. “Aku benar-benar membencimu. Kamu dengar, Jo Kwon? AKU MEMBENCIMU!!”

“Noona, jangan membohongi dirimu sendiri!” nada suaranya setengah berteriak dan terdengar kesal.

“Aku tidak berbohong! Aku memang sangat membencimu!!” Aku mencoba melepaskan tanganku yang sejak tadi digenggamnya keras. “Sekarang, lepaskan tanganku!”

Dia menguatkan genggaman tangannya,hingga rasanya sekarang sangat sakit bila aku mencoba menggerakkannya. “Noona, aku mohon, jangan membohongi dirimu sendiri! Aku bisa merasakannya dari ciumanmu padaku. Aku tahu, ada cinta yang kamu berikan padaku melalui ciuman itu. Dan cinta itu sangat besar. Aku tahu, noona!”

Air mata seketika meleleh dan jatuh ke pipiku. Dia mengetahuinya. Dia bisa merasakannya. Apa yang harus aku lakukan?! Apakah aku harus melepaskan semua pertahananku? Tidak! Aku tidak boleh melakukannya! Kamu sudah berjanji pada dirimu sendiri, Gain. Kamu tidak akan pernah mengizinkan dirimu untuk jatuh cinta pada lelaki ini.

Susah payah aku menjawab semua kata-katanya. Terbata-bata aku mengatakannya di sela isak tangisanku. Setiap kata yang aku ucapkan, rasanya seperti sembilu yang menusuk diriku sendiri. “Kamu… Sok tahu… Aku tidak mencintaimu, Kwon-ah… Aku memben…”

“Hentikan, Noona. Aku mohon jangan menyakiti dirimu seperti ini…” dia memotong perkataanku. Dia mengatakannya dengan lirih, nadanya memohon padaku. Ada perasaan sakit yang keluar dari setiap kata-kata yang dia ucapkan.

Tangisku semakin deras mengalir. Semakin susah payah aku menjawab setiap kata yang dia ucapkan. Aku mencoba menjawabnya, walau aku tidak yakin di akan mendengarnya, terhalang oleh isak tangis yang saling berlomba untuk keluar dari mulutku. “Aku… tidak… men…”

Graapp!

Perkataanku terpotong. Aku tak bisa melanjutkannya karena kedua tangan Kwon-ah langsung bergerak memelukku erat, menenggelamkanku dalam dadanya yang bidang. Membuatku tubuhku da kedua tanganku terkunci dalam pelukannya, tak bisa bergerak sedikitpun. Dia berbisik lirih di telingaku. Nada suaranya terdengar sangat pilu dan menyakitkan, seolah mendengarnya saja bisa membunuhku. “Aku mohon, noona… hentikan…”

Tangisku makin menjadi. Ya Tuhan, kali ini, apa aku masih bisa mempertahankan egoku?  Setelah semua yang namja ini lakukan padaku, setelah semua pembuktian yang dia berikan padaku, apakah aku masih sanggup mempertahankan egoku? Ayo Gain, kamu harus bisa! Selama ini kamu bisa menekan semuanya, dan jangan sampai semua perlakuannya hari ini membuatmu lemah.

“Aku… me… mang… memben…”

Kwon-ah mempererat pelukannya terhadapku, hingga kini tidak ada lagi jarak diantara kami. “Cukup, noona…  aku tidak ingin kamu menyakiti dirimu sendiri…”

“Aku… ti…dak…” Aku tidak bisa meneruskannya. Isakanku yang semakin sering membuatku tak bisa meneruskannya.

Ya Tuhan, aku tidak sanggup lagi membendung rasa cinta dan rinduku terhadapnya. Aku tidak kuat lagi untuk terus mempertahankan egoku. Semua yang dia lakukan sangat lebih dari cukup untuk membuatku takluk di hadapannya. Ya Tuhan, izinkan aku melepaskan semua pertahananku terhadapnya…

“Mianhae, Kwon-ah… Jeongmal Mianhae…” ucapku lirih di balik pelukannya.

Tangan Kwon-ah membelai rambutku yang pendek dengan lembut. “Tak apa, noona. Kamu tidak pernah berbuat salah padaku…”

Ya Tuhan, dimana lagi aku bisa menemukan seorang namja sebaik ini? Perkataannya membuatku semakin merasa bersalah. Tangisanku kini benar-benar deras, hingga air mataku yang mengalir begitu banyak membasahi baju Kwon-ah. “Mianhae… mian… mian, Kwon-ah…”

Tanganku bergerak menuju punggungnya, membalas pelukannya. Merasakan kehangatan yang dia berikan dalam pelukannya. Menciumi setiap aroma tubuh yang keluar dari tubuhnya. Menikmati setiap waktu yang bisa kurasakan bersamanya.

Kwon-ah mendorong tubuhku pelan, membuatku melepaskan pelukanku. Dia menatapku lekat-lekat, hingga aku bisa melihat pantulan diriku di matanya. “Noona, saranghaeyo…”

Rasanya duniaku langsung berhenti. Aku hanya bisa mendengar gema suaranya masuk ke dalam telingaku berulang kali, seperti kaset yang terus diputar. Senyumku mengembang. “Na ddo saranghaeyo, Kwon-ah…”

“Jadi, sekarang noona jadi yeoja-chingu ku ya…”

Dahiku mengernyit. “Bukan istri?”

“Pilihlah noona, jadi istri tapi pura-pura, atau… yeoja-chingu dalam kenyataan?”

Aku tertawa kecil dan tidak menjawabnya. Tanganku langung bergerak memeluknya. Ya Tuhan, izinkan aku mencintainya. Aku sangat mencintai namja ini, Tuhan…

“Noona…”

Aku merajuk di dalam pelukannya. “Panggil aku yeobo, Kwon-ah… aku lebih suka kamu memanggilku seperti itu…”

Dia tertawa. “Nee, nee… Yeobo… aku tadi ingin bilang, mianhaeyo. aku tidak bisa berhenti mencintaimu…”

Aku tersenyum. Bahagia.

Aku menjauhkan badanku darinya, lalu menoleh kea rah pintu yang sejak tadi tertutup. “Yak, kalian semua boleh keluar! Apa tidak capek menguping terus di sana??”

Perlahan pintu terbuka, dan orang-orang yang sejak tadi sudah keluar meringis malu.

“Euhyk?! Hyung?! Noona?! Kalian dari tadi di sana?”

—————————————————————————-

fin.

ya ampun, kali ini… aku bener2 ngrasa nggak maksimal… T_____T
abisnya numbuhin mood nya itu susah bangeett..

kalo jelek, geje, mianhae yaaa…😥

pokoknyaaa, kalian tetep harus comment ! *maksa*
kalo suka ya jangan ragu untuk kasih jempol alias Like . =D

hha…

overall, semoga kalian puas yaaa….

gomawoyoooooooo………..!!!!!!!!!!!!!!