Title : Bloody Love

Genre : Horror, Angst, Sadism, Romance

Rating : PG-15 / PG-17

Casts : Lee Seung Young, Seungri Big Bang, G-Dragon Big Bang, Minzy 2NE1

Disclaimer : Semua casts dan latar tempat bukan punya saya.

WARNING : Pembunuhan sadis, penyiksaan. Yah, biarpun nggak kejam-kejam amat, sih. Tapi bagi yang nggak bisa / atau nggak kuat baca, mendingan jangan.

A/N : Saya kembali lagi dengan FF baru. FF request-an dari Dhicta eonnie karena udah menang kuis FFLA. Huhuhu… Ini ff sadis saya yang pertama. Menurut saya, sih… nggak sadis-sadis amat. Soalnya saya emang nggak bisa nyiksa orang. Bisanya nyiksa diri sendiri (baca: Masokis) #PLAK

Okeh! Kita langsung saja! Buat Dhicta eonnie, semoga suka~

Happy Reading~ Jangan lupa comment~

***

SEUNG YOUNG POV

Kulihat bayangan diriku di kaca toilet sekolah. Terlihat refleksi seorang gadis dengan rambut acak-acakan dan mata sembab sehabis menangis. Benar, aku memang baru saja menangis. Aku membasuh wajahku menggunakan air dari wastafel. Kulihat diriku lagi di cermin sembari memasukkan tanganku ke dalam saku jaketku. Ah, ini sudah jauh le–

“Aw!” aku memekik kesakitan.

Sial. Ujung pisau lipat yang kubawa menggores ujung jari telunjukku. Ah, aku memang ceroboh. Bisa-bisanya pisau lipat itu kumasukkan begitu saja ke dalam saku jaketku, tanpa menyarungkan atau menutupnya lagi. Pantas saja tanganku terluka.

Kulihat luka di jariku. Luka kecil, namun cukup dalam untuk membuat banyak darah mengalir keluar dari sana. Badanku bergetar pelan. Bukan, bukannya aku takut dengan darah. Justru aku malah sangat-sangat menyukai cairan amis berwarna merah itu. Aku… merasa senang sekaligus nyaman. Luka ini, bukannya membuatku kesakitan atau apa. Tapi malah membuatku senang? Aku memang aneh.

Oke, aku bukan seorang masokis gila yang sering melukai diri sendiri. Aku masih normal. Aku masih suka dengan laki-laki (karena aku perempuan). Aku masih makan makanan yang sama dengan orang lain (nasi maksudnya). Aku masih bisa berpikir waras. Aku tidak mengalami depresi akut. Aku masih memiliki perasaan di hatiku. Itu berarti aku masih sangat-sangat normal. Iya, kan?

Aku menghela nafas pelan dan mulai membersihkan lukaku menggunakan air. Tindakan yang sangat bodoh, karena itu justru akan membuat lukaku semakin perih. Aku mengernyit menahan sakit. Kuperhatikan darahku yang ikut mengalir bersama air ke wastafel putih itu. Warna yang sangat kontras. Merah darah dan juga putih.

Aku mengangkat bahuku, masa bodoh. Kukeluarkan pisau lipat itu dari saku jaketku. Ah, ujungnya ternyata sangat tajam. Pantas saja jariku bisa terluka sampai seperti itu. Kusentuh pisau lipat itu perlahan-lahan. Kususuri setiap bentuk dan lengkungan pisaunya. Tapi, aku mulai merasa kulit jariku yang lain sedikit tersayat – tetapi belum mengeluarkan darah – karena sedaritadi berulang kali jariku kuarahkan dan juga kuusapkan di bagian pisau yang tajam itu. Bagus sekali. Kulihat kulit jariku yang sedikit tersayat itu.

Oh, tenanglah. Aku tidak akan menggunakan pisau lipat ini untuk melukai diriku sendiri. Sekali lagi kukatakan, aku bukan seorang masokis. Aku membawanya – sebenarnya – bertujuan sebagai alat perlindungan diri. Tetapi, kupikir kegunaan alat ini sudah melenceng jauh dari tujuan awalnya. Kenapa? Karena aku lebih sering menggunakan pisau itu untuk mengukir sesuatu di tembok atau pohon. Benar-benar kurang kerjaan.

Sudahlah. Kumasukkan lagi pisau lipat itu ke dalam saku jaketku. Dan akupun mulai melangkah keluar dari toilet sekolah. Jam sekolah sudah selesai sedari tadi. Jadi, seharusnya aku sudah berada di rumah sekarang bukan? Ngomong-ngomong, kenapa tadi aku bisa-bisanya pergi ke toilet sekolah – lebih dulu – hanya untuk menangis? Ah, ya. Sebenarnya, itu karena–

“Oppa, kau sudah selesai? Ayo kita pulang.” Suara seorang gadis yang tidak asing lagi terdengar di telingaku.

Aku mulai melihat ke arah asal suara itu. Tepat seperti dugaanku. Gadis yang baru saja bicara itu adalah… Jung Soo Jin. Gadis yang sudah merebut orang yang kucintai dariku. Cih!

Aku menggeram pelan dan mulai berpegangan pada dinding di sampingku sembari tetap melihat kejadian di depan mataku itu. Aku berusaha mati-matian menahan emosiku yang sudah nyaris meluap.

“Tentu saja. Oh, ya. Soo Jinnie, bagaimana kalau kita pergi berjalan-jalan dulu? Kau mau?” lanjut seorang pemuda yang tentu saja aku sangat-sangat mengenalnya. Lee Seung Hyun, atau dia lebih sering dipanggil dengan nama Seungri.

Kulihat, Seungri oppa tersenyum dan merangkul Soo Jin dengan mesra. Dia juga menatap Soo Jin dengan tatapan mata lembut penuh kasih sayang. Ah, kenapa oppa? Kenapa kau melakukan hal itu tepat di depanku?

“Ayo! Lagipula besok sekolah libur.” Balas Soo Jin. Dan mereka berdua mulai menghilang dari pandanganku.

Kucengkeram erat-erat dada kiriku. Mencoba menahan rasa sakit yang sudah muncul sejak entah kapan, bahkan sebelum aku menangis di dalam toilet tadi. Benar. Aku memang menangis karena aku melihat Seungri oppa yang bermesraan dengan Soo Jin, si gadis menjijikkan itu, tepat di hadapanku! ARGH!

Dapat kurasakan mataku sudah mulai memanas lagi. Aku menangis lagi, ya? Terserahlah. Aku tidak peduli. Karena rasanya sakit melihat orang yang sangat-sangat kucintai ternyata tidak akan pernah bisa mencintaiku dan malah sibuk bermesraan dengan gadis lain – yang dia sukai – tepat di hadapanku. Nasibku benar-benar tragis.

Ya. Aku memang sangat-sangat mencintai pemuda itu. Lee Seung Hyun. Seungri. Pemuda yang sudah mengunci hatiku padanya hingga aku sama sekali tidak bisa berpaling pada pemuda lain. Sedikit pun.

Tapi, kenapa kau malah tidak bisa mencintaiku juga, oppa? Kau malah lebih memilih mencintai gadis lain, yang belum tentu benar-benar mencintaimu secara tulus. Kau tidak pernah melirikku sedikitpun, tapi kau malah sibuk merayu gadis-gadis murahan itu. Aku tidak terima! Aku tidak rela sedikitpun, oppa! Aku tidak bisa melihatmu bersama gadis lain! Dan itu berarti aku juga tidak suka melihatmu bersama Soo Jin terus-menerus! Apa kau mengerti itu, oppa?

Ah, aku yakin pasti kau tidak akan pernah mengerti. Benar, kan? Kau sama sekali tidak pernah mencoba untuk mengerti diriku, sedikitpun. Iya, kan?

Padahal aku menyukaimu, oppa. Aku sungguh-sungguh mencintaimu dengan tulus. Aku tidak bisa mengenyahkan bayanganmu dari pikiranku, oppa. Aku benar-benar menyayangimu. Apalagi yang kurang dari perasaanku, oppa? Jawab aku!

Aku mau kau menjadi milikku, oppa! Apapun yang terjadi. Karena kau tidak pantas bersanding dengan gadis lain, selain aku!

Kuusap pelan air mataku yang semakin deras saja menggunakan punggung tanganku. Aku menghirup nafas dalam-dalam, masih sesenggukan. Aku tidak peduli. Sekolah sudah sepi sekarang. Tidak akan ada orang yang tahu aku menangis di sini. Kucoba untuk menghentikan tangisku. Sudahlah, Seung Young. Hentikan tangismu dan segeralah pulang.

Ketika aku mulai berjalan menuruni tangga sekolah, aku baru ingat bahwa aku membawa sebuah pisau lipat di saku jaketku. Lagi-lagi, kukeluarkan pisau lipat itu, dan kupandangi dengan lama. Bodoh, kenapa tadi tidak kulempar saja pisau ini hingga mengenai – atau melukai – Soo Jin? Itu pasti jauh lebih baik daripada pisau ini melukai diriku sendiri bukan?

Tunggu. Melukai Soo Jin? Sepertinya aku mulai mendapat suatu ide bagus.

Aku tersenyum senang. Ah, aku memiliki ide bagus sekarang. Ide yang sangat-sangat menyenangkan untuk dilakukan pada gadis idiot itu. Baiklah, oppa. Lihatlah apa yang akan kulakukan pada gadis pujaanmu itu.

.

Kupandangi pemandangan kota yang padat melalui balkon apartemenku. Kegiatan yang sudah kulakukan sejak satu setengah jam yang lalu. Hari ini sekolah libur. Jadi, tidak masalah aku malah bersantai-santai di apartemenku seperti ini.

Kusesap sedikit kopi hangat yang kubuat tadi, sembari berpikir. Aku berpikir tentang rencanaku. Rencana menyenangkan yang terpikir kemarin. Rencana brilian untuk mendapatkan Seungri oppa. Kira-kira, senjata apa yang harus kugunakan? Di mana tempatnya?

Hmm… Mungkin aku akan menggunakan gudang kosong yang tidak terpakai di belakang sekolah saja. Tempatnya di dekat sekolah, kosong, penuh debu dan kalau sekolah sedang libur seperti ini tidak akan ada orang yang datang ke tempat itu. Aku yakin itu.

Aku tersenyum senang. Sekarang, tinggal memikirkan senjata dan peralatan apa saja yang akan kubawa, dan kugunakan. Hmm… Sudahlah. Untuk membuat gadis seperti Soo Jin terluka tidak perlu menggunakan benda-benda yang bagus.

Kuhabiskan kopi di cangkir yang kupegang ini. Dan akupun kembali masuk ke dalam kamar apartemenku. Mempersiapkan segala sesuatu untuk nanti.

SEUNG YOUNG POV END

==================================

AUTHOR POV

Soo Jin membuka matanya, perlahan. Kepalanya terasa pusing dan pandangannya sedikit kabur.

Pandangan matanya mulai jelas, tepat ketika seorang gadis berdiri di hadapannya. “Halo, Soo Jin.” Ucap gadis itu pada Soo Jin sembari tersenyum..

Soo Jin membelalakkan matanya melihat gadis di hadapannya itu. “Seung Young?” serunya. “Apa yang akan kau lakukan padaku? Cepat! Lepaskan aku dari sini!”

Seung Young mulai beranjak untuk menyalakan kamera yang sepertinya sudah ia persiapkan sejak tadi. Setelah itu, ia mengambil sebuah pisau yang terletak di atas meja. Membawanya ke depan Soo Jin. “Tidak bisa, Soo Jin. Kita sudah setengah jalan. Kau tidak mau membuat orang yang melihat video ini nanti kecewa karena pemain utamanya menghilang bukan?” balasnya tenang. “Tersenyumlah, Soo Jin.”

“A-apa yang akan kau lakukan padaku, Seung Young?” Soo Jin mulai beringsut menjauh. Ia mulai merasakan perasaan aneh yang menjalari tubuhnya. Takut.

Seung Young tersenyum. Ia mengusapkan ujung pisau itu di pipi Soo Jin. “Aku ingin membalas perbuatanmu padaku. Itu saja,”

“Apa maksud–” Soo Jin tidak sempat menyelesaikan ucapannya sendiri karena Seung Young mulai menggoreskan pisau itu ke wajahnya. Memanjang mulai dari pelipis kiri hingga ke daguku. Soo Jin merintih kesakitan.

“APA YANG KAU LAKUKAN? KAU MAU MEMBUNUHKU?” teriak Soo Jin sembari menahan perih dari luka yang baru saja Seung Young buat itu.

Seung Young tidak menjawab. Ia mengusap pelan darah yang keluar dari luka Soo Jin, dan menjilatnya. “Lebih tepatnya, aku juga ingin menyiksamu lebih dulu, Soo Jin. Ah, hei. Hanya ada satu luka di wajahmu, itu tidak bagus. Bagaimana kalau kubuat lagi?”

Soo Jin semakin ketakutan. “Henti–” lagi-lagi ia tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena Seung Young sudah menggoreskan pisau itu lagi. Luka yang sama, tetapi berada di sisi yang berbeda. Soo Jin kembali merintih menahan sakit. Air mata mulai mengalir dari kedua matanya.

“Nah, begini lebih baik,” ucap Seung Young.

“Apa… yang… kau mau… Seung Young,” seru Soo Jin terbata-bata sembari sedikit menggeliat. Percuma. Ia tidak bisa bergerak karena Seung Young mengikatnya.

Seung Young meletakkan kembali pisau itu ke atas meja. “Aku hanya ingin kau merasakan apa yang kurasakan selama ini, Soo Jin,” balasnya sembari mengambil beberapa pisau lain. Pisau yang lebih kecil dan juga jauh lebih tajam dari pisau yang tadi. Ia memasukkan pisau-pisau itu ke dalam tas kecil di pinggangnya. “Aku ingin kau juga merasakan rasa sakit yang kurasakan.”

“Apa maksudmu?” tanya Soo Jin. Tetapi Seung Young mengabaikan pertanyaan Soo Jin dan malah menjambak rambut gadis itu ke belakang dengan kuat. Soo Jin ingin berteriak keras, tetapi tidak bisa. Teriakannya seperti tertahan di tenggorokan.  “Lepaskan aku… Seung Young…” malah rintihan itu yang keluar.

“Bukankah tadi aku sudah bilang, kita sudah setengah jalan, Soo Jin,” Seung Young menyeret Soo Jin dengan cara menarik rambut gadis itu. Membuat sakit yang dirasakan di kepala Soo Jin menjadi semakin parah.

Seung Young menghempaskan tubuh Soo Jin ke dinding. Kepala Soo Jin membentur dinding dengan keras. Soo Jin menahan nafas, sakit. Kepalanya terasa berat. “Ini semua masih permulaan, Soo Jin,” lanjut Seung Young sembari melepaskan ikatan Soo Jin..

Soo Jin meringis kesakitan. “Kau melepaskan ikatanku?” tanyanya terkejut.

“Ini tidak akan selesai secepat ini, bodoh. Aku melepaskan ikatanmu karena ada hal lain yang ingin kulakukan padamu,” balas Seung Young sembari mengambil salah satu pisau yang ada di tas pinggangnya. Lalu ia meraih tangan kiri Soo Jin, menariknya dengan kuat ke samping. Dan menusukkan pisau itu tepat di telapak tangan Soo Jin. Dalam, sangat dalam hingga menembus tangan Soo Jin dan menancap kuat di dinding.

Soo Jin kembali berteriak kesakitan. Sekarang, rasa nyerinya berpindah ke telapak tangan kirinya. Air matanya semakin deras. Nafasnya mulai memburu.

Tetapi Seung Young tidak peduli. Ia kembali menarik tangan Soo Jin yang lain dan kembali menusukkan pisau itu. Soo Jin kembali berteriak, sakit. Sekarang, kedua tangannya sudah tidak dapat digunakan lagi dan darah terus menerus menetes dari luka itu. Dan Soo Jin masih terus-menerus menangis.

Seung Young mulai tertawa. Tawa yang terdengar sangat-sangat menyeramkan di tempat seperti ini. Pandangan matanya bertemu dengan sorot mata Soo Jin yang aneh. Campuran antara rasa takut, sakit, dan benci. “Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau dendam padaku? Silahkan. Aku tidak melarang.” Balas Seung Young sembari tetap tertawa.

Soo Jin hanya menangis. Badannya bergetar hebat, menahan sakit. Tetapi itu belum selesai. Seung Young kembali menusuknya. Kali ini pundak kanan Soo Jin, dan dilanjutkan ke pundak kirinya. Dan lagi-lagi, hingga tembus dan menancap di dinding. Soo Jin kembali menjerit. Tubuh bagian atasnya sudah tidak bisa bergerak sekarang. Tetapi, untuk sekedar mengubah posisi duduk pun Soo Jin tidak bisa. Tubuhnya sudah terlalu sakit.

“Bagaimana, Soo Jin? Apakah kau sudah merasa kesakitan?” tanya Seung Young pada Soo Jin. Sementara Soo Jin sendiri tetap menangis. “Wah, belum, ya. Kalau begitu aku akan melakukan hal yang lain lagi.” Seung Young mengambil pisau lain dan mulai merobek kedua lengan sweater Soo Jin yang panjang. Menampakkan tangan rapuh yang menggoda untuk dilukai oleh Seung Young.

Seung Young tersenyum sinis, lalu mulai menyayat lengan kiri Soo Jin. Soo Jin terus-menerus menjerit kesakitan ketika Seung Young menyayat tangannya, berulang kali.  Hingga sepanjang lengan Soo Jin sudah dipenuhi oleh bekas-bekas sayatan yang memperlihatkan daging berwarna merah serta darah yang terus-terusan merembes keluar.

Soo Jin mulai terlihat pucat. Itu karena ia sudah kehilangan cukup banyak darah. Seung Young sendiri, mulai beralih ke lengan kanan Soo Jin

“Apa yang kau inginkan untuk lengan kananmu ini, Soo Jin?” tanya Seung Young pada Soo Jin.

Nafas Soo Jin tak beraturan. “Apapun… asalkan itu membuatmu puas dan segera membunuhku,” Soo Jin tersenyum lemah. “Cepat… bunuh aku…”

Seung Young tersenyum melihat Soo Jin yang sudah putus asa. Itu bagus. Karena korban yang putus asa akan lebih mudah untuk dibunuh.

Sekarang, Seung Young mulai menghujamkan pisau yang ia bawa ke lengan kanan Soo Jin, berulang kali. Lengan kanan Soo Jin mulai tercabik-cabik. Daging serta otot tangannya berceceran di lantai. Darahnya muncrat ke wajah Seung Young. Dan juga tulang tangan Soo Jin menjadi sedikit terlihat.

“Sa-sakit…” rintih Soo Jin pelan, sedikit serak karena suaranya sudah habis karena ia berteriak sedari tadi.

Seung Young menatap Soo Jin tajam. “Sakit? Kau bilang seperti ini sakit? APAKAH KAU PIKIR MELIHATMU BERMESRAAN BERSAMA ORANG YANG KUCINTAI ITU TIDAK SAKIT, HAH?” teriak Seung Young sembari menusukkan pisau yang kubawa ke lengan kanan Soo Jin yang belum tercabik. Soo Jin mengeluarkan pekikan tertahan.

“Orang yang… kau cintai…?” balas Soo Jin terbata-bata karena menahan sakit. “Jadi… kau… menyukai Seungri… oppa…?”

Seung Young tersenyum mengejek. “Menyukai? AKU SANGAT-SANGAT MENCINTAINYA, IDIOT! Aku sudah mencintainya sejak lama. Bahkan sejak kau belum mengenalnya.” Seung Young berbalik dan berjalan ke arah pojok ruangan. Tempat di mana ia meletakkan sebuah botol yang berisi suatu cairan. “Dan kau. Kau malah merebut Seungri oppa dariku. Kau pikir aku tidak merasa sakit? Kau pikir aku tidak terluka, begitu?”

“Ta-tapi… aku tidak… tahu bahwa kau menyukainya,”

“Aku tidak memintamu untuk tahu, tolol. Baik, sekarang aku akan bertanya padamu. Apakah kau juga mencintai Seungri oppa?” seru Seung Young sembari membuka tutup botol yang kuambil tadi. Sebuah cairan bening, tetapi berbahaya.

Soo Jin menjawab lirih. “Ya… a-aku mencintainya…”

“Seberapa besar?”

“A-apa…?”

“Apakah rasa cintamu itu lebih penting daripada nyawamu sendiri?” Soo Jin kebingungan. Ia tidak tahu harus menjawab apa. “A-aku…”

“Kau tahu, Soo Jin? Aku mencintai Seungri oppa dengan sangat tulus. Mencintainya melebihi apapun. Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku untuknya, aku tidak akan keberatan. Sedangkan kau… Kau yang bahkan tidak tahu seperti apa cintamu pada Seungri oppa, mengaku mencintainya? KAU TIDAK PANTAS BERSAMANYA!” seru Seung Young penuh emosi. Disiramkannya cairan yang ia bawa itu ke tubuh Soo Jin. Mulai dari telapak tangan kirinya dan terus menyambung hingga ke telapak tangan kanannya. Menimbulkan bekas luka seperti terbakar yang panjang di tubuh atas Soo Jin.

Raungan Soo Jin kembali terdengar, kali ini jauh lebih keras dan terdengar penuh kesakitan. Luka di tangan dan bahunya terasa semakin sakit, perih. Beberapa bagian tubuhnya meleleh. Soo Jin sedikit melirik ke arah botol yang di bawa Seung Young. Botol yang bertuliskan ‘Air Keras’ di depannya itu.

Seung Young membuang botol yang sudah kosong itu ke sembarang tempat. Ia mengambil sebuah tongkat besi yang kecil, ringan, tetapi ujungnya sangat tajam dari tas pinggangnya. Seung Young kembali menghampiri Soo Jin, yang di matanya tampak sangat menjijikkan. Ia kembali kutarik rambut Soo Jin.

“Hei, Soo Jin. Ucapkan salam untuk orang-orang yang melihatmu,” Seung Young mulai mengusap-usapkan tongkat besi itu ke pipi Soo Jin. “Ah, atau setidaknya, tersenyumlah. Karena aku yakin Seungri oppa juga melihat video ini.” Ucap Seung Young riang.

Tidak ada jawaban apapun dari Soo Jin. Ia hanya menangis, merintih, menangis, merintih. Hanya hal-hal itu yang sedari tadi dilakukannya. Karena tubuh Soo Jin sudah sangat-sangat sakit. Ia tidak peduli lagi pada apapun yang akan dilakukan Seung Young. Cepat, bunuh saja aku! Hanya itu yang ada di pikirannya sejak tadi.

“Baiklah kalau begitu.” Seung Young mendekatkan bibirnya ke telinga Soo Jin. “Apa kau ingin kematian yang cepat tetapi akan sangat menyakitkan ataukah kematian lambat yang akan membuat orang lain menangis?” Seung Young berbisik pada Soo Jin.

Soo Jin menghela nafas berat. “Terserah. Aku sudah tidak peduli lagi pada apapun.”

“Wah, begitu, ya? Baiklah, Soo Jin. Aku janji. Tidak akan lama lagi aku akan benar-benar membunuhmu,” balas Seung Young sembari membuka paksa mulut Soo Jin dan mengangkat tongkat besi yang ia bawa tinggi-tinggi. “Tahan sedikit. Setelah ini, rasa sakitnya tidak akan terlalu terasa untukmu, Soo Jin.” Ia menusukkan ujung lancip tongkat besi itu ke pipi Soo Jin hingga memasuki mulutnya dan tembus ke pipinya yang satunya.

Soo Jin memekik tertahan. Hanya suara-suara tertahan yang keluar dari tenggorokanya. Tidak, ia sudah tidak bisa menjerit lagi bukan? Menjerit berarti menggerakkan mulut. Dan itu malah akan membuatnya semakin sakit. Nafas Soo Jin semakin tidak beraturan. Wajahnya semakin pucat dan peluh semakin membanjiri keningnya. Darahnya semakin banyak berkurang.

Soo Jin menatap Seung Young. Memohon padanya. “Kau ingin aku segera membunuhmu, Soo Jin?” Seung Young menggeleng. “Maaf. Tapi rasa sakit yang kurasakan selama tiga ini belum terbalaskan, sayang.”

Seung Young mengambil pisaunya yang sedari tadi masih tertancap kuat di lengan kanan Soo Jin. Lalu, Seung Young mulai merobek sweater Soo Jin, di bagian perut. Ah, tanpa perlu berpikir lagi, semua orang juga sudah tahu apa yang akan ia lakukan pada Soo Jin sekarang.

Seung Young menggoreskan ujung pisau itu di kulit perut Soo Jin. Menciptakan luka panjang yang juga mengeluarkan darah. Soo Jin kembali mengeluarkan jeritan tertahan. Tepat di tengah-tengah perut Soo Jin, perlahan-lahan, Seung Young menusukkan pisau itu ke dalam perut Soo Jin sembari membuat luka berbentuk horizontal. Seung Young kembali menarik pisau itu dengan cepat. Lukanya tidak terlalu dalam, tetapi cukup untuk memebuat banyak darah keluar dari luka itu.

Soo Jin hanya dapat merintih kesakitan, pasrah. Tubuhnya sudah tak berdaya. Terpancang kuat di dinding. Ia lemah. Tak berdaya. Kesakitan. Dan berlumuran darahnya sendiri. Soo Jin sudah tidak mengharapkan apapun sekarang. Ia hanya berharap, Seung Young segera membunuhnya. Hingga ia tidak perlu merasakan rasa sakit seperti ini lagi.

Tiba-tiba, Seung Young mulai melepaskan satu persatu pisau di tubuh Soo Jing yang tadinya mengunci dirinya di dinding. Seung Young juga menarik lepas tongkat besi di pipi Soo Jin. Soo Jin sedikit merasa nyeri karena kulitnya kembali bergesekan dengan senjata-senjata itu. Tetapi ia menghela nafas lega, lalu ambruk. Berbaring telentang di atas lantai dingin. Sementara Seung Young mengambil sebilah kapak.

“… Jadi…” Soo Jin masih bisa berbicara, biarpun sedikit tidak jelas dan terputus-putus. “… ini saat…nya, ya? Bagus…lah. Cepat… Bunuh saja aku.”

Seung Young berlutut di samping Soo Jin tanpa menghalangi kamera, tersenyum ceria yang dibuat-buat, tentu saja. “Sesuai janjiku, Soo Jin. Tidak lama, kan?” lagi-lagi, tongkat besi itu diangkat tinggi-tinggi oleh Seung Young. “Ada kata terakhir yang ingin kau ucapkan?”

Soo Jin tersenyum pasrah. Ia memejamkan matanya. “Saranghaeyo… oppa…” entah kenapa malah kata-kata itu yang diucapkan oleh Soo Jin.

Dan tanpa ragu lagi, Seung Young  menghujamkan tongkat besi itu kuat-kuat ke ulu hatinya. Soo Jin kembali meraung. Sakit sekaligus sesak nafas karena diafragma-nya dirusak oleh Seung Young. Tapi Soo Jin tidak peduli. Yang penting ia sudah akan segera mati.

Seung Young mulai meraih kapak di sampingnya. Lalu berdiri untuk mengambil ancang-ancang, dan langsung mengayunkan kapak itu… tepat ke leher Soo Jin.

Dada Seung Young naik turun. Tubuh Soo Jin sudah tidak utuh lagi sekarang. Kepalanya sudah lepas dan tergeletak tak jauh dari tubuhnya. Darahnya muncrat ke segala arah, bahkan mengenai dinding di dekatnya. Badan Seung Young sendiri, bermandikan darah. Seung Young mengambil kepala Soo Jin, dan membawa ke depan kamera.

Seung Young mengusap pelan pipi Soo Jin yang sudah berlumuran darah itu, lalu tersenyum ke arah kamera. “Hai, semuanya. Siapapun yang melihat video ini, tolong jemput Soo Jin di gudang belakang sekolah. Oke? Aku tidak mau tubuhnya harus berada di sini lebih lama lagi. Dan, untuk Seungri oppa. Tunggu aku. Because you’re mine, oppa.” Dan kamera itu pun dimatikan.

Seung Young meletakkan kembali kepala Soo Jin ke tempatnya semula dan mengambil kapak yang ia gunakan untuk memenggal Soo Jin tadi.

Dan sekali lagi, ia mengangkat tinggi-tinggi kapak itu. Dan mengarahkannya ke tubuh Soo Jin.

AUTHOR POV END

==================================

SEUNGRI POV

“Seungri-ya, ayo! Kita harus pergi ke ruang media, sekarang!” seru salah seorang temanku. “Aku duluan, ya!”

Aku hanya mengangguk, membalas ucapan temanku itu. Kuhirup nafas dalam-dalam sembari berjalan perlahan keluar kelas.

Hari ini, Soo Jin tidak masuk. Kemana dia? Tidak biasanya anak itu tidak masuk sekolah tanpa memberitahuku. Ck, Soo Jin-ya~ Kau kemana, sih? Rasanya kosong kalau kau tidak masuk, sayang.

“Hei, ada apa denganmu? Kau benar-benar terlihat aneh hari ini,” ucap Min Ji, temanku yang lain, sembari menepuk pundakku. Aku hanya mengangkat pundakku.

Min Ji mengacuhkan reaksiku. “Hari ini Soo Jin tidak masuk, ya? Kemana dia?”

“Entahlah. Padahal tidak biasanya ia tidak masuk sekolah tanpa memberitahuku,” balasku.

“Begitu. Seung Young juga tidak masuk. Kalau gadis itu kemana, ya?” lanjut Min Ji.

Aku menoleh padanya, kaget. “Apa kau bilang? Seung Young juga tidak masuk sekolah?”

“Hei, dia itu teman sekelasmu! Bagaimana mungkin kau bisa tidak memperhatikannya? Ah, ya. Kau terlalu sibuk memikirkan Soo Jin-mu itu, sih.” Gerutu Min Ji. “Pantas saja Seung Young sering menangis kalau harus melihatmu. Seung Young, dia kemana, ya? Kuharap dia tidak melakukan hal-hal bodoh.” Min Ji terlihat gelisah.

“Hei, apa maksudmu dengan dia yang sering menangis ketika melihatku? Dia benci padaku?”

Min Ji menatapku tajam, lalu mendesah putus asa. “Kau itu memang idiot.” Ucapnya tegas.

“Apa?”

Min Ji menarik nafas dalam-dalam. “Apa kau tahu kalau Seung Young itu sangat-sangat mencintaimu melebihi apapun?”

“Tidak. Kau serius?”

“Berarti kau memang idiot. Bagaimana mungkin kau tidak tahu bahwa ada orang yang rela mengorbankan nyawanya demi dirimu? Ah, aku tidak heran juga, sih. Kau terlalu sibuk mengurus Soo Jin-mu itu. Benar, kan?” Min Ji mencibir. “Hei, dengar aku baik-baik. Seung Young sudah menyukaimu sejak lama. Bahkan jauh sebelum kau mengenal Soo Jin-mu itu. Apa kau sadar dengan itu? Dan kau, dengan mudahnya malah melukainya!”

“Tapi aku juga tidak tahu bahwa dia menyukaiku!” balasku.

“Persetan dengan alasanmu itu! Dia tidak memintamu untuk tahu! Melihatmu saja sudah membuatnya senang! Tapi kau malah meminta gadis lain untuk menjadi pacarmu. Sementara kau saja tidak menyadari kehadiran Seung Young. Itu sangat-sangat membuat Seung Young terluka. Kau mengerti?” Min Ji kembali menatapku tajam. “Entah kau mengerti atau tidak. Tetapi yang jelas, sekarang kuminta kau berdoa. Semoga Seung Young tidak membunuh Soo Jin.” Min Ji pun bergegas memasuki Ruang Media, menyusul teman-temannya yang lain.

Aku tertegun mendengar kalimat terakhir dari ucapan Min Ji tadi. Membunuh Soo Jin? Bagaimana mungkin? Ya, Tuhan!

Aku memasuki Ruang Media dengan gelisah. Mencoba mengacuhkan ucapan Min Ji tadi, tetapi tetap saja tidak bisa. Aku duduk di salah satu kursi yang masih kosong di ruang media itu, tepat di samping beberapa teman sekelasku.

“Hei, apa kau tahu kenapa hari ini seluruh murid di sekolah ini dikumpulkan di sini?” seseorang berbicara padaku.

Aku menoleh. Ah, ternyata itu adalah Ji Yong hyung. Kakak kelasku. “Tidak. Memangnya kenapa, hyung?”

Ji Yong hyung balas menatapku, kesal. “Justru karena itu aku bertanya padamu. Kenapa kau malah balik bertanya?”

Aku terkekeh pelan. Yah, setidaknya Ji Yong hyung tadi mampu mengalihkan pikiranku dari Soo Jin. Biarpun hanya sebentar.

SEUNGRI POV END

==================================

AUTHOR POV

Murid-murid yang ada di Ruang Media itu mulai tenang ketika lampu-lampu mulai dimatikan dan menyisakan sedikit cahaya yang membuat ruangan itu menjadi remang-remang. Memang, bisa ditebak. Mereka semua dikumpulkan di ruangan itu karena akan ada sebuah video ‘pendidikan kurikulum baru’ yang (sebenarnya) harus mereka lihat.

Tetapi, ada seseorang yang mengganti video yang akan diputar. Tepat sesudah lampu dimatikan tadi.

Menggantinya menjadi video lain, yang akan membuat semua orang ketakutan…

AUTHOR POV END

==================================

SEUNG YOUNG POV

Bodoh. Guru-guru di sekolahku itu bodoh. Mereka dengan santainya meninggalkan ruangan tempat video yang diputar, tanpa penjagaan. Ah, aku jadi bisa dengan mudah masuk dan mengganti videonya.

Ya, menggantinya menjadi video yang kubuat bersama Soo Jin itu. Bagus, bukan?

Setelah melakukan sedikit proses di sana-sini, aku pun keluar dari ruangan itu dan menguncinya dari luar. Kuncinya kubawa pergi, tentu saja. Agar tidak ada orang yang bisa mengganti video itu saat masih diputar. Aku melenggang santai melewati koridor sekolah yang sepi. Semua orang ada di ruang media sekarang.

Ah, sudah kubilang, kan? Guru-guruku itu bodoh.

SEUNG YOUNG POV END

==================================

AUTHOR POV

Semua orang memasuki ruang media. Lampu-lampu dimatikan. Cahaya proyektor mengarah ke arah layar di depan ruangan. Dan video pun mulai berjalan.

Tanpa ada pembukaan atau basa-basi apapun, video itu langsung menunjukkan wajah ketakutan seorang Jung Soo Jin yang terikat kuat. Dan juga sosok Lee Seung Young yang membawa pisau sembari mendekati Soo Jin.

Suara bisikan panik dan bingung dari para guru mulai terdengar. Tentu saja, karena bukan ini video yang tadinya harus diputar. Beberapa guru bergegas menuju ke ruang pemutaran video, tetapi percuma. Ruangan itu terkunci dan kuncinya cukup kuat. Tidak akan bisa terbuka kalau hanya didobrak oleh beberapa orang guru saja.

Di Ruang Media, suara-suara deru nafas tertahan mulai terdengar ketika terlihat adegan Seung Young yang menyeret Soo Jin. Beberapa anak sudah menutup matanya. Tidak mau melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

Teriakan-teriakan ketakutan yang selanjutnya terdengar menyusul memenuhi ruangan itu. Di layar, tampak Seung Young mulai menusuk telapak tangan Soo Jin dan menguncinya di dinding. Beberapa anak sudah mulai panik.

“Hei, di mana itu? Cepat! Kita cari Soo Jin!”

“Tidak bisa! Kita tidak tahu di mana tempatnya!”

Min Ji, sahabat dekat Seung Young, hanya dapat menggigit bibir bawahnya. Hal yang paling ditakutkannya terjadi. Seung Young benar-benar membunuh Soo Jin. Ia sudah menduga hal ini pasti akan terjadi, cepat atau lambat.

Sementara Seungri, pemuda itu hanya dapat membelalakkan matanya. Terkejut melihat apa yang dilakukan Seung Young pada Soo Jin. Jadi, Seung Young benar-benar membunh Soo Jin? Tidak mungkin! Batinnya terus-menerus meneriakkan hal itu.

Seungri, tanpa pikir panjang lagi, segera berlari keluar dari Ruang Media. Tidak melihat video itu sampai selesai. Tanpa menunggu sang pembunuh mengatakan tempat pembunuhan Soo Jin pun, ia sudah tahu di mana tempatnya. Ya, karena ia memang sangat mengenali tempat itu. Tempat yang sering ia datangi seorang diri. Tempatnya menyendiri…

Gudang belakang sekolah yang sudah tidak terpakai.

Nafas Seungri tersengal-sengal, karena ia baru saja berlari dari Ruang Media hingga gudang yang sudah tak terpakai itu. Baru saja ia berhenti, pemandangan mengerikan dan membuatnya terkejut telah menyambutnya di luar gudang.

Tubuh Soo Jin yang terpotong-potong menjadi beberapa bagian dan diletakkan di atas tanah, tepat di depan Seungri.

“S-Soo… Jin…” bisik Seungri. Ia menyentuh kepala Soo Jin yang terpisah dari tubuhnya itu. Diusapnya pelan pipi Soo Jin. Ia akan meneteskan air mata, tapi tidak jadi. Seungri, sekali lagi tanpa pikir panjang, segera membuka pintu gudang tak terpakai itu. Dengan pasti, dilangkahkan kakinya memasuki tempat itu. Gudang itu remang-remang, berdebu, dan…

… berbau darah bercampur minyak…

Seungri mengabaikan bau minyak dan darah yang memenuhi ruangan itu, menghasilkan bau yang cukup menyengat. Tapi ia tetap tak mengindahkannya. “Seung Young,” seru Seungri ketika ia tepat berada di tengah ruangan. Tepat setelah itu, terdengar suara pintu yang dikunci dan disusul oleh suara langkah kaki seseorang. Seungri menoleh, dan mendapati seorang gadis berdiri di hadapannya.

“Selamat datang, oppa,” ucap gadis itu, yang jelas adalah Seung Young, lirih. “Kau sudah melihat video itu sampai selesai?”

“Belum,” jawab Seungri singkat, dadanya berdegup kencang.

“Wah, berarti kau cukup hebat karena bisa menebak tempat ini, oppa.”

“Kenapa kau melakukan ini?” tanpa mau menunggu lebih lama lagi, Seungri langsung menanyakan hal itu. “Kenapa kau membunuh Soo Jin?”

“Jawabannya ada di video yang diputar tadi, oppa. Kalau kau melihatnya dari awal sampai akhir, pasti kau akan mengerti. Tapi, kau tidak melihatnya. Baiklah, khusus untukmu, akan kukatakan lagi,” Seung Young tersenyum, ia mengeluarkan sebuah korek api. “Aku melakukannya, karena aku tidak bisa melihatmu bersama gadis lain, oppa. Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu.”

Seungri tertegun. “Jadi, karena itu kau membunuh… Soo Jin,” nafasnya tercekat ketika menyebut nama gadis malang yang sudah tak bernyawa itu.

“Tentu saja,” jawab Seung Young ceria sembari melemparkan korek api yang menyala itu ke pinggir ruangan, di mana terdapat genangan minyak yang mengelilingi seluruh bangunan gudang.

Seungri menatap sekelilingnya. Melihat api yang mulai berkobar. Dari kecil, menjadi besar lalu menyebar dengan cepat hingga sekarang sudah mengelilingi dirinya dan juga Seung Young. “Apa yang kau lakukan? Kau mau membunuh kita?” seru Seungri panik.

“Kau tahu, oppa? Aku yakin, setelah kematian Soo Jin, cepat atau lambat kau pasti akan menemukan gadis lain yang akan menjadi kekasihmu, lagi. Dan, tentu saja, aku juga tidak akan tahan melihatmu bersama gadis itu, oppa,” Seung Young melangkah mendekati Seungri. “Jadi, kuputuskan, daripada kau bersama gadis lain lagi, dan aku kembali merasa sakit. Lebih baik kau juga mati, oppa. Itu lebih baik, kan?”

“Dan kau juga memutuskan untuk mati bersamaku…” balas Seungri lirih.

Seung Young tersenyum. “Benar sekali. Karena, kalau kau mati, oppa. Maka aku akan merasa kesepian dan sedih karena kehilanganmu. Jadi, lebih baik kita mati bersama. Iya, kan?”

Seungri tersenyum, pasrah. Ia menatap langit-langit gudang di atasnya, yang sudah ikut terbakar. Ia juga mendengar suara orang-orang yang panik bercampur histeris di luar sana. Histeris melihat mayat Soo Jin, dan juga panik melihat bangunan ini terbakar.

“Kalau begitu, maafkan aku, Seung Young,” ucap Seungri sembari menatap Seung Young dalam-dalam. “Maafkan aku yang sudah membuatmu menangis karenaku.”

“Tidak masalah, oppa. Semua kesalahmu tentu bisa kumaafkan dengan mudah. Karena aku mencintaimu dengan sepenuh hati,” Seung Young mengulurkan tangannya pada Seungri. “Kita akan mati bersama-sama, oppa,” bisiknya.

Seungri tersenyum sembari berjalan mendekati Seung Young dan menerima uluran tangan gadis itu. Ia pun jatuh dalam pelukan Seung Young, hangat. Pelukan gadis yang selama ini mencintainya, tetapi ia tidak menyadarinya. Mendadak, Seungri berpikir, betapa bodoh dan kejamnya dirinya itu. Ia membuat gadis itu tersiksa karena dirinya. Seungri pun membalas pelukan Seung Young, erat.

Api semakin menjalar. Menghabiskan bangunan itu, membakar segalanya. Termasuk Seungri dan Seung Young yang tetap berpelukan, hingga api menyambar mereka. Membakar tubuh mereka yang entah kenapa tak bisa terpisahkan.

Apakah Seungri bisa merasakan cinta Seung Young disaat terakhirnya? Entahlah.

Yang jelas, itu adalah hal yang paling membahagiakan bagi Seung Young. Biarpun harus dihiasi oleh kematian. Tidak masalah untuknya. Asalkan orang yang ia cintai berada di sisinya. Itu sudah membuatnya tenang di sana.

Mereka tewas bersama, dalam sebuah pelukan hangat yang menenangkan.

FIN

Okeh. Abal banget. Mana pembunuhannya nggak sadis lagi. Ditambah pula feel-nya nggak kerasa. Haddooh~ #headbang

Dhicta eonnie~ Maafkan saya malah bikin ff gaje gini~

Oh, ya. Yang nungguin FFLA, kayaknya postingnya bakalan lama, nih. Hehehe… Soalnya yang nge-vote kurang, sih… Makanya, kalo mau itu ff dilanjutin, Vote yang banyak! DI SINI!

Oke, oke. Sekali lagi, berikan pendapat anda di comment, ya~ Gomawo~