Annyeeooongg!!

Okee, ini FF request dari Zants, sebagai pemenang Sad Harmony yang satu lagi dalam merayakan ultah Daesung tanggal 26 April kemarin.

Mian, karena baru nge-post sekarang. Beneran deh, aku sibuuuukk bangeeettt!!!

Dan… untuk FF ku yang lain, kemungkinan juga agak lama nge-postnya. Aku bener-bener sibuk sekarang, dan senin besok aku sudah ada ujian lagi. Hiks.

Jadiii… sabar menunggu yaaa… ^^

Udah ah, selalu deh author yang ini curcol mulu. -_____-‘’

oya, FF di sini ringan bangeett, berasa bikin teenlit deh. well, agak susah juga bikinnya. cz seringnya kan aku bikin yang agak ‘berat’, yang pake nangis2 . wkakakakak.😀

Happy enjoying yaa!! ~~^^

________________________________________________________

Kim Soo Hwa POV

Kaki-kakiku menari lincah di atas es. Senyumku mengembang melihat penonton di tepi arena yang terpukau melihat atraksi yang terus kutampilkan di hadapan mereka. Berbagai gerakan sulit aku mainkan tanpa ragu. Mula-mula toe loop, berjalan sejenak, double lutzes, kemudian melakukan spin mengitari lintasan es yang membeku dan membentuk angka 3 dan kemudian berputar. Ini merupakan langkah yang sulit, namun aku suka melakukan gerakan ini. Aku melirik juri di samping arena, terhalang oleh pagar yang membungkus rapi lintasan bundar ini.

Aku yang dulu tidak mungkin bisa seperti ini. Percayalah, aku adalah orang yang tidak bisa mengatakan apa yang ingin aku katakan. Bahkan untuk berkenalan dengan namja yang kusukai…

***

 

Soo Hwa, kelas 3 SD

“Huweee… kembalikaaann!!!”  aku berlari mengejar dua namja menyebalkan yang tanpa henti menggodaku. Air mataku sudah berderai sejak benda kesayanganku direbut paksa oleh dua makhluk yang sekarang tertawa meremehkanku, seolah bangga dengan apa yang berhasil mereka lakukan padaku.

“Apaan sih kamu Soo Hwa? Ke sekolah bawa-bawa boneka beruang seperti ini?” ucap Young Bae, salah satu namja tersebut,  dengan melambai-lambaikan bonekaku ke udara.

“Kembalikaaann!!!” aku terus merengek pada mereka.

Kembalikaann! Kembalikaann! Itu boneka hadiah dari eomma!

“Huh! Padahal jelek, tapi pakai baju seperti itu! Tidak cocok!” timpal Jiyong, namja yang lain sambil menunjuk rok sekolah yang kupakai.

Aku benci pada semua namja! Mereka semua menyebalkan! Kenapa sih semua namja itu jahat?! Aku benciiiiiiiiii!!!

“Hentikan!”

Aku menoleh ke arah suara di sampingku, begitu pula dengan dua namja bodoh di depanku. Beberapa saat, kami hanya bisa terdiam terpana melihat seseorang yang tiba-tiba berada di samping kami dan berteriak garang.

Seorang namja. Umurnya sepertinya tidak jauh berbeda denganku. Kedua tangannya bersendekap. Matanya yang tipis dibelalakkannya selebar yang dia bisa, menatap lurus dan tajam kea rah dua namja ingusan itu.

Di mataku, dia seperti bersinar-sinar, seolah banyak bintang yang berpendar di sekelilingnya. Cakep…

“Tidak usah berlagak seperti preman disini!”

“Siapa yang berlagak preman?! Kita kan masih SD!”

“Yeoja itu harus diperlakukan istimewa, bukannya digoda seperti ini. Dasar tidak sopan.”

“Apa maksudmu?! Aku nggak ngerti!”

“Kalau kalian suka padanya, katakan saja dengan jujur. Mencari perhatian dengan cara seperti ini, benar-benar kekanakan.” Dia menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir.

Wajah kedua namja itu sekarang  berubah merah.

“Siapa yang suka?!” Jiyong gelagapan. Aku tak tahu tiba-tiba sikap mereka seperti itu.

“Nee!! Benda jelek seperti ini!!” Youngbae membanting bonekaku ke tanah.

AAAAHHH!! BONEKAKUUUU!!!…. Hiks…

Tanganku bergerak seolah ingin meraih bonekaku yang sedang terbanting kasar. Air mataku rasanya sudah bercucuran melihat benda itu sekarang sudah berlumur tanah di sekujurnya. Bonekaku…

Setelah mereka membuang bonekaku, Youngbae dan Jiyong segera berlari meninggalkan kami. Huh! Dasar namja babo!

Aku segera berlari menuju bonekaku yang kini sudah tidak jelas apa warnanya. Namun gerakanku segera terhenti. Bagaikan gerakan lambat, mataku melihat namja yang tadi menolongku telah mengambil bonekaku lebih dulu dan membersihkannya. Kemudian dia menyerahkannya padaku.

“Ini milikmu kan?” dia menyodorkan bonekaku dan tersenyum. Senyumannya sungguh berkilau, seolah melihatnya saja harimu akan langsung bersinar cerah. “Kamu Kim Soo Hwa dari kelas 3-B kan?”

Aku terkejut. Bagaimana dia bisa tahu namaku?

Senyumnya mengembang lebar. Membuatnya matanya semakin kecil, namun membuatnya terlihat seperti lukisan yang menjadi nyata. Begitu indah. “Kita berada di sekolah yang sama, bagaimana bisa aku tidak mengingat yeoja semanis kamu? Jika kamu ada masalah, katakan saja. Aku akan membantumu.”

Uwaaaaaa…. Dia tahu namaku! Dia mengingatku!

Aku bisa merasakan darahku mengumpul di wajahku dan membuat kulit di pipiku memerah. Dadaku berdebar tanpa ritmik. Aku tak tahu hormon apa yang sedang membuncah dalam tubuhku, tapi rasanya begitu menyenangkan. Benar-benar menyenangkan!

Keren! Keren! Ternyata di dunia ini ada ya namja sekeren dan semenyilaukan ini?!! Uwaaaa… ini namanya benar-benar pangeran!!

“Sudah ya, sampai nanti.” Dia melambai sejenak dan berbalik arah. Kemudian dia berlari meninggalkanku yang terbengong menatapnya. Aku terdiam menatap punggungnya yang menjauh, dan menghilang. Sesaat kemudian, barulah  aku tersadar akan sesuatu hal terpenting.

KENAPA AKU NGGAK TANYA NAMANYAAA ??!!!

***

Aku mencarinya sekeliling sekolah, naik turun tangga di sekolah yang terdiri dari tiga lantai. Aku tidak tahu dia di kelas berapa, di mana ruang kelasnya. Aku telah bertanya pada seluruh anak yang bisa kutemui sepanjang koridor yang kulewati. namun hanya berbekal petunjuk mata yang sipit hingga terlihat hanya segaris, dan senyum menyilaukan, mana mungkin kau bisa menemukannya. Otokhe?!! Aiisshh… bodohnya aku !!

Aku mengacak rambutku kebingungan. Pikiranku benar-benar habis mencari namja itu di seluruh ruang sekolah dan aku belum bisa menemukannya. Aku terdiam dan bersandar di salah satu jendela koridor lantai dua sekolah. Dari sini, aku bisa melihat lapangan sepakbola dengan jelas. Aku memandangi anak-anak yang sedang berlari tanpa arah tanpa minat. Pikiranku melayang dan membumbung ke awan  yang berarak di atasku.

Huufftt… kemana lagi aku bisa menemukan pangeranku ituuu??!

Tiba-tiba sudut mataku menangkap sosok seseorang. Seseorang yang kucari seharian ini hingga membuatku berputus asa. Seseorang yang benar-benar berkilau bak matahari dibandingkan yang lainnya. Saat itu juga jantungku langsung berdebar sangat kencang. Rasa lelah yang sejak tadi kurasakan langsung berubah menjadi gairah ketika melihatnya yang tengah bermin bola bersama teman-temannya yang lain.

Aku langsung berlari menyusuri koridor dengan tergesa. Beberapa kali menabrak orang yang tengah berjalan melawan arus yang kulewati. Aku menyusuri tangga dan keluar menuju lapangan sepak bola. Langkahku terhenti di samping lapangan yang kutuju. Nafasku terengah dan beberapa kali tersengal, seolah aku membutuhkan oksigen jauh dan jauh lebih banyak untuk masuk ke dalam paru-paruku. Jantungku masih berdebar tanpa ada ritme yang jelas. Tapi perasaan yang membuncah karena berhasil menemukannya ini benar-benar membuatku bersemangat.

Namja itu menoleh ke arahku. “Soo Hwa? Ada apa?”

Masih tersengal, aku mencoba mengatakan apa yang sejak tadi ingin kutanyakan padanya. “Kamu… kamu… siapa namamu?”

Dahinya mengerut sejenak. “Aku belum mengatakannya?” dia tersenyum lebar. “Kang Dae Sung imnida.”

Aku meremas tanganku grogi. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya. Tapi, apakah dia mau menerimanya? Yeoja pemalu sepertiku… nggak akan ada yang menyukaiku… ayo Soo Hwa, katakana padanya, keluarkan keberanianmu!

“Dae Sung… apakah aku boleh menjadi temanmu?”

Masih dengan senyumnya yang menawan yang terpasang indah di wajahnya, dia menjawab, “Tentu saja.” Di kemudian melirik arloji di tangan kanannya. “Aku harus latihan ice skating.”

“Skating?”

“Nee. Ice skating. Menyenangkan lhoo! Datanglah ke tempat latihanku, akan kuajari. Aku pergi dulu, annyeong!” dia mengambil tasnya, dan melambaikan tangannya padaku. Kemudian dia berbalik meninggalkanku yang sekali lagi dibuat terpesona olehnya.

***

Aku berlari ke kamar kakakku satu-satunya. “Oppaaa!!! Aku ingin belajar ice skating!!”

Dia terkaget melihatku yang langsung membuka kamarnya dan berlari ke arahnya. “Jincha?”

Aku mengangguk mantap.

Dia menggendongku dan meletakkanku dalam pangkuannya. Badannya yang cukup besar untuk ukuran anak SMA itu dengan mudah dapat mengangkatku. “Nee nee. Temanku ada yang menjadi pelatih fgure skating. Besok kita kesana. Bersiap-siaplah.”

Aku mengangguk senang. “Hem!!”

***

Seoul Skating Center

Dae Sung meluncur di atas es dengan lincah, sesaat kemudian dia melompat tinggi dan kembali melakukan spin meluncur di arena.

Aku hanya bisa memandang punggungnya dengan tatapan kagum. Jantungku langsung berdetum ketika melihatnya. Kenapa dia begitu bersinar dan menyilaukan?

Bruukk!!

Segerombolan yeoja berlari menabrakku, namun mereka tetap berlari tanpa mempedulikanku yang sudah tersungkur di tanah. Mereka berlari kea rah… Dae Sung. “Dae Sung! Bisakah kamu mengajari kami?”

Dae Sung tersenyum pada mereka. Senyumannya yang berkilau. “Kalian datang ke sini lagi? Boleh…”

Deg! Jantungku mencelos. Kenapa kamu memberikan senyumanmu pada mereka. Tak tahukah kamu betapa senyumanmu itu begitu indah?

“Dae Sung itu adalah anak yang kesepian. Orang tuanya selalu bekerja hingga larut malam. Karena itu dia selalu ingin ada orang di sampingnya untuk diajak bicara. Tapi kenapa cuma perempuan ya?”

Aku kontan menoleh ke arah suara. Baru kusadari ternyata ada seorang namja seumuran kakakku telah berdiri di sampingku. Siapa dia?

Pandangannya beralih ke arahku dan tersenyum. “Aku Yang Hae Yong, teman kakakmu. Aku pelatih figure skating di sini. Kamu mau ikut?” Pelatih itu kemudian jongkok dan mendekatkan wajahnya padaku. Dia berbisik, “Kalau kamu mahir, Dae Sung pasti akan terpesona dan akan melihatmu.”

Mendengar kata-kata terakhir yang dia ucapkan padaku, spontan wajahku memerah seperti tersiram cat, dan jantungku berdebar kencang karena kegirangan. “Baiklah! Aku mau ikut!!”

***

Aku ingin jadi yang istimewa bagi Dae Sung…

“Dae Sung, kamu antar jemput Soo Hwa ya..” pelatih menyuruh Dae Sung yang saat itu sedang melintas di belakangnya.

“Oke, songsaengnim!”

Aku yang sedang berjalan mengitari arena es, langsung berhenti mendengar jawaban Dae Sung. Jantungku seketika berdetum lagi, dan semburat merah di wajahku tak bisa lagi kusembunyikan.

***

Menjadi yeoja yang paling menarik di dunia ini… Aku ingin Dae Sung terpesona padaku…

“Yak, satu… dua… tiga…”

Aku mengangkat tungkai kiriku dan meletakkannya di lutut kananku. Kemudian kaki kananku menjiinjit hingga yang menapak di tanah hanyalah ujung jari kakiku.

“Soo Hwa, makin lama kelenturanmu dalam menari balet semakin bagus. Saya suka kemajuanmu.”

“Khamsahamnida, songsaengnim…”

***

 

7 tahun kemudian…

Aku ingin menjadi hebat , hingga Dae Sung hanya bisa melihatku… aku ingin Dae Sung hanya menjadi milikku seorang…

Aku mengangkat tubuhku untuk berdiri tegak di atas es dengan tetap meluncur. Kupercepat langkahku dalam membentuk lintasan sulit dan memukau di atas es, bersiap melakukan atraksi terakhir yang kupersiapkan sejak lama. Kuangkat kaki kananku sedikit hingga tidak menapas di es dan kuletakkan di belakang kaki kiriku. Sesaat kemudian, SRETT!! Aku melompat ke belakang dan kembali ke posisiku semula. Aku berjalan selangkah, dan melakukan lompatan itu lagi. Double lutzes, finish. Juri, lihat aku. Inilah atraksi yang akan memukaumu.

Aku mendekap kedua tanganku dan melompat tinggi dan berputar di udara.

Satu putaran…

dua…

tiga…

empat…

lima!

Inilah atraksiku! Lompatan lima putaran!

CLAAPP !! CLAAPP!! CLAAAPP!!

Kakiku menapak lagi di atas es ketika gemuruh tepuk tangan di seluruh penjuru tribun penonton. Tidak hanya itu, ketika akhirnya aku bisa mendapatkan keseimbanganku kembali, aku melihat kea rah penonton. Mereka melakukan standing applause untukku. Aku tersenyum bangga pada diriku. Tentu saja, melakukannya tiga lompatan saja sulit, apalagi lima!

Aku melakukan penutup atraksiku. Dan menunduk berterima kasih ke hadapan para penonton.

Dae Sung, apakah kini kamu sudah terpesona padaku?

***

Dae Sung POV

Aku menunggu Soo Hwa, temanku sejak kecil yang sedang berlomba hari ini. Menunggunya itu menyenangkan.

“Kim Soo Hwa, jo hae.”

Deg! Jantungku langsung berdetum mendengar kata-kata yang baru saca diucapkan tersebut. Siapa itu?! Siapa yang mengucapkan hal itu pada Soo Hwa?! Soo Hwa itu hanya boleh menjadi milikku!

Aku menoleh mencari siapa yang berani mengatakannya pada Soo Hwa.

Aku melihat seorang namja memberikan sebuket bunga ke tangan Soo Hwa. Kemudian Soo Hwa mengambilnya dan buket bunga itu berpindah tangan, kepada yeoja yang lebih cantik dari bunga yang baru saja diterimanya. Dia tersenyum senang. “Khamsahamnida.”

Jantungku sekali lagi mencelos melihat dia menerima bunga itu. Debaranku meningkat tanpa ritme yang pasti, seolah terus berpacu dengan nafasku yang juga memburu marah. Nafas pendek penuh emosi yang seolah ingin menghabiskan seluruh kuota oksigen di sekitarku. Aku bisa merasakan aliran darahku memanas dan bergerak cepat ke satu arah, otakku. Alirannya yang melewati pembuluh darah di wajahku membuat wajahku memerah, dan tentu saja membuatnya semakin panas seolah terbakar.

Haiiissh! Kenapa kamu menerimanya?! Soo Hwa babo!

Namja itu berlalu dan Soo Hwa berlari ke arahku yang sejak tadi menunggunya. Dia tersenyum kegirangan. “Dae, lihat! Aku dapat bunga! Cantik, kan??”

Aku berjalan cepat meninggalkannya tanpa menoleh ke arahnya sama sekali. “Jelek.”

Soo Hwa berlari mengejarku. “Mana mungkin. Cantik begini…”

“Sudahlah, ayo pulang!”

“Daeee… jangan cepat-cepaatt!!” Soo Hwa tersengal mencoba mengejar langkahku yang panjang dan cepat. Aku hendak menghentikan langkahku karena kasihan padanya. Namun urung kulakukan, karena kata-kata yang dia ucapkan selanjutnya. “Daeee… pelan sedikiitt!! Bungaku mau jatuuuhh!!”

Bunga lagi bunga lagiii!! Sudah kubilang itu jelek, Soo Hwa!

Aku berbalik ke arahnya dan menatapnya sebal.

Soo Hwa terkejut dengan gerakanku yang tiba-tiba. “Dae?”

Tanpa berkata apapun, aku langsung merampas bunga yang dia genggam sejak tadi. Soo Hwa membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang baru saja kuperbuat. Dia mengikuti gerakan tanganku yang membuang bunga itu jauh-jauh ke arah sungai di samping jalan yang kami lewati. Tak berapa lama kemudian, bunga itu hanyut mengikuti arus hingga tak terlihat lagi oleh pandangan kami.

“Yaa!! Apa yang kamu lakukan?!!” dia menatapku marah.

Aku membalasnya dengan tatapan tajam. Aku menahan semua emosi yang sudah membuncah sejak tadi. “Jangan bicara dan menerima apapun dari orang yang tidak kamu kenal, Soo Hwa!!”

Dia terhenyak. Tatapan marahnya tadi berganti dengan keterkejutan mendengar apa yang kukatakan. Hening menyelingkupi kami sejenak, sebelum akhirnya dia berbicara. “Jangan-jangan… kamu… cemburu?”

Kini berganti aku yang terhenyak. Dia menebak apa yang kurasakan dengan sangat tepat. Tapi egoku melarangku mengakuinya. Mana mungkin seorang Dae Sung, atlet figure skating terkenal, mengakui hal memalukan ini padanya?

“Ani!” aku berbalik meninggalkannya.

BRUUKKK!!!

Sebuah tas melayang tepat mengenai kepalaku. “Dae babooo!!!”

Aku berbalik lagi ke arahnya dan melotot padanya marah. “Haiiisshh!! Apa yang kamu lakukan?! Sakit, tau!!”

“DAE SUNG CURAAANGG!!!”

“Soo Hwa?” aku kebingungan melihatnya tiba-tiba berteriak.

Dia mengepalkan tangannya ke udara. “Apa-apaan sih kamu ini?! Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku? Kamu tidak pernah tahu bagaimana perasaanku!! Tiap kali kamu berbicara dan tertawa pada yeoja lain…”

Dia tidak meneruskan kata-katanya. Dia hanya menatapku dengan tatapan marah. Baru kali ini aku melihatnya semarah itu.

“Sudahlah. Aku capek!” dia berjalan meninggalkanku.

Aku masih syok. Ternyata dia juga menyukaiku? Jadi aku tidak bertepuk sebelah tangan?

Aku langsung mengejarnya dan meraih tangannya hingga kini dia kembali berhadapan denganku. “Dae Sung, lepaskan aku!”

Aku mempererat genggaman tanganku. Aku tidak bisa melepasnya lagi. Aku baru saja tahu bahwa dia juga mencintaiku. Maka, inilah waktunya aku jga mengatakan perasaanku padanya.

“Mianhae, Soo Hwa. Mian…”

Terhenyak, perlawanannya padaku berhenti. “Apa maksudmu?!”

“Mianhae, Soo Hwa. Aku membuatmu menderita karena kelakuanku. Mian… kamu… cuma kamu tuan putri bagiku.” Aku menatapnya lekat-lekat. “Kamu selalu berlatih begitu keras, menggapai cita-citamu hingga melangkahiku. Kamu begitu bersinar dan menawan. setiap hari, aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Aku… tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk mengejarmu. Mianhaeyo.”

Hening.

Soo Hwa terdiam menunggu kelanjutan yang akan aku katakan padanya. mimik mukanya mengeras, seolah syok dengan setiap kata yang akan keluar dari mulutku.

“Saranghaeyo, Kim Soo Hwa.”

Dia terdiam, sekali lagi, terkejut dengan apa yang kukatakan. Namun tak lama kemudian, dia tersenyum. “Jadi kamu cemburu?”

Kata-katanya langsung seperti kartu mati bagiku, benar-benar tajam dan menggigit. Dan aku tidak bisa membalas perkataannya. Aku melepaskan genggaman tanganku darinya dan mengalihkan pandanganku kea rah lain. Aku tidak mau dia melihat mukaku yang kini sudah benar-benar memerah. “Anii!”

“Yaa! Masih saja tidak jujur!”

Soo Hwa mendorong dadaku jengkel. Keseimbanganku goyah karena dorongannya yang terlalu kuat dan aku tidak siap untuk menahannya. Kakiku mencoba menahan berat tubuhku yang oleng, namun gagal dan…

BYUUUURRR!!!

Aku tercebur ke sungai di belakangku.

“Dae?!”

____________________________________________

Okee, selesai.🙂

humm… bagaimana bagaimanaa? terlalu ringan kah? humm… mian yaa kalo mengecewakaan.. hiks. >___<

Keep comment me yaa ! No silent readers in here, please.🙂

Gomawoyoooooooooo!!!!!!!