Title: My Immortal

Author: Retno aka Park Yeonrin

Rate: G

Genre: Fantasy? Maybe

Cast: Park Jiyeon

Length: Oneshot

Disclaimer: The plot is mine. This fanfic is mine. Castnya cuman minjem dari emaknya doang.

A/N: Ini udah pernah aku publish di blogku. Adegan nginjek tanah pagi2 itu aku dapet dari sebuah cerita *entah fiksi apa engga*

__

Aku terbangun dari tidur panjangku. Perlahan kucoba membuka mata yang sungguh terasa berat. Seolah-olah ada sesuatu yang menindihku hingga aku tak bisa membukanya.

Dengan susah payah, akhirnya aku berhasil membuka kelopak mata yang seakan tertempel dan tak mau terlepas dari mataku ini. Kuturunkan sebelah kakiku dari ranjang seraya menguap lebar.

Jep.

Lembek. Hal itulah yang pertama kali kakiku rasakan saat menginjakkannya ke lantai. Segera kulongokkan kepalaku ke bawah.

Terkejut! Mungkin sekarang mataku terlihat seperti akan keluar dari rongganya. Bagaimana tidak? Sekarang yang kulihat bukanlah lantai kamarku, melainkan.. tanah?

Entah. Entah nyawaku yang masih belum terkumpul sepenuhnya sehingga tak bisa melihat dengan pasti, atau memang aku yang mengigau semalam sampai bisa berada disini.

Hey! Tapi apakah masuk akal jika aku mengigau bersama ranjangku sampai berada di… pemakaman?!

Kuputar kepalaku ke segala arah mencoba memastikan apakah yang kulihat ini nyata atau tidak.

Dan hasilnya, benar. Aku tidak salah lihat, aku tidak bermimpi, dan ini nyata. Aku berada di pemakaman. Tapi, bagaimana bisa?

Berbagai pikiran aneh mulai berkelebat di kepalaku.

Apa ada orang iseng yang menggotongku hingga kesini?

Apa eomma dan appa sudah tidak mau merawatku hingga aku dibuang kesini?

Apa ada makhluk halus yang membawaku hingga kesini untuk dijadikan pengikutnya?

Apa malaikat kematian salah membawa jiwa manusia?

Ahh! Pikiran macam apa ini?!

Perlahan kucoba menghapus pikiran-pikiran aneh itu. Mungkin pulang ke rumah adalah hal yang terbaik saat ini. Tapi, bagaimana dengan ranjangku?

__

“Hiks.. hiks.. aku tidak menyangka putri kita satu-satunya akan pergi secepat ini, yeobo.” kulihat seorang wanita paruh baya tengah menangis di dekapan, suaminya, mungkin.

Tapi, tunggu! Bukannya itu.. eomma? Dan yang mendekapnya itu.. appa?

Kenapa mereka menangis? Dan.. tunggu! Apa yang tadi eomma bilang? Putri kita satu-satunya pergi? Maksudnya? Aku pergi? Pergi kemana?

Kulangkahkan kakiku mendekati mereka dan mencoba memastikan keadaanya. Sesekali kuedarkan kepalaku ke seluruh penjuru ruangan. Kenapa banyak sekali orang di rumahku? Kenapa mereka memakai pakaian serba hitam?

“Eomma, Appa. Kenapa kalian menangis? Aku tidak pergi eomma. Aku disini, di belakangmu.” seruku pelan seraya meraih pundak eomma untuk menenangkannya.

Sret.

Apa ini? Kenapa pundak eomma tak tersentuh olehku? Bahkan tanganku terlihat seperti melewatinya.

Di lain sisi, eomma juga tidak menoleh ataupun menghiraukan perkataanku samasekali. Appapun tidak? Apa aku yang terlalu pelan? Atau telinga mereka sudah memasuki masa pensiun?

Namun lama-lama aku berpikir. Apa aku punya kekuatan sihir?

Pertama. Pagi ini tiba-tiba aku berada di pemakaman, lengkap dengan ranjangku. Mungkin saja aku mempunyai kekuatan berpindah dengan cepat.

Kedua. Aku tidak bisa menyentuh pundak eomma. Mungkin saja kan kalau tanganku bisa berubah menjadi transparan?

Ketiga. Eomma dan appa tidak bisa mendengarku padahal menurutku suaraku tak begitu pelan.

Oke, mungkin yang ketiga samasekali tidak termasuk sebuah kekuatan.

Tapi entahlah. Aku merasa aku berbeda sekali hari ini.

Lebih kudekatkan lagi tubuhku ke belakang eomma dan mencoba memeluknya. Tapi sama. Aku tidak bisa menyentuhnya. Hal ini membuatku semakin bingung.

Tak sengaja mataku menangkap sesuatu yang berada di hadapan eomma dan appa. Penasaran, akupun memicingkan mata dan bergerak lebih mendekat agar bisa memperjelas penglihatanku.

OMO!

Itu.. itu.. a.. ku..? Aku? Di dalam sebuah.. peti..mati?

Ani! Tidak mungkin! Bagaimana mungkin aku yang jelas-jelas sedang berdiri disini, dalam waktu yang sama bisa berada di dalam peti itu?

Aku semakin merasa bahwa penglihatanku mulai memburuk. Tapi, aku yakin aku tak salah lihat. Tidak mungkin aku mempunya kembaran. Dan lebih tidak mungkin lagi aku bisa berada disitu dalam waktu bersamaan saat aku berdiri disini.

“Ahjumma, yang sabar ya. Ini sudah takdir Tuhan. Mungkin di balik ini, Ahjumma akan mendapat suatu keberkahan lain. Ini sudah waktunya Jiyeon untuk pergi. Ia sudah dipanggil Yang Diatas untuk kembali ke sisi-Nya.” ujar seseorang yang sudah sangat kukenal suaranya. Jieun, sahabatku.

Sebentar. Apa tadi yang Jieun bilang? Sudah takdir Tuhan? Sudah waktunya Jiyeon pergi? Sudah dipanggil Yang Diatas untuk kembali ke sisi-Nya? Maksudnya? Apa maksud perkataan Jieun?

“Jieun-ah! Apa yang kau katakan?! Aku masih disini, hey! Aku tidak pergi! Aku belum dipanggil-Nya! Apa yang kau katakan itu?! Lihat Jieun-ah!  Aku masih disini!” seruku cukup keras. Namun hal itu tak membuat Jieun menoleh atau menghiraukanku sedikitpun. Apa dia juga tidak mendengarku?

Ingin memastikan telinga mereka masih sehat, akupun berteriak sekali lagi. Kugerakkan tubuhku untuk bangkit. Sedetik kemudian, aku sudah berteriak tak karuan, “HEY SEMUANYA! AKU DISINI! AKU MASIH DISINI! DI BELAKANG KALIAN! MENOLEHLAH! JANGAN BILANG AKU SUDAH PERGI KE SISI-NYA! AKU MASIH DISINII!”

Sama. Mereka tak menoleh sedikitpun. Hal ini membuatku benar-benar gila! Bagaimana bisa mereka samasekali tak mendengar teriakan superku itu? Bagaimana bisa suara super itu samasekali tak mengalihkan perhatian mereka?

“Ya Tuhan, mereka kenapa? Apa ada yang salah denganku? Apa yang telah terjadi padaku?” desahku pelan seiring dengan merosotnya tubuhku.

“Jiyeon-ah, yang tenang tenang ya kau disana. Eomma akan selalu mendoakanmu.” ujar eomma membuatku semakin gila. Sementara appa masih mengusap-usap lengan eomma dalam dekapannya.

Putri kita satu-satunya akan pergi secepat ini. Sudah waktunya Jiyeon pergi. Sudah dipanggil Yang Diatas untuk kembali ke sisi-Nya. Yang tenang ya kau disana.

Semua perkataan itu kembali berkelebat di kepalaku. Kucoba menarik kesimpulan dari setiap perkataan mereka. Dan pada akhirnya, aku dapat memahami keadaan ini dan dapat menyimpulkan sesuatu. Aku telah.. mati.

“Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak mati! Aku belum mati!” kugelengkan kepalaku kuat-kuat dengan kedua tangan yang menutupi 2 indera pendengaranku.

Aku masih terus menggelengkan kepalaku ketika sebuah tangan mendarat di pundakku membuatku berhenti melakukan aktivitas tak jelas itu.

Segera ku menoleh ke belakang. Ku dapati seorang, entah itu wanita atau pria, menggunakan pakaian serba hitam, memakai tudung di kepalanya, dan auranya pun menakutkan. “K..kau.. siapa?”

“Aku malaikat kematian.” jawabnya datar. Dapat kurasakan mataku yang seakan ingin meloncat keluar dari rongganya. “Kau harus ikut aku. Ini sudah waktumu pergi.”

Kugelengkan lagi kepalaku kuat-kuat. “ANDWEEEEEEEEEE!!!! AKU BELUM MATI! KAU PASTI SALAH ORANG! AKU BELUM MATI! AKU BELUM MATIII!!!”

“Kau sudah mati. Kemarin malam. Dalam sebuah kecelakaan.” sahut makhluk itu lagi. Kugelengkan lagi kepalaku kuat dengan lebih semangat.

Ding ding ding ding..

Suara grand piano yang melantunkan lagu kematian dengan cukup keras berhasil membuatku tersadar. Suara isak tangis dari orang-orang yang berada disinipun terdengar semakin jelas seolah ingin mengusirku dari dunia ini.

“Ayo Jiyeon.. aku tidak punya waktu banyak. Kau harus segera ikut denganku.” paksa makhluk itu.

Dengan sisa-sisa tenagaku, kukeluarkan suara yang kali ini benar-benar lemah, “Aku.. tidak mau.. pergi. Aku.. masih ingin.. disini..”

“Kau harus pergi! Kau harus kembali ke tempatmu!”

“KEMANA?! TEMPATKU DISINI!! KEMANA AKU HARUS KEMBALI?! INI RUMAHKU!!” bentakku dengan cukup emosi.

“Ke sisi-Nya. Ke keabadianmu.” jawab makhluk itu datar. Mendengar itu aku semakin emosi. Namun apa daya, aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Ayo Jiyeon..” paksa makhluk itu sekali lagi. Kali ini aku hanya bisa pasrah. Perlahan-lahan kugerakkan tubuhku mendekati makhluk itu. Sambil sesekali menoleh ke arah eomma yang masih terisak di pelukan appa.

Pada akhirnya, lama-kelamaan aku dapat menerima kenyataan ini. Walaupun itu menyedihkan. Aku harus kembali. Dia sudah memanggilku. Aku harus pulang.

Eomma, Appa. Baik-baik ya kalian disini. Aku janji, aku tidak akan berbuat macam-macam disana. Aku tidak akan nakal. Aku akan rajin-rajin mengunjungi kalian. Aku akan datang di mimpi-mimpi kalian. Serta, doakan aku agar mendapatkan sesuatu yang baik disana. Doakan aku agar mendapat kebahagiaan. Eomma, Appa. Selamat tinggal. Terima kasih telah merawatku selama ini. Maaf jika aku sering membuat ulah dan merepotkan kalian. Saranghae~

Setelah itu, aku segera dibawa oleh makhluk itu entah kemana. Aku tidak bisa merasakan, perpindahannya sangat cepat.

__

Sore hari

Aku bersembunyi di balik sebuah batu nisan untuk mengintip acara pemakamanku. Oke, mungkin ini kedengarannya cukup aneh. Tapi hey! Kenapa aku harus sembunyi? Toh mereka juga tidak akan melihatku kan? Yaa~ baboya Jiyeon!

Aku beranjak dari batu nisan dan menghampiri areal makamku. Sekarang, aku bisa melihatnya dengan cukup jelas. Tapi.. kenapa rasanya ada yang aneh ya? Seperti ada yang mengganjal. Kupaksa otakku untuk berpikir. Lama.. lama.. lama.. akhirnya aku bisa menemukan jawabannya.

OMO! Kemana ranjangku yang waktu itu?

FIN