Title                : TIME

Genre             : Angst, AU, Suspense, Romance

Length           : PROLOG

Rating             : PG-17/straight

Author             : Zantz Zenith

Summary       :

Disclaimer      : All characters aren’t mine except OC. They belong to themselves and I write this fanfiction not for money. So don’t sue me.

Warnings       : This fanfiction has not betaed yet. Sorry for hard diction. Don’t like, don’t read. Please give your comment, critic, or advice to support me. Don’t copy or steal without my permission and take out all credit.

© 2011 Zantz_Zenith. All rights reserved. Distribution of any kind is prohibited without written consent of Zantz_Zenith.

NO SILENT READER

 

Happy reading~~

BUSAN HARBOUR, SOUTH KOREA 1990

            Langit tak bergelimang perhiasan. Hanya awan cumulusnimbus yang nampak memayungi Busan berhiaskan kemilau lentera malam. Titik-titik air mulai menodai sweater usang milikku yang lebih banyak terkoyak karena sesuatu. Napasku saling memburu satu-persatu sembari ku ketatkan pelukan pada sesosok yang terbungkus erat dalam lapisan handuk. Cairan merah merembes dari handuk itu. Memberiku bau anyir yang khas dan lengket. Aku meringkuk di celah antara dek kapal dan tumpukan kontainer yang berjajar menghalangi lampu pelabuhan. Aku merasa aman meskipun seseorang tak jauh disana tengah mengintaiku dengan sebuah senapan laras panjang. Derap langkahnya berat dan berirama, kontras dengan derap jantungku yang lebih seperti nada awal dalam menari salsa. Aku berusaha menciut. Mengkerdilkan diri. Diam dan menahan napas beberapa detik saat derap langkah itu semakin jelas dan bukan hanya terasa samar-samar.

            “Keparat kecil, dimana kau?“

            Suara berat dan dalam itu memanggil dengan nada mengancam. Menimbulkan gaung memilukan. Terpantul kembali oleh lorong di antara kontainer-kontainer yang terbengkalai. Lidahku kelu sesaat. Menahan sensasi yang ia buat untuk mengintimidasiku.

            Kumohon, pergilah.

            Lelaki itu meracau. Ia jelas sedang dalam pengaruh vodka. Baunya menyengat sampai membuatku hampir meledakkan isi perut. Aku tahu ia berada tak jauh. Ia meracau lagi. Entah apa yang dikatakannya. Namun kali ini yang membuatku tercekat adalah saat rentetan peluru itu dimuntahkan begitu saja di sepanjang jangkauannya. Menggema. Menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga. Pecahan kaca jatuh menghujam berceceran bagai air hujan. Aku terdiam kembali memeluk apa yang berada dalam gendonganku ke dalam dekapan. Lengan kurusku tak mampu lagi menahan bobotnya lebih lama lagi. Namun aku merasakan panas yang menggelayuti betis kiriku. Panas dan perih mendominasi saat aku menyadari ada cairan merah yang mewarnai kakiku.

            Aku terkesiap. Namun aku membungkam diri agar tak berteriak.

            “YA! Dimana kau? Cepat keluar anak manis! Berikan dia padaku! Dia milikku! Istriku akan marah besar bila kau tak mengembalikannya, “ ucap lelaki itu dengan nada parau.

            Dia mengenai kakiku. Susah payah aku menahan perih yang menjalar. Kaki serasa mati rasa. Sementara itu darah mengalir dari lubang yang menganga. Aku mencoba menghentikan alirannya dengan menyematkan jemariku, namun yang terjadi semakin parah. Secepat kilat aku edarkan pandangan menyapu seluruh penjuru kabin. Dan aku mendapati hanya kesunyian yang menemaniku. Sempat kulirik isi dari handuk yang ku bawa. Dia diam dan tenang. Tetap diam meskipun darah mengalir dari kepalanya. Aku diliputi perasaan cemas. Apakah dia mati?

            Tidak! Dia tidak boleh mati!

            Kusibakkan penutupnya dan menghadapkan dada mungil itu pada telingaku. Kudengar lamat-lamat detak lemah itu berderap. Bagaimana dengan napasnya? Aku tak dapat merasakannya ketika tanganku tak mampu redam oleh gemetar. Bibir kecil tak berdaya itu terbuka, memohon asupan udara. Sedangkan wajahku kuyu menerima nasib dan dilanda kepanikan. Dia harus hidup. Bagaimana pun caranya, setidaknya jika aku mati maka kematianku tak akan pernah sia-sia. Aku menghentakkan kepalan tanganku di dadanya. Berharap jantung itu kembali memperdengarkan detak normal yang ku nanti.

            Dziiingg! Traaangg!

            Sebuah peluru terpantul mengenai baja kontainer di belakangku. Selongsong jatuh. Aku tercekat menahan napas beberapa detik saat menyadari kepalaku masih utuh. Perlahan kulongokkan kepala dari tempat persembunyian. Memperlihatkan segaris mataku ke arahnya. Aku mengamatinya. Tubuh tambun dengan senapan angin itu menghancurkan apapun yang menghalagi pandangannya untuk menemukanku. Kotak-kotak kayu bergelimpangan di lantai dek kapal. Moncong benda dingin panjang itu mengepulkan asap mesiu. Siap meluncurkan peluru tanpa menunggu waktu. Aku memasrahkan diri pada malaikat maut untuk mengantarkanku keharibaan Tuhan. Air mataku tergenang di pelupuk mata. Mencoba menghadapi moncong besi itu dengan keberanian yang hanya seujung jarum.

            Aku tertatih menyeret tubuhku menjauhinya. Lubang menganga yang dibuatnya mempersulitku bergerak. Aku merintih memohon diri agar bertahan.

            “Brengsek!! Cepat keluar atau aku akan benar-benar membunuhmu!!“ teriaknya membahana diiringi rentetan peluru ke segala penjuru.

            Aku terisak dalam kebisuan dan dicekam himpitan ketakutan yang menjadi-jadi. Aku mendengarkan lamat-lamat derap langkahnya yang semakin mendekat. Entah setan mana yang merasukiku sampai mengeluarkan sebilah belati yang kuselipkan di sela celana kusam milikku. Aku menatap benda yang berkilau memantulkan cahaya dari lampu dermaga.

            Uhmonie, aku merasa akan mati malam ini. Izinkanlah aku melindungi diri semampuku.

           Groooooaangggg! Suara alarm kapal bergaung ke seluruh ruangan. Berpantulan di dinding-dinding kontainer. Aku mengetatkan genggamanku pada belati setelah meletakkan sosok dalam bungkusan handuk di lantai kayu mahoni.

            Uhmonie, sekali lagi aku melakukan ini hanya untuk membela diri.

            Semuanya terjadi hanya dalam hitungan detik. Saat dirinya lengah terpaku mendengar suara alarm itu, aku menerjangnya. Menerjang dengan sebilah belati di tangan. Menusukkannya berkali-kali ke punggungnya. Aku kalut dirasuki amarah yang menggebu. Aku adalah malaikat maut yang menjemput nyawanya. Ya, aku menarik lepas nyawanya sebelum ia benar-benar menghabisiku. Sedangkan senapan di tangannya menembakkan peluru ke tubuhku untuk yang terakhir kali. Selongsongnya jatuh mengenai kaki. Ia meregang beberapa kali sebelum aku mengoyak tubuhnya. Air mataku turun perlahan. Menahan pedih yang menguasai hati.

            Setelah puas menghabisinya, aku termenung menatap genangan cairan merah di sekitarku dan sosok yang tak lagi bernyawa. Dalam diam aku berbisik sambil terengah,

            “Appachi… Mianhaeyo…“

~oo0O0oo~

 

To be continued …