Author : cutemoo
Title    :Love Really Hurts
Length : One Shot
Genre  : Romance
Cast    : Yesung n another cast aren’t belong to writer, except Han Yong Woo n Yoo Jin

Tarraaaaaa……writer geje balik lagi *disemprot baygon ama para author….* kali ini saia kembali membawakan ff yang diperankan oleh Yesung *plakk* PENGUMUMAN PENGUMUMAN!!!! Untuk author yang bernickname THYZ, saia pjm artismu (bc:Soohwa) sebentar ya *deep bow* Gomawo chingu ^^

Kali ini smua Yong Woo POV ya, soalnya writer cape harus bolak balik POV Kekeke…
OK OK Happy reading 😉

LOVE REALLY HURTS

Kejadian ini bermula ketika secara tak sengaja aku membaca message yang masuk ke hp-nya. Bahwa gadis itu telah memberinya no hp. Entah siapa yang memulai lebih dulu, yang kutau sekarang mereka berdua sering ber-smsan. Lebih sering daripada ber-smsan denganku. Gadis itu bernama Soo Hwa, dan yang menjadi teman smsnya adalah Yesung, pacarku sendiri. Apakah ini bisa disebut perselingkuhan? Aku belum tau. Karena Yesung tak pernah bilang padaku tentang gadis itu, sikapnya padaku pun tak berubah. Tetap semanis dan sebaik dulu. Walaupun terkadang perhatiannya itu hanya sedikit yang kurasakan.

“Yong Woo, ada apa? Kenapa melamun terus sejak tadi?” tanpa kusadari Yesung memperhatikanku. Ia bertanya sambil tersenyum, kalau saja hatiku sekarang tidak gundah mungkin senyumnya itu sudah membawaku sampai langit kedua.

“Ah..anniyeo. Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit merasa tidak enak badan” kataku berbohong. “Bukankah hari ini kau ada janji dengan Teuki oppa?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Teuki oppa adalah kakak sepupuku. Sebelumnya mereka berjanji kalau hari ini akan bermain basket di taman dekat kampus.

“Oh ya…hampir saja aku lupa. Baiklah aku berangkat sekarang. Tak usah ikut ya, tadi kau bilang lagi kurang enak badan kan?? Nanti malam aku akan datang kerumahmu” katanya sambil memasukkan buku dan baju cadangan ke dalam tas ranselnya.

“hmmm…baiklah. Aku juga ingin menemani eomma, sekarang ia sendirian dirumah” kataku dengan alasan yang dibuat-buat, karena eomma sedang pergi dengan ahjummaku. Sebisa mungkin aku mengeluarkan senyumku. Taukah kau bahwa aku ingin sekali ikut denganmu. Entah kenapa sepertinya hari ini aku ingin selalu berada disisimu. Tentu saja Yesung tak tau itu, karena aku mengucapkannya dalam hatiku.

Setelah berpamitan denganku Yesung langsung bergegas pergi menuju taman. Akhir-akhir ini dia sering sekali menghabiskan waktu dengan Teuki oppa, bilangnya sih ingin main basket. Kadang kupikir, benarkah Yesung sayang padaku? Untuk hal ini aku juga tidak tau, karena Yesung adalah tipe orang yang tidak mengungkapkan apa yang dirasakan dengan kata-kata. Lucunya, dia tak pernah bilang bahwa ia sayang padaku. Tapi hatiku selalu yakin, akulah orang yang paling ia sayang. Menurut kalian aneh tidak?

Aku sampai dirumah, dan melihat noonaku sedang duduk di sofa. Noonaku ini bernama Yoo Jin, sering kali aku curhat padanya tentang perasaanku dan tentang Yesung juga. Tapi kali ini aku tak cerita padanya tentang Yesung yang sering ber-smsan dengan gadis bernama Soo Hwa itu. Biarlah hanya aku seorang yang tau, toh aku juga belum tau pasti tentang hubungan mereka.

“Annyeong..Noona” aku memberi salam pada Yoo Jin noona.

“Sepertinya dongsaengi-ku satu ini sedang dirundung masalah ya?” Noona berkata tanpa mengalihkan tatapan dari majalah yang sedang dibacanya.

“Eeehh…Noona hebat sekali. Tau dari mana?” kataku kaget setengah mati.

”Tentu saja aku tau, suaramu itu seperti orang yang tidak makan selama satu bulan penuh. Lagipula aku ini kan noona-mu, memangnya kita sudah tinggal bersama berapa lama sampai-sampai aku tidak tau watak adikku. Nah sekarang ceritakan padaku apa masalahmu?” Noona meletakkan majalah yang tadi dibacanya dan menumpangkan dagu di tangan kanannya sambil melihat ke arahku. Menungguku bicara.

“hmmm….”

“yaaa….”

“ituu….”

“Waeyeo?” katanya tak sabar.

“hmmm…..” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Kau ini, selalu saja begitu. Tak pernah mau berbagi jika masalah itu rumit. Aku janji tidak akan bilang pada siapapun tentang masalahmu kali ini” katanya memaksa.

“Hahahaha….dasar Noona pabo. Aku hanya bercanda saja, sebenarnya tidak ada masalah apapun. Aku hanya sedikit lelah karena ujian tadi di kampus” jawabku berbohong, lagi.

“Ya sudahlah jika kau tidak ingin cerita, aku tidak akan memaksamu. Lebih baik sekarang kau makan. Aku sudah menyiapkan ramyun untukmu dimeja makan” katanya kembali berkonsentrasi pada majalah yang tadi sempat dibacanya.

Aku melangkahkan kaki ke ruang makan. Ramyun buatan kakakku terkenal enak, maksudku untuk kalangan keluarga saja. Rasanya itu sangat pas, mienya pun kenyal. Aku mulai menyendokkan ramyun ke dalam mulutku. Biasanya aku akan melahap ramyun ini dengan rakus, tapi entah kenapa kali ini aku seperti mengunyah karet. Rasanya pun hambar. Tak terasa satu tetes air jatuh ke dalam ramyunku. Tanpa kusadari aku menangis, buru-buru kuseka air mataku yang akan berhambur keluar. Aku takut Noona melihatnya, dan akan kembali memaksaku untuk bercerita.

“Sudah kuduga jadinya akan begini” tiba-tiba saja Noona sudah berdiri dibelakangku.

“Apa kau sudah mau cerita padaku? Tidak baik lho disimpan sendiri” katanya lagi dengan senyum jailnya.

Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya aku mulai bicara.

“Noona, apa aku begitu menyebalkan?” tanyaku ditengah redaman isak tangis.

“Kurasa tidak”

“Apa aku egois?”

“Hmmm…kurasa juga tidak” Noona terdiam. “Baiklah, sedikit… Lumayan agak banyak juga. Tidak…tidak…maksudku kau memang egois” sambungnya.

“Dan…apa karena keegoisanku itu aku tidak pantas untuk dicintai?” tangisku pun meledak.

“Mengapa kau bisa bertanya seperti itu? Sebenarnya apa yang terjadi padamu??” tanyanya heran sambil berusaha menenangkanku.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertanya saja” jawabku setelah akhirnya aku bisa menghentikan tangisku.

Terdengar hp-ku berbunyi, ada sms masuk. Buru-buru kutinggalkan ramyunku yang masih utuh dan Noona yang masih belum puas dengan ceritaku.

“Aku tidak bisa kerumahmu hari ini, karena Sungmin minta tolong padaku untuk membantu kepindahannya ke apartemen yang baru” Ini adalah bunyi sms yang Yesung kirimkan padaku. Aku tau dia tak akan datang jika sudah main basket dengan Teuki oppa. Aku sudah biasa dengan sikapnya yang suka berubah itu. Dan tentang alasannya membantu kepindahan Sungmin temannya, kuharap itu benar. Karena sampai saat ini aku tak pernah bertemu dan tak pernah kenal dengan Sungmin yang diakui sebagai temannya itu.

“Gwaenchana..kau juga pasti sangat lelah setelah main basket dan bantu Sungmin. Tapi jangan lupa makan ya” ….Send to Yesung Chagya….

Kali ini aku biarkan diriku untuk tidak berbuat egois. Biasanya jika Yesung mengabarkan kalau dia tidak bisa datang aku akan selalu bertanya dengan seribu pertanyaan. Mungkin itu yang membuatnya bosan padaku dan berpindah ke lain hati. Oopss…mengingat gadis bernama Soo Hwa itu aku jadi penasaran, sebenarnya siapa dia?? Entahlah, tapi yang pasti malam ini akan kulewatkan dengan berkutat dengan buku-buku ujian yang harus kuhadapi besok.

Pagi ini mataku tidak bisa terbuka, rasanya ingin sekali lagi memeluk bantal empukku diranjang. Tapi apa boleh buat, ujian terakhir menungguku di kampus. Ini semua karena semalam aku tidak bisa tidur, hanya karena memikirkan hal-hal yang membuat kepalaku tambah pusing.

“Anyeong..Noona. Dimana eomma?” tanyaku sambil mencomot roti panggang dimeja.

“Dia pergi kepasar untuk membeli keperluan pestanya ahjumma besok” jawabnya.

“Oh begitu ya. Aah..sebentar lagi aku telat ke kampus. Noona aku berangkat dulu ya. Annyeong Noona…” kataku sambil melambaikan tangan kiri pada Noona. Sedangkan tangan kananku sibuk mengetik pesan di hp.

“Chagya…aku akan ke kampus. Kau juga sudah mau berangkat kan?? Hati-hati di jalan ya. Annyeong” ….Send to Yesung Chagya….

Di kampus aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Pelajaran yang telah aku pelajari semalam hilang entah kemana, tak satupun yang tinggal dalam otakku. Kurasa ujian kali ini aku tidak akan lulus. Bagaimana aku bisa konsentrasi, pesan yang tadi pagi kukirimkan pada Yesung sampai detik ini tak ada balasan. Sebelumnya Yesung tak pernah begini, dia pasti akan menyempatkan waktu untuk membalas pesanku terkecuali disaat sibuk sekali. Apa mungkin perhatiannya padaku kini sudah teralihkan sepenuhnya oleh gadis bernama Soo Hwa itu?? Tanpa banyak berpikir aku langsung bergegas pergi menemui Yesung di kampus sebelah.

Tepat sekali, aku sudah bisa menduga kalau Yesung akan berada di tempat biasa ia melewatkan waktu jika jam pelajarannya kosong. Kulihat ia asik bermain dengan hp-nya. Mungkin sedang sms-an. Dengan siapa? Apa dengan si Soo Hwa itu?? Aku yang sudah terbakar api cemburu datang menghampirinya. Kubanting tubuhku ketika duduk disebelahnya.

Aku menatap lurus ke arah lapangan kampus, berpura-pura tidak melihat apa yang dilakukan oleh Yesung. Padahal ekor mataku selalu melihat gerak-geriknya. Ia tidak terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba, tapi aku bisa merasakan kalau perlahan ia memasukkan hp miliknya ke dalam tas.

“Apa kau sangat sibuk hari ini?” tanyaku dengan nada bicara yang masih normal, masih dengan pandangan ke arah lapangan.

“Hmmm…tidak juga. Hanya saja tadi ada ujian mendadak, mana semalam aku tidak belajar karena sibuk bantu mengemasi barang-barang milik Sungmin yang akan dibawa. Mianhae chagi, semalam aku lelah sekali jadi tidak bisa datang kerumahmu” katanya sambil menyandarkan kepalanya dibahuku.

Aku hanya bisa diam mendengar jawaban darinya. Setelah beberapa lama terdiam, Yesung menyadari keheningan yang terjadi diantara kami. Dia pun mengangkat kepalanya dan menatapku.

“Yong Woo yaa, gwaenchana?? Mengapa kau diam saja? Tidak seperti biasanya, jika aku menyandarkan kepalaku kau selalu mengusapnya dan menenangkanku” kata yesung dengan mimik muka heran. Memang setiap kali Yesung menyandarkan kepalanya aku akan selalu mengusapnya, salah satu caraku memanjakan Yesung.

“Kau tidak sedang berbohong padaku, kan?” tanyaku dengan nada menuduh sambil melihat kearahnya.

“Apa maksudmu aku berbohong padamu?” jawabnya. Alis Yesung berkerut tanda bingung.

“Tadi pagi aku mengirim pesan padamu, tapi sampai detik ini aku tidak menerima balasannya. Kukira kau sibuk setengah mati, jadi tidak bisa membalas pesanku. Ternyata kau sama sekali tidak sesibuk seperti bayanganku” jawabku agak marah. Kubuang pandanganku darinya kembali kearah lapangan kampus.

“Pesan apa? Sejak kemarin sore aku tidak menerima pesan darimu sama sekali. Terakhir kali kuterima ketika kubilang bahwa aku akan membantu Sungmin. Itu saja” Aku menatap Yesung, terlihat bahwa ia sedang mengendalikan emosinya.

“Selalu saja kau bilang begitu? Ini sudah yang kesekian kalinya kau bilang bahwa kau tidak menerima pesanku. Benar-benar tidak masuk diakal. Jika kau tidak mau membalas, tidak apa-apa. Setidaknya jangan bilang kalau kau tidak menerima pesan dariku. Kau ini memang menyebalkan” nada bicaraku meninggi satu oktaf. Dengan tidak berpikir panjang, aku langsung pergi meninggalkannya begitu saja. Tak peduli begitu banyak orang yang menatap kami.

Sesampai di rumah, aku langsung mengurung diri di kamar. Ajakan Noona untuk makan siang pun tak kuhiraukan. Karena hal yang paling kuinginkan sekarang adalah menangis. Disaat sedih begini, aku justru teringat kejadian-kejadian manis saat bersama Yesung. Seperti waktu itu, ketika kami berdua makan strawberry cake di kafe Miracle dan dia mengambil jatah stroberiku. Saat Yesung harus study tour ke Busan selama tiga hari, dan selama tiga hari itu juga dia selalu menghubungiku walau hanya sekedar untuk mengatakan ‘Bogoshippo, Chagi’… Atau saat Yesung sedang bercanda dengan seorang gadis bersama Teuki oppa, yang membuatnya harus menerima tampang jutekku untuk beberapa hari. Tapi Yesung tak pernah marah atas sikap childish-ku ini.

Seakan baru saja tersengat listrik, seketika itu juga aku tersadar. Sebenarnya tak ada yang salah dengan Yesung. Semua kesalahan ada padaku. Kuraih hp yang terletak diatas bantal bentuk hati hadiah dari Yesung dan langsung menekan no hp yang sudah kuingat diluar kepala. Terdengar nada minor dari seberang sana. Kucoba lagi menghubunginya. Kali ini operator yang menjawab, itu berarti hp Yesung sedang tidak aktif.

Kacau, aku mengacaukannya. Hubungan yang telah lama aku bina dengannya hancur sudah hanya dalam waktu sehari. Ini semua karena keegoisanku. Aku yang selalu memikirkan kepentingan diriku sendiri, tanpa mau mengerti bagaimana perasaannya. Dan sekarang aku hanya menyesali yang sudah terjadi sambil berharap waktu kembali berputar ke masa sebelum aku menghancurkan hubungan kami.

Tapi kenyataannya waktu tak dapat diputar kembali. Yang bisa kulakukan sekarang adalah berusaha memperbaiki kesalahan yaitu dengan menjelaskan pada Yesung tentang apa yang baru saja terjadi. Segera kusambar jaket yang kuletakkan di atas meja belajar. Sekarang masih jam dua siang, dia pasti masih berada di taman tempatnya latihan basket dengan Teuki oppa. Kulangkahkan kakiku secepat mungkin sambil berdoa dalam hatiku agar dia masih berada disana.

Ternyata doaku dikabulkan. Yesung masih berada disana, berdiri di depan Teuki oppa sambil merangkul seorang gadis yang tak kukenal. Merangkul…seorang gadis?? Hatiku kembali bergemuruh, namun aku menguatkan diri untuk menghampirinya.

“Yesung yaaa…” suaraku tercekat ketika memanggil nama Yesung. Jarakku dengannya masih tersisa beberapa meter.

“Yong Woo..gwaenchana??” tanyanya sambil melepas rangkulan dari gadis itu. Dengan tersenyum dia berjalan menghampiriku. Aku terdiam sesaat, pikiranku mencari cara untuk memulai pembicaraan.

“Yesung yaa..mianhae. Selama ini aku selalu bersikap egois padamu. Tak mau mengerti bagaimana perasaanmu. Jeongmal mianhae…” kataku akhirnya dengan kepala tertunduk, tak berani menatapnya langsung.

Yesung hanya diam, tak bicara sepatah katapun. Sepertinya dia benar-benar marah kali ini. Mungkin kekecewaan atas sikap egoisku padanya mulai dia sadari. Perlahan kuangkat kepalaku, dengan takut-takut melihat wajahnya. Tanpa banyak bicara, Yesung memelukku. Hembusan napasnya terasa hangat di puncak kepalaku.

“Yong Woo…mianhaeyeo.. Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu. Mengenai hubungan kita. Aku tau aku telah berbohong padamu selama ini. Dan sekarang adalah saat yang tepat kuungkapkan semuanya” kata Yesung tanpa melepas pelukannya.

“Memangnya ada apa?? Mengapa kau terdengar begitu serius?” hatiku berdebar-debar menunggu penjelasan darinya. Ketika dia melepas pelukanku, kesedihan yang dalam kulihat jelas dari sinar matanya yang redup.

“Yong Woo….sebelumnya aku minta maaf padamu. Tapi sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku bukanlah orang yang sempurna untukmu dan mungkin kau bisa menemukan pria yang lebih baik dariku diluar sana yang sedang menunggumu”

Bagai disambar petir aku mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Yesung. Seakan tidak percaya, aku bertanya sekali lagi tentang apa maksudnya bicara seperti itu.

“Jeongmal mianhae.. Sebenarnya….sudah lama aku…menyukai wanita lain” kata Yesung tersendat.

“Bohong. Itu semua bohong kan??! Aku tau kau sedang berbohong padaku” Aku mulai menangis.

“Tidak Yong Woo. Kali ini aku sungguh-sungguh. Kau boleh tidak percaya, tapi memang begitu kenyataannya. Karena itu aku benar-benar minta maaf padamu jika hubungan kita harus berakhir sampai disini”

“Tidaakk..tidaakk… Kau pasti bohong. Kau bohong kan?? Teganya…kau…berbuat begitu….padaku…” jeritku membabi-buta. Tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing dan penglihatanku semakin kabur. Sayup-sayup kudengar suara Yesung terus memanggilku sebelum akhirnya menghilang dan tak terdengar lagi. Lalu aku pun tak sadarkan diri.

Beberapa jam kemudian aku tersadar. Sepertinya aku mengenal ruangan ini… Ternyata aku sudah berada di rumah, dikamarku sendiri. Entah siapa yang menggendongku sampai kemari ketika aku pingsan tadi. Dalam kesendirian di kamarku ini, aku teringat akan kejadian yang baru saja kualami bersama Yesung. Hatiku hancur berkeping-keping, rasanya sakit sekali melebihi kesakitan fisik yang kualami ketika tanganku tergores. Aku baru tau bahwa perasaan Yesung padaku ternyata sedangkal itu. Namun semua sudah terjadi, dan aku tidak bisa terus-menerus terpuruk oleh kesedihan ini. Aku harus bangkit, dan menjadikan ini semua sebagai pelajaran untukku.

“Yong Woo…hwaiting. Hari-hari yang indah sedang menunggumu saat ini. Kau tidak mau melewatinya begitu saja,kan?? Hwaiting..hwaiting..” kataku seraya beranjak dari tempat tidurku dan mengumpulkan lagi semua semangatku yang sempat menurun. Dan saatnya kubilang,

“Noonaaaaa…..aku lapaaaarrr….” jeritku..

Terdengar dari arah dapur suara piring menghantam lantai diiringi omelan Noonaku..

Hihihihi… I’m back n i’ll become the way i used to be….

——————————–The End———————————————

Gimana, gimana???? Mian klo geje juga ya….

Komen ditunggu ^^