Title                 : TIME

Cast                 : Choi Seung Hyun (TOP Bigbang), Kwon Jiyong (G-Dragon Bigbang), Choi Soo Hee & Jung Hye In (OCs)

Genre               : Angst, AU, Suspense, Romance

Length             : Part 1

Rating              : PG-17/straight

Author              : Zantz Zenith

Summary         :

Disclaimer        : All characters aren’t mine except OC. They belong to themselves and I write this fanfiction not for money. So don’t sue me.

Warnings         : This fanfiction has not betaed yet. Sorry for hard diction. Don’t like, don’t read. Please give your comment, critic, or advice to support me. Don’t copy or steal without my permission and take out all credit.

© 2011 Zantz_Zenith. All rights reserved. Distribution of any kind is prohibited without written consent of Zantz_Zenith.

NO SILENT READER

Happy reading~~

CANTERBURY, KENT OF UK  2006

Seung Hyun’s Files

Aku sudah terlalu mengenal ruangan putih bersih dengan aroma anestesi yang menyengat ini. Sangat mengenal sampai aku bosan dibuatnya. Semuanya masih tertata rapi seperti saat pertama kali aku mengunjungi tempat ini. Sebuah lemari kaca di sudut ruangan seolah mengintimidasiku dengan berbagai spesimen yang diawetkan dalam stoples-stoples transparan. Aku kembali jengah saat melirik isi stoples. Hati di dalam stoples itu pucat tanpa warna dengan guratan pembuluh darah yang membiru. Mengambang dalam formalin dengan sulur-sulur yang menjalar. Tengkukku meremang tanpa sadar. Sementara itu, peralatan pembunuh tersusun rapi di sudut ruangan lain. Aku mengabsen alat bedah satu persatu. Beruntung aku tidak mengetahui kegunaan dari benda itu.

Pemandangan di sekitar sangat kontras dengan sesosok gadis dihadapanku. Dia begitu serius mencatat segala hal hasil diagnosis yang telah ia temukan di dalam tubuh pasiennya. Ya, aku adalah pasien tersebut. Aku terpaku pada wajahnya yang menatapku dengan mata bulat jenaka. Tubuh sintal berlapis setelan jas putih bersih telah menghipnotisku. Sekilas aku melihat sebuah kerutan timbul di dahinya. Rasa cemas langsung menyergapku serentak, melunturkan pesona yang telah ia buat.

“Apa aku akan mati?“ tanyaku gugup.

“Berita buruknya, bahkan kau akan mati lebih cepat daripada seharusnya.“ Ucapnya lirih dengan nada menyesal.

Sebuah seringaian menarik ujung bibirku. Aku sudah tahu aku akan mati. Apa yang dia bilang sebelumnya? Aku bahkan akan menghadapi mati lebih cepat dari yang telah dijadwalkan. “Apakah aku akan mati muda, Hye In-ah?“ tanyaku bodoh.

Jung Hye In menarik napas lelah. Menahan rasa bersalah yang terlanjur merambati relung hatinya. Jemarinya terulur perlahan menyentuh dan menggenggam tanganku. “Mianhaeyo. Kumohon, hentikanlah kebiasaan burukmu itu jika kau ingin hidup lama lagi.“

“Apakah jika aku menghentikan semuanya, maka aku akan sembuh?“ Sepasang alis mataku beradu menantangnya. Hye In tercenung sesaat. Aku tak memerlukan jawabannya. “Tidak, bukan? Aku akan tetap mati. Entah itu setahun lagi, sebulan lagi atau besok sekalipun. Jadi kumohon, jangan larang aku untuk tidak melakukan apa yang aku ingin lakukan. Kau bukan Appachi yang selalu mengaturku.“

Suara derit lantai beradu kaki kursi besi membelah ketegangan yang aku ciptakan. Aku bangkit dari posisi duduk dan memilih menyudahi pembicaraan yang sudah kuketahui kesimpulannya.

“Waktumu hanya tiga bulan untuk memikirkan segalanya, Seung Hyun-ah.“ ucapnya sebelum diriku mencapai ambang pintu.

Hye In membiarkanku melenggang pergi tanpa harus menahanku. Aku menyusuri Avenue Street yang dipenuhi dengan pejalan kaki. Aku tak mempedulikan sekitar dan hanyut dalam pikiranku. Hye In memberiku waktu untuk memikirkan segalanya. Pikiranku melayang tak tentu arah. Tersangkut pada proyeksi ingatan lama yang tak kunjung memudar. Justru semakin menyiksa dan menguasai diri. Aku tak mungkin harus terjerumus dalam hal itu kembali. Kematian adalah satu dari sekian hal yang sudah kupastikan. Bahkan aku rencanakan. Aku lelah akan kehidupan dan mengharapkan kematian yang menjawabnya. Tapi, aku tak pernah mengira akan secepat ini.

Sebuah bus berhenti di hadapanku dan menarikku untuk ikut ke dalamnya. Menyeretku kembali dalam dunia nyata dan menyentakkan memori lama yang telah lama menggerogoti akal sehatku.

~oo0O0oo~

DOVER HARBOUR, KENT

SooHee’s Files

Aku terbaring lesu di pembaringan sebuah sofa berlapis karet yang telah terburai bagian dalamnya. Meringkuk menahan dinginnya laut Baltik di saat lembayung pagi mewarnai langit dengan guratan warna nila dan biru. Awan Sirus membentuk sapuan lembut putih menghiasi pesonanya. Sayup-sayup kudengar gerigi dari troli pengangkut jaring ikat, menarik berton-ton ikan tuna ke dalam dek kapal. Burung camar berkoak riang berebut ikan dengan para nelayan. Udara di luar terasa pengap dan lembab. Bau amis menyeruak menusuk penciumanku. Namun, aku mengacuhkannya seolah-olah hal itu sudah biasa mengusik hidung. Sementara itu, para pelelang ikan mencoba menarik perhatian dengan memberikan penawaran terhadap barang dagangannya. Suara mereka bagai bising lebah yang mengerumuni sang ratu.

Aku terdiam. Lewat ekor mata kulirik Seung Hyun terlelap dalam pengaruh alkohol tinggi. Tak jauh dari lantai berlapis karpet usang yang ditidurinya, tumpukan kaleng beer menggunung. Entah sudah berapa kaleng beer yang ia tenggak semenjak seharian kemarin menghilang. Aku mendekatinya perlahan. Menarik selimut tipis yang ia abaikan. Meskipun tak menghangatkan, setidaknya ia dapat merasa nyaman dibaliknya.

“YA!! Singkirkan wajahmu dari hadapanku! Aku bosan melihatmu!!“ seru Seung Hyun membuatku terkejut. Ia terbangun menegakkan badan menghadapku beringas dengan tatapan tajam. Bukan. Bukan seperti ini mata yang sering kutatap jika aku kesulitan bicara. Manik mata itu berbeda dari biasanya. Ia nampak seperti akan menghujamkan benda tajam ke arahku sesaat lagi. “Pergi sana! Carilah makananmu sendiri! Aku bosan mengurusimu! Dasar, kau tak berguna! Selalu menyusahkan Oppa-mu saja!“ Seung Hyun menjauhkanku darinya dengan ujung kaki. Aku tak mengerti. Apa salahku? Aku tercenung menatapnya dengan mata nanar. Ia terbangun lagi dan melemparkan sekaleng beer kosong ke arahku. “Kau tuli ya?! Cepat pergi!“

Aku menjauhinya perlahan dan mengikuti kemana kakiku melangkah selanjutnya meninggalkan gudang tempat tinggal kami. Gudang yang dalam hitungan hari akan roboh menimpa apapun di dalamnya tanpa belas kasihan. Bahkan hanya dengan hempasan ombak kecil sekalipun. Pikiranku berkecamuk memikirkan perubahan sikap Seung Hyun padaku. Benar selama enam belas tahun, aku hidup bergantung padanya. Sekarang dia lelah. Lelah harus menanggung hidupku entah sampai berapa lama lagi.

Hhh… aku menghembuskan napas pasrah. Andai saja aku bisa melakukan sesuatu setidaknya hanya untuknya. Aku terlanjur dilahirkan untuk menjadi seseorang yang tak berguna dalam hal apapun.

Aku menatap siluet pelabuhan Dover di ujung sana. Membentuk sebuah kurva dengan tebing gedung-gedung bertingkat. Matahari nampak tak berniat menampakkan sinarnya. Aku menyambut angin yang bergerak semilir di haluan dermaga. Aku tak perlu menunggu lama sampai kapal pengangkut ikan merapat ke dermaga Dover. Kesibukan mendominasi sesaat di dek kapal Saint Lucious. Aku memperhatikan mereka. Bagaimana mereka memindahkan ikan-ikan segar ke dalam bak raksasa. Bagaimana para pekerja lepas dan nelayan berkomunikasi. Dan bagaimana aku bisa mengerti gerak bibir dan mimik wajah mereka tanpa harus mendengar mereka bicara.

“Soo Hee-ah!!” seseorang berseru ke arahku.

Aku menoleh ke arah sumber suara dan menemukan seorang pemuda kurus berkulit pucat menghampiriku dengan langkah tak senada. Sweaternya sama usang dan kumal seperti milikku. Aku menyambutnya dengan senyum hangat. Aku mengenal pemuda berkaki pincang itu sebagai Jiyong.

“Soo Hee-ah..!“ Jiyong menggerakkan jemarinya membentuk simbol-simbol yang ku mengerti. Ia menunjuk diriku, memutar jari telunjuknya mengambang di dekat telinga dan menempelkan jemarinya di dadanya. Ia berkata, ‘Kau bisa mendengarku?’

Aku mengangguk dan menunjukkan sebuah alat bantu dengar yang menghiasi daun telinga.

Jiyong melebarkan senyumnya yang semakin merekah. “Ah, Seung Hyun telah memperbaikinya untukmu?”

Aku menggeleng dan menggerakkan kedua tanganku sebagai komunikasi. ‘Tidak. Aku menabung dari hasil kerjaku mengupas kentang.‘

“Apakah itu cukup?“

‘Tentu saja tidak. Tapi, Seungri membantuku melunasi pembayarannya.’ Aku menggambarkan Seungri dengan melenggokkan tubuh seperti dancer.

“Seungri pemuda cabaret yang kau sukai itu?“ Jiyong melirikku dengan seringaian nakal. Dia membawaku menyusuri bagian selatan dermaga yang sepi.

Aku menggeleng kuat. Semburat kemerahan menaungi kedua tulang pipiku. ‘Dia hanya temanku.’

“Arraseo.” Mata Jiyong menerawang jauh, menembus batas horizon yang tercipta di ufuk timur. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan. “Bagaimana dengan Seung Hyun? Dia baik-baik saja.”

‘Tidak seperti kelihatannya. Dia tidak mempedulikanku lagi.’

Aku mengajaknya duduk di tepi dermaga. Menikmati air yang gemercik dibawah sana. Tak jauh dari tempatku berdiam diri, seorang lelaki paruh baya mengendarai sepeda tua dan memandang kapal Saint Lucious bersama seorang anak kecil. Aku mendengarnya menjelaskan detail elegan kapan tersebut. Perhatianku ku tertuju pada lelaki tua itu. Memperhatikannya seperti ini membuatku rindu akan sosok yang selalu ku idamkan dalam lelap malam.

“Dia hanya banyak pikiran. Kau tak usah terlalu mengkhawatirkannya.” Jiyong berusaha menghiburku meskipun tak sepenuhnya berhasil.

‘Jiyong-ah, sudah berapa lama kau mengenalnya?‘ tanyaku tiba-tiba.

“Siapa?“

Aku menggerakkan tubuh seolah-olah sedang minum dan mabuk.

Jiyong tersenyum kecil. “Mengapa dengan Oppa-mu?“

‘Selama berteman dengan Oppa, apa kau pernah bertemu dengan Appa-ku?‘

Aku dapat melihat kilatan aneh dari manik mata Jiyong yang dinaungi sepasang alis yang tak lagi mempesona. Membentuk garis wajah yang tirus dengan cekungan mata yang dalam. Ia nampak lebih lelah dari biasanya. “Anieyo. Mengapa kau menanyakannya padaku?“

‘Aku hanya ingin melihat seperti apa rupanya.’ Ucapku lirih.

Samar, aku merasakan rahang Jiyong mengejang. Ia nampak menahan sesuatu. “Apa yang pernah Seung Hyun katakan padamu tentang Appa?“ tanyanya tanpa menatap manik mataku.

Aku terdiam kembali. Tak ingin mengatakan hal yang paling tidak ingin aku katakan. ‘Appa meninggal karena menggantung diri dengan lilitan jaring ikan di buritan kapal.‘

“Jika begitu, bencilah dia.“ Suara Jiyong tertahan. Nyaris berdesis di sela-sela gigi. Aku melihat tatapannya tak lagi lembut dan menenangkan. Ada bara api yang terpantul disana, sehingga tanpa sadar aku merasakannya panasnya yang menguliti kebahagianku. Haruskah aku membenci Appa-ku sendiri?

‘Wae? Kenapa aku harus membencinya, Oppa? Kau tak tahu, terkadang aku merasa iri pada orang lain hanya karena aku tak punya Appa.‘

“Sekali lagi kukatakan, bencilah dia!!“ seru Jiyong sambil mencengkeram erat lenganku seperti halnya hewan buruan agar tak lepas dari genggamannya. Ia berteriak tepat di wajahku. Aku tercekat menatap matanya yang hitam berkilat penuh dengan kebencian. Ia seolah membenciku untuk seumur hidup. Aku meringis pelan saat cengkeramannya semakin kuat. “Jangan bertanya hal apapun yang berkaitan dengan Appa! Jangan pernah! Tidak ada Eomma! Tidak ada Korea! Aku membawamu kesini untuk menyelamatkan diri, kau tahu?! Kau harus mengerti?!“

‘Wae?! Kau tak berhak melarangku. Kau siapa?!‘

“Aku…!!“ ucapan Jiyong terhenti di udara. Ia menatapku nanar, namun sedetik kemudian menyentakkan pandangannya ke laut lepas. Dengusannya tertahan dan melepaskan genggamannya padaku. Ia nampak menyesali sesuatu yang aku tak mengerti. “Lupakan!“

‘Kau tahu sesuatu.‘

“Anieyo. Pergilah!“ Lagi-lagi ia tak mau menatap wajahku.

“Soo Hee-ah!“ seseorang menetralkan ketegangan di antara Jiyong dan diriku. Seung Hyun berdiam diri tak jauh dari dermaga tempat kami bersitegang. Aku tak bisa menebak apa yang ia pikirkan begitu melihat raut wajahnya. Ia diam namun dingin. “Kembalilah ke rumah.“

Aku menggembungkan pipi tidak sudi. Semula ia mengusirku dan sekarang ia memaksaku kembali. Apa maunya? Kutatap lagi Jiyong yang masih saja tak mau memberikan kesempatanku untuk berbicara dengannya. Sepertinya pembicaraan telah ditutup secara sepihak.

“YA! Cepat kembali! Kau tidak mendengarkan perkataan Oppa-mu?!“ Seung Hyun menggertak.

Aku beringsut dari sisi Jiyong dan meninggalkan tanda tanya besar yang tak akan pernah terjawab oleh siapapun selain dirinya.

~oo0O0oo~

Jiyong’s Files

Entah sudah berapa gelas liliput berisi vodka yang masuk ke dalam lambungku. Minuman itu terasa membakar tenggorokan dan mengaburkan pandangan. Kepalaku terasa berat, bahkan aku pun tak mampu menopangnya sendiri tanpa bantuan tangan. Bartender tua yang sepertinya sudah menggeluti dunia malam nampak jenuh menatapku yang mabuk berat. Dia sudah tak asing dengan para tamunya yang lebih banyak pulang dengan akhir percekcokan atau tergeletak berdaya di lantai bar.

Malam telah jauh tenggelam, pagi beranjak naik menggantikan rembulan. Aku masih saja tak sadarkan diri dan meminta bartender tua itu mengisi kembali cairan panas ke dalam gelas liliputku yang telah kosong.

“Tidak. Lunasi dulu hutangmu padaku!“

Aku merutuknya dan memaki pelan. Gontai aku memukulkan kepalan tangan bagai palu sidang di mejanya. Namun, sebuah suara menyelaku.

“Berikan dia segelas lagi. Aku yang akan membayarnya. Dan berikan aku segelas juga.“

Aku menoleh dan melihat seorang pemuda yang ku kenal tengah bersanding di sebelahku. Selera pakaiannya sangat buruk dengan terlalu banyak lubang di sana-sini. Matanya tak nampak hendak mengabarkan sesuatu yang tidak menyenangkan. Wajahnya dilingkupi kabut gelap. Segelap hatiku yang telah mati. “Ne, Seung Hyun-ah~“

“Seharusnya kau berhenti minum. Aku tidak ingin kau keadaanmu semakin memburuk.“

Bartender memberikanku segelas lagi dengan iringan senyum kecut. Lagi-lagi aku menenggaknya dalam sekali teguk. “Kau makin mirip Hye In-ah saja. Kau tahu, dia bersikeras untuk membuatku hidup.“ Aku tertawa sumbang.

“Dia benar.“

“Dan kau pikir aku salah?“ Aku mengernyit tidak suka. “Aku akan mati, untuk apa aku harus menyayangi diriku lagi. Tak ada gunanya aku hidup. Aku hidup untuk diriku sendiri. Hah, mati mungkin jalan terbaik.“ Kepalaku terantuk meja sesaat, namun aku tak begitu merasakan sakitnya.

“Bagaimana dengan Soo Hee? Kau meninggalkannya begitu saja?“

“Dia masih bisa denganmu, bukan?“ Suaraku bergumam rendah dan tak jelas.

“Kau mengalihkan tanggung jawabmu begitu saja kepadaku? Dimana sisa rasa bersalahmu dulu padanya? Dimana harga dirimu dulu memohon padaku untuk… Ah!“ Seung Hyun menghantamkan tangannya pada meja bartender. “Kau tak tahu diri! Mati sajalah kau!“

“Aku memang pantas mati untuk menebus kesalahanku pada Soo Hee.“

“Jiyong-ah! Berhenti menghukum dirimu. Tak ada gunanya kau seperti ini. Sudah kukatakan berulang kali, kau hanya membela diri.“

Aku terdiam cukup lama. Bayangan pekat masa lalu menggelayuti pelupuk mataku lagi. Aku berusaha mengenyahkannya, namun semakin terasa menyesakkan. “Aku pembunuh.“

“Hah!“ Seung Hyun melengos tak suka. “Lalu apa bedanya denganku? Dan untuk apa kau mempercayakan Soo Hee padaku yang notabene…“ Aku mendengar Seung Hyun mengendalikan emosinya. Dia mengumpulkan udara dan menghembuskannya lewat celah bibir. “Tanganku sudah terlalu kotor untuk menjaganya. Aku lelah membohonginya terus menerus seperti ini. Kau tahu, aku masih tak mengerti mengapa kau memilihku.“

Sebuah senyuman tersungging di ujung bibirku. “Karena aku percaya padamu.“

“Pabo! Kau terlalu banyak minum, Jiyong-ah!“ Kuteguk gelas liliput milikku. Sekejap rasa terbakar itu merayap turun ke lambung. Kami kembali sibuk dengan pikiran masing-masing.

Bar semakin senyap saat aku bersenandung, menghasilkan harmonisasi lagu yang tak beraturan. Entah apa yang kusenandungkan. Aku hanya merasakan kebahagiaan yang sesaat. Tak ada penat yang mengusikku. Tak ada cerminan wajah Soo Hee yang menghantuiku. Tak ada tangisnya yang menyesakkan. Dan tak ada kematian yang menungguku.

“Jiyong-ah. Kita akan menghadapinya bersama. Aku akan menemanimu sampai akhir…“ Suara Seung Hyun timbul tenggelam dalam pikiranku. “…kita telah bersama-sama hidup di negara ini dengan peluh dan kerja keras. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri…“ Aku mendengarkannya lamat-lamat. “Jiyong-ah, berjanjilah untuk bertahan bersamaku. Berjanjilah untuk bertahan lebih lama lagi. Aku memerlukanmu untuk Soo Hee.“

Aku berada di ambang kesadaran. Wajah Seung Hyun terefleksi menjadi beberapa bagian. Aku sudah tak lagi fokus. Namun, ada sesuatu yang mengusik ulu hatiku. Serangan itu terjadi secara mendadak tanpa ku persiapkan terlebih dahulu. Ini lebih menyakitkan dari pada yang pernah ku alami sebelumnya. Aku melihatnya lagi. Aku selalu menyebutnya mawar merah. Aku tertohok oleh mawar itu sebelum akhirnya menjadi cairan kemerahan. Sari pati dari akumulasi keseluruhan pedih yang ku derita. Seung Hyun berseru ke arahku dan secepat kilat menopang tubuhku yang luruh ke lantai. Aku mendengarnya berteriak pada bartender tua itu dan mencoba menyadarkanku.

“Cintailah dia…“

“Hei!! Kau masih saja bicara seperti itu disaat begini?“ Seung Hyun menopang tubuhku dengan kedua lengannya yang kekar. Mencoba menyelamatkan dengan segenap waktu yang tersisa untukku. “Bertahanlah Jiyong-ah! Aku tak tahu jika tubuhmu yang sekurus ini bisa mengeluarkan banyak darah!“

“Babo! Kau pikir aku makhluk apa?”

“Hah, kau malaikat. Jadilah malaikat, Jiyong-ah…”

“Baiklah. Sebagai malaikat… ku mohon, cintailah Soo Hee…“

“Apa kau sudah gila?! Bagaimana aku bisa mencintai seorang gadis yang sudah kubesarkan selama enam belas tahun?! Diamlah!! Jangan bicara lagi! Atau kubungkam mulutmu dengan kaos kakiku!” serunya padaku sambil terus menyeretku keluar. Entah ia akan membawaku kemana. Aku tak peduli. Aku bahkan sudah mengetahui tujuanku akhirku.

Seung Hyun kau tak pernah tahu. Kematian tidaklah sakit. Aku merasakan kelegaan yang mendominasi. Beban yang selama ini menggelayutiku terangkat perlahan. Aku ringan. Aku bahagia telah bertemu dengan orang sepertimu. Jangan takut Seung Hyun-ah. Temui aku suatu saat nanti di lembah kebahagiaan. Dimana kau bisa menemukan telaga keabadian.

~oo0O0oo~

waiting for the next chap? ^^