Title: Last Shoot, Beautiful Shoot

Author: Retno aka Park Yeonrin (21retno)

Rate: PG

Genre: Action, Romance

Cast: Kwon Jiyong (G-Dragon) | Lee Chaerin (CL)

Length: Oneshot

A/N: Siapkan mata anda karena ff ini begitu panjang. Hahaha.

__

Seorang namja bertubuh mungil baru saja bangun dari tempat tidurnya. Ia melangkah menuju jendela kamarnya lalu membuka gorden yang menutupinya perlahan. Seketika itu sinar matahari langsung menyerbu dirinya. Namja mungil menyipitkan matanya, menyelamatkannya dari terjangan sinar matahari yang begitu menusuk mata. Butuh beberapa lama baginya untuk beradaptasi dengan sinar-sinar itu. Menit berikutnya, namja mungil telah berdiri di balkon depan jendelanya. Menikmati segarnya udara pagi.

“Hooaamm.. sudah lama sekali rasanya aku tidak merasakan yang seperti ini.” ujarnya seraya meregangkan otot-ototnya, “Tidur nyenyak, bangun pagi, menghirup udara segar, menikmati pemandangan dari atas balkon. Huuhh.. benar-benar..”

Baru saja namja mungil menikmati ‘surga’ paginya, ketika sebuah suara membuatnya menoleh kaget.

“Sayangnya tak senikmat itu.” sahut seorang namja berperawakan tegap sambil berjalan mendekati namja mungil.

Namja mungil menoleh ke sumber suara, “Kau? Aiissh.. Aku ingin istirahat.” ujarnya malas.

“Kwon Jiyong, tak semudah itu kuberikan kebebasan untukmu. Jangan terlalu berharap. Masih banyak yang membutuhkan jasamu.” sambungnya lagi. Ujung bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyuman evil.

Kwon Jiyong menghembuskan nafas panjang. Ternyata hidupnya tak seindah bayangannya. Kadang ia berpikir untuk mati. Berada di surga lebih baik daripada harus hidup tapi terus dibayangi orang di depannya ini. Pikirnya.

“Ini.” ucap namja tegap sambil menyodorkan sebuah foto, “Pencuri sekaligus penipu kelas kakap. Barang curian dan harta-harta hasil tipuan sudah tak terhitung jumlahnya. Namanya selalu berubah. Masalah menemukannya, pikirkan sendiri.”

“Boe? Enak saja kau bilang.” protes Jiyong. Namja tegap menyunggingkan senyuman evilnya sekali lagi. Kali ini terlihat seperti mengejek.

“Sudahlah. Aku yakin padamu. Kau sudah terlalu senior dalam hal seperti ini, bukan? Jadi, itu tak menjadi masalah bagimu kurasa.” gubrisnya santai, “Baiklah. Kalau begitu aku kembali dulu ya, Kwon Jiyong. Selamat bekerja.” lanjutnya sambil menepuk pelan bahu Jiyong, lalu berjalan meninggalkan Jiyong.

“Tck. Menyebalkan.” decak Jiyong pelan dengan mata yang terus tertuju pada foto yang diberi oleh namja tegap.

__

“Tidak bisa begitu Lee Chaerin!” bentak seorang yeoja bertubuh atletis berparas cantik menakutkan. Tubuhnya bangkit seirama dengan kedua tangannya yang menggebrak meja di depannya.

“Ya. Kalau kau tidak mau, ya sudah. Aku tidak akan memaksa. Asal kau juga tidak akan memaksaku untuk tetap bekerja bersamamu.” balas Chaerin yang duduk di depan meja yeoja atletis dengan nada santai. Matanya masih tertuju pada kedua tangannya. Tepatnya pada jari-jari yang kini tengah sibuk dimanjakkan oleh pengikir kuku yang berada di jari lainnya.

“Aku sudah tidak mau lagi mengotori kuku-kukuku yang cantik ini.” sambungnya lagi. Kini tangannya diulurkan ke depan. Matanya masih tertuju pada jari-jarinya. Senyuman bangga mengembang di wajah cantiknya. Bangga atas hasil karyanya yang menurutnya sangat memuaskan.

“Tck.” decak yeoja atletis sebal. Kedua tangannya berada di pinggangya, “Kau lihat! Kerjamu akhir-akhir ini sungguh tidak memuaskan! Hampir 3 kali kau melepaskan target! Kini kau minta tambahan bayaran?! Benar-benar..”

“Benar-benar apa?” tantang Chaerin sambil menyunggingkan senyum evilnya, “Benar-benar pintar, bukan? Hahh.. lagipula, kalau memang menurutmu aku seperti itu, untuk apa kau mempekerjakanku?”

Yeoja atletis makin kesal dibuatnya. Ia tak habis pikir anak buahnya bisa sampai seperti ini.

“Sekarang terserahmu sajalah. Kalau kau masih mau mempekerjakanku, turuti saja permintaanku. Kalau tidak, jangan paksa aku untuk terus mengikutimu.” sambung Chaerin santai. Lama menunggu jawaban dari yeoja atletis, ia beranjak dari tempat duduknya. Tapi belum sempat tubuhnya mantap berdiri, yeoja atletis sudah lebih dulu mencegahnya. Ia mendudukkan Chaerin kembali.

“Baiklah kalau itu maumu. Tapi ada syaratnya. Kau harus bisa menyelesaikan tugasmu kali ini. Jika kau bisa menyelesaikan dengan baik, aku akan menambah bayaranmu. Dan setelah itu, aku akan melepasmu. Terserah kau mau apa. Bagaimana?” tawar yeoja atletis. Chaerin terlihat menimbang-nimbang tawaran itu sebentar. Namun tak berapa lama, ia sudah mendapatkan keputusan.

“Baiklah. Aku mau.” putus Chaerin akhirnya. Yeoja atletis terlihat mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah foto disodorkannya kepada Chaerin.

“Pencuri sekaligus penipu ulung. Sudah banyak barang-barang serta harta-harta curiannya. Namanya selalu diganti-ganti. Sampai sekarang masih belum ada yang tahu dimana keberadaannya.” terang yeoja atletis sementara dagunya menunjuk ke foto yang dipegang Chaerin.

Chaerin terlihat memperhatikan foto itu sebentar. Detik berikutnya ia mengangguk sambil menyunggingkan senyum evilnya. Yeoja atletis tersenyum senang.

“Bayaran baru akan kuberikan setelah kau berhasil menyelesaikannya dengan baik.” cetus yeoja atletis. Chaerin hanya mengangguk malas lalu berlalu dari hadapan yeoja atletis.

__

Jiyong berjalan menuju supermarket dekat apartemennya. Pikirannya masih kacau. Sebenarnya ia malas menuruti perintah namja tegap yang baru saja menemuinya tadi. Ia sudah tidak mau dan tidak ingin lagi melakukan hal-hal kotor untuknya. Namja yang sudah merawat dan membesarkannya, sekaligus menjerumuskannya. Namja yang menemukannya beberapa tahun silam. Ia memang bukan ayah Jiyong, ia adalah bos Jiyong.

Tapi sekarang, Jiyong justru membencinya. Awalnya Jiyong merasa senang ketika namja itu mau merawat dan membesarkannya, karena memang dari kecil Jiyong tidak pernah merasakan hangatnya kasih saying seorang ayah.

Namun hal itu berbalik 180 derajat sekarang. Namja yang telah merawatnya itu secara tidak langsung justru menjerumuskan Jiyong. Ia meracuni pikiran Jiyong dengan rasa kebencian, dendam, dan rasa ingin membunuh. Perlahan namun pasti, pikiran Jiyong mulai teracuni. Ia mulai tumbuh menjadi namja yang jahat. Sampai akhirnya, ia menjadi seperti sekarang. Pembunuh bayaran.

Beberapa tahun ia menikmati pekerjaannya. Karena ia rasa ia dapat menghidupi dirinya sendiri. Namun seiring berjalannya waktu, Jiyong sadar. Perbuatannya ini merugikan orang lain. Dan tentunya, berdosa. Targetnya memang orang-orang jahat, atau juga criminal, yang masih belum tertangkap pihak berwajib. Tapi tak jarang orang baik yang menjadi musuh bosnya juga menjadi sasaran. Hal itu yang membuat Jiyong sadar, bahwa membunuh bukanlah jalan terbaik untuk menangani kejahatan. Dan kini, ia selalu sibuk memutar otaknya agar bisa keluar dari bayang-bayang bosnya.

Jiyong melangkah memasuki supermarket. Pandangannya berkeliling mencari tempat minuman kaleng berada. Tak butuh waktu lama, tangannya sudah menggenggam minuman kaleng bersoda.

Jiyong berjalan malas tanpa tujuan. Ia hanya mengikuti langkah kakinya. Sampai akhirnya ia tiba di sebuah taman yang sepi. Kakinya melangkah ke sebuah bangku panjang di dekat pohon. Ia baringkan tubuhnya malas mencoba untuk tidur. Tapi belum sempat kepalanya mencapai bangku, ia menegakkan tubuhnya lagi. Matanya menangkap sosok orang yang dirasanya tidak asing.

Jiyong memicingkan matanya, tangannya beralih ke saku jaketnya, merogoh foto yang tadi diberikan bosnya. Setelah berhasil dikeluarkan, Jiyong memperhatikan foto yang ada di tangannya lekat-lekat. Lalu membandingkan dengan orang yang baru saja dilihatnya.

‘Benar! Dia orangnya! Pasti!’ seru batin Jiyong. Sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman evil. Lalu ia beranjak dari bangku dan mengikuti orang yang tadi dilihatnya.

__

Chaerin menyeruput cappuccinonya sedikit. Sekarang ia tengah berada di sebuah café. Pikirannya sibuk memikirkan bagaimana cara mencari targetnya yang sekarang. Diletakkanya lagi cangkirnya di atas meja. Jarinya mengetuk-etuk meja pelan. Ia mengginggit bibir bawahnya.

Pikirannya kembali pada yeoja atletis yang tidak lain adalah bosnya. Sama seperti Jiyong, Chaerin juga seorang pembunuh bayaran. Ia ditugasi dan dibayar oleh bosnya.

Awal dirinya bertemu dengan bosnya ketika ia kabur dari rumah karena masalah keluarga yang membuatnya gila. Pikirannya yang saat itu kacau mudah saja dihasut oleh si yeoja atletis yang sudah lama menjadi pembunuh bayaran.

Singkat cerita, akhirnya ia bekerja untuk yeoja atletis itu. Tapi akhir-akhir ini ia mulai bosan dengan pekerjaannya dan berencana untuk kabur dari bosnya.

Chaerin memandang keluar jendela. Pikirannya mulai suntuk sekarang. Ia hanya melihat orang-orang berlalu lalang. Sampai akhirnya ia melihat seseorang yang dirasanya tak asing. Ia melihat orang itu semakin lekat. Sesaat kemudian ia sadar akan sesuatu. Ia merogoh saku jaketnya tergesa. Sekarang matanya tertuju pada selembar foto yang berada di tangannya. Kemudian pandangannya beralih ke orang yang tadi. Untunglah orang itu belum jauh.

Cepat-cepat ia memasukkan lagi foto itu ke dalam sakunya lalu bergegas keluar café, mengikuti orang yang barusan ia lihat.

__

Jiyong berjalan pelan-pelan mengikuti seorang namja bertopi dan berjaket tebal. Sesekali ia berpura-pura melakukan sesuatu ketika orang yang diikutinya menoleh ke belakang. Tak jauh di belakangnya Chaerin melakukan hal yang sama. Kini mereka telah berada di sebuah tempat asing di pinggir kota. Keduanya tak tau mengapa orang yang mereka ikuti menuju ke tempat ini. Tapi itu tidak terlalu mereka pikirkan.

Perlahan tapi pasti, Jiyong maupun Chaerin berjalan semakin mendekat pada orang yang mereka ikuti. Perlu diketahui, sampai saat ini mereka berdua sama-sama belum tau kalau mereka mempunyai tujuan yang sama dan target yang sama.

Jiyong berlari kecil menuju targetnya, ia sudah tidak sabar ingin menyelesaikan tugasnya dan segera pulang ke apartemennya. 1 langkah, 2 langkah, dan hap! Akhirnya Jiyong berhasil menangkap targetnya. Chaerin yang mengetahui targetnya lebih dahulu ditangkap orang lain, langsung berlari menuju ke arah mereka.

“Hey!” teriak Chaerin. Mendengar itu Jiyong menoleh. Ia memandang Chaerin dengan tatapan apa?-aku-sedang-terburuburu-dan-awas-kalau-tidak-penting. “Itu targetku! Kenapa kau tangkap?! Cepat lepaskan dan bawa kemari!” teriak Chaerin lagi.

“Enak saja! Kau kira aku juga tidak ingin menangkap namja ini? Kalau kau mau, ambil saja sendiri kemari!” balas Jiyong ketus. Setelah itu ia pergi meninggalkan Chaerin dan masuk ke dalam bangunan asing di depannya. Chaerin menghentakkan kakinya sebal. Tapi sedetik kemudian, ia berjalan cepat mengikuti Jiyong.

“Kau..” ucap Jiyong seraya mengamati targetnya dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, lalu memperlihatkan senyum evil, “Aku tidak sabar untuk bermain-main denganmu.” lanjut Jiyong. Sementara targetnya hanya memasang wajah datar, tak takut samasekali terhadap Jiyong. Seakan setelah ini ia bisa bebas dengan mudah.

Jiyong mulai mengeluarkan pistol kesayangannya. Sekali lagi, ia mengamati targetnya dari atas ke bawah, “Aku tidak menyangka aku bisa menangkapmu semudah ini.” ujar Jiyong dengan nada angkuh. Kini pistolnya sudah mengarah ke dada bagian kiri targetnya. Ia ingin segera menyelesaikan ini semua. Ia menyunggingkan senyum evilnya sekali lagi.

“Tunggu!” teriak Chaerin tiba-tiba. Ia berhasil mengikuti dan menemukan Jiyong. Sekarang ia tengah berjalan mendekati Jiyong dan targetnya. “Dia..” Chaerin menunjuk targetnya, “Punyaku!”

Jiyong tersenyum meledek. Perlahan-lahan ia menurunkan pistolnya dan berjalan mendekati Chaerin, “Hey nona. Kau tau pepatah ‘siapa cepat dia dapat’, kan? Nah, pepatah itu berlaku sekarang. Kalau kau ingin menangkap seseorang, gunakanlah jasamu sendiri. Jangan bergantung pada orang lain. Cih!” ledek Jiyong. Chaerin semakin kesal. Tanpa Jiyong sadari, Chaerin mulai mengeluarkan pistol kecilnya.

“Lagipula, kau ini siapa? Apa urusanmu dengan orang itu?” lanjut Jiyong sambil mengedikkan kepalanya kearah targetnya. Chaerin tersenyum kecil.

“Aku? Aku adalah pembunuh bayaran. Dan dia..” Chaerin menunjuk targetnya, “Adalah targetku kali ini.” jawab Chaerin tanpa basa-basi. Ia tak mau membuang waktunya.

“Dan sekarang, kau harus melepaskannya untukku. Karena kalau tidak, aku tidak bisa mendapatkan bayaran yang begitu besar. Atau, kau mau ini..” Chaerin menodongkan pistolnya tepat di depan mata Jiyong. Tapi Jiyong tidak bergeming atau takut sedikitpun.  Ia malah menurunkan pistol Chaerin lalu berganti menodongkan pistolnya sendiri.

“Dan aku juga sama sepertimu. Jadi, kau harus sportif, nona. Dan, kau kira aku tidak bisa melakukan sepertimu?” cibir Jiyong, “Perlu kau ketahui. Aku ingin segera berhenti dari pekerjaanku ini karena aku telah sadar. Jadi nona, persilahkan saya untuk mendapatkan target terakhir saya –mungkin. Atau kalau tidak, peluru ini akan bernafsu mencium anda.”

“Tch.” Chaerin tersenyum meremehkan, “Baiklah. Begini saja. Bagaimana kalau kita memperebutkannya?” usul Chaerin. Jiyong menurunkan pistolnya, lalu menatap Chaerin heran.

“Ah!” seru Jiyong, “Bagaimana kalau kita bunuh saja dia bersama-sama? Kurasa itu lebih baik.” tawar Jiyong enteng. Sekarang yang ia inginkan bukanlah berdebat dengan yeoja di depannya ini, tapi pulang ke apartemen lalu pergi ke pulau kapuk.

Chaerin menimbang-nimbang tawaran Jiyong sebentar. Sedetik kemudian, ia mengangguk setuju. Jiyong tersenyum menang. Mereka berbalik menuju target mereka. Bukannya senang, mereka malah kaget sekarang. Karena target mereka tidak ada di tempatnya tadi. Sebenarnya, tanpa Jiyong dan Chaerin sadari, sang target telah berjalan santai keluar bangunan itu ketika mereka berdebat tadi.

Keduanya melongo parah. Namun sedetik kemudian, mereka sadar dan kembali memulai perdebatan tidak penting.

“Ini gara-gara kau!” tuding Jiyong emosi.

“Enak saja! Kau juga salah! Coba saja kalau kau langsung menyerahkan orang itu padaku, masalahnya akan cepat selesai!” protes Chaerin tidak terima.

“Kau yang enak saja! Aku yang menangkap, kenapa kau yang mendapatkannya?!” sungut Jiyong makin emosi.

“Itu namanya peduli sesama pembunuh! Aaah sudahlah, pokoknya kau yang salah!”

“Kau! Enak saja!”

“Kau, bodoh!”

“Kau, gila!”

“Kau!”

“Kau!”

“Kau!”

“Kau! Aah sudahlah! Dia sudah pergi! Percuma kita berdebat!” bentak Jiyong frustasi. Ia berjalan lunglai ke sudut ruangan, lalu duduk bersandar. Chaerin mengikutinya.

“Ya, kau benar.” Chaerin menghela napas panjang, “Tidak jadi mendapat bayaran banyak. Hiks. Hiks.”

“Tidak bisa tenang. Tidak jadi melakukan tugas terakhir.”

Sekarang suasana menjadi hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Hey..?”

“Chaerin.” jawab Chaerin cepat ketika dilihatnya Jiyong ingin mengetahui namanya.

“Ya, Chaerin. Daripada kita menyesal seperti ini…” Jiyong menatap Chaerin penuh arti. Chaerin yang awalnya bingung, langsung mengerti maksud Jiyong. Seketika itu mereka berdua bangkit.

“Lebih baik kita mati.” ucap mereka bebarengan. Mereka tertawa kecil, lalu menodongkan pistol mereka ke dahi bagian pinggir (taukan maksudnya?) mereka (Jiyong ke dahinya Chaerin, Chaerin ke dahinya Jiyong).

“It’s much better than keep follow our sucks boss.” kata Chaerin. Jiyong mengangguk kecil seraya tersenyum.

“Ohya, boleh aku jujur?” tanya Jiyong, Chaerin mengernyitkan dahinya, “Sebenarnya.. aku menyukaimu..” ungkap Jiyong sedikit malu.

Chaerin membelalakkan matanya. Tapi detik berikutnya, ia tersenyum senang, “Sebenarnya aku tidak terlalu menyukaimu. Tapi, aku sedikit tertarik padamu.”

Jiyong tersenyum simpul, lalu mengecup bibir Chaerin singkat. Chaerin sempat kaget, tapi ia tidak memprotes.

“Hitungan ketiga, kita mulai.” perintah  Jiyong. Chaerin mengangguk menurut.

“1..”

“2..”

“3..”

JTARRR!!

Suara tembakan menggema di seluruh ruangan seiring ambruknya dua anak manusia tak berdaya.

FIN

A/N: Oke silakan timpuk saya pake kacang. Ff ini jadinya malah ngebosenin, ga berisi, jelek, gaje, kepanjangan pula. Tapi walau bagaimanapun, bisa kan menyumbang komen? (_ _) oya maaf saya bilang gd namja mungil :p