Annyeooongg!!

Wokeehh, setelah lama berhiatus, akhirnya aku kembali lagi. Well, sebenarnya tidak ada niat untuk berhiatus. Tapiii… mata kuliah yang padat, ujian seminggu, even2 kuliah berdekatan dan pendelegasian yang mepet-mepet, benar-benar membuatku tidak punya waktu untuk bahkan membuka Microsoft word. Hiks… T____T

Karena itu, mianhae lamaaa…

FF yang Bag Story… masih dalam masa pembuatan. Aku juga nggak janji bisa cepet, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk nge-posting semuanya secepat mungkin.🙂
tetep ditunggu yaa…

Sudah ah, langsung sajaaa…

Happy enjoying all~~!

————————————————————————

 

Youngbae POV

Aku pikir, aku tidak akan bisa mencintai seseorang lagi.

Aku sudah terbiasa mencintainya. Aku sudah terbiasa hanya menatap matanya yang hanya seperti satu goresan pensil, melirik senyum dari bibirnya yang mungil, mendengar celotehannya, rajukannya. Aku sudah terbiasa dengan memuja dirimu dan apapun yang kamu miliki.

Aku sudah terbiasa, mencintai muridku sendiri.

Aku tahu, mungkin kamu tidak akan bisa mempercayainya. Namun melihat setiap kamu bertumbuh di sampingku, dari gadis kecil yang cerewet, menjadi seorang remaja yang menawan, membuatku tak bisa mengontrol hatiku sendiri untuk tidak mencintaimu.

Gong Minji, apakah aku bisa hidup dengan melihatmu bersama seseorang yang lain?

***

 

Aku memasukkan tongkat konduktorku yang menemaniku selama tiga tahun ini ke dalam tas. Aku melirik jam dinding yang terus berdetak tanpa memedulikan perasaanku hari ini. Sudah hampir waktunya latihan. Aku benar-benar tidak ingin pergi hari ini. Mengapa waktu tak bisa berhenti berjalan? Hingga aku bisa menikmati setiap kenanganku dengan seseorang yang sudah tidak mungkin kumiliki lagi.

Aku menghela nafas panjang, mencoba menghentikan pertanyaan retoris yang terus keluar dari pikiranku tanpa henti. Aku beranjak dari kasur dan mengangkat tasku. Baru beberapa langkah aku berjalan, langkahku terhenti di depan sebuah pintu.

Pintu kamar Minji.

Yeoja itu sempat tinggal di rumah ini dan tidur di kamar ini sebelum dia memutuskan untuk tinggal sendiri. Sekelebat ingatan itu kembali datang dan mengganggu pikiranku.

……

“Saengnim, aku ingin tinggal sendiri.”

“Haahh? Wae?” aku menurunkan koran yang sejak tadi kubaca dan berganti menatap Minji. Matanya yang kecil menatapku lekat dengan ekspresi serius.

“Aku tidak ingin menyusahkan saengnim terus. Aku harus mandiri. Aku ingin tinggal sendiri, saengnim…”

“Kamu tidak menyusahkan aku, Minji. tidak! Kamu tidak boleh pindah dari sini!”

“Saengniiiiimmmm… ayolaaahh! Aku sudah cukup besar untuk terus merepotkan orang lain. Biarkan aku mengurus diriku sendiri tanpa bantuan orang lain.” Dia bersikeras dengan pendapatnya.

Nadaku meninggi satu oktaf dan menatapnya garang. “Aku bilang tidak!”

Tak gentar, dia balik menatapku. Bahkan kini dia memajukan wajahnya ke arahku, hingga jarak kami kini hanya dua puluh senti. Dia menegaskan suaranya, seolah tak mau kalah denganku. “Aku bilang, IYA! Ayolahh saengniiiimmm!!”

Aku menghela nafas, menyerah. Kemauan anak ini lebih kuat dari batu karang sekalipun. Seolah tidak ada apapun yang bisa menghentikannya, termasuk aku, saengnimnya sendiri. Aku menatap wajahnya yang menbatapku penuh harap sekali lagi. Benar-benar manis dan lucu.

Hufftt… sepertinya aku harus menerima keputusannya, walau sebenarnya… aku tidak rela dia meninggalkan rumah ini satu langkah pun. Aku harap aku bisa memeluknya sekarang dan menahannya pergi.

“Baiklah. Aku akan mencarikan apartemen untukmu.”

“Uwaaaaaaa…. Gomawoooo Youngbae saengniiiimmm!!!” ekspresi Minji spontan berubah ceria. Kebahagiaan yang menyelimutinya membuatnya langsung melompat memelukku.

Gerakan tanpa komando dari anak kecil itu langsung membuat detak jantungku berlompatan sangat kencang dan tak beritmik.  Tanpa dia sadari, dia telah membuat semburat merah di wajahku. Dia memelukku semakin erat untuk mengungkapkan kebahagiaannya, sedangkan wajahku semakin memerah di setiap detik tangannya melingkar di leherku.

Minji melepaskan pelukannya dan menjauh dariku. Sejenak kemudian, matanya memandangku heran, membuatku sedikit jengah. “Youngbae saengnim? Mengapa wajahmu memerah?”

“Hah?! Ini… ini karena…” Aku tak tahu harus menjawab seperti apa pertanyaan yang keluar dari bibirnya. Aku mengalihkan pandanganku darinya, menghindar dari tatapan matanya yang mencoba menelisik setiap ekspresi yang muncul di wajahku. “Ini karena kamu memelukku terlalu erat. Membuatku susah bernafas.”

“Ahh!” dia menyadari kesalahannya. “Mianhaeyo, saengnim! Mianhaeyo…”

……

Huwaaahhh… aku tetap tidak terbiasa hidup tanpa memikirkanmu, Minji.

Aku menghela nafas panjang dan beranjak meninggalkan rumahku.

***

 

“Yak, latihan hari ini selesai sampai di sini.”

Aku memandang semua orang di hall. Mereka tak menjawab apapun, hanya menghela nafas kelelahan. Hari ini memang hari yang melelahkan, terutama bagiku. Rasanya sangat sulit berkonsentrasi, jika pikiranku masih saja terus berputar diantara Miji, Minji dan Minji.

Semua anggota orchestra memasukkan alat mereka ke dalam wadahnya, begitu pula aku yang memasukkan tongkatku ke dalam tongkat konduktorku. Aku mau beranjak turun dari tempatku ketika seorang yeoja memanggilku dan terburu mendatangiku. Sesaat kemudian, dia telah sampai di depanku sambil terengah-engah.

“Noona? Ada apa?”

“Youngbae-ah!” Dia menatapku lekat-lekat. Melihatnya yang biasanya selalu bercanda, dan sekarang memandangku serius membuatku sedikit jengah dan kebingungan.  “Saranghaeyo!”

Tiba-tiba suasana menghening. Aku bisa merasakan puluhan mata di ruangan itu menatapku seketika. Aku tercengang, tak tahu harus mengatakan apa dalam keadaan seperti ini.

“Noona…”

Dia menyela perkataanku. “Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, aku hanya ingin mengatakannya sekarang.”

Setelah mengatakannya dia langsung berbalik dan menghilang dari hadapanku. Ya, dia meninggalkanku setelah dia mengatakan hal yang tidak terduga padaku di tempat umum. What the hell?!!

Aku terdiam beberapa saat, namun segera tersadar sebelum orang lain tersadar lebih dulu. Aku langsung mengemasi barangku dan beranjak pergi dari tempat itu, sebelum orang lain menginterograsiku selayaknya tahanan.

***

 

Sandara POV

Aku mengetuk pintu kamar rumah sakit. “Seungri-ah, ini noona…” Tanpa menunggu jawaban dari dalam, aku langsung membuka pintu dan melihat tampang dongsaengku itu tersenyum padaku. Aku berjalan ke arahnya. “Bagaimana keadaanmu?”

“Cukup baik. Kata dokter besok aku sudah boleh memakai tongkat kruk.” Seungri-ah, memandang sekilas kakinya yang di gips dengan tatapan kesal. “Tapi aku harus bertahan di sini untuk setengah bulan lagi. Menyebalkan! Noonaaa, aku bosaaaann!!”

Aku tersenyum kecil padanya seraya meletakkan tasku di meja di samping kasurnya dan duduk di sebelahnya. “Salah sendiri kamu main balap liar dengan motor sport yang eomma hadiahkan untukmu. Rasakan akibatnya tuh.”

“Tapi noonaaaa… aku sudah hampir sebulan di siniiii… ayo pulang sajaaa…”

“Aiiisshh! Kamu ini, seperti anak kecil saja. Bersabarlahh!” aku mengambil jeruk dari meja di samping kasur dan mengupasnya untuk dongsaeng manjaku itu. “Mana Park Boom-ssi? Aku tidak pernah melihatnya semenjak kamu masuk rumah sakit ini.”

Dia mengambil jeruk yang aku sodorkan padanya dan memakannya lahap. “Haiisshh… tidak usah dibahas, noona. Aku memang tidak memberi tahunya bila aku di sini.”

“Eh, wae? Kamu tidak boleh bersikap seperti itu pada yeoja yang kamu sukai, Seungri-ah…”

Seungri mengalihkan pandangannya ke arah awan mendung yang menggelayut dar jendela rumah sakit. “Diamlah, noona. Biarkan saja, dia tidak ingin melihatku.” Kemudian dia menatapku dengan pandangan menyelidik. “Bagaimana denganmu? Apakah kamu jadi mengatakan padanya hari ini?”

Wajahku kontan memerah. “Nee. Aku mengatakannya, selesai kami latihan orkestra, di depan banyak orang.”

Seungri tercengang mendengar perkataanku. “Maksudmu… di depan semua orang orkestra?”

“Euuhhmm… begitulah…”

Dongsaengku itu menhempaskan badannya ke kasur. “Huwaaahhh… apa sih bagusnya Youngbae sunbae?”

Entahlah, aku tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Aku hanya langsung terpesona ketika pertama kali melihatnya latihan piano di tempat kursus dulu. Kamu enak, Seungri-ah, bisa berada di kelas yang sama dengannya. Aku? Aku mengambil kelas biola. Aku bahkan tidak pernah berani menyapanya… bahkan sampai dia berhenti mengambil kelas piano dan beralih ke kelas konduktor…” Aku berhenti sejenak. “Karena itu, aku ingin mengatakannya, atau aku tidak akan pernah bisa mengatakannya sama sekali…”

“Ahh iyaa… apa tidak terlalu cepat, noona? Dia baru saja patah hati kan? Kalau tidak salah… dengan muridnya sendiri. Siapa namanya?”

Aku menghela nafas. “Yeah… dengan Gong Minji. Aku pernah melihat fotonya di dompet Youngbae. Kamu pikir… apakah aku punya kesempatan?”

“Entahlah, noona… Youngbae sunbae bukan orang yang mudah jatuh cinta. Dia telah mencintai muridnya itu sejak dia masih menjadi pemain piano…”

***

 

Youngbae POV

Aku terhuyung berjalan masuk ke dalam rumah. Kepalaku terasa berdenyut sangat kencang, hingga mataku berkunang. Aku tidak bisa memandang apapun dengan jelas, semuanya terasa berputar dan kabur. Perlahan badanku melemah, seluruh otot di sekujur tubuhku kehilangan tenaga, hingga tak mampu menopang beratku sendiri.

BRUUKKK!!!

Aku terjatuh ke lantai ruang tamuku. Tanganku bergerak menuju kepalaku yang semakin berdenyut. Aku memejamkan mataku, mencoba mengembalikan penglihatanku. Perlahan aku membuka mataku dan menemukan tanganku sudah berbintik merah di mana-mana.

Haiissh!! Penyakit ini menggangguku lagi. Menyebalkan!

Perlahan aku mencoba mengangkat tubuhku sendiri. Terhuyung, aku melangkah mengambil obat yang selalu rutin kuminum bertahun-tahun. Aku bisa memandang pantulan wajahku yang berantakan dari cermin kamar mandi .

Huaaahh!! Hari yang melelahkan! Belum selesai aku memikirkan Minji, masih saja ditambah Sandara noona yang sangat aneh. Hellooo!! Bagaimana bisa kamu menyatakan perasaanmu padahal kamu jarang sekali berbicara dengannya.

Huffftt… Wanita memang sulit dimengerti. Aku tidak akan pernah bisa mengerti mereka.

Aku mengacak rambutku, jengkel. Lebih baik aku segera pergi beristirahat. menjernihkan pikiranku, dan… membiarkan obat ini bekerja. Semoga saja besok semua kembali normal. Semoga saja besok Sandara noona mencabut perkataannya, mengatakan padaku kalau semuanya hanya bercanda, atau apapunlah alasannya.

Karena aku tidak mungkin bisa mencintai orang lain lagi…

_________________________________________________

To be continued…

 

Yak, bagaimana bagaimanaaa?? Semoga puas yaaa… ~~^^

mianhae kalo misalnya jeleekk. Yeaahh, aku sudah mencoba membuatnya semaksimal mungkin yang aku bisa.🙂

aku mohon mohon bangeett untuk tetep komen yaa…

okeehh, begitu saja, tetep tunggu part selanjutnya dari FF inii, dan tunggu FF ku yang laiiinn…🙂

gomawoyoooooooooooo !!!