(Prolog) (Part 1)

Annyeeooongg !!

Huwaahh… akhirnya saya kembali lagi dengan Great Confession. Hha.. 😀

Dan seperti biasa, kuliahku itu semakin seperti monster. Hari ini praktek, besok ujian. Dan selalu seperti itu. -___-‘’
jadii… aku baru bikin ketika weekend dimulai. Dan setelah diobrak abrik sama salah satu readers, Diyan Yuska. Hha…

Mian yaa lamaa.. 😀

Yapp, daripada berlama-lama dengan authornya yang nggak penting, langsung aja baca FF nya yang penting abiss ! *apaan sih?*
hha..

happy reading !

______________________________________________

Aku tak bisa mengalihkan pandangan mataku darinya. Tidak sedikit pun. Walau di orchestra ini aku adalah pemain biola kedua, dengan tempat paling tidak strategis sedunia untuk melihatnya memainkan tongkat konduktornya naik turun dengan lihai. Aku tidak bisa leluasa menelisik wajah maupun tubuhnya, terhalang oleh pemain-pemain biola yang lain yang berada di depanku.

***

Sandara POV

Beethoven’s Symphony No. 7 in A major.

Karya yang berirama seperti mars, penuh semangat dan keceriaan nada yang naik turun dengan cepat. Dimulai dengan vivace, tempo yang sangat cepat seolah menari, kemudian menjadi allegretto yang paling lambat, lalu dengan cepat berubah menjadi presto yang bahkan lebih cepat dari vivace dan berakhir di allegro yang lambat,walau masih lebih cepat dibandingkan allegretto.

Namun, dengan karya yang penuh dengan semangat itu, mengapa wajahmu masih terlihat sendu? Walau kamu berusaha tak memperlihatkannya, tapi aku bahkan masih bisa melihatnya dengan sangat jelas, dari mata jernihmu.

Dan seolah sama seperti hari sebelumnya, bahkan kamu memimpin orchestra ini dengan tempo sedikit lebih lambat dari partitur maupunversi music aslinya. Apakah gadis itu benar-benar membuatmu sulit berkonsentrasi?

Apa yang harus aku lakukan agar kamu berhenti melihatnya dan bisa sedikit saja menyadari keberadaanku disini?

***

Youngbae POV

“Semuanya, mianhamnida. istirahat setengah jam.” Aku menatap seluruh ruangan dengan pandangan lelah. Lelah atas diriku sendiri yang bahkan hingga hari ini tidak bisa konsentrasi memimpin sebuah orkestra. Lelah karena selalu merasa bersalah kepada mereka yang sekarang berada di hadapanku. Amat sangat bersalah, karena aku tidak bisa menunjukkan lebih dari yang mereka ekspektasikan padaku. Harusnya aku bisa lebih, lebih, lebih baik dari ini.

Tapi tidak bisa.

Bayangan Minji selalu datang begitu saja kapanpun dia inginkan, tanpa aku bisa menepisnya sedikitpun. Seolah dia mencoba menghipnotisku untuk hanya menatapnya. Dan kenyataan bahwa hal itu hanyalah sebuah ilusi yang tidak mungkin tergapai membuat konsentrasiku terkoyak.

Mengapa aku masih tidak bisa melupakan yeoja itu?

Tanganku terangkat untuk mengusap wajahku, seolah dengan begitu, semua rasa lelah dan beban yang memberatkanku selama ini akan hilang begitu saja. Namun tidak, semua perasaan yang bahkan tak bisa aku dekskripsikan ini masih saja ada dan rasanya semakin berat.

Istirahat… aku harus istirahat…

Kedua tungkaiku baru saja menuruni podium konduktorku, ketika seorang yeoja yang paling ingin kuhindari mendatangiku dengan senyumnya yang selalu ceria. “Youngbae-ah!”

“Dara noona? Waeyo?” aku mengalihkan pandanganku malas. Membuat mata kami bertemu saja bisa menjadi suatu hal yang menguras pikiranku. Yeoja ini tetap mengembangkan bibirnya yang mungil padaku. Apakah dia tidak memperhatikan perubahan mimik wajahku? Ataukah… Yeoja ini dia tidak pernah bersedih?

Dara noona menyodorkan sesuatu padaku. Kontan aku memandang barang yang kini berada di hadapanku. Dengan senyumnya yang seolah tak pernah padam, dia menatapku tulus. “Ini untukmu.”

Dahiku berkerut bingung. “Apa ini?”

“Karena kamu selalu hanya makan roti setiap hari, aku membawakanmu bekal makan siang yang kubuat dengan penuuuuhh… cinta!” senyumnya mengembang girang. Tangannya bergerak menggelayut ke lenganku, manja. “Ayo makan siang bersama!”

Aku menepuk dahiku pelan seraya menghela nafas panjang. Ternyata orang ini belum juga menyerah. Apa yang harus aku lakukan adar orang ini pergi?

“Ayo makan… ini enak lhooo… apa perlu aku suapkan ke mulutmu?” Dara noona mengerlingkan matanya padaku.

Aku menatapnya dalam diam, tanpa berkata apapun. Matanya kini mencoba menantang tatapanku. Kedua telingaku secara samar bisa merasakan semua orang di hall membicarakan kami.

“Youngbae-ah? Kenapa kamu tidak mau makan sih? Aku sudah capek membuatkannya lhoo…” kedua bibirnya mengerucut, dan kedua telapak tangannya dia letakkan di pinggangnya.

“Dara noona…” aku memanggilnya malas.

“Ne?” dia menjawabku penuh semangat. Kontras sekali.

“Kenapa kamu mendadak menempel padaku? Kalau begini, kamu hanya akan menyusahkanku, tau!!”

Tiba-tiba setitik air mata mengumpul di pelupuk mata Dara noona. Gurat-gurat merah muncul di wajahnya dengan cepat. Matanya menatapku dengan pandangan marah.

Perubahan raut mukanya membuatku terkejut. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Sedikit takut akan reaksi yeoja itu selanjutnya, aku mencoba memanggil namanya. “Euuhm…  Dara noona?”

Matanya melotot memandangku penuh emosi. “HUH! SIAPA YANG MENDADAK MENEMPEL, HAAAHH?!!!”

Kontan aku terkejut dengan teriakannya. Sebelum aku tersadar dari kekagetanku, Dara noona segera berbalik dariku dan berlari pergi meninggalkan hall dalam keadaan marah.

Aku terdiam. Lebih tepatnya, tercengang.

Apakah aku sudah keterlaluan? Apakah aku harus mengejarnya?

“Youngbae-ah, susah memang menjadi orang terkenal ya…”

“Berisik!”

***

Sandara POV

Aku mempercepat langkahku sepanjang koridor gedung. Namun perlahan langkahku melambat seiring emosi sesaatku yang mereda sedikit demi sedikit. Kedua kakiku berhenti melangkahketika kusadari aku sudah di pintu utama gedung. Aku menengadah ke atas dan menatap awan-awan yang menggelayut manja di hamparan langit.

Youngbae-ah… Aku sudah lama sekali mencintaimu. Aku sudah lama memperhatikanmu…

Aku selalu mencintaimu…

Bahkan walaupun kamu selalu melihat…

Gong Minji.

Tap… tap… tap…

Ada langkah kaki yang mendekat. Spontan aku mengalihkan pandanganku ke arah suara yang semakin keras terdengar.

Kedua bola mataku terbelalak ketika melihat seseorang yang berjalan mendekatiku. Atau lebih tepatnya ingin masuk ke arah gedung.

Tak sedikitpun dia melihatku, bahkan melirikku. Namun aku bisa melihat dari sudut mataku, dari ujung rambutnya hingga ujung kakinya. Yeoja yang amat sangat familiar dalam otakku, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya.

Rambut pendek itu…

Mata sipit itu…

Semua sudut tubuhnya terekam dengan jelas dan menyakitkan dalam benakku. Bahkan tak bisa terhapus walau aku menginginkannya. Ingatan yang sangat amat kubenci, karena seolah ingin mengingatkanku bila aku tidak mungkin bisa mendapatkan seorang Youngbae.

“Dara noona!”

Aku tersadar dari ketercenganganku ketika suara merdu itu memanggilku. Suara yang selalu aku cintai. Spontan kedua sudut bibirku tertarik ke atas hingga kedua mataku menyipit ketika mendengarnya. Aku berbalik ke belakang, ke arah suara yang memanggilku itu datang.

“Youngbae-ah…”

“Mianhaeyo, aku tadi…” perkataannya tiba-tiba terputus ketika dia melihat yeoja itu. “Minji?!”

***

Normal POV

Youngbae terpaku memandang gadis yang tiba-tiba muncul di hadapannya itu. Jantungnya langsung berdetum kencang. Mengapa dia masih belum terbiasa dengan perasaan ini? Bahkan setelah gadis itu tidak lagi bisa digapainya, mengapa semua debaran yang menyesakkan ini belum bisa terhenti? Pertanyaan yang bahkan Youngbae sendiri tak bisa menjawabnya. Atau memang dia tak mau menjawabnya.

“Minji?!”

Senyum Minji mengembang senang. Senyum yang tak pernah bisa sedikitpun terhapuskan dari pikiran Youngbae. Dia berlari kecil ke arah Youngbae yang masih belum pulih benar dari ketercengangannya. “Saengniiiiimmmm…”

Youngbae tersenyum ke arah muridnya yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya itu. “Wae, Minji?”

Minji menelisik wajah dan seluruh tubuhku yang masih berbintik merah dengan pandangan menyelidik. “Saengnim? Kenapa bintik merahmu muncul lagi?”

“Ini hanya alergi, Minji…” Youngbae mencoba mengelak.

Minji menatap Youngbae tajam, seolah tatapannya bisa langsung menembus hingga ke lobus otak, membuat lelaki itu sedikit jengah. “Aku tahu saengnim berbohong. Aku sudah mengenal Saengnim itu dari kecil. Aku tahu penyakit Saengnim, aku tahu gejala-gejalanya, dan apa yang menyebabkan gejala itu muncul. Apakah saengnim terlalu capek akhir-akhir ini? Ataukah banyak pikiran?”

Youngbae menghela nafas, pasrah. Minji mengenalnya hampir seluruh hidupnya, dan tak ada gunanya berbohong dari muridnya itu. “Nee nee. Hanya sedikit kecapekan kok. Tenang saja.” Youngbae mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. “Ada perlu apa kamu hingga datang ke sini?”

Minji tiba-tiba teringat tujuannya ke gedung itu. Dia kemudian memandang Youngbae dengan tatapan sepolos mungkin yang bisa dia buat. “Saengniiim… aku ingin minta izin tidak latihan hari ini…”

“Hah? Memangnya ada apa? Ingat Minji, Maradonna Piano Festival sudah sebentar lagi.”

“Nee nee. Aku tau. Aku ingin pergi bersama Daesung oppa hari ini…” Senyumnya mengembang lebar. Seketika kebahagian merekah di dalam diri gadis itu.

Jantung Yougbae seketika mencelos. Nadanya meninggi, kesal. “Mwoa?! Jadi, karena Daesung?! Bukannya harusnya dia membiarkanmu latihan?!” Lelaki itu tidak habis pikir, kenapa selalu Daesung yang ada di pikiran gadis itu.

“Aniyo, saengnim! Aku yang memintanya menemaniku. Aku ingin pergi bersamanya hari ini. Setelah hari ini, aku janji, aku tidak akan minta izin latihan lagi. Ayolaaahh saengniiimm…” Minji mulai merajuk. Bola matanya menatap Youngbae dengan memelas bak anak kecil yang merengak meminta permen pada ayahnya. Kedua tangannya kini mengayunkan lengan Youngbae manja.

Youngbae tak pernah bisa melawan Minji bila muridnya itu mulai merajuk. Hatinya terlalu lemah untuk menolak murid yang sangat dicintainya itu. Dia menghela nafas panjang, menyerah dengan rajukan Minji. “Huufftthh… nee. Aku mengerti. Ingat, hanya hari ini.”

Senyum Minji seketika mengembang lebar. Dia menepukkan kedua tangannya, mengekspresikan rasa senangnya yang meluap tiba-tiba. “Uwaaahhh… gomawoyooo, Saengniiimm…!!” Sesaat kemudian, dia melihat arloji di tangan kanannya. “Ah, aku pergi dulu, Saengnim. Aku tidak mau terlambat bertemu dengan Daesung oppa. Annyeong!”

Minji segera berbalik meninggalkan Youngbae yang terpaku menatapnya nanar.

Mengapa aku masih belum bisa merelakan? Mengapa aku belum bisa tersenyum dengan tulus untuk kebahagiaan Minji?

***

Dara hanya bisa melihat semua kejadian itu dengan tatapan nanar, sama nanarnya dengan tatapan Youngbae ketika Minji pergi, atau mungkin lebih. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan gelegak air mata yang sudah ingin merebak keluar dari pelupuk matanya. kedua tangannya mengepal, berusaha menahan perasaan sakit yang terus bergejolak tanpa ampun.

Wanita itu mengikuti semua alur pembicaraan mereka, menatap setiap gesture yang dilakukan Youngbae, tatapan matanya, semuanya, dengan perasaan yang tersayat. Lalu menyimpan semua itu dalam hatinya sendiri. Semuanya, hingga dia tidak bisa lagi merasakan apapun selain perih karena sayatannya kini berhasil menghancurkannya hingga ke serpihan kecil yang tak lagi kasat mata.

Sekarang… bagaimana perasaan Youngbae-ah pada Gong Minji?

Perlahan tangannya menggapai lengan Youngbae. “Youngbae-ah… jika kamu ingin menangis, menangislah sepuasnya…”

Youngbae mengalihkan pandangannya ke arah  Dara. Dia terdiam sejenak, kemudian dia menghela nafas dan tersenyum getir. Tangannya bergerak menepuk pundak Dara pelan. “Mungkin noona yang ingin menangis?”

Pertanyaan itu seketika membuat air mata Dara yang sejak tadi sekuat tenaga dia simpan langsung menggenang di kedua matanya dan meleleh ke pipinya. Dia menutup bibirnya yang bergetar, berusaha menahan suara tangisnya setelah air matanya gagal ia tahan.

“Selain itu…” Youngbae menjauhkan tangannya dari pundak Dara. “Aku tidak akan menangis.” Dia berbalik dan berjalan meninggalkan Dara seorang diri.

Ya, Youngbae tidak akan menangis. Karena rasa sakit karena mencintai Minji sudah mencapai batas rasa sakit yang bisa dia rasakan, hingga seluruh tubuhnya sudah mati rasa, termasuk kedua matanya.

Lelaki itu menjauh. Namun Dara bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa hebat yang lelaki itu bawa. Rasa sakit yang tak akan pulih dengan obat apapun di dunia ini. Bahkan ketika Dara melihat punggung lelaki yang kini sudah menghilang dari pandangannya itu, dia bisa merasakan jeritan Youngbae yang tak bisa lelaki itu ungkapkan.

dan melihat lelaki yang dia cintai seperti itu, membuat hati Dara semakin hancur, tak bersisa.

***

Sandara POV

Mentari yang sejak tadi menyengat sudah mulai menuruni tahtanya, meninggalkan semburan warna jingga-merah yang melukis abtrak di seluruh langit.

Senja. Hari yang melelahkan, dan menguras energi. untunglah semuanya sudah selesai.

Aku berjalan meninggalkan gedung tempat kami latihan orchestra dan berjalan menuju rumah sakit tempat Seungri, dongsaengku yang jelek itu dirawat. Cukup jauh memang, tapi aku suka berjalan. Karena aku bisa melihat jalanan yang besar ini penuh dengan lalu lalang kendaraan tanpa harus kepanasan. Ya, aku memang suka melihat jalan. Menenangkan melihat semua orang berjalan mengejar waktu mereka, sedangkan aku berjalan melalui orang-orang itu dan menikmati setiap waktu yang bisa aku lewatkan.

Aku masih melihat sekitarku ketika akhirnya pandanganku berhenti ke satu orang yang berjalan beberapa meter di depanku. Bahkan dalam jarak sejauh itu, aku bisa mengenali orang tersebut. Postur tubuh, bentuk rambut, gaya berpakaian, aku bisa mengenali semuanya. Senyumku mengembang lebar. Aku mempercepat langkah kakiku, semakin cepat hingga kini aku berlari ke arahnya. “Youngbae-ah!”

Youngbae berbalik dan melihatku yang berlari ke arahnya. “Dara noona?”

Aku tersenyum padanya dan berjalan menyejajarinya. “Mau kemana?”

“Rumah sakit.”

“Waahh… sama! Aku juga mau ke sana. Memangnya kamu ada perlu apa di sana? Mau memeriksa bintik merah di sekujur tubuhmu ini?” aku menunjuk bintik-bintik merah yang mengelilingi tubuhnya.

“Haha… nee. Sepertinya alergi ini bandel sekali…” Youngbae tertawa padaku. Ya Tuhan, ini tawa pertamanya sejak aku menyatakan perasaanku padanya. Indah sekali…

Youngbae-ah, bukankah kata Minji itu bukan alergi? Sebenarnya penyakit apa yang kamu punya?

Aku pikir, aku harus menyimpannya seolah aku tidak tahu. Aku pikir, Youngbae tidak akan mau menceritakannya padaku.

“Noona sendiri ada urusan apa ke rumah sakit?” dia berbalik bertanya padaku.

“Menjenguk Seungri.”

Youngbae terkejut bukan main. “Mwoa?! Seungri?! Kenapa dengan anak itu?!”

Aku memandangnya dengan tatapan aneh. Mereka memang cukup dekat, karena pernah berada di kelas yang sama. Tapi kenapa dia tidak tahu sekarang Seungri ada di rumah sakit? Apakah Seungri merahasiakannya dari semua orang?

Kami berjalan menyusuri trotoar yang sepi. Namun tiba-tiba langkah Youngbae terhenti. Badannya seolah membeku tak bergerak. Aku mencoba mengikuti gerak matanya. Matanya menatap seberang jalan. Bukan, bukan seberang jalan. Tapi…

Aku terkejut melihat siapa Youngbae lihat. Jantungku langsung mencelos ketika mau tak mau aku juga melihatnya.

Gong Minji… dengan seorang namja.

Apakah itu namja-chingunya? Seperti pernah melihatnya…

Tangan Minji bergelayut manja di lengan atas namja itu. Namja itu tersenyum senang, hingga matanya yang kecil membentuk garis berbentuk bulan sabit. Kemudian tangannya yang bebas mengusap rambut Minji dengan lembut.

Aku melirik Youngbae yang masih terpaku di sampingku. Dia masih melihat pemandangan itu dengan tatapan nanar, sama seperti tatapan yang dia berikan pada punggung Minji yang menjauh tadi siang. Dan dengan tatapan itu pula aku menatapnya.

Youngbae-ah… apakah kamu benar-benar tidak akan pernah melihatku?

__________________________________________________________

To be continued.

Bagaimana bagaimanaaaa..??

Seperti biasa, please keep comment yaa ! no silent readers please. 🙂

Oya, informasi sajaa, acc twitter ku uda berubah menjadi @adiezrindra . apa bedanya sama yg kemaren? Yang ini ada huruf ‘E’ nya. Kemaren kan namanya @adiizrindra. Hha..

Please mention if u wanna follback. 😉

Overall, tunggu part selanjutnya dan FF ku yg lain yaaa !! ^o^//

Gomawoyooooooooo………..!!!!!!

 

Keterangan:

Ludwig van Beethoven ‘s Symphony No 7 di A minor Op. 92

Ayoo.. ada yang tau karya ini? Yang udah pernah nonton Nodame Cantabile pasti tau! Yapp! Karya ini digunakan sebagai opening song nya dorama dan movie Nodame Cantabile. Beberapa kali dimainkan oleh Shinichi Chiaki dan pertama kali sebagai debut pertamanya sebagai debut konduktornya. 🙂

gomawoyo untuk @galuhap yang menyarankan memakai karya ini. ^^

Diciptakan pada tahun 1811, karya ketujuh dari Sembilan karya simfoninya. Simfoni adalah suatu komposisi musik yang panjang pada musik klasik di Barat, yang disusun hampir selalu untuk sebuah orkestra . Dia menciptakannya dengan harapan meningkatkan kesehatannya yang mulai memburuk. Pada debut karya ini, Beethoven berkomentar bahwa simfoni ini adalah salah satu yang terbaik karya-karyanya.

Beethoven ‘s Symphony No 7 dibagi dalam empat movement (perpindahan tempo):

I. Vivace, tempo yang hidup, cepat dan lincah. Movement pertama ini adalah dalam bentuk Sonata yang sering digunakan pada music klasik Barat, dan didominasi oleh irama tari-seperti hidup. Jadi kesannya kayak lagu mars.

II. Allegretto, tempo yang cukup cepat. Movement kedua dimulai dari A minor dan ditandai dengan tempo Allegretto (“sedikit hidup”),dan paling lambat dibandingkan dengan tiga movement yang lain. Jadi dari movement pertama, permainannya akan lebih lambat dan santai.

III Presto, sangat cepat (lebih cepat dari Vivace)

IV. Allegro con brio, tempo yang cepat dan ceria, penuh kekuatan dan semangat (con brio).

Untuk memudahkan membayangkan para tempo-tempo ini, aku persembahkan list tempo-tempo yang digunakan dalam music klasik.:

  • Larghissimo – sangat, sangat lambat (20 bpm ke bawah)
  • Grave — lambat dan khidmat (20-40 bpm)
  • Lento — perlahan-lahan (slowly) (40-60 bpm)
  • Adagio — lambat dan megah (harfiah, “tenang”) (66-76 bpm)
  • Adagietto — agak lambat (70-80 bpm)
  • Andante — dengan kecepatan berjalan (76-108 bpm)
  • Andante Moderato — sedikit lebih cepat dari Andante
  • Andantino – sedikit lebih cepat daripada Andante dan andante moderato
  • Moderato —moderat (cukup) (101-110 bpm)
  • Allegretto — cukup cepat (tapi kurang cepat bila dibandingkan dengan dari allegro)
  • Allegro moderato — agak cepat (112-124 bpm)
  • Allegro — cepat, dan cerah (120-139 bpm)
  • Vivace — meriah dan cepat (~ 140 bpm) (lebih cepat dari allegro)
  • Vivacissimo — sangat cepat dan lincah
  • Allegrissimo —sangat cepat
  • Presto — sangat cepat (168-200 bpm)
  • Prestissimo — amat sangat cepat (lebih dari 200bpm)

Video untuk movement I :

Semoga bermanfaat. Kalo masih bingung boleh langsung tanya. Hha.. 🙂

Iklan