(Prolog) (Part 1) (Part 2)

Annyeoong!

Sejujurnya, aku seneeengg bangett karena fflovers sekarang udah mulai terkenal dan banyak yang berkunjung. Kemaren aja kata dongsaengku blog ini masuk di peringkat 88 blog teratas.

Wow!! It’s very surprise to us!

Tapi kenapa oh kenapaaa… yang komen di FF ku ini cumin para readers setia yang emang udah nangkring di fflovers sejak dulu. Lho, readers baru nya manaaa??🙂
kok jadi para silent readers yaaa?

Chinguu, mungkin ini cumin curcol dari seorang author, tapi komen kalian itu sangat berarti lhoo bagi kami, para author. Jadi nggak cuma aku, tapi juga author yang lain.😉

Jadi please bangeett, bagi semua mua yang baca FF ku ini, dan mungkin FF-FF yang lain, please bangett untuk tinggalkan jejak buat kami. Nggak susah kaaan buat menyisakan waktu kalian beberapa menit untuk nulis sedikit komen? Hhe..😀

Oh ya, selain berita ituu, di akhir aku akan mengadakan kuis kecil yang mengasah otak. Jadii… siapkan diri kalian untuk membaca sampai akhir.🙂

Mian banyak curcol yaa.. ^^

Enjoy reading~~!

___________________________________________________________

 

Normal POV

Tok… tok…

“Seungri-ah…” Dara membuka pintu dan memasuki kamar Seungri tanpa menunggu jawaban dari pemilik kamar itu. Langkah kakinya mendekati kasur tempat Seungri yang tersenyum ke arahnya. “Bagaimana keadaanmu hari ini?”

“Bosan! Aku benar-benar bosan di sini, noona!” Seungri langsung berceloteh sambil memandang Dara dengan tatapan memelas. “Ayolah pulang, noona…”

Dara meletakkan tasnya di meja samping kasurnya dan mengupas apel yang tergeletak di meja yang sama. “Aku kan tidak pernah melarang kamu pulang. Kan dokter yang tidak memperbolehkanmu pulang. Memelaslah pada dokter. Arasseo?” senyumnya mengembang dan tangannya bergerak mengacak-acak rambut dongsaengku itu.

Seungri hanya mendengus sebal dan kembali menatap awan yang bergelayut dari jendela kamarnya dengan tatapan menerawang.

“Seungri-ah…” Dara menyodorkan apel yang telah terkupas pada Seungri. “Kamu belum menghubungi Bom-ssi?”

Seungri mengambil apel dari tangan Dara dan menatap Dara dengan tatapan tajam dan sedingin es, membuat gadis itu sedikit gentar. “Belum. Dan bisakah kita tidak membicarakan itu?”

Dara mencoba melawan tatapan Seungri dengan tenang. “Mengapa kamu melakukan hal ini pada Bom-ssi? Bukankah itu berarti kamu menyakiti dirimu sendiri, Seungri-ah?”

“I’m better runaway because she won’t be mine.” Seungri mencoba tersenyum getir. Matanya menatap Dara dengan pandangan menerawang. Wanita itu kini bisa melihat kesedihan yang Seungri coba sembunyikan di balik ucapannya.

Dara tertegun sejenak oleh ucapan Seungri. “Begitukah? Tapi…”

Tok… tok…

Ucapan Dara terhenti ketika seseorang mengetuk pintu kamar Seungri. Dua orang dalam kamar itu mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu. Pintu itu terbuka perlahan, dan seorang berjubah putih masuk ke dalam kamar Seungri.

“Maaf mengganggu kalian. Bagaimana keadaanmu siang ini, Lee Seunghyun-ssi?” lelaki itu tersenyum hinggga kedua bola matanya tenggelam dalam matanya yang tipis.

“Baik, dokter…” Seungri membalas senyuman ke arah lelaki itu.

“Humm… syukurlah kalau begitu. Nah, saya hanya ingin bilang, karena perkembanganmu lebih baik dari yang diperkirakan dokter, maka minggu depan kamu sudah boleh pulang.” Dokter itu tersenyum sekali lagi, membuat kedua matanya hanya membentuk segaris bulan sabit.

Raut wajah Seungri seketika berubah cerah. “Uwaahh… khamsahamnida, dokter!!”

“Cheonmaneyo. Baiklah kalau begitu, saya pergi dulu. Silyehamnida.” Lelaki itu berbalik dan mulai menjauh dari ranjang Seungri.

***

Dara POV

Aku tercengang melihat orang yang baru saja memasuki ruangan. Bibirku hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata apapun ketika orang tersebut mulai berbincang dengan Seungri. Seketika jantungku mencelos saat orang tersebut tersenyum ramah padaku.

Wajah itu…

Senyuman itu…

Mata itu…

Aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat…

Bukankah dia… orang yang berjalan bersama Gong Minji kemarin sore?! Tangan Gong Minji bergelayut di tangan itu, dan tangan itu telah mengusap helai-helai rambut pendek Minji dengan lembut.

Sepertinya aku tidak salah orang. Tapi… apakah benar?

“Uwaahh… khamsahamnida, dokter!!” suara girang Seungri membangunkanku dari ketercenganganku. Perlahan aku kembali ke dunia nyata dan mengambil kembali kesadaranku yang tercecer.

“Cheonmaneyo. Baiklah kalau begitu, saya pergi dulu. Silyehamnida.” Lelaki itu berbalik dan mulai menjauh dari ranjang Seungri. Kemudian bayangannya mulai menghilang dari balik pintu.

“SEUNGRI-AH!! Siapa orang tadi itu?!” aku menatapnya dengan pandangan tak sabar.

Seungri terkejut dan spontan memandangku bingung. “Itu? Dokter Kang Daesung. Waeyo, noona?”

Kang Daesung…?

Aku langsung beranjak dari kursiku. “Ani! Tunggu sebentar, aku pergi dulu.” Kakiku langsung berlari terburu meninggalkan Seungri yang pasti sangat kebingungan dengan tingkahku yang aneh.

Aku harus mengejarnya. Aku harus memastikan penglihatanku sendiri…

Aku berlari sepanjang koridor rumah sakit dan mulai melambat ketika aku mulai melihat sosoknya yang berjalan beberapa meter di depanku. “Dokter!”

Dokter itu berbalik dan melihatku yang berjalan ke arahnya. Dia menungguku yang mendekat kearahnya. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Park Sandara imnida. Saya hanya ingin bertanya, dokter.”

Dahinya berkerut bingung. “Bertanya?”

Aku mengulum senyumku dan memandangnya jahil. “Aku… kemarin melihat dokter pergi bersama seseorang, lho…”

Seketika kedua pipi putih itu dihiasi semburat merah. Dia tertawa kecil untuk mencoba menutupinya. “Apakah kamu tidak salah lihat, Sandara-ssi?”

Senyumku melebar menang. “Bila melihat gurat merah di pipi dokter, sepertinya aku tidak salah lihat. Apakah yeoja itu yeoja-chingu mu, dokter?”

Dua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman lebar hingga kedua matanya yang tipis lagi-lagi hanya menyisakan garis bulan sabit. “Begitulah, dia yeoja-chingu ku.”

“Jincha?? Siapa namanya, dokter?”

“Gong Minji.” Dia masih tersenyum lebar. Aku bisa melihat pancaran bahagia dari kedua mata kecilnya. “Memangnya ada apa, Sandara-ssi?”

“Eh? Tidak ada apa-apa, dokter. Hanya ingin bertanya. Karena waktu itu yeoja itu terlihat… bahagia.” Aku tersenyum pada lelaki itu. Sedikit getir ketika aku mengatakan kata terakhirku. “Ah, saya harus kembali ke tempat dongsaeng saya. Silyehamnida.”

Aku berbalik meninggalkan dokter yang juga beranjak dari tempat kami berbincang tadi.

***

Langkah cepatku melambat dan terhenti di ujung koridor rumah sakit. Kemudian aku duduk di salah satu kursi yang terpasang permanen di koridor itu. Tanpa komando apapun, air mata yang sejak tadi tertahan di kantung mataku mulai jatuh ke pipiku setelah sebelumnya menggenangi dua sudut mataku.

Rasa sesak yang sejak tadi seolah menghimpitku benar-benar terasa menyakitkan. Sangat menyakitkan hingga rasanya aku tak bisa lagi menghirup oksigen di sekitarku. Aku mengusap air mata yang keluar secara liar menuju pipiku. Namun tetesannya tak bisa berhenti.

Benar. Lelaki itu… Gong Minji… Mereka terlihat bahagia. Kekontrasan yang menyedihkan bila mengingat lelaki yang saat itu berdiri di sebelahku. Cintanya pada yeoja itu tidak akan pernah terbalaskan. Tidak akan pernah…

Malang sekali, Youngbae-ah…

***

 

Normal POV

“Yak, latihan hari ini selesai!”

Youngbae dan seluruh anggota orkestra mengemasi alat musiknya. Satu per satu dari mereka pergi meninggalkan hall gedung. Hingga kini hanya Youngbae dan Sandara yang tersisa di ruangan besar itu. Tak satupun dari mereka yang berbicara, hanya sibuk dengan alat musik mereka sendiri, seolah mereka tidak tahu harus memulai dari kata apa.

“Youngbae-ah, kamu tidak pulang?” Dara mencoba memecah keheningan.

Youngbae yang mulanya sibuk dengan tas ranselnya spontan mengalihkan pandangannya ke arah Dara. “Aku… masih ingin di sini. Lebih baik noona pulang duluan saja.” Dia tersenyum kecil dan lembut. Senyuman yang selalu disukai oleh wanita di hadapannya.

“Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu. Annyeong.” Dara mengambil tas nya dan berbalik meninggalkan lelaki yang kini kembali sibuk dengan tas nya yang entah apa.

***

Youngbae POV

Aku hanya melihat wanita yang biasanya mengikutiku kini pergi menghilang dari balik pintu hall. Kini aku benar-benar sendiri di ruangan sebesar itu. Mataku berputar memandang seluruh ruangan yang biasa digunakan untuk konser orkestra.

Sepi. Benar-benar sepi dan tanpa suara.

Mengapa kini rasanya berbeda?

Bukankah aku lebih suka bila aku hanya sendiri? Karena dengan begitu, aku bisa memikirkan Minji tanpa gangguan. Karena aku sudah terbiasa menikmati rasa sakit yang selalu datang ketika aku memikirkannya. bahkan aku telah candu atas rasa sakit itu. Sebut saja aku orang yang aneh. Karena aku telah menikmati rasa sakitku sendiri.

Tapi kali ini rasanya aneh. Aku menjadi tak suka sendiri. Ada apa denganku?

Aku ingin ada seseorang di sini menemaniku. Tapi siapa yang kuinginkan ada di ruangan ini bersamaku sekarang?

Minji kah? Bayangan yeoja itu kini mulai samar di dalam benakku. Perlahan namun pasti, otakku tak lagi memutar ulang sosoknya. Tak seperti biasanya yang bahkan bayangannya tak bisa lepas dari benakku.

Ataukah… Dara noona?

Aku telah terbiasa dengan sosoknya yang selalu mengikutiku. Tanpa sadar, aku telah menjadikan semua hal yang berkaitan dengan dirinya menjadi hal yang lumrah dan aku telah terbiasa. Bahkan aku telah terbiasa dengan kehadirannya di sampingku.

Tiba-tiba, aku teringat pembicaraanku dengan dokter di Rumah Sakit beberapa hari yang lalu…

 

“Kenapa pendaharanmu muncul lagi, Youngbae-ssi?”

“Entahlah, mungkin terlalu capek…”

“Oh ya? Biasanya kamu bisa menjaga kondisimu. Apalagi kamu sudah menderita penyakit ini sudah sangat lama. Ada masalah dengan yeoja, Youngbae-ssi?”

“…”

“Ya sudahlah, saya akan berikan resep untukmu. Kamu harus meminum obatmu dua kali lebih banyak dari biasanya, hingga bintik-bintik pendarahanmu itu sembuh. Setelah itu, kamu bisa kembali ke dosis biasanya.”

Yeoja? Siapa yeoja yang kini membuat kondisi tubuhku menjadi tidak stabil lagi? Masih Minji kah? Atau meang sekarang karena Dara noona?

Aku mengacak-ngacak surai-surai rambutku hingga berantakan. Seolah apa yang kulakukan bisa membuyarkan pikiran bodoh yang baru saja melintas dalam benakku.

Haiisshh… memikirkan apa aku ini? Tidak mungkin Dara noona. Ayoo Youngbae! Lupakanlaah! Fokus! Fokus!!

Langkah kakiku berjalan mendekati grand piano yang berdiri kokoh di panggung orkestra, di samping podium konduktor yang biasa aku gunakan. Jemari tanganku perlahan menyentuh dan menyusuri badan piano,, kemudian beralih ke barisan-barisan tuts hitam putih yang tersusun rapi. Jari telunjukku kemudian menekan salah satu tuts, merasakan suara piano yang keluar dan menggema ke seluruh ruangan.

Bening… sepertinya keheningan akan segera hilang ketika benda ini berbunyi…

Aku menduduki bangku piano dengan hati-hati. Jari-jari tanganku mulai menekan tuts-tuts piano, menghasilkan melodi indah yang menggema keras. Mataku terpejam, mencoba menikmati nada-nada indah yang kuhasilkan.

***

Dara POV

Aku menyusuri jalanan yang mulai gelap karena pantulan jingga dari langit mulai memudar. Terangnya bintang yang berpencar tak bisa membuat jalanan ini seterang sinar matahari.

Sejujurnya, aku enggan meninggalkan namja itu. Namun mungkin lelaki itu masih ingin sendiri. Aku tahu kepedihan yang saat ini Youngbae-ah rasakan. Walau rasa sakit di hatiku, jauh lebih sakit dari yang dirasakan Youngbae-ah. Jauh lebih sakit. Mungkin karena aku itu harus lebih lama bertahan…

Dingin sekali malam ini…

Telapak tangan kiriku menggosok-gosok lengan kananku pelan. Mencoba mengusir dingin yang menerjang tubuh kurusku. Tiba-tiba aku tersentak, menyadari sesuatu.

Eh? Bukankah aku membawa long coat tadi siang? Kenapa sekarang tidak kupakai.

Jangan-jangan… tertinggal di hall orkestra? Aiisshh! Aku harus kembali atau aku akan mati membeku sebelum aku sampai di rumah.

Aku bebalik dan berlari kembali hall orkestra dengan terburu.

Langkahku melambat ketika aku memasuki gedung orkestra. Cuping telingaku mendengar alunan melodi yang tak asing lagi terdengar di telingaku.

Suara piano. Fur Elise…

Karya Beethoven yang dibuat untuk wanita yang dicintainya. Wanita yang ingin dinikahi musisi tersebut. Sayangnya, ia menikahi pria lain sebelum Beethoven menyatakan perasaan cinta kepadanya.

Suara yang dihasilkan terdengar sedih, namun membius yang mendengar. Seolah tersihir masuk ke dalam suatu dunia tersendiri yang penuh dengan alunan yang menyayat.

Kepalaku perlahan melongok ke dalam hall, melihat siapa yang bermain seindah dan sesedih itu. Tersentak aku melihat siapa yang duduk di balik grand piano. Youngbae-ah…

Mengapa memainkan karya itu? Sebenarnya apa yang harus aku lakukan agar kamu melihatku?

“I’m better runaway because she won’t be mine.”

Tiba-tiba aku teringat kata-kata yang terlontar dari bibir Seungri. Kemudian aku menatap kembali Youngbae-ah yang masih asyik dengan permainan pianonya.

Runaway? Pergi jauh dan menghilang? Bisakah aku melakukan hal seperti itu? Apakah mungkin sekarang saat yang tepat untuk pergi darinya?

Karena mungkin… dia takkan bisa melihatku…

“Dara noona?”

Suara yang selalu menyihirku itu membuatku kembali dari lamunanku. Kikuk, aku mencoba membalas pandangannya. “Youngbae-ah…”

“Mengapa kembali?”

“Aku… ingin mengambil long coat ku yang tertinggal…” ucapku, kemudian mendekat ke arah kursi penonton yang dibentuk bertingkat seperti bioskop dan mengambil long coat ku yang terselempang di salah satu kursinya.

Dia terdiam memandang apa yang kulakukan. Rasanya jantungku ingin meloncat keluar dari rongga dadaku mengetahui dia menatap setiap gerakku.

Ya Tuhan, bisakah aku pergi darinya?

_________________________________________________________

To be continued.

Bagaimana bagaimanaa?🙂

Mianhae kalo membosankan… karena aku ingin mengeksplore perasaan mereka lebih banyak, jadi aku tidak banyak member percakapan di sini. Karena itu, mian bangett kalo membosankan… T____T

humm, ada yang inget ato pernah baca ga tentang percakapan dara-daesung di atas.?
yapp! inilah adegan yang bikin Minji cemburu di [After Story] Sad Harmony – My Stupid Jealousy🙂
congrats bagi yang ingett! berarti kalian sangat2 memperhatikan FF2 saya. hha..

Well, okee. Waktunya kuiiiss !

Pertanyaannya gampang, tapi susah. *lho?* pertanyaannya adalah:

Apa penyakit yang diderita Youngbae?

Sedikit clue: ini penyakit keturunan, dan menimbulkan bercak-bercak merah yang biasa disebut pendarahan di bawah kulit kalau penderitanya terlalu lelah atau banyak pikiran.😀

Wahh waahh. Apa yaaa?🙂

Yang menang aku bikini two-shot dehh… dengan cast yang kalian inginkan tentunya.😉

Overall, please comment yaa ! please please please…

Gomawoyooo… ^^

 

Keterangan:

Für Elise (dari bahasa Jerman “Kepada Elise”) adalah nama populer bagi Bagatelle in A minor, WoO 59, sebuah musik piano solo karya Ludwig van Beethoven, ditulis sekitar tahun 1810. Kalo kalian pernah denger musik yang ada di kotak musik, ya itulah Fur Elise.

Para peneliti Beethoven tidak tahu siapa sebenarnya Elise yang dimaksud. Teori yang terkenal mengatakan bahwa pada mulanya karya tersebut berjudul Für Therese. Therese yang dimaksud adalah Therese Malfatti von Rohrenbach zu Dezza (1792-1851), wanita yang ingin dinikahi Beethoven tahun 1810. Sayangnya, ia menikahi pria lain sebelum Beethoven menyatakan perasaan cinta kepadanya. Ia adalah puteri seorang saudagar dari Wina, Jacob Malfatti von Rohrenbach (1769-1829). Ketika karya tersebut dipublikasikan tahun 1865, penemunya, Ludwig Nohl, salah menyalin judulnya sehingga menjadi “Für Elise”. Tanda tangannya hilang.

Check Videonya :