Annyeeooongg!!

aku share FF dulu sebelum aku menghadapi minggu yang menyebalkan. o yeah, menyebalkan. ketika anak-anak lain libur seminggu, aku malah masuk tanpa libur.
iyee, walau ujian SNMPTN menghadang, cuti bersama menggoda, kampusku tetap kuliah. great. -____-”

ah iya, ini adalah DaeMin couple, dan terlepas dari kisah sekuel YG Fam FF yang sedang proses. kenapa aku membuatnya?
yaaa… karena aku pengen aja. hha..

e iya, nanti di tengah akan ada denah kamar Daesung. lho? buat apa? ntar juga tau…
hha…😀

enjoy reading all ~!!

_____________________________________________

Tittle : Please Understand Me

Genre : Romance, Sad, Comedy (?)

Cast : Daesung Bigbang, Minzy 2ne1, TOP Bigbang (numpang lewat)🙂

Normal POV

“Daesung? Wajahmu terlihat pucat. Kamu sakit?” Seunghyun setengah berlari menghampiri Daesung yang berjalan sempoyongan di koridor rumah sakit. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir terhadap keadaan juniornya itu.

Daesung memang tidak terlihat baik-baik saja. Wajahnya pucat dan gurat kelelahan memenuhi pelipis dan matanya. “Aniyo, hyungnim. Hanya sedikit pusing.”

“Minta izinlah pada professor dan pulanglah…”

“Aku sudah akan pulang, hyungnim. Tapi aku ada janji dengan Minji. Sebaiknya aku cepat-cepat ke sana atau yeoja itu akan marah padaku.” Dia tersenyum tenang. Seolah keadaannya kini bukan masalah yang besar.

“Tak bisakah kamu menundanya?” Seunghyun tak bisa berhenti mengkhawatirkan Daesung.

Daesung tertawa kecil. “Aku tidak ingin menundanya, hyungnim. Sudahlah, aku pergi dulu. Annyeong.” Lelaki itu kini meneruskan jalannya yang masih sedikit linglung dan meninggalkan Seunghyun.

***

Minji berulang kali melirik arloji di tangan kanannya dengan tatapan jengkel. Semakin lama gerakan tubuhnya makin tak bisa tenang. Sebentar-sebentar dia berdecak kesal sambil menatap jendela café dengan tatapan jengkel. Sebentar kemudian dia mengacak-acak rambutnya yang tak sampai bahu itu hingga berantakan dan menghela nafas tak sabar.

Huuuhhh!! Ini orang ke mana siihh??!! Sudah tau aku paling tidak suka menunggu!!

Krinciing…

Lonceng yang terletak di daun pintu café berbunyi nyaring, membuat para pengunjung café otomatis berpaling ke arahnya,dan seorang lelaki masuk ke dalam dengan tergesa. Lelaki itu kemudian tergopoh menghampiri Minji dan duduk di hadapan gadis itu. “Mianhae, aku terlambat…”

Minji memandang tajam lelaki itu, kemudian menghela nafas kesal. “Ini sudah jam berapa, Dae oppaa??!! Aku sudah berjamur menunggumu di sini!”

Daesung menatap Minji dengan tatapan bersalah. “Mianhae, Minji… Aku tadi harus bertemu dengan pembimbingku terlebih dulu.”

Emosi yang menumpuk sejak tadi membuat Minji tak lagi mempedulikan penjelasan yang keluar dari bibir Daesung. “Tapi, oppaa… aku sudah menunggumu setengah jam! SETENGAH JAAAMM!!”

Daesung menghela nafas, menahan sabar dan mencoba memelas. “Ya Tuhan, Minji… Jebal… mengertilah…”

Telinga Minji telah tuli karena amarahnya yang masih meluap. Bahkan dia masih tak bisa mengerti bagaimana mungkin namjanya ini tega membuatnya menunggu begitu lama, tanpa pemberitahuan. “Apa maksudmu?! Maksudmu aku tidak mengerti?! Harusnya kamu yang mengerti bahwa aku tidak suka menunggu! ”

Celotehan Minji yang semakin lama semakin naik beroktaf-oktaf benar-benar membuat kepala Daesung terasa makin berputar-putar dan semua pemandangan yang dia lihat menjadi berbayang. Rasanya isi perutnya terkocak hingga ingin membuncah keluar. Semakin lama ucapan Minji terdengar berulang-ulang dan membuatnya sangat muak.

BRAKK!!!!

Tangan Daesung menggebrak meja di depannya dengan keras. Matanya menatap Minji dengan tajam dan penuh emosi yang menggelegak. “Tak bisakah kamu sedikit saja mengerti apa kewajibanku sebagai seorang dokter muda, Minji?!!”

Spontan Minji tersentak kaget dan jantungnya berdegup kencang ketakutan. Lelaki yang selalu tersenyum itu kini menatapnya penuh kemarahan. Sedikit gemetar dia mencoba mencicit. “Op… ppa…??”

Dengan nafas yang memburu dan tatapan yang liar, Daesung mengambil tasnya. “Haiissh! Sudahlah!! Aku capek dan malas berdebat denganmu!!” Kemudian, lelaki itu pergi meninggalkan Minji yang masih berkutat dengan ketercengangannya.

***

 

Minji POV

Aku menengadah ke atas menatap langit malam yang bahkan tak berbintang satu pun. Benar-benar menyebalkan! Mereka seolah ikut merayakan rasa sesal yang aku rasakan.

Biasanya, ketika malam datang dan belum ada celoteh dariku, Daesung oppa pasti mencariku dengan kebingungan. Seolah tak melihatku sedikit saja sudah membuatnya berpikiran buruk. Misalnya, aku melakukan hal bodoh seperti dulu lagi, bunuh diri. Biasanya, dia pasti sudah berjalan tergesa ke atap dan segera berjalan menghapiriku bila melihat bayanganku yang sedang duduk di kursi panjang ini. Biasanya, dia sudah mengacak-acak rambutku pelan, dan memelukku dari belakang.

Ya, biasanya…

Hari ini, bahkan aku tidak mendengar suaranya sama sekali.

Aku hanya sendirian di atap, memeluk kedua kakiku yang terlipat dan menopangkan daguku di atas kedua lututku. Satu-satunya yang menemaniku di sini hanyalah sepi dan rasa dingin yang menusuk tulang. Tapi bahkan aku tak berniat untuk pergi dari sini.

Aku merenungi apa yang baru saja aku lakukan tadi siang. Segunung rasa bersalah tiba-tiba langsung dijatuhkan ke pundakku ketika aku menyadari bahwa aku telah keterlaluan. Benar-benar rasa penyesalan yang amat sangat. Rasanya ada beban berat yang bercokol di semua organ tubuhku, hingga bahkan untuk bernafas dan berdetak saja sudah sangat sulit.

“Mianhae, Minji… Aku tadi harus bertemu dengan pembimbingku terlebih dulu.”

Aku menghela nafas panjang dan berat. Setitik air mata tiba-tiba jatuh sudut mataku tanpa kusadari.

Mengapa aku tidak mempedulikan alasannya? Oh Tuhan Minji, dia harus bertemu dengan dosennya? Dan kamu masih mengoceh?!!

 “Ya Tuhan, Minji… Jebal… mengertilah…”

Astaga, hingga dia memohon padamu, Minji… dan kamu masih saja berceloteh seolah kamu yang paling benar?! Jahat sekali aku ini…

Setitik air mata jatuh lagi menuju pipiku tanpa bisa kutahan. Rasa penyesalan ini sekarang benar-benar membuat hatiku terajam hingga aku bahkan tak bisa melihat serpihannya.

“Tak bisakah kamu sedikit saja mengerti apa kewajibanku sebagai seorang dokter muda, Minji?!!”

Mengingat apa yang baru saja Daesung oppa katakan padaku benar-benar membuatku menyesali setiap kata yang keluar dari mulutku. Aku memang sangat keterlaluan. Amat sangat keterlaluan.

Air mataku mulai kalap membanjiri pipi dan daguku. Nafasku memburu hingga terasa sangat sesak. Sangat sesak, hingga tercekat dan aku tak bisa lagi merasakan udara di sekelilingku. Dadaku benar-benar sakit, rasanya seperti ribuan pisau ditancapkan beruntun ke sekujur tubuhku.

Minji pabo ! pabo! Mengapa kamu sebodoh itu, Gong Minji?!!

Aku menelungkupkan wajahku di antara kedua lututku. Mencoba menyembunyikan isak dan suara tangis liar yang beruntun keluar dari bibir dan mataku.

Mian… jeongmal mianhaeyo oppa… jeongmal mianhae…

***

Normal POV

Minji mengusap air mata yang masih saja bercucuran dari kedua matanya yang tipis. Ini bukan saatnya dia hanya menangis. Dia harus meminta maaf pada lelaki yang telah mendiamkannya seharian ini atau rasa penyesalannya akan terus mengejarnya tanpa pengampunan.

Perlahan dia bangkit dari kursi panjangnya dan turun dari atap. Kemudian dia berjalan pelan menuju kamar Daesung. Semakin dekat keberadaannya dengan kamar namja-chingu nya itu, semakin hebat debaran jantungnya. Debarannya kini berlompatan tinggi seperti trampolin. Keringat dingin kini mulai membanjiri pelipis, tengkuk dan kedua telapak tangannya.

Minji menarik nafas panjang dan dalam, mempersiapkan mentalnya. Ragu-ragu dia mengetuk pintu kamar Daesung.

Tok… tok…

Gadis itu mencoba membuka pintu kamar Daesung, tidak terkunci. Perlahan dia mengintip ke dalam dan melihat Daesung sedang berkutat dengan buku-buku tebal yang entah apa judulnya di meja belajarnya. Dia mencoba memanggil Daesung dengan takut-takut. “Oppa…?”

Daesung mengalihkan pandangannya sekilas, tanpa minat. Sejurus kemudian, dia kembali berkutat dengan buku-buku dan laporannya. “Pergilah, Minji. Aku sibuk dan tidak ingin berdebat denganmu.”

Deg!

Jantung Minji seketika mencelos. Tak disangkanya Daesung, namja-chingu yang biasanya tersenyum dan berbicara dengan lebut dapat mengatakan hal sedingin dan setajam itu. Rasanya seperti tertusuk sembilu ketika telinganya mendengar kata-kata itu. Sakit dan menyesakkan. Rasanya kini hatinya sudah bersimbah darah.

“Nee…” Dia mencoba menahan gelegak air mata yang ingin tumpah dari kelenjar air matanya. Dengan suara getir yang berusaha keras disembunyikan, dia melanjutkan, “Baiklah, oppa…”

Minji menutup kembali pintu kamar Daesung. Setelahnya, dia menarik nafas panjang dan menggigit bibir bawahnya sekeras mungkin. Hingga rasa sakit di dadanya bisa sedikit berkurang dan berganti dengan rasa nyeri di bibirnya. Bulir-bulir air mata perlahan jatuh ke pipinya, walau tanpa suara.

Apakah aku memang sudah sangat keterlaluan?

***

Daesung benar-benar tidak ingin diganggu. Tumpukan laporan yang belum dia kerjakan sangat banyak dan bahkan dia tak pernah punya cukup waktu untuk mengistirahatkan diri. Seolah waktu 24 jam tidak pernah cukup untuknya untuk mengerjakan semua tugasnya. Laporan diagnosis pasien yang baru datang, laporan perkembangan penyakit pasien rawat inap, dan laporan-laporan lain yang bahkan belum tersentuh sedikitpun.

Dia tahu, emosinya masih belum reda. Hatinya sangat jengkel. Dengan keadaan mental yang tidak bisa berkompromi seperti itu, sulit untuknya untuk tetap berpura-pura tersenyum seperti biasanya. Bagaimana mungkin gadis itu tidak mau mendengarnya sedikit pun? Tidakkah dia melihat namja-chingunya perlu dimengerti? Tidakkah gadis itu…

“Haaahhh…”

Daesung mendesah dan menghela nafas panjang dan dalam. Sesaat kemudian, dia mengacak-acak rambutnya, ingin menghapus bayangan Minji sejenak saja. Paling tidak untuk malam ini. Karena kertas-kertas laporan sudah melambai-lambai menggodanya. Akhirnya dia kembali berkutat dengan mereka.

Diagnosis pasien A. apakah partial shock? Atau…

Ah, sebaiknya aku mencari bukuku dulu di rak…

Daesung beranjak dari kursinya dan menuju rak bukunya.  Baru sekejap dia berdiri, tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan tak tertahankan. Rasanya keseimbangannya hilang dan tubuhnya mulai oleng. Pandangan matanya berputar, dan perlahan mengabur. Mengabur, semakin kabur dan…

BRUUKK!!!

***

Minji POV

BRUUKK!!!

Tubuhku seketika tersentak. Suara itu berasal dari kamar Dae oppa. Jantungku seketika berkontraksi jauh lebih cepat, menghasilkan debaran tak beritmik.

Ada apa dengannya?!

Secepat kilat aku yang telah menjauh dari kamarnya berbalik kembali dan membuka pintu kamarnya. Mataku spontan terbelalak sebesar yang aku bisa dan jantungku berdebar jauh lebih kencang.  Dae oppa tergeletak di depan rak bukunya sendiri.

Aku langsung berlari ke arahnya dan mencoba melihat keadaannya. Aku mencoba membalikkan badannya ke arahku untuk melihat wajahnya.

Ya Tuhan, dia pingsan! Otokheee??!!

Oke, Minji. Pertama-tama, kamu harus mengangkatnya ke tempat tidur!

Aku meletakkan kedua tanganku di bawah ketiaknya dan mencoba mengangkat tubuh Dae oppa sekuat tenaga.

“Eeerrgghhh…!!”

Tubuh Dae oppa bahkan tidak bergerak sedikitpun, hingga akhirnya aku kelelahan sendiri dan menghentikan usahaku mengangkatnya.

Ya tuhan, tubuhnya berat sekali! Apalagi untuk seorang wanita dengan tubuh sekecil aku.

Ayo, Minji! Berusahalah sekali lagi! Fighting!!

Kini aku kembali menyelipkan tanganku di bawah ketiaknya dan perlahan menariknya sekuat tenaga ke tempat tidurnya. Setelah kurasa cukup dekat dengan tempat tidur, aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk mengangkatnya ke atas ranjang. “Eeerrgghhh…!!”

Setelah perjuangan gila yang melebihi perjuangan Negara Korea Selatan melawan Korea Utara itu berhasil aku lakukan, kini Dae oppa sudah tergelatak manis di atas ranjang. Aku mencoba merapikan posisi tidurnya dengan hati-hati. Setelahnya, tanganku perlahan bergerak menuju dahinya untuk memeriksa suhu tubuhnya.

Panas sekali!

Dengan tergesa aku berlari kamarku sendiri. Aku mengambil baskom dan memasukkan es batu dari kulkas Dae oppa ke dalamnya. Lalu mencari kain yang bisa aku gunakan untuk mengompres tubuhnya dan sesegera mungkin kembali ke kamar Dae oppa.

Tanganku memeras kain yang kini basah oleh air dingin dan meletakkannya di dahi Dae oppa.

Panas, cepatlah turun…

***

Tanganku tarangkat menuju dahinya. Sepertinya suhu tubuhnya sudah bergerak turun. Kini aku tinggal menunggunya sadar dari pingsannya.

Mataku menatap wajah Daesung oppa yang masih terpejam. Gurat-gurat kelelahan tampak jelas di bagian pelipis dan matanya. Kantung mata terlihat menghitam dan menggantung. Kontras sekali dengan wajahnya yang sepucat pasir. Jelek sekali.

Tanganku bergerak mengikuti garis-garis lelah wajahnya perlahan. Rasa sesal dan bersalah yang amat sangat kembali menumpuk di hatiku. Setitik air mata jatuh ke pipiku tanpa kusadari.

Bagaimana bisa kamu tidak melihat keadaan namja-chingu mu yang sudah selelah ini? Bagaimana bisa… kamu tidak memperhatikannya?

Atau…

Aku memang tidak pernah memperhatikannya?

Huwaaaa… rasanya aku ingin menangis lagi. Jeongmal mianhae, oppa…

Hooaahhmm…

Mulutku menguap lebar. Ngantuk sekali. Rasanya ranjang oppa dan Dae oppa begitu menggoda… apa aku tidur di sampingnya saja?

***

 

Daesung POV

Aku membuka mataku perlahan. Silau. Refleks mataku menutup kembali untuk menghalangi sinar yang berlebihan masuk ke dalam mataku. Setelah mencoba beradaptasi dengan sinarnya, aku membuka mataku kembali.

Dimana aku?

Kasur? Bagaimana bisa? Bukankah kemarin aku sedang belajar?

Aku mulai mencoba mengumpulkan ingatanku yang tercecer.

Ah iya, aku kemarin… pingsan…

Lho?! Pingsan? Lalu siapa yang mengangkatku ke kasur?!

Kepalaku masih terasa pusing, walau hanya sedikit. Tanganku bergerak menuju dahiku, dan menemukan sesuatu tertempel di sana.

Kain? Siapa yang…

Aku mencoba duduk dari posisi tidurku dan memutar pandanganku ke sekeliling kamar. Pandanganku terhenti ketika melihat sesuatu tergeletak di lantai.

Eh, bukan. Seseorang tidur di lantai.

Aku berusaha mengenali orang tersebut. Sejurus kemudian, mataku membesar, sebesar yang aku bisa.

Minji?!

Apakah dia yang mengangkatku dan mengompresku??

Aku tersenyum kecil melihat gadisku yang masih nyaman tertidur di lantai.

Perlahan aku beranjak dari kasurku dan berjalan ke arahnya. Kemudian aku menyelipkan kedua tanganku ke tengkuk dan lututnya dan ulai mengangkatnya ke ranjangku.

***

Normal POV

Harum…

Indera penciuman Minji bekerja lebih cepat dari matanya. Bau harum yang masuk ke dalam rongga hidungnya membuatnya tersadar dari tidurnya.

Silau.

Dia menutup matanya sejenak sebelum kemudian dia membuka matanya lagi. Dia mengalihkan pandangannya ke sekeliling.

Kok aku bisa di atas? Bukankah harusnya oppa yang ada di sini? Kenapa ada bau…

Jangan-jangan…

Dengan cepat Minji tersadar akan sesuatu. Dia langsung bangun dari tidurnya dan mencoba untuk duduk. Matanya dengan cepat bisa melihat Daesung sedang di dapurnya. Memasak.

Perlahan dia beranjak dari kasur dan berjalan mendekati Daesung tanpa lelaki itu sadari. Begitu jarak mereka hanya terpaut beberapa senti, rasa lega, rindu dan sesal Minji seketika membuncah. Tangannya langsung bergerak memeluk Daesung dari belakang. Disandarkannya kepalanya di punggung Daesung yang lebar.

Spontan Daesung tersentak. Jantungnya langsung berdegup kencang. “Minji?”

“Mianhae, oppa…”

Daesung terdiam. Mencoba mencerna apa yang terjadi dan apa yang sedang gadis itu coba katakan.

Perlahan air mata Minji kembali menetes setelah sebelumnya menggenang di sudut matanya. Dia mempererat pelukannya terhadap Daesung. “Jeongmal mianhae, oppa… hiks… Aku benar-benar menyesal. Jeongmal mianhaeyo…”

Daesung tersenyum kecil tanpa suara. Rupanya gadis itu menyesal. Tangannya perlahan menyentuh tangan Minji yang memeluknya dan mencoba melepaskan pelukannya. Dia berbalik hingga mereka kini berhadapan dan hampir tanpa sekat. Kemudian tanpa berkata apapun, Daesung mengangkat dan menggendong tubuh Minji yang ringan. Lalu mendudukkannya dengan lembut di atas meja makan. Perlahan ibu jarinya mengusap kedua mata Minji yang berair dan tersenyum lembut hingga menyisakan segaris bulan sabit di matanya. “Sudah, jangan menangis…”

Minji tak bisa berkata apapun. Masih tercengang dengan apa yang baru saja Daesung lakukan padanya.

“Aku masih membuat bubur untuk kita. Tunggu sebentar, habis ini sudah jadi.” Daesung berbalik dan mendekat ke arah panci besar yang berisi bubur yang masih dia masak.

Minji menatap punggung Daesung yang asyik memasak. Rasa bersalah kini semakin bertumpuk di tubuhnya. Mengapa lelaki ini begitu baik padanya? Dan mengapa dia masih belum bisa menjadi yeoja-chingu yang baik untuk lelaki ini?

Tak lama kemudian, Daesung sudah kembali ke hadapan Minji dengan semangkuk bubur hangat. Lalu dia menyodorkan sesendok bubur ke arah Minji. “Ayo, makan…”

Kontan Minji kebingungan dan mencoba berkilah. “Bukankah harusnya…”

Daesung tersenyum dan menyela ucapan Minji. “Ini ucapan terima kasihku karena merawatku semalaman.”

Minji tersenyum geli dan perlahan mengambil alih sendok dan mangkok yang dipegang Daesung. Lalu dia meletakkan semuanya di sampingnya. Kedua tangannya perlahan bergerak dan melingkar di punggung Daesung. Pelukan Minji membuat tubuh Daesung semakin erat padanya. “Mianhae, oppa… Aku belum bisa menjadi yeoja-chingu yang baik untukmu…”

Daesung terkejut sesaat ketika Minji memeluknya. Namun seulas senyum menghiasi wajahnya ketika Minji mulai berkata-kata. Tangannya mengelus helaian rambut Minji yang hanya sebahu dengan lembut. “Kamu tak perlu menjadi yeoja-chingu yang baik. Because I love you the way you are…”

Kedua sudut bibir Minji terangkat. “Gomawo, oppa… Saranghaeyo…”

Perlahan Minji melepaskan pelukannya dan menjauhkan badan Daesung darinya. Tangannya mengambil mangkok bubur yang sejak tadi di sampingnya. Kemudian dia menyendokkan isinya dan menyodorkannya pada Daesung. “Biarkan aku merawatmu, oppa. Sekarang, ayo buka mulutmu!”

Daesung tertawa kecil melihat tingkah yeoja-chingunya. “Nee nee. Tapi tiup dulu, Minji. Itu panaaasss…”

“Ah iya!” dia mendekatkan sendoknya dan meniupkannya pelan-pelan.

“Minji, kenapa kemarin kamu tidur di lantai?”

Seketika semburat merah memenuhi wajah Minji. “Karena aku tidak tenang meninggalkanmu sendirian dan belum cukup umur untuk tidur satu ranjang bersamamu.”

“Ehh??! Huahahahahaa…!”

______________________________________________

fin.

Yakk, bagaimana bagimanaaa?

semoga puas, soalnya tiba-tiba ide ini muncul dan aku bikinnya kilat. jadi kalo lebay, geje, ato ga kerasa feelnya, jeongmal mianhae yaaa…

chinguuu, please comment yaa !! please pleaseee…

jangan kayak yang di Great Confession. yang baca di hari pertama sampe 90 orang, yang komen cuman 13 orang. hiks… T____T
nangis dehh…

jadii, aku akan ngelanjutin Great Confession nya kalo yang komen di sini banyak. wkakakakak. *tawa setan* XD~

udah ahh…

gomawoyoooooooo………!!! ^^/