Author : Lolillo

Title : Heart’s Desire

Length : Continue

Genre : fantasy, romance

Cast : Sooyun (own character), Junho (2PM)

Support cast: MBLAQ member & 2PM member (Seungho, G.O, Mir, Joon, Cheondoong, Taecyeon, Chansung, Junsu, Nichkhun, Wooyoung), Jung Jihoon (Rain), Park Jinyoung (JYP), Miss A Min.

Hallooooo, ini pertama kalinya aku bikin ff dan mempublishnya, maaf banyak banget kekurangannya. Hehehe😀

Disini karakter semua cast murni karanganku, aslinya mereka nggak jahat dan menyeramkan kayak gitu kok. :p

kalo berkenan boleh dikomen, aku menunggu kritik dan saran yang membangun..

Happy reading😀

Part 1

Aku… haus, dan lapar.

Sepertinya, akan ada seseorang yang nasibnya buruk malam hari ini.

Aku masih terduduk, di bangku taman ini, dengan penerangan seadanya. Mobil-mobil masih banyak yang lalu-lalang di jalan kota malam ini. Aku menanti seseorang tak beruntung itu. Jantungku terasa berdebar hebat, aku nggak pernah berburu sendirian seperti ini.

Mataku menangkap seseorang berjalan terseok-seok kearahku, tangannya menggenggam botol minuman keras. Ah, pemabuk. Dia pilihan terakhir jika malam hari ini nggak ada orang lain yang lebih baik keadaannya.

Ah, gadis yang baru keluar dari minimarket itu! Dia sepertinya seusia denganku. Aku jadi nggak tega. Tapi, nggak ada orang lain lagi di sini.

Aduh, tiba-tiba aku merasa sakit kepala hebat dan pandanganku mengabur. Argh, terpaksa, gadis itu mungkin memang benar-benar nggak bernasib baik malam hari ini. Daripada aku tiba-tiba tergeletak di taman ini sampai pagi, dan tentunya aku akan langsung hilang bagai asap besok paginya karena terpanggang sinar matahari.

Aku membenarkan letak topiku, dan kacamata dengan lensa berbentuk segiempat dan berbingkai hitam yang bertengger di wajahku.

“Maaf, apa kau bisa membantuku?” Aku menghampiri gadis itu, ia baru saja menaruh belanjaannya di keranjang depan sepedanya. “Aku kehilangan kalung, dan kalung itu pemberian orang tuaku. Bisa bantu aku mencarinya di taman sana?” Aku menunjuk lokasiku duduk tadi.

“Tentu,” Ia tersenyum, kemudian berjalan mengikutiku. Ah, gadis ini baik sekali. Sayang sekali waktunya di dunia ini nggak lama lagi.

“Bantu aku cari di bagian sini, ya. Aku cari di sana.” Kataku sambil menunjuk bagian taman yang sepi, dan temaram. Ia berjongkok dan mencari setiap sudut taman dengan berhati-hati, dan beruntungnya, aku menemukan sebongkah kayu yang sepertinya baru jatuh dari pohon di atasku ini.

“Maafkan aku gadis baik…” bisikku lirih, “tapi aku lapar.” BUAK! Aku menghantam punggungnya dengan kayu, membuatnya langsung tergeletak tak sadarkan diri di rerumputan. Aku langsung menyeretnya ke balik pohon yang berdiameter sangat besar.

                Oke, setelah memastikan keadaan benar-benar aman, aku mengeluarkan taring, dan mengigit leher gadis ini. Blah, darahnya nggak enak. Tapi aku tetap meminum darahnya. Setelah selesai, gadis ini kubaringkan di balik pohon. Kalau tubuhnya kuat, ia akan menjadi sepertiku, tapi jika tubuhnya nggak kuat, ia harus mengucapkan selamat tinggal selamanya pada dunia ini.

                Drrrrrttt… Handphone di saku jaketku bergetar panjang, tertera nomor Joon Hyung, “Yoboseyo, Hyungnim?”

                “Ya! Neo odiya?”

                “Mencari mangsa, Hyung.” Jawabku santai, “daripada aku terkena blood coma lagi dan merepotkan semua orang. Aku segera kembali ke rumah, tenang saja.” Kataku santai, lalu memutuskan sambungan. Aku menatap gadis itu sekali lagi, mengingat-ingat wajahnya, mungkin aku bisa berteman dengannya kalau dia sudah jadi sepertiku, seorang vampir.

*

                “Aku pulang…” Sooyun melepas sepatunya dan langsung mendapat tatapan aneh dari kelima orang di ruang tamu. “Kenapa kalian semua?”

                “Dimana kamu mencari mangsa?” Tanya Seungho sambil matanya mengikuti adiknya itu. Sooyun duduk di sofa lain, di sebelah Mir yang juga menatapnya penasaran.

                “Kota.” Jawab Sooyun santai. Ia melepaskan topi cap baseballnya dan rambutnya tergerai panjang dibawah bahu.

                “Kau… bisa mencari mangsa sendirian? Aku nggak percaya.” Mir menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kami sudah panik tau, aku kira kau kena blood coma lagi, makanya nggak pulang-pulang sampai selarut ini.”

                “Hampir, Hyung.” Sooyun memeluk bantal besar di sampingnya, “makanya kuputuskan mencari mangsa sebelum pulang.”

                “Bagaimana rasanya mencari mangsa sendirian? Ini kan pertama kalinya kau pergi mencari mangsa tanpa kami.” Joon buka suara.

                “Euh, darahnya nggak enak. Aku jadi mual sekarang.” Sooyun mengibaskan tangannya santai, “tapi aku tetap menghabisinya, daripada aku yang kenapa-napa.”

                “Memangnya seperti apa korbanmu?” Tanya Joon lagi.

                “Seorang gadis, kayaknya seumuran denganku.” Sooyun memutar bola matanya, berusaha mengingat, “ah, sudahlah. Aku mengantuk. Tidur duluan, Hyung.” Sooyun melempar bantal di pelukannya ke Mir, dan meninggalkan ruang tamu. Kelima Hyungnya masih saling berpandangan, berpikir hal yang sama.

                “Tentu saja darah yang ia rasa tidak enak,” Cheondoong buka suara, “dia kan… juga seorang perempuan…”

*

                “Target locked,” Bisik Joon pada G.O, “cewek dengan dress biru elektrik itu untukku, Hyung.” Katanya sembari memperhatikan seorang cewek yang tengah asyik melepas penat diatas dance floor. Tubuhnya bergerak mengikuti dentuman musik yang dimainkan oleh DJ di klub malam itu.

                G.O melirik sambil menenggak segelas minuman beralkohol, “temennya boleh juga, yang dress putih, itu milikku.” Bisiknya, lalu keduanya tersenyum simpul. Bola mata keduanya sama-sama berkilat merah.

                Malam itu Seungho, G.O, Joon, Cheondoong, dan Mir mengunjungi BlueDragon, salah satu klub malam eksklusif di Itaewon. Sepertu malam-malam sebelumnya, mencari mangsa manusia-manusia kurang beruntung yang masuk ke dalam perangkap mereka.

                Seungho menghampiri mereka, bola matanya yang berkilatan merah semakin lama semakin menghitam, tersamar oleh temaramnya ruangan tempat mereka berada sekarang. Ia mengusap-usap bibirnya dan tersenyum penuh arti ke G.O dan Joon. “Hyung, sudah selesai ‘berburu’?” Tanya Joon. Seungho hanya tersenyum, lalu memesan segelas minuman ke bartender.

                Vampir laki-laki, jika bisa, selalu mengincar seorang manusia berjenis kelamin perempuan untuk dijadikan mangsanya. Demikian juga dengan vampir perempuan. Jika mereka terpaksa memangsa darah manusia yang sejenis dengan mereka, darah yang mereka rasakan nggak akan enak di lidah mereka.

                Dan untuk membedakan vampir yang sedang lapar atau tidak, hanya perlu dengan meihat matanya. Vampir laki-laki yang kelaparan akan memiliki bola mata yang merah menyala, sedangkan saat mereka tidak mersa lapar, bola matanya menjadi kehitaman seperti manusia biasa.

                “Damn,” Cheondoong memukul meja bar lalu duduk di samping Seungho dengan wajah yang kesal, matanya berkilat merah. “mereka merebut mangsaku… lagi.”

                “Nugu?” Tanya Seungho.

                “Siapa lagi,” Cheondoong menunjuk dengan lirikannya. G.O, Joon, dan Seungho menoleh kearah yang ditunjuk Cheondoong, mereka melihat seorang cowok berbadan tegap dan rambut hitam cepak tengah asik menggoyangkan badannya di lantai dansa.

                “Taecyeon? Lagi?” G.O menahan tawanya, menggoda Cheondoong yang terlihat benar-benar kesal.

                “Sial, ingin kubakar hidup-hidup orang itu,” Cheondoong menggumam kesal, dari telapak tangan kirinya muncul sebuah aliran listrik kecil berbentuk bola yang makin lama makin membesar. Ia mengingat kejadian di BlueDragon beberapa waktu yang lalu, saat 6 vampir kakak-beradik itu tiba-tiba datang ke BlueDragon untuk mencari mangsa. Padahal klub ini, sudah menjadi ‘tempat kekuasaan’ Seungho dan adik-adiknya untuk mencari mangsa.

                “Ya! Jangan gegabah,” Seungho menarik tangan Cheondoong, “disini banyak manusia. Kau lupa kita nggak boleh menunjukkan kekuatan kita pada manusia?”

                “Tapi kalo dia dan kelima saudaranya bertingkah terus seperti itu, aku rasanya ingin membakar mereka semua.” Cheondoong meredam emosinya dengan segelas vodka.

                “Joon-ah, cewek dress biru elektrik itu incaranmu, kan?” Seungho bertanya dengan santai, “sepertinya kau harus bergerak cepat, atau Junho akan mendahuluimu.” Lanjutnya sambil melirik kearah adiknya yang pirang satu ini. Di tengah dance floor, terlihat Junho tengah mengajak cewek dengan dress biru elektrik itu untuk mengobrol.

                “Aish, adiknya pun bertingkah sekarang. Aku kesana dulu, mengamankan jatahku kali ini.” Joon bergabung dengan kerumunan di lantai dansa, nggak mau menyia-nyiakan waktu dan tentunya nggak mau mangsanya dimangsa duluan oleh Junho, atau vampir lain.

                Malam semakin larut, keadaan di dalam BlueDragon semakin ramai, para pengunjung berpesta seakan nggak ada hari esok. DJ tanpa henti menyuguhkan musik-musik yang ramai dan membuat semua orang terlarut dalam suasana pesta, dari mulai ikut bergoyang di lantai dansa, atau sekedar menghentak-hentakkan kaki mengikuti irama.

                “Hmmm,” Nichkhun mengendus udara di sekitarnya, “ada vampir lain disini.”

                “Seungho dan adik-adiknya? Aku melihat Mir disana, sepertinya ia sudah dapat mangsa.” Chansung mengambil kursi di samping Nichkhun, lalu melirik sekilas ke Mir yang sedang mengobrol dengan seorang cewek di sofa, menunggunya untuk masuk dalam perangkap.

                “Ini kan klub kekuasaan mereka, apa mereka tidak marah kita mencari mangsa di sini?” Tanya Wooyoung, kelewat polos.

                Junsu tersenyum licik, “memangnya mereka bisa apa? Mereka mau melawan kita? Mereka kan hanya berlima. Nggak akan berani.” Katanya meremehkan.

                “Tapi… bukannya Mir bukan anak bungsu? Maksudku, mereka kan punya 1 adik lagi.” Chansung berkomentar.

                “Paling-paling adiknya seorang penakut. Mana wujudnya? Nggak pernah terlihat.” Komentar Junsu lagi, merendahkan.

                “Seperti para Hyungnya, bukan?” Nichkhun menimpali, membuat 4 orang itu tertawa lebar sambil menenggak minuman beralkohol dari gelas-gelas tinggi.

                “Ah, aku butuh darah,” bola mata Junsu berkilat merah, lalu menebar pandang ke sekeliling BlueDragon. Matanya terhenti pada seorang perempuan yang duduk sendiri di bar, rambutnya diikat rapi ke belakang, membuat mini dress backless hitamnya terlihat sempurna. “Aku menemukan targetku, aku duluan.” Katanya santai, lalu berjalan menghampiri bar.

                “Kau sendiri?” Nichkhun menyenggol Chansung yang masih asyik mengamati dance floor dari pinggir. “Tidak ada gadis yang menarik?”

                Bola mata Chansung yang memerah mengikuti gerak-gerik G.O di lantai dansa, sedang mendekati seorang gadis dalam balutan dress putih. “Ada. Dan sayangnya G.O sudah mendekatinya duluan. Tapi nggak apa-apa, aku suka berkompetisi.” Katanya yakin, lalu melangkah menuju dance floor, merencanakan aksi yang bisa menjadi pertanda pengibaran bendera perang.

***