Author : Lolillo

Title :             

Length : Continue

Genre : fantasy, romance

Cast : Sooyun (own character), Junho (2PM)

Support cast: MBLAQ member & 2PM member (Seungho, G.O, Mir, Joon, Cheondoong, Taecyeon, Chansung, Junsu, Nichkhun, Wooyoung), Jung Jihoon (Rain), Park Jinyoung (JYP), Miss A Min.

Hallooooo, ini pertama kalinya aku bikin ff dan mempublishnya, maaf banyak banget kekurangannya. Hehehe😀

Disini karakter semua cast murni karanganku, aslinya mereka nggak jahat dan menyeramkan kayak gitu kok. :p

kalo berkenan boleh dikomen, aku menunggu kritik dan saran yang membangun..

Happy reading😀

Part 2

“BUAK!” Bruk. Tubuh Sooyun terbanting ke lantai setelah mendapat pukulan telak di wajahnya. Jihoon yang melihat anak bungsunya kembali kalah saat berlatih, menundukkan kepalanya sembari menghela nafas berat, lelah.

                “Sooyun-ah!”

                “Biarkan,” Suara berat Jihoon menhentikan langkah Cheondoong yang hendak membantu Sooyun berdiri. “dia masih kuat untuk berdiri sendiri, iya kan, Sooyun?”

                “N-ne, Appa.” Sooyun memaksa tubuhnya bangkit dan berdiri tegak. Bibirnya berdarah, yang kemudian ia seka dengan tangannya hingga mengotori baju latihannya yang berwarna hitam.

                Cheondoong menatap adik bungsunya iba, karena pukulannya, bibir Sooyun berdarah. Dan ini bukan pertama kalinya Sooyun diminta bertarung dengan kakak-kakaknya, dan selalu berakhir sama, Sooyun yang tumbang pertama kali.

                “Sooyun-ah,” Jihoon bangkit dari duduknya, dan menepuk pundak Sooyun, “Kau masih membuatku kecewa. Ayolah, jangan menjadi anak yang lemah.”

                “Jeosunghamnida, Ahboji-nim.” Sooyun membungkuk, “aku akan berlatih keras. Aku nggak akan membuatmu kecewa.”

                “Bagus,” Jihoon berlalu dan keluar dari ruang latihan, meninggalkan keenam anaknya yang masih dalam seragam latihan masing-masing.

                “Kau diam disini, akan kuambilkan kompres.” G.O berdiri dari duduknya, kemudian ikut berjalan keluar ruang latihan yang didominasi kayu warna coklat terang.

                Sepeninggal G.O, ruang latihan diselimuti keheningan, semua orang dalam ruangan sibuk dengan pikiran masing-masing. Mir dan Joon saling berpandangan, sesekali melirik Sooyun yang terduduk di lantai. Wajahnya memendam kekesalan pada dirinya sendiri, kenapa ia harus sebegitu lemahnya hingga dengan mudah dikalahkan begitu saja.

                “Cheondoong Hyung, harusnya kau nggak perlu memelankan tenagamu seperti tadi,” Sooyun buka suara sembari menerima handuk yang dibasahi air dingin dari G.O. “Kalau Appa tau, kau juga bisa kena masalah.”

                “Ya! Kau gila? Dengan tenaga segitu saja bibirmu sudah berdarah.” Cheondoong terduduk di samping Sooyun sambil menyeka peluh di wajahnya, “Kau mau pingsan lagi seperti waktu Seungho Hyung nggak sengaja membantingmu?!”

                “Ah, maafkan aku, Hyung. Aku yang terlalu lemah,” Sooyun makin menunduk, mengutuki dirinya. “Sampai kapanpun aku nggak akan membuat Ahboji bangga padaku. Dari lahirpun aku sudah dianggap bencana karena aku seorang perempuan.”

                “Sooyun-ah, sudahlah.” Seungho berkomentar, “bukan kau yang menginginkan untuk dilahirkan sebagai seorang perempuan ke dunia ini.”

                “Sudah, sudah. sana mandi,” Mir menambahkan, “Setelah ini kita langsung makan malam.”

                “Ne, Hyung.” Sooyun mengangguk, lalu menggerai rambutnya yang ia ikat dengan asal. Ia pun beranjak pergi dari ruang latihan, meninggalkan kelima kakaknya.

                “Kalau setiap latihan begini terus, aku bisa stress.” Cheondoong memulai pembicaraan, “Aku nggak mau memukul perempuan.”

                “Aku juga, kalian tau aku stress berat waktu melihat pipinya lebam akibat tendanganku.” Joon menimpali.

                “Tapi kita mau gimana? Setiap kali latihan, Ahboji pasti menyuruh salah seorang dari kita untuk bertarung dengannya. Menolak perintah Ahboji jelas nggak mungkin.”

                “Dan juga, Ahboji nggak bisa kupengaruhi,” G.O menambahkan. Mengingat kejadian saat mereka sedang berlatih, G.O yang memiliki kekuatan mempengaruhi pikiran orang, mencoba mempengaruhi pikiran Jihoon untuk tidak menyuruh Sooyun berlatih super keras. Tapi Jihoon mengetahuinya dan malah ‘menghadiahkan’ G.O sabetan tongkat kayu di punggung.

                Kelimanya masih terdiam, memikirkan yang terbaik untuk adik bungsu mereka…

*

                “Aw!” Joon mengaduh saat sengatan listrik kecil menjalar di tangan kirinya. Cheondoong iseng melemparkan bola-bola listrik kecil ke Joon, ia tertawa lebar melihat reaksi Hyungnya.

                “Ya! Kau kira aku nggak bisa membalas?” Joon mengeluarkan bola api kecil dari tangannya, yang makin lama makin membesar.

                “Hyung, jangan main api di dalam rumah, ah.” Sooyun, dengan satu jentikan tangan, menciptakan pusaran angin kecil yang meniup bola api di tangan Joon hingga padam.

                “Aigoo, aku bosan sekali,” Cheondoong membanting diri di sofa, di sebelah Sooyun yang sedang membaca buku. “Mir, sepertinya kau lapar. Bagaimana kalau kita berburu?”

                Mir yang sedang duduk tenang menoleh, bola matanya berubah kemerahan secara perlahan. “Ayo!”

                Cheondoong tersenyum, bola matanya juga sudah berkilat merah, tanda ia sudah kelaparan. “Hyung, mau ikut?”

                “Yuk, kita berburu. Kebetulan aku butuh darah malam ini.” Seungho mengiyakan ajakan Cheondoong sambil mengajak serta G.O dan Joon.

                “Hyung! Aku mau ikut.” Sooyun menutup buku yang dibacanya, lalu meletakkan bukunya di sofa dan berdiri dengan semangat, bola matanya berkilat kebiruan. Jika bola mata vampire laki-laki akan berubah warna menjadi merah saat ia kelaparan, bola mata vampire perempuan akan berwarna kebiruan saat mereka lapar.

                Sooyun menyembunyikan rambut panjangnya di balik topi kupluk, dan menggunakan kacamata untuk menyamarkan wajahnya. Poninya yang agak panjang juga ia biarkan menutupi wajahnya. Ia siap untuk berangkat.

                “Nggak, kau jangan ikut, Sooyun-ah,” Seungho menghentikan langkah Sooyun. Membuat adiknya ini langsung kecewa berat.

                “Waeyo?” Tanyanya sambil memasang muka cemberut.

                “Kau ini masih 17 tahun, Sooyun-ah. Klub itu kan untuk orang dengan umur 18 tahun keatas.” Lanjut Seungho.

                ”Ah, tapi aku ingin sekali ikut, Hyung! Aku kan juga mau tau bagaimana rasanya mencari buruan di klub malam. Nggak cuma mengandalkan kalian saja.” Sooyun bersikeras.

                ”Sudahlah, Hyung. Ajak dia ikut saja. Biar dia terbiasa berburu juga seperti kita. Urusan izin masuknya, aku bisa mengurusnya. Tenang saja.” G.O merangkul Seungho, lalu mengajak Sooyun juga masuk ke Mazda RX-8 hitam legamnya.

                “Gamsahamnida, G.O Hyung!” Sooyun melonjak kegirangan. Ia duduk di kursi sebelah kanan, sementara Hyung yang lainnya pergi dengan menggunakan mobil masing-masing. Malam ini akan jadi malam yang panjang…

*

                Sepanjang perjalanan, Sooyun mendengarkan cerita G.O tentang 6 orang vampir yang jadi musuh besar mereka dari dulu. Mereka adalah kakak-beradik Junsu, Nichkhun, Taecyeon, Wooyoung, Junho, dan Chansung. Dari waktu mereka sama-sama masih sekolah, keenam kakak-beradik ini nggak pernah bisa damai dengan mereka.

                ”Kita ajak berantem aja, Hyung.” Sooyun berkomentar asal, ”aku pasti menghajar setidaknya satu dari mereka.”

                G.O tertawa getir, “simpan saja tenagamu untuk hal yang lebih berguna. Nanti kalo mereka bener-bener sudah melewati batas, baru kita hajar. Lagipula, sempurnakan kemampuan berkelahimu dulu, Sooyun-ah.”

                Sooyun menunduk, mengingat kemampuan berkelahinya paling payah dibanding kelima kakaknya yang lain. Ia menengok ke jendela, melihat mobil yang dinaikinya ini berhenti di pelataran sebuah gedung bertingkat dua dengan arsitektur yang unik. Minimalis dengan bentuk gedung agak oval, dan berbentuk asimetris. Ada lampu neon bertuliskan ‘FlyingFish’ dengan warna-warna yang mencolok mata.

                “Aish, seenaknya saja mobil ini parkir mengambil banyak tempat seperti ini.” Omel G.O, ”Sooyun-ah, bisa kau geser mobil ini?”

                ”Tenang, Hyung.” Sooyun tersenyum kecil, ia membuka jendela, memusatkan pikiran, dan mengarahkan telunjuknya pada mobil yang ditunjuk G.O. Pelan tapi pasti, mobil itu terangkat dari tanah, bergeser sedikit ke kanan. Itulah kekuatan Sooyun, kekuatan angin. Ia bisa menghasilkan angin ribut hanya dengan jentikan jari, ataupun menggeser atau mengangkat sesuatu tanpa menyentuhnya, dan tanpa tenaga yang besar.

                Keenamnya melewati pemeriksaan dengan mudah, karena G.O dengan mudahnya mempengaruhi pikiran sang penjaga pintu sehingga Sooyun pun diperbolehkan masuk. Dentuman lagu yang diputar dari meja DJ sudah terdengar dari saat memasuki ruangan. Klub sudah mulai penuh dengan orang-orang yang ingin bersenang-senang malam hari ini.

                ”Hyung, ottokhe?” Sooyun menyengol lengan Mir yang berjalan di sampingnya, ”aku nggak mengerti bagaimana berburu disini.” ia menatap sekeliling ruang klub dengan ragu.

                ”Tunggu,” Joon mencegah saudara-saudaranya untuk melangkah berpisah, ia mengendus udara sekitar, ”mereka ada disini. Aku mencium bau darah yang berbeda.”

                ”Nugu, Hyung?” Tanya Mir.

                ”Keenam bersaudara itu, siapa lagi.” Jawab Joon.

                ”Yeah, FlyingFish kan daerah kekuasaan mereka.” Cheondoong menimpali datar.

                ”Lalu? Kita nggak boleh ada di sini? Mereka aja seenaknya mengganggu kita di BlueDragon, bukan salah kita kalau kita juga mengganggu mereka disini.” Seungho melenggang santai, ia langsung bergabung dengan kerumunan orang untuk mencari mangsa. Matanya sudah berkilat merah, ia sudah kelewat lapar.

                ”Ada vampir lain disini,” Junho mengendus udara pelan, lalu menebar pandang ke sekelilingnya, ”itu kan Mir?”

                ”Mana?” Tanya Wooyoung sambil menenggak segelas minuman beralkohol warna coklat, ”Ah, aku melihatnya. Juga ada Cheondoong di sebelah sana.”

                ”Jadi mereka berani kesini juga?” Chansung bergabung dengan mereka, ”mereka lupa ini daerah kekuasaan kita?”

                ”Mungkin mereka ingat, tapi mereka emang sengaja cari mati kesini. Ngeganggu aja.” Wooyoung beranjak pergi.

                ”Sebentar,” Junho mencegat Wooyoung, kembali menghirup udara dalam-dalam. “Ada bau darah yang… berbeda.”

                “Maksudmu?”

                “Ada vampir lain yang bau darahnya nggak familiar.” Junho menjawab yakin, ”siapa lagi kali ini yang mau mengganggu daerah kita, ya?”

                ”Ah, sudahlah. Aku ingin mencari mangsa saja. Lupakan vampir-vampir nggak penting itu, dan bersenang-senanglah, Junho-yah.” Wooyoung beranjak pergi disusul Chansung. Tapi Junho masih berusaha mencerna ini dalam pikirannya, kenapa bau darah ini begitu berbeda?

                Malam semakin larut, Sooyun kehilangan jejak kelima Hyungnya dan merasa asing dengan atmosfir di sekelilingnya. ia berjalan berkeliling, dan sesekali bergidik ngeri saat melihat ada pasangan yang sedang ­make out di sofa-sofa yang terletak di pinggrir ruangan. Ia memilih duduk di salah satu kursi tinggi bar, matanya berangsur semakin kabur, dan kepalanya terasa pusing berat.

                Pandangan mengabur dan kepala yang pusing berat adalah salah satu gejala awal vampir yang kekurangan darah, ia harus minum darah siapapun secepatnya sebelum kemudian jatuh pingsan. Dan fase inilah yang diberi nama blood coma. Jika vampir sudah terkena blood coma, hanya vampir dengan kekuatan menyembuhkan yang dapat menolongnya. Atau kemudian vampir yang nggak bisa diselamatkan akan ’terbakar’ dan berubah menjadi abu. Makhluk menyeramkan yang haus darah ini ternyata begitu rapuh.

                ”Hei, mau minum apa?” Seorang bartender cewek menyapa Sooyun, Sooyun menoleh dan menemukan seorang bartender cewek dengan poni rata dan rambut sebahu.

                ”Aku… aku baru pertama kali ke sini dan nggak ngerti mau pesan apa. Kau bisa buatkan yang enak? Jangan yang beralkohol tinggi ya, aku bisa tepar.” Jawab Sooyun dengan polos.

                ”Siap,” ia dengan cekatan meracik minuman dan menuangkannya dalam sebuah gelas berukuran sedang, ”ini minumanmu.”

                ”Gumawo.” Sooyun tersenyum kecil, dan menenggaknya sedikit. Apa kata Jihoon Appa ya kalo dia ketauan ikut Hyungnya ke klub malam gini? Minum minuman beralkohol pula.

                ”Ngomong-ngomong, namaku Min.” Si bartender itu tersenyum, mata sipitnya membentuk lengkungan yang sedikit tertutup poninya.

                ”Sooyun imnida,” Sooyun berusaha ramah.

                ”Aku bisa menebak, kau pasti kesini karena kelaparan kan?” Kata Min tiba-tiba, membuat Sooyun tersentak, lalu ia berpura-pura melihat jamnya, sudah jam 12 malam.

                ”Ke… la… par… an?” Sooyun terbata, jangan-jangan bartender ini tau dia vampir, ”ah, aku emang suka kelaparan tengah malam begini… memangnya bar ini jual makanan juga?”

                Min tertawa lebar, ”bukan itu! Maksudku… kau kesini untuk mencari mangsa, kan? Seorang manusia yang kau incar darahnya.”

                Apa?? Kok Bartender ini seperti tukang ramal, ya? Sooyun merasa seperti sedang ada di kantor polisi, diinterogasi karena melakukan sebuah tindakan kriminal. ”Kamu ini ngomong apa, sih? Aku nggak ngerti. Kau minum alkohol juga ya malam ini?”

                ”Dan aku bisa menebak lagi, kau ini seorang perempuan, kan?” lanjut Min.

                Uhuk uhuk uhuk! Sooyun tersedak oleh minumannya. Gila, kok dia baru kenal sama bartender ini beberapa menit dan cewek ini langsung tau rahasia-rahasia terbesar yang ia sembunyikan dari para manusia. Padahal kan sekarang ia memakai topi kupluk dan kacamata, memakai jaket kulit cowok, jeans, dan sneakers yang sama sekali nggak menunjukkan ia perempuan.

                Sooyun mendekatkan wajahnya ke Min, lalu berbisik, ”kamu ini… tukang ramal?”

                Min tertawa lebar, terlihat bersahabat, tapi masih membuat Sooyun waspada, ”tenanglah. Aku ini sama sepertimu, vampir.”

                ”Jinjja?” Raut muka Sooyun berubah, ia menemukan teman! ”Tapi, kok kamu bisa tau kalo aku mau mencari mangsa disini? Terus, kok kamu tau aku perempuan?” Sooyun berubah bawel seketika itu juga, kembali menjadi aslinya.

                ”Semua vampir yang kesini pastilah mencari mangsa,” jawab Min santai, ”lagipula, bola matamu berubah warna menjadi biru. Itu tandanya kau sedang lapar, butuh darah. Dan bola matamu berubah warna menjadi biru, bukannya merah. Dari situ aku tau kalo kamu itu perempuan. Dan juga, kekuatanku itu membaca pikiran orang.”

                Sooyun mengangguk-angguk pelan. Matanya adalah sesuatu yang paling tidak bisa ia sembunyikan saat ia menyamar menjadi laki-laki. Ia kan nggak bisa mengatur bola matanya agar berubah merah saat lapar, bukannya biru.

                ”Wajahmu pucat,” Min melanjutkan, ”sebaiknya kau cepat cari mangsa sebelum terkena blood coma. Masalahnya, kekuatanku bukanlah kekuatan penyembuh, jadi saat kau terkena blood coma, aku tidak bisa membantumu.”

                ”Aku benci meminum darah manusia, rasanya nggak enak.” Sooyun mengaku dengan jujur.

                ”Mwo? Apa aku nggak salah dengar? Baru kali ini aku mendengar pengakuan seorang vampir yang tidak suka darah manusia…”

                ”Biasanya, para Hyungku yang membawakan aku seorang manusia yang sudah pingsan. Aku tinggal mengigit lehernya dan menghisap darahnya. Aku hanya pernah sekali meminum darah manusia yang berhasil kubuat pingsan di taman kota. Tetep aja, rasa darahnya nggak enak.” Sooyun membuat ekspresi mual.

                ”Tunggu dulu,” Min memutar matanya, ”seperti apa korban-korbanmu?”

                ”Nggak tentu, terkadang seorang cewek berseragam sekolah, seorang ibu-ibu pengantar susu, atau anak-anak perempuan yang kehilangan ibunya di supermarket.”

                ”HAHAHAHA!” Min terpingkal-pingkal, membuat kening Sooyun mengerut heran, apanya yang lucu?

                ”Kau ini polos sekali, ya! Tentu saja nggak enak, yang kamu hisap darahnya itu kan semua perempuan!” Min berkata disela tawanya.

                ”Maksudmu? Memangnya salah?”

                ”Kita ini kan juga perempuan, Sooyun-ah. Vampir perempuan itu emang nggak akan tertarik dengan darah perempuan. Harusnya kau itu harus minum darah seorang laki-laki, bukan perempuan. Hyungmu itu kan… laki-laki. Pantas mereka mencari korban perempuan.”

                ”Ooohhh…” Sooyun tertawa getir, mentertawakan diri sendiri, ”pantas stok darah di rumahku nggak pernah enak, pasti itu darah perempuan semua.”

                ”Memangnya… Kau… nggak pernah meminum darah laki-laki?” Tanya Min hati-hati.

                Sooyun menggeleng, raut mukanya kembali keruh, ”Ahboji menyuruhku menjadi anak laki-laki. Memanggil kakak-kakakku dengan sebutan ’Hyung’, meminum darah yang rasanya nggak enak itu, dan bertingkah laku seperti anak laki-laki.”

                ”Omo,” Min terkejut, ”kasian sekali kau…”

                ”Min-ah, jangan bilang ke orang-orang lain kalau aku ini perempuan, ya.” Sooyun memasang raut memohon.

                Min mengangguk, lalu tersenyum lebar, ”kau adalah vampir perempuan paling ramah yang pernah kutemui, Sooyun-ah. Rata-rata vampir perempuan yang kesini selalu bertindak serakah dan menghabiskan mangsa-mangsa laki-laki untuk mereka sendiri. Kau tau, karena aku harus bekerja sebagai bartender disini, terkadang aku nggak kebagian mangsa.”

                ”Gini aja, karena kamu sudah menemaniku mengobrol, aku akan mencarikan untukmu mangsa seorang laki-laki.” Lanjut Min, ”cowok itu gimana?” bisiknya. Melirik cowok berwajah agak kaukasoid dan berbadan tinggi tegap yang memanggilnya dari meja bar yang agak jauh dari Sooyun.

                Keduanya tersenyum penuh arti. Lalu bartender itu membuatkan minuman pesanan si cowok hispanik ini, dan nggak lupa membubuhkan sebungkus kecil bubuk putih pada minumannya. ”tunggu 5 menit, dan dia akan langsung nggak sadarkan diri.” Min tersenyum penuh arti.

                Sooyun mengembangkan senyum, lalu tiba-tiba punya ide, ”eh, gimana kalo kita bagi dua?”

*

                ”Sebotol Jack Daniels,” Taecyeon menghampiri meja bar, lalu melirik sekilas ke Sooyun yang tertidur di meja bar, ia beralih ke Min, ”Siapa dia?”

                ”Pengunjung biasa,”Jawab Min cepat, berbohong.

                ”Kau nggak menjadikan dia mangsamu? Mumpung ia nggak sadar gitu.” Taecyeon mengeluarkan senyum liciknya.

                Min hanya menggeleng, ”dia beruntung, aku sudah selesai dengan mangsaku saat dia datang dan memesan minuman disini.”

                Taecyeon beranjak pergi, saat tiba-tiba ia berpapasan dengan Cheondoong. ”Taecyeon-ah! Darah cewek berbaju kuning terang itu sangat enak, sayang sekali kau nggak bisa merasakannya. Aku sudah menghabiskannya.” Katanya dengan senyum lebar, bangga bisa membalas dendam pada cowok di hadapannya ini. Memangnya hanya dia yang bisa merebut mangsa incaranku, aku juga bisa merebut incarannya! Batin Cheondoong dalam hati.

                Taecyeon mengepalkan tangan karena kesal, namun ditahannya, ”kau… beruntung kali ini. Lain kali, aku nggak akan mengizinkanmu menginjak tempat ini.”

                ”Oh ya? Kau pemilik tempat ini? Hah?” Lanjut Cheondoong menantang, ”keamanan di depan saja mengizinkanku masuk ke sini, artinya aku bebas disini, dan kau… nggak bisa menghalangiku.”

                ”Aku nggak sedang ingin membuang-buang kekuatanku untuk menghajarmu, Cheondoong-ah. Kau beruntung. Tapi jika kau dan saudara-saudaramu berani ke sini lagi,” Taecyeon membuat gerakan memotong lehernya, dan menatap Cheondoong tajam. Lalu pergi meninggalkannya membawa sebotol minuman keras di tangan.

                ”Sooyun-ah?” Cheondoong menemukan sosok yang familiar saat ia hendak memesan minuman, ”Sooyun! Bangun!” Katanya panik, takut adiknya ini kena blood coma, karena nggak bisa mencari mangsa kali ini.

                ”Tenanglah, adikmu hanya tertidur.” Min buka suara sambil merapikan gelas-gelas di bar, tau isi pikiran Cheondoong. ”dan aku tidak membuatnya mabuk, dia hanya tertidur setelah merasa kekenyangkan sehabis menghisap darah seorang korban kami.” Lanjut Min saat tatapan aneh Cheondoong ditujukan kearahnya.

                ”Kau…”

                ”Aku juga vampir, seperti kalian…” Min mmencoba tersenyum, mencairkan suasana. ”Dia juga hampir terkena blood coma, untung saja tadi aku bisa mencarikannya seorang laki-laki untuk dijadikan mangsa.”

                ”Gamsahamnida,” Cheondoong tersenyum simpul, ”kau—”

                ”Kau tenang saja, rahasia Sooyun pasti aman di tanganku.” Potong Min mengerti apa yang hendak dikatakan Cheondoong.

                ”Ne, terimakasih banyak telah menjaga Dongsaengku.” Cheondoong kemudian memapah Sooyun yang setengah sadar.

                ”Sampai jumpa, Sooyun-ah!” Min melambaikan tangan dengan ceria. Lalu melanjutkan aktivitasnya merapikan meja bar dan membuatkan pesanan beberapa pelanggan. Malam berangsur pagi, dan beberapa orang di ruangan sudah tepar karena mabuk.

                ”Itu tadi siapa?” Tanya Junho sambil duduk di kursi tinggi bar, ia dan kelima saudaranya memang masih punya hubungan keluarga dengan Min, sehingga keenamnya akrab, dan kebetulan mereka sering bertemu di FlyingFish untuk sama-sama mencari mangsa.

                ”Itu adiknya lah, siapa lagi.” Min menjawab santai tanpa menoleh, sibuk mengelap botol stainless steel.

                ”Adiknya Cheondoong?” Ulang Junho.

                ”Iya,” Min mengangguk, ”kenapa memangnya?”

                ”Kenapa kamu nggak bilang dari tadi? Ah, aku kan ingin tau seperti apa adik mereka. Hei, sebutkan seperti apa adik bungsu mereka.”

                ”Hmmm…” Min berusaha berpikir, ”lumayan tampan.” Min menopangkan dagu sambil membuat raut muka berkhayal, bohongan tentunya.

                ”Adiknya itu laki-laki kan, ya?” Tanya Junho lagi.

                ”Enggg—Iyalah! Masa’ seorang perempuan? Kalo perempuan kan aku nggak mungkin bilang dia tampan.” Min berusaha menjawab dengan hati-hati. ”memangnya kenapa sih?”

                ”Nggak, hanya saja… hari ini aku mencium darah yang berbeda. Nggak familiar. Mungkin bau darah adik bungsu mereka. Tapi entah kenapa bau darahnya begitu berbeda.” Jawab Junho masih bertanya-tanya dalam hatinya. Vampir memang memiliki bau darah yang khusus, dan biasanya, seorang vampir lebih dapat membedakan bau darah lawan jenisnya.

                ”Ah itu mungkin karena dia nggak pernah bertemu denganmu, sehingga bau darahnya terasa nggak familiar.” Min menyambar dengan cepat. ”aku harus membersihkan dapur dulu, aku ke belakang ya.” Min segera mohon diri, tau kalo ia masih bertahan disitu, Junho masih akan bertanya macam-macam dengannya. Cowok ini begitu penasaran, kayaknya ada sesuatu yang janggal…

*