Annyeoongg!!

Okee. Ini request dadakan dari seorang reader. Hum… kenapa aku mau langsung bikinin? Karena ini juga dalam rangka menghibur Dae oppa yang tertimpa musibah. Hiks… T____T
#bestrongdaesung !!

Semoga aja, Dae oppa ngerti bahasa Indonesia, terus mampir ke fflovers, dan baca ff ku ini. Karena FF ini memang aku bikin buat dia.

FF ini, akan berlatar seperti yang diceritakan di berita yang simpang siur di berbagai portal. Namun aku adaptasi ke dunia Daesung yang aku buat. Yaitu orang biasa yang punya pacar bernama Minji.🙂

Sudahlahh. Begitu saja intro dariku…🙂

Enjoy reading~!!

_______________________________________________

Normal POV

“Terjadi kecelakaan di Jembatan Yanhwa, Seoul…”

Minji membiarkan televisinya mengoceh sendiri dengan berita-berita yang hanya dia dengarkan sepintas lalu. Konsentrasinya tetuju pada tugas-tugas sekolahnya yang menumpuk tinggi. Sesekali dia berhenti sejenak untuk berpikir, namun setelahnya tangan kanannya mulai menari di atas kertas-kertasnya.

“Melibatkan seoang pengendara motor yang belum diketahui namanya dan meninggal, supir taksi Kim Hyung Bin dan Kang Daesung…”

Spontan Minji tersentak begitu kedua telinganya mendengar nama seseorang. Jantungnya seketika berdetum cepat, terkejut. Dia langsung menghentikan pekerjaannya dan mengalihkan konsentrasinya ke arah televisi.

Kang Daesung?! Dae oppa?!

“Pada pukul 1:28, Kang Daesung sedang mengemudi di jalur pertama dari Hapjeong-dong ke arah Yangpyung-dong di jalan 4 jalur. Dia mengemudi dengan kecepatan 80km per jam dan menabrak sebuah taksi yang berhenti mendadak karena sopir taksi melewati seorang pengendara sepeda motor yang pingsan di jalan dan berusaha untuk menghindar agar tidak menabraknya…”

Tubuh Minji melemas. Seluruh tulangnya seolah melebur dan otot-ototnya meluruh ke lantai. Matanya seketika terbelalak, dan tangannya yang bergetar mencoba menutup bibirnya, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Jantungnya berdegup sangat cepat. Nafasnya tiba-tiba tercekat, rasanya tenggorokannya melarangnya untuk mengambil oksigen.

Ya Tuhan, Apa-apaan ini?! Kecelakaan?!! Dae oppa?!

Dengan cepat Minji menyambar ponselnya dan menekan beberapa tombol. Tak lama kemudian, nada panggil mulai terdengar.

Tak ada jawaban.

Astaga! Apa lagi ini?!

Kedua mata Minji kembali ke arah televisi. Gadis itu berusaha sangat keras mencerna apa yang berita itu katakan, dan mencoba untuk focus. Bagaimanapun dia perlu memastikan berita yang baru saja meremukkan hatinya. Tubuhnya kini mulai bergetar hebat, pikirannya sudah melayang entah kemana. Dan yang pasti, pikirannya bukanlah pikiran yang baik.

“Saat ini, Kang Daesung dan Kim Hyun Bin sedang dalam pemeriksaan di kantor Polisi Youngdong yang memungkinkan dirinya mengemudi dalam keadaan mabuk…”

Mabuk?! Tidak mungkin Dae oppa mabuk!! Menyentuh alkohol saja dia tidak pernah!

Youngdong?! Mereka bilang Youngdong?

Minji benar-benar panik. Dia bergegas mengambil jakenya dan berlari keluar apartemen dengan tergesa. Pikirannya hanyalah satu, dia harus segera sampai ke kantor polisi dan memastikan semuanya!

Bahkan di dalam taksi yang dia tumpangi, pikiran Minji benar-benar tak bisa tenang. Da menundukkan kepalanya, memejamkan matanya seerat-eratnya dan meremas tangannya untuk meredam getaran yang menerjang seluruh tubuhnya.

Ya Tuhan, lindungi Dae oppa…

***

Minji berlari menyerbu kantor polisi yang kini mulai ramai dengan wartawan yang ingin meliput berita lebih lanjut tentang kecelakaan Daesung. Dia menyelip diantara kerumunan hingga dia berhasil lolos dan masuk ke dalam kantor. Matanya berputar mengelilingi ruangan dengan liar. Kekhawatiran yang membuncah membuatnya seperti orang gila yang tersasar di kantor polisi. Pandangan matanya seketika terhenti pada satu lelaki yang menelungkupkan wajahnya di depan meja yang berhadapan dengan polisi.

“Dae oppa?!”

Daesung langsung mengangkat wajahnya dan menoleh kea arah suara. “Minji?”

Minji berlari ke arahnya dengan tergopoh. “Gwenchana?”

Lelaki itu bisa melihat kekhawatiran yang amat sangat di wajah yeoja-chingu nya itu. Dia tidak ingin ada membuat gadis itu lebih khawatir akan dirinya. “Gwenchana, Minji.” Daesung tersenyum kecil. “Kenapa kamu ada di sini?”

“Aku mengkhawatirkanmu, oppa…” ada nada kelegaan di sana. Namun tak banyak.

“Kang Daesung, silakan ikut kami.” seorang polisi memanggil Daesung dan membuat kedua orang itu kontan sedikit terkejut.

Daesung beranjak dari kursinya dan membelai rambut Minji lembut seraya tersenyum. “Minji, aku harus diinterogerasi dulu. Mungkin akan lama. Kamu pulang duluan saja.”

Minji menggeleng keras dan menatap lekat lelaki di depannya itu hingga dia bisa melihat bayangan dirinya yang memantul di sana. “Aku tidak akan pulang, oppa…”

“Kamu…”

“Sudahlah, oppa. Pergilah…” gadis itu membalikkan tubuh Daesung dan menepuknya pelan. Berharap apa yang dia lakukan dapat memberikan sedikit semangat untuk lelaki itu. “Aku akan menunggumu di sini.”

Daesung berjalan menjauhi Minji dan mengikuti polisi itu berjalan menjauh. Daesung berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, menatap yeoja-chingu nya sekali lagi. Minji mengepalkan kedua tangannya ke udara dan berbisik tanpa suara. Namun Daesung bisa mengerti apa yang gadis itu coba katakan dan tersenyum. Kemudian dia berbalik kembali dan menghilang dari balik pintu.

***

Minji POV

Aku duduk di salah satu kursi kosong yang ada di ruang tunggu. Menunggu Daesung oppa, namja yang sangat aku cintai. Gurat-gurat kekhawatiran pasti masih memenuhi wajahku, tak sedikit pun berkurang walaupun aku telah bertatap muka dengan Daesung oppa.

Aku tahu, apa yang dirasakan oppa, sangat berbeda dengan apa yang dia katakan padaku. Pasti oppa sangat tertekan. Seperti dunianya telah runtuh seketika.

Aku tahu, dia pasti tertekan. shock. menyalahkan dirinya sendiri atas semua yg telah terjadi, walaupun itu bukan salahnya.

aku tahu, dia pasti sedang hancur sekarang…

Aku tahu, dia hanya berpura-pura tersenyum pada dunia, seolah ingin menenangkan semua orang yang khawatir padanya.

Aku tahu…

***

“… Minji…?”

Seseorang menggoyang-goyangkan pundakku, membuatku sedikit demi sedikit mendapatkan kesadarnku kembali. Perlahan aku membuka mataku. Yang pertama kali tertangkap oleh mataku adalah seseorang dengan wajah yang menyiratkan kekhawatiran. Daesung oppa.

Aku mengusap wajahku yang masih setengah sadar. “Oppa? Sudah selesai?”

Dia mengangguk. Masih dengan senyuman kecil yang tersungging di wajahnya. Senyuman yang terlihat memaksakan.

Aku benci senyuman itu.

Jangan. Jangan tersenyum. Aku tidak suka dengan senyuman itu. Jangan membuatku lebih tersiksa dengan senyuman yang kamu paksa untuk kamu perlihatkan padaku.

Aku mohon. Berhentilah tersenyum…

“Sudah. Ayo pulang. Kamu sudah menungguku lima jam di sini…”

“Nee.” Aku beranjak dari kursi dan meraih tangan yang terjulur padaku.

***

“Minji, tidurlah… “ Oppa mengelus rambutku lembut. Kedua sudut bibirnya masih terangkat.

Senyum yang sangat kontras dengan tatapan matanya yang sendu dan penuh kesedihan. Aku biasanya sangat menyukai senyumnya. Namun hari ini tidak. Aku sangat muak dengan senyum yang selalu dia paksakan.

Aku benci!

“Aku tidak…”

“Minji, ini sudah pagi…” dia menyela kata-kataku. “Tidurlah…” kemudian dia berbalik menjauhiku.

Semua ini membuatku muak. Tak bisakah kamu jujur padaku tentang perasaanmu, oppa?!

“CUKUP!!” aku berteriak padanya.

Kontan langkahnya terhenti. Dia kembali bebalik padaku dengan tatapan heran. “Wae?”

Aku berlari ke arahnya. “Aku yang harusnya bertanya padamu, oppa! Mengapa kamu tak bisa jujur padaku?!”

“Maksudmu??”

Tanganku dengan cepat memeluk lehernya. Badannya yang lebih tinggi dariku membuat kakiku harus berjinjit. Membuatnya tersentak. “Oppa, aku mohon. Berhentilah tersenyum. Berhentilah memaksakan dirimu untuk tersenyum…” Air mata yang sudah coba aku tahan akhirnya meleleh dan jatuh ke pipiku. “Aku ini yeoja-chingu-mu oppa… biarkan aku tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan. Kamu tak perlu menyembunyikan apapun dariku…”

***

Daesung POV

Ya Tuhan, aku benar-benar ingin pergi dari semua ini. Sungguh, Tuhan…

Lebih baik, aku segera kembali ke kamarku dan pergi tidur. “Minji, ini sudah pagi… Tidurlah…”

Setelah itu, aku berbalik meninggalkan Minji. Aku tidak mau terlihat lemah di hadapan gadis itu. Bagamanapun aku tidak boleh membuatnya lebih khawatir tentangku.

“CUKUP!!”

Aku tersentak. Aku menghentikan langkahku dan bebalik padanya. “Wae?”

Dia berlari ke arahnya dengan pandangan yang tak bisa aku deskripsikan. Ada rasa sakit, sedih dan terluka di sana. Jangan menatapku seperti itu!

“Aku yang harusnya bertanya padamu, oppa! Mengapa kamu tak bisa jujur padaku?!”

“Maksudmu??”

Tiba-tiba tangannya bergerak memeluk leherku. Mataku terbelalak, terkejut dengan apa yang dia lakukan. “Oppa, aku mohon. Berhentilah tersenyum. Berhentilah memaksakan dirimu untuk tersenyum… Aku ini yeoja-chingu-mu oppa… biarkan aku tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan. Kamu tak perlu menyembunyikan apapun dariku…”

Aku terdiam. Kata-katanya langsung menusuk jantungku, menghentikan seluruh aliran darah yang mengalir ke seluruh tubuhku.

Ya. Aku mencoba tersenyum padanya. Mencoba membuat semua baik-baik saja di hadapannya. Tanpa kusadari, itu terasa sangat berat dan menyakitkan untukku, juga untuknya.

Beban di pudakku ini, bolehkah aku membaginya?

Perasaan hancur ini? Perasaan tertekan ini? Sedih ini? Bolehkah aku membaginya bersamamu, Minji?

“Oppa, aku mohon, lihat aku di sini. Aku di sini untukmu. Aku ada di sampingmu. Kamu tidak perlu berpura-pura di hadapanku. Aku mohon, lepaskan semua topengmu dan keluarkan apa yang kamu rasakan sekarang. Berikan semuanya padaku…”

Aku merasakan bulir air mata perlahan merembes ke sela serat bajuku.

Tanganku perlahan membalas pelukannya dan melingkar di punggungnya. Tanpa kusadari, perasaan tertekan, hancur, sedih, sesal yang dibebankan di pundakku perlahan meluruh seiring aku memeluknya. Tanpa bisa kutahan, air mataku jatuh ke pipiku tanpa sempat menggenang di kelopak mataku.

Perhatian gadis itu, membuat aku tak bisa lagi membendung semuanya. Semuanya membuncah dan berhamburan. Semuanya berebut ingin keluar dari benteng pertahananku sendiri. Semuanya. Hingga aku tak bisa lagi menahan semuanya.

“Aku takut, Minji…” kataku di sela air mataku yang mengalir satu per satu.

Minji mempererat pelukannya. “Ada aku di sini, oppa…”

“Aku takut… Aku takut pengemudi  itu benar-benar meninggal karena aku. Aku takut, keluarganya menuntutku. Aku takut orang-orang di luar sana akan menghujatku. Aku takut…” Aku mulai meracau di balik pelukannya.

“Sshh… Aku tahu…” dia mengelus kepalaku, mencoba menenangkanku. Namun aku tidak bisa tenang! Terlalu banyak yang aku tahan.

“Semuanya salahku! Semuanya salahku!” air mataku entah kenapa tak bisa berhenti mengalir. Rasanya seluruh pertahananku hancur tak bersisa. Membuatku menampakkan sisi lemahku sebagai lelaki.

“Oppa, ini bukan salahmu. Aku yakin, ini semua hanya kecelakaan biasa. Kamu hanya berada di waktu dan tempat yang salah…”

Aku terdiam mendengar kata-kata yang baru saja Minji ucapkan. Benarkah? Benarkah seperti itu?

“Apa kamu percaya padaku, Minji?”

“Tentu saja. Aku selalu percaya padamu. Bahkan jika seluruh dunia tidak percaya padamu, aku akan tetap percaya padamu.” dia berkata dengan mantap.

“Jeongmal gomawo, Minji. Aku hanya perlu kamu percaya padaku…”

Aku memeluknya lebih erat. Mencoba merasakan lebih banyak kehangatan yang diberikan gadis itu padaku. Lebih banyak, hingga bisa menghangatkan hatiku yang bahkan sudah mati rasa. Atau bahkan, mencoba menggunakan kehangatan itu untuk mengembalikan semua yang hancur pada diriku.

Gomawo, Minji…

***

 

Normal POV

“Oppa, ini coklat hangat untukmu…”

Daesung membalikkan kepalanya ke belakang, ke arah suara. Dia mengambil cangkir yang disodorkan kepadanya. “Gomawo…”

Minji berjalan menuju kursi panjang yang diduduki Daesung dan duduk di sebelahnya. Ikut menatap hamparan langit pagi di saat matahari baru saja menyinari bumi dari atap apartemen mereka. “Oppa tidak tidur?”

“Mana bisa aku tidur dalam keadaan seperti ini. Lagipula sudah pagi begini. Untung saja aku tidak ada jadwal jaga hari ini…”

“Oppa, harusnya oppa gunakan untuk tidur. Otak oppa butuh istirahat…”

Daesung mengalihkan pandangannya dan menatap Minji lekat. “Gomawo, Minji. Pasti tadi wajahku terlihat memalukan…”

Minji tersenyum kecil. “Tidak juga. Aku senang oppa berhenti memaksakan diri untuk tersenyum.”

“Aku jauh lebih lega sekarang. Jauh… jauh lebih lega. Aku pikir, aku bisa menghadapi semua ini dengan lebih baik.”

“Glad to hear that.” Seulas senyum menghiasi wajah Minji sekali lagi. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia merogoh ponselnya dari saku dan menekan beberapa tombol. “Aku mendapatkan pesan dari seseorang.” Dia menyodorkan ponselnya pada Daesung.

From : Youngbae Songsaengnim

Hei! Aku baru saja melihat berita. Apakah Daesung-ssi baik-baik saja sekarang? Aku benar-benar khawatir. Semoga dia baik-baik saja sekarang. Sampaikan salamku untuknya. Hwaiting!

Daesung tersenyum kecil. Namun bukan lagi senyum yang dipaksakan. Dia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Sama seperti yang Minji lakukan, dia memencet beberapa tombol dan menyerahkan ponselnya pada Minji.

From : Seunghyun Hyungnim

Daesung, gwenchana? Aku yakin kamu tidak bersalah. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Hwaiting!

Minji tersenyum kecil. Ternyata isi pesan yang hampir sama.

“Jadi, oppa… hwaiting!” dia mengepalkan kedua tangannya di udara dan mengucapkan kata-kata yang sama dengan yang dia ucapkan tanpa suara di kantor polisi.

Daesung tertawa melihat tingah yeoja-chingu nya. Tangannya terangkat untuk membelai rambut Minji. “Saranghae…”

Minji tidak menjawab, hanya tertawa kecil. “Sudahlah, lebih baik oppa tidur dulu… Apa perlu aku temani?”

Daesung menatapnya dengan tatapan nakal. “Boleh. Eh, tapi kamu kan belum cukup umur. Kamu mau tidur di lantai lagi, Minji?”

“Yaa!! Berhenti menggodaku! Oppa jahat!”

_____________________________________________

Fin.

Bagaimana bagaimanaaa??

Hum… semoga feel nya kerasa yaa. Soalnya kan aku bikinnya udah kayak gledek, kilat bangett…

aku menempatkan diriku sbg VIP, dan mungkin juga kalian para VIPs dalam diri Minji. jadi seolah2 yg aku yang ngomong ke Daesung, tapi lewat tokoh Minji.
humm… emosional nya keluar deh.. huks. T___T

Please please comment chingu !! please don’t be silent readers!

Soalnya aku bikin FF ini untuk Daesung oppa, karena itu, komen dari chingudeul seperti penyemangat juga buat aku (sebagai author) dan Dae oppa…🙂

Leave comment for support him!

Aku akan kecewa banget lhoo kalo chingu nggak komen…*nangis sendirian di kosan*

Sudahlah, let pray the best for him. Semoga masalahnya cepet selesai. Semoga kita bisa lihat lagi senyumnya yang memabukkan itu. Semoga…

Overall, gomawoyoooooooo…….!!!!!!