Author : Lolillo

Title : Heart’s Desire

Length : Continue

Genre : fantasy, romance

Cast : Sooyun (own character), Junho (2PM)

Support cast: MBLAQ member & 2PM member (Seungho, G.O, Mir, Joon, Cheondoong, Taecyeon, Chansung, Junsu, Nichkhun, Wooyoung), Jung Jihoon (Rain), Park Jinyoung (JYP), Miss A Min.

Halo! Ini pertama kalinya aku buat FF dan mempublishnya, jadi maaf ya kalo masih banyak banget kekurangannya🙂

Semua karakter di FF ini murni karanganku kok, aslinya mereka nggak jahat dan menyeramkan hahaha😀

Gumawo buat semuanya yang udah nyempetin baca, dan yang ngasih comment juga jeongmal gumawo!😀

Kritik dan saran sangat ditunggu, ya..

Happy reading!😀

 Part 3

Bruak! Mir terjatuh ke lantai kayu ruang latihan setelah Sooyun menghantamnya dengan tendangan tepat di rusuk kanannya. Nafasnya tersengal-sengal, dan ia melambaikan tangan dengan lemah, tanda sudah nggak sanggup melawan.

                ”Bagus, Sooyun-ah. Kau sedikit ada kemajuan.” Jihoon tersenyum kecil, sedikit puas.

                ”Hyung, gwaenchana?” Sooyun langsung berhambur ke Mir dan membantunya berdiri. Mir hanya bisa mengangguk, lalu berbaring di lantai sambil mengatur nafasnya.

                ”Teruslah berlatih, Sooyun-ah. Batas maksimal kekuatanmu bukan yang Appa lihat hari ini. Pasti kau masih bisa lebih kuat.” Jihoon beranjak dari duduknya, ”Dan kau, Mir, kau juga harus banyak berlatih.”

                ”Ne, Ahboji.” Mir terduduk dan mengangguk singkat. Pandangannya bertemu dengan Sooyun, yang menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah. ”mianhaeyo, Hyungnim.” Bisiknya tanpa suara.

                Jihoon berlalu dari ruang latihan, lalu berjalan pelan hingga ia sendirian di ruang kerja pribadinya. Perlahan ia duduk di kursi kerjanya, dan menatap lama sebuah foto dalam figura, foto seorang perempuan.

                Foto Son Chaeyoon, istri kesayangannya, yang 17 tahun lalu harus meregang nyawa karena melahirkan Sooyun. Sungguh waktu yang berat bagi Jihoon, kehilangan istri yang sangat disayanginya, dan mendapatkan seorang anak perempuan. Ia tidak mau punya anak perempuan, ia ingin anak laki-laki. Anak laki-laki yang nantinya akan menjadi kuat dan bersama kelima kakak laki-lakinya akan menjadi 6 vampir yang nggak terkalahkan. 6 vampir yang mengalahkan keenam vampir anak dari musuh lamanya, Park Jinyoung.

                Baik Jung Jihoon, maupun Park Jinyoung, membesarkan anak-anaknya dalam kebencian terhadap masing-masing pihak. Dan anak laki-laki mereka pun menjadi saling benci, dan selalu bersaing. Dan saat tau Chaeyoon mengandung anaknya yang keenam, Jihoon sangat menginginkan anak laki-laki yang juga bisa menjadi vampir yang kuat, namun kenyataan berkata lain, lahirlah seorang anak perempuan, 17 tahun yang lalu.

                ”Sepertinya, kau benar, aku salah terlalu meremehkannya sebagai anak perempuan. Chaeyoon-ah, kau tau tidak? Hari ini, Sooyun mengalahkan Mir dalam karate. Dan aku merasa, aku perlu mempercayainya, ia sudah berlatih dengan sangat keras.” Bisik Jihoon pada foto di mejanya.

*

                “Kalau kau berniat ke FlyingFish, jangan ajak Sooyun.” Seungho membuka pembicaraan di ruang makan. Hanya ada mereka berlima di ruang makan, adik bungsu mereka, seperti biasa, masih di tahan Jihoon untuk latihan karate ekstra.

                “Waeyo, Hyung?” Tanya Joon.

                “Jihoon Appa tau kalo kita kemarin mengajaknya ke FlyingFish. Dan dia marah besar padaku. Vampir-vampir lain nggak boleh melihat wujud Sooyun, bisa-bisa mereka tau kalo Sooyun itu perempuan. Kau kan tau FlyingFish itu klub kekuasaan Junsu dan adik-adiknya, dan keluarga mereka adalah musuh besar keluarga kita.”

                “Hyung,” Sooyun baru datang dari ruang latihan dan duduk di kursi kosong di samping Seungho, bola matanya berubah warna perlahan menjadi biru, “ke FlyingFIsh lagi, yuk! Aku butuh darah nih sepertinya.”

                “Ssssttt!” Seungho langsung membekap mulut Sooyun, “jangan kenceng-kenceng! Appa melarang keras kamu pergi ke FlyingFish.” Sooyun cemberut.

                “Minum ini saja kalau kau butuh darah.” G.O menyodorkan segelas darah segar yang belum ia minum. Sooyun menggeleng.

                “Nggak,” Sooyun menggeleng cepat, lalu menatap kelima kakaknya bergantian. “aku sudah tau kalo darah-darah segar yang disediakan untuk kita minum itu darah manusia perempuan semua. Aku kan perempuan juga, harusnya aku minum darah laki-laki. Pantesan aku nggak pernah suka minum darah.”

                “Kau… tau dari mana?” Tanya Mir sambil menghentikan makannya. Selama ini kan Jihoon menyuruh seluruh penghuni rumah untuk nggak memberi tau Sooyun tentang kecenderungan vampir ini. Agar Sooyun bener-bener bertingkah seperti vampir laki-laki.

                “Vampir lain,” Jawab Sooyun pendek, “makanya ayo kita ke FlyingFish.” Ia tetap memaksa.

                “Nggak, Sooyun-ah. Kau jangan pernah berani-berani ke sana sendirian.” Seungho beranjak dari duduknya dan meninggalkan meja makan. Satu persatu juga ikut meninggalkan meja makan.

                “Ck, Ah!” Sooyun berdecak malas, mencari ide. Kesal dengan perlakuan ayahnya yang selalu keras. Melarang ini dan itu. Padahal tujuannya hanya menyembunyikan dari dunia luar kalau ia anak perempuan, bukannya laki-laki. “Aku akan menyamar lagi, kok. Tenang saja. Lagipula, aku serasa mendapatkan kekuatan ekstra untuk berlatih sejak ke FlyingFish kemarin, G.O Hyungnim…”

                “Tetep nggak, Sooyun-ah. Jihoon Appa melarangmu pergi-pergi, terutama ke FlyingFish.” Tolak G.O tegas.

                Sooyun mengigit bibirnya, kesal. Semuanya saja dilarang sama Appanya! Ini-itu dilarang dan segala-galanya diatur sama Appanya, seakan Sooyun robot yang tinggal nurut. “Tapi, Hyung. Mangsa di FlyingFish kemarin itu menambah kekuatanku lho, sampai tadi aku bisa mengalahkan Mir Hyung.”

                “Iya,” Sooyun mengangguk yakin, “mungkin kalau aku terus menghisap darah seorang laki-laki, aku bisa lebih kuat dan menunjukkan ke Ahboji kalau aku juga sama kuatnya seperti kalian para Hyung. Lagipula, Appa nggak akan tau hal ini.” Katanya dengan bersemangat.

                G.O, kakak yang paling memperhatikan kemajuan karate Sooyun, tentunya seneng banget waktu adik bungsunya ini tiba-tiba bisa ngalahin Mir waktu berkelahi. Dan kalau Jihoon Appa jadi senang karena Sooyun makin kuat seperti yang diharapkannya, tentu G.O mau membantunya.

                “Geuraeyo,” G.O menghela nafas berat, “jangan bilang-bilang Seungho, yang lain, juga Jihoon Appa. Hari ini kita berdua aja yang pergi. Sana mandi dan bersiap-siap.”

                “Ne, Hyungnim!” Sooyun tersenyum senang, “gumawoyo…”

*

                Junsu dan kelima adiknya berkumpul di salah satu sofa berbentuk melingkar di FlyingFish, memandangi dance floor untuk memilih mangsa masing-masing.

                “Malam ini, kalau sampai satu pun dari Seungho dan adik-adiknya itu datang, kita habisi mereka.” Taecyeon berbisik dengan kesal.

                “Kalau sampai itu G.O, serahkan semua kepadaku.” Junsu menimpali, mengingat tempo hari G.O malah merebut wanita yang akan menjadi mangsanya. “Kemarin ia merebut mangsaku. Kali ini, nggak akan kubiarkan.”

                “Jinjja? Kemarin Cheondoong juga merebut mangsaku,” Taecyeon merespon cepat, “sialan kakak-beradik itu. bener-bener harus kita kasih pelajaran.”

                Malam semakin larut, orang-orang penyuka pesta yang dalam ke FlyingFish semakin banyak. Nggak ada yang tau kalau bisa saja, ini jadi pesta terakhir mereka di FlyingFish, karena ada banyak vampire yang berkeliaran, kelaparan, dan siap untuk memangsa.

                Sooyun membetulkan letak cap baseballnya yang menyembunyikan sebagian besar rambutnya. Poninya ia biarkan menutup sebagian mata dan wajahnya, agar tersamar. Ia hanya mengekor di belakang G.O yang tampak santai bergabung dengan euphoria pesta malam itu.

                “Cari mangsa sendiri sudah bisa, kan?” Tanya G.O. Sooyun mengangguk. Lalu ia melihat sekilas jam di iPhone-nya, “3 jam lagi, kita ketemu di sini. Ingat! Jangan mabuk.”

                “Ne, Hyung.” Sooyun mengangguk patuh, lalu berpisah dengan G.O. Clueless nggak tau mau kemana, ia memutuskan untuk kembali duduk-duduk di bar, dan untungnya, teman pertamanya si Bartender Min ada di sana, sedang membuat minuman pesanan pelanggan.

                “Annyeong, Min-ah!”

                “Sooyun!” Min melambaikan tangan dengan ceria, “mau minum apa?”

                “Ada darah, nggak?” Tanyanya polos, “sepertinya aku masih belum bisa berburu sendiri.”

                “Ada sih, tapi…” Min membuka laci bar, dan mengeluarkan sekantong cairan warna merah pekat, “tadi aku mencurinya dari Bank Darah. Dan ternyata ini darah perempuan, tapi lebih baik kau meminumnya daripada kena blood coma.

                “Kalo ini mah, di rumahku juga banyak,” Komentar Sooyun, “tapi nggak apa-apa deh, aku sedang bener-bener butuh darah. Sekarang aja udah mulai pusing.”

                “Geuraeyo, sebentar.” Min menyobek kantong darah itu dan menuangkan isinya ke dalam gelas berukuran sedang. “silahkan.” Ia menyodorkan gelas berisi darah ke Sooyun.

                “Gamsahamnida,” Sooyun menenggak cepat darah dalam gelas, sambil menebar pandangan ke sekeliling ruangan. “Min-ah, emangnya bagaimana caranya vampire perempuan itu berburu mangsa, sih?”

                “Caranya, kau harus berdandan secantik mungkin, memakai baju yang seksi, lalu menari di dance floor seperti mereka. Pasti cowok-cowok hidung belang akan mendekatimu. Nah, saat itulah kau habisi mereka.”

                Enggg… kayaknya kalau cara berburunya hanya seperti itu, Sooyun nggak akan bisa mendapatkan mangsa seorang cowok. Pertama, Sooyun nggak pernah dandan seperti perempuan, Sooyun nggak pernah memakai baju perempuan yang seksi, dan ia nggak bisa menari. Ah, apakah ia harus mengandalkan Min atau mencuri dari Bank Darah untuk mendapat darah laki-laki?

                “Tapi itu hanya satu dari seribu cara, lho. Cara lainnya, ya seperti yang kulakukan beberapa hari yang lalu. Kau buat mereka pingsan dengan minuman yang mereka pesan, lalu baru kau habisi.”

                “Kau kan seorang bartender, mudah bagimu melakukannya…” Sooyun menopang dagunya, hampir putus asa.

                “Oh ya, kalo mencari mangsa di tempat seperti ini, jangan sampai salah mangsa, ya.” Min berkata dalam nada yang membuat Sooyun bertanya-tanya.

                “Maksudnya?”

                “Yaaa… jangan sampai ternyata mangsamu itu juga vampir.” Jawab Min singkat.

                “Emangnya, apa yang bakal terjadi kalau vampir meminum darah vampir lainnya?” Tanya Sooyun polos.

                “Hah? Emangnya kamu nggak tau? Hyungmu nggak ada yang ngasih tau?” Min terdengar kaget, bahkan soal hal ini ia sudah tau dari ia kecil. Sooyun menggelengkan kepalanya.

                “Jadi begini,” Cerita Min sambil membuatkan minuman untuk seorang pemesan, “Jika kamu sampai menghisap darah seorang vampir yang lawan jenis, dan vampir itu juga menghisap darahmu. Maka kalian akan ‘terikat’ dalam Ikatan Darah. Dimana Ikatan Darah itu membuat kedua vampir itu menjadi semakin dekat. Dan jika sudah terikat dalam Ikatan Darah, biasanya kamu nggak akan menginginkan darah yang lain. Kau hanya akan menginginkan darah vampir yang terikat denganmu.”

                “Jadi, vampir itu nggak bisa menghisap darah manusia yang lain?”

                “Bisa, tapi kau akan tetap menginginkan darah vampir itu. Ikatan Darah itu mempengaruhi alam bawah sadar kita untuk selalu ingin darah vampir yang terikat dengan kita.”

                “Semua itu beneran?” Tanya Sooyun penasaran.

                Min mengangguk, “yang kudengar sih begitu. Ada juga yang bilang kalau Ikatan Darah itu hanya mitos. Aku sih belum pernah mencobanya, dan belum mau mencobanya. Digigit di leher begitu pasti rasanya sakit!”

                Sooyun bergidik ngeri, lalu memutuskan untuk nggak memperpanjang pembicaraan menyeramkan itu. Ia memilih duduk di bar sembari memperhatikan orang-orang di FlyingFish. Dance floor penuh orang-orang yang asyik menggoyangkan badan mengikuti beat, sementara ia di pinggir hanya mengangguk-anggukan kepala mengikuti tempo.

                Bau darah ini lagi, Junho membatin dalam hatinya. Tinggal ia dan Junsu duduk di sofa di pinggir ruangan. Saudaranya yang lain sudah sibuk mencari mangsa masing-masing. Bola matanya berkilat merah, ia mulai pusing dan pandangan matanya mengabur, “aku benar-benar butuh darah sekarang. Lebih baik aku mencari mangsa.” Ia memperhatikan setiap sudut ruangan, dan menemukan sesosok cowok yang familiar.

                “Hei, Junsu Hyung, itu kan… G.O?”

                “Mana?” Junsu yang baru menenggak satu sloki whisky langsung menoleh, dan menemukan sosok G.O di kerumuman orang di pinggir dance floor.

                “Berani bener dia kesini! Sudah bosen hidup kayaknya orang itu. Junho-yah, ayo bantu aku menghajarnya.” Junsu berdiri dan menarik lengan Junho.

                “Aku harus mencari mangsa, Hyung. Bener-bener butuh darah.” Tolak Junho. Mungkin sekalian aku mencari tau bau darah siapa ini, kenapa begitu membuatku penasaran…

                “Ini nggak akan lama, abis itu carilah mangsa untukmu. Tapi bantu aku menghajar dia dulu.” Junho memaksa, membuat Junho terpaksa menurutinya. Keduanya mencegat G.O dan menyeretnya ke lorong di samping ruangan menuju toilet yang agak di belakang.

                “Ya! Itu mereka siapa? Mereka ngapain?” Sooyun yang lagi bengong nggak sengaja melihat G.O ditarik paksa oleh 2 orang ke suatu tempat. Buru-buru ia membelah kerumunan orang dan menuju lorong di samping ruangan.

                “G.O Hyung!” Seru Sooyun refleks waktu melihat G.O dipukuli oleh Junsu dan Junho. BAM! Ia menggunakan kekuatannya dan Junho terlempar ke belakang. Lalu ia menarik kerah baju Junsu dan menonjoknya tepat di muka. Junsu terhuyung ke belakang.

                Sooyun hendak menendang Junsu dengan lututnya ketika Junho menarik jaketnya hingga Sooyun terjengkal ke belakang. Ia terbanting ke lantai, dan detik berikutnya ia merasakan seseorang menendang rusuknya.

                “Jadi ini adik bungsu mereka? Berani juga dia cari mati sama kita.” Junsu sempat mendaratkan kepalan tangannya di tulang pipi Sooyun sebelum ia kembali menghajar G.O yang terkapar di lantai, “Junho-yah, kau urus adiknya.”

                Junho diam, kepalanya pusing berat. Meihat lawannya lengah, Sooyun melempar Junho hingga ujung lorong dengan kekuatannya. Punggung Junho menabrak tembok, dan terkapar begitu saja. Sooyun mendekat, memastikan kalo lawannya ini bener-bener pingsan.

                Rasa sakit luar biasa dirasakan Junho pada punggungnya, aku benar-benar butuh darah… batinnya, dari matanya yang sedikit terbuka, ia melihat Sooyun berjalan tertatih kearahnya. Aku terpaksa melakukannya, nggak ada pilihan lain atau aku akan mati. Ia tidak bergerak hingga Sooyun berjongkok di sampingnya dan melambaikan tangan di depan wajah Junho untuk memastikannya benar-benar pingsan.

                Begitu Sooyun berbalik, Junho secepat kilat menarik lehernya dan menancapkan taring-taring tajamnya di leher Sooyun. “AAAAWWWW!”

                Nggak salah lagi, bau darah yang selalu Junho endus ini berasal dari vampir di depannya, dan rasa darah yang begitu berbeda di lidahnya, begitu manis dan setiap darah vampir ini menyentuh permukaan lidahnya, rasanya ia ingin menghisap darahnya lebih banyak dan lebih membenamkan taringnya ke leher vampir di depannya ini. Ini pertama kalinya Junho menghisap darah vampir.

                Aku menghisap terlalu banyak, Junho menarik taringnya dan sosok di hadapannya ini sudah nggak sadarkan diri, kekurangan darah sepertinya. Ini bener-bener gila, ini pertama kalinya aku meminum darah vampire lain, dan yang kuminum adalah darah vampire laki-laki! Eh, sebentar… tadi ia berteriak, dan suaranya agak aneh untuk ukuran laki-laki.

                Junho melepaskan topi di kepala Sooyun, dan terbelalak. Rambutnya panjang. Vampire ini… perempuan?! Ia gemetar, nggak ngerti apa yang harus ia lakukan. Meninggalkannya di sini jelas bukan pilihan. Tapi, sepertinya ada pilihan lain… membawanya.

***