– T-ara’s Eunjung

– Taecyeon

– 2NE1′s CL

– After School’s Kahi

– +After school’s Bekah

Note:

– Made by rahina only

– Don’t be silent reader

– Happy reading!

 

 

 

 

 

 

“Jagiya!” Eunjung terus memanggil namjachingunya seraya berlari menujutanah lapang. Di belakangnya seorang namja mengikuti dengan senyum senang.

“Jagiya, kau lambat sekali!” ungkap Eunjung sambil berbalik dan berjalan ke arah belakang.

“Ya! Kau ini! Eiiit, awas…,” BRUKK!

Aww! Kepalaku! Ah… cuma mimpi? Tapi… namja itu… apa aku punya namjachingu? Setahuku tahun ini aku belum punya namjachingu. Namja itu seperti… T.. Taecyeon? Ah, apa maksudnya ini? Ti.. tidak mungkin!

Drrt~ Drrt~

Malam-malam begini ada yang mengirimiku pesan? Siapa? Operator?

From: Taecyeon

Sleep well last night?

Taecyeon? Huh, umur panjang! Baru saja dibicarakan sudah muncul duluan. Tapi untuk apa dia mengirim pesan? Dan… last night? Ini sudah pagi?

Ku buka tirai jendela. Ya, ini sudah pagi. Arh… Sepertinya aku tahu jawaban untuk pesan Taecyeon.

To: Taecyeon

Tidak. Aku bermimpi kau jadi namjachinguku.

M… Mwo? Aku kirim apa tadi? Argh!!!!! Kenapa aku memberitahunya?! Bagaimana kalau dia salah paham? Bagaimana kalau dia… dia menyebarkannya? Ah, dia bukan tipe orang seperti itu.

Segera aku mandi dan bergegas. Sebenarnya aku tidak ingin berangkat sekolah karena pesan tadi, tapi apa boleh buat? Ini tes persiapan hari pertama.

Dia sudah berangkat belum, ya? Semoga saja sudah. Aku tidak mau bertemu dengannya!

Ku intip rumahnya lewat jendela samping. Ah, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sepertinya dia sudah berangkat. Baiklah. Aku siap!

Sambil berdo’a, ku raih pintu perlahan. Tanganku benar-benar gemetaran. Ada yang tak enak. Ku tarik tanganku. Tidak. Jangan dulu. Tapi nanti aku terlambat. Baiklah. Ku buka pintu pelan-pelan.

“Annyeong!” GUBRAKK! Dia memang tidak di rumahnya, tapi di depan rumahku! di atas motornya dia tersenyum dengan pecaya diri.

“Mau berangkat bersama, JAGIYA?” J… jagiya? Berani sekali dia!

“Ya! Kau jangan terlalu berharap, ya!” bentakku.

“Siapa yang berharap? Justru kau yang menyukaiku, benar?” katanya. Tanpa menghiraukannya langsung ku langkahkan kakiku dan meninggalkannya.

“Ya! Kau yakin?! Di ujung sana banyak preman!” ah, benar juga. Selama ini aku selalu berangkat bersama Pak Kim. Tapi Pak Kim sedang pulang ke rumah orang tuanya. Ku langkahkan kakiku ke belakang dua langkah, lalu ku balikkan badan.

“Baiklah. Jangan terlalu percaya diri, kau, ya!”

“Mulai sekarang kita pasangan, ya!” kata Taecyeon sambil berkendara.

“Kau minta bayaran? Kalau kau minta bayaran, akan ku traktir ramen sore ini.”

“Tapi aku tidak mau.”

“Ku dengar kau suka makanan jepang. Sore ini ku traktir.”

“Um… Baiklah. Tapi aku yang memilih tempatnya.”

“Terserah.”

Akhirnya kami sampai di depan tangga menuju pintu sekolah. Taecyeon pun menghentikan motornya.

“Kau turun di sini saja. Aku akan memarkirkan motor,” katanya dengan senyum. Aku hanya mengangguk.

“Gomawo,” ucapku.

“Ingat. Nanti sore,” katanya. Aku pun mengangguk pasti.

Entah kenapa, senyumku tak bisa ditutupi. Mengembang begitu saja. Huh…

“Stars, hari ini kalian pasti akan sangat senang,” kata Bekah sungsaenim, mengawali. “Hari ini, kita akan kedatangan dua tamu special. Dua bintang yang sangat terkenal,” lanjutnya. “Dan kurasa… Bukan hanya yang perempuan saja yang senang, tapi… para playboy di sini juga,” mendengar kalimat itu, aku langsung menatap Taecyeon. “Apa?” isyaratnya. Aku hanya terkikik. “Tanpa harus basa-basi, kelas ini ku alihkan,” kata Bekah sungsaenim sambil meninggalkan kelas diiringi dengan bisik-bisikan penasaran para murid.

Tak lama kemudian lima namja (yang pasti disukai CL karena dia menyukai semua namja tampan) datang. Ya, CL pasti suka. BIGBANG!!!!!!!

“Oh my god, Eunjung, a.. aku tak mimpikan? Sekarang mereka satu meter di depanku! Kau tahu aku penggemar berat mereka,” ku lihat tangan CL sudah tergenggam erat. Ku lihat sekeliling. Semua yeoja histeris kecuali aku dan Kahi.

“Annyeong!” hanya kata sapaan saja sudah membuat CL histeris. Terlihat sang leader, G-Dragon, jelas menatapi CL terus menerus dengan pandangan aneh. “GD menatapmu,” bisikku. “Cobalah untuk jaim,” kataku masih terus berbisik. “Oh, begitu ya?” GUBRAKK! Dalam waktu dua detik dia langsung berubah? Aku bahkan tak bisa menyembunyikan perasaanku!

 

“YG Entertainment sudah mengadakan audisi bebas satu bulan yang lalu. Dan melalui audisi itu, seorang yeoja kini menjadi seorang trainee. YG Ent juga sudah mengambil dua orang yeoja berbakat yang lahir di Korea tapi mereka tinggal di Filipina dan LA. Kini YG Ent ingin mengaudisi siswa-siswa unggulan di sekolah ini. Kami harap kerja samanya,” jelas G-Dragon dengan panjang lebar. “K… Kau dengar itu? Aku mau ikut! Aku harus ikut!” ungkap CL. “Oh, iya. Yang kami cari adalah member untuk BIGBANG versi yeoja,” lanjut G-Dragon. CL pun menjadi lebih histeris.

 

Setelah BIGBANG keluar, enam yeoja memasuki ruangan dan segera mengambil alih. Mereka adalah T-ara.

 

“Annyeonghaseo…,” leader, Boram, menyapa kami dengan ramah. “Kami sudah meminta pada management kami bahwa kami membutuhkan member baru untuk T-ara. Kami membutuhkan rapper. Jadi… kami mohon kerja samanya!” jelasnya. Singkat. “Audisi akan dilakukan besok. Bagi yang tertarik, besok bisa ke aula sekolah.”

 

 

“Restoran mana yang kau mau?” tanyaku pada Taecyeon seraya mengenakan helm. “Nanti ku beritahu.”

 

 

Taecyeon menghentikan motornya di depan sebuah restoran jepang kecil. Jauh dengan perkiraanku. “Jadi ini?” tanyaku. “Ne. Jangan berkomentar dulu. Ppali!” katanya sambil menarikku.

 

“Kau mau apa?” tanya Taecyeon. “Seharusnya aku yang tanya. Bukankah aku yang traktir?” protesku. Namja itu hanya terkikik. Manis… “Aku belum pernah mencoba masakan jepang. Jadi… terserah kau saja.”

 

“Bagaimana?” tanya Taecyeon saat tahu aku sudah makan suapan sashimi pertamaku. “Enak,” ungkapku. “Kau tahu? Aku sangat senang bisa makan masakan jepang dengan orang lain. Sudah lama aku tidak makan makanan seperti ini. Setiap hari hanya bisa makan mi instan. Aku rindu makanan rumah,” katanya mulai berkhayal. AKu ingin melakukan sesuatu untuknya. “Nanti kau antar aku ke swalayan, ya?” pintaku. “Um… baiklah.”

 

 

“Gomawo…,” ucapku saat sampai di rumah. “Untuk mengantarmu ke swalayan dan mengantarmu pulang… berarti harus ada dua bayaran,” kata Taecyeon. “Um… Baiklah. Nanti,” aku langsung berbalik menuju rumah.

 

Dengan perasaan senang, aku langsung ke dapur. Dia ingin masakan rumah? Apa salahnya ku buatkan? Semoga dia suka. Tapi apa alasanku? Ah, anggap saja ini bayaran untuk mengantarku pulang.

 

 

Dengan tangan gemetar, ku tekan bel pintu rumahnya. Semoga dia suka…

“Ne? Oh, Eun-ah?” Tacyeon terlihat sedikit terkejut.

“Ah… Kau bilang kau ingin masakan rumah kan? Ku buatkan untukmu. Anggap saja ini bayaran untuk mengantarku pulang,” jelasku sambil menyodorkan mangkuk.

“Lalu bayaran satunya?”

“Nanti ku pikirkan dulu.”

 

 

Kakiku terus melangkah mengitari kamar. Sampai sekarang aku masih memikirkan bayaran yang tepat untuk Taecyeon. Bayaran yang bisa menguntungkanku. Bayaran yang… tak akan membuat kami berpisah. Tapi apa? Ah, aku tidak akan ikut audisi! Tapi apa itu tepat? Tapi dengan begitu aku tak akan berpisah dengannya. AKu tak akan tinggal di dorm, aku akan tinggal di sisi rumahnya dan tetap di sekolah dengannya.

 

To: Taecyeon

Baiklah. Aku akan membayar yang berikutnya dengan berjanji aku tak akan ikut audisi. Janji!

 

Drrt~ Drrt~

From: Taecyeon

Oke. Kalau kau melanggarnya aku akan membencimu!

 

Ah…

Drrt~ Drrt~ Drrt~

Mwo? Telpon? Siapa? Bekah sungsaenim?

 

“Ne, Bekah sungsaenim?” tanggapku.

“Eunjung, ini tentang audisi yang akan diadakan besok.”

“Oh, aku berencana tidak akan ikut.”

“Eun-ah, sepertinya tidak bisa. Kau diwajibkan mengikuti audisi untuk T-ara.”

“Huh?”

 

To be continued…

 

—————————————————————–

 

Gimana? Enak nggak? Miane, kalau kurang. Kritik dan saran sangat dibutuhkan!