Author : Lolillo

Title : Heart’s Desire

Length : Continue

Genre : fantasy, romance

Cast : Sooyun (own character), Junho (2PM)

Support cast: MBLAQ member & 2PM member (Seungho, G.O, Mir, Joon, Cheondoong, Taecyeon, Chansung, Junsu, Nichkhun, Wooyoung), Jung Jihoon (Rain), Park Jinyoung (JYP), Miss A Min.

Halo! Ini pertama kalinya aku buat FF dan mempublishnya, jadi maaf ya kalo masih banyak banget kekurangannya🙂

Semua karakter di FF ini murni karanganku kok, aslinya mereka nggak jahat dan menyeramkan hahaha😀

Gumawo buat semuanya yang udah nyempetin baca, dan yang ngasih comment juga jeongmal gumawo!😀

Kritik dan saran sangat ditunggu, ya..

Happy reading!😀

Part 4

Brak! “Neo pabo!” Seungho berseru marah dan menggebrak meja makan. Ia melempar sumpit di tangannya, kemudian bersandar lemas di kursi. Mir dan Cheondoong hanya diam, menyantap sarapan mereka, dan G.O, hanya menunduk, nggak berani ngomong apa-apa lagi.

                “Hyung, ada apa ini?” Tanya Joon yang baru selesai mandi pagi sambil bergabung di meja makan, ia menyumpit sepotong omelet dan mulai makan, sambil menatapi saudaranya bergantian, mencari jawaban dari pertanyaannya tadi.

                “Kan sudah kubilang, jangan ajak Sooyun ke FlyingFish.” Lanjut Seungho dengan nada suara yang lebih pelan, “kau kan tau itu daerah kekuasaan Junsu dan adik-adiknya. Dan mereka, nggak takut buat melakukan hal-hal yang nekad! Sekarang kita harus ngapain, hah?”

                “Hyung, tenang dulu.” Mir menepuk-nepuk pundak Seungho, “pasti ada hal yang kita bisa lakukan kok. Sekarang tenangkan diri dulu, kita pikirkan dengan kepala dingin.”

                “Tapi… Dongsaeng kita… masih hidup, kan?” Cheondoong buka mulut.

                “Ya! Cheondoong Hyung! Jangan bilang gitu lah, pasti Sooyun masih hidup. Aku yakin itu.” Mir menyikut Cheondoong. Seungho terdiam, dan bertanya dalam hatinya yang terasa ragu, apa mungkin mereka sudah membunuh Sooyun?

                “Sebenernya ini ada apaan, sih? Sooyun mana? Seungho Hyung kenapa marah-marah?” Tanya Joon, masih nggak mengerti.

                “Diculik—entahlah kau mau menyebut dia diculik atau disandera, sama Junho, dan saudara-saudaranya.” Mir menjawab cepat.

                “APA?!”

*

                Ssssshhh… “Aw!” Sooyun menarik tangannya yang terasa perih seperti terbakar. Ia bangkit perlahan dan menemukan dirinya dalam satu ruangan sempit yang gelap, namun ada sinar matahari yang datang dari sebuah lubang kecil di tembok. Ia melihat tangan kanannya yang tadi tergeletak persis di tempat cahaya matahari jatuh. Lengannya kemerahan dan melepuh terkena sinar matahari.

                Ruangan ini sempit sekali, hanya berukuran 4×4 meter, dengan tembok bercat putih yang sudah kotor. Salah satu sisi tembok ruangan berbentuk jeruji besi dengan pintu, dan tentunya dikunci gembok besi berukuran besar yang terkunci dari luar. Di dalam ruangan hanya ada kasur kapuk dengan seprai—atau kain pembungkus—berwarna putih tulang dan terdapat beberapa bercak kekuningan di sana, dan sebuah bantal kapuk yang keras. Di pojok kasur terdapat kain yang disediakan untuk dijadikan selimut. Namun kainnya tipis dan robek di beberapa bagian.

                Sooyun duduk bersila diatas kasur, dan mengutuki diri sendiri. Bodoooh! Harusnya aku mendengarkan perkataan Seungho Hyung untuk nggak ke FlyingFish. Kalau kemarin aku nggak nekad ngajak G.O Hyung ke FlyingFish, ini nggak akan berakhir seperti ini. Ia mengacak-acak rambut sebahunya, dan baru menyadari satu hal lain, topinya hilang! Berarti siapapun yang mebawanya kesini sudah tau kalo ia perempuan.

                Rasanya menderita sekali, Sooyun harus meringkuk agar tidak terkena cahaya matahari dari lubang ventilasi, ia merasakan seluruh badannya sakit, dan sisi kanan lehernya terasa perih. Ia merabanya, dan mengingat rasa sakit luar biasa yang kemarin ia rasakan waktu seorang vampir menggigit lehernya. Siapapun itu, Sooyun berjanji, ia akan balas dendam padanya.

                Sooyun menghabiskan waktunya dengan tidur, dan berkali-kali terbangun karena badannya yang terasa sakit karena kasur kapuk yang keras. Cahaya matahari meredup menandakan hari sudah beranjak malam. Perutnya keroncongan…

                “Ya! Makan ini.” Seorang perempuan paruh baya berpakaian pelayan memberikan Sooyun mangkok berisi sedikit nasi dan potongan daging, dan segelas kecil darah yang langsung Sooyun makan dengan lahap. Tapi dengan darah sesedikit ini, darimana ia akan mendapatkan tenaga? Apalagi darah ini terasa nggak enak di lidahnya, berarti bukan darah laki-laki.

                Ckreeek… Pintu jeruji besi terbuka, dan nampak 6 orang cowok berbadan tegap memasuki ruangan sempit itu, dan memandangi Sooyun dengan intens. Sooyun hanya terduduk sambil menatapi mereka dalam diam.

                “Jadi, ternyata ini adik bungsu mereka… vampir perempuan?” Taecyeon mendekati, menyingkap poni Sooyun yang menutupi wajahnya. Senyum menggurat di wajahnya.

                Bruak! Taecyeon terlempar ke belakang dan menabrak saudara-saudaranya yang lain saat Sooyun mengepalkan tangannya. “Beraninya kau!” Taecyeon berkonsentrasi, lalu tiba-tiba Sooyun mengerang kesakitan. Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya seperti diremas oleh tangan raksasa tidak kasat mata dan rasanya tulang-tulangnya remuk semua.

                Melawan, Sooyun mengarahkan kedua tangannya ke 6 cowok itu dan munculah dorongan besar yang membuat mereka semua terlempar hingga menabrak tembok. Setelah itu ia langsung terkulai lemas, mengeluarkan kekuatan itu memerlukan tenaga yang besar. Dari sudut matanya, ia mengamati 6 cowok di hadapannya ini, dua di antaranya yang ia lawan kemarin. Dan yang sipit itu! yang menggigit leherku! Awas aja, suatu saat aku akan membalas dendam.

                Junsu maju, ia menyipitkan matanya, berbisik sesuatu di dalam batinnya, dan cewek itu tiba-tiba memegangi kepalanya dan mengaduh hebat. Rasanya seperti ada ribuan pisau menghunus kepalanya dan baru Sooyun mengira ia akan mati, semua itu berakhir.

                “Kau,” Junsu menarik rambut Sooyun dan membuat ia menatap Junsu, “beruntung kali ini kami nggak membunuhmu. Dan ini baru permulaan, kami akan membuatmu menderita, dan kau yang akan meminta sendiri untuk dibunuh. Dan kau perlu tau, kelima kakakmu itu nggak akan kesini untuk menyelamatkanmu.”

                “Sudahlah, Hyung.” Junho menarik perlahan tangan Junsu agar tangan itu tidak menjambak Sooyun lagi, “banyak hal yang lebih penting daripada menyiksa anak ini.” Katanya, lalu meninggalkan ruangan itu dengan yang lainnya.

                Sooyun tergeletak di lantai dengan nafas tersengal-sengal, ketika keenam cowok itu meninggalkan ruangan tempat ia dikurung. Junsu merangkul Junho sambil tersenyum penuh kemenangan, “Junho-yah, idemu benar-benar cemerlang dengan menculiknya.” Katanya sambil tersenyum puas.

                Setitik air mata membasahi sudut mata Sooyun, mungkin memang sebentar lagi, waktuku untuk mati akan tiba…

*

                Ini bener-bener neraka, Sooyun meringkuk di pojok ruangan kecil ini, sebagian besar ruangan diterangi sinar matahari sehingga ia memilih  duduk di pojok ruangan dan memeluk lututnya agar kakinya tidak terkena sinar matahari. Ia bisa mati terbakar jika terkena sinar matahari.

                Mereka memberi Sooyun makanan, namun hanya sepiring kecil, seperti makanan sisa, dan rasanya hambar. Sooyun tidak menggubris nampan yang setengah dilempar oleh pelayan lewat jeruji besi. Ia melihat makanan di atasnya, roti berukuran besar, dan air putih. Air putih?!

                ARGH! Sooyun menendang-nendang tembok, marah. Ia butuh darah. Hari terasa berjalan sangat panjang dan yang bisa ia lakukan hanya duduk dan tidur, meskipun seringkali terbangun karena kepalanya terantuk tembok, atau kakinya tidak sengaja terjulur ke tempat yang disinari matahari dan melepuh.

                Ia ingin pulang, ia merindukan kelima Hyungnya, ia merindukan Jihoon Ahboji, walaupun Appanya itu sangat galak, Appanya selalu memaksa Sooyun untuk menjadi anak laki-laki, Appanya selalu menyalahkan Sooyun atas kematian Ommanya, Appanya selalu memaksanya berlaku seperti anak laki-laki, nggak pernah mendengarkan apa yang jadi keinginan hatinya.

                Tapi hal-hal itu jauh lebih baik daripada berada di sini, nggak ada yang bisa diajak bicara. Bahkan pelayan agak tua yang suka membawakannya makanan sangat galak dan memperlakukannya seperti narapidana yang sedang dihukum penjara.

                Dan yang lebih buruk lagi, keenam cowok itu seringkali menyiksanya dengan kekuatan mereka, dan tertawa senang saat Sooyun merintih kesakitan. Chansung hampir membakarnya hidup-hidup dengan kekuatan apinya, Nichkhun yang memiliki kekuatan air pernah membuatnya kedinginan semalaman karena mengguyurnya dengan ribuan liter air dari telapak tangannya.

                Sooyun pernah melawan, namun semakin hari, ia merasa semakin lemah dan nggak punya tenaga. Hingga rasanya mengeluarkan kekuatan pun ia nggak bisa. Ia ingin memanggil kakak-kakaknya, yang pasti akan membantunya melawan keenam cowok ini. Ah, andai aku punya kekuatan telepati seperti Seungho Hyung…

*

                BRAAAK! Dinding kayu ruang latihan berlubang setelah Jihoon memukulnya dengan tangan kosong. Kelima anak laki-lakinya hanya bisa tertunduk, tidak berani menatap Appanya yang sedang marah besar.

                “Kau!” Jihoon menunjuk G.O, “kenapa kau menyetujui ajakan Sooyun? Kau kan tau Appa melarangnya ke FlyingFish!”

                “Jeosunghamnida, Ahboji-nim.” G.O berlutut, wajahnya tertdunduk ke bawah, “Aku… aku hanya ingin Sooyun senang. Dan ia bilang, kalau ia menemukan teman disana, dan darah mangsa yang ia temukan disana membuatnya lebih kuat, sehingga dapat mengalahkan Mir dalam latihan beberapa hari yang lalu.”

                “Dasar ceroboh! Lihat, karena kau terlalu gampang menuruti keinginannya, keenam vampir itu membawanya, dan sudah dipastikan mereka mengetahui kalo Sooyun itu anak perempuan! Park Jinyoung pasti meremehkan karena sekarang ia mengetahui kalau anak laki-lakiku hanya lima, bukannya enam seperti anak-anaknya.”

                “Ahboji,” Potong G.O, “Mianhaeyo, bukannya aku mau lancang. Tapi sebegitu pentingkah rahasia Sooyun kita sembunyikan, daripada kesenangan Sooyun sendiri? Ia harus selalu menyamar seperti anak laki-laki, meminum darah mangsa perempuan, dan latihan karate dengan keras agar Appa senang, dan semua itu membuatnya menderita!”

                “Ia kesakitan saat Joon menendangnya di pipi dan membuat pipinya lebam berhari-hari, bibirnya berdarah waktu Cheondoong memukul wajahnya, ia pingsan saat Seungho membantingnya, dan semua itu karena perintah Appa. Perintah Appa yang menyuruh kami beratih karate dengannya, yang tentu saja dia kalah, karena dia itu anak perempuan, Appa!”

                “Diam kau, G.O! Jangan sebut-sebut hal itu.” Jihoon menghardik marah.

                “Tapi itulah kenyataannya, Appa. Sudah 17 tahun Appa membuat adik kami menderita karena Appa tidak mau menerima kenyataan itu. Tapi sampai selamanya kenyataan itu tidak akan berubah Appa, adik kami itu perempuan, bukan laki-laki.”

                “G.O, sudahlah.” Seungho berbisik, khawatir amarah Jihoon semakin besar.

                Tanpa bicara, Jihoon beranjak pergi dari ruang latihan. Ia memasuki ruang kerjanya dan membanting badannya di kursi kerjanya. Tangannya memijat-mijat keningnya untuk menghilangkan pusing di kepalanya. Perkataan G.O terus terngiang di kepalanya.

                “Chaeyoon-ah,” Jihoon meraih foto istrinya yang sudah meninggal, lalu mengusapnya pelan. “Apa benar aku sudah membuat anak bungsu kita sangat menderita? Selama ini usahaku menjadikannya anak laki-laki membuatnya menderita, apa itu benar?” bisiknya lirih.

                Aku hanya ingin mengalahkan Park Jinyoung, dan anak-anakku mengalahkan keenam anak-anaknya. Sama seperti pesan ayahku, keluarga ini tidak boleh mengalah pada keluarga mereka. Apa ambisiku ini salah?

*

                “Hyung, anak itu kembali nggak menyentuh makanannya seharian ini. Aku baru dapat laporan dari pelayan.” Chansung bergabung dengan kelima kakaknya yang tengah duduk-duduk di ruang keluarga.

                “Dia gila, ya? Dia bisa kena blood coma, tuh. Apalagi kita nggak pernah memberinya darah.” Wooyoung mengomentari.

                “Jangan sampai dia mati, kita bisa terseret dalam masalah besar.” Nichkhun menimpali. “Dan jangan harap Jinyoung Appa mau membantu kita mengurus anak itu.”

                “Mungkin dia memang ingin mati, tidak tahan dengan siksaan kalian.” Komentar Wooyoung pendek. Ia memang tidak pernah terlibat langsung dalam menyiksa tawanan mereka itu, dan merasa kelakuan Hyungnya menyiksa perempuan itu nggak gentle.

                “Ya! Taecyeon-ah, kau kan yang paling senang menyiksa anak itu, sana cek keadaannya, kalau perlu berikan dia sedikit darah supaya dia nggak terkena blood coma.” Junsu menyenggol lengan adiknya yang duduk di sebelahnya.

                “Kenapa aku? Kau kan juga senang menyiksanya, Hyung.” Taecyeon menolak, “Junho-yah. Ini semua kan idemu untuk membawanya kemari. Sana kau cek keadaannya.”

                “Baiklah, aku akan memastikan keadaannya,” Junho menutup buku yang tengah dibacanya, lalu beranjak pergi. Menyusuri lorong kecil di samping dapur menuju ruangan kecil tempat Sooyun ditahan. Langkahnya terhenti di depan pintu jeruji besi, dibaliknya, sesosok gadis dengan wajah tetunduk, rambut panjangnya menutupi sebagian besar wajahnya, dia terihat diam, nggak bergerak sama sekali. Apa dia sudah mati?

                Derap langkah kaki membuyarkan lamunan Sooyun, ia melirik ke sosok berbaju hitam yang berdiri di balik jeruji besi. Wajah itu, sepertinya nggak asing. Batinnya dalam hati, namun ia hanya terdiam, duduk bersandar di tembok dengan dua kaki yang ditekuk.

                Ini vampir yang menghisap darahku! Seru Sooyun dalam hatinya, bola matanya mengikuti gerak-gerik Junho yang masuk dengan perlahan, kemudian berjongkok di samping Sooyun sambil melirik sekilas sedikit makanan dalam nampan besi yang diletakkan di sampingnya.

                Aku harus melakukan sesuatu! Sooyun-ah, berpikirlah… Sooyun melirik nampan besi di sampingnya, menyingkirkan makanan di atasnya dengan sisa tenaga yang ia punya, dan BAM! Ia memukul kepala Junho dengan nampan saat cowok itu berbalik pergi.

                Bruk. Junho terjatuh ke lantai tak sadarkan diri. Saatnya membalas dendam, bola mata Sooyun berkilat kebiruan, dan tanpa ragu ia meraih leher Junho dan menancapkan taring-taringnya ke leher Junho, dan mulai menghisap darahnya.

                Ini pertama kalinya Sooyun menghisap darah vampir, dan rasanya begitu berbeda. Rasa darahnya begitu manis sehingga Sooyun ingin menghisap lebih banyak dan menancapkan taringnya lebih dalam ke leher Junho. Rasanya ia tidak ingin berhenti. Berbeda dengan darah manusia, darah vampire lebih memberi tenaga, dan bagi Sooyun, entah kenapa darah ini begitu adiktif.

*

                “Awwww…” Junho menatap bayangan dirinya di kaca dan mengaduh pelan saat tangannya menyentuh bekas gigitan di lehernya. Anak itu… aku kira dia sudah sekarat, kuat juga dia masih bisa mengigit dan menghisap darahku.

                “Kau digigit?” Tanya Wooyoung saat Junho memintanya menyembuhkan bekas gigitan di lehernya. Kekuatan Wooyoung adalah menyembuhkan orang. “Siapa yang menggigitmu?”

                “Tawanan kita itu,” Junho menjawab dengan kesal, “dia hanya diam saja ketika aku mendatanginya, kukira dia sekarat. Ternyata dia bisa menghajarku sampai nggak sadarkan diri, lalu ia menghisap darahku.”

                “Wow, hebat juga dia.” Wooyoung berdeak kagum, lalu ia menyentuh leher Junho dan dalam beberapa detik, bekas gigitan itu hilang. “Eh, ngomong-ngomong, kau kan sudah pernah menghisap darahnya, dan kemarin, ia menghisap darahmu. Bukankah itu berarti sudah ada ikatan darah diantara kalian?”

                “Ah, itu kan hanya mitos. Aku nggak percaya.” Junho melengos malas, “Aku mau minum darah dulu, anak itu membuatku kehilangan banyak darah.” Junho beranjak menuju dapur, membuka kulkas dan meraih sebotol darah segar, ia menenggaknya cepat.

                Euh, kenapa darah ini rasanya jadi nggak enak, ya?

*