(Prolog) (Part 1) (Part 2) (Part 3)

Annyeooongg!!!

Okee, saya kembali. 🙂

Setelah membiarkan diri tenggelam dalam kegiatan kampus dan membengkalaikan FF ini, akhirnya saya bisa bikin lagi. Nyicil-nyicil sihh…

Yang Bag Story juga masih nyicil. Kemungkinan besok lusa atau rabu (atau kamis *lho?) baru bisa psting. Bagi yang menunggu, maaf yaaa.. 😀

Di sini, aku pengen sediki ngasih ‘seneng2’ buat mereka berdua. Ya anggep aja aku lagi baik hati. #eh
semoga aja maksudku tersampaikan. 😀

eh, iya. aku udah punya piku lhoo.. dibikinin pula secara spesial sama reader ku, Diyan Yuska.
kaget, seneng, speechless.! 😀

gomawooo Diyaann !! ^^/

Udah ah, happy enjoyiiingg!!!

________________________________________________

Dia terdiam memandang apa yang kulakukan. Rasanya jantungku ingin meloncat keluar dari rongga dadaku mengetahui dia menatap setiap gerakku.

YaTuhan, bisakah aku pergi darinya?

***

Normal POV

Dara segera  memakai long coatnya dengan perasaan kikuk. Debaran jantungnya yang seolah ingin mendobrak tulang rusuknya membuatnya gerakannya semakin kaku dan kacau. “Euhm… aku pulang dulu…” ucapnya canggung, tanpa memandang Youngbae sedikitpun dan berbalik.

“Noona, chakkaman!”

Langkah Dara yang sudah menjauh seketika terhenti dan berbalik pada Youngbae sekali lagi. Jantungnya yang sejak tadi sudah berdetum kencang kini semakin hebat ketika Youngbae memanggil namanya. Apa yang Youngbae akan katakan padanya?

“Humm? Wae, Bae-ah?”

“Ini sudah malam. Tidak baik seorang yeoja pulang sendirian malam-malam. Aku akan mengantarmu pulang, noona.” Youngbae tersenyum tipis.

“Eh?”Dara terhenyak. Benarkah apa yang dia dengar? Benarkah seorang Youngbae mengantarnya pulang?Tidakkah dia salah mendengar? Lagipula sepertinya ini masih jam tujuh?

Tanpa menunggu persetujuan dari Dara, Youngbae segera memakai jaket dan tas ranselnya. Kemudian dia menuruni panggung dan mendekati wanita yang masih larut dalam keterkejutannya. “Ayo, noona.”

“Ah? Eh? Nee…” Dara segera tersadar dan berbalik mengikuti langkah Youngbae yang telah membelakanginya. seketika perasaan bahagia di hatinya membuncah dan meluap-luap.

***

Hening. Dua orang dalam mobil itu sibuk dengan pikirannya masing-masing tanpa ada yang ingin mencoba memecah kesunyian diantara mereka.

Dara menatap jalanan Seoul yang masih ramai oleh mobil-mobil yang melintas di sekitar mereka. Sesekali sudut matanya melirik ke arah lelaki disampingnya yang konsentrasi mengemudi. Apa yang dipikirkan orang itu sekarang?

“Noona, rumahmu masih yang dulu, kan?” Youngbae melirik Dara, yang ternyata juga sedang melirik ke arahnya. Tatapan mata yang selalu terlihat tersenyum itu membuat Dara salah tingkah karena ketahuan sedang mencuri pandang.

“Hah? Euh… Nee. Masih sama…” jawabnya sedikit kikuk. Spontan semburat merah memenuhi wajahnya yang putih. Sepanjang perjalanan yang tersisa, Dara hanya bisa terdiam malu dan memandang jemari tangannya yang saling meremas di antara kedua lututnya.

“Noona, sudah sampai.”Youngbae mengerem mobilnya di depan sebuah rumah di pinggir jalan raya.

Dara melihat rumahnya dengan sedikit dongkol. Mengapa waktu berlalu begitu cepat ketika dia masih ingin menikmatinya? Bagaimana caranya untuk bisa bersamanya? Sebentar saja, Tuhan…

“Ah, nee. Gomawo, Bae-ah…” Dara langsung membuka pintu mobil, namun gerakannya terhenti. Dia kembali menatap Youngbae dangan pandangan bertanya.“Kamu tidak ikut masuk?”

Youngbae membalasnya dengan senyum yang selalu membuat Dara berdebar. “Tidak usah, noona.”

“Masuklah dulu. Makan malamlah di tempatku.” Dara bersikeras pada keinginannya dan terus menatap Youngbae dengan tatapan berharap. Youngbae terlihat berpikir. Melihat hal tersebut, Dara langsung menambahkan ucapannya. “Ini sebagai tanda terima kasihku karena kamu telah mengantarku pulang. Jangan membuatku merasa berhutang, Bae-ah. Jebal…”

Youngbae menghela nafas pasrah. Akhirnya dia tidak bisa lagi melawan Dara. Wanita yang duduk di sampingnya itu selalu keras kepala. Sama seperti… Minji. “Nee nee. Aku akan mampir. Puas, noona?” Youngbae tersenyum kalah.

Kedua sudut bibir Dara kontan terangkat. “Nee.”

***

Youngbae POV

“Silakan masuk.” Dara noona masuk ke dalam rumahnya. Aku hanya mengikuti langkahnya di belakangnya. Dia meletakkan tas dan long coatnya di sofa ruang tengah. “Duduklah dulu. Aku akan menyiapkan makanan.”

Aku menatap punggungnya yang berbalik dan menghilang dari ruang tengah. Mungkin ke dapur. Setelahnya aku hanya melirik sofa yang ditunjuk oleh Dara noona dan menyadari sesuatu yang baru saja terjadi. Semuanya!

Apa yang kupikirkan?? Kenapa aku mau menawarinya pulang? Kenapa pula aku mau mampir ke tempat ini? Bukankah aku selama ini menghindari yeoja ini?

Aku benar-benar tidak mengerti pikiranku sendiri! Huwaaa…

Sepertinya ada yang salah dengan diriku! Tapi apa? Kenapa? Kenapaaaa?!

Apakah ada alien yang sedang mengontrol diriku? Atau pikiran-pikiran yang tanpa kusadari menyuruhku melakukannya?

Sepertinya tidak…

Atau Dara noona, ternyata melakukan ilmu-ilmu sihir padaku untuk mengantarnya?

Aiisshh..! kalau yang itu makin tidak mungkin! Aneh-aneh saja pikiranmu ini, Dong Youngbae!

Lalu? Lalu kenapa aku mau mengantarnya??!!

“Heeehhh….” Aku mendesah pelan dan mengacak-acak rambutku bingung. Membuat tatanan yang selalu rapi itu menjadi berantakan.

Sudahlah… anggap saja aku hari ini memang sedang baik hati, kemudian kasihan padanya, kemudian aku mengantarnya pulang. Itu saja. Titik.

Oke.

Mataku menyapu seisi ruangan. Sudah lama ku tidak ke sini. Kapan terakhir kali aku ke sini? Setahun yang lalu? Dua tahun? Atau lima tahun yang lalu? Aku benar-benar-benar lama sekali tidak ke rumah ini. Terakhir kali aku ke sini… ketika mengantarkan buku partitur Seungri yang memang tinggal di rumah yang sama dengan Dara.

Huaahh… Hari-hari yang melelahkan…

Aku menghempaskan diriku di sofa di hadapanku.

***

Dara POV

Aku melirik Youngbae-ah yang sedang memutar kepalanya mengelilingi ruangan, kemudian menghempaskan badannya di atas sofa. Senyumku mengembang girang. Namja itu sekarang di rumahku. Ini bukan mimpi, kan? Bukan kan? Karena rasanya seperti mimpi melihat sosoknya, di rumahku, untuk alasan karena ‘aku’, bukan karena Seungri.

Ya, aku memang tinggal bersama Seungri, yang sekarang masih mendekam di rumah sakit gara-gara ulahnya sendiri. Seungri adalah saudara tiriku. Aku tetap memakai nama keluarga ayahku, Park, dan dia memakai nama ayahnya, Lee. Karena itu, nama keluarga kami berbeda. Seungri memaksa ikut aku sekolah di Seoul ketika aku masih kuliah. Aku sendiri sih tidak masalah. Karena dengan begitu, dia bisa mendapat pendidikan lebih layak dan… aku punya ‘pembantu’ gratis di rumah ini. Woo hoo!

Sekarang, melihat Youngbae yang masih duduk tenang di sofa, membuat tawaku tak bisa berhenti mengembang. Terima kasih Tuhan. Membiarkanku menikmati sosok Youngbae lebiiiihh lama lagi. Haha…

Aku segera beranjak ke dapur untuk membuat makan malam. Hari ini kulkasku sudah terisi bahan makanan lengkap, karena aku baru saja belanja bulanan. Jadi, aku bisa memasak apapun yang kumau. Makan malam apa yang bisa kusiapkan untuknya? Harus spesial, karena ini untuk orang yang spesial!

Makan malam? Terdengar seperti istrinya saja rasanya. Semoga saja memang nantinya begitu.Sandara Park. Dong Youngbae. Suami istri. Huwaaahhh… memikirkannya saja hatiku sudah berbunga-bunga. Sepertinya bunga Sakura di Jepang kala Musim semi masih kalah dengan bunga-bunga di hatiku sekarang.

Sebenarnya apa yang dia pikirkan hari ini? Dia… terlihat aneh. Sebelumnya, dia selalu menghindar dariku. Namun akhir-akhir ini, dia membiarkanku berada di dekatnya. Dan hari ini, dia menawariku untuk mengantarku pulang. Belum lagi, dia mau kuajak makan malam. Aneh sekali…

Kali ini bolehkah aku berharap?

***

“Youngbae-ah, masakannya sudah siap.” Aku kembali ke ruang tengah setelah semuanya telah siap. Menatap balik sofa dengan Youngbae yang bersender di atasnya, membuatku benar-benar seperti seorang istri yang menyiapkan makan malam untuk seorang suami yang baru pulang kerja.

Haha! Fantasiku semakin tinggi saja rasanya!!

Namja itu tidak merespon suaraku sedikitpun. Ada apa dengannya?

“Youngbae-ah?”Aku kembali memanggilnya. Perlahan langkahku mendekat ke arah sofa dan melongok menatap wajahnya.

Eh? Tertidur?

Mata yang selalu terlihat tersenyum itu terpejam lelap. Tidurnya terlihat begitu damai. Sangat damai bila kamu tahu bola mata itu selalu memancarkan kesedihan yang selalu dia coba sembunyikan. Senyum di bibirnya mengembang tipis. Senyum yang biasanya selalu dia paksakan untuk menutupi kepedihannya, kali ini terlihat tulus.

Mataku mengamati setiap lekuk wajahnya yang damai dalam lelapnya. Benar-benar seperti anak kecil yang tertidur di pangkuan ibunya…

Ya Tuhan, aku sudah berulang kali mencoba berpaling darinya, namun yang terjadi aku kembali terjerat pesonanya. Aku kembali jatuh cinta padanya.

Alih-alih membangunkannya, aku malah memilih duduk di sampingnya. Menyandarkan kepalaku di bahunya yang lebar. Mataku melirik wajahnya dan matanya yang terpejam, dan tersenyum.

Sepertinya aku memang tidak akan bisa pergi jauh darinya…

It came over me in a rush
When I realized that I love you so much
That sometimes I cry
But I can’t tell you why
Why I feel, what I feel inside…

***

Normal POV

“Euhhmm…” perlahan Youngbae membuka matanya, mengembalikan sisa-sisa kesadarannya yang tercecer. Mencoba membenahi posisinya, tapi mengapa seperti ada yang menempel pada tubuhnya? Mengapa ada sesuatu yang berat yang menimpa tubuhnya? Mengapa sulit sekali menggerakkan badannya? Aneh…

Mata Youngbae melirik ke samping, melihat sesuatu yang sedang menimpa badannya. Ada seseorang tertidur sambil bersandar di bahunya.

Hum? Seseorang?Dara noona??!

“Noona??” Youngbae menggerakkan bahunya, mencoba membangunkan wanita yang benar-benar pulas di bahunya. “Noonaa??”

“Euuhhmm??” perlahan mata kecil Dara terbuka. Matanya mengerjap-ngerjap untuk sesaat. Perlahan tangannya terangkat untuk mengusap matanya yang sedikit berair, hingga akhirnya dia mendapatkan kembali semua kesadarannya.

“Sudah bangun, noona? Sampai kapan mau bersandar di bahuku?”

Dara terkejut dengan suara yang tiba-tiba menggema di telinganya. Spontan dia terduduk tegak dan mencari arah suara. “Eh? Youngbae-ah? Mianhae…”

Youngbae tak bersuara apapun, hanya membenahi pundaknya yang sedikit pegal karena terlalu lama menopang beban dari kepala Dara.

Dara hanya melihat tingkah Youngbae yang tanpa ekspresi dengan senyum girang. Lelaki itu benar-benar nyata! Lelaki itu di rumahnya sekarang!

“Kenapa memandangku seperti itu?” Youngbae membalas tatapan Dara dengan pandangan jengah. Seolah pandangan itu sangat mengganggunya.

Senyum Dara mengembang semakin lebar. “Ani. Hanya tidak menyangka ternyata kamu benar-benar disini.”

Youngbae hanya bisa tercengang. Apa maksud wanita ini?

“Kamu tahu, aku sudah mencintaimu dari dulu. Dari awal aku melihatmu ketika bersama Seungri di tempat kursus. Ketika aku melihatmu hanyut dalam permainanmu sendiri. Aku sudah jatuh dalam pesonamu. Tanpa kusadari, aku sudah terdampar dalam perasaan cintaku terhadapmu.”  Dara mencoba menghindari menyebut nama Minji. Dia menggantinya dengan kata yang lebih umum. Matanya mencoba menelisik reaksi Youngbae. Apakah lelaki itu terlihat marah pada apa yang baru saja keluar dari mulutnya?

Sepertinya tidak. Hanya terdiam dan terbelalak. Menanti kata demi kata yang akan terucap dari bibir Dara.

“Tapi aku tahu, kamu mencintai orang lain. Kamu sangat mencintai yeoja itu. Waktu itu, aku tidak tahu apa yang kurasakan. Aku marah pada diriku sendiri. Karena telah mencintaimu yang sudah mencintai orang lain. Karena dengan segala upaya yang coba kulakukan, aku tak pernah bisa berhenti mencintaimu. Karena aku tak pernah berani mengatakan semuanya padamu.

“Karena itu, ketika aku tahu gadis itu sudah punya namja-chingu, dan kamu patah hati. Aku pikir, mungkin ini kesempatanku untuk menyatakan perasaanku…” Dara terdiam sejenak. “Aku tidak tahu, apakah saat itu saat yang tepat. Bahkan aku tidak tahu kapan yang dimaksud saat yang tepat untukku untuk menyatakan semuanya padamu. Tapi aku takut, bila kata-kata itu tertelan dan tak akan bisa keluar lagi…”

Youngbae masih terperangah. Apakah selama itu wanita itu menantinya? Menanti seseorang yang juga menanti seseorang yang tak pasti? Dan dia tak pernah menyadarinya. Apakah wanita itu begitu rapi menyimpannya? Ataukah… dia yang terlalu buta untuk melihatnya?

“Youngbae, apakah kamu marah padaku?” Dara kini menatap Youngbae dengan tatapan khawatir. Lelaki itu tidak mengatakan apapun, membuatnya takut bila Youngbae marah padanya, pada kata-katanya.

Youngbae tersenyum kecil. “Aniyo, noona.” Dia beranjak dari sofanya dan mengulurkan tangannya. “Katanya kamu membuatkan makan malam. Ayo cepat kita makan. Aku sudah sangat lapar, noona.”

Senyum Dara kembali. “Nee.”

***

“Noona, ayo kubantu membereskan semuanya.” Youngbae beranjak dari kursinya setelah makan malam, membuat Dara yang masih duduk di kursinya sendiri sedikit bingung.

“Eh? Tidak usah. Kamu pulanglah dulu. Nanti aku akan membereskan semuanya.”

“Tidak apa-apa. Pasti cukup sulit membereskan semuanya sendiri. Aku akan pulang setelah semuanya beres.” Youngbae mulai mengambil piring-piring kosong yang telah ditinggalkan isinya.

Dara hanya terperangah melihat kelakuan lelaki di depannya. Aneh sekali lelaki itu hari ini. Absolutely weird. Mula-mula mengantarnya pulang, makan malam di sini, dan sekarang membantu membereskan makanan? Wanita itu kini mulai yakin, sepertinya memang ada skrup yang terlepas dari kepala Youngbae.

Youngbae berhenti sejenak dengan kegiatan barunya dan menatap Dara dengan tatapan bingung bercampur geli. “Noona, kenapa bengong?”

“Ah? Eh? Eh… tidak ada apa-apa.” Dara pun akhirnya juga beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Youngbae. “Gomawo, Bae-ah…”

Dara mengambil beberapa piring yang masih tertinggal di meja makan dan menumpuk semuanya menjadi satu gunungan yang cukup tinggi. Masih belum cukup dengan itu, wanita itu masih menambahkan beberapa sendok, garpu, dan pisau.

Melihat wanita di depannya terlihat kerepotan dan sedikit memaksakan tenaganya, Youngbae langsung menyejajarinya dan mencoba mengambil gunungan piring dari tangan Dara. “Sepertinya berat, noona. Sini kubantu.”

Dara benar-benar tercengang sekarang. Orang ini benar-benar aneh!!

“Tidak usah, Bae-ah…” Dara mencoba merebut kembali tumpukan piring yang harusnya menjadi tanggungannya itu. Dia menatap Youngbae dengan tatapan menantang.

“Tidak apa, noona. Sini.”

“Aku bilang, tidak usah…”

“Noona…”

Mereka kini saling berebut siapa yang harusnya membawa tumpukan piring kotor itu ke tempat cucian. Sampai…

“Ahh!”

PRAAAAANGG!!!

Semuanya bergerak terlalu cepat. Namun semuanya seperti gerakan lambat yang berputar di film di mata Youngbae dan Dara. Beberapa piring tersusun bertumpuk yang diperebutkan oleh mereka berdua terlepas dari tangan keduanya, jatuh dan pecah berhamburan ke lantai.

“Aaarrrgghh!!!”

KLONTANG!

Pisau dapur yang sebelumnya terletak di atas semua piring itu terlempar ke atas dan berbalik arah ke bawah.Pisau itu terus meluncur hingga kemudian menggores lengan Youngbae, menyisakan luka panjang yang melintang sepanjang lengan bawahnya.Namun pisau itu terus meluncur walau berlumur darah, hingga terjatuh ke lantai dan bergabung dengan pecahan dan serpihan kaca piring.

Youngbae kontan memegang tangannya yang kini sudah digenangi oleh darah segar yang keluar dari lukanya. Beberapa tetesnya sudah mengalir menuju jemarinya dan jatuh ke lantai, memerahkan pecahan-pecahan kaca yang berserakan.

“Bae-ah!Gwenchana?!!” dengan sangat panik Dara segera berlari mendekat ke arah Youngbae yang terus menekan lukanya, seolah ingin menghentikan darah yang terus keluar liar dari lengannya. Melihat cairan merah itu tak bisa berhenti mengucur, raut mukanya memutih pucat. Jantungnya berdetum kian kencang dan tak terkendali, hingga rasanya debarannya ingin mendobrak tulang rusuknya. Rasa panik kini menjalari tubuhnya, mempercepat aliran darah yang berdesir di sekujurnya. “Aku ambilkan peralatan untuk membalut lukamu!”

“Eergg… Noona, ambilkan es saja untuk menghentikan ini…” Youngbae kini mencoba menghentikan langkah Dara. Wajahnya telah memucat, karena cairan kental yang keluar dari lukanya sudah terlampau banyak, hingga sudah memerahkan keramik ruang makan yang putih, menyisakan bau anyir yang tercium di sekeliling rumah. Berulang kali nafasnya terengah, menahan rasa sakit yang terus menderanya. “Aku akan menelepon ambulans…”

“Ambulans?!” Dara makin panik melihat keadaan Youngbae yang semakin parah dan darah yang tak berhenti mengalir. Jantungnya berdetum sangat cepat. Rasanya otaknya berheti bekerja, semuanya menjadi buntu. Dia tak bisa berpikir apapun.

Wajah Youngbae kian putih. Langkahnya terhuyung ke belakang dan akhirnya jatuh ke lantai yang penuh dengan darahnya. Untungnya dia jatuh di lantai yang tak ada serpihan kaca. Nafasnya makin terengah, seolah kesulitan walau hanya untuk menarik nafas untuk mengisi paru-parunya. Pandangan matanya mulai berbayang, hingga semua yang dilihatnya menjadi terlihat kabur.

“Aku… mohon, noona… panggil ambulans…” ucapnya dengan sisa tenaga yang tersisa. Berulang kali dia berusaha membuka matanya yang semakin berat untuk terbuka. Kesadarannya perlahan menguap. “Darahku tidak akan berhenti. Aku hemofilia A, noona…”

________________________________________________

To be continued.

Yakkk, bagaimana bagaimanaaaa…??

Semoga kalian terpuaskaan yaa… ^^ kalo feelnya ga dapet, geje, ato apapun, mian yaa…
bikinnya nyicil2 siihh… 😀

Waktunya jawaban kuis!!

Udh pada tau dong jawabannya apaa…?? Jawaban kuis Great Confession Part.3 kemaren adalah…

HEMOFILIA A!

Pemenangnya adalaaahhh…. RHIINET !!

Humm… sebenernya nggak nyangka juga sihh ada yang jawab dengan sangat tepat. Beserta alasannya pula. Aku pikir, ada yang jawab Hemofilia aja udah seneng bangett.

Jadi, Rhiinet, hadiahnya adalah Two shot dengan cast dan genre yg kamu pengen yaa… 😀

Tapi mian kalo misalnya lama postingnya tar. Huehehehe…

Oo iya, aku seneng bangeett waktu aku posting Daemin Couple itu banyak yang komeenn… hehee…
semogaaa FF ini pun banyak yang komen! Amin amiiiinn!!

Soalnya makin banyak komen, berarti semakin banyak penyemangat, kritik, saran, masukan buat aku sebagai author. Hehe…

Jadiii… Please please komen yaa… ^^ no silent readers in here, please !!

Gomawoyooooooooooo…….. ^^

Keterangan:

Hemofilia A adalah kelainan herediter berupa gangguan pembekuan darah akibat defisiensi protein faktor pembekuan darah yang disebut dengan faktor VIII (FVIII). Defisiensi ini terjadi karena gen yang memproduksi FVIII mengalami kerusakan.

Pada penderita hemofilia A, aktivitas FVIII atau kadar FVIII-nya rendah bahkan sangat rendah sehingga mereka mudah mengalami perdarahan.

Gejala utama hemofilia adalah perdarahan berulang di bawah kulit yang disertai dengan rasa nyeri. Perdarahan dapat terjadi di seluruh tubuh termasuk di susunan saraf pusat namun paling sering terjadi di persendian dan otot. Perdarahan berulang dapat menyebabkan kecacatan dan perdarahan tertentu dapat berakibat fatal. (Pendarahan seperti ini yang kemaren2 aku bilang bintik merah)

Berdasar pada gejala klinik maupun kadar FVIII dalam darah, hemofilia A diklasifikasi menjadi hemofilia A ringan, hemofilia A sedang, dan hemofilia A berat.

Hummm… Youngbae termasuk yang mana yaa…? tunggu Part selanjutnya.! 😉