A FANs Notes (Based on Interview with an Anonymous FAN)

Author : Eghy Geumjandi

Genre : Emosional – Psychological

Cast :

Tokoh bernama “Aku” (imajinasi author saja)

Super Junior as Super Junior (hanya disebut namanya saja)

Length : One Shoot

Rate : General

(Buat readers, ini bukan bermaksud menjelek-jelekan atau apa, tapi di sini author hanya ingin menyampaikan isi hati seorang Fan yang lebih memilih untuk tidak mengidolakan lagi idolanya…dia lebih memilih melupakannya)

Hari ini (02 Mei 2011) aku kembali mengikuti rutinitas seperti biasanya, pergi kuliah dan mengikuti kursus Bahasa Korea yang sudah kujalani hampir 1 bulan ini. Sejujurnya ini kulakukan karena sedang terkena Hallyu Wave (kalo gak salah begini menulisnya) yang ditandai dengan aku menggemari drama Korea, boyband, girlband, dan apa pun yang berbau negeri gingseng ini. Di kampus pun ada beberapa temanku yang terkena efek Hallyu Wave. Mereka mengkoleksi poster, lagu,  film,  jaket,  acara reality show idola mereka, bahkan membayangkan bahwa mereka hidup berdampingan idola mereka. Aku juga begitu, tidak jauh berbeda dengan mereka, bedanya aku hanya mampu mengkoleksi poster saja itu pun dari majalah dengan mengumpulkan uang sisa jajan hari ini.

Aku disebut gila. Tapi bagiku dengan membayangkan aku hidup berdampingan dengan sang idola sudah merupakan suatu kebahagiaan yang sulit diungkapkan. Aku menyukai boyband korea, SUPER JUNIOR terutama membernya yang bernama Choi Siwon. Tidak kupungkiri bahwa dia mempunyai penampilan yang sempurna. Hampir setiap saat aku selalu membayangkan dia bersamaku, selalu menemani aku di siang atau pun malam. Senang sekali rasanya, walaupun hanya sebatas khayalan. Karena memang kalau untuk bertemu atau bisa mengenal ibaratkan pungguk merindukan rembulan. Namun aku selalu berpendapat bahwa Tuhan sayang kepada umatnya dan jika ia berkehendak terjadi maka terjadilah, seperti yang dikatakan di Al- Qur’an surat Yassin. Selain itu ada pepatah Tidak satu hal pun yang tidak mungkin, semua hal di dunia yang tidak mungkin bisa kita capai. Oleh sebab itu dua hal tersebut kujadikan sebagai pedoman hidupku saat ini, aku selalu berusaha dan berdoa agar Tuhan mau mengabulkan permintaanku yang satu ini…

“ Tuhan pertemukan aku dengan dirinya di manapun, kapan pun dan dalam keadaan apa pun. Aku hanya ingin mengenalnya dan membantunya. “

Kalo memang terkabul sepertinya hidup aku dipenuhi kebahagiaan. Bisa membantu idolaku, mengenalnya, dan berada disampingnya.

Suatu saat aku membuka situs jejaring sosial di warnet langgananku di dekat tempat aku kost. Aku melihat berita mengenai berita konser boyband dan girlband korea di Indonesia tahun 2011 ini, kebetulan boyband idolaku . Selain itu saat aku melihat harga tiketnya bisa dibilang terjangkau di bawah hitungan jutaan rupiah dan kebetulan aku memang mempunyai simpanan jadi uang itu aku bisa gunakan untuk melihat konser tersebut. Aku memberitahukan berita ini kepada teman – temanku. Mereka juga sangat antusias mendengarnya. Kemudian di kampus kami pun mebicarakan rencana kepergian kami melihat konser tersebut, kami juga merencanakan ingin memberikan setidaknya hadiah kecil untuk sang idola.

Tapi kekecewaan datang menghampiri. Dua hari kemudian aku mendapatkan berita bahwa harga tiket acaranya meningkat hampir 100 %. Sungguh pukulan yang sangat telak untukku, tapi mungkin tidak buat teman – temanku. Aku pun berpikir, bagaimana aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu kurang 1 minggu? Haruskah aku berbohong kepada orang tuaku? Atau sebaiknya aku menjual televisi saja?

Aku pun setelah berpikir panjang, memutuskan untuk tidak mendatangi acara tersebut. Sungguh terasa sedih saat harapan melambung tinggi karena ada kesempatan bertemu idola sudah terbuka lebar, ternyata harus tersingkirkan begitu saja. Dari situlah aku selalu berfikir mungkin idolaku ini hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berkantong tebal dan memiliki fasilitas lengkap. Fans seperti aku hanya bisa melihat sang idola dari jarak yang sangat jauh di luar jangkauan sang idola. Sejujurnya ku mungkin dikatakan iri, tapi itu aku rasa wajar saja.

Hari demi hari pembicaraan mengenai konser tersebut semakin gemapr di situs jejaring sosial. Aku panas…Iri… terhadap mereka yang bisa datang ke konser tersebut. Tapi aku juga sadar, aku tidak bisa berbuat apa – apa. Aku hanya mencoba tersenyum walau pun sebenarnya aku ingin berteriak kencang dan menangisi ketidakmampuanku di sini. Dari hal ini aku memetik pelajaran bahwa terkadang hidup ini tidak selalu berjalan seperti apa yang kita harapkan, Tuhan tetap memegang kendali kehidupan kita. Tuhan tahu apa yang terbaik buat kita dan dari sini pulalah aku semakin yakin bahwa belum waktunya aku harus bertemu dengan idolaku, tapi Tuhan sudah merancang aku akan bertemu dengan mereka suatu saat nanti.

Tetapi keikhlasan aku tersebut hanya berjalan beberapa waktu saja. Tepat 1 hari sebelum konser tersebut dilakukan, aku membuka kembali situs jejaring sosial. Aku sebenarnya berniat hanya ingin memantau perkembangannya saja. Tiba – tiba ada fans yang berkata “Eh gue nonton konser besok..gue dapet tiket VIP dengan haraga A juta..Lo ikut gak? Kalo lo gak ikut lo bukan Fan sejati, masa segitu aja gak mampu beli?”. Aku sakit hati membaca obrolan darinya. Sekarang aku semakin bertambah yakin dan sadar diri bahwa idolaku memang hanya untuk orang berkantong tebal dan bukan untuk orang seperti aku. Ingin aku menangis, aku merasa direndahkan.

Oleh sebab itu “ Aku lebih memilih untuk tidak menyukai dan mengidolakan mereka lagi, karena aku tau diri dan sadar akan siapa diriku sebenarnya….

 

Bandung, 03 Juni 2011